Kuroko no Basuke by Tadatoshi Fujumaki
Love of childhoodfriend by Aoiyuki-Bluesnow
Aoi hanya pinjaam karakternya
Peringatan: kemungkinan besar akan OOC, bahasa campur aduk, cerita nggak jelas
dan nggak sesuai genre plus terlalu banyak OC dan adegan nggak penting
Genre: Romamce (maybe)
[momoixaominexOC]
Alur maju-mundur : untuk masa lalu danmasa kini
Hari rabu di minggu yang sama, dengan perasaan campur aduk aku menaiki tangga menuju atap. Perasaan antara excited and worry, well, more or less something like that. Kekawatiran itu menghilang takala gadis berambut pink bertemu pandang denganku dan berteriak,
"Oh hai, kita ketemu lagi. Hora, Dai-chan. Kau tidak malu ketahuan membolos dua kali oleh gadis yang sama."
Dan rasa penasaranku kembali terusik dengan adanya cowok tan yang lagi-lagi membaca majalah dewasa tak jauh dari tempat gadis itu berdiri.
"Tidak.", jawab cowok itu enteng, tentunya masih setia melihat majalah mesum dengan wajah malas. Tapi kalau diperhatikan, seringai mesum muncul secara intens dari wajahnya. Hah, apa laki-laki ini memang semesum itu? "Lagipula kalau dia ada di atap bukannya dia juga membolos dari sesuatu ya. Dan lagi, kenapa kau ada di sini Satsuki? Kau juga bolos dari kegiatan klub kan?"
Satu hal yang terpikir olehku saat melihat mereka berdua. Pasangan baru yang doyan berantem.
"Aku tidak bolos. Dan aku ada di sini untuk membujukmu. Ayolah Dai-chan, aku kan tak mungkin kembali ke klub sendirian. Aku kan sudah bilang akan membawamu.", balas gadis itu. Nada dalam suaranya terdengar merajuk ditegaskan dengan pipi yang digembungkan dan bibir yang mengerucut.
Saat melihatnya aku tak bisa menyangkal kalau sebagai manusia, terlebih sebagai sesama wanita, gadis di depanku ini bisa jadi seimut ini. Rasanya seperti melihat kehidupan di dunia yang berbeda. Saat berpikir seperti inilah gadis itu menengok cepat ke arahku, lalu tersenyum manis.
Ugh, bahkan sebuah senyuman saja bisa seberbeda ini bila dilakukan gadis imut. Kalau aku tersenyum begitu pasti Taiga akan mengangkat sebelah alisnya dan menatap bodoh ke arahku lalu berkata "Ada apa dengan senyum bodoh itu? Kepalamu terbentur sesuatu ya?". Jangan tanya kenapa aku tahu, karena aku pernah mempraktekkannya.
Dari kejauhan gadis tadi berteriak membawaku kembali ke dunia nyata, "Ano, kita sudah bertemu dua kali dalam situasi seperti ini ya. Tapi, aku belum memperkenalkan diri. Namaku…"
Belum selesai cewek itu memperkenalkan diri, si cowok sudah memotong dengan berkata, "Oi Satsuki, kalau sudah selesai cepatlah pergi. Kau mengganggu waktu tenangku dengan Mai-chan."
"Uh, Dai-chan berisik. Jangan mengganggu waktu mengobrol antar wanita mengerti?"
"Ah ya, itu dia. Kalian wanita memang berisik."
Benar. Aku menyetujui apa yang kau katakan. Menghadapi Alex dan Mai lebih sulit daripada menghadapi Taiga dan Tatsu. Meski kadang Taiga bisa lebih berisik dibanding dengan Alex.
"Itulah yang membuat Dai-chan bodoh. Bersosialisasi itu penting. Mengumpulkan informasi penting dari berbagai sumber itu penting. Kau tak bisa menganalisis bila tak ada semua itu."
Semakin didengar semakin membingungkan saja pembicaraan mereka. Yah, kadang pertengkaran pasangan kan hanya mereka sendiri yang paham dunianya.
"E~h, baguslah. Bisa tinggalkan aku sekarang?"
"Humf, Dai-chan baka.", gadis berambut pink itu meninggalkan pemuda tan yang masih focus pada majalah Rate 20+ dengan wajah masam. Dia tidak pergi dari atap, tetapi datang bergabung denganku di pojokan atap yang lain.
"Ne, gomen untuk ketidaknyamanan yang ada."
Aku menatap wajah di hadapanku dengan sedikit ling-lung. Perubahan ekspresi yang mengerikan baru saja terjadi di depan mataku.
