Title: Mr. Normal

Pairing: KaiSoo as main pair

Cast for this chapter: Kai EXO as Kim Jongin, D.O EXO as Do Kyungsoo, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Sehun EXO as Oh Sehun, Seohyun SNSD as Seo Joohyun

Rate: T

Genre: Romance, Drama, Hurt, Friendship

Length: Chaptered [1/?]

Summary for chap 1:

Jongin baru saja pindah ke sekolah barunya, dan juga baru saja mulai menempati kamar asramanya. Tapi roommate barunya ternyata...membencinya

NOTE: special for syafakamilla yang request FF KaiSoo :)

Aku disini pinjem nama SOPA cuma sekedar pinjem nama sekolah aja. Tapi untuk urusan teknis tentang SOPA di FF ini 100% merupakan hasil imajinasiku. Jadi barangkali beda sama kenyataannya. Harap maklum

YAOI | CHAPTERED | SCHOOL LIFE | AU | OOC | TYPO | DLDR | NO PLAGIAT

..

CHAPTER 1 (I Hate You)

HAPPY READING!


School of Performing Arts (SOPA) Seoul High School merupakan sebuah sekolah seni ternama di Seoul, Korea Selatan. Sekolah yang setara dengan jenjang SMA itu sudah banyak melahirkan artis-artis berbakat di negeri ginseng.

Jadi tak mengherankan jika kini banyak lulusan middle school yang berbondong-bondong mendatangi sekolah terkenal itu. Mereka saling berlomba agar bisa mengenakan blazer kuning kebanggaan milik sekolah itu.

Bahkan bukan hanya fresh graduate dari middle school saja yang berlomba untuk menjadi bagian dari SOPA. Nyatanya, seorang siswa dari Seoul Science High School juga memutuskan untuk pindah ke sekolah seni itu.

Mungkin otak minimalis siswa tersebut tidak kuat menampung sederetan ilmu alam yang sekiranya penuh dengan rumus dan angka. Atau bisa jadi siswa itu memang lebih tertarik ke bidang seni hingga ia memutuskan untuk pindah sekolah saat awal tahun ajaran grade 2.

Hebatnya, siswa itu tidak perlu bergabung dengan siswa-siswa grade 1 di SOPA, melainkan langsung bergabung dengan siswa grade 2 disana. Dari situlah dapat disimpulkan bahwa ia memang memiliki bakat di dunia seni hingga ia langsung ditempatkan di tingkat 2 padahal ia merupakan siswa pindahan dari sekolah science.

Kim Jongin, itulah nama siswa berbakat yang kini tengah menyeret kopernya di sebuah koridor. Di depannya berjalan pria paruh baya berkacamata yang membimbing langkah Jongin. Kedua pria beda usia itu akan menuju ke dorm siswa laki-laki yang memang menjadi salah satu fasilitas yang ditawarkan di SOPA.

Kepala Jongin tertunduk dalam, sedangkan matanya sesekali melirik ke kanan dan ke kiri. Sebenarnya ia merasa penasaran dengan sekolah barunya, tapi ia terlalu malu untuk mengangkat kepalanya dan memperhatikan sekitar.

Apalagi ia tahu bahwa koridor itu cukup ramai mengingat hari ini adalah hari terakhir liburan semester, dan banyak siswa yang baru kembali ke asrama setelah masa liburnya habis.

Shin saem —nama seorang guru yang saat ini berjalan di depan Jongin- membimbing Jongin untuk memasuki sebuah lift. Bangunan enam lantai itu tentu memiliki fasilitas lift supaya para penghuninya tidak perlu susah payah menaiki anak tangga.

Jongin dengan tenang memperhatikan guru barunya itu menekan tombol angka tiga yang tertempel bersama sederetan angka lain di sebelah pintu lift.

Sebenarnya Jongin tak bisa dikatakan tenang, karena faktanya pria itu sedang gugup setengah mati. Pria berusia 17 tahun —umur Korea- itu takut jika nanti teman satu kamarnya tak menerima kehadirannya, dan ia justru dimusuhi.

Maklum saja, Jongin pernah menjadi korban bully teman sekamarnya saat ia berada di jenjang middle school, dan ia merasa cukup trauma karena hal itu.

