Title: Mr. Normal

Pairing: KaiSoo as main pair

Cast for this chapter: Kai EXO as Kim Jongin, D.O EXO as Do Kyungsoo, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Sehun EXO as Oh Sehun, Suho EXO as Kim Joonmyeon/Suho, Nichkhun 2PM as Nichkhun, Chorong A-Pink as Park Chorong

Rate: T

Genre: Romance, Drama, Hurt, Friendship

Length: Chaptered [4/?]

Summary for chap 4:

Kyungsoo akhirnya setuju untuk menjadi tutor Bahasa Inggris Jongin. Walaupun ia mau melakukan hal itu hanya supaya Jongin cepat meninggalkan kamar asramanya

NOTE: special for syafakamilla yang request FF KaiSoo :)

Aku disini pinjem nama SOPA cuma sekedar pinjem nama sekolah aja. Tapi untuk urusan teknis tentang SOPA di FF ini 100% merupakan hasil imajinasiku. Jadi barangkali beda sama kenyataannya. Harap maklum

YAOI | CHAPTERED | SCHOOL LIFE | AU | OOC | TYPO | DLDR | NO PLAGIAT

Previous Chapter:

Jongin hanya menatap Kyungsoo malas, selanjutnya ia melempar jaketnya asal di atas tempat tidur. "Apa maumu?"

"Aku mau kau memperoleh nilai A sehingga kau bisa cepat keluar dari kamar ini!"

..

CHAPTER 4 (Be a Tutor)

HAPPY READING!


Lagi. Hati Jongin rasanya tertusuk oleh benda tajam, dan menghasilkan luka besar yang menyakitkan. Mood-nya memburuk seketika padahal tadi sudah sempat membaik karena pertemuannya dengan Krystal.

Kalimat tajam Kyungsoo barusan seperti mengiris hati Jongin.

Tapi sekali lagi, Jongin tidak pernah bisa marah walaupun Kyungsoo memperlakukannya dengan kejam.

Alhasil, Jongin mengambil beberapa buku Bahasa Inggris, kemudian berjalan mendekati Kyungsoo. Ia duduk di lantai, sedangkan Kyungsoo duduk di atas ranjangnya sendiri. Jongin harus mendongak agar bisa melihat wajah Kyungsoo.

"Bisa kita mulai belajar sekarang?" tanya Jongin.

Kyungsoo mengangguk, kemudian menyerahkan satu lembar kertas pada Jongin. "Aku ingin menilai pronounciation-mu lebih dulu. Coba nyanyikan lagu itu."

Jongin mengamati kertas yang kini ada di tangannya. Ternyata kertas itu berisi lirik lagu Bahasa Inggris yang berjudul Open Arms.

Setelah membacanya sebentar, Jongin mulai menyanyikan lagu itu dari bait pertama. "Lying beside you, here in the dar—"

"Nada suaramu terlalu rendah!"

"Hey, Kyungsoo. Bukankah saat ini kita belajar pronounciation, dan bukan belajar vocal?"

Kyungsoo menepuk dahinya keras. Jiwanya sebagai seorang penyanyi tiba-tiba keluar hingga ia justru mengoreksi nada Jongin, dan bukan mengoreksi pengucapannya. "Maaf, aku lupa."

Jongin terperanjat seketika. Apa ia salah dengar? Apa baru saja ia mendengar Kyungsoo mengucap maaf? Hati Jongin rasanya menghangat saat mendengar kata maaf itu.

"A-apa barusan kau meminta maaf?"

Kyungsoo mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Jongin. "Memangnya kenapa kalau aku meminta maaf? Kau pikir aku tidak bisa meminta maaf?"

"Ya. Kupikir kau seperti itu. Kau sangat dingin, Kyungsoo. Apa...kau memiliki masalah?"

"Bukankah saat ini kita belajar pronounciation, dan bukan belajar psikologi? Kurasa tidak ada sesi curhat dalam pelajaran Bahasa Inggris."

