Title: Mr. Normal
Pairing: KaiSoo as main pair
Cast for this chapter: Kai EXO as Kim Jongin, D.O EXO as Do Kyungsoo, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Sehun EXO as Oh Sehun, Chen EXO as Kim Jongdae, Krystal f(x) as Krystal Jung, Tiffany SNSD as Tiffany Hwang
Rate: T
Genre: Romance, Drama, Hurt, Friendship
Length: Chaptered [3/?]
Summary for chap 3:
Kyungsoo memukul wajah Jongin karena menilai bahwa Jongin suka tebar pesona di depan para gadis. Jongin merasa aneh dengan hal itu, dan tiba-tiba saja Sehun menduga bahwa Kyungsoo itu...gay
NOTE: special for syafakamilla yang request FF KaiSoo :)
Aku disini pinjem nama SOPA cuma sekedar pinjem nama sekolah aja. Tapi untuk urusan teknis tentang SOPA di FF ini 100% merupakan hasil imajinasiku. Jadi barangkali beda sama kenyataannya. Harap maklum
YAOI | CHAPTERED | SCHOOL LIFE | AU | OOC | TYPO | DLDR | NO PLAGIAT
Previous Chapter:
Di sela-sela kegiatannya, Jongin masih sempat melirik Kyungsoo yang tak bergeming di atas tempat tidurnya. Ada sisi hatinya yang tergelitik. Ia semakin ingin mendekati Kyungsoo, berteman dengannya, dan mengubah karakter Kyungsoo.
'Bisakah aku berteman denganmu, Kyungsoo?'
..
CHAPTER 3 (Gay?)
HAPPY READING!
Esok hari akhirnya tiba. Kyungsoo terlihat memasuki ruang kelas dengan kakinya yang masih pincang.
Tadi saat di kamar, ia sama sekali tak bicara pada Jongin. Jongin juga tak bicara apapun padanya. Mereka seperti sedang perang dingin.
"Hai, Soo!" Jongdae melambai dari tempat duduknya, dan Kyungsoo menghampirinya. "Bagaimana kondisi kakimu?"
Kyungsoo mendudukkan tubuhnya di bangku yang ada di sebelah Jongdae. "Masih terasa sakit jika digunakan untuk berjalan," jawabnya sembari sedikit menunduk untuk memijat kakinya yang kemarin terkilir.
"Seharusnya kau istirahat di kamar saja, Soo."
"Dan melewatkan pelajaran Bahasa Inggris kesukaanku? Big no, Kim Jongdae!"
Jongdae mengangkat bahu cuek. Sahabatnya itu memang sangat menyukai pelajaran Bahasa Inggris, dan tak pernah rela jika ia melewatkan pelajaran yang satu itu.
Setelah beberapa menit, ruang kelas itu akhirnya penuh, dan Kyungsoo bisa melihat guru Bahasa Inggris-nya memasuki kelas dengan eyesmile yang menawan.
Guru cantik berusia 26 tahun itu bernama asli Hwang Miyoung. Namun karena wanita itu pernah tinggal di luar negeri selama beberapa tahun, ia jadi memiliki nama asing yaitu Tiffany Hwang. Dan di sekolah ini, para siswa sering menyebutnya dengan panggilan Miss Tiff.
"Good morning, class," Miss Tiff menyapa seluruh siswa di kelasnya dengan semangat.
Sedangkan siswa-siswa di kelasnya membalas sapaan itu dengan malas.
Sekedar informasi, hanya Kyungsoo yang menyukai pelajaran Bahasa Inggris sejak di grade 1. Siswa-siswa yang lain tak menyukai pelajaran bahasa asing itu. Mereka beranggapan bahwa belajar bahasa bukanlah hal yang penting di sekolah seni.
Tapi pihak sekolah berpendapat lain. Bahasa merupakan satu aspek penting yang harus dipelajari. Apalagi, para siswa untuk ke depannya akan dihadapkan dengan lagu-lagu Bahasa Inggris, dan mereka harus menguasai bahasa negara Ratu Elizabeth itu.
Dan lagi, para siswa ditargetkan untuk menjadi artis level internasional. Oleh karena itu, para siswa harus bisa berbahasa Inggris. Alasan yang logis, 'kan? Sayangnya siswa-siswa pemalas itu tak mau mengerti.
