Kuroko no Basuke by Tadatoshi Fujumaki
Love of Childhoodfriend by Aoiyuki-Bluesnow
Peringatan: semua-semua yang mungkin terjadi dalam sebuah fic, yang error dll itu.
[momoixaominexOC]
Love and friendship
Hm, wich one is better?
If it's about him, it's not about love or friendship, he's the best
My confortablezone
Love of Childhoodfriend
Chapter 6
"I miss U"
Sudah 5 bulan berlalu sejak insiden itu. Maaf, maksudku pengakuan sebagai teman masa kecil yang ditolak oleh temannya—hanya satu, karena yang seorang lagi sudah menerima dengan lapang hati. Semoga saja.
Intinya, sudah 5 bulan aku tak bicara bahkan bertemu dengan mereka berdua. Takdir itu sungguh hebat. Bahkan berpapasanpun tak sekalipun terjadi. Kegiatan klub juga lebih difokuskan pada risset permainan tradisional, jadi tak ada acara main di sekolah lagi. Yang lebih buruk adalah putusnya komunikasiku dengan Tatsu.
Setelah pengakuanku di atap 5 bulan lalu itu, seminggu setelahnya akhirnya kuputuskan untuk mengirim email pada Tatsu. Kira-kira begini bunyinya.
Tatsu, ini mungkin mendadak tapi ayo kita bicara. Bertiga, dengan Taiga juga. Berhenti bersikap seperti anak kecil dan mari bicarakan bersama. Mungkin akan lebih ringan loh. Balas bila kau setuju ya.
Nyatanya tak ada balasan selama 4 bulan 3 minggu kemudian. Sampai detik ini.
Dan aku baru menyadari fakta penting yang terlewatkan. SEBENARNYA TAIGA ITU ADA DI MANA? Aku tahu dia ada di Jepang. Tapi Jepang itu luas, ada di Tokyo saja belum tentu bisa kutemukan. Argh, sial sekali nasibku.
"Hei wakil ketua, ayo cepat."
Ah, aku belum bilang kabar buruk terbaru ya? Well, tahu kan kalau Winter Cup diselenggarakan di Tokyo. Tahu juga kan, kalau Toou gakuen juga salah satu finalis. Finalis yang diunggulkan malah. Yah, sebagai murid yang baik alangkah bagusnya kalau menonton dan memberi dukungan. Karena itulah semua anggota klub akan pergi mendukung tim basket kami dengan sepenuh hati.
MASALAHNYA, kedua orang itu anggota klub basket. Jadi, MOMO PASTI ADA di sana, dan AOMINE PASTI masuk TIM INTI, yang artinya akan ADA DI LAPANGAN. Tak adakah yang lebih buruk dari ini?
Tapi ternyata, tidak semua hal buruk akan membawa hal buruk terus. Karena sebuah hal baik terjadi saat itu.
Setelah masuk dan mendapat tempat duduk, 'semua' anggota menunggu dengan antusias. Tak terkecuali Mai, yang siapa sangka termasuk fans tim lawan kami. "Center mereka kuat, besar, dan keren. Siapa sangka dia mengalami cedera. Dan ya ampun, melihat wajah itu kau nggak akan percaya seperti apa dia di lapangan." Cukup tahu dengan selera Mai yang random.
Lalu saat tim lawan memasuki arena, sudah bisa ditebak bagaimana reaksi Mai. Dia berdiri dan meneriakan nama pemain itu. Aku tak tahu siapa nama yang diteriakannya, karena focus seluruh indraku ada pada lapangan basket. Tepatnya seseorang yang baru memasukinya. Mulut ini tak bisa dicegah untuk membisikan, "Taiga?"
Love of Childhoodfriend © bluesnow
Sudah 5 hari berlalu sejak pembukaan Winter Cup. Itu artinya sudah 5 hari berlalu sejak aku melihat Taiga lagi untuk pertama kalinya di Jepang, di Tokyo.
Aku bilang melihatnya, karena pada dasarnya aku dan dia belum bertemu apalagi bicara secara langsung. Dia selalu saja sudah lenyap duluan sebelum sempat kutemui. Aku sempat bertemu Alex sesaat setelah kekalahan Yosen, tapi sejenak sebelum sempat bertemu Taiga, okaa-san menyuruhku pulang. Sepertinya aku dan dia belum diperbolehkan bertemu. Sampai sekarang.
