Kuroko no Basuke by Tadatoshi Fujumaki

Love of Childhoodfriend by Aoiyuki-Bluesnow

Peringatan: OOC dari Aomine dan kawan-kawan, pergantian sudut pandang, typo, dan lain-lain.

[momoixaominexOC]


Apa yang dilihat oleh laki-laki dari seorang perempuan?

Yah, itu selalu membingungkan dan tak bisa kupahami

Bagaimanapun aku itu perempuan

Love of Childhoodfriend

Chapter 7

"Aomine Point of View"

Hari ini adalah hari minggu sehari setelah final winter cup selesai. Menurutmu apa yang bagus dilakukan hari ini?

Aku tak peduli pada jawabanmu. Tapi, setidaknya orang sepertiku pun punya rencana.

Rencana awal adalah menghabiskan waktu seharian bersama Tetsu, sekaligus merayakan selesainya Winter Cup dengan hasil yang, kau tahu lah. Yep, kemenangan Seirin. Tapi rencana tetap rencana. Ini semua karena serangga-serangga pengganggu yang disebut mantan rekan.

"Huwaaaa, Kurokocchi homedeto! Sasuga na Kurokocchi team. Aku terharu ssu, melihat pertandingan kalian kemarin. ", pengganggu pertama sebut saja Kise Ryouta. Orang paling mengganggu di antara yang lain. Bahkan apa yang dilakukannya sekarang itu hal paling mengganggu yang dilakukannya.

"Kau tahu Kurokocchi, di tengah depresi kekalahan Kaijo melawan Shutoku kemarin ditambah tak boleh main basket untuk beberapa waktu, kau adalah oasisku ssu. Aku bahkan sampai menangis loh. Lalu… Itte! Aominecchi, apa yang kau lakukan?! Hidoi ssu.", bibir Kise monyong beberapa senti, dengan wajah kesal yang diimut-imutkan. Atau memang dasarnya dia seperti itu? Entahlah, tak peduli juga.

Intinya, aku kesal melihat ekspresi Kise. Dan juga hal yang masih dilakukannya pada Tetsu. Aku harus menyelamatkannya sebelum semua terlambat.

"Oi, Kise. Cepat lepaskan Tetsu. Kau tak lihat wajahnya sudah membiru begitu!"

Mendengar perkataanku Kise segera menyadari situasi yang terjadi dan segera membebaskan Tetsu dari sangkar mematikan, a.k.a pelukan maut Kise.

"Huwaaaa! Kurokocchi! Daijobu ka?! Ne, Kurokocchi? Kurokocchi jangan pergi dulu! Huweeeeeeeeeeeeeeeee. Ugh."

"Kise-kun tolong jangan mengatakan hal sembarangan seperti itu. Aku belum meninggal tahu."

Dapat kulihat tangan kanan Tetsu masih bertengger di perut Kise. Hahaha, nice move Tetsu. Dan lagi wajah datar tanpa ekspresimu itu sungguh inonsen tanpa rasa bersalah sedikitpun. Hahahaha.

"Mou, Aominecchi berhenti tertawa ssu. Kurokocchi mo, hidoi yo. Apa salahku hingga kau tusuk perutku begitu ssu?", Kise sudah mengelurkan jurus utamanya, tangisan buaya.

"Ma, ma, sudahlah. Aomine-kun berhenti tertawa, kasihan Ki-chan kan. Tapi Ki-chan juga salah. Jangan memonopoli Tetsu-kun begitu dong. Aku kan juga ingin peluk.", Satsuki mencoba menengahi kami. Yah, itu memang tugas sampingannya selama jadi manajer di Teiko. Tapi, apa-apaan Aomine-kun itu? Menggelikan. Apa ini karna ada Tetsu, atau malah Kise?

"Sa-chin benar, Kraus Kraus, glek, kalian berdua berisik. Apa lagi Kise-chin, berisik dan cengeng sekali. Kraus kraus."

"Bersikaplah layaknya murid SMA. Kalian sudah bukan anak SMP lagi nodayo."

Ah, aku lupa. Masih ada dua pengganggu lagi. Sebenarnya tiga, itu kalau kau masukan Satsuki kedalamnya. Makhluk tinggi besar laksana raksasa tukang ngemil dan makhluk tinggi lainnya yang berkacamata sebut saja Murasakibara Atsushi dan Midorima Shintaro.

Dan lagi, suara kunyahanmu itu lebih berisik tahu dari tawaku yang seharusnya memanjakan telinga.

Lalu Midorima, harusnya kau ngaca dulu megane. Dengan boneka anjing yang didekap erat seperti takut direbut orang itu, apa nggak kebalik? Harusnya aku yang bilang itu padamu, huh. Tunggu, rasanya boneka itu, aku mengenalnya. Di mana pernah lihat ya? Hmmmmmm. Sudahlah, tidak penting juga.

