Kuroko no Basuke by Tadatoshi Fujumaki

Love of Childhoodfriend by Aoiyuki-Bluesnow

Aoi hanya pinjam karakternya

Peringatan: kemungkinan besar akan OOC, bahasa campur aduk, cerita nggak jelas dan nggak sesuai genre plus terlalu banyak OC dan adegan nggak penting, alur terlalu cepat/lambat seingga terjadi kebosanan

Genre: Romamce (maybe)

[momoixaominexOC]


[Los Angeles, 6 tahun lalu bulan Juni]

Amerika. Pertama kali menginjakan kakiku di sana, aku sudah sangat membenci negara itu. Bangunan yang terasa berbeda. Orang-orang yang terlihat asing. Bahasa yang tidak kumengerti. Dan sikap acuh dari orang yang ada di sampingku saat ini. Aku sama sekali tak mengenal orang yang ada di sampingku ini. Asing.

Setelah berkendara selama 2 jam dalam diam, nampak apartemen besar yang cukup mewah. Apa ini yang nantinya akan menjadi tempat tinggalku?

Tanpa bicara otou-san, atau aku harus mulai memanggilnya orang asing, berjalan kedalam apartemen. Dengan susah payah kuikuti langkah lebar yang termasuk tergesa-gesa ini. Setelah memasuki lift dan sampai di lantai 5, kembali langkah lebar itu berjalan ke suatu tempat. Setelah bersusah payah mengejar, orang itu berhenti di ruang no 509. Tak berapa lama pintu putih itu terbuka. Sepertinya sebelum aku sampai kemari pintu itu sudah diketuk terlebih dahulu.

Dari dalam tampak seorang bocah dengan rambut menutupi mata kirinya. Sepertinya anak laki-laki ini seumuran denganku, atau lebih tua?

"Mulai hari ini [name] akan menjadi adikmu. Tatsuya jaga dia baik-baik ya.", otou-san mengabaikanku dan mulai berbicara dengan bocah tadi. Dari caranya mengelus rambut anak itu dapat kurasakan kedekatan yang memuakan.

"Hm, tentu saja. Kenalkan namaku Tatsuya. Mulai sekarang aku akan menjadi kakakmu. Kalau ada yang kau butuhkan jangan sungkan-sungkan."

Tapi melihat senyum dan caranya mengelus rambutku pelan, aku tahu, aku tak akan bisa membencinya. Bocah ini, entah kenapa sepertinya aku akan sangan sayang padanya.

"Hm, "


Love of Childhoodfriend © bluesnow


Hubungan teman sejak kecil menjadi kekasih itu sudah biasa.

Tapi, bagiku hubungan yang seperti itu sangat menyakitkan.

Karena orang yang kusukai kemungkinan besar menyukai teman sejak kecilnya.

Love of Childhoodfriend

Chapter 5

"be honesh"

Aomine Daiki. Siapa yang tidak kenal dengan ace dari tim basket Toou gakuen itu? Yang notabene adalah sekolahku sekarang ini. Sayangnya aku baru sadar kalau Aomine Daiki yang itu adalah orang yang sama dengan Aomine teman mainku dulu. Yang lebih parah adalah Aomine Daiki yang itu dan Dai-chan cowok tukang bolos yang kutemui di atap juga adalah orang yang sama.

Dunia itu ternyata lebih sempit dari yang kukira.

Well itu bukan masalah besar. Da-ke-do, apa yang harus kulakukan sekarang? Kurasa aku... menyukai Dai-chan.

Waaaaaaaaaaaaaa. Memalukan. Memalukan. Memalukan.

Ha.

Menyadari perasaanmu di saat kau tahu perasaan lawanmu ternyata sungguh sulit. Perasaan yang menyesakan ini, aku membencinya. Jatuh cinta dan patah hati di waktu yang sama sungguh bukan pengalaman yang ingin kualami.

Argh, apa yang harus kulakukan? Apa? Apa? Apa?

Bruk.

Itte. Cih, berguling-guling di tempat tidur bukan pilihan bagus ternyata. Punggungku.

"[name], ada tamu untukmu!", teriak ooka-san dari bawah.

Siapa yang bertamu sore-sore begini ya? Anggota klub pasti sedang ada di taman bermain, tadi siang mereka sudah menelepon mengabarkan pemandangan menusuk hati dari semua pasangan muda yang tak pandang lingkungan saat bermesraan. Mengatakan ketidak ikut sertaanku sebagai pertanda buruk untuk pergi. Sedangkan Mai tidak akan meninggalkan kamarnya selama liburan di cuaca yang panas ini. Kamar Mai itu dilengkapi AC, kulkas penuh dengan ice cream (sebelum liburan Mai selalu menstok kulkasnya), internet, bahkan TV beserta PS3, mana mau dia meninggalkan itu semua. Jadi siapa?

Semua itu terjawab ketika sampai di ruang tamu. Di sana terdapat seorang cowok berambut hitam dan seorang lagi berambut ungu di sebelahnya. Di depannya ooka-san sedang bersiap untuk pergi bekerja. Tidak salah lagi. Cowok itu.

"Tatsu!"

Tanpa perlu menunggu lama aku sudah berlari dan memeluk kakak laki-laki kebanggaanku ini.

"Lama tak bertemu. Kapan kau ke Jepang? Kenapa tak mail aku dulu seperti biasa? Kau curang Tatsu."

"Hey, slowdown. Kenapa terburu-buru begini?", Tatsu bertanya dengan senyum di wajahnya. Senyum yang tak berubah dan masih memberi efek yang sama. Menenangkan.

"Habisnya. Argh, whatever. Miss you so much. And, hey. How can't you be here? Ha?"

Setelah syok ditambah kejutan menyenangkan yang menutupi akal sehatku berkurang, aku baru menyadari keanehan ini. Kenapa Tatsu ada di Jepang?

"Yeah, karena itulah aku ada di sini. Sudah sejak beberapa waktu lalu aku kembali ke Jepang, tepatnya ke Akita."

"Akita? Kenapa tidak di Tokyo saja?"

"Hm kalau masalah itu…"

"Ne, Murochin katamu akan mentraktir snack. Mana?"

Tiba-tiba saja cowok tinggi berambut ungu yang sejak tadi duduk diam sambil makan pocky bersuara. Eh, tapi suara ini... bukan, sebenarnya lebih ke cara bicaranya... rasanya, seperti anak kecil?

"Sabar Atsusi, setelah dari sini kita akan membeli snack. Sudah lama aku tidak bertemu dengan adikku."

Kenapa cara bicara Tatsu pada cowo besar berambut ungu ini terdengar sangat perhatian? Memangnya dia siapanya?

"Hm, oke. Tapi adik Murochin tidak mirip Murochin."

Cowok ini... bukan hanya caranya bicara, kelakuannya juga seperti anak kecil.

"Yah, kami memang bukan saudara kandung.", kata Tatsu dengan nada yang biasa. Entah kenapa suasana jadi sedikit tak enak.

