Kuroko no Basuke by Tadatoshi Fujumaki

Love of Childhoodfriend by Aoiyuki-Bluesnow

Peringatan: OOC dari Aomine dan kawan-kawan, pergantian sudut pandang, typo, dan lain-lain.

[momoixaominexOC]


"Katakan di mana alamatmu.", ujar suara rendah dan berat.

Aku hanya menatapnya kosong. Melihat sosok itu sedekat ini setelah sekian lama sungguh melumpuhkan kerja otakku. Aku tak bisa berpikir, sekedar menjawab pertanyaannya pun aku tak bisa. Bahkan aku masih menerka-nerka apa yang terjadi, saat kusadari dinginnya salju sudah berganti dengan hangatnya tubuh dalam dekapanku.

So, is it the end?

Or

It just the start?

Love of Childhoodfriend

Chapter 8

"Tell me the turth"

Aku tak menyangka, Aomine yang itu. Aomine Daiki yang itu akan menggendongku dan mengantarku pulang. Kenapa dia melakukannya di saat seperti ini?

Bodoh. Alasannya simple. Ini tak lebih karena rasa belas kasihan semata. Karena Aomine Daiki bukan orang yang akan meninggalkan seorang gadis di tengah hujan salju. Karena Aomine itu orang yang terlalu baik. Selalu seperti ini. Sejak dulu. Dia selalu sebaik ini.

Aku tahu. Sangat mengetahuinya. Meski begitu, aku tetap ingin sekali menganggap dia melakukannya karena ini aku. Karena gadis yang ada di tengah hujan salju itu aku. Gadis yang tak bisa ditinggalkannya itu aku. Apapun alasannya aku ingin dia peduli karena itu adalah, aku.

Permintaan yang muluk memang. Tapi, bermimpi sedikit lebih lama tak apa kan? Sedikit lebih lama lagi di dekat orang yang kusukai. Sedikit lebih lama untuk mempertahankannya di sisiku.

Aku mengeratkan pelukanku pada leher Aomine. Merasakan hangat dan wangi yang menenangkan hati. Aku menyukainya. Sangat suka.

"Ternyata benar.", tiba-tiba saja Aomine bersuara.

Apa yang benar? Dia tak mungkin membaca pikiranku kan?

"Kau itu B cup."

A-apa?

Dengan posisi tubuh digendong seperti ini memberiku keuntungan untuk mengakses kepalanya secara bebas. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang ada, kugunakan kepalan tangan ini untuk memukul kepala Aomine yang hanya berisi hal ero.

Bletak.

"Apa yang kau lakukan baka?", protes Aomine sambil mencoba melihat ke arahku.

"Turunkan aku. Turunkan aku sekarang juga hentai.", kataku panik sambil menggoncang-goncang bahu Aomine. Sial. Sial. Sial. Sial. Wajahku pasti sudah merah sekali.

"Hah? Bukannya kakimu itu terkilir ya?", entah sejak kapan Aomine bisa berpikir juga. Argh, kenapa dia memilih berpikir di saat seperti ini?!

"Sudahlah, turunkan saja aku.", masih dengan gigih kugoncang bahu yang sepertinya tak berefek terlalu banyak.

Meski masih terdengar gerutuan, toh akhirnya Aomine menurunkanku juga. Yosh, saatnya kabur.

Nyut.

Itte. Reflek tangan kananku memijat kaki kananku yang berdenyut-denyut nyeri. Ugh.

"O-oi, daijobu ka?", tanya Aomine kawatir.

Ugh, tolong jangan lihat wajahku sekarang.

"Hai, daijobu dakara. Hora.", dengan tekad yang kuat kupaksakan menggerakan kakiku yang terkilir dengan asal. Sial, sakit sekali rasanya. Argh.

"Kau itu tak pandai berbohong."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Aomine sudah menggendongku di belakang punggungnya lagi. Ugh, kenapa kau meletakanku di tempat penuh cobaan ini. Gawat, aku harus menahan keinginan terpendam saat melihat punggungnya sedekat ini. Tubuh yang begitu dekat dengan jangkauanku. Aku tak bisa menahan diri lebih lama, bakamine.