Kalau saja Akashi juga ikut datang maka sudah jelas, ini akan jadi reuni yang pertama setelah pembukaan Winter Cup. Sayang dia lebih memilih mendisiplinkan anak buahnya. Poor guys. Yah, mungkin ada bagusnya juga Akashi tak datang khekhekhe.

"Aomine-kun, ketawamu aneh banget deh.", Satsuki melihatku dengan wajah jijik. Oke, ini mengesalkan. Apa maksudnya tuh.

"Satsuki teme.", kataku geram.

"So so, otak Aominecchi pasti sudah konslet ssu.", si kuning ini ikut-ikutan lagi. Kenapa wajahmu serius di saat membahas masalah nggak penting begini.

"Ki-seeeeeeee.", desisku.

"Apa Aomine-kun butuh istirahat?", entah kenapa Tetsu sudah melihatku dengan wajah datarnya. Mana nada bertanyanya datar banget.

"Tetsu, kau juga?", aku membulatkan mata mencoba menerima kenyataan di depan mata. Anak yang datar-datar ini sedang mengejekku?

"Ini pasti karena kau lupa membawa lucky itemmu nanodayo.", kata Midorima sambil menaikan kacamata dengan menggunakan jari berbalut perban. Tidak berubah.

"Aku bukan kau Midorima!", teriakku frustasi. Jangan sampai orang terakhir itu juga ikut-ikutan.

"Mine-chin, nyam nyam, lapar ya? Tapi aku tak mau membagi snackku, nyam nyam.", komentar Murasakibara masih setia dengan packy menyelip di bibirnya.

"Lalu untuk apa kau tanya? Maksudku, nggak mungkin banget tahu!", argh, kenapa semua orang absurd banget hari ini. Ah, tidak. Mereka memang seperti ini dari dulu. Ugh. Tapi kenapa aku yang jadi korban bully? Biasanya si kuning satu itu kan.

Aku bersyukur Akashi tak ada di sini. Sangat bersyukur.

"Lagipula, kenapa kalian semua ada di sini?"

Ya, itu pertanyaan yang sejak tadi menggangguku. Pastinya bukan kebetulan 3 orang dengan warna kuning, hijau, ungu ini bisa bersama. Apalagi Murasakibara, Yosen itu ada di Akita kan?

"Apa salahnya mengunjungi Kurokocchi ssu? Lagian, aku ke sini bukan mau ketemu Aominecchi kok. Weeeee.", Kise kembali mendekap Tetsu tak lupa juluran lidah di akhir kalimat. Dasar.

"Yah, aku tak peduli apa alasanmu. Apa kau menstalk Tetsu, sampai tahu dia ada di sini?", yah bukannya mau menutup mata dari masalah yang satu ini. Malahan sepertinya ini sudah jadi rahasia umum kalau ada sesuatu yang salah dari copycat ini. Mana ada kucing takut cacing kan.

"Tentu saja tidak ssu. Aku kan bukan Aominecchi yang ternyata suka mensAuw. Itte yo. Itte yo Aominecchi.", aku mengabaikan teriakan kesakitan Kise dan tetap menarik pipi kanannya dengan keras. Seenaknya saja bicara.

"Katakan yang sebenarnya.", ancamku dengan nada malas.

"Iya-iya-iya. Tapi lepas dulu ssu.", dengan terpaksa kulepas pipi kanannya, segera tangan Kise mengusap bekas tarikanku tadi, "Aominecchi jahat ssu. Ah iya-iya aku bilang, jangan main fisik lagi, besok aku ada pemotretan kalau sampai wajahku kenapa-kenapa aku bisa, ah, iya-iya aku bilang. Huh, aku tahu dari Kagamicchi ssu."

Kagami?

"Bagaimana bisa jadi larinya ke Kagami? Jangan mengarang alasan bodoh Kise.", orang bilang aku aho tapi sepertinya julukan itu lebih pantas untuk Kise.

"Hontou dayo, waktu aku sms tanya apa bisa main bareng hari minggu, dia bilang kalau timnya akan pergi skating ssu.", jelas Kise dengan wajah kesal merasa terhina dengan kata bodoh.

"Itu benar Aomine-kun. Semua anggota Seirin akan pergi ke arena ice skating.", jelas Tetsu masih setia dengan wajah datar.

Eh? Itu artinya…

"Ah Kuroko ternyata kau ada di sini. Geh, kenapa kalian semua ada di sini?", makhluk berisik lain akhirnya muncul juga.

"Ugh, Kagami."

"Ah, Kagamin. Osashiburi."

"Kagami-chin. Yo~."

"Kagami!"

"Kagamicchi~. Osashiburi ssu."

"Kagami-kun, ada apa?"

Berbagai nama panggilan mengalir keluar secara bersamaan. Disertai berbagai reaksi. Midorima tersedak minumannya, benar-benar bad timming untuk meminum minumannya dari semua waktu. Satsuki melambai-lambaikan sebelah tangannya, tangan yang sebelah lagi digunakan untuk memeluk lengan Tetsu. Murasakibara, melambaikan sebatang packy di tangan kanannya. Aku menggebrak meja, kaget dan terkejut, hm, mungkin itu sama, yah pokoknya begitu. Sedang Kise melambai-lambaikan kedua tangannya, melepaskan Tetsu dari jerat pelukan maut. Dan Tetsu, masih dengan wajah datar menyambut rekan setimnya itu.