"Ok, class. I have an important information for you all," Miss Tiff kembali bersuara dengan menggunakan bahasa yang membuat para murid mendengus malas. Melihat siswanya yang sepertinya bad mood, Miss Tiff lanjut bicara dengan Bahasa Korea. "Pelajaran Bahasa Inggris merupakan pelajaran penting di sekolah ini. Nilai Bahasa Inggris kalian akan menjadi salah satu penentu kelulusan kalian kelak."
Para siswa sontak menggerutu sebal setelah mendengar penjelasan guru mereka. Tentu saja mereka sebal. Apa yang dikatakan oleh Miss Tiff adalah sebuah informasi baru. Pada tahun ajaran sebelumnya, pelajaran Bahasa Inggris tak dianggap penting, dan tak mempengaruhi kelulusan.
Tapi rupanya sekarang semua berubah. Dan sayangnya, para siswa tak menyukai perubahan itu.
"Karena adanya hal baru itu, maka nilai Bahasa Inggris kalian akan sangat diperhatikan. Dan aku berencana untuk menggunakan solusi tutorial teman sebaya bagi para siswa yang nilai Bahasa Inggris-nya kurang baik."
Lagi-lagi para siswa menggerutu sebal. Bahkan sekarang gerutuan dan protes siswa-siswa itu terdengar lebih keras. Terkecuali Kyungsoo tentunya. Siswa yang duduk di pojok belakang kelas itu sedari tadi hanya duduk tenang.
Oh ya! Jongin juga duduk tenang tentunya. Ia terlalu malu untuk mengeluarkan protes.
"Baiklah, Miss Tiff kesayangan kalian ini akan membacakan nama-nama siswa dengan nilai yang kurang memuaskan," perkataan narsis Miss Tiff dihadiahi oleh suara-suara protes para siswa. "Siswa pertama adalah Park Chanyeol. Who's your roommate, Mr. Park?"
Chanyeol tampak terkejut. Seharusnya sih tidak terlalu terkejut lantaran ia sudah tahu bahwa nilai Bahasa Inggrisnya memang buruk. Tapi seperti biasa, seorang Park Chanyeol memang harus mengeluarkan reaksi berlebih.
"Kenapa bertanya tentang roommate-ku, Miss?" Chanyeol balas bertanya.
"Karena roommate adalah orang yang menghabiskan paling banyak waktu denganmu di kompleks sekolah ini. Kalau dihitung-hitung, kau bersama roommate-mu kurang lebih selama empat belas jam, terhitung mulai dari setelah pulang sekolah, sampai kalian berangkat sekolah lagi. Aku benar?" Miss Tiff kembali bertanya sembari menggerakkan alisnya naik turun.
Chanyeol terpaksa menganggukkan kepalanya. Mengakui bahwa perhitungan matematis gurunya yang cantik itu adalah sebuah kebenaran.
Lain halnya dengan Kyungsoo. Pria bermata besar itu di dalam hatinya menyanggah asumsi Miss Tiff. Ia selama ini tak merasa pernah menghabiskan waktu bersama roommate-nya. Ia saja tak menganggap keberadaan sang teman sekamar.
"Baiklah, Park Chanyeol. Siapa roommate-mu?" lagi-lagi Miff Tiff bertanya.
"Zhang Yixing sunbaenim, Miss," jawab Chanyeol.
Setelah mendengar jawaban Chanyeol. Miss Tiff segera melihat file nilai siswa di mejanya. Sepertinya ia ingin mengetahui nilai siswa senior bernama Zhang Yixing itu. "Ini tidak akan berhasil," Miss Tiff menggelengkan kepalanya.
"Ada apa, Miss?" tanya Chanyeol.
"Nilai Zhang Yixing juga di bawah standard. Lagipula, ia sendiri harus mempersiapkan ujian kelulusannya. Ia tak akan bisa membantumu."
Chanyeol tertawa dalam hati. 'Rupanya Yixing hyung juga tak bisa berbahasa Inggris.'
"Kita pikirkan alternatif lain," Miss Tiff bicara lagi. "Siapa yang kau inginkan untuk menjadi tutormu?"
