KUROKO NO BASKET © FUJIMAKI TADATOSHI
TSUBASA © AOIYUKI
GENRE : FRIENDSHIP, DRAMA, ROMANCE, FANTASI
RATE : T+
PAIRING : -
WARNING : FULL OF OOC, OCs, AU, GENDERBEND, A COMMON THEME, MISSMACH GENRE, CONFUSING, FLAT, AND BORING STORY.
WELL, HAPPY READING ALL
.
.
.
Tsubasa
Chapter 3 : wolf is a wolf
.
Bangun pagi bukanlah hal yang sulit. Aku bahkan sudah terbiasa tidak tidur hingga pagi menjelang. Tetapi apa yang tak pernah kau rasakan mungkin bisa menyakitimu itu benar. Karena tak pernah tidur nyenyak, saat untuk pertama kalinya suara-suara itu menghilang, digantikan hening yang menenangkan, membuatku tak bisa mengontrol jam biologis dan menset ulang alarm waktu untuk bangun.
Yang lebih parah lagi, di Teiko setiap jam 7 pagi ada acara doa bersama di kapel sekolah. Saat itulah aku baru menyadari kesalahanku yang fatal. Aku belum tahu letak kapel sekolah itu di mana. Sepertinya aku harus bergantung pada instingku. Lagipula ke mana perginya teman sekamarku? Sejak membuka mata hingga sekarang tak kutemui dia sekalipun. Apa membangunkanku agar tidak terlambat sesulit itu? Yah, kemarin kurasa kami sama-sama membuat kesepakatan tersirat untuk memberi privasi dan tak menjalin pertemanan yang dekat. Tapi setidaknya kan membangunkanku bukan melanggar privasi.
Ini sudah 10 menit sejak aku meninggalkan kamar dan aku masih belum melihat bangunan dengan lonceng besar di atasnya. Aku cukup yakin kemarin para guru itu mengatakan kapel sekolah adalah satu-satunya bangunan dengan lonceng besar di atasnya. Yang kulihat sejak tadi hanya bangunan 6 lantai dan 5 lantai dengan banyak jendela. Pasti itu ruang kelasnya, tidak mungkin itu kapel.
LALU DI MANA KAPELNYA?
Saat hampir putus asa itulah sebuah gedung yang mendekati ciri-ciri kapel—terdapat lonceng besar di atasnya—terlihat di depan mata. Mungkin Kami-sama melihat penderitaanku dan memutuskan untuk memberikan jalan. Betapa baiknya.
Kaki ini sudah melangkah lebar dan pasti untuk lebih dekat dengan bangunan yang kucurigai sebagai kapel tadi. Namun lagi-lagi, sesosok bayangan mengagetkanku. Dan lagi-lagi, wujud asli dari sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Kuroko-san, teman sekamarku.
Apa gadis ini memiliki kekuatan untuk muncul tiba-tiba ya?
"Kuroko-san?", sapaku semata-mata demi sopan santun belaka.
Namun siapa sangka, sejenak gadis itu nampak kaget dengan kehadiranku. Meskipun wajahnya tetap terlihat datar. Dengan kesopanan yang patut diacungi jempol, gadis itu berkata, "Ah, Ryugamine-san. Domo." Dan meskipun tak begitu kentara, dieratkannya kerah kemeja yang sebenarnya bagiku sudah terpasang terlalu rapi. Bahkan menurutku dia bisa tercekik bila masih dieratkan lagi.
"Eh? Apa acara doanya sudah selesai?", tanyaku saat kusadari arah kepergian Kuroko-san.
"Kurasa belum. Lagipula, aku memang mau menuju ke sana."
"Eh? Bukannya itu kapelnya?", aku menunjuk bangunan yang baru saja ditinggalkannya.
"Aku sangat yakin kapel sekolah itu ada di utara dekat gedung A.", dengan kedataran yang tak berubah sedikitpun Kuroko-san menjawab pertanyaanku.
"Lalu kenapa kau baru saja pergi dari sana?"
"Setiap pagi aku memiliki urusan di kapel lama sekolah."
Sebenarnya aku ingin bertanya apa urusan yang harus dilakukannya di kapel lama sekolah, tetapi yang keluar dari mulutku hanyalah kata, "Begitu."
"Kalau kau mau ke kapel, aku bisa menunjukannya. Lagipula aku juga menuju ke sana. Acara doa biasanya akan dimulai 5 menit lagi.", Kuroko-san menjelaskan semuanya tanpa ditanya terlebih dahulu.