Mendengarnya makhluk berambut merah yang berbeda postur dan wajah dengan kapten kami ini menggaruk tengkuknya yang kuyakin tidak gatal. Setelah membalas sapaan—kalau itu tadi bisa disebut sapaan—dia langsung mendatangi orang yang bersangkutan.

"Hei Kuroko, ini?", tanyanya bingung. Mendapati lima orang yang sedang bersama dengan rekanmu memangnya semembingungkan itu?

"Dilihat juga tahu kan.", kataku malas.

Sedangkan Kise nyeletuk, "Reuni. Reuni ssu."

Sesaat wajahnya terlihat geram, sambil menatapku dia berkata, "Kau—"

"Ano, Kagami-kun kau datang kemari untuk menjemputku kan? Kurasa pelatih akan marah kalau kita tidak juga datang ke tempat berkumpul.", potong Tetsu sebelum terjadi pertengkaran bodoh.

"Ah, kau benar juga Kuroko.", lalu matanya menyipit saat bertanya, "Apa kalian juga ikut?"

"Cih, janga—"

"Tentu saja ssu!", teriak Kise memotong protes yang ingin kuajukan pada pandangan menuduh dari si baka.

"Hah, tak ada jalan lain.", ucapnya

Ya, tak ada jalan lain. Karena itulah, pada akhirnya kami semua pergi ke tempat ice skating. Di sana sudah berkumpul semua anggota tim Seirin. Sebagai tambahan, ada seorang wanita asing berdada besar dan seorang rekan Murasakibara dari Yosen yang menunggu di tempat Seirin berkumpul.

"Aku itu sangat jago dalam bermain ice skating loh ssu. Bahkan bisa disandingkan dengan pemain pro.", sepanjang perjalanan menuju arena es, Kise menjadi orang yang mendominasi percakapan. "Jadi apa di sini semua bisa ice skating ssu?"

Hening. Tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Aku yakin dalam hati mereka menganggap si kuning ini berisik, dan ada keinginan tersembunyi untuk mengerjainya. Heh, ternyata nggak di Teiko, nggak di Kaijo, dia sama saja.

"Hidoi yo minna.", rengeknya beserta air mata buaya yang mengalir deras di kedua pipinya.

Tapi tiba-tiba Kuroko berkata dengan wajah datarnya, "Biasa-biasa saja, bisa dikatakan setingkat dengan level memasakku."

Membuat beberapa orang berpartisipasi untuk menjawab

"Sedikit, kurasa.", orang yang mengatakan ini anak perempuan yang menjadi pelatih Seirin.

"Yah, tidak bisa dibilang jago sih.", teman setim Murasakibara juga iut andil menyumbang jawaban.

"Aku tidak akan tahu sebelum mencoba nanodayo.", Midorima juga.

"Ice skating? Nyem nyem. Hmmmmmm, kurasa lumayan. Nyem nyem.", masih dengan maiobu terkunyah di mulutnya Murasakibara menjawab.

"Aku akan berjuang.", kata salah satu dari tim Seirin.

"Pasti akan menyenangkan.", ucap center mereka.

"Kurasa lumayan.", jawab Kagami.

"Yang bisa mengalahkanku hanya aku seorang.", akhirnya aku juga ikut menjawab.

"Heh, masih dipakai juga slogan itu? Bukannya aku sudah mengalahkanmu ya?", Kagami melirikku dari balik bahunya. Ya, dia jalan di depanku.

"Seirin, bukan kau. Lagipula seingatku kau tidak bisa mengalahkanku di semua one on one.", yeah, beberapa kali kami pernah bermain one on one dan seperti kataku, aku tak pernah kalah.

"Aku pasti bisa mengalahkanmu teme! Ayo kita bertanding!", sepertinya orang ini sudah lupa tujuannyu ke tempat ice skating sekarang.

"Cih, aku tidak mau. Melawan orang lemah itu membosankan.", kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Yah, kadang aku ingin menggodanya. Dan tolong jangan anggap aku homo. Oke?

"Apa katamu? Kau pikir kau—"

Tiba-tiba saja orang ini menghentikan ocehannya. Wajahnya terlihat sangat terkejut dan matanya terpaku pada sesuatu. Aku sudah akan membalikan tubuhku untuk melihat apa yang begitu mengejutkan baginya, saat suara itu terdengar.

"[name]"

"Taiga."

Lalu semua terjadi dengan sangat cepat. Aku memutar kepalaku cepat menghadap ke arah yang sama dengan baKagami. Sedetik kemudian sesosok bayangan melintas dengan sangat cepat menubruk tubuh yang lumayan besar itu. Lalu mereka terjatuh, saling tindih di atas es. Seketika, semua fokus mata tertuju pada mereka.