Saat ini aku dan Tatsu duduk berdampingan untuk menyaksikan final Winter Cup antara Seirin dan Rakuzan.
Masa-masa permusuhan sudah lama berlalu. Tepatnya 10 menit sebelum pertandingan berlangsung, Taiga dan Tatsu bertemu lalu masalah terselesaikan.
Tidak segampang itu sebenarnya. Ada proses pertarungan di lapangan sebelumnya. Tangisan Tatsu. Dan masih banyak hal lain yang mungkin juga tak kuketahui. Kegelisahan saat membaca email dari Tatsu untuk melihat Seirin vs Yosen, yang bisa diterjemahkan menjadi Taiga vs Tatsu, sekarang hilang tak berbekas. Mungkin aku harus berterima kasih kepada Kuroko, menurut Tatsu dia yang menyadarkan Taiga sehingga persaudaraan mereka berdua tetap terjaga. Itu bisa disimpan dulu.
Sekarang. Fokus penuh pada pertandingan di lapangan. Skor sementara 90-92 dan waktu tinggal 05:11. Onegai Taiga, win it.
Kraus Kraus.
Ah, merusak konsentrasi saja.
"Atsusi, tolong berhenti mengunyah sebentar. Aku sedang berdoa untuk kemenangan Taiga nih.", kataku pada laki-laki terlampau tinggi bersurai ungu di samping Tatsu.
"Hm. Baiklah imouto-chin.", tumben-tumbenan dia menyimpan snacknya segera dan lanjut memperhatikan pertandingan. Salah. Sepertinya kata-kataku tadi tidak berarti. Sebagai ganti snack yang disimpan sekarang dia mengemut lollipop. Heh, setidaknya lebih tenang.
Tentu waktu tak berhenti disaat Atsusi mengemut permen kan. Pertandingan terus berlanjut. Hingga akhirnya…
Love of Childhoodfriend © bluesnow
"Snow princcess, aku tahu kau menyukai nama panggilanmu itu, tapi tak seperti ini juga kan?"
Aku menulikan telingaku. Gimana nggak? Sudah sejam Mai berkomantar itu-itu terus. Yah, bukan salahnya juga sih. Dia mau datang saja sudah bagus. Semua anggota klub kebudayaan tak bisa datang, membuat kehadiran Mai sangat berarti. Sangat membantu tepatnya.
"Katakan alasanmu membawaku ke tempat sedingin ini di tengah cuaca dingin seperti ini sekali lagi."
Hah, tak ada pilihan lain.
"Kejutan untuk temanku.", jawabku singkat. Bukan bermaksud menyinggung atau memperburuk suasana hati Mai, hanya…yah, tak ada kata-kata lain yang lebih menggambarkan situasi saat ini.
Ekspresi kesal yang ditandai dengan mata disipitkan bibir mengerucut dan wajah bersemu, lebih tepatnya seperti terbakar dan berubah memerah, sudah tampak di wajah Mai. I've prepared for this situation.
"Mungkin saja pemain idolamu datang loh.", umpan sudah termakan. Wajah kesal itu berubah memancarkan ketertarikan. Bagai berteriak, 'watashi kininarimasu'.
.
.
.
.
Sudah 2 jam aku dan Mai menunggu. Mana sih orang-orang itu?
Kesabaran Mai yang sudah bisa ditekan 30 menit lalu kembali pada posisi diambang batas.
Aku sudah bermaksud meminta maaf (lagi), saat kulihat perubahan drastis wajah Mai. Kedua pipinya dihiasi warna merah samar dan matanya berkilat penuh kegembiraan. Mungkinkah…
Tepat saat itu. Saat aku berbalik uuntuk melihat penyebab perubahan emosi Mai, aku melihatnya. Tepatnya, kedua mata kami bertemu. Terkunci pada hal sama tetapi berbeda. Mataku dan matanya. Lalu, seperti sebuah sinkronisasi dalam sebuah melodi kami berteriak bersamaan.
"[name]?!"