Mendengar pertanyaan sang guru, mata Chanyeol berbinar cerah. "Byun Baekhyun sunbaenim! Bisakah Baekhyun sunbae yang menjadi tutorku?" tanyanya penuh harap.
"Byun Baekhyun?" Miss Tiff balas bertanya. "Tapi Baekhyun juga harus bersiap untuk ujian kelulusan. Aku ragu ia bis—"
"Ayolah, Miss! Baekhyun sunbae itu sangat cerdas. Hanya menjadi tutorku saja tak mungkin membuatnya gagal dalam ujian. Kumohon, Miss," Chanyeol memohon dengan puppy eyes gagalnya. Bahkan ia tadi juga memotong ucapan Miss Tiff.
Miss Tiff mengetukkan jari telunjuknya di dagu. Berpikir keras. Ia tahu bahwa siswa senior bernama Baekhyun itu memang cerdas, tapi tetap saja Baekhyun harus fokus pada ujiannya.
Namun mau bagaimana lagi? Chanyeol sangat menginginkan Baekhyun untuk menjadi tutornya. Siapa tahu nilai Bahasa Inggris Chanyeol akan langsung meningkat setelahnya. Iya, 'kan?"
"Baiklah, Park Chanyeol. Kau mendapatkan apa yang kau inginkan."
Mendengar keputusan Miss Tiff, Chanyeol bersorak dalam hati. Raut bahagianya membuat seisi kelas menatapnya bingung.
"Ok, class. Masalah Chanyeol sudah selesai. Aku akan melanjutkan pada siswa selanjutnya," Miss Tiff kembali membuka-buka file di tangannya. "Kim Jongin?" ia memanggil Jongin begitu menemukan ada yang janggal dengan arsip nilai Jongin.
"Yes, Miss?" Jongin menyahut.
"Apa benar bahwa di sekolahmu yang sebelumnya, nilai Bahasa Inggrismu bahkan tak pernah melampaui C+?"
Jongin menelan ludahnya keras-keras. Aibnya terbongkar, dan kini seisi kelas sedang menertawakannya. Oh! Image seorang Kim Jongin sedang dihancurkan sekarang!
"I-iya, Miss. Itu memang benar."
Miss Tiff memandang Jongin dengan tatapan iba. "Siapa roommate-mu, Jongin-ssi?"
Mendengar Miss Tiff menyebut kata roommate, bukan hanya Jongin yang sangat terkejut. Kyungsoo juga tampak kaget di belakang ruangan.
Saat ini Jongin meremas jemarinya karena ia terlalu gugup. Tangannya bahkan berkeringat sekarang.
"Jongin-ssi?" Miss Tiff kembali memanggil Jongin karena siswanya itu tak kunjung memberinya respon.
"A-ah...D-Do Kyungsoo, Miss," dengan ragu Jongin menjawab.
Miss Tiff tersenyum cerah. Ia sudah tahu nilai Kyungsoo tanpa harus mengintip di file nilai yang ada di tangannya.
"Perfect! Kalau begitu, Do Kyungsoo yang akan menjadi tutormu."
"Tidak bisa, Miss!" Kyungsoo yang dari tadi diam kini angkat bicara. Ia bahkan berdiri dari posisi duduknya. "Aku tidak mau menjadi tutornya!" Kyungsoo menunjuk Jongin dengan telunjuk kecilnya.
"What's wrong, Mr. Do?" Miss Tiff bertanya dengan bingung.
"Cari saja tutor lain untuknya, Miss."
Miss Tiff menggeleng pelan. "Keputusanku sudah bulat, Kyungsoo-ssi. Lagipula, tidak ada ruginya untukmu. Saat kau berbagi ilmu, itu sama saja kau juga ikut belajar. Kemampuan Bahasa Inggris-mu akan semakin meningkat, Kyungsoo-ssi."
Pasrah, Kyungsoo akhirnya kembali mendudukkan tubuhnya. Meskipun Tiffany Hwang itu lembut, tapi ia sangat keras kepala. Bisa-bisa nilai Kyungsoo dikurangi apabila ia menolak keinginan gurunya itu.
#Mr. Normal
Sepulang sekolah, Kyungsoo masih saja menggerutu sebal. Fakta bahwa dirinya harus menjadi tutor Jongin benar-benar membuatnya kesal.