Dia. Gadis itu. Melihatnya sekarang membuatku sadar sudah lama sekali tak melihatnya. Entah kenapa, ada rasa lega yang menyusup hingga tanpa sadar aku menghembuskan nafas dan tersenyum tipis. Tapi itu tak bertahan lama. Lalu entah dari mana asalnya tapi ada seseuatu yang terasa menyebalkan dari adegan di depanku sekarang.

"Hei, where have you been all this time? I really really really reaaaaaaaaaaaaaaaally miss you, you know? Taiga!"

Melupakan sekelilingnya, gadis itu semakin mempererat pelukan yang sejak tadi dilakukannya pada satu dari beberapa orang yang kuakui. Mereka bahkan saling bertukar sapa seakan itu hal yang lazim dilakukan saat mereka dalam posisi seperti itu. Lalu, ada apa dengan wajahnya itu? Apa sebegitu senangnya bertemu dengan makhluk baka yang satu itu? Padahal saat bertemu dulu dia bahkan sama sekali tak mengingatku. Dan, kenapa dia bisa tersenyum selebar itu saat tangan besar itu mengusap kepalanya pelan? Padahal saat kuusap dulu dia langsung menangis. Apa bedanya aku dengannya? Kenapa perlakuannya pada kami berdua begitu berbeda?

Lalu adegan saling peluk itu masih berlanjut. Sial, rasanya ingin kutarik salah satu dari mereka agar tidak berdekatan seperti itu. Aku sudah akan bertindak tapi sudah ada yang mendahuluiku.

"Ehem. Masih ada orang di sini."

Pemuda yang poni panjangnya menutupi mata kirinya, salah satu anggota Murasakibara, menjadi orang yang bertindak itu.

Segera pelukan itu terlepas, menampakan wajah bingung gadis itu dan pandangannya yang terlihat mencari siapa yang berani mengganggu acara reuninya. Saat disadari banyak orang berkumpul di sekitarnya—aku tak tahu dia menyadari keberadaanku atau tidak—wajahnya—untuk pertama kalinya—terlihat memerah.


Love of Childhoodfriend © bluesnow


"Op to, Dai-chan. Apa yang kau lakukan di sini?"

Satsuki menubrukku pelan, lalu memelukku dari belakang, menyebabkan dada yang tersembunyi di balik mantel menekan punggungku.

"Satsuki. Hah, nggak ngapa-ngapain sih. Kau sendiri? Bukannya tadi kau sedang jadi pusat perhatian, heh, nona pro?"

"Pfft, Dai-chan, kau terdengar seperti anak yang ngembek karna ditinggal loh. Ah tapi yang tadi bukan apa-apa kok. Hanya karena Himuro-san berbakat jadi aku bisa deh. Tehe."

Saat ini aku tak begitu mendengarkan perkataan Satsuki. Yah, pemandangan dua orang yang meluncur bersama itu terlihat begitu mengganggu. Kalau hanya sekedar meluncur tidak perlu gandengan seperti itu kan. Sebahagia apa sih dia sampai tertawa terus dari tadi?

"Kurasa [name]-chan dan Kagamin cocok juga."

Mendengar perkataan Satsuki, reflex aku menengok padanya. Dia sedang memandangi dua orang yang sejak tadi kupandangi juga. Tanpa sadar, aku memicingkan mata pada Satsuki. Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu?

"Tapi sepertinya Dai-chan tidak sependapat denganku ya?", katanya lagi sambil berpaling melihatku. Wajah itu, terlihat menyebalkan meskipun secara pribadi aku menyukai senyum Satsuki. Dan aku tak akan pernah mengakui itu di depannya. Sampai matipun tak akan pernah.

"Apa aku terlihat seperti itu?", tanyaku malas lalu memalingkan wajah ke sembarang arah. Sialnya, aku memilih tempat yang salah untuk membuang muka. Gadis itu sedang tersenyum begitu lebar, seakan kebahagiaannya berada di puncak. Mungkin dia memang sedang sangat bahagia. Tapi sebahagia apa sih kalau kau sedang duduk di atas es seperti itu?

"Sangat. Wajahmu itu tak bisa menipuku Dai-chan. Kau kira sudah berapa lama kita bersama hah?", Satsuki menyilangkan tangannya di depan dada, bersedekap dengan suara penuh percaya diri.

Aku meliriknya, penasaran dengan raut wajah yang ditunjukannya saat ini, sekaligus menjadikannya alasan untuk berpaling dari pemandangan jatuh bangun dua anak muda di bawah sana. Yep, arena ski ini ada dua lantai kalau kau mau tahu. Membentuk lingkaran dengan bagian tengah lebih tinggi satu lantai.

Satsuki melihatku dengan wajah itu. Wajah pertanda dia tidak sedang bercanda. Dan kelihatannya dia ingin mengatakan sesuatu. Serius deh, apa yang dimau anak ini sekarang?