"Taiga!"
Tanpa menunggu lama aku meluncur ke arahnya.
Bruk.
Sesuai dengan hukum kekekalan momentum yang berbunyi "jumlah momentum sebelum tumbukan sama dengan jumlah momentum setelah tumbukan." ditambah dengan hukum kekekalan energy kinetik yang mempengaruhi kelentingan tumbukan. Ada 3 jenis tumbukan. Pertama, tumbukan lenting sempurna. Kedua, tumbukan lenting sebagian. Dan ketiga, tumbukan tidak lenting sama sekali, yaitu tumbukan yang menyebabkan menyatunya benda-benda yang saling bertumbukan sehingga kecepatan benda-benda sesudah tumbukan sama. Itulah yang sedang terjadi padaku dan Taiga. Oke, lupakan penjelasan berbelit yang masih diragukan kebenarannya tadi. Intinya sekarang ini aku dan Taiga sama-sama terjatuh.
"Geh.", erangnya saat membentur dinginnya es. Tapi sayang, aku tak peduli. Karena...
"Hei, where have you been all this time? I really really really reaaaaaaaaaaaaaaaally miss you, you know? Taiga!", kataku masih memeluk orang yang sangat kurindukan ini dengan erat. Mempertegas bahwa apa yang kulihat bukan ilusi, dan apa yang kudekap adalah kenyataan.
Aku merasakan tubuh dalam dekapanku ini bergerak bangun. Meski begitu tak sedikitpun ada keinginan untuk melepaskannya sekarang.
"Tadaima.", suara lembut Taiga mengalun pelan di atas kepalaku. Tangan besar hangat yang kurindukan mengelus pelan rambutku. Sama sekali tak berubah. Taigaku.
Aku mengangkat kepalaku untuk melihat wajahnya dengan lebih jelas. Wajah imut bocah yang kuingat dulu sudah hilang, tapi tetap saja keimutan itu masih tersisa meski wajahnya yang sekarang terlihat lebih garang. Aku tersenyum—atau mungkin menyeringai—entahlah, pokoknya melihat wajahnya memberikan kebahagiaan tersendiri untukku. Kau tak bisa mengontrol wajahmu saat bahagia kan?
"Okaeri, Taiga.", balasku pelan dan sekali lagi kueratkan pelukanku dan membenamkan wajahku dalam dekapannya. Kuharap waktu berhenti berjalan saat ini. Membekukan saat-saat seperti ini selamanya.
Well, keinginan dan kenyataan memang nggak selalu sejalan kan? Lebih sering bertolak belakang malah. Jadi begitulah. Waktu sama sekali tak berhenti. Dan nggak mungkin berhenti juga sih.
"Ehem. Masih ada orang di sini."
Eh?
Segera kulepaskan pelukanku pada Taiga lalu mengedarkan pandangan mencari pelaku penginterupsian. Kalau dari suaranya sih, harusnya itu Tatsu. Saat itulah baru kusadari. Kami tidak hanya berdua. Banyak orang berkumpul di sini. Sial.
Love of Childhoodfriend © bluesnow
"Boku wa Himuro [name] desu. Yoroshiku."
Lewati sesi malu-malu canggung setelah sadar situasi tadi. Saat ini aku berdiri di sebelah Tatsu dan baru saja selesai membungkuk dan memperkenalkan diri.
"Jadi, kau itu adiknya Himuro Tatsuya?", tanya satu-satunya gadis yang tak kukenal di sini ragu-ragu. Tapi rasanya aku pernah melihatnya di mana ya?
"Iya, dia adikku. Kalau kalian bingung kenapa umur kami sama itu karena dia adik angkatku. Mohon bantuannya minna.", kali ini Tatsu yang membungkuk.
"Aah, sou ka? Ja atashi wa Aida Riko desu. Pelatih Seirin. Yoroshiku.", gadis tadi memperkenalkan dirinya. Oh, jadi dia pelatih Seirin. Eh, itu artinya…
"Aaah! Kau pelatih yang menampar semua anggotamu waktu itu ya?", tanyaku sambil menunjuk Aida tepat di depan matanya. Mau bagaimana lagi, dia berdiri tepat di sampingku, wajar kan kalau jaraknya kurang dari satu meter.