"Turunkan saja aku. Oi, Aomine. Kau dengar tidak?"

"Sudahlah orang sakit diam saja. Aku melakukan ini juga terpaksa tahu.", tak kusangka jawaban sedingin ini akan datang darinya. Ugh, tanpa kau bilang juga aku tahu. Ini semua hanya karena rasa belas kasihan belaka.

Tanpa kusadari aku mengencangkan pelukanku lagi. Membenamkan wajahku dalam helaian navy yang ternyata begitu lembut. Dulu kukira rambutnya akan terasa kaku seperti bulu kucing, tapi ternyata rambutnya bahkan lebih lembut dari rambutku sendiri. Dari sana tercium aroma yang membuatku tenang, dan nyaman. Aroma yang sama dengan saat hujan turun. Aku suka hujan. Aku juga suka aroma udara setelah hujan. Dan aku suka bau Aomine yang seperti hujan.

Uh sial. Membayangkan orang ini, aroma ini, segala tentangnya, tak akan bisa kumiliki benar-benar membuat frustasi. Sekali lagi kutenggelamkan wajahku pada punggung lebarnya. Menghirup sebanyak-banyaknya hal yang tak akan bisa kujangkau lagi. Memeluk erat apa yang akan kulepaskan esok hari. Memilikinya sebentar lagi saja. Mengklaimnya sebagai milikku sebentar lagi saja. Aomine Daiki.

Kenapa kau harus sebenci itu padaku?

.

.

.

Hm?

Ini di mana? Kenapa semua terlihat putih? Di mana Aomine? Kenapa aku sendiri?

Aku tak mau sendiri. Aku… eh? Siapa itu?

Sesosok manusia, lebih tepatnya seorang laki-laki berdiri tak jauh dari tempatku. Thanks Kami-sama kau masih mendengarku. Tanpa pikir panjang aku berlari menuju sosok itu. Semakin dekat, dan semakin dekat hingga akhirnya aku sadar siapa itu.

"Aomine?"

Sosok itu berbalik, menghadap padaku. Binggo, dia benar-benar Aomine.

"Aomine, ini di mana?"

Dia tidak menjawab pertanyaanku. Dasar tak sopan. Eh? Tunggu, kenapa dia melangkah mendekat? Bukan hanya itu. Tangan kanannya terulur menyentuh wajahku. Uh, reflex mataku tertutup. Tangan itu rasanya dingin sekali. Sedetik kemudian aku membuka mataku, lalu kupejamkan lagi. Hanya untuk merasakan hangat tubuh Aomine dari bibirnya.

Semua rasanya berjalan lambat. Hanya dengan sentuhan lembut bibirnya di bibirku, rasanya aku bisa pingsan saat itu juga. Padahal dia hanya menempelkan bibirnya saja (sebenarnya ada lumatan ringan juga yang terasa dilakukannya), tapi seluruh tubuhku terasa panas. Bahkan ini bukan ciuman panas layaknya ciuman yang merenggut oksigen dari tubuhmu. Oke, salahkan komik dan novel romance yang Alex berikan, hingga alam bawah sadarku akan otomatis membayangkan itu saat mendengar kata ciuman. Stop, stop. Uh, ini sudah terlalu melenceng. Intinya, bahkan hanya dengan seperti itu, jantungku sudah berpacu terlalu kencang.

Sebesar itukah pengaruhmu padaku Aomine?

Bahkan meskipun dalam sebuah mimpi...

.

.

.

Mataku langsung bertemu dengan jam digital di atas meja kamarku, begitu kubuka. Setelah mengerjap beberapa kali kesadaran mulai terkumpul. Pikiranku kembali melayang pada mimpi yang cukup terasa nyata tadi.

Bodoh. Meskipun tahu semua itu hanya mimpi sebaiknya pura-pura saja kan. Kau itu memang bodoh sekali [name]. Dengan malas kulirik jam yang masih saja berubah angkanya.