Jongin kalah. Kyungsoo membalik ucapannya tadi, dan ia kalah telak. "Baiklah, Kyungsoo. Aku kalah," tak ada pilihan lain bagi Jongin selain mengaku kalah. "Tapi untuk lagu ini, bisakah kau menyanyikannya dulu supaya aku tahu pengucapan yang benar dari liriknya?"

Kyungsoo mengangguk, dan ia mulai menyanyikan lagu Open Arms dengan suara emasnya. "Lying beside you, here in the dark. Feeling your heartbeat with mine. Softly you whisper, you're so sincere. How could our love be so blind..."

Jongin terpana mendengar Kyungsoo bernyanyi. Ini adalah kali pertama pria Kim itu mendengar nyanyian Kyungsoo, dan ia benar-benar terpesona.

Suara Kyungsoo begitu lembut dan merdu, hingga hatinya terasa tergelitik, tapi itu adalah sensasi yang menyenangkan baginya.

Kyungsoo tak hanya mengucapkan lirik lagunya secara sempurna, tapi juga menyanyikan lagu itu dengan nada yang sangat pas. Ditambah lagi, Kyungsoo yang biasanya berekspresi datar, kali ini mengeluarkan ekspresi langkanya untuk mengkhayati lagu. Jika bisa, Jongin ingin merekam pemandangan indah di depannya untuk ia simpan selamanya.

Jongin bahkan tak rela untuk berkedip saat ia melihat penghayatan Kyungsoo yang begitu luar biasa. Wajah cantik Kyungsoo tampak bersinar saat menyanyikan lagu itu.

Eh? Tunggu dulu! Wajah cantik? Bagaimana bisa Jongin menyebut Kyungsoo dengan kata cantik padahal ia tahu bahwa Kyungsoo itu laki-laki? Jongin pasti sudah gila!

"Sudah selesai. Sekarang giliranmu."

Jongin panik. Kyungsoo sudah selesai bernyanyi, padahal ia sama sekali tak memperhatikan lirik lagu yang dinyanyikan Kyungsoo. "Ehm..liriknya masih belum jelas. Bisakah kau menyanyi sekali lagi, Kyungsoo?"

Plak. Kyungsoo memukul kepala Jongin. Hanya pelan, tapi Jongin mengaduh manja.

"Kau tadi tidak memperhatikan lirik lagunya, 'kan? Apa yang tadi kau perhatikan, Kim Jongin?" tanya Kyungsoo gemas.

"Aku memperhatikanmu, Kyungsoo."

Bibir Kyungsoo seketika terkatup rapat. Dalam diam ia memperhatikan wajah Jongin yang tampak serius.

Merasa diperhatikan oleh Kyungsoo, Jongin mendadak salah tingkah. "A-aku tidak serius, Kyungsoo. Ki-kita lanjut belajar saja, ne?"

Gara-gara Jongin salah tingkah, Kyungsoo juga ikut salah tingkah. "N-ne, kita lanjut belajar."


#Mr. Normal


Hari baru kembali hadir, dan hari ini Jongin mengakhiri pelajaran Bahasa Inggris di kelas dengan senyuman cerah. Tadi ia bisa melapor pada Miss Tiff bahwa ia sudah belajar dengan Kyungsoo, dan Miss Tiff juga merasa senang.

Ya~ walaupun sejauh ini progress Jongin baru sebatas pada pengucapan kata Bahasa Inggris saja, tapi setidaknya sudah ada sedikit kemajuan. Dari pada tidak ada sama sekali.

"Hi, guys!" Jongin menyapa dua temannya dengan sok Inggris.

Yang disapa pun hanya memandang Jongin malas. Seperti biasa, tiga teman itu akan makan siang bersama.

Tapi ada pula hal yang tidak biasa diantara mereka. Hal itu adalah...Chanyeol terlihat lesu. Sangat lesu.

"Ada apa dengannya?" tanya Jongin pada Sehun.

Yang ditanya mengangkat bahunya acuh, lalu menyeruput choco bubble tea di depannya.

"Oh ayolah! Sebenarnya ada apa?" Jongin yang gemas kembali bertanya.