Ting. Pintu lift terbuka secara otomatis begitu benda berbentuk balok itu mencapai lantai tiga. Dengan santai, Shin saem berjalan keluar dari lift, dan Jongin mengikutinya dari belakang.

Gedung asrama yang akan ditempati Jongin itu lumayan besar. Mungkin di gedung itu terdapat kurang lebih 120 kamar, karena di setiap lantai terdapat 20 kamar.

Setiap kamar dihuni oleh dua siswa, sehingga diperkirakan terdapat 240 siswa di gedung itu. Sekedar informasi, gedung tersebut hanyalah satu dari dua gedung asrama murid laki-laki yang dimiliki SOPA. Di SOPA masih terdapat satu gedung asrama laki-laki lagi yang ukurannya sedikit lebih kecil, karena hanya memiliki tiga lantai saja.

SOPA juga memiliki dua gedung asrama untuk murid perempuan. Satu gedung terdiri dari enam lantai, dan yang satu lagi terdiri dari tiga lantai. Sama seperti gedung asrama milik murid laki-laki.

Gedung asrama murid perempuan dan laki-laki letaknya relatif berdekatan. Dua kompleks gedung asrama itu hanya dipisahkan oleh sebuah pagar beton yang menjulang tinggi —walaupun jarak antara pagar dan bangunan gedung cukup jauh, mungkin hingga seratus meter-. Kira-kira tinggi pagar itu mencapai empat meter.

Ketinggian pagar beton itu seringkali tak menjadi halangan bagi murid pria untuk melompati pagar menuju dorm murid wanita, dan akhirnya murid-murid berbeda gender seringkali berkencan di kompleks asrama.

Hal itu tentu melanggar aturan, karena jelas-jelas pihak sekolah melarang murid pria memasuki kompleks dorm murid wanita, demikian pula sebaliknya. Tapi mau bagaimana lagi? Kebutuhan masa muda para siswa rupanya mengalahkan peraturan itu. Ya...meskipun tak jarang juga ada siswa yang dihukum jika kepergok melanggar aturan tersebut.

"Nah, Kim Jongin. Ini adalah kamarmu," suara Shin saem mengejutkan Jongin. Ia tak sadar bahwa sedari tadi ia melamun, dan tiba-tiba saja Shin saem berhenti berjalan di depan sebuah kamar dengan nomor 42.

Jongin yang masih cengo dengan polosnya meratapi angka 42 yang tertempel di daun pintu berwarna coklat di depannya. "Si-siapa teman sekamar saya, saem?" ia akhirnya bertanya dengan terbata. Pria tampan itu rupanya benar-benar gugup.

Shin saem hanya mengulum senyum melihat tingkah Jongin. Ia tak menyangka jika pria bertampang bad boy macam Jongin aslinya adalah seorang pemuda polos dan pemalu.

Tampang bad boy? Tentu saja! Orang yang pertama kali melihat Jongin tentu akan mengira bahwa pria itu adalah seorang bad boy yang gemar berkelahi, dan juga suka membolos di sekolah.

Bayangkan saja. Jongin memiliki tubuh tinggi tegap, kulit tan eksotis, mata tajam bak mata elang, rahang tegas, dan juga kharisma yang membuat banyak orang terpesona padanya. Tapi nyatanya apa? Jongin yang asli adalah sosok laki-laki yang tak ubahnya seperti seorang anak anjing yang lucu dan menggemaskan.

Jongin adalah sosok yang sangat pemalu dan polos. Itu poin yang perlu dicatat.

"Kau bisa langsung berkenalan dengannya setelah kau masuk ke dalam. Arra?"

Jongin menelan ludahnya gugup begitu Shin saem selesai berbicara. Apalagi guru senior di SOPA itu sempat mengedipkan sebelah matanya sebelum ia pergi meninggalkan Jongin. Firasat Jongin benar-benar buruk. Bisa jadi roommate-nya nanti adalah seorang gangster di SOPA!

'Oh...bersiaplah untuk kemungkinan terburuk, Kim Jongin,' Jongin masih sempat-sempatnya berbicara dalam hati.

Masih dengan jantung yang bedetak tak beraturan, Jongin mulai mengangkat tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya yang memegang koper kini mulai berkeringat.