Huh, bahkan waktu tak mau berkompromi denganku. Kenapa sudah jam 7:30 sih? Rasanya ingin bolos saja. Aku sudah menarik selimut hingga atas kepala saat suara teriakan terdengar dari lantai satu.

"[name] cepat bangun! Kau bisa terlambat!"

Bahkan okaa-san juga tak sejalan. Oh, kami-sama kenapa kau menjawabnya hanya dalam mimpi?

"Hai!", sudahlah. Semua tak akan sekacau kemarin kan?


Love of Childhoodfriend © bluesnow


"Waa, aku benci acara bersih-bersih di akhir semester begini."

Mai, seperti biasanya, selalu mengeluh setiap acara bersih-bersih.

"Aku ingin pulang. Ini terlalu dingin untuk bersih-bersih. Apa sensei tak tahu ya?"

Dan seperti biasanya, aku hanya mengabaikan ocehannya sambil membawa tempat sampah ke tempat pembakaran.

"Kuharap semua penderitaan ini cepat berakhir."

Lalu seperti biasanya, Mai akan tetap mengoceh tanpa henti. Tak peduli ada yang mendengarkan atau tidak. Serius, perempuan itu kadang memang tak bisa menutup mulutnya barang sedetikpun ya?

Ngomong-ngomong perempuan, rasanya aku jadi ingat pada Momo. Padahal waktu itu aku sudah setengah mati mencoba mengatakan hal keren untuk menyerahkan Aomine padanya. Tapi nyatanya kemarin aku tertidur dalam gendongan laki-laki itu. Bahkan aku sampai punya pikiran untuk menjadikannya milikku. Aku ini perempuan yang jahat sekali ya?

Suara percikan api menjadi latar suasana muram yang tiba-tiba kurasakan. Di sampingku Mai masih mengoceh berbagai hal tidak jelas. Aku masih memandangi plastik-plastik yang semakin mengkerut, menciut terbakar api, hingga akhirnya menghilang menjadi abu. Apa nantinya perasaanku bisa berubah menjadi seperti itu juga ya? Terbakar habis hingga tak tersisa rasa sakit saat melihat mereka bersama.

.

.

.

"Kenapa harus lewat sini sih?", protesku begitu menyadari rute pulang kami menuju kelas.

"Memang kenapa? Toh dengan begini kita tidak akan mendapat pekerjaan lagi.", komentar Mai asal. Yah, tapi memang benar sih, kalau lewat gym begini pasti acara bersih-bersih sudah selesai begitu kami mencapai tujuan.

Aku melirik ke arah Mai sebal, lalu berganti menatap gym. Terdengar suara pelan dari arah gym. Mungkin klub basket juga sedang bersih-bersih. Tapi entah kenapa rasanya aku mendengar suara pantulan bola basket. Mungkin hanya halusinasiku saja.

Aku dan Mai masih berjalan dengan pelan. Ya, anak ini benar-benar melakukan segala cara agar terbebas dari acara bersih-bersih ini. Tanpa bisa ditahan aku menghembuskan nafas lelah, selama berteman dengannya aku seharusnya maklum, atau setidaknya sudah terbiasa dengan kelakuannya ini.

Jadi begitulah, sesuai dengan rencananya, kami sampai di kelas tepat ketika acara bersih-bersih akhir semester selesai.

Dengan semangat Mai mengemasi barang-barangnya lalu segera menghilang. Bersiap untuk hibernasi selama musim dingin. Sedang aku, masih mengemasi barang dengan pikiran yang rasanya tertinggal di gym tadi.

Setelah dipertimbangkan lagi, sepertinya aku memang harus kembali ke gym.

Jadi ke sanalah tujuanku selanjutnya. Gym sekolah.

Satu hal yang terus kupikirkan selama perjalan ke sana. Kuharap Momo masih ada di gym. Bukan berarti aku tahu pasti dia ada di sana, aku hanya punya firasat kalau dia ada di sana. Bagaimanapun juga dia manager klub basket kan? Jadi saat bersih-bersih pasti dia juga ada di sana kan?

