Title: Mr. Normal

Pairing: KaiSoo as main pair

Cast for this chapter: Kai EXO as Kim Jongin, D.O EXO as Do Kyungsoo, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Sehun EXO as Oh Sehun, Chen EXO as Kim Jongdae, Eunhyuk Super Junior as Lee Hyukjae

Rate: T

Genre: Romance, Drama, Hurt, Friendship

Length: Chaptered [2/?]

Summary for chap 2:

Setelah mendengar cerita dari Chanyeol, Jongin semakin yakin bahwa roommate-nya adalah orang yang aneh. Tapi ia tetap merasa penasaran pada roommate-nya itu.

NOTE: special for syafakamilla yang request FF KaiSoo :)

Aku disini pinjem nama SOPA cuma sekedar pinjem nama sekolah aja. Tapi untuk urusan teknis tentang SOPA di FF ini 100% merupakan hasil imajinasiku. Jadi barangkali beda sama kenyataannya. Harap maklum

YAOI | CHAPTERED | SCHOOL LIFE | AU | OOC | TYPO | DLDR | NO PLAGIAT

Previous Chapter:

"Aku adalah roommate Do Kyungsoo. Apa yang salah?"

"Omo!" kembali Chanyeol memekik. "Kau harus mempersiapkan dirimu untuk pindah kamar, Kim!"

..

CHAPTER 2 (Weird)

HAPPY READING!


Jongin dan Sehun masih diam sembari menatap Chanyeol yang baru saja bicara dengan nada serius. Jika Chanyeol sudah bicara dengan nada seperti itu, artinya hal yang diucapkan oleh Chanyeol adalah fakta, dan ia tak main-main.

"Memangnya kenapa Jongin harus pindah kamar?" kini Sehun menimpali. Sepertinya pria pokerface itu mulai penasaran.

"Jadi kau tidak tahu, Sehun?" Chanyeol justru balik bertanya. Tentu Sehun menjawabnya dengan gelengan kepala. "Do Kyungsoo itu sama sekali tak mau jika territory-nya diganggu oleh orang lain. Territory itu berarti kamarnya di dorm. Makanya ia sangat membenci siapapun yang menjadi roommate-nya."

"Territory apanya? Memangnya dorm itu milik ayahnya? Seenaknya saja!" kembali Sehun menimpali dengan sebal.

Chanyeol hanya mengangkat bahu acuh mendengar nada sebal Sehun. "Tapi aku serius. Ia biasanya mengintimidasi siapapun orang yang menjadi roommate-nya."

"Benarkah?" kali ini Jongin yang bertanya. "Pantas saja tiap kali ia menatapku, tatapannya selalu penuh intimidasi. Jadi itu karena ia ingin mendepakku dari kamar?"

Chanyeol mengangguk. "Menurutku, Kyungsoo itu sangat menyukai tempat sepi, tenang, dan damai. Jika ia bisa sendirian saja di kamar, maka ia bisa menemukan ketenangan dan kedamaian. Tapi jika ia memiliki roommate, semua ketenangan dan kedamaian itu akan hilang. Kau harus tahu Jongin. Beberapa roommate-nya sebelum dirimu sudah berhasil ia usir."

Chanyeol selanjutnya menjabarkan beberapa ulah Kyungsoo untuk mengusir roommate-nya. Sebenarnya hal yang diceritakan oleh Chanyeol itu merupakan rumor yang ia dengar di lingkungan sekolah. Tapi ia meyakini bahwa rumor itu merupakan kebenaran.

Chanyeol menceritakan bahwa Kyungsoo itu biasanya mendiamkan teman sekamarnya. Sangat acuh, seolah tak menganggap teman sekamarnya itu ada. Jika roommate-nya masih betah-betah saja di kamarnya meskipun Kyungsoo sudah mengabaikannya habis-habisan, maka Kyungsoo memulai tindakan kejamnya untuk mengusir sang teman sekamar.

Menurut kabar yang beredar, Kyungsoo pernah dengan sengaja membanjiri ranjang teman sekamarnya dengan air dingin sehingga roommate-nya terpaksa tidur di lantai selama beberapa hari. Selain itu Kyungsoo pernah pula menyebar puluhan ulat bulu di ranjang teman sekamarnya sehingga teman sekamarnya gatal-gatal. Kyungsoo juga pernah sampai menyembunyikan beberapa seragam sekolah roommate-nya sehingga teman sekamarnya itu tak bisa berangkat sekolah beberapa hari.