Akhirnya Sehun mengalah dan memutuskan untuk menjawab pertanyaan Jongin. "Ia sedang patah hati," jawabnya simple.

Jongin refleks memiringkan kepalanya dan mengamati Chanyeol dengan seksama. "Patah hati kenapa?"

"Kau ingat pembicaraan kita kemarin tentang Chanyeol yang menyukai pria cantik?" Jongin mengangguk meskipun tidak memandang Sehun. "Pria cantik itu ternyata sudah memiliki kekasih."

Sontak Jongin mengalihkan pandangan pada Sehun yang baru selesai bicara. "Mwo? Pria cantik itu sudah memiliki kekasih?"

"Ya," Sehun mengangguk santai. "Pria itu ternyata straight, dan ia sudah memiliki kekasih wanita."

"Begitu rupanya..." Jongin mengomentari cerita Sehun dengan singkat.

"Apa bagusnya wanita itu dibandingkan diriku? Aku ini tampan, tinggi, dan gagah. Aku bahkan sudah berhasil memaksa Miss Tiff untuk menjadikannya sebagai tutorku, tap—"

"TUNGGU DULU!" Jongin memotong ucapan Chanyeol. "Memaksa Miss Tiff untuk menjadikannya sebagai tutormu?" tanyanya.

Chanyeol tak menggeleng maupun mengangguk. Ia hanya terus membisu tanpa suara, meratapi nasibnya.

Sedangkan Jongin saat ini justru berusaha mengingat nama tutor Bahasa Inggris yang dipilih oleh Chanyeol. Begitu ia mengingatnya, ia langsung berteriak... "BYUN BACON!"

Chanyeol saja sampai harus menutup mulut Jongin karena pria pendiam itu tiba-tiba saja berteriak keras. "Diam kau, Kim!" bisik Chanyeol. "Dan namanya bukan Byun Bacon, tapi Byun Baekhyun. Ingat itu!"

Jongin mengangguk. Mulutnya masih dibekap oleh Chanyeol.

Tapi setelah melihat Jongin mengangguk, Chanyeol langsung menjauhkan tangannya dari bibir Jongin. Ia tak mau dituduh membunuh anak orang.

"Aku hampir mati," Jongin mendesah lega begitu ia bisa mengambil nafas lagi. "Ngomong-ngomong, aku belum tahu wajah Byun Baekhyun. Ia teman sekamar Sehun, 'kan? Tapi aku belum pernah bertemu dengannya. Bisa kalian tunjukkan ia pada—"

"Tidak!" Chanyeol dengan cepat menyela ucapan Jongin. "Kau nanti jatuh cinta padanya, dan aku tak mau itu terjadi! Kau urusi saja Do 'Freak' Kyungsoo kesayanganmu!"

"Ya! Siapa yang kau sebut freak? Kyungsoo tidak aneh!"

"Kenapa kau jadi membelanya begitu? Ia membencimu, ingat?" kali ini Sehun yang melontarkan kalimat tanya.

Jongin mengarahkan pandangannya pada si penanya. "Aku yakin ia tidak aneh walaupun ia membenciku. Lagipula ia sudah mau menjadi tutorku."

"Benarkah?" tanya Chanyeol antusias. Ia sepertinya sudah melupakan kesedihannya tadi.

"Ya. Tapi..."

"Tapi apa, Kim Jongin? Jangan berbelit-belit!"

Jongin men-deathglare Chanyeol yang sangat tidak sabaran. Tapi detik berikutnya ia justru menjatuhkan kepalanya di atas meja. "Jika ia berhasil membuatku memperoleh nilai A pada ujian tengah semester, aku harus angkat kaki dari kamar itu."

"Dan kau merasa berat dengan kesepakatan itu?" kini Sehun menimpali, dan Jongin mengangguk lemas. "Kalau begitu, kau hanya perlu gagal dalam ujianmu, Jongin. Jangan sampai memperoleh nilai A."

Plak. Chanyeol memukul kepala Sehun karena pria berkulit cerah itu baru saja bicara ngawur. "Idemu buruk, Oh Sehun!"