"Ah, kalau snack aku ada banyak.", kataku sambil menepukan tangan seolah baru mengingatnya.

Yah, sebenarnya itu untuk persediaan selama mengurung diri dari panasnya matahari Tokyo. Tapi ada yang harus mengubah suasana aneh ini. Lalu akupun pergi ke dapur, menuju lemari penyimpanan makanan.

"Eh, ternyata Murochin dan Imoutochin mirip juga."

Haha. Ternyata benar, cowok ini, bahkan pemikirannya simpel seperti anak kecil. Manisnya.

"Terimakasih ya.", kata Tatsu padaku.

"Hm, tak apa. Oh ya, kalau kau tinggal di Akita kenapa kalian berdua ada di Tokyo? Tak mungkin hanya untuk menemuiku kan?"

Sebenarnya aku bertanya hanya untuk basa-basi, tak ada niat lain.

"Ya kau benar. Murochin ingin mengunjungi Tokyo dan jalan-jalan. Lalu tadi dia bermain streetball. Ah ada Kurochin juga di sana, ehm, tadi juga ada orang yang alisnya bercabang. Setelah itu dia mengajak ke sini. Padahal waktunya tidak banyak lagi untuk jalan-jalan."

Haha, cowok ini jujur sekali. Hah, terlalu jujur.

Hm, kalau tak salah namanya Atsusi kan? Lagipula siapa itu Kurochin?

"Eh itu artinya kau tidak berencana mengunjungiku Tatsu?", kataku saat kembali dengan segunung snack.

"Aku bertemu Taiga di streetbasketball."

"Eh?"


Love of Childhoodfriend © bluesnow


[Los Angeles, 6 tahun lalu bulan Juni]

"Ini Kagami Taiga. Dia sudah kuanggap sebagai adik sendiri. Taiga ini [name], dia adikku."

Bocah yang diperkenalkan Tatsu padaku terlihat tak bersahabat. Rambutnya merah lalu menghitam di bagian bawah. Untungnya saat kuulurkan tanganku untuk bersalaman dia meraihnya.

Meskipun, saat bersalaman dapat kurasakan tatapan aneh dari bocah di depanku. Apa dia membenciku ya?

"Sekarang kami akan bermain basket dengan Alex. Apa kau mau ikut?"

Alex? Siapa lagi itu? Pelatih basket? Bagaimanapun orang yang bisa kupercaya di sini hanya Tatsu, jadi sudah jelas kan.

Aku mengangguk sebagai jawaban.

"Bagus, ayo kita pergi.", dengan wajah gembira Tatsu menarik tanganku dan berlari. Di sebelahnya bocah berambut merah yang dipanggilnya Taiga berlari dengan wajah sama gembiranya dengan Tatsu. Namun saat dia melihat kebelakang, kearahku, ekspresi di wajahnya berubah. Antara marah, kesal, dan… bingung?

Sesampainya di lapangan basket kedua bocah ini celingak-celinguk mencari sesuatu. Sepertinya yang mereka cari itu Alex.

"Ah, Alex!", seru dua bocah di depanku dengan suara lantang. Jadi mana yang namanya Alex?

"Hey, Tatsuya, Taiga."

Dari arah kerumunan seorang wanita berambut pirang berlari ke arah kami. Tanpa malu-malu wanita itu mendaratkan kecupan pada Tatsu dan Taiga. Di bibir.

What the?!

Belum sadar dari syokku wanita itu sudah berjalan ke arahku dan

Cup.

Diciumnya puncak kepalaku.

"Hey, Taiga if you want more kiss wait for your turn."

Kalau diperhatikan dengan jelas saat ini Taiga sedang menarik baju wanita di depanku. Orang yang mereka panggil Alex. Apa mungkin dia…

"Stop your bad habbit Alex. Don't scare Tatsuya's little sister like that.", seru Taiga kasar pada Alex.

"E~h, so this is your new sister Tatsuya. How cute. Hey, my name's Alex.", Alex langsung beralih padaku. Mengabaikan Taiga yang melotot padanya.

"[name]", jawabku singkat.

"Well [name] wanna play the game together?", suara Alex sudah berubah. Tak kekanakan lagi. Mungkin dia memang pelatih basket sungguhan.

"No, thank you. It's fine this way."

"Eh? Really? Well, if you feel like to play, just don't hold back yourself. Okey?"

"Hm."

Setelah merasa yakin dengan jawabanku, mereka bertiga mulai bermain basket.

Sejujurnya aku ingin sekali ikut bermain, sayangnya ingatan tentang janji yang tak bisa kutepati membuatku urung melakukannya. Apa dia akan marah ya kalau tahu aku pergi ke Amerika tanpa pamit? Apa dia akan marah kalau tahu aku tak akan pernah bisa datang ke pertandingan? Apa dia akan membenciku ya?

"Awas!"

Mendengar suara yang sepertinya ditujukan padaku sontak membuat pikiranku buyar. Dan saat sadar, benda bulat orange sudah bertabrakan dengan kepalaku. Lalu dunia serasa mengabur, suara-suara menjadi dengungan dan bersamaan dengan hilangnya kesadaran, semua menjadi hitam.

.

.

.

"Ini semua salah Aomine-kun."

Bola orange besar terpantul-pantul menuju pagar besi pembatas sekolah.

[Tokyo, 7 tahun lalu bulan Mei]

"Hah? Tentu saja ini salahnya, kenapa dia diam di situ terus. Hoi, teme. Mengakulah. Kalau tidak anak ini akan menyalahkanku terus."

Aku tak merespon apapun. Lebih memilih untuk bangun dan membersihkan kotoran saat jatuh tadi.

"Teme!", dengan geram Aomine mencengkram kerah bajuku.

"Aomine-kun!", teriak Momoi yang menyadari keadaanku.

Tapi terlambat.

Wajah penuh air mata sudah terekspose dengan jelas. Manik merah jambu bergetar menahan tangis, dan manik biru menampakan keterkejutan. Segera dilepas cengkramannya. Lalu suasana menjadi canggung.

Dua anak itu hanya bisa diam. Yang terdengar hanya helaan nafas Momoi dan milikku. Dia mencoba untuk tidak menangis, sedangkan aku untuk menghentikannya.

Setelah 2 menit yang begitu panjang, akhirnya Aomine memecah keheningan.

"Ha-hanya terkena bola seperti itu saja menangis. Dasar cengeng."

Seketika itu juga amarah menggantikan semua emosi yang ada.

"Kau itu bodoh ya? Mana ada orang menangis hanya karena bola."

"Buktinya kau menangis."

"Tapi bukan karena bola."

"Lalu apa?"

"Bukan apa-apa."

"Dasar aneh."

"Apa katamu?"

"Menangis tanpa sebab itu aneh."

"Bukan urusanmu."

"Terserah."

Tahu apa dia.

"Kalian tidak akan mengerti.", kataku dengan suara pelan menyerupai bisikan.

"Ha?"

"Apa kau mengerti perasaanku?"

"Apa?"