Kenapa juga pria hitam itu harus satu kamar dengannya? Dan kenapa juga Jongin masih betah sekamar dengannya padahal beberapa hari ini Kyungsoo terus menjahatinya?
Sialnya, Kyungsoo harus terus berurusan dengan seorang Kim Jongin. Bahkan kakinya sampai sekarang masih sakit karena Kim Jongin —walaupun sebenarnya itu karena kesalahannya sendiri-.
Langkah Kyungsoo di koridor terhenti ketika ia melihat kerumunan siswa perempuan di ujung koridor. Matanya memicing, dan ia melihat siswi-siswi populer sedang melakukan aksi fangirling terhadap...Kim Jongin?
Kyungsoo bahkan sampai mengucek matanya untuk memastikan bahwa ia tak salah lihat.
Tapi rupanya mata besarnya masih normal. Gadis-gadis cantik itu saat ini sedang berkumpul di sekitar Jongin, dan Jongin sendiri hanya tersenyum malu-malu pada gadis-gadis centil itu.
Kyungsoo mengenal tujuh gadis yang sampai sekarang masih melakukan aksi fangirling. Disana ada Son Naeun, Kim Namjoo, Choi Sulli, Krystal Jung, Song Jieun, Park Jiyeon, dan Go Hara. Benar-benar sekumpulan gadis centil.
Tapi entah kenapa, Kyungsoo merasa begitu marah saat melihat pemandangan di depannya. Hatinya merasa tercabik, dan sepertinya ia...cemburu.
#Mr. Normal
Klek.
"Hai, Kyungsoo!" tidak seperti sore-sore sebelumnya, kali ini Jongin yang lebih dulu tiba di kamarnya. Ia menyapa Kyungsoo yang baru saja membuka pintu.
Kyungsoo tak bereaksi. Ia justru sepertinya merasa sebal melihat Jongin yang sok akrab padanya begitu. Apalagi saat ia mengingat kejadian di koridor sepulang sekolah tadi. Hatinya terasa panas.
Dengan tenang, pria Do itu berjalan mendekati Jongin, lalu berhenti tepat di depannya. "Bangga karena menjadi siswa populer?" tanya Kyungsoo sarkastis.
Jongin tampak clueless mendengar pertanyaan Kyungsoo. "Apa maksudmu?"
"Pura-pura tidak mengerti, hm?" kembali Kyungsoo bertanya. "Para gadis mengagumimu, ingin menyentuhmu, dan meneriakkan namamu. Kau sudah menjadi artis sebelum resmi debut rupanya."
Jongin diam. Ia kini mengerti apa maksud Kyungsoo.
Ia memang cukup terkenal di sekolah barunya. Hal itu tak mengherankan karena Jongin memiliki wajah rupawan yang menjerat hati para gadis. Tapi sungguh, Jongin tak ingin menjadi terkenal seperti itu.
"Aku tidak merasa populer. Gadis-gadis itu saja yang tergila-gila pada—"
BUGH! Kyungsoo tiba-tiba meraih kerah baju Jongin, dan memukul telak wajah pria tampan itu.
Hal itu tentu membuat Jongin terkejut. Pipi kirinya terasa perih, dan ia tahu bahwa sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Jadi menurutmu, gadis-gadis itu yang salah, hah? Omong kosong macam apa itu? Kau yang salah! Kau yang terlalu tebar pesona!"
Jongin semakin bingung saat melihat Kyungsoo yang tampak murka. "Se-sebenarnya ada apa denganmu, Kyungsoo?" takut-takut ia bertanya pada sosok yang kini sudah melepas kerah bajunya lagi.
Dua tangan Kyungsoo terkepal di sisi tubuhnya. "Kuperingatkan kau, Kim Jongin," ini adalah kali pertama Kyungsoo menyebut nama Jongin, dan entah mengapa hati Jongin sedikit tergelitik mendengarnya. "Berhenti tebar pesona, atau kau akan mendapat lebih banyak luka lebam di wajah tampanmu itu!"
Kyungsoo berlalu begitu saja meninggalkan Jongin. Pria pendek itu memasuki kamar mandi.
Jongin hanya bisa memandangi pintu kamar mandi yang tertutup. Ia semakin tak mengerti. Kenapa ia selalu salah di mata Kyungsoo? Bahkan saat ia tak melakukan apapun, ia tetap saja dianggap salah.
