Kuroko no Basuke by Tadatoshi Fujumaki

Love of childhoodfriend by Aoiyuki-Bluesnow

Aoi hanya pinjaam karakternya

Peringatan: kemungkinan besar akan OOC, cerita nggak jelas dan nggak sesuai genre

Genre: Romamce (maybe)

[momoixaominexOC]


Apa mungkin sesuatu yang mustahil terjadi dalam hidupmu?

Aku masih meragukannya, tapi...

Ini kan mustahil!

Love of Childhoodfriend

Chapter 3

"Broken hearth kiss?"

Sial. Sial, sial, sial, sial. Argh! Apa yang terjadi padaku sih?

Sejak kejadian waktu itu aku tak bisa berhenti memikirkan Dai-chan. Huwa, kenapa bisa kami tertidur bersama di atap? Aah, menyebalkan. Menyebalkan. Menyebalkaaaan!

Ja-jangan-jangan selama aku tidur dia melakukan sesuatu yang mesum. Ah, kenapa bisa aku tidur dengan orang yang membaca majalah dewasa di sekolah sih? Mungkin saja dia...

Lalu aku ingat, bentuk tubuhku dan model di majalah itu sangat berbeda. Yup, aku pernah tak sengaja melihatnya. Dan model di majalah itu ukurannya minimal F cup atau G cup? Masa bodoh, aku nggak ngerti masalah yang begituan. Sedang aku...

Stop. Jangan dibahas lagi. Ah, sepertinya otakku mulai rusak.

Bodohnya aku, orang itu pasti tak melakukan apa-apa, mungkin malah tak sadar aku tidur di dekatnya dan tetap tidur.

Entah kenapa, rasanya aku itu menyedihkan sekali. Hah, sudahlah. Memikirkan orang yang belum tentu memikirkanmu itu tak ada gunanya.

Tenanglah, aku sudah melewati akhir pekan dengan terus memikirkan kejadian tidak penting itu. Jadi, sekarang lupakan semua.

Oh ya, ngomong-ngomong lupakan, sepertinya selain kejadian tidur di atap ada yang lain. Apa ya? Sepertinya cukup penting. Atau tidak. Yah, memoriku benar-benar tak bisa diandalkan pada saat seperti ini. Sudahlah, untuk sekarang nekat bertemu mereka dulu lebih baik.

Dengan kemantapan hati kulangkahkan kakiku menuju tangga yang akan membawaku menuju atap sekolah. Menuju tempat orang-orang itu. Ya, aku siap. Aku siap. Lalu kenapa tangan ini tak mau berhenti gemetar. Kalau begini kan susah memutar handel pintunya. Oh, ayolah tangan.

Ceklek.

Yosh. Berhasil juga. Berha…

Eh? Ke-kenapa? Apa yang mereka...?

Drap. Drap. Drap.

Tadi itu apa?

Drap. Drap. Drap.

Kenapa mereka?

Drap. Drap. Drap.

Hosh. Hosh. Hosh. Hosh.

Tarik nafas. Bernafas. Bernafaslah. Fyuh.

"Ke-na-pa? Heh.", tanpa bisa dicegah senyum yang menyedihkan terulas di wajahku.

Kenapa? Sudah jelas kan? Ah, bodohnya aku. Sudah pasti makhluk mesum yang kerjanya membaca majalah Mai-chan akan memilih cewek seperti Momoi.

Ugh, tapi tetap saja. Tak bisakah mereka mencari tempat lain yang lebih privasi untuk melakukan hal itu? Maksudku, atap sekolah memang privasi. Tapikan mereka tahu kalau aku akan selalu sembunyi di tempat itu pada hari senin, rabu, dan jumat. Atau mereka memang berencana melakukan itu di depanku? Ugh, entah kenapa pemikiran itu membuat hatiku lebih sakit dari biasanya.

Lagipula, apa masalahnya dengan itu. Kenapa rasanya salah? Perasaan aneh apa ini? Kenapa aku…

Marah?

Kenapa harus marah? Ah, mungkin ini hanya perasaan aneh karena terpaksa melihat adegan…

Sudahlah. Ini menyebalkan untuk diingat. Sudah cukup, aku tak mau ingat lagi dengan...

Pluk.

Sebuah tangan menepuk bahuku pelan disertai suara paling tak ingin kudengar saat ini.

"Mitsuketa."

Sial.


Love of Childhoodfriend © bluesnow


Beberapa menit sebelum kau datang ke atap

Aomine POV

"Dai-chan.", hari ini suara Satsuki terdengar berbeda, tapi aku terlalu malas untuk mencari tahu. Paling-paling juga masalah itu.

"Hoam, ada apa Satsuki. Kalau ini tentang latihan, lupakan saja.", kataku dengan nada malas, pandanganku masih terfokus ke foto Mai-chan. Woah, Mai-chan memang paling sexy dengan bikini hitam.

"Bukan yang itu kok. Ano ne, kemarin aku bertemu dengan Tetsu-kun.", curhat Satsuki.

Benar kan, pasti masalah tentang itu. Hoam, ini akan lama.

"Nani? Kau ingin bilang kau akhirnya nembak gitu.", tanyaku dengan tatapan yang tetap terfokus pada foto Mai-chan. Meskipun foto itu sedikit berubah menjadi berambut pink panjang dan wajah Satsuki menggantikan wajah Mai-chan. Cih.

"Benar."

Satu kata dari Satsuki berhasil membuatku bangun dan menaruh perhatian penuh padanya. Apa yang kulihat saat ini sungguh mengagetkan. Satsuki yang itu. Satsuki yang itu, tersenyum dengan tatapan mellow dan airmata berjatuhan dari matanya.

"Oi, Satsuki."