"Hanya karena ayahku selingkuh dan bercerai apa harus seperti ini?"

"Kau ini bicara apa sih?"

"Apa harus semuanya menjauuh seperti ini!"

"Kau itu bodoh ya?"

"Ap-"

"Anak ini dan aku ada di sini. Apa kami terlihat menjauhimu? Seenaknya saja mengatakan semua orang menjauhimu. Memang kau pikir guru-guru menjauhimu? Bahkan kalau kau pergi sendirian tidak ada jaminan orang-orang jahat akan menjauhimu. Kupikir pindahan dari Teiko akan jenius, nyatanya tak ada bedanya dengan yang lain. Pikiranmu sempit."

Mendengar ocehan panjang lebar dari Aomine membuatku hanya bisa mengerjap. Mengerutkan dahi. Lalu memasang wajah bodoh.

Percuma bicara dengannya. Menambah kesal saja. Lebih baik aku pulang.

"Mau melarikan diri ya?"

Mendengar pertanyaan penuh ejekan dari Aomine menyurutkan keinginan untuk sampai di rumah secepatnya. Anak ini sepertinya tahu sekali cara membuat marah orang lain.

"Siapa maksudmu? Seenaknya saja menuduh."

Bukannya membalas pertanyaan sarkatis dariku, dia malah berkata dengan nada yang lembut, yah setidaknya lebih lembut dari sebelumnya, "Hei, lupakan saja teman yang seperti itu. Kalau mereka menjauhimu hanya karena hal seperti itu lebih baik kau cari yang lain saja."

"Ha?"

"Aomine-kun benar. Namaku Momoi Satsuki, dan dia Aomine Daiki. Yang mau Aomine-kun katakan adalah, ayo berteman. Begitulah.", jawaban dari Momoi menggantikan Aomine yang bungkam.

"Jangan asal deh Momoi!", Aomine memasang wajah 'sangat terganggu' dan berteriak dengan nada ketus.

"Tapi memang itu kan yang mau Aomine-kun katakan?"

Melihat mereka adu mulut entah kenapa terlihat lucu sekali, senyum ini tak bisa ditahan.

"Apa senyum-senyum begitu?", cibir Aomine yang ternyata sudah selesai adu mulut dengan Momoi.

"Bukan apa-apa.", kataku ketus.

"Kau ini…", Aomine terlihat akan meledak.

"Ma, ma, kalian berdua sudahlah. Ayo berdamailah. Lebih baik main saja ya. Uhm, main apa asiknya ya? Uhm?", Momo terlihat berpikir keras.

"Shiritori.", usulku asal. Yang penting aku tak ingin terlalu banyak bergerak. Merepotkan.

"Sudahlah lanjut basket saja.", usul Aomine sambil melirik sinis padaku.

"Mou, kalian berdua membosankan. Ayo main yang bener-bener main. Kejar-kejaran, atau…"

Momo, sadarkah kau kalau apa yang dikatakan Aomine itu juga bener-bener main.

"Main basket juga lari-lari.", tuh kan Aomine juga ngomong begitu.

"Tapi kan,", Momo terlihat tidak senang dengan pilihan yang tersedia.

"Petak umpet, gimana? Aku sedang malas melakukan hal berat.", yah setidaknya kalau tidak jadi oni aku bisa berdiam di satu tempat yang sama cukup lama.

"Boleh juga. Gimana Aomine-kun?", wajah Momo berseri senang. Sepertinya dia sedang tak ingin bermain basket.

"Merepotkan. Terserah kalian saja.", akhirnya Aomine menyerah juga. Tentu saja, dua lawan satu sih.

"Ja, janken"

Setelah itu entah sudah berapa kali kami main bersama. Dan setiap kali Aomine menjahili Momoi, dia akan berlindung padaku. Keseharian yang seperti ini berakhir ketika otou-san membawaku pindah ke Hokaido. Kami masih sering berkirim surat sih. Bahkan di surat terakhirnya kami sudah berjanji untuk datang ke pertandingan Aomine yang pertama. Sayangnya tanpa diduga otou-san membawaku lagi untuk pindah ke Amerika. Bahkan aku tak membawa satu barangpun dari rumah. Benar-benar mendadak. Dan tentu saja, tak ada yang tahu tentang kepindahanku ini. Itu termasuk mereka. Aomine dan Momo.

.

.

.

"...ja"

[Los Angeles, 5 tahun lalu bulan Juni]

Hm?

"Ap… kau baik-ba… ja"

Suara siapa? Dia bilang, apa?

"Hei, apa kau baik-baik saja?"

Begitu kubuka mataku. Warna merah memenuhi seluruh penglihatanku. Semakin jelas. Semakin jelas, dan. Wajah kawatir Taiga berada tepat di depan mataku. Lalu berubah menjadi kelegaan ketika dilihatnya aku sadar.

"She's ok! Don't worry Tatsuya, Alex!"

Bisa kudengar suara-suara yang tak begitu jelas, tapi kalau boleh kutebak pasti tak jauh-jauh dari kelegaan.

"Hei, kau benar-benar sudah baikkan?"

"Hm"

Lagi-lagi Taiga melihatku dengan tatapan aneh itu.

"Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa.", jawabnya cepat sembari memalingkan wajah.

Tidak ada apa-apa kok memalingkan wajah? Pasti ada apa-apanya.

"Kau ini, sejak pertama bertemu kau terus melihatku seperti itu. Apa kau marah padaku?"

"Hah? Apa yang kau bicarakan?", awalnya Taiga terlihat kaget dengan pertanyaanku lalu dengan lebih lembut dia menjawab, "Jess, aku tidak marah. Hanya saja…"

"Hanya saja?", pancingku.

"Hanya saja, aku tak tahu bagaimana cara memperlakukan anak perempuan.", jawabnya jujur dengan wajah memerah.

"Hah?"

"Ck, kau itu. Apa kau tahu bagamana anak perempuan di kelasku. Entah kenpa mereka selalu bergerombol dan berbicara hal yang sulit dimengerti. Kukira kau juga seperti itu.", jelas Taiga sebal lalu menjadi pelan di kalimat terakhir, seakan dia meragukan apa yang diucapkannya.

Ternyata bocah ini tidak marah. Dia hanya kikuk. Yang berarti tadi itu memang dia berniat menyelamatkanku. Baiknya, selain itu dia. Imut sekali.

"Jadi apa aku sama saja dengan mereka?", entah kenapa rasanya jadi ingin menggoda bocah polos ini.

Tak kusangka jawaban cepat dan tanpa beban sedikitpun datang daarinya, "Aa, tak kusangka dibandingkan mereka kau lebih terlihat seperti anak laki-laki."

Counter attak. Nggak di sini nggak di Jepang semua sama saja. Memangnya semirip apa sih aku dengan anak laki-laki?

Dengan sebal kupelototi anak yang berlari kembali ke lapangan basket. Mengabaikan deathglare ultra maks dariku bocah itu malah mulai bermain basket dengan gembira. Melihat wajah dan senyum itu, uh, curang sekali. Aku tak bisa terus-terusan marah kan. Malahan aku tak bisa menahan senyuman ini. Aah, aku jadi, ingin bermain juga kan.