Tapi kepercayaanku tadi langsung menyusut saat kudapati gym yang sunyi senyap, sepi tanpa satupun suara yang terdengar.

Aku tahu ini aneh, tapi kakiku tetap berjalan ke dalam gym. Berharap orang yang kucari memang ada di dalamnya. Tertidur mungkin?

Sayang, orang yang kuharapkan tak ada di dalamnya. Sedangkan orang yang tak kuharapkan ada di sana malah terlihat sangat nyaman tertidur di bench dengan bola basket tergeletak di lantai, dicengkram tangan kanannya.

Ugh. Kenapa dia ada di sini?

Ah, ya, aku tahu ini gym dan klub basket selalu memakainya. Tapi kan, ini Aomine loh. Anak laki-laki yang selalu kutemui di atap. Mana mungkin kan dia bermain basket. Meski aku mendengar gossip (yang tentunya disebarkan oleh anggota klub kebudayaan yang sangat mencintai aomomo) kalau Aomine mulai berubah dan sering tertangkap basah oleh mata kepala mereka sendiri kalau sedang melakukan kencan terselubung berlatih basket bersama Momo. Tapi ini kan Aomine. Dia pasti memilih bolos di saat udara dingin seperti ini kan? Apalagi, saat ini harusnya klub basket sedang libur. Dan seharusnya sedang dalam acara yang sama dengan semua orang di sekolah, bersih-bersih akhir semester. Terima kasih pada Nigou atas informasinya. Well, dia kan stalker number one Sakurai Ryo.

Yang lebih penting, kenapa dia tidur seperti itu sih?! Apa dia tak takut akan masuk angin? Ah, orang bodoh kan tidak akan kena flu. Tapi ini bulan Desember, dan tak ada gunanya menggunakan kaos lengan panjang bila disingkap seperti itu. Uh, tapi tetap saja, ini terasa seperti ujian.

Tanpa sadar kakiku sudah melangkah mendekat. Aku bahkan berjongkok di dekat kepala Aomine. Memperhatikan setiap detil dari wajah yang terlihat sangat damai. Wajah polos itu menipu.

Aku ingin menyentuhnya.

Waaaaaaaa, dame, dame, dame. Hah, hah, hah, fyuh, hampir saja. Tanganku sudah setengah jalan menuju wajah tidur Aomine.

Dan lagi, ada apa dengan perut six pack itu?! Padahal selama ini aku baik-baik saja melihat perut Tatsu dan Taiga. Kenapa Aomine nggak? Kami-sama tatsukete. Tanpa sadar, tanganku sudah menyentuh pipi Aomine. Tak hanya itu, kini tanganku menelusuri seluruh wajahnya, mata, hidung, bibir dagu. Terus turun sampai dada, terus dan terus, hingga jari ini bersentuhan dengan otot perutnya. Gila.

Hah?! Apa yang kulakukan! Sinting! Tanpa banyak pikir lagi aku kabur. Sungguh memalukan. Ini benar-benar gila.


Love of Childhoodfriend © bluesnow


Aomine pov

Aku membuka mataku perlahan.

Apa yang dilakukan anak itu sih? Apa dia pikir aku bisa tetap tidur kalau dipandangi seperti itu? Bahkan dia berani grepe-grepe segala. Ya ampun, aku juga cowok biasa kali. Apa dia tahu apa yang ada di pikiranku selama tangan itu bergerak menelusuri segalanya. Terlebih perutku. Itu geli tahu. Dan benar-benar menguji iman.

Aku masih ingat kejadian kemarin. Hampir saja.

"Sudahlah orang sakit diam saja. Aku melakukan ini juga terpaksa tahu.", dengan kesal kukatakan itu semua. Keras kepala sekali sih cewek ini. Jangan sok kuat di saat begini. Aku jadi merasa tak berguna.

Tiba-tiba kata-kata Kagami muncul dalam otakku.

"Kau tidak sedang menyukai [name] kan?"