Sudah banyak yang pernah menjadi korban Kyungsoo, dan semuanya itu memilih untuk meminta pindah kamar asrama. Seluruh korban Kyungsoo itu juga tak pernah mengadukan masalah mereka pada pihak sekolah karena mereka terlalu takut pada Kyungsoo.

"Kalau ia memang ingin tenang dan damai, ia bisa tinggal di rumahnya, 'kan? Sekolah ini tidak mewajibkan siswanya untuk tinggal di dorm. Anak itu berlebihan sekali!" lagi-lagi Sehun menggerutu.

Sedangkan Jongin kini justru berdiam diri. Sepertinya ia memikirkan perkataan Chanyeol. Ternyata benar dugaannya. Roommate-nya adalah orang yang...aneh.


#Mr. Normal


Di sisi lain...

Kyungsoo sedang berjalan meninggalkan cafetaria bersama satu-satunya teman yang dimilikinya, Kim Jongdae.

"Hey, Soo," panggil Jongdae. "Kenapa tadi kau menatap anak baru itu dengan tatapan mautmu? Kau mengenalnya?"

"Ia roommate baruku," jawab Kyungsoo kalem.

Lain halnya dengan Jongdae yang kini terlihat tak kalem karena ia merasa kaget. "Mwo? Kau memiliki roommate lagi? Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh pengurus asrama sampai-sampai beliau memberimu roommate lagi? Padahal selama ini beliau sudah hafal betul bahwa kau adalah orang yang kejam, dan kau selalu menjahati roommate-mu."

"Ya! Kau mengejekku!" Kyungsoo memukul lengan Jongdae. "Aku tidak kejam. Hanya saja, aku tak mau ada orang yang mengganggu wilayah kekuasaanku."

Jongdae berdecak kesal. "Aku sudah mengenalmu sejak kita berusia lima tahun, Kyungsoo. Kau berubah menjadi monster sejak empat tahun lalu. Sej—"

"Sshh..jangan bicara lagi!" Kyungsoo mempercepat langkahnya untuk mendahului sahabatnya sejak kecil. Ia tak ingin Jongdae membicarakan perihal masa lalunya. Sudah cukup semuanya bagi Kyungsoo, dan ia tak ingin mengingat semua itu lagi.

Jongdae yang berada di belakangnya hanya bisa menghela nafas. Ia kenal betul siapa itu Kyungsoo. Dulu sahabatnya itu tidak seperti ini, tapi semua berubah sejak empat tahun lalu.

Kyungsoo tak lagi mau berdekatan dengan orang lain semenjak saat itu. Ia tak percaya lagi pada siapapun, kecuali pada dua orang. Kyungsoo hanya percaya pada Jongdae dan pada...


#Mr. Normal


Klek. Pintu kamar asrama nomor 42 dibuka dari luar. Jongin melepas sepatunya, meletakkannya di rak, lalu berjalan mendekati ranjang. Sore itu ia baru kembali ke kamarnya karena tadi ia sempat mampir ke kamar Chanyeol dan Sehun.

Dua pria tampan itu tidak sekamar sebenarnya. Chanyeol sekamar dengan seorang sunbae bernama Zhang Yixing, sedangkan Sehun sekamar dengan seorang sunbae juga yang bernama Byun Baekhyun.

Langkah kaki Jongin terhenti saat matanya sudah sepenuhnya menangkap pemandangan di atas single bed-nya.

Di atas kasur dengan bed cover merah itu, berserakan aneka ragam benda. Ada beberapa helai pakaian, buku-buku, kertas, plastik bekas makanan, pakaian dalam, tisu, botol minuman, dan masih ada beberapa jenis benda yang benar-benar memenuhi tempat tidur Jongin.

Jongin hanya bisa melongo meratapi pemandangan di depannya.

Tak lama, matanya teralihkan ke ranjang yang letaknya di sebelah ranjang miliknya. Di ranjang dengan bed cover warna coklat tua itu terbaring santai sosok sang roommate. Benar-benar santai. Sosok bernama Do Kyungsoo itu sedang memakan snack miliknya dengan tenang tanpa terganggu oleh kehadiran Jongin.

"Ehm..Kyungsoo-ssi," dengan ragu Jongin memanggil Kyungsoo. Yang dipanggil pun menoleh malas. "Dari tadi kau di kamar, 'kan? Kau tahu kenapa ranjangku bisa sangat kotor begitu?"