"Ano,"

"Ada apa?", tanya Tatsu lembut.

"Hm, boleh aku ikut. Basket.", kataku sedikit terbata.

"Of course, come here."

Itulah saat pertama kami berempat bermain basket. Dan aku cukup, ah bukan hanya cukup, tapi sangat menikmatinya. Bermain bersama mereka. Berada dengan mereka sungguh sangat menyenangkan.

Tanpa terasa sebulan telah berlalu. Itu artinya. Selamat datang liburan musim panas.

Liburan musim panas ini Alex membawa kami bertiga ke summer camp. Tidak. Tidak. Tidak. Alex tidak membawa kami untuk mengikuti summer camp, tapi berkemah di tempat summer camp.

"It's more save this way."

Alex bilang sih begitu, tapi siapa yang tahu dia bisa diandalkan atau tidak. Selera Alex kan belum tentu sesuai denganku. Yah, itu apa yang kupikirkan sih. Tapi ternyata aku salah. Mungkin selera Alex memang bagus, atau bisa jadi ini hanya kebetulan di antara ratusan bahkan ribuan hal biasa kebetulan terjadi. Well, lupakan pikiran berbelit yang belum tentu ada artinya milikku tadi.

Intinya, tempat yang dipilih Alex memang bagus banget. Dia memilih daerah lapang dengan pepohonan yang lumayan lebat disekitarnya sehingga mirip hutan dengan sungai dan bukit kecil yang bisa dijangkau dengan berjalan 10 menit.

"What I say?", katanya dengan senyum kemenangan dan muka sok yang mengatakan 'I'm always right' begitu kami sampai di tempat camp. Memang sih ekspresi kami bertiga terlalu berlebihan. (Mataku terbelalak dan mulut ternganga lebar. Taiga juga sama, hanya saja wajahnya lebih terlihat bodoh dariku. Sedang Tatsu masih memasang pocker face seperti biasa hanya saja mata itu tak bisa menutupi keterkejutan dan ketertarikan yang ada di sana.) Tapi nggak gitu juga kali. Alhasil setelah dapat mengendalikan keterkejutan kami, tak satupun yang mau meladeni perkataan Alex. Yup, Alex sukses dicuekin.

"Hidoi yo minna.", kata Alex dengan mulut mengerucut dan wajah merajuk atau mungkin memelas yang lucu sekaligus membuatmu tak bisa marah lama-lama.

Taiga yang pada dasarnya tak bisa melihat wanita ngambek, mendekat pada Alex. Bener-bener deh, anak ini baik banget. Melihat Alex dan Taiga sekarang ini membuatku ingin tertawa saja. Pasalnya, saat Taiga mendekat dan mengatakan, "Sudahlah. Kami tak akan cuek lagi hentikan wajah itu okey?", wajah Alex berubah berbinar-binar dengan efek bling-bling yang menyilaukan. Tak lama kemudian Alex berteriak, "Taiga, I love you.", lalu pelukan dan ciuman bertubi-tubi datang darinya. Taiga yang terperangkap mencoba meronta dan berteriak, "Stop it!", namun tak ada gunanya. Semua itu berlangsung selama 10 menit penuh dengan akhir, wajah tersenyum Alex dan wajah mirip zombie dari Taiga.

"Dasar penghianat."

Aku memandang bingung Taiga yang sedang mencuci kentang dengan wajah serius. Eh, apa aku salah dengar ya? Tapi sepertinya tidak. Ekspresi Taiga terlalu gelap untuk tugas mencuci sayur dan buah di sungai. Apa dia marah padaku ya?

"Taiga, apa kau marah padaku?", tanyaku takut-takut.

"Betsuni.", mata Taiga masih focus pada kentang di hadapannya, nada suaranyapun ketus sekali. Apanya yang betsuni, dasar.

Sisa waktu kami jalani dalam diam. Lebih tepatnya suasananya terasa mencekam. Taiga yang biasanya ribut berubah diam. Waktu Alex sengaja menciumnyapun Taiga sama sekali tidak protes. Reaksi itu membuat Alex melotot sempurna. Mata dan wajah itu penuh dengan ketakutan waktu memandangku dan Tatsu yang tak kalah kaget dengan reaksi Taiga. Keadaan ini seperti laut tenang sebelum badai datang. Ah, lebih mirip berjalan menyebrangi jurang di atas tali tanpa pengaman. Kau tak tahu apa penyebabnya tapi kau tahu semenyeramkan apa akibatnya.

Acara barbeque berjalan lancar tanpa aksi berebut makanan seperti biasanya. Menyisakan banyak sisa makanan. Kemana hilangnya nafsu makan berlebihan Taiga?

"Ah, guys how about watching stary sky?", usul Alex dengan wajah berseri-seri. Iris emerald itu berkilat oleh harapan dari ide yang menurutnya brilian. Ehm, tapi tak ada salahnya juga sih. Melihat langit berbintang ya, kalau ada bintang jatuh akan lebih bagus lagi.

"Good job." Dan, "Nice one Alex.", kataku dan Tatsu bersamaan. Sedangkan Taiga tetap bungkam. Yah, 3 lawan 1 sudah pasti kan.

"Uwa, so cool!", teriakku begitu sampai di bukit yang dimaksud Alex.

"What you mean, beautyfull right.", koreksi Tatsu. Tapi tak kuhiraukan. Beautyfull, cool, amazing, itu semua bisa digunakan pada saat ini. Pada tempat ini.

"Well, the name Stary Hill is not for nothing.", jelas Alex sambil meregangkan tubuh, mencoba menikmati pemandangan dengan lebih rilex.

"Nothing special.", komentar Taiga membuat suasana beku seketika.

"A, ah, seharusnya kita bawa snack dan minuman tadi. Aku akan mengambilnya sebentar.", Alex mencoba memecah kebekuan dengan bertingkah seolah membawa snack dan minuman itu hal sangat penting yang lupa dilakukannya.

"Biar kubantu."

Dengan begitu Tatsu dan Alex menghilang di kegelapan malam. Menyisakan keheningan ganjil diantara Taiga dan aku.

"U, udara di sini segar ya.", kataku sambil menghirup udara yang berbeda dengan kota Los Angeles.

"Not really.", komentar Taiga singkat. Ugh, apa yang harus kukatakan?

"Langitnya cerah ya."

"Iya kali."

Anak ini.

"Tempatnya bagus ya."

"Mungkin."

Aku sudah.

"Bintangnya juga terlihat jelas."

"Nggak ada gunanya."

Kesabaranku sudah habis.

"Serius deh Taiga, kau marah karena apa sih?", akhirnya meledak juga. Hah, menahan amarah itu buruk untuk kesehatan. Meski ini nggak ada hubungannya dengan masalah kali ini.

"Betsuni.", jawab Taiga masih dengan wajah kesal tanpa melihat ke arahku. Ugh.