"Ah, kau benar snow princess. Bahkan yang di bench pun punya bekas tampar semua. Ternyata itu kau Aida-chan?", Mai menepuk-nepuk tangannya mengingat kejadian spektakuler versi dirinya. Alasannya simple. Itu pertama kalinya dia melihat pemain idolanya ditampar di depan umum.
Samar-samar kudengar gumaman—yang lebih menyerupai gerutuan dari Aida, "Aa, jadi itu yang dilihat orang lain tentangku.", wajahnya sudah dipalingkan dan kelihatannya dia memudar—mungkin malah mau menghilang. A, sepertinya aku salah omong deh.
"Tokorode, ini Hyuga-senpai, kapten kami. Yang ada di sebelahnya Izuki-senpai. Lalu pria tinggi besar yang tersenyum bodoh itu Kiyoshi-senpai. Orang yang dari tadi diam itu Mitobe-senpai. Terus dari kanan ke kiri Koganei-senpai, Tsuchida-senpai, Kawahara, Fukuda, Furihata.", Taiga mencoba mengalihkan perhatian atau mungkin lebih cocok disebut mengabaikan keadaan pelatihnya dengan cara memperkenalkan orang-orang yang datang bersamanya tadi.
Pria berambut hitam dengan kacamata mengangguk dan mengatakan, "Osh.", saat namanya—Hyuga disebut.
Pria berambut hitam lainnya menggumamkan, "Izuki-senpai mizu ga shoppai*. Kitakore.", atau mungkin aku salah dengar.
Seperti kata Taiga, orang yang bertubuh paling tinggi dan besar itu sedang tersenyum bodoh. Kiyoshi ka?
Pria yang disebut Mitobe-senpai hanya diam, tersenyum, dan mengangguk.
"Ore Koganei Shinji, yoroshiku.", ucap cowok yang disebut Taiga Koganei-senpai sambil menunjukan dua jarinya membentuk huruf V. Ah, caranya tersenyum terlihat mirip kucing.
Orang yang bernama Tsuchida-senpai tersenyum dengan mata terpejam. Eh, tunggu. Sepertinya sejak tadi matanya tak terbuka. Apa mungkin itu yang namanya sipit ya?
Tiga orang yang terakhir itu menganggukan kepalanya saat namanya disebut. Hm? Tunggu. Yang namanya Kawahara tadi yang mana ya? Gawat, aku sama sekali tak ingat. Hm, mungkin yang botak kali ya. Lalu Furihata yang tadi paling kiri kan. Itu artinya yang rambutnya coklat itu kan, yang matanya mirip kucing. Itu artinya yang terakhir itu Fukuda. Semoga tak salah ingat.
"Lalu, siapa cowok yang ada di sebelahmu itu Taiga?"
Taiga membeku saat mendengar pertanyaanku. Memangnya kenapa?
"Kau bisa melihat Kuroko!?", teriak atau mungkin tanya, yah mungkin maksudnya bertanya dengan berteriak. Salah, bukan itu. Kenapa dia sekaget itu aku melihat cowok itu? Jangan-jangan…
"Apa dia hantu?"
Semua orang Nampak terkejut mendengar petanyaanku. Lalu hampir semua orang membekap mulut dengan badan yang bergetar. Are? Salah lagi ya?
"A-"
"Kurokocchi dikira hantu huahahahahahaha.", tiba-tiba saja seorang cowok berambut pirang tertawa keras sekali. Tak lama kemudian semua orang tertawa lepas juga. Apa sebegitu lucunya? Eh mungkinkah, cowok itu bukan…
Sebuah tepukan pelan mendarat di bahuku. Taiga masih dengan ekspresi menahan tawa berkata, "Kau tak pernah berpikir sebelum bicara ya. Tapi itu tadi nice one."
"Kise-kun itu tidak lucu. Minna-san tolong berhenti tertawa.", kata suara datar dari pemuda dengan rambut dan iris sewarna langit musim panas. Seketika itu juga semua orang berhenti tertawa, atau bisa dibilang berusaha menahan tawa. Pundak mereka masih bergerak naik turun dan cengiran masih terlihat samar di wajah semuanya.