Tangan kanan Jongin yang terangkat kini mulai bergerak untuk mengetuk daun pintu...tok tok tok.

Jongin diam menunggu setelah ia mengetuk pintu. Dalam hatinya ia terus memanjatkan doa supaya ia mendapat roommate yang baik, atau setidaknya roommate yang tidak ingin mengambil nyawanya.

Klek. Daun pintu coklat itu perlahan terbuka. Efek slow motion membuat Jongin semakin tegang.

Saat pintu terbuka sepenuhnya, Jongin sempat mengernyit heran ketika ia tak melihat apapun di depannya. Tapi ia seketika kaget saat ia sedikit merunduk, karena ia langsung bisa melihat sosok mungil yang kini menatapnya tajam.

Jongin lagi-lagi menelan ludah gugup begitu melihat sosok di depannya. Sosok itu memiliki tubuh yang pendek sehingga Jongin perlu menunduk untuk bisa melihat wajahnya. Tinggi badan mereka mungkin selisih sepuluh centimeter.

Mata sosok itu bulat sempurna, dan itu cukup mengintimidasi —bagi Jongin-. Hidung sosok itu mancung, bibirnya tebal dan berwarna pink, dan kulitnya putih. Ia benar-benar pria?

Jongin masih memandang sosok di depannya dengan was-was. Tapi tak dapat dipungkiri bahwa ia merasa sedikit lega karena sosok itu lebih kecil darinya, dan sosok kecil dan imut sepertinya tak mungkin merupakan seorang gangster, 'ka—

"Aku membencimu."

—atau mungkin sosok itu benar-benar seorang gangster karena ia baru saja berkata sarkastis pada Jongin.


#Mr. Normal


Jongin saat ini sedang mengeluarkan isi kopernya, dan memasukkan satu persatu bajunya ke dalam lemari.

Selain terdapat dua single bed, di kamar itu juga terdapat dua lemari untuk dua penghuni kamarnya.

Kamar yang ditempatinya terbilang cukup luas karena mampu menampung dua single bed, dua lemari pakaian, dan juga dua meja belajar. Jangan lupakan pula fasilitas kamar mandi dalam yang tersedia disana. Tentu hal itu menjadi keuntungan tersendiri bagi para siswa.

Tadi Jongin sempat membersihkan lemari yang akan dipakainya karena ternyata lemari itu sangat berdebu. Sepertinya lemari itu tak pernah digunakan sebelumnya. Barangkali sejak dulu kamar ini hanya ditempati oleh satu siswa saja.

Jongin sedikit menoleh ke belakang, dan ia mendapati roommate barunya sedang bersandar di kepala ranjangnya, dengan telinga yang dihiasi oleh headset, dan dua tangannya yang memegang i-Pad mini. 'Benar-benar orang yang aneh,' batin Jongin.

Pria pemalu itu kini memilih untuk melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda, dan untuk sementara melupakan roommate yang bahkan tak ia ketahui namanya itu.

Belasan menit setelahnya, seluruh pakaian milik Jongin sudah berpindah ke lemari.

Pemuda itu berdiri, lalu menghadap pada roommate-nya yang sedari tak tak berubah posisi.

"Ehm..." Jongin bersuara sembari menggaruk tengkuknya canggung. "Na-namaku Kim Jongin. Bo-boleh aku tahu siapa namamu?"

Hening. Roommate Jongin tak menjawab pertanyaan Jongin.

Oh! Jongin terlalu gugup atau bagaimana sampai-sampai ia melupakan keberadaan headset di telinga roommate barunya?

Jongin mendengus kecil. Ia baru saja menyadari kebodohannya. Tentu saja roommate-nya itu tak mendengar suara Jongin barusan.

Dengan langkah ragu, pria berkulit kecoklatan itu mendekati ranjang sang roommate. Dengan ragu pula, Jongin menepuk pelan bahu sempit roommate-nya. "H-hai..." sapanya dengan suara lirih.

Kali ini Jongin mendapat respon berupa tatapan tajam dari sang roommate. Jongin langsung merinding dibuatnya. Ia jadi menyesali keputusannya untuk mencari tahu perihal teman sekamarnya.

"Apa masalahmu?" tanya sang roommate dengan nada dingin yang menusuk hingga ke tulang Jongin.