"Terima kasih banyak."
Tanpa kusadari sepasang mata tajam mengawasi gerak-gerik kami dari balik bayang-bayang jendela ke dua dari pintu masuk. Sepasang mata yang Nampak bersinar dalam gelap.
.
.
.
Lagi-lagi aku terpisah dari Kuroko-san. Aku semakin yakin Kuroko-san memiliki kekuatan supranatural. Mungkin dia termasuk hunter, atau mungkin DC. Entahlah, pemikiran yang tidak begitu berguna sebenarnya. Tapi mungkin aku harus meminta Kuroko-san atau Ryou-san untuk mengantarku keliling sekolah lain kali. Well, hanya mereka berdua saja yang kukenal di sekolah ini. Untuk saat ini. Dan kemungkinan untuk kedepannya. Jadi lebih baik aku menulis catatan pribadi untuk hal itu.
Kembali kulihat kertas jadwal di tangan kananku.
Senin
07:00—08:00 Acara doa (kapel sekolah)
08:15—10:15 Kimia (laboratorium lantai 2 gedung B)
10:30—11:30 Seni musik (ruang musik lantai 3 gedung A)
.
.
Tanpa kusadari, aku sudah mengalami banyak masalah hanya dalam 5 menit setelah berpisah dari Kuroko-san.
Masalah pertama, gedung B itu di mana? Secara teori bukankah, gedung B ada di sebelah gedung A? Tetapi, bangunan yang terlihat seperti lumbung tempat menyimpan padi ini... Gedung B bukan lumbung ini kan?
Masalah kedua, setelah yakin bahwa lumbung yang ada tepat di sebelah gedung A bukanlah gedung B, kuputuskan untuk mencari gedung B, yang berakhir pada keadaan tersesat. Entah mengapa saat ini dua lambang gambar pria dan gambar wanita khas dari toilet, melekat pada dua pintu di hadapanku. Jadi, kenapa aku bisa nyasar sampai ke sebuah toilet begini?
"Hmn, ahn…more…ahn…hmm…"
Argh, kenapa bisa ada suara-suara ambigu yang terdengar dekat sekali?! Apa salahku sampai harus menjadi orang yang akan memergoki orang yang sedang melakukan sesuatu di sekolah di hari pertamaku. Cih, bahkan suara decakan dari sebuah ciuman panas semakin intens terdengar. Oh, apa itu artinya aku tak boleh keluar dulu nih?
Jari-jariku mengetuk-ngetuk dinding yang kupikir membatasiku dengan orang-orang yang melakukan 'itu' di sekolah dengan tidak sabar. Sudah 5 menit lebih sejak kuputuskan menunggu mereka selesai dengan kegiatan mereka, dan suara-suara itu masih belum hilang. Bahkan suara kecapan dan lenguhan semakin sering terdengar. Uh, ini sekolah kan?
Aku kembali melihat jam tangan hitam di tangan kiriku. Jarum panjangnya sudah berpindah ke angka 4, sedangkan jarum pendeknya mulai beranjak meninggalkan angka 8. Gawat. Di hari pertama sudah harus terlambat lebih dari 5 menit. No more time. It's have to be right now. Or never.
Dengan segenap keberanian yang kukumpulkan sejak, hm, sekitar 15 menit di dekat toilet ini, aku berjalan keluar dari tempat persembunyianku. Aku hanya berharap hal terburuk yang bisa terjadi tak menimpaku. Contohnya, terjalinnya kontak mata antara pelaku suara-suara aneh yang kudengar dengan mataku. Lalu menangkap basah orang-orang yang melakukan kegiatan aneh yang menimbulkan suara aneh sedang melakukan apa yang paling tidak ingin kubayangkan. Atau mungkin mengenal salah satu dari pelaku tadi. Sayang. Sepertinya takdir masih belum mau mengabulkan keinginanku. Karena.
Begitu keluar dari tempatku sembunyi, mataku bertatapan langsung dengan iris sewarna laut dalam. Gelap dan dingin. Membuatku sedikit bergidik begitu kontak terjalin.