Jongin rasanya ingin menangis. Tapi di sisi lain, sore ini ia merasakan sensasi yang berbeda. Saat ia mendengar Kyungsoo melantunkan namanya, dadanya seperti berdesir halus. Ada apa dengannya?
#Mr. Normal
Hari kembali berganti, dan tak terasa saat ini sudah waktunya makan siang.
Tak ada yang berbeda dengan makan siang hari ini. Jongin tetap makan siang bersama dua temannya, Chanyeol dan Sehun.
Tapi bedanya, hari ini ia seperti diinterogasi oleh dua temannya itu.
"Kenapa pipimu lebam begitu, Kim? Kau berkelahi?" Chanyeol dari tadi mendesak Jongin.
Jongin menggeleng cepat. Tentu saja tuduhan Chanyeol itu tidaklah benar. Ia sama sekali tak pernah terlibat perkelahian. Ia siswa baik, ingat?
"Sudahlah," Jongin menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. "Aku sedang tak ingin membahas hal ini," lanjutnya sambil mulutnya mengunyah nasi yang baru saja ia masukkan.
Chanyeol akhirnya mengangguk paham, dan ia mulai memakan makan siangnya.
"Tunggu dulu," Jongin kembali bicara, dan hal itu membuat Chanyeol dan Sehun menatapnya penasaran. "Apa Kyungsoo sangat anti pada pria populer?"
Chanyeol dan Sehun saling berpandangan sejenak, sebelum akhirnya keduanya kembali menatap Jongin. "Kyungsoo tidak pernah bermasalah dengan siapapun, jadi kurasa ia tidak akan terlalu memikirkan perihal pria populer. Memangnya kenapa?" itu Chanyeol yang bertanya.
Jongin sejenak diam. Ia mempertimbangkan apakah harus menceritakan semuanya atau tidak.
Tapi setelah ia berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk bercerita.
"Sebenarnya, kemarin Kyungsoo yang memukulku," Chanyeol nyaris berteriak mendengar pengakuan Jongin, tapi untungnya Sehun segera membekap mulut lebar Chanyeol. Keduanya kembali mendengar cerita Jongin dengan seksama. "Ia berkata padaku bahwa aku sudah menjadi pria populer, dan menyebutku suka tebar pesona. Apa benar aku seperti itu?"
Sehun menggelengkan kepalanya. "Tebar pesona katamu? Yang benar saja! Menatap mata gadis saja kau tidak berani!"
Chanyeol mengangguk, menyetujui pendapat Sehun. "Sehun benar. Kau memang memiliki wajah tampan, tapi kau tidak tebar pesona. Gadis-gadis centil itu saja yang terus mengejarmu."
"Tapi Kyungsoo membenciku," Jongin mulai merengek. Bahkan matanya mulai berkaca-kaca. "Ia benci ketika gadis-gadis itu mengidolakanku. Menurut kalian, kenapa ia bisa seperti itu?"
"Ia cemburu," Sehun menjawab santai. Membuat Jongin dan Chanyeol bersamaan menatapnya. "Kenapa menatapku begitu? Kyungsoo cemburu. Mungkin ia menyukai Jongin."
Jongin dan Chanyeol refleks membulatkan mata mereka karena terkejut. "A-apa?" Jongin bertanya dengan terbata. "Aku tahu bahwa Kyungsoo memiliki tubuh kecil layaknya wanita, kulitnya juga halus, dan wajahnya pun cukup...cantik. Tapi tetap saja! Kyungsoo itu laki-laki! Ia tak mungkin menyukaiku!"
"Tidak ada yang tidak mungkin," Sehun menggelengkan kepalanya. "Chanyeol saja menyukai seorang pria cantik. Jadi, bukannya tidak mungkin seorang pria cantik menyukai seorang pria tampan sepertimu, Kim-ssi."
Kembali mata Jongin membulat, namun sekarang pandangannya terarah pada Chanyeol yang sedang merona. "A-apa itu benar? Kau...kau menyukai seorang...pria?"
Chanyeol menghela nafas dan memandang Jongin malas. "Memangnya kenapa kalau aku menyukai pria? Kenapa kalau aku gay? Kau tidak mau berteman denganku lagi? Kau takut denganku?"