"Ma, Kuro-chin jangan marah. Kau mau coklat?", tanya Atsushi dengan wajah inoncent. Heh, seperti biasa.
"Terima kasih Murasakibara-kun tapi dengan berat hati harus kutolak. Ah, Himuro-san hajimemashite. Boku wa Kuroko Tetsuya desu. Yoroshiku onegaishimasu."
Melihatnya membungkuk entah kenapa aku merasakan desakan dari tubuhku untuk reflex membungkuk juga. "Aa, hajimemashite. Yoroshiku."
"Ho, jadi kelemahanmu itu itu.", Mai sudah senyum-senyum mesum nggak jelas. Ugh, tapi benar juga. Karena terlalu terbiasa dengan orang-orang nggak sopan yang seenaknya sendiri, diperlakukan sesopan ini err, aku bingung harus apa. Tapi yang lebih membuatku bingung, "Ja, kenapa Kise Ryouta bisa ada di sini?", sudah diwakilkan oleh pertanyaan Mai.
"Ah itu. Oi Kuroko, kau yang membawa mereka kan, kau saja yang perkenalkan."
"Ini juga salahmu Kagami-kun. Kau yang memberitahu mereka kan. Tapi baiklah.", Kuroko menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan, "Kenalkan, mereka teman setimku waktu di SMP Teiko. Yang sedang senyum-senyum itu Kise-kun. Lalu yang berdiri di ujung itu Midorima-kun. Murasakibara-kun itu orang yang sedang makan pocky. Ini Momoi-san dan Aomine-kun."
Sebagai balasan untuk perkenalan yang dilakukan oleh Kuroko, Kise melambaikan tangannya, sebelumnya cowok ini berkata "Hidoi ssu.", dengan wajah cemberut. Cowok berkacamata—Midorima mengangguk dengan pose menaikan kacamata dan mendekap boneka. Murasakibara? Mungkin yang dimaksud Atsushi ya? Kalau dia sih, masih setia dengan coklat yang ditolak Kuroko tadi. Dan untuk pasangan Momoi dan Aomine, mereka terlihat lebih bersahabat—terlebih Aomine. Mungkin karena yang ada di sini bukan hanya aku. Ok, cukup dengan pikiran depresi itu. Tujuan hari ini adalah bersenang-senang dengan Taiga, singkirkan semua pikiran depresi tadi dan bergembiralah. Yosh.
"Ne, snow princess, bukankah menurutmu Kise-kun lebih hot aslinya dibandingkan dengan foto di majalah?", Mai sudah mengedip jail dan berbisik dengan nada meminta persengkokolan. Hm, tapi kalau dipikir-pikir benar juga. Kise terlihat lebih…
"A, yang lebih penting sekarang", aku mengibas-ngibaskan tangan menghapus pikiran buruk yang mampir ke otakku, "Minna, di sini siapa saja yang bisa main ice skating?"
Hampir setengah dari kami mengangkat tangan. Serius nih?
Love of Childhoodfriend © bluesnow
"Taiga, aku tahu kau bodoh. Tapi tak kusangka kau sebodoh ini.", aku menatap penuh rasa kasihan pada orang yang tertunduk di bawahku.
Dari posisi merangkak. Yup, merangkak. Taiga memandang penuh amarah padaku. Dengan susah payah dia menggeram, "Shut up!", di tengah-tengah usaha sia-sianya untuk bangun.
"Hora, lakukan seperti ini.", kataku mencontohkan cara berdiri dari posisi jatuh.
Dengan susah payah Taiga mengikuti gerakanku. Melihatnya bersusah payah kasihan juga. Saat keseimbangannya hampir hilang begitu berhasil berdiri, tanpa pikir panjang aku menarik dua tangannya. "Good job."
"Arigate."
"Ck, mada-mada dayo. Ayo coba meluncur. Gerakan kakimu bergantian kanan dan kiri seperti bermain roller blade. Tenang aku akan menuntunmu."
Jadi begitulah, dengan gerakan kaku kami meluncur bersama. Sebenarnya ini lebih terlihat seperti aku menuntun Taiga. Kedua tanganku menggenggam tangannya. Dan dia menggenggam tanganku dengan lebih erat. Terlalu erat malah. Tapi hitung-hitung untuk balas jasa saat dia mengajariku bermain basket dulu itu.