"Oi, Satsuki. Kenapa wajahmu seperti itu?", aku menepuk puncak kepalanya pelan. Mengacak sedikit surai merah jambu yang sempat membuatku terpikat dulu.

"Mou Dai-chan, jangan mengacak rambutku begini dong. Rambut itu mahkota wanita, kau tahu. Huh, laki-laki sepertimu itu yang akan mengacaukan hasil usaha tampilan pacarnya.", gadis di depanku ini sudah meracau sambil mengibas-ngibaskan tangannya, mengusir tanganku dari kepalanya, lalu menyisir rambutnya dengan tangannya sendiri.

Aku tersenyum melihatnya. Setidaknya dia sudah tak terlihat seserius tadi. Melihat Satsuki dengan wajah itu membuatku meruntuhkan segala pertahanan dan mengikuti segala kemauannya. Ck, sayangnya untuk yang kali ini aku tak bisa melakukannya. Tepatnya, aku masih—mulai ragu dengan pemikiranku sendiri.

Tanpa membuang waktu kuseret gadis yang masih merapikan tatanan rambutnya itu. Menariknya untuk meluncur bersama. Mengabaikan semua pemikiran yang ada dalam otakku. Untunglah kapasitas memoriku tidaklah besar, kuharap semua gambaran dan rasa aneh tadi terhapus sebagai memori tidak penting yang hanya membebani kerja otakku saja.

End of Aomine POV

Start of Third person POV

Gadis dengan mantel hitam memandang lantai dua tempat bermain ski. Matanya terfokus pada seseorang. Orang yang menarik gadis lain untuk diajak berseluncur. Tatapannya berubah sendu saat rasanya sebuah truk menghantam punggungnya. Well, sebenarnya itu tidak masuk akal. Dan yang menabraknya hanyalah seorang pemuda berbadan besar dengan rambut merah sewarna dengan mantelnya. Pemuda yang sangat ia kenal.

"Apa yang kau lakukan Taiga? Dasar. Kau memintaku berhenti menyebutmu bodoh, tapi kalau begini caranya...", gadis itu menggantungkan kata terakhirnya, seakan tak ada jawaban yang lebih jelas untuk menggantikan titik-titik tersebut.

"Ck, shut up. You're just [name], why did you scolde me like this?", gerutu pemuda yang dipanggil Taiga tadi, masih dari posisi berusaha berdiri.

"Aku memang hanya [name], tapi aku juga [name] yang lebih jago main skating dari Taiga. Jadi diam dan ikuti saja, oke?", gerutu gadis tadi balik. Tentu saja gadis itu, yang tak lain adalah kau, mengatakannya setelah berhasil berdiri.

Sceen di mana kau menunduk, hanya untuk memandang Taiga kembali terlihat. Sudah lebih dari sepuluh kali sceen seperti ini terjadi. Bukan karena apa-apa sih, hanya masalah kemampuan ski yang tak bisa tak dikategorikan buruk dari seorang Kagami Taiga. Sama parahnya dengan kemampuan masak dua orang gadis yang harus disamarkan identitasnya. Nona A.R dan nona M.S.

Selama kau memeganginya, seperti sekarang ini. Taiga akan baik-baik saja. Namun, begitu tanganmu terlepas, maka dia kembali menjadi bayi yang tak bisa melakukan apa-apa. Karena itu, tiap kali meluncur bersama tangannya menggenggam erat tanganmu. Perlu diperhatikan bahwa genggaman seorang pebasket seperti Taiga tak dapat dikatakan lemah. Kebalikannya malah. Hasilnya, tanganmu sedikit biru, seperti sekarang.

Setelah membantu Taiga bangun, kalian kembali meluncur. Taiga menggenggam erat—sangat erat kedua tanganmu. Meski kau sudah memakai sarung tangan, tetapi kau sangat yakin bahwa lebam biru pasti ada di sana. Paling tidak satu.

Selama meluncur pun pikiranmu tidak dapat terkonsentrasi pada satu hal. Meski sejenak, tanpa kau sadari mata itu telah menelusuri tiap sudut arena skating. Mencari seseorang yang seharusnya mulai kau lupakan. Entah sial atau beruntung, matamu itu selalu berhasil menemukannya. Pemuda berkulit hitam—aku tak akan segan-segan lagi—mesum, jorok, bertampang malas, tinggi, atletis, pengertian, and he's so damn sexy guy. Kenapa aku jadi memujinya begitu?! Teriakmu dalam hati. Mungkin kau itu penganut sifat tsun-tsun. Atau lebih mungkin, kau hanya keceplosan saja.

"Mencari siapa?", tanya orang yang sejak tadi kau tarik-tarik untuk meluncur bersama.

Kau berpaling padanya. Meninggalkan kegiatan mengamati sepasang anak muda dengan surai dark blue dan soft pink yang sedang meluncur gembira bersama. Matamu mengerjap beberapa kali sebelum memandang pasanganmu dengan wajah hampa. Antara bingung kenapa dipanggil dan masih dalam proses kembali dari dunia kayalan.