Apa aku menyukai anak ini? Aku rasa itu tidak mungkin. Aku masih belum bisa memaafkannya. Satsuki sudah bilang untuk memaafkannya sih. Tapi tak bisa dipungkiri, rasa kesal saat melihat Satsuki diambang kematian itu belum hilang sepenuhnya. Masa dia mau memaafkan semudah itu sih. Apa dia tak memikirkanku yang kawatir setengah mati waktu itu? Perempuan itu memang sulit dimengerti.

Gret.

Eh?

Dua tangan mungil melingkar di sekitar leherku. Lalu terasa semakin erat. Bukan. Dia tidak sedang mencekikku. Malah, rasanya dia sedang memelukku. Haha, berhenti berhayal.

Tapi serius deh. Anak ini memelukku terlalu erat. Aku bahkan bisa merasakan dadanya di punggungku. Oh my god, kayaknya tebakanku tadi bener deh. Ukurannya itu B cup.

Deg.

Anak ini maunya apa sih? Tadi peluk, sekarang aku merasakan bibirnya di tengkukku. Bahkan sepertinya dia sedang menghirup bauku. Ya ampun, aku ini juga laki-laki normal. Tolong ya. Apa aku sebau itu sampai diendus-endus. Dia sadar resikonya nggak sih? Untung aku itu termasuk laki-laki baik-baik. Meski Mai-chan adalah bacaan wajib sehari-hari, aku masih bisa menahan diri dari hal-hal begini.

Oh, rumahnya sudah terlihat. Lebih cepat memulangkannya, lebih cepat pula aku terbebas dari siksaan batin ini.

Ting. Tong.

Tak lama setelah bel kubunyikan, seorang wanita setengah baya keluar. Apa dia ibunya?

"Permisi, a-saya mengantarkan [name] karena kakinya terkilir.", kataku dengan bahasa sopan yang sudah lama tak kupakai.

"Oh, terima kasih banyak. Maaf merepotkanmu. Ayo masuk dulu.", katanya ramah.

Mendengar dan melihat tawaran wanita dihadapanku ini yang dikatakan dengan sangat sopan membuatku tak bisa menolaknya.

"Kamar [name] itu di lantai dua yang sebelah kanan.", setelah memberi arahan wanita itu pergi ke arah dapur.

Jadi dia sudah bertemu dengan ibunya ya. Hm, sebelah kanan ya? Ah, ini dia.

Ceklek.

Aku sudah menyiapkan mental untuk memasuki dimensi lain yang disebut kamar anak perempuan. Tapi ternyata sia-sia saja.

Oh, ternyata kamarnya biasa saja. Kukira kamar cewek akan berbeda. Seperti kamar Satsuki, warna pink di seluruh tempat dengan berbagai dekorasi dan boneka-boneka atau pajangan apalah. Ternyata kamarnya tak beda jauh denganku, sama-sama simple. Bahkan poster yang dipajang adalah poster Michael Jordan, bukan gambar artis atau apa. Mungkin cewek ini saja yang begitu.

Segera kuletakan dia di ranjangnya. Lalu bergegas keluar untuk pamit dan pulang. Tapi niat itu urung saat kudengar suara yang seperti memanggilku.

"Aomine?", bisiknya lirih.

Aku berbalik dan mendapatinya masih tidur. Apa dia mengigau ya? Tapi kenapa mengigau namaku? Apa aku salah dengar ya?

"Aomine…", bisiknya lirih lagi.

Kali ini aku tak bisa menahannya. Wajah tidur serta igauan itu sungguh kombinasi yang buruk untuk pengendalianku. Tangan ini sudah menyentuh wajah tidur itu saat kusadari apa yang kulakukan. Tapi bagai terhipnotis wajah polos tanpa pertahanan dan mata yang tertutup itu aku tak bisa diam. Ciuman lembut sudah mendarat di bibir kecilnya sebelum aku bisa berpikir. Ternyata bibir itu rasanya bisa semanis ini. Ah, sepertinya di dalam ketidak sadarannya dia juga membalas ciumanku. Gawat, aku ingin lebih. Aku ingin tahu rasa yang lebih dalam lagi. Tepat ketika lidah ini bermaksud menyusuri bibir bawahnya, gangguan datang. Tepatnya ibunya masuk ke dalam kamar. Di saat yang tidak tepat. Sial, posisi ini sungguh mencurigakan.

