Kuroko no Basuke by Tadatoshi Fujumaki
Love of childhoodfriend by Aoiyuki-Bluesnow
Aoi hanya pinjaam karakternya
Peringatan: kemungkinan besar akan OOC, cerita nggak jelas dan nggak sesuai genre
Genre: Romamce (maybe)
[momoixaominexOC]
Takdir dan kebetulan itu sebelas dua belas
Kebetulan tidak selamanya murni kebetulan
Dan takdir kadang terasa seperti kebetulan yang disengaja
Atau memang itu disengaja?
Love of Childhoodfriend
Chapter 2
"Nostalgic colors"
Saat kubilang aku akan merindukan semuanya setelah petak umpet itu berakhir, aku bersungguh-sungguh. Nyatanya hal itu tak akan terjadi, karena.
Satu. Berhubung aku satu-satunya anggota yang tak ditemukan sampai akhir jadi Mai dan seluruh anggota klub kebudayaan bertekat untuk menemukanku di petak umpet balas dendam ini. Yang omong-omong akan dilakukan di setiap pertemuan hingga aku bisa ditemukan.
Dua. Karena batsugamenya masih sama, yaitu mentraktir seluruh anggota klub yang berjumlah 8 orang di acara berburu kudapan bulanan klub kami, maka aku memilih atap lagi sebagai tempat persembunyian.
Tiga. Cowok yang waktu itu juga masih ada di sana saat aku bersembunyi di hari rabu. (P.S. Kegiatan klub kebudayaan setiap senin, rabu, dan jumat.) bahkan cewek berambut pink yang waktu itu juga ada di sana.
Empat. Entah memang cewek berambut pink, yang selanjutnya kukenal sebagai Satsuki itu mudah akrab atau aku saja yang keGRan dengan semua kelanjutan situasi ini. Tapi sepertinya aku sudah dianggap sebagai bagian dari pertemanan kedua orang ini.
Lima. Tempat itu tidak benar-benar hening. Bahkan sebenarnya tempat itu sangat berisik. Yup, kedua orang itu sangat cerewet. Atau setidaknya cowok itu, yang kutahu namanya sebagai Dai-chan, akan selalu cerewet setiap kali bersama Satsuki. Selebihnya? Kau akan tahu.
Love of Childhoodfriend © bluesnow
Hari ini Jumat. Dan aku kembali sembunyi di atap bersama dengan Dai-chan. (Aku tahu itu sok akrab sekali. Masalahanya aku tak tahu nama keluarganya, dan juga tidak ingin tahu).
Satsuki?
Sialnya, saat ini Satsuki sedang menjalankan tugasnya sebagai manajer klub, ehm apa ya, aku tidak ingat karena saat Satsuki bercerita panjang lebar tentang klubnya itu kondisiku antara sadar dan melayang di alam mimpi lantaran semalaman chatting dengan Tatsu (kakakku.) dan tak ada kesempatan untuk bertanya lagi.
Jadi, di sinilah aku. Duduk dengan jarak canggung di sebelah Dai-chan yang tidur dan tampaknya tak akan bangun dalam waktu yang lama. Haah, melihat wajah tidurnya yang damai itu entah kenapa aku jadi mengantuk juga.
Tapi kalau begini aku jadi ingat dengannya. Yup, dia. Bocah berkulit gelap yang seenaknya sendiri dan cinta sekali pada basket.
Aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Kenangan itu.
Love of Childhoodfriend © bluesnow
"Oi, Momoi.", panggil bocah yang badan dan rambutnya sama-sama berwarna gelap.
"Ada apa Aomine-kun ?", tanya gadis berambut pink yang tak lain tak bukan adalah Momoi menghentikan kegiatan berberes tas dan melihat ke arah bocah yang dipanggilnya Aomine.
Sebuah cengiran jail muncul di wajah Aomine saat berkata, "Aku punya hadiah untukmu."
Seketika itu juga wajah Momoi menampakan senyum kegirangan tak lupa kedua pipinya yang sudah memerah dan teriakan penuh ketertarikan dan harapan, "Hontou? Yei! Apa itu Aomine-kun? Apa itu? Apa itu?"
Cengiran jail itu makin lebar saja melihat reaksi Momoi yang berlebihan.
"Kalau begitu tutup matamu.", perintah Aomine.
Dengan polosnya Momoi memejamkan matanya, masih dengan ekspresi kegirangan. Lalu Aomine meletakan sesuatu di kepala Momoi. O-o-oh ini buruk.
"Sekarang buka matamu."
Bersamaan dengan kelopak mata Momoi yang terbuka terdengar suara.
"Weebek"
Seketika itu juga wajah Momoi memucat. Semua sinar kebahagiaan hilang dari wajahnya. Lalu.
"Kyaaaaaaaaaaaaa! Singkirkan ini! Singkirkan! Singkirkan!", teriak Momoi sambil bergerak liar berharap katak hijau besar yang bertengger di kepalanya hilang dari tubuhnya. Sayangnya.
Pluk.
Katak itu jatuh dari kepala Momoi dan berpindah mendekam di tudung jaket miliknya.
"Kyaaaaaaa!"
Tu-tunggu dulu. Kenapa kau lari ke sini Momo?! Dalam sekejap mata aku sudah terkurung dalam pelukan Momo.