Roommate baru Jongin kini sudah melepas headset-nya dan memberikan perhatian penuh pada Jongin. Hal itu tak pelak membuat nyali Jongin semakin menciut.

"Na-namaku Kim Jongin. Bo-boleh aku tahu siapa namamu?" tanya Jongin dengan suara bergetar.

Lelaki di depan Jongin menyeringai. "Apa namaku begitu penting untukmu?" tanyanya. Membuat Jongin semakin merasa terintimidasi. "Kau tidak perlu tahu siapa namaku. Yang perlu kau tahu hanyalah...aku membencimu."

Gulp. Lagi-lagi Jongin menelan ludah dengan rasa takut yang luar biasa. Ia tak menyangka jika pria —ehem- imut di depannya bisa memamerkan tatapan maut yang menusuk jiwa Jongin.

Sungguh. Tatapan pria cute di depannya benar-benar menyayat keberanian Jongin. Rasanya Jongin dikuliti hidup-hidup oleh tatapan tajam bak silet itu. Jika boleh memilih, lebih baik ia tak pernah melihat mata itu.

Sepasang mata bulat itu memang indah, tapi sangat menyeramkan. Jongin kini sebisa mungkin mengalihkan pandangannya dari sepasang mata penuh kebencian itu.

Kebencian? Kenapa mata itu bisa penuh dengan kebencian? Memangnya apa salah Jongin?

Jongin tak bisa menemukan jawaban atas pertanyaannya. Tapi setidaknya ia kini bisa bernafas lega lantaran lawan bicaranya mulai sibuk dengan aktivitasnya sendiri, dan tak lagi menatap Jongin dengan tatapan mautnya.

Tanpa sadar Jongin menghembuskan nafas penuh rasa lega. Entah berapa lama pria rupawan itu menahan nafasnya.

Merasa tak perlu lagi berurusan dengan sang anonymous roommate, Jongin akhirnya beranjak meninggalkan sosok dingin itu.

Jongin kembali pada kopernya. Meraih satu setel seragam yang sengaja tidak ia masukkan ke lemari karena esok akan pakainya untuk pertama kali —hari ini Jongin belum masuk ke kelas karena tahun ajaran baru di SOPA akan dimulai esok hari-.

Satu setel seragam yang sudah tergantung rapi pada hanger itu rencananya akan ia gantungkan di gantungan baju yang ada di balik pintu kamar. Tapi gerakan tangannya yang sudah akan menggantungkan seragamnya kini terhenti. Pria itu menatap satu setel seragam dengan warna sama yang sudah terlebih dahulu tergantung di gantungan itu.

Itu pasti seragam milik roommate-nya yang sangat dingin. Ia mengamati name tag yang tertera di blazer kuning itu, sebelum akhirnya ia menggumam...

"Do Kyungsoo..."


#Mr. Normal


SOPA high school memiliki beberapa jurusan yang bisa dipilih oleh para siswa sesuai dengan bakatnya. Jurusan-jurusan itu tentunya adalah jurusan yang berkaitan dengan seni.

Seluruh siswa SOPA sudah ditempatkan pada jurusan-jurusan yang sesuai dengan bakatnya sejak mereka berada di grade 1. Selain para siswa bisa memilih jurusan, guru-guru di SOPA juga memberi tes pada siswa-siswa itu supaya akhirnya mereka bisa berada di jurusan yang tepat.

Jurusan-jurusan yang ada di SOPA misalnya adalah jurusan vocal, dance, dan instrument. Selain tiga jurusan itu juga masih ada jurusan-jurusan lain.

Masing-masing jurusan memiliki beberapa kelas karena satu kelas tidak mungkin mampu menampung seluruh siswa dalam satu jurusan.

Jadi jangan heran jika mendengar istilah 1st grade VC 2 (yang artinya Vocal Class 2 di grade 1), atau juga 1st grade DC 1 (yang artinya Dance Class 1 di grade 1), dan yang lainnya.

Tapi untuk grade 2, agaknya SOPA high school memiliki pembeda. Tiga jurusan yaitu jurusan vocal, dance, dan instrument dijadikan satu jurusan karena tiga jurusan itu saling berkaitan. Meskipun demikian, tetap saja ketiga jurusan yang digabung itu memiliki beberapa kelas untuk bisa menampung muridnya. Hanya saja, istilah gabungan untuk tiga jurusan itu berubah menjadi Mixed Class (MC).