"Tidak mencari siapa-siapa kok. Memang kenapa?", akhirnya otakmu berhasil memproses perkataan lawan bicaramu.

"Jangan bohong padaku. Sudah jelas dari tadi kau tidak konsentrasi. Bahkan kau tak sadar aku sudah bisa meluncur sendiri seperti ini.", pemuda bersurai merah tadi menumpukan kedua tangannya di atas lutut, terlihat berdiri sendiri dengan sedikit jarak dengan gadis tadi. Wajahnya menunjukan keseriusan saat bertanya, "Jadi, siapa?"

Sayangnya bukan jawaban yang didapat oleh pemuda itu, namun teriakan gembira serta tepuk tangan yang antusias, tak lupa pelukan plus usapan pada kepala, yang dilakukan semua olehmu.

"Kerja bagus.", ucapmu disela-sela kegiatan memeluk dan mengusap rambutnya.

Dilain tempat, sepasang iris safir menatap tajam pada apa yang sedang kau lakukan. Tanpa kau ketahui tentunya. Seperti itulah yang terjadi sejak tadi, tak ada yang menyadari perbuatan kalian. Kecuali dua pasang mata dari orang terdekat kalian.


Love of Childhoodfriend © bluesnow


Perubahan keadaan! Saat ini, aura-aura hitam tengah mengelilingi tempat istirahat di bagian dalam gedung. Tempat skating ini sedikit istimewa, karena tamu bisa memasak sendiri setelah lelah berskating ria. Bisa menambah keakraban diantara kelompok. Tapi apa yang terjadi pada rombongan Seirin plus ini sangat bertolak belakang. Tidak ada yang lebih mendebarkan dibandingkan dengan menunggu makanan buatan pelatih mereka. Perlu ditambahkan, juga manager tim Toou sebenarnya.

Intinya, keadaan mental mereka semua sedang dalam kondisi tidak siap. Siapa sih yang siap untuk menunggu makanan bercampur protein?

Tentu saja aura-aura tak menyenangkan juga bersarang di meja pojok. Tempat lima orang berbeda warna rambut duduk. Kagami dan Himuro yang sudah lama tak bertemu, duduk saling berhadapan. Di sebelahnya ada Kuroko yang diapit olehnya dan Kise. Di hadapan Kuroko, duduk di sebelah Himuro, dialah Aomine.

Sengaja atau tidak, sejak tadi mereka mengobrol dengan terpisah menjadi dua kelompok. Kagami dengan Himuro, dan tiga lainnya mengobrol sendiri. Tapi tak urung, seseorang mencuri-curi pandang pada pemuda lainnya. Kuroko yang menyadari hal itu bertanya secara frontal.

"Ada apa Kagami-kun? Kau ingin bicara dengan Aomine-kun?"

Yang sukses mengalihkan fokus semua orang yang ada di meja mereka.

"Heh, kau ingin bicara apa?", tanya Aomine malas. Bahkan dia bertanya sambil mengorek kupingnya.

"Wah, Kagamicchi ternyata tsun-tsun ya. Mau Tanya aja bingung gitu ssu.", Kise yang sejak tadi jadi bahan bully duo biru dari Teiko angkat bicara.

"Bukan begitu. Siapa yang kau panggil tsun-tsun hah?", bentak Kagami, meski semburat merah tipis sudah menghiasi pipinya. Yah, dia beralasan itu karena udara dingin sih.

"Ja, kalau begitu apa ssu?"

"Itu… oi Aomine.", memastikan orang yang dipanggilnya mendengar perkataannya Kagami melanjutkan, "Kenapa sejak tadi kau lihat-lihat ke arah [name]?"

Aomine hanya menatap Kagami dengan pandangan malas. Pandangan itu sempat bertahan beberapa detik sebelum Kagami menggeram sebal. Dia sudah mau protes lagi sebelum mendengar jawaban Aomine.

"Aku tidak lihat-lihat kok. Hanya tak sengaja lihat."

Jawaban yang lumayan aneh sebenarnya dari mulut Aomine. Tapi Kagami percaya begitu saja.

"Apa mungkin Aomine ini temannya [name]?", tanya Himuro dengan sedikit penekanan pada kata teman.

"Yah, kami memang satu sekolah.", jawab Aomine.

Menyadari Aomine tidak menyebut [name] sebagai teman, Kagami kembali bertanya, "Kau tidak sedang menyukai [name] kan?"

Semua orang yang ada di meja menatap Kagami dengan pandangan kaget. Tentu saja Himuro dan Kuroko berhasil menyembunyikan kekagetannya sehingga mereka hanya memandang Kagami.

"Benar begitu Aomine-san?", lalu Himuro yang biasanya langsung memanggil orang tanpa sulfik menggunakan –san pada Aomine. Jika harus diartikan, kalimat Tanya tadi bisa berubah menjadi, "Aku tak akan memberikan adikku padamu."