Hal lainnya adalah pose mereka. Yup, pelaku dari suara-suara aneh tadi adalah seorang lelaki bersurai navy blue dan seorang gadis bersurai silver panjang. Dan keadaan mereka saat kutemukan sangat tidak ingin kulihat. Tangan kanan lelaki tadi sedang menyusup ke dalam rok pendek hitam sang gadis. Sedang tangan kirinya bersarang dalam kemeja biru yang sudah terlihat lusuh dan sedikit terangkat, memperlihatkan kulit putih punggung si gadis. Kaki kanannya berada di antara kaki gadis tadi. Sementara tangan kanan gadis tadi meremas surai sang navy dengan semangat, atau dalam kasus kali ini dengan penuh gairah. Dan tangan kirinya berpegang erat pada pundak si lelaki yang sudah terekspos bebas, menampakan kulit hitam eksotis nan seksi miliknya. Sedangkan kepala mereka seperti menempel erat, dan sejak tadi keduanya saling menggesekan badan ke satu sama lain. Oke, aku nggak mau tahu apa yang dilakukan mereka sampai seperti itu.
Setelah tersadar dari syok my firsth time to see somethink like that, segera kualihkan pandangan dan berharap dapat kabur sesegera mungkin. Sayang, harapan tinggalah harapan. Karena segera setelah aku memutus kontak mata, lelaki bersurai sewarna dengan irisnya itu juga memutus ciuman panasnya dengan pasangannya.
Kurasa gadis yang menjadi pasangannya marah. Kalau perkataannya ini dapat dijadikan acuan, "Kau ini kenapa?"
Sedangkan pemuda itu, rasa-rasanya dia malah lebih tertarik padaku. Bukan. Bukan. Bukan. Bukan tertarik yang itu, ini jenis tertarik yang lainnya. Mengacuhkan amarah gadis yang sekarang sibuk merapikan pakainnya, pemuda tadi berkata padaku, "Apa kau tersesat?"
Dari mana dia tahu? Apa aku begitu kelihatan sedang tersesat? Oke, reaksiku mungkin berlebihan, tetapi apa yang kutunjukan di permukaan begitu bertolak belakang dengan pikiranku yang mulai kacau. Aku memandang datar lelaki tadi. Lalu menjawabnya kelewat kasual, "Ya."
Pemuda tadi menyeringai lalu berucap, "Katakan kelasmu, akan aku antar." Dia mulai mengancingkan kemejanya lalu berpaling pada gadis bersurai perak tadi, "Dan kau, kembalilah ke kelasmu."
"Ha? Kenapa? Kau tidak mau meneruskan urusan kita yang belum selesai?", gadis yang masih setengah jalan dalam merapikan bajunya itu berkacak pinggang. Matanya menatap sengit pada pemuda di hadapannya.
"Ya ya, aku sudah selesai denganmu. Sekarang aku akan mengurus anak itu. Sekarang pergi.", ditilik dari caranya mengibaskan tangan nggak niat ke arah gadis tadi, sepertinya urusan keduanya memang sudah selesai. Tapi, mengurusku? Bukan jenis mengurus yang seperti tadi kan?
"Ck, Dai-chan menyebalkan. Apa susahnya sih bermain sedikit lagi saja.", ujar gadis itu sewot. Gawat, sepertinya dia benar-benar marah.
"Eto—", aku berniat mengatakan keberatan untuk diantar saat sebuah suara hantaman keras menciutkan nyaliku.
Brak.
Tangan kiri pemuda tan tadi sudah bersentuhan dengan tembok, dan tepat tempat keduanya bersatu terlihat retakan-retakan pertanda betapa kuatnya tinjunya tadi. Tak berapa lama kemudian lengan kanannya sudah menghimpit leher sang gadis dengan tembok di belakangnya. "Jangan pernah memanggilku dengan nama itu. Hanya satu orang yang boleh memanggilku Dai-chan. Dan itu bukan dirimu. Jadi, segeralah pergi. Tinggalkan tempat ini. Sebelum nasibmu sama seperti tembok ini.", desis pemuda tadi masih cukup keras untuk dapat ditangkap juga oleh telingaku.
Gadis yang sejak tadi terlihat bermanja-manja seketika berubah menjadi penurut. Wajahnya sedikit memucat saat dianggukan kepalanya perlahan. Setelah lengan pemuda tadi berpindah posisi dari lehernya, wajahnya berangsur-angsur kembali bersemu tanda nafas tak lagi terhambat.
Secepat mungkin gadis itu berlalu meninggalkan pemuda tadi. Tak ada kata-kata perpisahan genit seperti tadi. Hanya suara batuk yang samar-samar terdengar di saat kepergiannya.
Pemuda itu kembali menatapku lalu berkata, "Ayo jalan."