Alasan pihak sekolah menggabungkan tiga jurusan itu adalah karena dewasa ini, agensi-agensi artis menilai bahwa tak cukup jika seorang artis hanya memiliki satu talent saja. Oleh karena itu, calon artis harus memiliki lebih dari satu bakat. Hal itulah yang membuat SOPA memiliki inisiatif untuk menggabungkan tiga jurusan yang telah disebutkan sebelumnya.

Tentu logis apabila asumsinya adalah seperti ini: seorang penyanyi akan lebih menarik perhatian apabila penyanyi itu juga bisa dance. Penyanyi tersebut akan semakin memiliki nilai plus apabila ia bisa memainkan alat musik. Dengan demikian, agensi artis akan tertarik untuk merekrut penyanyi itu.

Asumsi logis itulah yang menyebabkan SOPA menggabungkan jurusan vocal, dance, dan instrument di grade 2 —tiga jurusan itu akan kembali dipisah saat di grade 3-.

Saat grade 2, siswa Mixed Class diwajibkan untuk mengikuti kelas vocal, dance, dan instrument tanpa kecuali. Tujuannya tentu untuk menambah kemampuan mereka agar mereka bisa menarik perhatian agensi artis.

Selain harus mengikuti kelas vocal, dance, dan instrument, para siswa Mixed Class juga harus mengikuti kelas lain misalnya kelas Bahasa Inggris, kelas Psikologi, kelas Olahraga, dan kelas Kepribadian. Kelas-kelas itu sering disebut sebagai kelas pendukung.

Do Kyungsoo merupakan siswa grade 2 yang memiliki bakat di bidang vocal —ia menempati Vocal Class saat grade 1-. Karena itulah saat ini Kyungsoo merupakan bagian dari 2nd grade MC 1 atau Mixed Class 1 di grade 2.

Kyungsoo sendiri merasa tak masalah dengan hal itu. Toh ia cukup menguasai bidang dance, dan ia pun bisa memainkan alat musik.

Sayangnya, Kyungsoo sedikit merasa tak nyaman di kelas barunya. Baginya, kelas barunya itu cukup berisik.

Sedari tadi ia mendengar teriakan seorang pria bertelinga lebar yang ia ketahui bernama Park Chanyeol. Tak hanya berteriak, siswa dari Instrument Class (IC) itu juga lompat-lompat tak jelas di depan kelas bersama beberapa murid lainnya.

Selain si telinga lebar, ada juga sosok berisik lainnya bernama Kim Jongdae. Jongdae berasal dari Vocal Class (VC), sama sepertinya. Jongdae sendiri merupakan satu-satunya teman yang dimiliki Kyungsoo. Tapi ia lebih memilih untuk tidak mengenal Jongdae daripada harus mendengar suara cempreng pria berwajah sedikit kotak itu.

Tapi sayangnya ia tetap mendengar suara-suara berisik itu walaupun ia saat ini duduk di pojok belakang kelas. Ia mengutuk guru pelajaran Kepribadian mereka yang terlambat datang.

Namun penantian Kyungsoo akhirnya dapat dihentikan saat ia melihat seorang guru wanita yang sangat anggun sedang berjalan memasuki kelas —hal itu membuat situasi kelas menjadi kondusif-. Di belakangnya, seorang pria tinggi yang tak asing baginya mengikuti langkah guru itu. Kyungsoo tanpa sadar mendecih pelan saat melihat pria itu.

"Maaf saya terlambat," guru cantik yang diketahui bernama Seo Joohyun itu membuka suara. "Tadi ada rapat kecil untuk menentukan kelas teman baru kalian ini," lanjutnya.

Seluruh penghuni kelas yang jumlahnya ada 21 siswa akhirnya mengalihkan pandangan mereka pada sosok yang kini berdiri di sebelah Seo saem.

Siswa perempuan memekik histeris saat melihat wajah pria itu. Sebenarnya sosok pria itu sedari tadi menundukkan kepalanya, tapi para siswa perempuan rupanya tetap bisa menangkap pemandangan indah di depan mereka.