Tapi diluar itu, kami berhasil meluncur secara perlahan.
[name]—Taiga
"Eh, ber-berpegangan tangan? Itu, bagaimana mengatakannya ya…", Mai dengan wajah semerah udang rebus memandang tak tentu arah, berusaha menghindari tatapan tajam dari Kiyoshi.
"Tapi Kagami dan Himuro-san melakukannya. Kenapa kita tidak?", Kiyoshi yang sebenarnya hanya memandang dengan bingung dan tak ada tajam-tajamnya bertanya dengan memperhatikan sepasang muda-mudi yang sedang bersusah payah meluncur dengan berpegangan tangan.
"Tapi, itu, itu. Waaaaaaa….", tanpa mempedulikan apa-apa lagi Mai meluncur pergi dengan wajah merah dan asap mengepul dari kepalanya.
"Mai-san, kenapa kau meninggalkanku?", masih dalam posisi mencengkram dinding pembatas dan sebelah tangan terentang ke depan mencoba menggapai sesuatu, Kiyoshi berteriak saat sadar dirinya ditinggal oleh orang yang seharusnya berperan menjadi pelatihnya saat itu.
Mai—Kiyoshi
Mitobe Rinosuke sedikit menekuk kakinya, merentangkan kedua tangannya, mencondongkan badannya ke depan dan meluncur perlahan dengan kaki kanan dan kiri bergantian mendorong.
Sementara itu Aomine memandangi kepergian Mitobe dengan tampang bodoh.
Seharusnya dia mengerti dengan apa yang diisyaratkan oleh Mitobe. Saat dia menunjuk dirinya sendiri itu artinya Aomine harus melihatnya, lalu anggukan tadi mengisyaratkan contohlah dia. Lalu tatapan terakhir itu adalah lakukan bersama-sama. Sayangnya otak Aomine tak dapat menangkap arti dari segala gerakan yang dilakukan Mitobe.
Sadar dari keadaan dumb foundednya Aomine tak tinggal diam. Berbekal insting binatangnya, dengan tertatih-tatih dikejarnya pelatihnya yang sudah meluncur terlalu jauh.
Mitobe—Aomine
Sepasang muda-mudi meluncur dalam balutan cahaya lampu sorot. Setiap gerakan terlihat begitu seirama. Langkah keduanya seakan diset untuk bergerak bersama. Tautan tangan yang tidak terlihat membebani dan justru menopang satu sama lain. Bila harus dideskripsikan dalam satu kata maka keduanya begitu serasi, anggun, membuat mata tak bisa berpaling. Ehm, mungkin harus dalam satu kalimat.
Dan seperti seharusnya, begitu keduanya selesai meluncur beribu tepuk tangan menghujani keduanya. Dengan malu-malu pasangan ini membungkuk serta mengucapkan terima kasih.
"Ne, Himuro-kun, apa menurutmu ini…", Momoi berbisik di sela-sela acara membungkuk dan mengucapkan terima kasih tadi.
"Sebenarnya aku juga berpikir begitu. Tapi tahan saja, tidak rugi juga kan. Lagipula yang lebih mencengangkan itu kemampuan Satsuki untuk belajar.", balas Himuro di sela kegiatan yang sama dengan Momoi.
"Tidak juga. Ini pasti karena pelatihnya yang jago, tehe."
Acara membungkuk dan tepuk tangan masih berlangsung sekitar 5 menit kemudian.
Himuro—Momoi
Segerombolan gadis sedang memotret dan berteriak tak jelas. Sementara objek yang yang menjadi pusat gerombolan itu terlihat sedang mencari sesuatu, atau seseorang?
Hal yang cukup aneh sebenarnya. Semua orang tahu, Kise Ryouta adalah model yang sangat menyayangi fans sehingga paling tidak akan melambaikan tangan sambil tersenyum pada fansnya. Tapi sekarang dia terlihat mengabaikan mereka. Sungguh aneh.
Penyebabnya? Tentu saja pemuda imut bersurai baby blue yang sejak tadi tak terlihat merupakan penyebab semua kegaduhan ini.