Aku yang sudah keder duluan melihat hal tadi segera mengangguk lalu beranjak pergi mengikutinya. Aura hitam yang sempat menyelimutinya tadi sudah menghilang. Namun sedikit banyak, ketakutan itu masih bersisa. Meski tadi aku merasakan desakan untuk melepas kacamataku sekedar untuk mengecek kebenaran, namun di sisi lain aku tak ingin melepasnya. Yah, hidupku memang penuh dengan hal-hal yang begitu kontradiksi.
Aku masih mengikutinya dalam diam saat kuingat aku belum memberitahunya kelasku itu apa. Jadi takut-takut kukatakan kelasku padanya. "Ano, kelasku itu 1-1.", tentu saja yang keluar adalah nada datar tanpa sedikitpun nada takut di dalamnya. Duh, semoga dia tidak menanggapinya secara berlebihan dengan misalnya... memukulku?
Tapi alih-alih merasa terganggu, dia hanya menjawab, "Oke", singkat.
Jadi aku tetap mengikutinya hingga sampailah kami di suatu gedung di arena belakang sekolah.
Aku memandangnya bingung saat dia masuk ke dalam kelas itu. Apa dia hanya mau kembali ke kelasnya ya? Lalu buat apa aku mengikutinya kemari?! Tapi tunggu. Jangan-jangan...
Aku kembali mengikutinya masuk ke dalam kelas. Dan langsung mendapat pelototan dari guru yang sedang mengajar di depan kelas. Tunggu, kenapa hanya aku yang mendapat pelototan di sini? Sedang anak tadi... dia sudah tidur di pojokan kelas?
"Ryugamine-san, untuk ukuran anak baru tak kusangka kau akan berani terlambat lebih dari 10 menit di hari pertamamu.", guru tadi sudah memulai tegurannya. "Cepat duduk di kursimu.", katanya kemudian sambil menunjuk kursi di sebelah anak tadi.
Setelah menjawab, "Baik." Aku berjalan menuju bangkuku. Meskipun dalam hati aku terus bertanya, kenapa aku langsung duduk tanpa memperkenalkan diri. Apa mereka sudah mengenalku ya? Sudahlah.
Aku langsung menyimak sebaik-baiknya apa yang diajarkan sensei dengan serius di depan kelas. Mencoba mengabaikan pemuda di sampingku yang keberadaannya terasa sangat besar. Membuatku sulit mengabaikan kehadirannya.
Segala hal tentang hari pertama ini benar-benar membunuhku.
.
.
.
"Lihat yang duduk di sana."
"Mereka bersama lagi."
"Enaknya, aku juga ingin ada di sana."
"Seperti biasa. The princes and princess duduk persama."
Sejak 10 menit lalu, kantin berubah menjadi tempat berkumpulnya orang yang hobi kasak-kusuk di belakang orang. Buktinya, dari tempatku saja—yang termasuk sangat di pojok ini, bisikan-bisikan tadi masih terdengar.
Aku tak pernah menyangka waktu istirahat di sekolah ini bisa begitu lama. Dari jam 11:30—13:00. Dan hampir semua anak berkerumun di dalam kantin.
Awalnya kukira itu karena semua orang merasa lapar di saat yang sama. Tapi setelah diperhatikan lagi, kebanyakan anak yang berkumpul di kantin lebih memilih menggosipkan sekumpulan anak-anak popular dibandingkan mengisi ulang tenaga dengan makanan.
Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah Aomine Daiki—lelaki yang kutemui tadi pagi, yang sedang berbuat mesum itu—dan Kuroko Tsurumi—teman sekamarku merupakan bagian dari kelompok yang dibicarakan itu.
Oke, mereka memang memenuhi standar dari soal penampilan. Keduanya masuk dalam golongan cantik, manis, tampan, macho, dan sebagainya. Tapi apa kepribadiannya tak begitu dipermasalahkan ya? Contohnya, Kuroko-san yang kelewat datar tanpa ekspresi dan Aomine-kun yang kelewat suka tidur dan melakukan hal mesum. Mungkin orang-orang memang hanya melihat buku dari covernya saja.
"Orang-orang memang hanya melihat dari fisiknya saja."
Tidak. Jangan lagi.
"Aku benci orang-orang yang seperti itu."
Kenapa di sini juga?
"Benci. Benci! BENCI! BENCI! BENCI! BENCI! BENCI! BENCI! BENCI!"