"Aku setuju dengan Chanyeol. Idemu buruk, Sehun," Jongin kembali bersuara walaupun terdengar lemas. "Aku tak mungkin tega mengecewakan Kyungsoo. Saat kami belajar untuk pertama kalinya tadi malam, ia tampak sangat serius dan bersungguh-sungguh."

"Ia serius dan bersungguh-sungguh karena ia ingin cepat menendangmu dari kamarnya. Kau harus ingat hal itu, Jongin," Sehun sepertinya sangat tidak menyukai Kyungsoo sampai-sampai ia kembali berujar dengan sinis.

"Jangan membuat Jongin tambah down, bodoh! Kau itu temannya atau bukan, huh?"

Jongin hanya bisa tersenyum simpul melihat kelakuan Chanyeol dan Sehun. Meskipun ia belum lama mengenal mereka, namun ia sudah merasa nyaman dengan mereka.

Ia tahu bahwa Chanyeol dan Sehun peduli padanya. Ya~ walaupun kadang mereka sangat menyebalkan.

Saat ia sedang asyik memperhatikan perdebatan Chanyeol dan Sehun tentang Kyungsoo, tiba-tiba ia melihat sosok familiar. Tak ragu lagi, ia langsung berteriak. "Suho hyung!"

Sosok Suho yang berdiri tak jauh dari meja Jongin langsung menoleh ke arah Jongin dan tersenyum lebar. Ia selanjutnya berjalan mendekati meja Jongin, lengkap dengan sosok gandengannya yang sangat cantik. "Jongin! Ternyata kau jadi pindah ke sekolah ini!"

Chanyeol dan Sehun sedikit memberi hormat pada Suho —yang sebenarnya memiliki nama asli Kim Joonmyeon-. Maklum saja, Suho adalah senior mereka, dan Suho pun pernah menjabat sebagai ketua organisasi siswa. Ia tentu dihormati oleh seluruh siswa.

"Ya, hyung. Aku sudah beberapa hari disini, tapi belum sempat mencarimu, hyung. Mianhae."

"Gwaencaha, Jongin-ah. Oh iya, aku bersama kekasihku. Namanya Park Chorong. Dan chagiya, ini adalah adik sepupuku, Kim Jongin."

Jongin dan Chorong berjabat tangan sebentar, sebelum akhirnya Suho berpamitan pergi karena ia ada urusan.

"Jadi, kau bersaudara dengan Suho sunbae? Kenapa kau tak pernah cerita?" tanya Chanyeol saat Suho sudah pergi meninggalkan meja mereka.

"Kau tidak pernah bertanya. Dan, memangnya kenapa kalau aku bersaudara dengannya?"

"Suho sunbae itu bersahabat dekat dengan Baekhyun sunbae. Seharusnya ia bisa membantuku untuk mendapatkan Baekhyun sunbae!"

Melihat Chanyeol yang mulai melankolis lagi, Sehun memutuskan untuk bersuara. "Sudahlah. Baekhyun hyungitu straight alias normal. Kau tak bisa memaksa pria normal menjadi gay sepertimu."

"Ngomong-ngomong..." Jongin menengahi Chanyeol dan Sehun, karena tampaknya dua manusia itu akan mulai berdebat lagi. "Apa disini hanya Chanyeol yang...gay? Maksudku, tadi Suho hyung menggandeng kekasihnya yang jelas-jelas seorang wanita, dan Baekhyun sunbae juga memiliki kekasih wanita. Jadi, apa ada pria lain yang gay selain Chanyeol disini?"

"Kau yang akan segera berubah menjadi gay, Kim Jongin."

Plak. Ucapan santai Chanyeol membuahkan sebuah pukulan keras di kepalanya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Jongin?

"Kenapa kau seperti menyumpahiku begitu, huh?"

"Aku tidak menyumpahimu. Hanya saja...pikirkan ini baik-baik. Kau sekamar dengan seorang pria cantik, imut, dan sexy. Kau pasti akan mengubah orientasimu karena dirinya, Jongin. Aku berani bertaruh denganmu."

"Apa kau bilang? Pria cantik, imut, dan sexy? Menurutmu Kyungsoo seperti itu?"