Setelah mengerjap beberapa kali akhirnya aku bisa berkata, "Wow, hebat sekali. Ah, bukan. Maksudku, tidak apa-apa sebagai pasangan pasti satu dua kali kalian akan bertengkar kan?"
Sepertinya apa yang kukatakan salah, karena ekspresi horor hadir di wajah lawan bicaraku.
"Jangan lagi. Apa aku dan Dai-chan sebegitu terlihatnya seperti pasangan kekasih?! Kyaaaaa, aku tidak mau! Huwa, aku maunya jadi kekasih Tetsu-kun, bukan cowok jorok macam Dai-chan!"
Setelah marah, bingung, tersinggung, sekarang menangis. Tangisan bohongan sih. Sepertinya cewek SMA memang masih dalam masa labil. Ah, yang lebih penting sekarang adalah menghentikan tangisannya (meski bohongan sih), begini-begini aku tak tahan jika melihat cewek nangis. Ha~, ini sedikit banyak akan melelahkan.
"Jangan menangis. Cewek itu paling cantik saat tersenyum loh.", untuk menegaskan perkataanku aku juga tersenyum semanis yang bisa kulakukan saat mengatakannya.
Mata beriris pink itu tampak melebar. Ekspresi terkejut hadir diwajah yang sedetik lalu menangis tersedu. Apa aku mengatakan sesuatu yang salah ya?
"Satsuki?"
"Eh? Bagaimana kau tahu namaku?", lagi. Gadis di depanku ini terbelalak kaget.
"Habis cowok hitam di sana itu, yang kau panggil Dai-chan, memanggilmu dengan Satsuki. Jadi begitulah. Atau itu nama kecilmu? Kalau memang begitu aku akan memanggil dengan nama margamu saja ya, siapa namamu?", karena gugup kata-kata yang keluar sangat tidak beraturan dan nggak nyambung. Mungkin.
"Santai aja kali, kau boleh panggil aku Satsuki dan cowok hitamdekilmesumplusjorok di nun jauh di sana itu kau boleh panggil Dai-chan.", dengan wajah senyum bersinar berseri-seri Satsuki menunjuk Dai-chan yang sedang tersenyum dengan wajah termesum yang pernah kulihat.
Pas sekali waktunya.
Tepat saat itu kusadari mata Dai-chan terarah ke sini sebentar, alias curi-curi pandang. Dengan kata lain dia nyoba nguping, yang sayang sekali tidak mungkin dengan pendengaran minim dan jarak kami dengannya yang lumayan jauh. Terbukti detik berikutnya dia korek-korek telinga dengan telunjuk. Satsuki benar. Cowok ini jorok.
Saat kualihkan mataku kembali ke Satsuki, gadis itu sedang merajuk. Eh? Apa yang salah?
"Ehm, kau kenapa Satsuki?"
"Nama.", kata Satsuki datar.
Dia marah kupanggil namanya?
"Kau bilang tadi tak apa panggil Satsuki."
"Maksudku namamu. Dari tadi aku tanya siapa namamu. Lihat apa sih?"
Ooh, hehehe ternyata itu toh. Enakan kasih nama depan atau nama kecil ya? Tapi kan dia aja dipanggil nama kecil langsung. Oke.
"Bukan apa-apa kok. Ehm, eto, namaku [name] salam kenal Satsuki."
"Hm, salam kenal [name]"
Sejak saat itulah aku masuk dalam lingkar persahabatan mereka. Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka sebenarnya.
Love of Childhoodfriend © bluesnow
Persahabatan
Cinta
Persaudaraan
Ikatan yang menghubungkan manusia
Sayangnya, aku masih tak paham itu semua
Love of Childhoodfriend
Chapter 4
"friendship"
Ini sudah satu minggu sejak aku memergoki, err mungkin bisa dikatakan tak sengaja melihat adegan itu antara Satsuki dan Dai-chan.
Tik
Tik
Tik
Huwa, cukup cukup. Aku tak tahan lagi. Tiap mengingatnya wajahku jadi panas seketika dan rasanya pandanganku sedikit buram jadinya. Ugh, hidungku juga sedikit mampet sepertinya.
Sebagai teman apa yang harus kulakukan ya? Apa yang harus kukatakan?
Selama ini aku tak pernah mengalami hal serumit melihat dua orang ciuman secara tak sengaja dan berakhir dengan aku melarikan diri. Tidak sama sekali. Ini rumit. Membingungkan. Ini, diluar kesanggupan otakku.
"Tok tok tok. Hallo, ini Mai, apa wakil ketua ada di rumah?"
Sekali lagi dalam hidupku, suara yang mengembalikanku dari alam berfikir adalah sang ketua kita yang terhormat. Menjengkelkan. Bukan Mai nya, mungkin sedikit, ini lebih ke alasan dia memanggilku.