"Bu-bukan begitu," Jongin menggeleng cepat. "Aku hanya...terkejut. Aku belum pernah bertemu dengan pria gay sebelumnya. Aku bahkan mengira bahwa gay itu tidak nyata."
Chanyeol tertawa keras mendengar ucapan Jongin yang begitu polos. Pria bertampang bad boy macam Jongin rupanya benar-benar innocent. "Gay bukanlah masalah. Yang terpenting adalah, aku tulus mencintainya. Jangan terlalu mempermasalahkan gender, Jongin-ah."
Jongin diam. Seharusnya ia merasa penasaran pada: siapa pria cantik yang disukai Chanyeol?
Tapi rasanya otaknya sudah terlalu penuh sehingga pertanyaan itu tidak mampir disana.
Ia hanya memikirkan tentang Kyungsoo. Ia penasaran pada Kyungsoo. Apa benar Kyungsoo menyukainya? Jika benar, maka selama ini ia sekamar dengan seorang...gay?
#Mr. Normal
Jongin baru saja keluar dari kamar mandi sore itu ketika Kyungsoo memasuki kamar mereka dalam waktu yang sama. Dua pria itu sempat saling berpandangan selama beberapa saat, sebelum akhirnya Jongin membuang muka.
Ia masih ingat betul pada hipotesis Sehun tadi siang, dan sekarang ia merasa aneh saat berhadapan dengan Kyungsoo. Walaupun ia sendiri masih belum yakin 100% bahwa Kyungsoo itu gay.
Kyungsoo sendiri acuh-acuh saja melihat gelagat aneh Jongin. Ia hanya langsung melepas sepatunya, lalu berjalan mendekati lemari pakaian. Sepertinya ia ingin langsung mandi.
"Ehm..Kyungsoo-ssi," Jongin memanggil Kyungsoo walaupun sebenarnya ia merasa tak yakin. Karena panggilan itu, Kyungsoo menghentikan pergerakannya dalam mengambil baju, meskipun ia tak menolehkan kepalanya pada Jongin. Melihat Kyungsoo yang diam, Jongin bicara lagi. "Besok ada pelajaran Bahasa Inggris, dan Miss Tiff akan menanyakan progress belajar kita. Bisakah...malam ini kita mulai belajar?"
Kyungsoo akhirnya membalik badannya untuk menatap Jongin dengan tatapan datar andalannya. "Progress belajar-mu, bukan kita," ia mengoreksi ucapan Jongin. "Dan aku tak peduli dengan hal itu. Aku tak pernah berkata bahwa aku setuju untuk menjadi tutormu."
"Tapi, Kyungsoo. Saat di kelas kau tidak membantah lagi. Dan aku mengartikan diam sebagai jawaban iya."
Kyungsoo sejenak tertawa sarkastis. "Kenapa kau sangat ingin belajar denganku? Kau menyukaiku, hm?"
Jongin mundur satu langkah saat Kyungsoo melangkah mendekatinya juga sebanyak satu langkah. Ia takut jika Kyungsoo benar-benar menyukainya, dan...Kyungsoo akan menyerangnya.
"Ada apa dengan wajahmu? Kau benar-benar menyukaiku?" lagi-lagi Kyungsoo melempar pertanyaan.
"Ti-tidak," Jongin menjawab cepat. "Aku hanya...aku hanya ingin belajar untuk memperbaiki nilaiku. Lagipula, kau juga akan mendapat masalah jika menolak untuk mengajariku."
Seketika Kyungsoo terdiam mendengar perkataan Jongin. 'Benar juga, ya? Miss Tiff mengancam untuk mengurangi nilaiku jika aku tak mau mengajar lelaki hitam ini. Argh!'
"Kau baik-baik saja, Kyungsoo?" tanya Jongin. Jujur saja, ia sedikit khawatir melihat Kyungsoo yang sempat melamun.
"Aku akan baik-baik saja jika kau angkat kaki dari kamar ini."
Jongin refleks melebarkan matanya. Hatinya tertohok mendengar ucapan Kyungsoo. Jadi, Kyungsoo benar-benar tidak mengharapkan keberadaannya di kamar ini? Kenapa rasanya begitu menyedihkan?
"Kau...benar-benar membenciku?" Jongin bertanya dengan suara lemah dan lirih.