Ya. Pemandangan indah seorang murid pria yang tampan dan mempesona.

Seo saem segera mengalihkan tatapannya pada murid pria di sebelahnya yang sedari tadi menyita atensi seluruh siswa di kelas itu. "Nah, sekarang kau perkenalkan dirimu. Sepertinya teman-teman barumu sudah tidak sabar untuk berkenalan denganmu," ucap Seo saem ramah. Guru muda berusia 25 tahun itu memang terkenal sangat sopan dan ramah. Makanya ia menempati pos sebagai guru Kepribadian di SOPA.

Si pria yang diajak bicara sekarang tampak gugup. Jemari tangan kanan dan kirinya saling bertaut karena terlalu gugup. "A-annyeonghaseyo. K-Kim Jongin imnida. Se-senang bertemu dengan kalian."

Seo saem tersenyum lembut melihat kegugupan murid barunya yang bernama Kim Jongin itu. Lain halnya dengan para siswa yang kini menatap Jongin penuh kekaguman. Wajah tampan Jongin benar-benar menarik perhatian rupanya.

Tak perlu menunggu lama, guru cantik bermarga Seo di kelas itu mempersilahkan Jongin untuk duduk di sebuah bangku kosong yang letaknya di baris terdepan —karena hanya bangku itu yang masih kosong-.

Selanjutnya, Seo saem segera memulai pembelajaran hari ini. Guru muda itu tak terlalu banyak membahas materi mengingat ini adalah hari pertama tahun ajaran baru.

Tapi tetap saja Kyungsoo merasa bosan di kelas. Kyungsoo sebenarnya bukan tipe siswa malas dan bodoh. Sama sekali bukan. Faktanya adalah, Kyungsoo itu siswa jenius dan selalu menempati peringkat teratas di kelas. Hanya saja, mood-nya memburuk begitu saja setelah ia melihat sosok Jongin.

Saat ini saja ia memandangi punggung tegap Jongin dengan penuh kebencian. 'Aku akan membuatmu merengek pada pengurus asrama untuk meminta pindah kamar, Kim Jongin.'


#Mr. Normal


Jam makan siang akhirnya tiba di SOPA high school. Jongin saat ini tampak menikmati makan siangnya di cafetaria bersama dua teman barunya yang sama-sama berbadan tinggi.

Si tinggi pertama bernama Park Chanyeol, siswa yang berasal dari kelas instrument. Saat di kelas tadi, Chanyeol duduk tepat di belakang Jongin makanya Jongin bisa berkenalan dengannya —sebenarnya Chanyeol yang memiliki inisiatif untuk mengajak Jongin berkenalan-.

Meskipun baru beberapa jam mengenal Chanyeol, namun Jongin sudah mengetahui dengan jelas karakter Chanyeol. Pria tinggi itu sangat ceria, murah senyum, cerewet, berisik, dan hyperactive. Jongin juga tahu bahwa Chanyeol mahir memainkan instrumen gitar dan juga drum, dan ia juga bisa menciptakan lagu. Selain itu, Chanyeol juga handal dalam hal rapping. Cukup multitalented, bukan?

Tapi satu kelemahan Chanyeol. Pria itu sangat buruk untuk urusan dance. Jongin tahu hal itu dari Sehun.

Oh Sehun adalah nama teman baru Jongin yang lain. Sehun dan Chanyeol sebelumnya sudah berteman dekat meskipun mereka tidak satu kelas —Sehun berasal dari Dance Class-.

Meskipun Chanyeol dan Sehun berteman, namun dua pria tampan itu rupanya memiliki karakter yang berkebalikan. Sehun itu sangat pendiam, jarang sekali tersenyum, dan lebih sering menunjukkan ekspresi wajah yang datar. Soal bakat, Sehun merupakan andalan di Dance Class. Chanyeol sendiri yang mengakui kehebatan dance seorang Oh Sehun.

"Jadi, Kim. Apa yang membuatmu memutuskan untuk banting stir ke sekolah seni? Otakmu menciut gara-gara terlalu banyak menghafal rumus?" tanya Chanyeol, diikuti dengan suara tawa yang hadir dari mulutnya sendiri.