"Bukan hanya menurutku, Jongin. Menurutmu juga begitu. Hanya saja, kau masih enggan untuk mengakuinya. Benar begitu?"

Diam. Kali ini Jongin terdiam. Karena jujur saja, ia tak tahu harus bicara apa untuk menjawab pertanyaan Chanyeol. Ia masih normal, dan ia sangat meyakini hal itu.


#Mr. Normal


Malam sudah tiba, dan ini adalah saat dimana Jongin dan Kyungsoo akan belajar bersama.

Beberapa menit lalu Kyungsoo memberikan lima lembar kertas yang masing-masing lembarnya berisi tulisan berbahasa Inggris.

Pria mungil itu meminta Jongin untuk mencari vocabulary yang tak diketahui artinya, dan menuliskannya di satu lembar kertas ukuran folio yang juga diberikan Kyungsoo.

Tapi Kyungsoo terpaksa menahan emosi karena faktanya, Jongin sudah menuliskan puluhan kata di kertas ukuran folio miliknya —padahal mereka baru mulai belajar lima menit lalu-. Yang artinya, sangat banyak kata yang tidak diketahui artinya oleh Jongin.

Kyungsoo sedikit berdecak. Ia menyadari bahwa Jongin bahkan tak layak diberi nilai C karena kemampuan Bahasa Inggris-nya sangat payah.

"Jongin..."

"Hm?"

"Apa kau tak pernah belajar sebelum ini?"

Sebenarnya Kyungsoo bukanlah orang yang kepo, tapi tiba-tiba saja pertanyaan itu mengalun indah dari bibirnya.

"Aku justru terlalu banyak belajar makanya otakku sudah sangat penuh."

"Benarkah?"

"Ya."

Suasana hening setelahnya. Kyungsoo memutuskan untuk mengambil ponselnya dan memainkannya, sedangkan Jongin masih sibuk berkutat dengan kertas-kertasnya.

Merasa sedikit bosan dengan tulisan-tulisan asing yang tak ia mengerti, Jongin akhirnya mengangkat kepalanya, lalu langsung mendapati wajah Kyungsoo yang masih setia berkutat dengan ponselnya. "Kau sedang apa?" tanya Jongin.

Kyungsoo mengangkat kepalanya, dan menatap Jongin datar. "Bukan urusanmu," jawabnya dingin.

Jongin terpaksa menghela nafas berat. Baru beberapa menit lalu Kyungsoo sedikit bersikap manis padanya, tapi sekarang sosok asli Kyungsoo sudah muncul kembali.

"Aku hanya bertanya saja. Kenapa kau pemarah sekali, sih?"

"Bukan urusanmu, Kim Jongin!"

"Bisa kau panggil namaku lagi?"

Kyungsoo yang tadinya akan kembali menyibukkan diri dengan ponselnya, kini ia kembali mendongak menatap Jongin. "Apa?" tanyanya.

"Aku suka saat kau memanggil namaku. Bisakah kau...memanggil namaku lagi?"

Mata bulat Kyungsoo semakin melebar sempurna. Tak dapat dipungkiri bahwa ia merasa sangat terkejut.

Tapi rasa terkejut Kyungsoo itu segera ditutupinya. Ia kembali menundukkan kepalanya dan berkutat lagi dengan ponselnya. "Kembali belajar, Jongin."

Meskipun Kyungsoo berkata dengan acuh, tapi setidaknya di dalam perkataannya itu ada nama Jongin yang disebut. Jongin jadi meringis geli melihatnya.

Dan walaupun ia sudah diberi perintah oleh Kyungsoo, tapi ternyata Jongin masih belum lanjut belajar. Ia justru terus menatap wajah Kyungsoo yang terlihat begitu menggemaskan.

Karena terlalu lama ditatap oleh Jongin, Kyungsoo lama-lama merasa risih juga. Tapi ia memutuskan untuk tak mengangkat kepalanya.

Jongin menyadari perbedaan ekspresi Kyungsoo. Apalagi warna pipi Kyungsoo kini berubah menjadi kemerahan. Jongin terkikik geli melihat Kyungsoo seperti itu.