Kyungsoo yang tadi menoleh pada Jongin, kini membuang pandangan sembari terus mencomot snack di tangannya. "Oh," ia membuka suara seraya terus mengunyah kentang goreng pedas di mulutnya. "Semua barang itu milikku. Kurasa itu sedikit mengotori ranjangmu."

Sedikit? SEDIKIT KATANYA?

Seonggok barang tak jelas itu dibilang sedikit? Oh! Cubit Jongin sekarang juga dan katakan padanya bahwa ini hanya mimpi buruk!

Jongin berusaha menetralkan nafasnya yang memburu karena menahan emosi. Ia bahkan mengelus dadanya beberapa kali. Bagaimanapun juga, seorang Kim Jongin tak akan pernah berani marah pada orang lain. Hasilnya, ia hanya akan berkata "Oh, tidak apa-apa."

Mendengar Jongin tak marah, Kyungsoo pun menimpali dengan mengucap "Bagus kalau begitu."

Sungguh, pertandingan antara satu orang pemalu versus satu orang berkarakter dingin hasilnya menjadi seperti itu. Satu tertindas, satu berjaya.

"Tapi, Kyungsoo-ssi," kembali Jongin memanggil Kyungsoo meskipun ia sedikit ragu. "Bisakah kau membersihkan barang-barangmu itu dari ranjangku? Kau tahu, ehm...aku akan tidur di ranjangku itu."

Mendengar perkataan Jongin, Kyungsoo mendecih cuek. "Besok saja aku membersihkannya," ujarnya santai. "Dan jangan berani kau menyentuh barang-barang itu sedikitipun, karena barang-barangku di atas ranjangmu itu sangat berharga!"

Barang-barang berharga katanya? Ya Tuhan! Barang-barang seperti sampah itu dibilang berharga? Sungguh Jongin ingin mengakhiri hidupnya saat ini juga.

"Lalu, aku harus tidur dimana, Kyungsoo-ssi?"

"Ya Tuhan!" Kyungsoo seperti kehilangan kesabaran mendengar pertanyaan Jongin. "Itu bukan urusanku! Kau mau tidur di lantai, di kamar mandi, atau dimanapun juga, itu bukan urusanku," Kyungsoo kini sudah berdiri, lalu berjalan mendekati Jongin. Lelaki bertubuh kecil itu sedikit berjinjit, kemudian berbisik tepat di telinga kiri Jongin. "Atau...kau mau tidur di ranjangku bersamaku, hm?"

Jongin seketika merinding mendengar bisikan Kyungsoo. Ia berani bersumpah bahwa baru saja Kyungsoo bicara di telinganya sembari sedikit mendesah. Astaga! Jongin itu straight alias normal, dan rasanya sangat aneh ketika seorang pria mendesah di telinganya —walaupun sampai saat ini juga belum ada wanita yang mendesah begitu di telinganya-.

Melihat Jongin yang justru salah tingkah, Kyungsoo memutuskan untuk pergi ke kamar mandi. Tentu saja ia tak lupa untuk memamerkan seringainya pada Jongin.

Plak. Jongin sampai harus menampar pipinya sendiri untuk membuat dirinya tersadar dari pemikiran anehnya tadi.

'Ya Tuhan! Lama-lama aku bisa gila!' Jongin menangis dalam hati.


#Mr. Normal


Klek. Pintu kamar mandi di dalam kamar nomor 42 terbuka, menampilkan Kyungsoo dengan wajahnya yang masih basah. Tampaknya pemuda cuek itu baru saja selesai mencuci mukanya.

Kyungsoo langsung berjalan mendekati ranjangnya, tapi langkahnya terhenti saat melihat gundukan besar yang ada di lantai kamar, tepatnya di antara ranjangnya dan ranjang Jongin.

Tampaknya gundukan besar yang terbalut oleh selimut itu menyembunyikan tubuh Jongin di dalamnya. Dengan kata lain, Jongin tidur di lantai dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Jadilah kini muncul sebuah gundukan besar di lantai kamar.

Kyungsoo yakin bahwa Jongin tak memakai alas tidur apapun. Walaupun ia cuek, tapi ia tahu bahwa kemarin Jongin hanya membawa satu koper saja, dan tak mungkin ada alas tidur di dalam koper ukuran sedang itu.