Aku sudah tak tahan. Tidak mengindahkan tatapan sebal dari orang orang yang kutabrak, aku terus berlari.
Kenapa? Bukankah seharusnya mereka tidak ada di sini? Sial.
Aku terus menutupi kedua telingaku dan berlari sekencang-kencangnya menjauh dari kantin. Mencari tempat sunyi lainnya yang bisa kutemukan. Secepatnya.
.
.
.
Akashi memandang kepergian gadis itu dengan datar. Gadis yang diperhatikannya berlari tak tentu arah dengan tangan menutupi telinganya. Akashi tahu apa penyebab tingkah aneh gadis itu. Beberapa gerutuan akibat tubrukan gadis tadi yang tak bisa dihindari, yah kan tadi dia berlari asal.
Sebenarnya bukan hanya dirinya yang memperhatikan gadis tadi. Reaksi orang-orang yang ada di mejanya juga bermacam-macam.
Aomine yang mendapat peran sebagai teman sekelasnya, lebih memilih tidur berbantalkan lengannya sendiri di atas meja. Satsuki yang duduk membelakangi gadis tadi terlihat penasaran, dan sesekali mencoba mencuri pandang ke balik punggungnya sendiri. Meski usahanya sia-sia.
Tak berbeda jauh dengan Satsuki, Kasamatsu terlihat begitu penasaran dengan wajah gadis Hunter itu dan apa yang sedang terjadi saat ini. Kise yang duduk di sampingnya terlihat cemas. Kalau-kalau gadis itu mengenali dirinya meski tanpa samaran. Dan beberapa hal lainnya yang menyebabkan cemas itu.
Takao sedang menyandar pada bahu Midorima dan tersenyum misterius—senyum aneh khasnya. Dia sedang mencolek-colek lengan Midorima yang terlihat terganggu dengan perkembangan kejadian yang terjadi di depan matanya, memaksanya menaikan kacamata yang tak terlihat turun hanya untuk menenangkan diri.
Pasangan lainnya yang juga duduk memunggungi gadis tadi terlihat tenang-tenang saja. Murasakibara sedang memanfaatkan waktu makan cemilan siangnya dengan sebaik-baiknya. Di sampingnya, Himuro yang memang sengaja duduk agak serong agar dapat mengenali wajah dari Hunter pertama di Teiko, sedang memisahkan bungkus kosong dari camilan Partnernya.
Terakhir, Kuroko yang duduk menghadap gadis tadi terlihat datar seperti Partnernya. Tak ada yang tahu apa yang dipikirkan gadis bersurai baby blue ini. Kecuali Akashi tentunya. Dan beberapa vampire lainnya sebenarnya—kenyataan yang coba dibantah sekuat tenaga oleh Akashi, karena baginya hanya dia yang mengetahui Kuroko luar dalam. Termasuk pikirannya.
"Atsushi."
Mendengar namanya dipanggil oleh sang kapten, kegiatan mengunyah potato chip dihentikan sejenak. Walau tatapan malas situ tak bisa hilang dari wajahnya, meski lawan bicaranya adalah seorang Akashi sekalipun. Nada malas dan terkesan kekanakan juga masih setia dipakainya saat bertanya, "Ada apa Aka-chin?"
"Perbarui lagi kekai di sekitar sekolah. Satu ekor berhasil masuk."
Semua yang mendengarnya mendesah kecewa. Hal inilah yang dicemaskan Kise sejak tadi. Kerja lembur deh nanti malam.
Murasakibara sendiri merasakan keberatan, tepatnya kemalasan yang luar biasa besar untuk mengerjakan tugas itu. Tapi apa mau dikata, tatapan menusuk dari sepasang iris heterokom membuatnya tak berkutik. Sekali lagi, dia menjawab perintah kapten dengan nada kekanakan yang terdengar malas, "Baiklah Aka-chin."
.
.
.
[salah satu gua markas klan Toou di Tokyo]
"AAAAAAAAAARGH!"
Teriakan yang terdengar memilukan menggema dalam lorong gua yang gelap dan lembab. Jika ditelusuri lebih dalam lagi, asal muasal suara itu adalah ruang yang ada di ujung jalur timur.
Cahaya lilin berpendar-pendar hampir padam karena kibasan ekor besar berwarna hitam. Di beberapa pojok ruangan, serigala-serigala raksasa tertidur lelap mengabaikan jerit yang terus keluar dari seseorang dalam jerat tali dan rantai.