#Mr. Normal


Esok hari yang cerah rupanya tak membuat senyum Kyungsoo terkembang dengan cerah juga.

Ia tentu masih ingat bagaimana kejadian semalam. Kejadian dimana Jongin terus menatapnya, dan ia hanya bisa diam tak melakukan apapun.

Kemana perginya si temperamental Kyungsoo? Kenapa ia tak memarahi Jongin saja?

Mungkin ini efek rasa kasihan Kyungsoo pada Jongin beberapa waktu lalu. Ya, saat mereka terlibat perdebatan tentang tutorial Bahasa Inggris, dan pada akhirnya membuat kesepakatan. Saat itu Kyungsoo merasa kasihan pada Jongin yang tampak sedih dan tiba-tiba pergi dari kamar.

Biasanya Kyungsoo sangat cuek, tapi ia sedikit berubah karena ekspresi Jongin saat itu begitu menyedihkan. Tampaknya, efek rasa kasihan pada Jongin masih bertahan hingga sekarang.

Hari ini Kyungsoo tak begitu bersemangat karena jam pelajaran pertama adalah olahraga. Harus diakui bahwa Kyungsoo tak mahir dalam jenis olahraga apapun.

Ia rasanya ingin protes pada kepala sekolah karena memasukkan pelajaran olahraga dalam kurikulum sekolah. Padahal menurut Kyungsoo, pelajaran olahraga tak dibutuhkan di sekolah seni.

Tapi menurut kepala sekolah, pelajaran olahraga sangat dibutuhkan untuk menjaga kebugaran tubuh. Seorang artis sekalipun pasti membutuhkan olahraga, bukan? Begitulah pemikiran sang pemimpin sekolah.

Kyungsoo saat ini sedang berada di dalam ruang ganti khusus siswa laki-laki. Tangan mungilnya sedang melepas kancing kemeja putihnya satu persatu.

Kebijakan sekolah yang mengharuskan siswanya untuk memakai seragam lengkap meskipun jam pelajaran pertama adalah pelajaran olahraga, membuat siswa-siswa di kelas Kyungsoo terpaksa berganti kostum pagi-pagi begini.

Kyungsoo baru akan membuka kancing keempat kemejanya ketika Jongin tiba-tiba masuk ke ruang ganti. Kedua rekan sekamar itu memang tak pernah berangkat sekolah bersama. Jongin selalu berangkat lebih lambat dari Kyungsoo.

Gerakan tangan Kyungsoo di kancing kemejanya terhenti saat matanya dan mata Jongin bertabrakan tanpa menunggu komando.

Dua pasang mata itu terus saling tatap hingga beberapa detik, sebelum akhirnya Kyungsoo yang memutus kontak mata mereka.

Kyungsoo jadi salah tingkah sendiri sekarang. Tiga kancing bajunya sudah terbuka, dan ia merasa malu dengan hal itu. Pasalnya, Kyungsoo tak pernah memakai kaos dalam. Jadi, dada mulus Kyungsoo langsung terekspose begitu saja ketika tiga kancing baju teratas sudah dibuka.

"Uh, maaf," Jongin akhirnya bersuara. "Aku akan keluar dulu, jadi kau bisa ganti baju dengan tenang," tanpa menunggu jawaban Kyungsoo, Jongin melangkahkan kakinya keluar ruangan.

Kyungsoo masih terdiam pasca Jongin pergi. Ia tak mengerti kenapa rasanya malu sekali karena Jongin hampir melihatnya bertelanjang dada. Barangkali Kyungsoo terlalu antisosial, sehingga ia malu ketika orang lain melihat bagian tubuhnya yang selama ini tertutup.

Beberapa detik berlalu, dan akhirnya Kyungsoo kembali menemukan kesadarannya. Ia akhirnya melanjutkan kegiatannya membuka pakaian, selanjutnya berganti pakaian menjadi pakaian olahraga kebanggaan SOPA.