"Tentu saja tidak.", jawab Aomine cepat. Terlalu cepat sebenarnya.

"Lalu kenapa kau melihatnya?", tuduh Kagami lagi.

"Sudah kubilang itu karena tak sengaja. Lagian, aku hanya penasaran. Rambutnya terlihat lebih panjang dari yang bisa kuingat."

Semua orang di meja kembali diam dan hanya memandang Aomine.

"Jadi, Aominecchi beneran suka [name]? Kukira Aominecchi menyukai Momoicchi ssu.", tanggapan yang datang dari Kise semakin membuat geram Aomine. Dia kan sudah menyangkal, masa masih dikira seperti itu.

"Oi Kise ka—", kembali protesnya dipotong oleh orang lain.

"Aomine, walaupun kau berkata seperti itu aku akan mengatakan ini. Jangan menyakiti [name], kalau kau sudah punya orang yang kau sukai jangan memandang gadis lain.", ucap Kagami. Yah, dia tahu semuanya. Setidaknya dari apa yang dilihatnya [name] terlihat menyukai Aomine. Tahu dari mana? Tentu saja tahu, karena dia juga melihat seorang wanita dengan tatapan yang sama dengan [name] pada Aomine.

"Dan tentu saja aku pun tak akan membiarkan [name] disakiti.", ujar Himuro. Meski [name] hanyalah adik angkatnya tapi dia menyayangi [name] seperti adik sendiri. Dia sudah berjanji saat Sanada-san (ayah [name]) mengantarkan [name] ke rumahnya. Masalah hutang yang melilit Sanada-san membuatnya harus menitipkan [name] di rumah Himuro, yang notabene adalah sahabat dekat ayah [name]. Dan karena masalah itu tak kunjung selesai, [name] akhirnya diangkat oleh keluarga Himuro. Sanada-san sudah mempercayakan [name] untuk dijaganya, mana mungkin kan dia biarkan adik kesayangannya disakiti?

Seketika keadaan menjadi hening kembali. Hening yang berbeda dengan yang sebelumnya. Aura hitam masih bersarang di meja itu, namun alasan aura hitam itu sudah berubah.

Kise yang biasanya ceria dimanapun berada, kini bungkam. Terlihat menangis dengan kepala diletakan di meja. Mou, kapan ini semua akan berakhir ssu? Ratapnya dalam hati.

Sementara Kuroko mengusulkan untuk memesan makanan di timming yang seperti ini. "Ano, mungkin untuk berjaga-jaga sebaiknya kita memesan makanan lain sebelum pelatih dan Momoi-san kembali.", suaranya terdengar datar. Namun tak ada yang menyadari genggamannya pada buku menu sedikit mengencang. Apa Momoi-san baik-baik saja? Hatinya bertanya.

Keadaan berlanjut seperti itu hingga akhirnya lima orang perempuan keluar dari dapur yang dipinjam tadi. Tiga wajah terlihat tak berbeda jauh dengan wajah-wajah orang yang menunggu makanan. Sedangkan dua lainnya terlihat begitu gembira dengan latar matahari yang tersenyum cerah.

"Minna, ayo kita makan.", ucap pelatih Seirin dengan efek-efek bunga bertebaran.

Tak mau mengalami latihan neraka, anggota Seirin segera datang ke hadapan meja eksekusi. Mereka sudah akan mengambil makanan saat Alex, satu-satunya wanita dewasa di tempat itu berlari sambil meneriakan, "Aku minta maaf tak bisa menjaga masakanku sendiri!"

Orang-orang yang sudah mengambil nasi seketika berhenti.

"Ada apa?", Tanya Momoi dengan wajah bertanya yang imut. Saat itu Riko meliriknya sebal.

"Tidak ada apa-apa.", jawab para pemuda yang sudah terpikat daya tarik seorang Momoi. Lalu mereka kembali mengambil makanan yang tersaji.

Namun hal yang sama terulang, saat Kiyoshi dan Kise mengambil makanan. "Aku tak bisa melindungi idolaku sendiri, waaaaaaa!", teriak Mai yang juga berlari meniinggalkan tempat makan.

Aktifitas mengambil makanan kembali terhenti. Dan kali ini orang yang menjadi pemecah keheningan adalah Himuro, "Kurasa sebaiknya kita lanjutkan sa—"

Kata-katanya terpotong saat sepasang tangan menangkap tangan yang digunakannya untuk menyendok nasi. "Tatsu, aku sangat sayang padamu. Ingatlah itu ya.", ucap [name] dengan wajah tertunduk. Lalu seperti dua orang lainnya, dia berlari meninggalkan pemuda-pemuda kelaparan bersama dua gadis yang tersisa.

Kali ini semua orang memikirkan satu hal yang sama. Seberapa buruk makanan yang mereka buat?

"Ada apa?", tanya Momoi dengan nada manis dan wajah manis yang entah kenapa sekarang terlihat menakutkan.

"Ayo dimakan. Kalian semua lapar kan?", kali ini suara manis dan wajah manis Riko yang terlihat menyeramkan.