Sementara itu Kise yang frustasi, cemas, dan merasa bersalah menyebabkan tubuhnya dehidrasi dan memilih untuk menepi menuju mesin penjual otomatis. Tak menyadari orang yang dicarinya sebenarnya sejak tadi sudah berdiri berbaur dengan kerumunan gadis-gadis tadi.
"Sudah kuduga, aku salah memilih berpasangan dengan Kise-kun.", iris biru terang itu berpaling dari pemuda pirang kepada sesuatu di kejauhan. Tepatnya sepasang muda-mudi yang meluncur tertatih-tatih dengan saling berpegangan, seorang pemuda besar yang terlihat bingung di pinggir pagar, seorang pemuda yang mengejar pemuda lainnya dengan jatuh bangun, dan sepasang muda-mudi yang baru saja selesai menjadi pusat lampu sorot. Setidaknya teman-temannya mengalami hal yang serupa.
Kise—Kuroko
"Ne, Kawahara."
"Ada apa Fukuda?"
"Disaat seperti ini bukankah seharusnya pasangan itu terdiri dari laki-laki dan perempuan."
"Ya, kau benar."
"Lalu kenapa pasanganku itu kau?"
"Entah. Padahal Furihata saja bisa…"
"Aa, aku mengerti. Hidup memang tak adil. Furihata shi ne."
Tolong maklumi aura gelap yang menguar dari dua pemuda yang sejak tadi menatap seseorang dengan tatapan membunuh.
Kawahara—Fukuda
"Oh, come on little kitty. Come to this nee-chan."
Alex mengulurkan tangannya ke depan bersiap untuk menangkap her little kitty, wajahnya mengekspresikan baka-oya yang menanti anaknya berlatih berjalan dan pada akhirnya jatuh dalam pelukannya.
Di sisi lain, Furihata sedang ber—hm, mungkin maksudnya meluncur. Yah, jika kau tanya aku, maka menurutku dia terlihat tertatih-tatih. Persis seperti anak baru belajar berjalan.
Ok, mungkin ekspresi Alex itu bukan tanpa alasan. Apalagi saat Furihata berhasil mencapainya pelukan hangat menyambut pemuda itu. Terbenam dalam pelukan hangat dan dada yang be—sexy membuat pemuda berambut coklat itu terkena demam mendadak.
Alex—Furihata
Seorang gadis berkacak pinggang di depan seorang pemuda yang sedang mengatur nafasnya yang memburu.
"Ne Hyuga, kau itu laki-laki tapi kenapa payah begitu. Apa aku harus menambahkan latihanmu selama libur musim dingin?"
"Pelatih, skating dan basket itu berbeda. Kau mau membunuhku di liburan musim dingin?"
"Mou, kau berlebihan Hyuga. Tambah latihan empat atau lima kali lipat kan tidak akan membunuhmu."
"Sudah pasti aku mati kalau begitu."
Di saat pasangan ini meributkan hal yang tidak nyambung dengan skating pemuda dengan eagle eye menatap sekeliling dengan intens. Lamat-lamat bibirnya berucap, "Couple going to capel. Ah! Kitakore." Ehm, tolong lupakan saja dia.
Izuki—Riko—Hyuga
"Tsucchi mitte mitte. Turbo jet."
Koganei meluncur dengan gaya pesawat terbang. Satu kaki diangkat dan kedua tangan terentang lebar. Wajahnya terlihat sangat bahagia dan sesekali tangannya mengepak-ngepak lebih mirip burung yang akan terbang.
"Abunai yo.", Tsuchida masih dengan mata terpejam tetapi wajahnya menunjukan kekawatiran berteriak mengingatkan.
Rasanya jadi seperti penjaga dan anak asuhnya.
Koganei—Tsuchida
"Sebagai awal, aku sudah berlatih jatuh dan membiasakan dengan sepatu skate ini di matras. Keadaanku sedang dalam mode rileks. Peruntungan cancer berada di urutan ke 3 dan lucky item hari ini sudah ada dalam dekapanku nodayo. Untuk meluncur pertama rentangan tangan dan tekuk sedikit kakimu lalu condongkan badan ke depan dan meluncur dengan kaki kanan dan kiri bergantian menyerong ke luar nanodayo. Kanpeki. Seharusnya bisa bekerja."