#Mr. Normal


Dua puluh dua siswa 2nd grade MC 1 sudah berbaris di pinggir lapangan basket outdoor.

Di depan barisan siswa itu berdiri seorang pria tampan bertubuh atletis yang menjabat sebagai guru olahraga.

Tak tanggung-tanggung, sang guru olahraga diimpor dari Thailand. Guru tersebut bernama Nichkhun, tapi lebih sering dipanggil Khun saem.

Sekedar informasi, Khun saem adalah tunangan Miss Tiff. Usianya lebih tua satu tahun dibandingkan Miss Tiff. Rencananya, mereka akan menikah tahun depan.

"Good morning, everybody!" Khun saem menyapa para siswa dengan sapaan andalannya. "Hari ini, olahraga yang akan kalian jalani adalah basket. Kalian akan dibagi menjadi dua tim laki-laki, dan dua tim perempuan. Selanjutnya, setiap tim akan bertanding. Aku yang akan menentukan timnya. Mengerti?"

Seluruh siswa kompak menjawab ya.

Selanjutnya, Khun saem mulai membagi tim basket yang akan bertanding hari ini.

Kyungsoo terlihat menekuk wajahnya saat Khun saem sudah selesai membagi tim. Ia tampaknya tak suka karena ia harus satu tim dengan seorang Kim Jongin.

Tim Kyungsoo akan bertanding sekarang. Seluruh siswa di timnya yang berjumlah enam orang sudah berkumpul untuk mendengar instruksi sang kapten dadakan, yaitu Oh Sehun —Sehun ditunjuk sebagai kapten karena kemampuan bermain basketnya sudah tak diragukan lagi-.

"Karena kita hanya membutuhkan lima pemain inti, maka akan ada satu orang yang menjadi pemain cadangan. Siapa yang akan menempati posisi pemain cadangan?" tanya Sehun pada seluruh anggotanya.

Tiga anggota tim Sehun serentak melirik Kyungsoo, seolah memberi kode pada Sehun bahwa Kyungsoo lah yang pantas menjadi pemain cadangan.

Sedangkan Jongin yang tak tahu apa-apa hanya diam. Ini adalah kegiatan olahraga pertamanya di SOPA, dan ia belum tahu kemampuan teman-temannya, termasuk kemampuan Kyungsoo.

Sehun rupanya peka terhadap kode yang dikirim oleh tiga anak buahnya. Dengan wajah yang sok menyesal, Sehun menatap Kyungsoo. "Maafkan aku, Kyungsoo. Sepertinya kau harus menjadi pemain cadangan."

Mendengar permintaan maaf Sehun yang kesannya kurang tulus, Kyungsoo tak memberi respon apapun. Ia hanya langsung berjalan menuju bench di pinggir lapangan tanpa sepatah katapun.

Sehun dan kawan-kawan yang melihat hal itu hanya menghela nafas. Mereka sudah terbiasa dengan sikap acuh Kyungsoo rupanya.

Sedangkan Jongin, ia memandang Kyungsoo iba. Mungkin Kyungsoo terlihat tegar, tapi bisa jadi sebenarnya Kyungsoo itu rapuh.

Di sisi lain, Kyungsoo sudah duduk di bench dengan ekspresi datar. Ia memandang datar teman satu timnya yang mulai bermain basket di lapangan.

Jika boleh jujur, Kyungsoo sebenarnya senang dengan keputusan Sehun yang menjadikannya sebagai pemain cadangan. Dengan begitu, Kyungsoo tidak perlu susah-sudah bermain, 'kan? Dalam hati ia berdoa supaya tidak ada pemain yang perlu digantikannya.

Lagipula, kaki Kyungsoo juga belum pulih benar. Menjadi pemain cadangan adalah hal baik untuknya.

Kyungsoo sampai saat ini masih memperhatikan teman-temannya bermain. Dalam diamnya Kyungsoo mengagumi permainan teman-temannya, terlebih permainan Sehun dan Chanyeol yang kini berada dalam tim berbeda. Dua kapten berbadan jangkung itu benar-benar memiliki skill luar biasa. Kyungsoo jadi iri dibuatnya.