"Gigih juga.", ucap suara yang terkesan berasal dari kegelapan. Sosok yang tersembunyi dalam bayang-bayang gelap gua yang tak tersentuh cahaya lilin terlihat bergerak maju. Menampakan sesosok manusia dimulai dari kaki beralaskan boot kulit rusa, berlanjut pada jubah hitam panjang yang menutupi kemeja putih dan celana biru gelap di baliknya. Terakhir pantulan cahaya mengaburkan gambaran wajahnya yang berhias kacamata. Senyum yang terkesan licik sudah terpampang di wajahnya sejak kemunculan pertamanya.
"Sakurai, kalau dia masih tak mau bicara, bereskan saja dengan cepat.", komentarnya saat melihat tubuh yang di jerat tangan dan kakinya itu tertunduk lesu.
"Sumimasen kapten, tapi…", pemuda bersurai coklat dengan mata bulat besar di hadapan pemuda bersurai hitam dengan model buzz cut—sosok terikat tadi, berniat mengatakan sesuatu.
"Cepat lakukan saja perintahku. Dengan begitu penderitaannya pun dapat segera berakhir.", potong orang yang dipanggilnya kapten itu.
"Sumimasen. Baiklah.", jawab Sakurai akhirnya. Tangannya mencengkram erat cambuk yang sejak tadi menggoreskan bekas luka berwarna merah di sekujur tubuh orang yang sepertinya menjadi tawanan kawanan serigala Toou.
"Sumimasen.", bisiknya lirih sebelum sosok pemuda tadi menghilang, digantikan sosok serigala besar berbulu coklat.
Sakurai bergerak secepat kilat, menerjang dan mengoyak tubuh pemuda yang sudah terlihat tak berdaya di hadapannya. Tapi rupanya Sakurai tak bergerak secepat yang dia kira. Karena, dalam waktu yang sekejap itu, matanya berhasil menangkap wajah ketakutan dan mata memelas yang mengalirkan air mata keputus asaan. Jerit yang sarat akan ketakutan teredam tergantikan suara kemerutuk tulang remuk dan daging yang terkoyak. Darah berceceran di lantai gua dari sisa tubuh yang hanya tersisa potongan-potongannya saja.
Pemuda yang tadi di sebut kapten oleh Sakurai, menaikan kacamatanya dan menghela nafas. "Harusnya kau lakukan itu dengan lebih cepat Sakurai. Dan kau, apa urusanmu sudah selesai di sini?"
Dari balik bayang-bayang, seseorang menampakan dirinya. Bibirnya mengerucut sebal saat berkata, "Dinginnya. Sasuga na Imayoshi Shoichirou, Toou's kapten heh."
Imayoshi menyeringai memandang lawan bicaranya dari balik kacamatanya. "Cepat pergi, apa yang kau katakan tak berarti apa-apa."
Pemuda tadi balas menyeringai, suaranya berubah 180 derajat, tak lagi terdengar nada bercanda di sana. "Pada akhirnya kau mendapatkan apa yang kau mau kan. Kapten."
Imayoshi menyeringai makin lebar saat dirinya disebut kapten oleh pemuda tadi. Seringai itu masih tetap di sana meski sang lawan bicara sudah pergi menghilang dari hadapannya. Dipandanginya lagi sisa-sisa pootongan daging yang tadinya merupakan seorang Hunter muda dari Seirin.
"Cih, dasar rubah tak tahu diri."
-End of Chapter Three-
Note : Hai minna, akhirnya chapter 3 bisa kutulis juga. Ada yang nunggu ga nih? Sudah 3 minggu lebih, agak sedikit mulur dari janji sih. Tapi ini sudah di update. Kalau nggak ada yang nunggu nggak apa-apa juga sih. Oh ya, chapter ini sekalian untuk birthday fic for Aomine Daiki. Yei, otanjobi omedeto Daiki-kun. Meski rasanya adegannya kurang hot gimana gitu. Masih masuk rate T kan? Haha. Dan adegan bunuhnya rasanya kurang gore deh. Yah, saya memang serba kurang sepertinya. Oke, terima kasih untuk reader yang sudah baca chapter sebelumnya, dan yang sudah mau menunggu (kalau ada ya). Terakhir HAPPY READING ya. Dan fic ini akan diupdate sesuai mood mengetik Aoi, jadi mungkin akan lama banget atau bisa jadi nggak lama banget. Bye-bye. See you in the next chapter.