"A-ah, maaf mengganggu.", wanita itu terlihat salah tingkah mendapati putrinya terlihat dalam bahaya.

"Ti-tidak. Maaf, it-saya permisi dulu.", kataku terbata-bata. Uh, ini sungguh nggak banget.

"Eh, saya sungguh-sungguh tak bermaksud mengganggu. Tapi alangkah baiknya kalau kau melakukan hal itu saat dia bangun saja.", kata wanita itu dengan senyum di akhir. Sepertinya dia maklum dengan keadaan yang ada. Atau mencoba maklum? Setidaknya, sepertinya aku selamat. Kalau yang memergokiku dalam posisi seperti itu adalah ibuku maka tamat sudah riwayatku. Bisa dirajam aku.

"Bukan begitu, itu tadi..."

"Ya saya mengerti. Untuk kali ini saja akan saya rahasiakan kejadian tadi dari [name]. Ya sudah hati-hati di jalan.", ujar wanita itu sambil tersenyum. Mungkin maksudnya, untuk kali ini saja aku dilepaskan ya. Hah.

Setelah itu, aku pulang dengan banyak pikiran. Itu adalah pertama kalinya otakku sakit karena terlalu banyak digunakan.

Anak itu sepertinya memang tak punya rasa takut ya? Ah, tentu saja. Mana dia ingat kalau dia sempat dalam bahaya. Kalau sebuah ciuman bisa masuk dalam kategori bahaya sih.

"Ah, ternyata kau ada di sini Dai-chan. Tadi aku lihat [name]-chan pergi dari arah sini. Apa kalian habis mengobrol?", tiba-tiba saja Satsuki sudah berdiri di sebelahku dengan papan catatan didekapannya.

"Tidak juga. Hm, kenapa kau membawa-bawa itu, Satsuki?", tanyaku sambil memandang malas papan yang tak pernah absen dari tangan Satsuki selama menjadi manager di sini.

"Ini? Hanya mau melihat perkembangan semuanya setelah satu tahun ini saja.", jawab Satsuki kalem.

"Oh.", jawabku singkat.

Lalu ada keheningan yang sukup lama terjadi. Merasa risih seperti sedang diperhaikan, akhirnya aku memandang dengan wajah penuh tanda tanya pada satu-satunya orang yang ada bersamaku di ruangan ini.

"Kenapa?", tanyaku akhirnya.

"Hm, tidak apa-apa. Tapi Dai-chan, sejak tadi wajahmu merah loh. Aku sempat mengira kalau kulitmu itu semakin hitam, ternyata setelah diperhatikan lagi wajahmu itu memerah bukannya menghitam.", jelas Satsuki tanpa merasa bersalah sedikitpun mengataiku semakin hitam. Awas saja, akan kusembunyikan semua manga shoujonya nanti.

"Tidak merah kok. Mungkin karena dingin saja.", jawabku asal. Bisa runyam urusannya kalau Satsuki sampai tahu alasan yang sebenarnya.

Tapi tak seperti dugaanku, Satsuki saat ini sedang memandangku geli dengan senyum mengembang di wajahnya. Kukira dia akan curiga atau apa, tapi kenapa dia malah tersenyum?

"Begitu ya? Ah, Dai-chan aku mau keluar dulu. Nanti kau kunci pintunya ya.", aku sudah mau protes padanya tapi dia sudah melanjutkan. "Itu untuk ganti tadi, bukannya bantu bersih-bersih kau malah main basket terus. Aku senang kau sudah mau berlatih basket lagi Dai-chan, tapi lihat-lihat waktunya juga kan. Untung Wakamatsu-senpai tidak ada, dan kau bertugas denganku dan Sakurai-kun. Sebenarnya aku masih ingin memarahimu, tapi cukup kunci dan kembalikan kuncinya saja. Oke Dai-chan?"