"Kyaaaaaaaaaaaaaa! Tolong aku. Hiks. Hiks. Hiks."
Momo.
Sial. Aku memang cewek, dan aku tak tahan dengan air mata cewek lain. Jadi dengan keberanian yang kukumpulkan kuambil katak tadi dan melemparkannya ke pemilik asalnya. A.k.a Aomine.
Yeah, tepat sasaran. Katak itu mendarat dengan tidak elitnya di wahah Aomine yang sedang tertawa terbahak-bahak melihat Momoi. Iuh.
"Oi teme! Apa yang kau pikir kau lakukan hah?"
Kelihatannya dia marah. Yah, siapa sih yang nggak marah kalau dilempar katak besar mengerikan begitu. Meskipun sebenarnya dia juga yang salah karena melakukan hal itu ke Momoi kan?
"Aku hanya mengembalikan katak milikmu. Apa yang salah?",
"Oi, kau itu cewek atau cowok?"
"Ada masalah dengan itu?"
"Kelakuanmu itu tak bisa disebut sebagai cewek."
"Dan kelakuanmu itu seperti monyet."
"Apa katamu?"
"Kau itu monyet usil berbadan hitam."
Lalu entah bagaimana kami berdua berakhir dengan pukulan dan tendangan yang melayang. Dan bocah tengil ini sungguh-sungguh tidak membedakan cewek dan cowok. Pukulan dan tendangannya terasa sakit sekali. Aku ingin menangis jadinya. Entah karena pukulan itu, atau fakta aku tak terlihat sebagai perempuan.
"Mou. Kalian berdua sudah dong.", disela-sela pukulan dan tendangan, bisa kudengar suara Momo. Suaranya timbul tenggelam diantara suara sorakan yang tak kuperhatikan. Karena saat ini, tepat di depan mataku kepalan tangan Aomine mendekat. Lalu rasanya tubuhku melayang ke udara.
Lengan besar milik orang dewasa melingkar di pinggangku. Ah, sepertinya aku dalam masalah.
"Kalian ini. Berkelahi di dalam kelas itu tidak baik. Dan kamu. Sebagai perempuan apa tidak bisa menjaga sopan santun. Kalian itu, jangan membuat masalah…" dan seterusnya. Dan seterusnya. Hoam. Rasanya mengantuk sekali mendengar semua ceramah ini.
Disampingku Aomine duduk diam tak bergerak. Atau itu yang kupikirkan, karena sedari tadi tak kurasakan pergerakan. Rasanya ada yang aneh di sini, kulirik bocah di sebelahku ini hanya untuk mendapati anak itu terlelap dengan wajah damai.
Dasar. Bisa-bisanya bocah tengil ini tidur. Ah, tapi melihat wajah tidurnya aku jadi makin mengantuk.
.
.
.
.
"…ngun."
"…bangun"
Hm, suara apa itu?
"Ne~ ne~. Ayo bangun."
Eh? Kenapa bumi terasa berguncang. Apa gempa bumi? Dengan segera kubuka mataku. Bisa gawat kan kalau aku terjebak di atap karena tidur.
"Mou, ayolah. Bangun."
"Mo-mo", gumamku tak jelas. Lagipula pandanganku masih kabur dan yang terlihat hanya warna pink. Warna pink yang rasanya sudah lama kukenal.
"Sekolah sudah mau ditutup loh."
Eh? Meski masih setengah sadar, kata-kata itu berhasil membangunkanku. Benar juga, langit sudah berubah menjadi lautan orange jus dengan sedikit awan.
"Jam berapa sekarang?", tanyaku masih dengan nyawa yang belum terkumpul seluruhnya.
"Jam 6. Mou, kalian itu sulit sekali dibangunkan.", rajuk Satsuki sambil memajukan bibirnya.
Eh? Futari?
Sepertinya aku mengucapkan dengan keras apa yang ada di pikiranku, karena Satsuki berkata, "Un. Futari tomo. Bahkan Dai-chan masih belum bangun, dasar."
Dai-chan mo? Masaka, sejak tadi aku tidur berdua dengannya di atap?
"Daijobu ka? Wajahmu merah sekali.", tiba-tiba suara Satsuki terdengar kawatir.
"A-aku tak apa-apa. Tenang saja. Ja, matta na."
Seketika itu juga aku berlari pergi dari atap. Berlari tanpa memedulikan teriakan kawatir Satsuki. Berlari tanpa memedulikan keadaan Dai-chan. Berlari sekencang-kencangnya. Berharap dengan begitu rasa panas yang menjalar di wajahku bisa hilang. Ya ampun. Tadi itu memalukan. Memalukan. Aaaah, kenapa rasanya malah semakin panas ya. Chikuso.
つづく
Hua, nggak nyangka ada yang review hehe. Arigatou gozaimashita minna. Karena aku masih gaptek, reviewnya aku bales di sini ya. Ini sudah di lanjut, moga sesuai ekspektasi lah. Salam kenal juga May-chan (nggak salah kan? aku lagi nggak buka review soalnya, hehe). Untuk kuroko dan momoi, ehm, mungkin nggak ya. Habis, aku nggak rela Kuroko-kun sama Momoi. Kyaaaaaaa, muri muri muri. Dia karakter pertama di Kurobas faforitku soalnya. Gomen ne. Terakhir. Happy reading ya.