Setelah semua gumaman tadi Midorima untuk pertama kalinya mempraktekan cara meluncur. Dan hasilnya, sempurna. Gagal. Baru sedikit bergerak dari pagar pembatas tubuh tinggi pemain basket itu sudah bertemu dengan dinginnnya es. Naas.
"Apa yang salah? Apa tubuhku masih kurang rileks nanodayo.", begitulah isi pikiran Midorima sekarang.
Dari kejauhan Murasakibara memandang malas Midorima dan asik memakan potatochip. "Mido-chin tak akan bisa berhasil kalau begitu terus. Nyem nyem.", itu adalah komentar dari orang yang ditolak menjadi pelatih oleh Midorima.
Murasakibara—Midorima
Love of Childhoodfriend © bluesnow
"Ah capenya."
"Benar-benar menguras tenaga."
"Tapi demi Tetsu-kun aku akan berusaha. Aa, Ki-chan pasti suka sesuatu yang manis jadi lebih baik gulanya yang banyak."
"Karena tenaga sudah terkuras lebih baik tambah suplemen."
"Mungkin ditambah madu."
"Juga lada."
Aku merasa kawatir dengan nasib makanan di tangan Momo dan Aida. Huh, lagipula kenapa yang memasakan perempuan, padahal makanan Taiga jauh lebih enak. Mungkin Alex masih dendam karena masakan Taiga lebih disukai daripada masakannya. Tapi itu kan sudah 4 tahun lalu.
Tapi tak apa lah. Mai dan Alex terlihat pintar memasak dan aku masih bisa membantu memotong. Setidaknya masih ada yang bisa dimakan para pemuda kelaparan di depan sana.
Sementara itu tanpa kuketahui seseuatu terjadi di antara para lelaki itu.
.
.
.
Aura hitam pekat menguar dari tiga pemuda berbeda warna rambut. Pemuda berambut merah menunjukan wajah garang bagai macan kelaparan. Di hadapannya seorang pemuda berambut biru gelap memicingkan matanya dan decak sebal keluar dari mulutnya. Pemuda berambut hitam di samping pemuda merah tadi memperlihatkan senyum dan wajah ramah meski aura tadi membuat semua itu terlihat menakutkan.
"Ano, mungkin untuk berjaga-jaga sebaiknya kita memesan makanan lain sebelum pelatih dan Momoi-san kembali.", pemuda manis dengan surai biru mudanya menyuarakan pendapat yang tidak pada tempatnya kali ini dengan santai seakan aura tadi tak mempengaruhinya. Berbanding terbalik dengan pemuda bersurai pirang yang terlihat pingsan di ujung meja. Kepalanya tergeletak tanpa tenaga di atas meja dan air mata mengalir membasahi pipi, meja ,dan berakhir menggenang di lantai.
Mou, kapan ini semua akan berakhir ssu?
Kenapa ini bisa terjadi?
つづく
Note: Sebelumnya, maaf baru update sekarang. Yah, gabungan males, stuck ,dan Internet kacau jadinya begini. Semoga chapter ini nggak ngebosenin dibaca. dan maaf juga chara yang nongol lumayan banyak. Nah mungkin Aoi mau minta maaf lagi karena chapter depan juga ada kemungkinan selama ini. Semoga tidak. Ano, fic ini masih ada yang baca kan, aduh, kalau udah terlanjur bosen nungguin maaf.
PinKrystal: eh? nggak ada bayangan ya, perasaan di chap berapa udah bilang kakaknya itu Tatsu, nggak ditulis Tatsuya sih. Oh ya, ini mereka ketemu, cuma perang hatinya chap depan ya(moga-moga). makasih reviewnya.
Kanzaki Haseo: iya betul, diadopsi. cerita lengkapnya chap depan ya, kalau jadi. ini sudah lanjut. makasih reviewnya.
Mell Hinaga Kuran: hehe, makasih. ini sudah lanjut. makasih reviewnya.
Untuk reader yang masih mau baca fic ini. Happy Reading ya.