Tapi Kyungsoo adalah Kyungsoo. Si pria dingin yang tak mengenal belas kasihan. Ia hanya mengangkat bahu saja saat melihat pemandangan mengenaskan itu. Ia tak berpikir jika nanti Jongin kedinginan atau semacamnya. Sama sekali tak merasa khawatir.

Yang ada, pria bermarga Do itu malah langsung menaiki ranjangnya, menarik selimut, dan memejamkan mata seolah tak ada seorang Kim Jongin yang kini sedang berjuang menahan dingin di lantai kamar itu.

Memangnya apa yang perlu khawatirkan? Beberapa bulan lalu teman sekamarnya yang lain juga tidur di lantai. Bahkan sampai beberapa hari, dan ia masih hidup. Jadi, Jongin pasti juga masih hidup, kecuali jika Jongin ternyata menderita penyakit mematikan yang merenggut nyawanya saat itu juga.

Tapi Kyungsoo tak mau peduli dengan semua itu. Ia justru senang karena Jongin ternyata sama dengan teman-teman sekamarnya yang lain. Jongin itu penakut, dan mau menuruti perintahnya. Sepertinya akan mudah untuk mengusir Jongin dari kamar itu. Mungkin itu anggapan seorang Do Kyungsoo.


#Mr. Normal


Pagi ini Jongin berjalan seorang diri menuju ruang dance. Ya. Dance adalah kelas pertama yang harus ia ikuti hari ini. Jongin tentu senang karena hal itu.

Tadi sebelum berangkat, Jongin mendapati ranjangnya sudah bersih lagi. Walaupun tadi ia tak bertemu dengan Kyungsoo di kamar —karena Kyungsoo sudah berangkat ke sekolah lebih dulu-, tapi ia yakin bahwa roommate-nya itu yang sudah membersihkan ranjangnya. Ya, itu merupakan kewajiban untuknya. Dia juga yang mengotori ranjang Jongin, 'kan?

Walaupun Jongin merasa sangat pusing karena ulah Kyungsoo, tapi ia seperti tak ingin menyerah begitu saja.

Meskipun kemarin Chanyeol berkata padanya bahwa roommate Kyungsoo selalu menyerah dan memilih untuk angkat kaki dari kamar, tapi Jongin tak ingin menyerah. Jujur, ia merasa penasaran pada Kyungsoo. Ia yakin bahwa ada hal yang membuat Kyungsoo menjadi dingin dan acuh begitu.

Setelah berjalan —sambil melamun- selama beberapa menit, Jongin akhirnya sampai di ruang dance.

Di ruangan yang penuh dengan cermin itu rupanya sudah berkumpul teman-teman satu kelasnya. Mereka tidak memakai seragam —mereka sudah berganti pakaian sebelumnya-, tapi memakai pakaian casual yang sekiranya nyaman untuk bergerak.

Jongin memilih untuk duduk di dekat Chanyeol dan Sehun —sebelumnya Chanyeol melambaikan tangannya pada Jongin untuk menyuruhnya mendekat dan duduk bersama-.

"Apa aku terlambat?" tanya Jongin. Pria berkulit tan itu tetap terlihat tampan dengan kaos hitam lengan pendek bertuliskan I'm Superman, dan celana training panjang yang juga berwarna hitam.

"Belum. Sepertinya masih ada dua siswa lain yang belum datang," jawab Chanyeol setelah ia menghitung seluruh siswa yang ada di ruangan itu. Pria tinggi itu tampak antusias mengikuti kelas dance meskipun ia tak handal di bidang dance.

Beberapa menit berlalu sampai akhirnya semua murid lengkap, dan seorang guru dance yang kira-kira usianya berada di akhir angka 20 memasuki ruangan itu.

"Selamat pagi, semuanya," guru pria itu menyapa begitu ia berada di tengah-tengah muridnya yang kini duduk melingkar. Para siswa itu membalas sapaan sang guru yang bernama Lee Hyukjae, dan guru itu lanjut bicara. "Hari ini aku ingin melihat kemampuan dance kalian. Dua orang siswa harus melakukan battle dance, dan aku yang akan memberi penilaian. Hanya penilaian semacam pretest, bukan penilaian sungguhan."

Siswa-siswa seketika saling berbisik satu sama lain. Ini adalah kelas dance pertama di tahun ajaran baru, tapi mereka sudah harus menunjukkan kemampuan mereka melalui battle dance. Benar-benar mengejutkan.

"Baiklah. Dua siswa pertama yang maju untuk battle dance adalah...Oh Sehun dan Jung Ilhoon."