Mendengar semua ocehan Satsuki, sepertinya ini memang pilihan paling baik yang kumiliki.

"Baiklah.", kataku akhirnya.

"Bagus. Kalau begitu titip ini ya Dai-chan. Bye-bye.", katanya sambil memberikan papan tadi padaku, lalu melesat pergi meninggalkanku dalam gym sendirian.

Mau ke mana sih memangnya? Kelihatannya buru-buru sekali. Sepertinya aku tak akan pernah mengerti apa yang dipikirkan perempuan.

End of Aomine POV

Start of Reader POV

Aku sedang mendinginkan wajahku yang memanas dengan mengipas-ngipaskan kedua tanganku. Udara dingin rasanya tidak begitu membantu, malahan rasanya wajahku makin memerah. Untuk alasan yang lain sebenarnya, mungkin aku bisa terkena demam bila dua hari berturut-turut berdiam diri di tempat dingin seperti sekarang.

Detak jantungku sudah kembali ke dalam keadaan normal, dan aku sudah memutuskan untuk pergi dari tempat itu saat kudengar seseorang memanggilku. Penasaran, kupalingkan wajah ke belakang. Mencoba mencari tahu identitas dari si pemanggil barusan. Dan yang kutemukan adalah orang yang hendak kucari tadi sedang berlari ke arahku.

"[name]-chan!", serunya lagi saat jarak kami lebih dekat.

Oke, sekarang atau tidak sama sekali. Tadi aku sudah membulatkan tekadku, dan itu harus berlaku hingga sekarang.

"Momo.", panggilku saat gadis itu berjarak kurang dari 2 meter dariku.

Ayo [name], kau pasti bisa mengatakannya.

"Aku…", aku ingin minta maaf. Ayo, katakan itu.

"Ada yang mau kukatakan padamu.", sambar Momo. Memotong kata-kata yang hendak kukatakan.

"Eh?", hanya itu yang bisa kukatakan. Mengingat aku harus menelan bulat-bulat kalimat permintaan maaf yang coba kuutarakan tadi, informasi sekecil apapun sekarang akan terdengar mengejutkan bagiku.

Momo tersenyum mendengarku bertanya 'eh?' tadi. Lalu kalimat yang lebih mengejutkan terucap dari bibir mungilnya, "Apa kau ingin tahu apa yang terjadi selama kau pergi [name]?"

"Tentu saja. Bisa kau beri tahu aku apa saja yang aku tak tahu?", tanyaku dengan nada putus asa namun masih berharap. Aku benar-benar tak tahu apa yang terjadi dan merasa putus asa untuk mencari tahu informasi dari orang yang kukira membenciku. Dengan penekanan di akhir aku berkata, "Semuanya."

Momo masih tersenyum memandangku. Namun kali ini senyumnya terlihat sedikit menyedihkan dan kesepian. "Akan kuberitahu semuanya. Sebenarnya, bolehkah kukatakan ini bermula dari hadirnya seorang gadis dalam lingkar persahabatan dua anak laki-laki dan perempuan?"

Aku membulatkan mataku, menyadari gadis yang dimaksudnya adalah aku. Dan ini tentang persahabatan mereka berdua.

Melihat reaksiku Momo kembali tersenyum, kali ini senyum maklum yang diberikannya. "Sepertinya boleh ya. Kalau begitu akan kumulai ceritanya. Dengar ya [name]."

つづく


Note : Hallo minna. Yei, untuk chapter 8 ini bisa lebih cepat selesai ternyata. Yah, ini semua karena selama bingung bikin chap 7, yang muncul malah ide buat chap 8 ini jadi dicicil deh selama bikin chap 7. Oh ya, kalau ada yang menunggu lanjutan fic ini dimohon kesabarannya ya, karena chap 9 belum dicicil, jadi akan lebih lama dari chap ini updatenya. Untuk reader yang sudah mau menyempatkan diri membaca fic ini, Aoi uapkan teriima kasih. Silent reader dan reader sekalian selamat membaca. HAPPY READING all.