"Ketua, dari tadi aku ada di sini dan ini bukan di rumah atau ruang tertutup apapun. Ini di kantin sekolah, jangan berlebihan lah.", kataku datar mengingat kami sedang mengantri di kantin sekolah dan aku bukan tipe yang suka jadi pusat perhatian.
Sayangnya salah satu dari orang yang ada dalam rombonganku ke kantin ini adalah orang yang paling suka diperhatikan. Lihat saja, pose-pose imut yang sudah mulai dikeluarkannya sejak tadi. Tak heran dia salah satu dari idol sekolah.
"Mou, kau itu kenapa sih? Dari tadi, bukan, dari minggu lalu melamun terus. Ada masalah?"
Iya, ada. Banyak malah. Pertama, masalah tak terpecahkan otakku. Kedua, hubungan keluargaku yang tak menunjukan perkembangan positif. Tiga, uang saku bulananku terancam habis dengan mentraktir 8 magkuk ramen jumbo yang dijual khusus hari senin dengan harga khusus juga. ¥ 990 per mangkuk. Benar-benar cara pemerasan yang bagus.
Oh, itu mengingatkanku.
"Kenapa hanya aku yang traktir? Bukannya hampir semua anggota tertangkap? Bukankah ini sedikit tidak adil?"
"Ck ck ck, bukankah sudah kuperingatkan siapa yang akan kupilih untuk mentraktir bila tertangkap. Kalau kau yang harus mentraktir artinya ini salahmu tidak sembunyi secara serius sayang. Sudahlah ayo cepat jalan, antriannya sudah maju."
Hah, aku tak akan bisa menang darinya.
Setelah semua anggota mendapatkan makanannya sekarang saatnya mencari meja kosong, yang sayangnya tidak ada satupun saat ini. Tidak biasanya kantin sepenuh ini.
Ah, ada satu gerombolan yang sudah mau pergi. Cepat ke sana dan klaim tempat dulu. Dengan pemikiran itu kakiku melangkah cepat dan. Yep. Tepat waktu.
"Minna.", dengan lambaian kecil kuberi isyarat pada semuanya untuk mendekat.
Tanpa perlu waktu lama semua anak sudah duduk dalam satu meja. Lalu dimulailah apa yang rutin dilakukan klub kami yaitu berdiskusi tentang segala hal. Mulai dari yang penting seperti kegiatan apa yang akan dilakukan berikutnya, anggaran yang mulai menipis, hingga hal kurang/tidak penting seperti kue hasil praktek akan diberikan pada siapa, cewek dan cowok terpopuler saat ini, dan yang paling parah menebak bokser warna apa yang dipakai seorang Kise Ryota. Untuk yang terakhir itu khusus Mai, dia punya obsesi tersendiri pada model yang katanya terkenal itu.
"Ne, ne, apa kau perhatikan tadi siapa yang duduk di sini?", kita sebut anak ini Ichigou
"Tidak. Sulit sekali melihat yang lain saat Sakurai-kun melintas di depan mata. Jadi, siapa?", dan anak ini Nigou
"Itu dia. Yang tadi duduk di sini itu klub basket.", Ichigou bercerita seakan hal ini adalah berita besar yang harus disebar luaskan.
"I-itu artinya. SAKURAI-KUN TADI DUDUK DI SINI? KYAAAAAAAAAAA!", Nigou yang notabene adalah fans merangkap stalker Sakurai sudah berteriak-teriak senang mengusap kursi yang diduduknya.
"Bukan-bukan, aku yakin sekali tadi dia duduk di tempat wakil ketua.", informasi dari Ichigou menghancurkan kayalan indah Nigou.
"Eh, masa? Wakil ketua, ayo tukar tempat duduk.", dengan cepat dia berteriak padaku yang duduk bersebrangan dengannya.
"Tidak mau. Aku malas berputar jauh ke tempatmu.", dan aku sudah pewe di sini.
"Ah, ayolah wakil ketua. Kau tahu kan sebesar apa aku ngefans padanya.", pinta Nigou dengan pupy eyes yang tidak begitu berhasil sebenarnya.
"Ck, baiklah. Silakan duduk nona stalker.", sayangnya berdebat terlalu panjang itu menyebalkan.
Tanpa merasa tersinggung dengan ucapanku Nigou langsung duduk di tempatku begitu aku berdiri. Lalu senyum-senyum sendiri membayangkan Sakurai duduk di tempatnya. Hah.
"Tapi tadi aku tak melihat Aomine-kun. Apa dia tidak ikut ya?", tak jauh dari tempatku duduk anak-anak lain juga membicarakan sesuatu.