Sehun dengan penuh percaya diri langsung bangkit dari duduknya. Ia mengenal Jung Ilhoon. Mereka sama-sama berasal dari kelas dance, dan kemampuan dance mereka tak perlu diragukan lagi.

Dengan segera dua pemuda itu melakukan battle dance. Sehun yang maju terlebih dahulu dan menggerakkan badannya penuh energi. Chanyeol saja sampai beberapa kali mengucap kata 'Wow' saat melihat gerakan Sehun. Jongin juga sama. Ia tampak mengagumi gerakan Sehun.

Tapi rupanya Ilhoon tak mau kalah. Ia menyaingi gerakan Sehun dengan gerakan yang sama-sama menakjubkan.

Battle dance pertama saja sudah membuat para siswa kagum. Tapi di sisi lain, beberapa siswa mulai merasa rendah diri karena mereka merasa bahwa kemampuan dance mereka tak sebaik Sehun dan Ilhoon.

Sehun dan Ilhoon akhirnya kembali ke tempat duduk setelah battle mereka selesai. Suara tepuk tangan tentu menggema di ruangan itu, karena penampilan Sehun dan Ilhoon begitu memukau.

"Penampilan Sehun dan Ilhoon sangat baik. Aku bangga pada kalian," Lee saem memberi pujian pada dua anak didiknya. "Baiklah. Giliran berikutnya adalah Yoon Bomi dan Kwon Sohyun."

Kali ini giliran para gadis yang beraksi. Battle antara dua siswi itu juga berlangsung seru dan memukau. Sekali lagi, suara tepuk tangan menggema di ruangan itu begitu Bomi dan Sohyun mengakhiri battle mereka.

"Bomi tampil sempurna seperti biasa, dan kurasa Sohyun berkembang pesat dibanding saat terakhir kali aku melihat penampilannya. Good job, Miss Kwon," kembali Lee saem memberi pujian. "Berikutnya, aku ingin melihat penampilan dari seorang murid baru. Kepala sekolah berkata padaku bahwa kemampuan dance murid baru ini sangat luar biasa. Jadi, giliran ketiga aku berikan pada Kim Jongin."

Jongin langsung berdiri saat mendengar namanya disebut. Meskipun sebenarnya Jongin merasa gugup bukan main saat ini. Bisa dibilang, Jongin itu sangat jarang memamerkan skill dance-nya di depan publik.

"Untuk lawan Kim Jongin, aku memilih seorang siswa dengan progress luar biasa selama ini. Seorang siswa yang dulunya memiliki gerakan badan yang kaku saat audisi untuk masuk ke sekolah ini, tapi beberapa waktu lalu aku pernah melihatnya berlatih dance sendirian di ruangan ini, dan siswa itu ternyata menunjukkan kemajuan pesat," Lee saem mengambil jeda sesaat. "Do Kyungsoo, bertandinglah melawan Kim Jongin."

Jongin yang tadinya gugup, kini berubah menjadi kaget. Namun ia yakin bahwa bukan hanya dirinya yang merasa kaget. Ia yakin bahwa Kyungsoo juga merasa kaget. Ia bisa mengetahui hal itu karena tadi ia sempat melihat mata Kyungsoo melebar.

Tapi Kyungsoo tetaplah Kyungsoo. Ia segera berdiri dengan ekspresi acuh yang terkesan angkuh.

Kini Jongin dan Kyungsoo sudah berdiri berhadapan di tengah siswa-siswa lain yang masih duduk membentuk lingkaran besar.

Lee saem memutar musik, dan Jongin yang terlebih dahulu maju untuk mulai menari. Para siswa wajib menari sesuai dengan musik yang diputar, dan itu artinya para siswa harus menciptakan gerakan barunya sendiri.

Meskipun awalnya Jongin bergerak dengan ragu dan kurang percaya diri, tapi akhirnya sisi lain Jongin muncul ke permukaan.

Yang menari sekarang bukan lagi Jongin si pemalu, tapi Jongin si dancer dengan kharisma luar biasa. Gerakan tubuh Jongin begitu mempesona, dan ekspresi wajahnya pun luar biasa. Menari dengan hati. Sepertinya Jongin benar-benar menari dengan sepenuh hatinya.

Para siswa yang menyaksikan aksi Jongin hanya bisa melongo tak percaya. Sungguh Kim Jongin merupakan dancer berkharisma dengan skill luar biasa. Park Chanyeol saja sampai tak mampu mengatupkan bibirnya karena terlalu terbius.