Cengiran yang dipaksakan terpampang di wajahnya. Air mata masih mengalir saat dia berkata, "Apa-apaan sih Dai-chan. Aku sedang patah hati loh. Panggil yang benar, yang manis ya."

Cih, aku sangat hebat dalam basket. Aku yakin tak ada yang bisa mengalahkanku dalam basket. Yakin banget malah. Tapi kalau cewek yang nangis, apa yang harus kulakukan? Kalau Satsuki nangis, aku harus apa? Argh, sial. Tak ada cara lain, tepatnya tak terpikirkan cara lain.

Dengan cepat, kudekatkan wajahku ke wajahnya. Jarak bibir kami semakin hilang dan akhirnya bertemu dalam ciuman lembut yang cukup lama. Bisa kurasakan tubuh Satsuki membeku. Tapi dia tetap diam. Tetap membiarkan bibir kami bersentuhan dalam waktu yang lama.

Setelah dirasa cukup, kutarik wajahku menjauh. Yang ada di depanku adalah muka semerah tomat yang imut sekali.

"Ne, Dai-chan. Jangan lakukan hal ini pada cewek lainnya ya.", kata Satsuki pelan hampir menyerupai bisikan.

"Hah?"

"Habis, kau pernah berpikir nggak sih? Mana ada cewek yang mau dicium tanpa alasan. Dan itu tadi ciuman pertamaku bodoh. Aomine no baka. Aku sudah menyiapkan ciuman pertamaku untuk Tetsu-kun, tapi sekarang. Mou, kembalikan firsth kissku. Dai-chan aho. Jangan mencium cewek yang tak kau sukai.", teriak Satsuki sambil memukuliku.

"Itte. Itte Satsuki!", protesku. Dan ini nggak main-main. Emang sih, Satsuki itu cewek feminim dan sebagainya. Tapi tetap aja, tenaganya itu loh. Aku bisa mengerti kenapa Tetsu sesak nafas setiap dipeluk Satsuki. Selama ini kupikir enak-enak saja dipeluk cewek G cup.

Hm, Tetsu, ya? Sudah kuduga ini akan terjadi cepat atau lambat. Selama ini Tetsu memang tak pernah merespon Satsuki secara positif. Satsuki juga terlalu bodoh untuk sadar kalau Tetsu hanya menjaga perasaannya. Mau bagaimana lagi, hanya dia yang bisa sedekat ini dengan kami berdua. Ah, salah. Kiseki no sedai juga, tapi itu karena mereka semua aneh-aneh. Bocah menyebalkan yang dulu juga. Oh, benar juga. Cewek yang belakangan ini datang ke atap juga.

"Aah, pasti Dai-chan sedang memikirkan gadis itu juga ya?", celetuk Satsuki tiba-tiba. Untungnya pukulan tak berperikemanusiaan darinya sudah berhenti. Tunggu, darimana dia tahu?

"Sok tahu."

"Dai-chan, kau tak bisa membohongiku. Aku tahu kau kepikiran juga kan, kenapa dia belum datang-datang. Sejak tadi kau melihat ke arah pintu terus. Matamu tak bisa membohongiku tahu. ", jelas Satsuki panjang lebar. Cih, aku paling benci saat dia sok tahu dan benar begini (ini namanya insting wanita, by Satsuki). Nggak imut lagi kan.

Tapi benar juga, kenapa dia belum datang-datang ya. Apa ini bukan hari kegiatan klubnya, karena itu dia tidak ke atap? Atau dia ada urusan lain dan tidak ke atap? Mungkin juga dia tidak akan ke atap lagi?

Eh? Kenapa pilihan terakhir itu rasanya menyebalkan sekali.

"Apa dia tak akan ke atap lagi ya? Ha~ padahal kan aku mau curhat yang banyak. Jarang-jarang kan ada gadis yang tidak naksir Dai-chan dan langsung menerima fakta kalau ganguro satu ini hanya teman kecilku.", kata Satsuki seperti membaca isi kepalaku saja. Tapi apa-apaan dengan ganguro itu.

"Oi!", teriakku dan aku yakin siku-siku kesal besar sudah muncul di kepalaku. Eh, tunggu. "Memangnya aku seterkenal itu ya?", tanyaku dengan cengiran yang kurasa sudah muncul di wajahku.

Satsuki facepalm. Lalu dia berubah menjadi darkSatsuki dengan tanduk iblis imajiner keluar di kepalanya.

"Dai-chan kau itu idiot atau apa. Aku tahu kau itu Ahomine, tapi nggak segininya juga kali. Selama ini kemana aja. Dan apa-apaan wajah sok gantengmu itu. Semua cewek pasti kabur begitu tahu seberapa mesum dan joroknya kau! Dasar! Ahomine no baka!"

Saat Satsuki seperti ini, aku sangat berharap dia datang dan mengontrol Satsuki. Cepatlah kembali!

"Ahomine kembali kemari! Jangan lari!"

つづく


Yup, sudah dilanjut. Untuk masalah genre, aku nggak begitu ngerti jadi ya amannya aku ambil romance. Meskipun romancenya nggak kerasa juga hehehehe. Mungkin Lheysha bisa bantu kasih pengertiannya. Atau ada reader yang berbaik hati, please-please. Penggambaran OCnya nggak jelas juga ya? Mungkin di chapter selanjutnya akan lebih jelas. Atau makin buram. yah berharap pencerahan datang saja hehehe. Dan untuk Mey-chan maaf salah tulis nama. Sumimasendeshita. Untuk pertanyaannya apa sudah terjawab di chap ini? Kalau belum sabar menanti di chap selanjutnya ya...

Terimakasih untuk reader yang udah review (maaf di chapter kemarin nggak di sebut tapi terimakasih reviewnya) dan silent reader yang mau baca fic gaje ini.

Akhir kata happy reading minna.