"Benar juga, aku juga tak lihat Momoi-san. Mungkin mereka berdua tidak datang.", untuk anak ini kita sebut Sangou.
"Pastinya. Momoi-san pasti sedang mencari Aomine-kun. Mereka kan pasangan yang serasi.", dan yang ini Yongou
"Kau benar. Begitu melihat kedekatan mereka berdua, aku tahu cintaku akan ditolak.", anak yang ini kita sebut Gougou
"Tanpa ada Momoi-san pun kau pasti akan ditolak Aomine-kun", yang terakhir Rokugou.
"Apa?", balas Gougou tak senang
"Hei, Aomine dan Momoi itu siapa?", mendengar semua obrolan ini membuatku penasaran juga dengan Aomine dan Momoi itu. Dan lagi nama mereka rasanya familiar. Mirip sekali dengan seseorang.
"Oh, Aomine-kun itu ace klub basket kita. Momoi-san itu manager klub basket, dia hebat sekali. Dan mereka itu pasangan yang serasi sekali. Benar-benar bikin iri.", jawab Yongou antusias.
Basket? Ah, nama mereka mirip sekali teman mainku dulu.
"Hei, mereka itu CUMA teman sejak kecil. Orang-orang saja yang bilang mereka pacaran.", sanggah Mai santai dengan sesekali memakan ramen di depannya.
"Tapi kan toh semua orang juga sudah menganggap mereka pacaran.", Yongou tak seperti biasanya membantah Mai. Well, selama ini tak ada yang berani pada Mai, entah kenapa.
"Justru karena orang-orang seperti kalian itu mereka nggak benar-benar bisa pacaran. Orang punya kecenderungan untuk berontak, dijodohin begitu apa ya nggak risih.", balas Mai lagi masih dengan sesekali makan ramennya.
Mendengar kedua orang ini, kami sisa anggota hanya bisa bengong melihat mereka adu mulut. Yah, kalau aku sih masih cukup jalan otaknya sehingga disaat mereka adu mulut akupun ikut makan ramen mahal yang kubeli dengan nyaris seluruh uang bulananku.
"Tidak ada yang dijodohin. Mereka itu sangat serasi jadi kami mendukung. Catat. MENDUKUNG.", balas Yongou tak mau kalah.
"Apa mendukung itu dengan melarang siapapun pergi ke atap ketika mereka berdua di sana?", sekali lagi Mai mengatakannya dengan gaya yang santai banget.
"Bukan begitu…"
"Atap?", potongku. Bukan bermaksud memotong dengan tidak sopan, tapi ini cukup penting untuk dilewatkan.
"Iya, dari kabar yang kudengar mereka memang ada di atap hampir setiap hari. Karena itulah saat main petak umpet kita tidak mencari ke atap. Lagian apa kau tak tahu kalau separuh lebih anggota kita ini merupakan AoMomo protector fans club. Orang yang mengharuskan mereka pacaran di saat orang lain santai-santai aja dengan hubungan mereka.", jelas Mai panjang lebar.
"Bukan mengharuskan juga kali.", kata Yongou yang kuabaikan.
"AoMomo?", yang ini juga mencurigakan. Makin mirip teman mainku. Dan entah kenapa makin mirip dua orang di atap itu.
"Iya, seperti warna rambut mereka berdua. Masa nggak tahu sih. Aomine Daiki ace klub basket dan Momoi Satsuki manager klub basket. Nggak pernah denger?"
"Sama sekali."
Masaka?
Love of Childhoodfriend © bluesnow
Hari jumat di minggu yang sama, kembali aku bersembunyi di atap. Seperti sebelumnya, Dai-chan sudah ada di sana. Yang berbeda adalah majalah porno yang baru kutahu kemarin sebagai kumpulan foto Horikata Mai (atau Dai-chan lebih suka memanggilnya Mai-chan), menutupi wajahnya dan sepertinya dia tidur. Selain itu aku tak menemukan Satsuki dimanapun.
Karena penasaran itulah aku berani mendekatinya dan berjongkok di sebelahnya. Dengan perlahan kuangkat majalah porno dari wajahnya. Ini sedikit mengejutkan. Bagaimana wajah mesum parah seperti kemarin bisa berubah begitu polos dan defenseless seperti sekarang. Dia, cukup tampan juga.
Aku melupakan tujuan awalku mendekati cowok hitam ini. Sebagai gantinya aku malah memandangi wajah tidurnya lumayan lama. Seperti sebuah mantra pengikat untuk mata ini agar tak beranjak dari wajah yang jarang kulihat sampai sekarang.
Berhenti bodoh.