"Berhenti ngambek begitu, katakan saja.", akhirnya aku berpindah tempat, berjongkok di depan Taiga.

"Aku nggak ngambek.", jawabnya ketus sambil memicingkan mata.

"Kalau ini karena tadi aku minta maaf.", kataku akhirnya. Sekelabat kuingat janji yang kubuat setelah berterima kasih karena menyelamatkanku dari ciuman Alex. "Sebagai gantinya, akan kubantu saat Alex akan menciummu."

"Kenapa minta maaf segala.", sepertinya tebakanku benar. Wajah itu masih menampakan kekesalan, namun sedikit melunak.

"Maaf Taiga. Aku tak bisa apa-apa saat Alex bertindak.", sesalku. Aku benar-benar menyesal, tak bisa menyelamatkan temanku, tak bisa menepati janji lagi.

"Kau bilang akan ganti menyelamatkanku.", kata Taiga yang entah kenapa terdengar seperti merajuk.

Sudah jelas, ini karena tadi.

"Maaf. Aku sudah janji tapi. Lagipula harusnya sebagai laki-laki kau senang dicium oleh wanita secantik Alex kan?", merasa lelah disudutkan akhirnya aku balas membentak Taiga.

"Memang kau senang dicium Alex?", balasnya sambil memicingkan mata.

"Aku kan perempuan juga baka.", aku merubah posisi jongkok jadi duduk bersila dan kupalingkan wajah karena marah.

"Apa maksudmu dengan baka? Hah, sebenarnya laki-laki atau perempuan sama saja. Apa kau senang dicium oleh orang yang tak kau sukai?", sepertinya Taiga sudah tidak ngambek lagi. Tapi sekarang jadi banyak omong. Aku tak keberatan juga sih, dibandingkan kesunyian tadi.

"Eh, kau tak suka Alex?", tanyaku tak percaya. Aku bertanya begini lebih untuk menggoda Taiga sebenarnya.

"Bukan begitu. Cih, apa kau tak apa kalau Tatsu atau aku menciummu?", tanyanya frustasi.

"Iya, tidak apa-apa.", melihat wajah kaget Taiga aku tersenyum kecil lalu menambahkan, "Asal bukan di bibir."

Wajah Taiga terlihat kecut. Uh, anak ini. Seberapa imut sih dia bisa. "Kau mau bukti?", tanyaku setengah bercanda setengah serius. Tanpa menunggu jawaban kudekatkan wajahku pada wajah Taiga. Perlahan kukecup dahinya, dan sedikit agak lama baru kusudahi.

Setelah jarak wajahku dan Taiga kembali normal, dapat kulihat wajah bengong Taiga. Setelah mengerjap beberapa kali dia menghela nafas. Lalu tersenyum ramah. Tangannya terangkat mengelus rambutku. Dengan wajah tersenyum kupejamkan mata, mencoba menikmati sensasi hangat dari tangan Taiga.

Setelah itu, semua kembali normal. Normal di sini artinya Taiga berubah kembali menjadi berisik.

"Serius deh. Gara-gara kau aku jadi makan daging sedikit sekali tadi. Padahal itu kan barbeque yang kutunggu-tunggu di camp ini."

Serius juga deh Taiga, apa yang kau pikirkan itu hanya basket, dan makanan saja? Ah, tiba-tiba saja aku ingat saran dari anak perempuan di kelasku. Senyum manis dari wanita bisa merubah banyak hal.

Jadi, dengan PDnya aku tersenyum semanis mungkin ke arah Taiga.

Taiga mengangkat sebelah alisnya dan menatap bodoh ke arahku lalu berkata "Ada apa dengan senyum bodoh itu? Kepalamu terbentur sesuatu ya?"

Salah besar. Anak itu salah besar.

"Kepalaku tidak terbentur kok. Oh ya, tada. Mau permen?", kataku sambil mengeluarkan permen N&M dari saku celanaku.

"Kau selalu bawa permen ini ya?", Tanya Taiga sambil memakan permen yang kuberikan.

"Apa salahnya?", tanyaku defensive.

"Tidak ada. Terima kasih ya.", saat mengatakannya Taiga tersenyum atau bisa dibilang sebuah cengiran yang keluar.

"You're welcome."

Lalu suasana kembali hening. Bukan hening beku seperti tadi. Ini lebih ke hening yang menghangatkan hati. Suasana ini membuatku ingat pada dua orang itu.

"Ne, Taiga.", kataku memecah keheningan yang ada.

"Apa?", jawab Taiga acuh tak acuh.

"Apa kau pernah tidak menepati janji.", kulanjutkan perkataanku dengan nada yang sama. Tidak datar sebenarnya, hanya hampir. Setidaknya masih ada sedikit emosi di sana.

"Ha?", Taiga akhirnya melihat ke arahku dengan wajah bingung.

"Janji yang kau buat sendiri dan akhirnya tak bisa ditepati."

"Ehm, selama ini aku tak pernah membuat janji sih. Tapi kalau sudah kukatakan maka akan kutepati. Kenapa? Apa kau ada masalah?", tak kusangka Taiga akan menanggapinya dengan serius.

"Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Kalau memang mengganjal lebih baik katakan saja. Aku siap mendengarkan kok."

"Siapa yang," melihat keseriusan di wajah Taiga membuat pertahananku runtuh, "hah, baiklah. Memang ada. Dan janji ini mengenai hal yang berarti baginya juga."

"Memang kau berjanji apa pada siapa?", Tanya Taiga penasaran.

"Temanku, aku bilang padanya akan mendukungnya pada perlombaan basket tingkat SD. Anak itu sudah sering membantuku. Bahkan di saat semua orang menjauhiku, dia tetap ada. Dan saat kukatakan akan mendukungnya dia terlihat senang sekali, aku tak bisa, bukan itu, aku tak mau mengecewakannya. Aku merasa, dia akan membenciku kalau tak kutepati apa yang kulakukan. Aku…", tak kusangka, aku bisa mengatakan semua ini pada orang lain. Dulu, kukira aku adalah anak yang akan memendam semua sendiri. Tetapi di dekat Taiga rasanya pemikiranku tadi jadi kasat mata.

"Kenapa berbelit begitu? Kalau dia temanmu pasti dia akan memaafkanmu kan. Yah, mungkin tidak akan semudah itu, tapi percaya deh kalau kalian memang berteman maka semua akan baik-baik saja. Jadi jangan pasang wajah seperti itu lagi.", kembali Taiga mengelus rambutku untuk menenangkanku. Memberiku semangat. Yapari, aku sayang padanya.

"Terima kasih."

"Aa, kita teman kan."

"Tentu saja. Hei, lain kali jangan ngambek karena hal sepele okey?"

"Siapa yang ngambek.", bantah Taiga dengan wajah kesal. Lalu cepat-cepat menambahkan saat melihat seringai di wajahku, "Asalkan kau tidak melakukan itu lagi.", dengan wajah malu-malu. Uwa, imut sekali.