"Sebenarnya dugaanmu ada benarnya," Jongin mulai memberi jawaban. "Nilaiku di beberapa mata pelajaran memang sangat buruk. Makanya aku meminta orang tuaku untuk memindahkanku kesini. Lagipula, aku memang mencintai dance," lanjutnya.

Begitulah. Jongin memiliki bakat di bidang dance. Oleh karena itu, di grade 3 kelak ia akan menempati kelas dance.

"Walaupun kau mencintai dance, tapi aku tetap tak yakin kemampuan dance-mu bisa melampauiku," Sehun menimpali dengan nada meremehkan. "Jadi, kau jangan bermimpi untuk menjadi dancer nomor satu disini. Apalagi disini ada banyak dancer handal. Ada Yixing sunbae, juga ada Taemin si murid kelas sebelah. Jadi kau jangan terlalu berharap."

Jongin hanya menatap Sehun datar sebelum akhirnya berkata pada teman barunya itu bahwa ia juga tak berharap untuk menjadi dancer nomor satu. Bisa terus menari disini saja ia sudah bersyukur.

Obrolan tiga teman baru itu masih terus berlanjut, sebelum akhirnya Jongin mengatupkan mulutnya rapat ketika mendapati Kyungsoo melewati mejanya sembari meliriknya sadis. Ia tak habis pikir kenapa roommate-nya itu seperti ingin membunuhnya begitu.

"Hei, Jongin..." panggilan Chanyeol mengalihkan atensi Jongin. Lagipula Kyungsoo sudah berlalu menjauhi cafetaria. "Kenapa kau menatap Kyungsoo seperti itu? Kau mengenalnya?"

"Kau mengenal Kyungsoo?" Jongin justru balas bertanya.

Hal itu membuat Chanyeol memutar bola matanya. "Tentu saja aku mengenalnya. Bahkan aku sudah mengenalnya sejak kami berada di tingkat middle school. Kami satu kelas selama tiga tahun, kalau kau mau tahu."

Jongin sedikit terkejut mendengar penjelasan Chanyeol. "Kau sudah mengenalnya begitu lama? Kalian berteman?"

Mendengar pertanyaan Jongin, Chanyeol tertawa keras. Sehun di sebelahnya hanya mencibir malas karena ia sendiri tak tahu siapa itu 'Kyungsoo'.

"Aku memang mengenalnya, tapi barangkali ia tak mengenalku. Jadi menurutmu, apa yang seperti itu bisa disebut dengan berteman?" Chanyeol balas bertanya. "Kau harus tahu sebuah fakta, Kim Jongin," lanjutnya. "Do Kyungsoo itu tidak memiliki teman. Ya~ ada satu sih temannya. Tapi anggap saja ia tak punya teman."

"Apa? Tak punya teman?" tanya Jongin dengan nada penasaran.

Chanyeol kini mengangguk. "Ia adalah orang yang sangaaaat dingin. Ia sangat acuh dan tak peduli dengan sekitar. Mana ada orang yang mau berteman dengannya? Ya~ kecuali pria berisik bernama Kim Jongdae yang mau-maunya berteman dengan Kyungsoo."

Sehun terlihat mendecih saat mendengar Chanyeol menyebut Jongdae sebagai pria berisik. Sungguh Chanyeol tak sadar diri.

"Benarkah ia seperti itu?" tanya Jongin, dan Chanyeol mengangguk lagi. "Tapi aku ini adalah roommate-nya. Mungki—"

"MWO?" ucapan Jongin terpotong oleh suara Chanyeol yang menggema keras. "Ulangi lagi, Kim Jongin! Kau...roommate...apa?"

"Aku adalah roommate Do Kyungsoo. Apa yang salah?"

"Omo!" kembali Chanyeol memekik. "Kau harus mempersiapkan dirimu untuk pindah kamar, Kim!"

..

..

TBC


Karena kemarin beberapa reader merasa tertarik buat lanjut baca, akhirnya aku melanjutkan ke chapter 1 nih~

kisah ini bakalan panjang, tapi konfliknya gak bikin mikir dan gak bikir penasaran kyk FF aku sebelumnya kok. jadi tenang aja :)

semoga bisa update tiap hari seperti biasa. so, thanks buat yang udah review. review again?