Dengan satu pemikiran itu akhirnya aku bisa lepas dari pesona atau mungkin bencana ketertarikan pada wajah tidur seorang cowok. Kacau. Lebih baik mendengarkan lagu saja.
Kukeluarkan handphone dari saku, memasang earphone lalu memilih lagu yang ada. Begitu lagu berputar rasanya rileks sekali, pikiran aneh tergantikan dengan lirik lagu yang kugumamkan dan sesekali kunyanyikan.
Hari ini langitnya cerah.
Love of Childhoodfriend © bluesnow
Satsuki itu Momoi Satsuki. Rambut pink dan teman sejak kecil Dai-chan. Manager sebuah klub, mungkin klub basket.
Dai-chan itu Aomine Daiki. Rambut biru teman sejak kecil Satsuki. Ace klub basket mungkin bermain basket dari kecil juga.
Argh, kenapa kemungkinan itu yang muncul. Kenapa jadi mungkin sekali kalau mereka itu Momo dan Aomine si bocah tegil yang dulu itu sih.
Kenapa aku tak sadar dari awal-awal juga. Argh!
Dak.
Dak.
Dak.
Dak.
Huff, sakit juga ternyata membenturkan kening ke pintu kamar mandi. Kuharap tidak memar dan benjol saja.
Samar-samar kudengar suara bisik-bisik di balik pintu kamar mandi.
"Hei kau dengar suara benturan tadi?"
"Iya iya. Apa mungkin itu hantu yang itu. Hanako."
"Kyaaaaa."
Lalu suara gaduh orang lari terdengar.
Jadi sekarang aku hantunya?
Love of Childhoodfriend © bluesnow
Hari senin minggu berikutnya, aku mendapat penjelasan kenapa Satsuki tak ada di atap kemarin.
"Jadi, aku itu manager klub… karena kemarin waktuku piket jadi aku tak kesini. Tapi sebelumnya… dan menyebalkannya Dai-chan tidur. Dia tidur coba, nyebelin kan dicuekin…"
Aku mendengarnya dengan segenap kekuatanku. Mataku rasanya sudah berat sekali. Dikelas saja tadi aku sudah kena marah guru sejarah dan guru bahasa inggris. Ini semua salah Tatsu. Kenapa mailnya malam sekali, apa dia lupa perbedaan waktu amerika-jepang ya. Ah gawat aku tak kuat.
"Tidur! Ya ampun, dari tadi aku cerita dia tidur. Dai-chan."
"Sudahlah Satsuki, mungkin dia lelah. Kau tak lihat bagaimana dia datang tadi."
"Iya juga sih. Ah, wajah tidurnya manis sekali. Iya kan Dai-chan?"
"Yah, tidak jelek."
"Mou, Dai-chan."
Love of Childhoodfriend © bluesnow
Sraaz.
Anak jaman sekarang memang tidak sopan. Hah, gara-gara aku sekarang tidak ada orang di toilet. Sudahlah, menjelaskan akan lebih merepotkan.
Dengan perkembangan baru seperti ini membuat lebih sulit bicara dengan dua orang itu. Ah apa yang harus kulakukan. Otakku rasanya sudah mau meledak.
Duk.
"Maaf", ah kenapa di saat seperti ini malah menabrak orang. Focus, focus jalan sampai kelas dulu.
"Kamu."
Eh? Suara ini? Haha, kebetulan seperti ini tidak mungkin kan.
Love of Childhoodfriend © bluesnow
Setelah apa yang kulakukan pada hari senin (tertidur), hari rabu ini aku ragu lagi untuk bertemu mereka berdua.
Dengan malas kubuka pintu perlahan. Sambutan yang kudapat sangat berbeda dengan bayangan.
"Hai"
"Yo"
Yep, dua orang itu langsung memanggil begitu melihatku. Seperti mereka memang menungguku.
"Ada apa?", tanya Satsuki kawatir.
Sepertinya aku mematung cukup lama. Kukira mereka akan marah karena aku tidur seenaknya dan tidak mendengarkan, tapi kurasa aku salah. Gawat, senyum ini tak bisa ditahan lagi.
"Tak ada apa-apa. Hei, tumben Dai-chan tanpa Mai-chan.", kataku begitu sadar majalah yang satu itu tak ada di manapun.
"Tidak setiap hari juga aku membacanya. Kau pikir aku anak macam apa.", protes Dai-chan.
"Tadi disita guru. Ingatkan, inspeksi mendadak di istirahat tadi siang?", jelas Satsuki yang dibalas "Oi" oleh Dai-chan.
"Baguslah kalau disita. Membaca itu tiap hari hanya akan memperburuk otak mesummu.", tambahku.
"Mana mungkin Mai-chan memperburuk otak. Yang ada itu merefresh pikiran."