"Tentu saja.", jawabku penuh semangat. "Ah, bintang jatuh. Lihat itu Taiga."

"Oi, oi, bukannya kau harus cepat-cepat membuat permohonan sebelum menghilang."

"Eh?! Benarkah?"

Cepat-cepat kupejamkan mata dan tanganku kutangkupkan di depan dada menjadi posisi berdoa. Semoga selamanya tetap seperti ini. Bersama mereka seperti ini.

.

.

.

"Yare, yare. We just go about 30 minute and they fall asleep just like that."

"It's okey Alex. Well, it's a bit make me jelause, how can you steal my sister like that Taiga."

Penyebab dua tanggapan aneh itu adalah pemandangan yang ada di depan mereka. Taiga dan aku tidur saling bersandar di bawah pohon ek. Meski tak begitu kentara, kedua tangan itu saling bertautan. Ditambah dua wajah damai yang ditunjukan itu membuat iri saja.

.

.

.

"It's a realive that you back to your normal self Taiga. But, what will we do if you ate all the food?!", protes Alex di pagi hari.

"What you say Alex? It just like always right. Second please.", jawab Taiga sambil menyodorkan piring kosong pada Alex.

"It's more like fifth than second you know. Argh, I don't know wich more better the quiet you or the greedy one?", protes Alex, meski begitu dia masih saja mengambilkan kare kelima untuk Taiga.

"We need lots of energy to play the game.", sanggah Taiga yang sepertinya sudah kebal dengan gerutuan Alex.

"We won't play here. Let's pack up and go home.", Alex menyerahkan kare yang kali ini didouble porsinya.

"Eh? Nande? I mean, why?", emang dasar Taiga. Protespun kare tetap diterima dan lanjut makan.

"We can't survive whitout food. And we'll play in the usual place, so don't worry cutie.", Alex memberi kedipan jail pada Taiga. Mulai deh, keisengan Alex.

"Don't call me like that.", protes Taiga dengan wajah sebal meski mulut penuh tak berhenti mengunyah.

"Glek. Yosh sa, let's go home and play basketball!", Teriak Taiga semangat. Piring di depannya sudah licin, ck ck ck, aku masih tak terbiasa dengan nafsu dan kecepatan makan anak ini.

"Aa, clean all place and pack up guys. We'll back in 10 minute again. Okey?", Alex sudah memberi perintah. Kami sisanya hanya mengangguk dan cepat-cepat membereskan semua barang.

Saat mataku dan Taiga tak sengaja bertemu, dia memberikan cengiran lebar dengan gembira. Melihatnya aku juga tersenyum, dan aku tahu, Tatsu juga tersenyum melihat kami. Semua ini, saat-saat seperti ini, kuharap tak pernah berubah. Tetaplah seperti ini.

.

.

.

"Aku tak ingin bersaudara dengan Taiga lagi.", kata-kata yang meluncur dari wajah kosong tanpa ekspresi Tatsu adalah hal terakhir yang kuingat saat pulang ke Jepang.


Love of Childhoodfriend © bluesnow


Malam ini rasanya aku tak akan bisa tidur.

Tatsu dan Atsusi sudah pulang sejak berjam-jam yang lalu. Menyisakan tumpukan sampah dan tak menyisakan satupun snack untukku. Mentang-mentang punya badan sebesar itu lantas semua snack dihabiskan tanpa sisa. Dasar.

Hah, kenapa masalah sepertinya tak ada habis-habisnya sih? Masalah Aomine saja belum beres, sekarang Taiga. Laki-laki itu harga dirinya kenapa tinggi sekali sih. Menjadi saingan dan saudara memangnya apa susahnya? Lagipula, dilampaui oleh adik sendiri seburuk apa sih sampai mau putus hubungan begitu? Argh, kalau begini terus otakku bisa meledak.

Tak ada cara lain. Masalah ini harus diselesaikan satu-persatu.

Baiklah, sepertinya masalah Aomine lebih mudah untuk diselesaikan.

Yang harus kulakukan hanyalah menyiapkan mental.

Siapkan dirimu untuk penolakan.

Yup, sudah diputuskan. Katakan semuanya. Semuanya. Apapun resikonya.


Love of Childhoodfriend © bluesnow


Itu yang kupikirkan semalam, tapi.

Argh, apa yang harus kukatakan pada mereka? Masa datang-datang langsung.

'Dai-chan, Satsuki, ini aku. Apa kalian mengingatku?'

Ini sudah 3 bulan sejak pertama bertemu mereka, masa baru ngomong gitu, pasti aneh sekali kan. Atau.

'Dai-chan, Satsuki, ini aneh sih tapi aku baru ingat kalau sebenarnya kita teman dari kecil loh, hahahaha.' Ha.

Nggak. Terlalu aneh, maksa, tidak alami, dan entah kenapa kesannya sok banget. Ugh, apa yang harus kukatakan ya?

Ah, waktu terasa berlalu begitu cepat saat kau melamun. Kenapa pintu menuju atap sudah di depan mata begini?

Tarik nafas. Hembuskan. Tarik nafas. Hembuskan. Tarik nafas. Hah. Ayo kita lakukan ini.

Kriet.

Ke-kenapa di saat seperti ini pintu ini malah berbunyi menakutkan? Tenang. Tenang. Tenang. Kan cuma mau bilang lama tak jumpa atau sejenisnya, kenapa tegang begini sih?

Mereka ada di mana ya? Hm… ah, itu dia. Yosh.

"Yo. Momo. Aomine."

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Panggilan itu, apa mereka menyadarinya ya?

"Apa? Ada apa dengan panggilan itu? Menggelikan.", tak butuh waktu lama untuk mendapat jawaban. Dai-chan terlihat sangat terganggu dengan panggilanku. Jadi, apa ini pertanda buruk?

"Ne, kenapa tiba-tiba kau mengganti panggilan seperti itu?", tanya Satsuki takut-takut. Sepertinya dia masih ragu-ragu dengan apa yang ditanyakannya. Mungkin juga dia takut dengan jawaban yang kuberikan. Keduanya sama saja. Pada akhirnya, Satsuki juga memberikan tanggapan buruk.

"Tentu saja karena aku ingin memanggil kalian seperti dulu lagi. Apa kalian mengingatnya? Hahaha.", seperti yang biasanya dilakukan orang lain, aku mengatakannya dengan tersenyum. Lebih tepatnya senyum yang dipaksakan. Sial, aku ingin berhenti tersenyum sekarang juga.

"Apa maksudmu?", Tanya Aomine dengan nada defensive. Hah, sudah jelas sekarang. Terima nasibmu nona.

"Hahaha, jangan bilang kau melupakannya. Ini aku. [name]. Saat SD kita sering main bertiga, ingat kan?", jelasku masih dengan senyum aneh terpasang di wajahku. Bagaimana ini, aku takut mendengar jawaban mereka sekarang. Seandainya mereka tidak mengingatku itu akan lebih mengerikan dibanding dibenci mereka.