Kyungsoo sempat terperangah melihat ekspresi sedih Jongin. Tapi itu tak lama karena ia kembali memasang ekspresi datarnya. "Aku tidak akan membencimu jika kau mau meninggalkan kamar ini."
Jongin membeku. Kyungsoo benar-benar ingin mengusir dirinya. Selama beberapa detik, Jongin hanya bisa menatap mata Kyungsoo yang juga sedang menatapnya. Tapi sayangnya, Jongin sama sekali tak tahu arti tatapan mata roommate-nya itu.
"Baiklah kalau itu memang maumu," Jongin akhirnya mengalah. "Aku akan pergi, tapi dengan satu syarat," Kyungsoo mengernyit, dan Jongin lanjut bicara. "Syaratnya adalah, kau harus mau menjadi tutorku. Membimbingku hingga aku berhasil memperoleh nilai A dalam ujian tengah semester. Jika itu terjadi, maka aku akan pergi. Tak hanya dari kamar ini, tapi juga dari hidupmu, Do Kyungsoo."
Kyungsoo sempat berjengit saat mendengar kalimat terakhir Jongin. Ia juga terkejut mendengar cara Jongin menyebut namanya. Itu bukan pertama kali Jongin menyebut namanya, tapi kali ini nada Jongin terdengar lain.
Jongin sendiri tak bicara apa-apa lagi. Dengan cepat ia menyambar jaketnya, lalu keluar dari kamar meninggalkan Kyungsoo yang mematung. Setetes air mata keluar dari mata Jongin saat pria itu sudah meninggalkan kamarnya.
#Mr. Normal
Jongin memutuskan untuk keluar dari kompleks asrama setelah ia bicara serius dengan Kyungsoo beberapa menit silam.
Siswa SOPA memang diizinkan untuk meninggalkan lingkungan asrama sampai pukul tujuh malam. Saat ini baru pukul setengah enam, dan Jongin merasa bahwa ia memiliki cukup waktu untuk menenangkan pikiran.
Jongin melangkah pelan. Ia tak punya tujuan, jadi ia hanya mengikuti langkah kakinya.
Tanpa sadar, Jongin sampai di depan pintu gerbang asrama siswa perempuan. Ia melihat ada seorang gadis yang sedang memeluk gadis lain, sebelum akhirnya gadis yang tampak lebih tua memasuki mobil dan pergi dari tempat itu.
Gadis muda yang masih berdiri di depan gerbang tanpa sengaja melihat sosok Jongin. Tanpa ragu, gadis cantik berambut coklat tua itu berlari menghampiri Jongin. "Hai! Kau Kim Jongin, 'kan?"
Jongin hanya mengerjapkan matanya bingung saat melihat gadis di depannya tampak ceria menyapanya. "N-ne, aku Kim Jongin," bahkan ia menjawab pertanyaan si gadis dengan terbata.
"Ya Tuhan! Kenapa kau tampak gugup begitu? Aku tidak akan memakanmu, kau tahu?" si gadis terkekeh geli.
Jongin yang kikuk hanya bisa menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
"Ah!" gadis di depannya tiba-tiba memekik, dan itu membuat Jongin kaget. "Kau pasti tidak tahu siapa namaku, 'kan? Aku Krystal Jung. Siswa kelas MC 2 yang letaknya tepat di sebelah kelasmu."
Jongin mengangguk, dan menyambut uluran tangan Krystal. Mereka hanya berjabat tangan sebentar, dan langsung melepas jabat tangan itu.
"Apa suasana hatimu sedang buruk? Mau berjalan-jalan sebentar? Kebetulan aku punya hot dog enak pemberian kakakku tadi. Ini bisa menjadi bekal jalan-jalan kita!" Krystal lagi-lagi bicara dengan antusias.
Sebenarnya Jongin ragu, tapi akhirnya ia menerima tawaran gadis yang baru saja dikenalnya itu. Tak ada salahnya 'kan berjalan-jalan dengan seorang gadis? Barangkali itu bisa memperbaiki suasana hatinya.
Setelah Jongin mengangguk, ia dan Krystal memulai perjalanan mereka. Sebelumnya Krystal sempat memberi satu bungkus hot dog pada pria di sampingnya.