Kyungsoo juga demikian. Meskipun ekspresi wajah Kyungsoo tetap datar, namun matanya jelas menunjukkan bahwa ia terhipnotis oleh gerakan indah Jongin. Apalagi mata Jongin terus menatapnya. Rasanya tubuh Kyungsoo tiba-tiba mengecil karena tatapan menusuk seorang Kim Jongin yang belum pernah dilihatnya.

Jongin sendiri masih terus bergerak. Jika ia sudah menari, maka ia seperti mendapat kekuatan lebih. Makanya Jongin seperti mengalami perubahan karakter. Jongin sekarang tampak penuh percaya diri, cool, sekaligus sexy.

Jongin memamerkan beberapa gerakan melompat, memutar, dan akhirnya mengakhiri dance-nya dengan sempurna. Begitu dance-nya berakhir, ia tersenyum manis pada Kyungsoo. Rupanya Jongin yang pemalu dan polos sudah kembali.

Senyum manis dan tulus Jongin rupanya disalah artikan oleh Kyungsoo. Kyungsoo melihat senyum Jongin sebagai senyum tantangan, dan ia merasa kesal dengan hal itu.

Tanpa sadar Kyungsoo mengepalkan tangannya sebelum ia mulai menari.

Kyungsoo tak menari dengan hati, tapi ia menari dengan amarah. Gerakannya berantakan hingga membuat para audience mengernyit heran.

Kyungsoo terkesan ingin show off dan menyaingi gerakan sempurna Jongin. Tapi yang ada, tariannya justru menjadi kacau dan berantakan.

Melihat gerakan buruk Kyungsoo, Jongin tak merasa senang. Ia justru merasa kecewa karena Kyungsoo menari dengan rasa marah.

Kyungsoo sendiri masih belum berhenti menari. Ia saat ini sedang bersiap untuk melakukan sebuah lompatan, tapi...

Bruk. Kyungsoo tiba-tiba terjatuh karena salah tumpuan.

Semua orang yang ada di ruangan itu membulatkan mata, tak terkecuali Jongin. Ia bahkan langsung berlari menghampiri tubuh ambruk Kyungsoo, lalu ingin membantu tubuh itu bangkit sebelum akhirnya tangannya ditepis kasar oleh Kyungsoo.

"JANGAN SENTUH AKU!" Kyungsoo berteriak keras pada Jongin. Matanya menatap penuh kebencian pada Jongin.

Jongin yang melihat hal itu langsung menjauhkan tangannya dan memundurkan badannya. Lagi-lagi Kyungsoo menghujaninya dengan tatapan mengintimidasi, dan lagi-lagi ia merasa takut.

Tak lama kemudian, Jongdae datang menghampiri Kyungsoo, lalu membantu Kyungsoo berdiri. Kaki pria mungil itu sepertinya terkilir, dan Jongdae memutuskan untuk memapah Kyungsoo ke ruang kesehatan.

Jongin hanya bisa memandang kepergian Kyungsoo dengan pandangan sendu. Ia tak mengerti kenapa Kyungsoo sangat membencinya hanya karena ia adalah roommate-nya.

Tapi Jongin kini yakin bahwa kebencian Kyungsoo padanya akan semakin bertambah setelah ini. Ia yakin bahwa Kyungsoo merasa dipermalukan oleh insiden tadi. Secara tidak langsung, Jongin sudah mengalahkan Kyungsoo di depan siswa-siswa lain.

Padahal Jongin sama sekali tak bermaksud untuk itu. Tadi ia hanya menari sesuai kemampuannya. Tak ada sedikitpun niat untuk pamer maupun mengalahkan Kyungsoo.


#Mr. Normal


"Hey, Jongin. Kemarin kau berkata bahwa kau sangat menyukai ayam goreng, tapi kenapa sekarang kau tampak tak nafsu makan?" tanya Chanyeol. Sedari tadi ia mengamati Jongin yang hanya memainkan ayam goreng di piringnya.

Saat ini adalah jam makan siang, dan seperti biasanya, tiga sekawan sedang makan bersama.

Jongin tak menjawab pertanyaan Chanyeol. Bukannya ia tak mendengar, hanya saja ia sedang malas bersuara.

"Kau masih memikirkan insiden tadi pagi?" Sehun ikut menimpali.