Tapi Kyungsoo diam-diam juga mengakui kehebatan roommate-nya. Selain jago dance, Jongin rupanya juga jago bermain basket.

Lihatlah gerak lincah Jongin saat men-dribble bola. Gerakannya sungguh lembut bagaikan ia sedang menari-nari di lapangan.

Lalu lihat juga gerakan melompat yang baru saja dilakukan Jongin. Bagaimana bisa pria hitam seperti Jongin tiba-tiba terlihat seperti malaikat yang terbang dengan sayap putihnya?

Kyungsoo sudah gila! Ia bahkan menggelengkan kepalanya karena ia merasa terlalu gila.

Saat Kyungsoo masih menggelengkan kepalanya, tiba-tiba saja...

Bruk. Sebuah bola basket mendarat di keningnya hingga ia mengeluarkan jeritan 'aw' yang sangat tidak manly.

Kepala Kyungsoo rasanya sangat pening karena bola berwarna orange itu.

Saat ia sedang mengusap-usap keningnya yang sepertinya memar, tiba-tiba saja di hadapannya muncul seorang pria yang menampilkan ekspresi khawatir.

"Ma-maafkan aku, Kyungsoo. Aku...aku tidak sengaja."

Kyungsoo langsung memberi pria itu satu set tatapan maut yang menjadi ciri khasnya. "Kau pasti sengaja!"

Sosok si pria yang tadi meminta maaf —Kim Jongin-, kini menunjukkan ekspresi penuh penyesalan. "Aku tidak sengaja, dan aku sudah meminta maaf padamu, Kyungsoo," ujarnya. "Aku akan bertanggung jawab. Aku akan mengobatimu. Kajja kita ke ruang kesehatan."

Kyungsoo menepis kasar tangan Jongin yang hampir menyentuh lengannya. "Jangan sentuh aku!"

Selanjutnya Kyungsoo berdiri, lalu mencoba berjalan meskipun kepalanya terasa pening sekali.

Melihat Kyungsoo yang kesulitan berjalan, Jongin berlari menghampiri Kyungsoo, lalu tanpa basa-basi ia menggendong Kyungsoo bridal style.

Tentu saja Kyungsoo langsung memekik keras. "Y-ya! A-apa yang kau lakukan? Turunkan aku, Kim Jongin!"

Meskipun dibentak oleh Kyungsoo, Jongin rupanya tak merasa takut. Apalagi Kyungsoo tadi membentak dengan menyebut namanya. Jongin justru merasa senang akan hal itu.

Jongin mulai berjalan cepat menuju ruang kesehatan. Ia sampai tak menyadari bahwa kini wajah Kyungsoo sudah merah padam karena malu. Siapa pria yang tidak merasa malu jika digendong bridal style oleh pria lain? Tentu Kyungsoo merasa sangaaaat malu.

Ditambah lagi, saat ini di koridor sedang lumayan ramai. Beberapa siswa memandang mereka dengan tatapan horror, termasuk seorang siswa perempuan yang juga menatap mereka horror, dengan hatinya yang...cemburu?

..

..

TBC


Saya membawa chapter 4 hari ini~

maaf banget ya yg chapter 3 kemarin banyak typo. hehe. dan maaf jg kalo di chapter ini tetep ada typo-nya :(

aku udah baca semua review yg masuk. duh...rata2 kok pd gemes sm sifat Kyungsoo ya? tp mohon dimaafkan ya. dia seperti itu karena saya. haha.

tp menurutku, sifat aslinya kyungsoo kan emg rada2 dingin gitu. nah, kalo Jongin baru keliatan pemalu.

di chapter kemarin mgkn emg udh ada tanda2 konflik, tp sebenernya konflik yg besar emg belum muncul. kalo konflik2 yg ada sampai chapter 4 ini sebenernya masih terhitung konflik kecil. mungkin chapter depan bakal mulai ketahuan konflik sebenernya tu kyk gimana.

so, review again, yes? saya akan update cepet kalo banyak yg review :) dan terimakasih buat semua temen2 yg udah setia ninggalin review :*