"Mau bercerita padaku? Siapa tahu beban pikiranmu bisa berkurang."
Ya. Jongin saat ini memang butuh telinga untuk mendengar keluh kesahnya. Jadi, ia memutuskan untuk bercerita.
"Aku memiliki masalah dengan roommate-ku. Ia sangat membenciku dan ingin aku pergi dari kamar itu. Aku tak mengerti kenapa ia bisa seperti itu, padahal aku ingin berteman dengannya."
Krystal menolehkan kepalanya dan memandang Jongin sendu. "Kau kasihan sekali. Sebenarnya ini tidak sopan, tapi menurutku, roommate-mu itu benar-benar aneh. Kamar itu milik kalian, bagaimana bisa ia ingin mengusirmu?"
Jongin terkekeh melihat reaksi Krystal. Jongin sebelumnya pernah melihat Krystal. Ya. Ia ingat bahwa Krystal adalah salah satu fangirl-nya saat di sekolah. Ia menduga bahwa Krystal adalah tipe gadis liar dan kejam, tapi nyatanya lain. Krystal justru sangat sopan dan polos.
"Roommate-ku memang aneh. Aku setuju dengan asumsimu," balas Jongin.
"Kau tahu, Jongin? Kadang pria memang sulit untuk dimengerti. Kekasihku pun begitu. Sangat sulit dimengerti. Kami sudah saling mengenal sejak kami berusia sepuluh tahun, lalu kami memutuskan untuk berpacaran sejak dua tahun lalu. Tapi faktanya, aku tetap tak bisa memahaminya."
"Eh? Kau sudah punya kekasih? Apa kekasihmu tidak marah jika melihatmu jalan berdua denganku?" Jongin yang tampak kaget akhirnya bertanya.
Tapi Krystal hanya tersenyum lembut sembari memandang jalanan di depannya. "Ia tidak akan melihat kita disini. Kau tenang saja," jawabnya. "Lagipula kita tak melakukan apapun. Jadi untuk apa kita merasa takut? Benar tidak?"
Jongin ikut tersenyum, kemudian mengangguk.
"Apa kau berencana meninggalkan roommate-mu yang aneh itu?" Krystal bertanya lagi.
Jongin mengangkat bahunya. "Jujur saja, aku tak ingin meninggalkannya. Aku merasa bahwa ia membutuhkan seseorang di sisinya. Aku ingin menjadi temannya," Jongin sejenak mengambil jeda. "Kau sendiri bagaimana? Apa kau berencana meninggalkan kekasihmu yang aneh itu?"
Krystal tertawa mendengar Jongin balas bertanya padanya. "Saat ini tidak ada rencana untuk itu," ia menjawab dengan jujur. "Tapi aku tidak tahu untuk ke depannya. Apalagi jika suatu saat nanti aku bertemu dengan pria yang lebih baik darinya. Pria seperti dirimu, mungkin?"
Dua teman baru itu tertawa bersama karena lelucon Krystal.
Keputusan Jongin untuk berjalan-jalan dengan Krystal nyatanya tepat. Ia dengan mudahnya menjatuhkan separuh beban di pundaknya karena masalah Kyungsoo.
#Mr. Normal
Jongin kembali ke kamarnya pukul enam lebih empat puluh lima menit. Begitu ia membuka pintu kamar, ia langsung disuguhi oleh pemandangan yang menyebalkan. Kyungsoo sedang menatapnya tajam. Sangat tajam.
"Bagaimana kau bisa memperoleh nilai A jika kau tidak pernah belajar, dan justru suka meninggalkan kamar seperti itu?"
Jongin hanya menatap Kyungsoo malas, selanjutnya ia melempar jaketnya asal di atas tempat tidur. "Apa maumu?"
"Aku mau kau memperoleh nilai A sehingga kau bisa cepat keluar dari kamar ini!"
..
..
TBC
Annyeong para reader tercinta~
saya kembali dengan chapter 3. di chapter ini sebenernya blm terlalu terlihat konfliknya, tapi untuk ke depannya pasti muncul konflik. dan untuk bocoran, di FF ini Jongin bakal lebih banyak menderita. mohon dimaafkan karena membuat Jongin menderita. hehe.
review again, please? dan saya akan segera membawa chapter 4 ke hadapan kalian semua^^