Jongin kini menghela nafas lelah. Ya. Insiden tadi pagi. Tentu ia masih memikirkannya.

Apalagi ia tahu bahwa Kyungsoo tak lagi muncul di kelas setelah insiden itu. Jongdae berkata bahwa Kyungsoo langsung kembali ke dorm karena ia harus beristirahat supaya kakinya cepat sembuh.

"Kalian harus tahu satu hal," Jongin akhirnya bersuara. "Kyungsoo itu sangat membenciku, dan aku yakin bahwa sekarang ia semakin membenciku karena insiden tadi."

"Tunggu dulu, Jongin," Chanyeol langsung bersuara begitu Jongin selesai bicara. "Memangnya kenapa Kyungsoo semakin membencimu setelah ada insiden tadi?"

Jongin mengacak rambutnya frustasi. "Itu karena ia merasa kalah olehku! Harusnya aku berpura-pura tak bisa menari tadi!"

"Kenapa kau harus berpura-pura? Kemampuanmu itu tidak boleh ditutupi. Kau luar biasa, Jongin," ujar Sehun. Meskipun kemarin ia sempat meremehkan Jongin, tapi hari ini ia mengakui bahwa Jongin memiliki bakat menari yang luar biasa.

Jongin semakin mengacak rambutnya frustasi. Bicara dengan dua temannya sama sekali tak membantu.

Ia hanya ingin melihat Kyungsoo tak marah lagi padanya. Rasanya sungguh urgent. Rasanya Jongin sungguh ingin berteman dengan Kyungsoo, bukannya malah terus dibenci oleh Kyungsoo.


#Mr. Normal


Sore ini Jongin melangkah pelan menuju kamarnya. Sebenarnya ia merasa takut dan ragu. Ia takut jika nanti Kyungsoo akan mengamuk, lalu mengulitinya hidup-hidup di kamar.

Tapi mau bagaimana lagi? Ia harus kembali ke kamarnya, suka atau tidak suka.

Klek. Jongin membuka pintu kamar, tapi ia langsung terkejut saat melihat pakaiannya berserakan di lantai. Iya, semua yang ada di lantai itu adalah miliknya. Ia tentu mengenali boxer warna pink bergambar Hello Kitty diantara pakaian-pakaiannya yang lain. Tapi kenapa semua pakaiannya berserakan di lantai begini?

Jongin akhirnya melepas sepatunya, lalu berjalan pelan mendekati ranjang.

Wow! Kamarnya sudah seperti kapal pecah. Banyak sekali barang yang berserakan di ruangan itu. Dan parahnya, barang-barang itu adalah milik Jongin.

Jongin mengalihkan pandangannya pada ranjang Kyungsoo. Disana ia bisa melihat Kyungsoo tertidur dengan posisi yang membelakanginya.

'Ini semua pasti ulah Kyungsoo,' batin Jongin.

Ia yakin bahwa seluruh barangnya berhamburan karena ulah Do Kyungsoo. Pasti roommate-nya itu mengamuk hingga seluruh barangnya dihancurkan seperti ini. Iya. Dihancurkan. Beberapa baju dipotong-potong, dan beberapa buku dirobek.

Jongin hanya bisa menghela nafas, lalu memunguti seluruh benda yang berserakan itu. Sekali lagi, seorang Kim Jongin tidak bisa marah. Apalagi ia sadar bahwa Kyungsoo marah karena dirinya. Ia masih cukup bersyukur karena tak semua barangnya dihancurkan oleh Kyungsoo. Setidaknya masih ada barangnya yang tersisa dalam keadaan utuh.

Di sela-sela kegiatannya, Jongin masih sempat melirik Kyungsoo yang tak bergeming di atas tempat tidurnya. Ada sisi hatinya yang tergelitik. Ia semakin ingin mendekati Kyungsoo, berteman dengannya, dan mengubah karakter Kyungsoo.

'Bisakah aku berteman denganmu, Kyungsoo?'

..

..

TBC


Selamat sore~ saya update dengan chapter 2^^

terimakasih ya buat para reader yang udah ninggalin review sejak chapter awal. FF ini akan berjalan pelan tapi pasti. jadi progress hubungan Kyungsoo sama Jongin juga gak instan, dan bakal ada beberapa masalah yg harus mereka hadapi buat ke depannya.

so, FF perjalanan FF ini masih panjaaaang dan masih butuh review dari para reader semuanya. mind to review again? :)