"Ya, pikiran kotor."
"Dai-chan baka."
"Apa-apaan kau dan Satsuki. Cih, memang perempuan tak pernah lihat yang seperti itu?"
"Untuk apa aku melihat perempuan berbikini?"
"Dai-chan kadang memang tidak berpikir"
"Kalian berdua… tentu saja yang kumaksud itu laki-laki berbaju renang. Atau jangan-jangan kalian malah melihat cowok telan…"
Buak.
Sebelum Dai-chan berhasil menyelesaikan kata-katanya, Satsuki sudah menendang wajahnya. Pasti sakit.
"Satsuki teme"
"Dai-chan mesum, jangan mengatakan hal yang seperti itu. Mana mungkin aku melihat yang begituan. Ah, tapi kalau itu Tetsu-kun aku tak bisa apa-apa. Tetsu-kun dalam baju renang pasti keren sekali, kyaaaa."
Sementara Satsuki berfansgirlan, otakku berputar-putar.
"Tetsu-kun?"
"Ah, Tetsu-kun itu pacarku."
"Bukan bodoh. Tetsu itu teman kami."
"Belum resmi sih, kami berdua belum ada yang berani nembak. Tapi sebenarnya kalau Tetsu-kun berani nembak pasti jadi. Aku tak tahu pasti perasaan Tetsu-kun juga, tapi kuharap..."
"Kau sangat suka Tetsu-kun ya Satsuki?"
Dengan wajah merah dan senyum lebar Satsuki mengangguk "Hm"
Sekali lagi, sebagai sesama perempuan aku harus mengakui, seorang Satsuki bisa terlihat sangat manis, sedang aku tidak. Dan disadari atau tidak Dai-chan bungkam seribu bahasa.
Love of Childhoodfriend © bluesnow
"Dai-chan?", tanyaku tak percaya dengan apa yang kulihat.
"Kenapa kau bisa ada di sini?", sudah jelas. Ini Dai-chan. Tak ada cowok lain yang lebih bodoh untuk bertanya seperti ini.
"Tentu saja. Aku kan juga sekolah di sini."
Dia sepertinya baru ingat. Terlihat sekali dari wajahnya.
"Habis aku tak pernah melihatmu. Oh ya, kenapa belakangan tidak ke atap lagi?", sepertinya dia berusaha mengabaikan pertanyaan bodohnya tadi dengan mengalihkan topik.
"Eh? Oh itu, yah minggu kemarin aku tertangkap sebelum ke atap. Dan karena aku sudah tertangkap kemarin kami rapat agenda berikutnya.", aku tidak bohong kan? Hanya tak memberitahukan seluruh cerita lengkap.
"Bagaimana bisa tertangkap?", tanya Dai-chan dengan wajah yang benar-benar terkejut. Memangnya semengagetkan itu ya aku tertangkap?
"Sebelumnya aku beli makanan dulu. Jadi ya, haha.", ini juga tidak bohong. Sebelum ke atap aku memang mampir beli N&M, itu terjadi karena aku bingung mau ke atap atau tidak.
"Kau itu bodoh ya?"
"Aku tak mau disebut seperti itu oleh orang sepertimu."
"Teme"
"Apa?"
Dai-chan diam sebentar sebelum berkata lagi, "Mainlah ke atap sekali-kali. Satsuki bilang dia merindukanmu."
Jadi aku masih dirindukan. Apa reaksi mereka ya bila tahu alasan aku tak pernah ke atap lagi yang sebenarnya?
"Jadi hanya Satsuki"
Untuk mengurangi rasa sesak yang tiba-tiba muncul ini aku mencoba bercanda. Candaan yang bodoh. Cowok bodoh ini juga pasti menjawab dengan jujur tanpa memikirkan perasaanku.
"Aku juga", jawabnya cepat. Dengan wajah serius kalimat itu terlontar dari mulut Dai-chan.
"Aku tak akan senang hanya karena kau berkata seperti itu."
Bohong. Sekarang saja wajahku sudah sedikit memerah karena senang. Kalau tidak ditahan sekuat tenaga senyum lebar pasti sudah muncul di wajahku. Aku senang sekali.
"Siapa bilang aku berkata begitu biar kau senang. Dasar."
Cowok ini memang tak bisa berkata manis ya. Tapi biarlah, siapa yang tahu apa yang akan terjadi bila seorang Dai-chan bicara manis. Satsuki pasti juga berpikir demikian.
Satsuki.
Memikirkan mereka berdua membuat moodku jelek lagi. Tak mau menunjukan perubahan moodku, kutundukan wajahku. Hal yang kusesali kulakukan karena detik berikutnya kurasakan kehangatan yang kutahu berasal dari Dai-chan. Hal itu menyebabkan pertahaananku sedikit longgar dan setetes air mata berhasil lolos dari tempatnya.