"Kenapa baru mengatakannya sekarang?"

Mendengar suara rendah dan dingin dari Dai-chan membuatku sadar. Dibenci dan dilupakan, keduanya pilihan yang sangat buruk. Aku tak yakin bisa mempertahankan senyum ini lebih lama lagi.

"Kalau tentang itu. Kalian sama sekali tak ingat padaku saat pertama bertemu sih, aku kan jadi sedih. Kukira dengan begini kalian akan ingat. Tapi ternyata tidak, yah melihat kalian yang nggak sadar-sadar lucu juga sih."

Aku bohong. Tapi dengan begitu rasa sakit ini sedikit berkurang. Dan dengan begini aku bisa berhenti tersenyum di depan mereka.

"Jadi menurutmu ini seperti permainan, begitu?"

Dai-chan masih bertanya dengan suara rendah dan dingin. Uh, aku ingin berhenti sekarang juga.

"Yah, sebelas dua belas."

Tolong jangan buat aku terlihat lebih buruk dihadapanmu lagi.

"Apa tak ada yang mau kau katakan terlebih dahulu?"

Kenapa kau bertanya begitu? Memang apa yang harus kukatakan?

"Tidak ada."

"Ayo pergi Satsuki. Tak ada gunanya meladeni orang ini.", tanpa menunggu jawaban Satsuki, Dai-chan, (Ah mulai sekarang aku harus memanggilnya Aomine ya, panggilan sok akrab itu sudah tak bisa kugunakan, haha.) sudah pergi terlebih dulu. Sebegitu nggak inginnya dia melihatku?

Hidoi yo. Padahal kan aku.

"Baka, padahal aku juga ingin bilang aku menyukaimu.", kataku pelan. Tapi sepertinya tak sepelan itu hingga tak terdengar oleh Momo. (Aku juga harus menghentikan panggilan sok akrabku pada Satsuki.)

"Kau, menyukai Dai-chan?", tanya Momo tak percaya. Sepertinya topik ini lebih menarik perhatiannya dibandingkan fakta yang baru saja kukatakan.

Aku memandang Momo tak percaya, lalu sebuah senyum muncul begitu saja, "Ya, seperti itulah."

"Mou, kenapa kau tak mengatakannya pada Dai ah, Aomine-kun saja tadi?", setelah hanpir menyebut Dai-chan wajah Momo jadi terlihat kawatir telah salah bicara.

"Daijobu yo Momo. Panggil Dai-chan saja seperti biasa. Dan juga, jangan paksakan dirimu seperti itu.", cukup mengejutkan juga sekarang ini aku bisa bicara sesantai ini pada Momo.

"Memaksakan apa?", tanya Momo tak mengerti.

Memaksakan tak ada perasaan apa-apa meski ada orang yang bilang suka pada Aomine. Itu yang ingin kukatakan, tapi yang keluar malah, "Hah, aku salut kalian bisa bertahan tetap menjadi teman setelah bertahun-tahun."

"[name]-chan aku tak tahu hubungan pertanyaanku dan jawabanmu itu."

"Momo, kau tahu kan kalau aku menyukai Aomine?", sebagai jawaban Momo mengangguk. Selanjutnya aku berkata, "Jadi aku tahu pasti seperti apa tatapan orang yang menyukai Aomine, karena aku juga mengalaminya."

"Tunggu dulu. Sepertinya kau salah deh. Yang kusukai itu Tetsu-kun, jadi aku tak ada perasaan apa-apa pada Aomine-kun.", Momo masih mencoba menyangkal, meski bisa kulihat sedikit keraguan di matanya.

"Hah, kau keras kepala juga ya. Aku kan sudah bilang kalau aku tahu tatapan orang yang menyukai Aomine karena aku juga mengalaminya. Dan belakangan ini tatapanmu pada Aomine kentara sekali terlihat sepertiku. Mungkin kau tidak menyadarinya karena terlalu sering mengklarifikasi kesalahpahaman orangtentang kalian. Tapi justru itu masalahnya. Pasti kau akan merasa aneh jika akhirnya kalian benar-benar jadi kekasih. Tapi cobalah menerima itu semua."

Kenapa aku bicara panjang lebar begini ya?

"[name]-chan aneh deh. Kau bilang kau menyukai Dai-chan, tapi kenapa kau malah bicara panjang lebar seperti itu padaku?", sepertinya Momo sangat tidak percaya aku mengakui perasaanku lalu detik berikutnya menasehati rival cintanya. Meski sebenarnya Momo bukan rival cintaku, karena sejak awal aku tahu mereka memang seharusnya bersama. Aku tahu itu. Hanya. Selama ini menutup mata dan telinga membuatku berilusi bisa mendapatkannya. Pada akhirnya, itu tidak mungkin. Aku tahu kok.

Aku juga tak tahu kenapa bicara panjang lebar begini. Tapi kalau dipaksakan, mungkin

"Uhm, kalau mau dipaksakan, jawabannya mungkin… ah, karena kalian berdua teman yang penting. Begitulah, hehe."

Ya, kurasa seperti itu. Kita teman kan? Melihat temanmu saling menyukai dan kau diam saja tidak benar kan? Karena itulah.

"Ternyata kau tidak berubah ya. Mou, kenapa aku tak bisa ingat kalau [name] dan [name] itu orang yang sama. Aaaaaaaah."

Melihat Momo frustasi lucu juga. Manisnya, hahahaha.

"Sebenarnya, aku juga baru ingat saat tahu nama lengkap kalian. Habis, aku kan tak tahu nama keluarga kalian.", ah, akhirnya aku bisa juga mengatakan yang sejujurnya. Benar-benar membuat lega.

"Mou, ternyata kau sama saja. Yah, sudahlah, aku akan mengejar Dai-chan dulu. Bye [name]-chan."

"Hm, bye-bye."

Bye-bye.

Atap terasa sepi setelah Momo pergi. Suasana yang tepat untuk berpikir. Satu masalah sudah selesai. Tinggal satu lagi.

Kalau begitu, apa yang harus kulakukan sekarang?

Apa yang harus

Yang harus

Kulakukan

Aku

Lakukan

Aku tak ingin melakukan apapun. Bodohnya.


Love of Childhoodfriend © bluesnow


Momoi pov

"Aomine-kun tunggu."

Huh, jalannya cepat sekali sih. Mentang-mentang kakimu lebih panjang. Dai-chan aho.

"Oi Satsuki"

Uph, kalau berhenti bilang-bilang dong. Aku kan jadi tak harus menabrak punggungmu Dai-chan. Huh.

"Jangan cemberut begitu. Ngomong-ngomong, apa kau tak apa-apa?"

Eh, tumben-tumben Dai-chan perhatian gini.

"Ehm ehm, daijobu. Punggung Dai-chan memang keras sih, tapi lumayan empuk juga. Hidungku nggak kenapa-napa kok. Hehehe."

"Ck, bukan itu. Kau itu bodoh ya?", kata Dai-chan dengan wajah malas menyebalkannya. Uh, membuat malu saja.