Mereka semua terjebak. Tak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya yang harus dilakukan hanyalah makan dan selesailah semua. Mereka laki-laki kan? Ini pasti hanyalah uji ketahanan belaka. Ya, dengan pemikiran seperti itulah semua orang berhasil makan dengan damai. Hingga, suara dari nyawa yang dicabut memenuhi seluruh area ruang makan.

End of Third person POV


Love of Childhoodfriend © bluesnow


Start of Reader POV

Yang tadi itu sungguh nyaris. Aku tak pernah berpikir kalau sebuah makanan bisa mencabut nyawa seseorang. Nyaris.

Begitu mendengar jerit dari arah ruang makan, aku, Alex, dan Mai segera berlari kembali ke sana. Apa yang kami dapati saat itu sungguh tak terduga. Enambelas tubuh pemuda terkapar dengan mulut berbusa. What the hell did that food do to them?

Lalu setelah dua jam kepanikan, tubuh-tubuh itu bangkit dari pengalaman nyaris mati mereka. Hampir saja mereka diangkut ke rumah sakit jika bukan karena Riko mengatakan hal seperti ini pernah terjadi. Aku jadi kasihan pada Taiga. Mungkin dia punya ketahanan untuk bertahan hidup lebih dari yang kuduga, mengingat kebiasaannya memakan makanan cepat saji.

Sekarang aku sedang berjalan sendiri menyusuri jalan gang yang sepi. Kuharap tak ada kejadian buruk menimpaku. Hah, ini karena aku sok-sokan menolak ajakan Taiga dan Tatsu untuk diantar sih. Aku berjalan dengan cepat. Sangat cepat hingga rasanya aku seperti berlari. Kedua tanganku sudah kumasukan ke saku mantel sejak tadi. Menghalau dingin dari salju yang mulai turun. Oh, andai aku menuruti okaa-san untuk membawa payung. Pasti akan lebih melindungi kepalaku dibandingkan topi rajut berwarna biru tua hadiah natal tahun lalu ini.

Aku sudah akan berbelok untuk memotong jalan, saat mataku menemukan sosok yang sejak di arena tadi menarik segala fokusku. Aomine Daiki. Sedetik mata kami bertemu pandang. Sial, lima bulan tidak bertemu bukannya membuatku lupa, malah sekarang aku merasa merindukannya. Tanpa banyak berpikir aku memutar halauan, berniat menuruni tangga, meski itu jalur yang lebih jauh.

Tapi sepertinya aku benar-benar mengalami kesialan. Karena aku tergelincir tepat saat kakiku menginjak tangga pertama. Tanpa persiapan apa-apa, aku jatuh bebas berguling di tangga. Gawat, ini sangat memalukan. Kuharap tak ada orang yang melihatnya.

Namun aku menyesali harapanku di detik rasa sakit menyergap kakiku. Sial, sepertinya aku benar-benar sial. Setelah jatuh, terkilir, sekarang apa lagi?

"Apa kau tak bisa bangun?"

Ya, tentu saja. Aku tahu, pasti akan berakhir seperti ini. Aku mendongak ke atas. Menatap seorang pemuda tan yang sedang memandangku dari atas. Kedua tangannya dimasukan ke dalam mantel dan asap putih mengepul dari hidung dan mulutnya. Rambut dark bluenya terekspos tanpa lindungan topi. Aku merindukanmu Aomine Daiki. Sangat.

つづく


Note : Hai akhirnya chapter ini jadi juga. Setelah lama stuck ngga bisa lanjut karena nggak dapet feelnya akhirnya chap ini jadi juga. Maafkan update yang lama ini ya. Oh ya, karena chapter lanjutannya sepertinya akan mengalami hal yang sama, Aoi harap reader sabar menunggu ya. Oh ini berlaku kalau ada yang nunggu sih, hehe. Aoi ucapkan terima kasih pada reader yang sudah mau membaca chap sebelumnya (termasuk silent reader), memfav, follow, ataupun review. Terima kasih karena sudah mau menunggu lanjutannya. Semoga kalian belum bosen nunggu. Dan semoga chapter ini nggak terasa boring, aneh, atau terlalu OOC. Beneran deh, bingung banget nulis chap ini. HAPPY READING reader.

Kanzanaki Haseo : Yeiiiiiii, ini sudah update lagi. Tapi lama. Duh. Maafkan Aoi ya, hehe. Oh masalah aura hitam itu udah dijelasin kan di atas. Yah, tapi awalnya mereka memang depresi gara-gara Riko dan Momoi yang masak sih, haha. Ah, yang itu ya. Alex kan memang kesannya seperti ibu untuk Tatsuya-Taiga, menurutku sih. Dan waktu Furihata masuk lapangan pas lawan Rakuzan kelihatan kaya bayi belajar jalan, jadi kayanya lucu kalo dipasangin hehe. Dan ini lanjutannya, terimakasih reviewnya ya. I'll keep writting.