Love of Childhoodfriend © bluesnow
Untuk pertama kalinya Dai-chan dan aku bertengkar karena hal kecil.
Seperti biasa, pada hari jumat Satsuki pasti berada di klubnya. Karena itulah jumat ini pun aku dan Dai-chan berada di atap sendirian. Seperti biasa juga Dai-chan hanya berbaring malas sambil membaca majalah Mai-chan.
Sudah sejam lebih keadaan kembali hening seperti saat pertama kali aku bertemu Dai-chan di atap. Rasanya sudah lama sekali, padahal bila dihitung-hitung baru 2 minggu sejak pertemuan itu. Suasana damai itu dirusak oleh suara yang cukup mengganggu.
"Gruyuk"
Suara ini. Sepertinya milik Dai-chan.
"Lapar?", tanyaku pada Dai-chan yang berbaring di sampingku.
"Tidak", jawabnya masih dengan mata tertuju ke majalah.
"Gruyuk"
Suara perut Dai-chan kembali terdengar.
"Punya makanan?", tanyanya. Kali ini matanya sudah beralih dari majalah dan terarah kepadaku.
"Tidak"
"Gruyuk"
Mendengar suara keroncongan yang makin keras aku teringat pada permen di sakuku.
"Tapi aku ada permen N&M"
"Mana kenyang makan permen doang. Apa kau tak punya Packy atau maiobu?"
"Sudah kubilang, aku tak bawa makanan"
"Benar juga, mana ada anak SMA yang masih bawa-bawa jajan ke mana-mana. Ah, tapi kalau Murasakibara pasti bawa."
"Mura-siapa? Temanmu?"
"Yah, dulu kami satu klub. Hoi, turun dan belilah makanan, sekalian jus ya."
"Tidak mau dan tidak bisa"
"Hah?"
"Alasanku ada di atap itu untuk sembunyi. Kalau aku bisa turun dan membeli makanan dengan santai, aku tak akan ada di sini. Kau sajalah yang turun. Tiap hari hanya berjemur dan membaca majalah begituan apa tak bosan"
"Aku tak akan bosan melihat Mai-chan ribuan bahkan ratusan ribu kali. Body sehot ini terlalu bagus untuk disia-siakan. Cewek sepertimu mana mengerti. Ukuran kalian terlalu jauh"
Untuk pertama kalinya aku tak bisa mengontrol emosiku padanya.
Bletak.
"Itte. Apa yang kau lakukan?"
Masih dengan tinju yang mengepal di udara aku berkata, "Mengurangi virus bodoh dari kepalamu". Lalu sekali lagi kupukul kepalanya, "Dan juga pikiran mesum dari otakmu."
Bletak.
Itte. Ano, teme.
"Ups, tanganku gatal untuk memukul cewek nggak sopan yang kurang ajar"
Bletak.
"Nggak sopan dan kurang ajar itu sama saja bodoh. Kepalamu itu isinya apa sih?"
Bletak.
"Setidaknya kepalaku ada otaknya. Kepalamu itu kosong ya? Kupukul tak berbunyi."
Bletak.
"Cowok apaan yang berani memukul cewek."
Bletak.
"Memangnya kau perempuan?"
Bletak.
Bletak.
Bletak.
.
.
.
Setelah pukulan yang entah keberapa puluh kami berdua terkapar meratapi nasib kepala yang malang. Juga tangan yang kram karena terlalu banyak memukul. Lalu.
"GRUYUK!"
Perutku dan Dai-chan berbunyi bersamaan. Aaah, sial. Wajahku pasti sudah memerah sekarang. Meski akan makin mencurigakan aku memaksakan menutup wajahku dengan kedua tangan.
"Oi, kau bilang kau punya permen.", tiba-tiba suara Dai-chan sudah terdengar dekat.
Saat kubuka tanganku wajah Dai-chan sudah berjarak kurang dari 20cm dengan wajahku. Tanpa pikir panjang aku berguling menjauh.
"Ya, ada. Tapi tadi katanya nggak akan kenyang."
"Satidaknya untuk mengganjal. Lagipula sebentarlagi aku pulang. Kau juga kan, permainan petak umpetnya selesai sebentar lagi?"
Reflek mataku tertuju pada jam tanganku. Hm, 10 menit lagi sebelum waktu habis. Baiklah, berbagi bukan hal yang buruk juga. Meski sebenarnya aku ingin menyimpanya untuk cemilan di rumah. Sudah lama tidak makan permen, huhuhuhu.