Sebelum wajahku berubah cemberut sempurna, Dai-chan sudah menyela. "Waaa, jangan cemberut lagi teme. Yang kumaksud itu, apa tak apa tadi kau dan dia di atap?"

Ternyata itu yang dihawatirkan Dai-chan. Kalimat akhir yang diucap kan dengan takut-takut itu imut juga. Hm, Dai-chan kawai so.

"Tentu saja tak apa-apa. Memangnya kenapa?", tanyaku dengan kepala dimiringkan ke kanan dan telunjuk menyentuh bibir. Hm, memangnya ada apa?

"Apa kau lupa, karena dia kau hampir mati."

Ah, itu ya. Ingat ko.

Tentu saja aku tidak lupa. Aku masih ingat betul kok. Waktu itu hujan deras seperti badai es mengguyur Tokyo. Rasa dinginnya menusuk tulang, sampai-sampai kupikir tubuhku bisa membeku saat itu juga. Kita sudah menunggu selama 5 jam. 5 jam yang panjang. Tapi dia tak muncul juga. Aku bahkan masih mengingatnya. Suara samar yang kutangkap saat pingsan.

"Satsuki jangan pergi. Aku pasti akan menjagamu sepanjang waktu. Jangan pergi Satsuki. Cepat sembuh dan bermain bersama lagi. Satsuki.", suara Dai-chan yang begitu memelas. Suara yang membuatmu tak bisa meninggalkannya. Suara yang seolah memintaku untuk menjaganya. Selalu di sisinya. Tidak meninggalkannya.

"Dai-chan, aku masih hidup tahu.", kataku dengan mengerucutkan bibir. Berpura-pura merajuk. Padahal dalam hati, aku senang sekali. Tapi tak akan kuberitahu pada Dai-chan. Yang ada pasti dia GR.

"Bukan itu masalahnya. Kuso. Apa kau memaafkannya semudah itu?", bantak Dai-chan seakan apa yang kulakukan tidak masuk akal. Hm, mungkin bagi otak Dai-chan memang tidak akan masuk.

"Dai-chan berlebihan deh.", untuk menenangkannya aku tersenyum semanis mungkin. Berharap Dai-chan bisa luluh. Sayangnya tidak.

"Tapi kau hampir mati karenanya!", bentak Dai-chan cepat dengan suara lebih keras.

"Aku ada di depanmu Dai-chan. Lagipula, apa kau akan tetap berpikir seperti itu kalau dia bukan [name] yang dulu?"

"Itu…", Dai-chan terlihat ragu-ragu.

Sudah kuduga. Kau menduganya tapi tak mau mengakuinya kan Dai-chan. Lagipula, kau terlalu banyak memikirkan [name] tahu. Menyebalkan. Aho.

"Gomen."

Suara rendah dan pelan dari Dai-chan membuatku terkejut. Eeeeh, Dai-chan minta maaf?! Apa yang terjadi di sini? Kenapa,

"Kenapa tiba-tiba kau minta maaf Dai-chan?"

Dengan suara yang sudah kembali seperti biasa meski sedikit kaku dia menjawab, "Soal kemarin. Menyebutmu jelek, dan yang lainnya. Maaf, aku tahu kau melakukan itu untukku kan."

"Dakara. Selama ini Momoi-san menyukai Aomine-kun kan."

"Momoi-san. Jangan keras kepala seperti itu. Cobalah dipikirkan ulang dengan baik. Aku tak ingin Momoi-san memilih pilihan yang salah dan menyesal nantinya."

"Hah, aku salut kalian bisa bertahan tetap menjadi teman setelah bertahun-tahun."

"Hah, kau keras kepala juga ya. Aku kan sudah bilang kalau aku tahu tatapan orang yang menyukai Aomine karena aku juga mengalaminya. Dan belakangan ini tatapanmu pada Aomine kentara sekali terlihat sepertiku. Mungkin kau tidak menyadarinya karena terlalu sering mengklarifikasi kesalah pahaman orang tentang kalian. Tapi justru itu masalahnya. Pasti kau akan merasa aneh jika akhirnya kalian benar-benar jadi kekasih. Tapi cobalah menerima itu semua."

Uh, apa-apaan mereka berdua itu. Mana mungkin aku. Pada Dai-chan.

"Uwah, saat Dai-chan minta maaf, rasanya aneh sekali.", untuk menutupi apa yang kurasakan aku melakukan hal yang biasa kulakukan. Menggoda Dai-chan, dengan mengatakannya dengan wajah horror tak percaya.

"Satsuki teme.", berhasil. Dengan geram Dai-chan kembali berjalan, wajahnya terlihat kesal sekali. Dai-chan gampang sekali marah sih. Demo, itulah Dai-chan.

Segera kusejajarkan langkahku dengannya, "Hehehe. Ma, aku akan memaafkanmu kok Dai-chan. Oh ya, ngomong-ngomong Tetsu-kun punya teknik baru loh."

"Aku tak mau dengar."

"Mou, Dai-chan. Dengarkan dulu dong. Teknik ini… Dai-chan jangan tutup telingamu begitu dong. Hei, dengarkan aku…"

Selamanya, aku ingin terus di sampingmu. Dai-chan.

つづく


Hai, akhirnya update juga chapter 5, hehe. Di chap ini Kagami belum muncul, baru keluar di flashback aja waktu umur 10 tahun. Niat awal itu untuk memperjelas permasalahan yang ada, apa mau dikata kalau akhirnya malah makin kabur. Dan entah kenapa sepertinya banyak chara yang masuk nantinya. Kuharap bisa dimengerti dan diterima aja sih :)

Untuk review dari reader semua, terima kasih banyak ya. Pinkrystal sorry rencana ketemu Kagami baru di chap 6 besok, jadi belum bisa bikin jealous. Tunggu chap depan ya, kalau masih betah baca fic yang makin panjang dengan isi tak meyakinkan ini hehe. Buat mey-chan, iya, kemarin baru lewat namanya, chap ini baru keluar di flashback, chap depan baru deh debutnya hehe. Buat pengakuannya, ehm, udah baca di atas kan. Kumada chiyu untuk endingnya pasti happy end buat semua kok, itu rencananya sih, semoga tidak berubah pikiran di tengah-tengah ngetik chap akhir haha. Buat guest hehehe, makasih buat reviewnya. Buat cemburu Satsuki? Hm, liat chap depan deh, berhasil nggaknya hehe. Kalau yang kamu maksud chal itu chap, maka ini sudah dilanjut. Thanks a lot untuk yang sudah review. Nggak kelamaan nunggu chap ini kan, well, kalau nggak ada yang nunggu ya sudahlah.

Oh ya, buat kalimat berbahasa inggris dan beberapa kata-kata jepang itu mungkin akan agak aneh. Yah, aku nggak begitu bisa dua bahasa itu sih. Jadi, kalau ada yang salah, gomen minna. Kasih tahu mana yang salah kalu bisa, dan mau hehe.

Akhir kata Happy Reading All