"Ini"
"Sankyu"
"You're wellcome"
Mendengarku menggunakan bahasa inggris entah kenapa dia mengernyitkan dahi.
"Ada yang salah?"
"Tidak.", jawabnya cepat lalu menambahkan "Hanya, tak kusangka orang macam kau bisa terdengar fasih."
"Loh, aku belum pernah bilang ya kalau dari umur 10 tahun sampai kelas 3 SMP kemarin aku tinggal di amerika?"
Hening selama 2 menit.
Sepertinya dia sedang berpikir. Loadingnya lama sekali.
30 detik kemudian.
"APA?! Jangan bohong, teme."
"Apa untungnya aku menipumu? Hah, apa semua cowok memang begini? Kebodohanmu itu mirip seseorang."
"Jangan ngarang ya. Wajahmu itu terlihat lebih bodoh dariku."
"Jangan asal tuduh, dan jangan kelompokan aku dengan aho macam kau. Huh, sudahlah aku pergi dulu. Sekarang pasti yang lain sedang frustasi tak menemukanku lagi. Ah ya ini.", kulempar sebungkus permen N&M lagi. "Untuk ganjal perut. Jangan pingsan di jalan ya."
"Teme! Kau kira aku siapa?" Jeda beberapa setik sebelum menambahkan "Sankyu na."
"You're welcome.", kataku dengan seringai jail muncul perlahan. Aku tahu, pasti Dai-chan memasang wajah kesal saat ini. Aku tahu, meski tak melihatnya aku bisa merasakan aura-aura aneh dari tempat Dai-chan berada. Hihihi. Mengerjai Dai-chan sepertinya seru juga.
Love of Childhoodfriend © bluesnow
Dengan posisi kepala diusap seperti ini, air mataku yang jatuh makin deras saja. Aku ingin menyuruhnya berhenti tapi di saat yang sama aku ingin tangan itu tetap berada di tempatnya.
Kalau air mata ini sudah berhenti aku akan menyuruhnya berhenti mengusapku. Ayolah kau kan bukan anak cengeng. Berhenti menangis.
"Dai-chan apa yang kau lakukan padanya?"
Terlambat.
"Dengar dulu Satsuki, dia tidak menangis. Lihat."
Bodohnya Dai-chan. Dia menengadahkan wajahku hingga berhadapan dengan Satsuki. Sialnya air mataku belum berhenti dan situasi ini jadi canggung sekali.
"Eh? Kau menangis?", dari suaranya sepertinya Dai-chan tidak percaya aku menangis.
"Hora Dai-chan, kau apakan dia. Jangan bilang kau juga menciumnya. Kan sudah kukatakan jangan mencium cewek sembarangan."
"Aku tidak menciumnya. Dan aku tak sembarangan mencium cewek."
Cukup. Aku tak ingin dengar pembicaraan mereka lagi.
"Sudahlah. Ini hanya kemasukan debu. Tak usah dipikirkan. Aku masuk kelas duluan ya."
Aku bohong. Aku tak kembali ke kelas tapi masuk ke toilet. Dan seperti sebelumnya aku membenturkan kepalaku ke pintu kamar mandi.
Dak
Dak
Dak
Dak
Sayup-sayup terdengar bisikan lagi.
"Kyaaaa, toilet ini memang berhantu."
Haha.
つづく
Yosh akhirnya selesai juga chapter ini. Rencana awalnya tiap chapter akan diupdate 4 hari sekali tapi saat bikin chap ini entah kenapa ide awal melayang. Ini beda banget sama rencana awal. Tapi sudahlah kuharap kalian menyukainya :) Karena update lama maka chap ini aku buat panjaaaaaaaang, atau malah kepanjangen ya? Hehehehe. Dan sepertinya chapter 5 juga akan bernasib sama, molor maksudnya.
Buat yang sudah review makasih banyak. Arigato gozaimasu. Buat Mey-chan aduh gimana jelasinnya ya? Aku bingung juga haha. Baca chap ini I wish you'll understand more. Dan kita sama, pas bikin adegan itu entah kenapa aku juga broken, padahal fic bikin sendiri. hehehe. Buat syalala uye beneran dikit? Semoga chap ini bisa menggantikan yang kemarin ya. Buat kumada chiyu iya ga ada kuromomonya gomen, tapi tenang sudah di siapkan pengganti kuroko untuk momoi. Ini beneran dikit ya? Kalau chap ini kepanjangen kah? Buat pinkristal ini sudah dilanjut, dan apakah kau terkejut? Nggak ya, failed, well semoga tetap suka. Buat natnia ini sudah dilanjut, makasih reviewnya.
Dan untuk reader semua, seperti biasa
Happy reading. hope you'll like it. enjoy guys
