Title: Mr. Normal

Pairing: KaiSoo as main pair

Cast for this chapter: Kai EXO as Kim Jongin, D.O EXO as Do Kyungsoo, Krystal f(x) as Krystal Jung

Rate: T

Genre: Romance, Drama, Hurt, Friendship

Length: Chaptered [5/?]

Summary for chap 5:

Jongin akhirnya menemukan sebuah fakta baru mengenai Kyungsoo. Dugaan Sehun yang mengatakan bahwa Kyungsoo gay ternyata salah total, karena ternyata Kyungsoo memiliki kekasih wanita

NOTE: special for syafakamilla yang request FF KaiSoo :)

Aku disini pinjem nama SOPA cuma sekedar pinjem nama sekolah aja. Tapi untuk urusan teknis tentang SOPA di FF ini 100% merupakan hasil imajinasiku. Jadi barangkali beda sama kenyataannya. Harap maklum

YAOI | CHAPTERED | SCHOOL LIFE | AU | OOC | TYPO | DLDR | NO PLAGIAT

Previous Chapter:

Jongin mulai berjalan cepat menuju ruang kesehatan. Ia sampai tak menyadari bahwa kini wajah Kyungsoo sudah merah padam karena malu. Siapa pria yang tidak merasa malu jika digendong bridal style oleh pria lain? Tentu Kyungsoo merasa sangaaaat malu.

Ditambah lagi, saat ini di koridor sedang lumayan ramai. Beberapa siswa memandang mereka dengan tatapan horror, termasuk seorang siswa perempuan yang juga menatap mereka horror, dengan hatinya yang...cemburu?

..

CHAPTER 5 (Girlfriend)

HAPPY READING!


Kyungsoo saat ini duduk di tepi ranjang yang berada di ruang kesehatan. Beberapa saat yang lalu Jongin meninggalkannya tanpa sepatah katapun.

'Kemana si hitam itu? Padahal tadi ia berkata akan mengobatiku!' batin Kyungsoo.

Kyungsoo baru akan beranjak dari ruangan kosong itu ketika tiba-tiba saja Jongin kembali memasuki ruang kesehatan. Di tangannya bertengger sebuah kantong yang terbuat dari bahan plastik, yang sepertinya berisi batu es.

"Aku akan mengompres luka memarmu supaya cepat sembuh. Lebih baik kau berbaring saja," Kyungsoo hanya mengedipkan matanya polos mendengar ucapan Jongin. "Oh ayolah, Kyungsoo. Aku harus segera kembali ke lapangan."

Mendengar Jongin yang mulai merengek, Kyungsoo akhirnya membaringkan tubuhnya di atas ranjang.

Jongin harus susah payah menahan senyumnya saat melihat Kyungsoo mematuhi perintahnya. Dengan lembut, pria dengan kulit kecoklatan itu mulai mengompres dahi Kyungsoo yang memar.

Kyungsoo sendiri hanya bisa mengamati wajah Jongin yang terlihat serius mengompres luka memarnya. Jarak mereka berdua cukup dekat, dan Kyungsoo baru sadar bahwa sebenarnya Jongin itu tampan dan terlihat tulus. Bisakah ia percaya pada Jongin? Tidak! Kyungsoo tidak boleh bersikap terlalu lemah.

"Nah, sudah selesai," Jongin berucap dengan nada bangga, sambil tersenyum manis.

Kyungsoo terpaksa mengalihkan pandangannya karena senyuman manis Jongin terlihat aneh di matanya.

Tapi Kyungsoo terkejut karena Jongin tiba-tiba mendekatkan wajahnya dengan wajah Kyungsoo. Jarak wajah mereka mungkin hanya sepuluh centimeter saja. "Aku benar-benar minta maaf karena telah membuatmu terluka," permintaan maaf Jongin terdengar begitu tulus. "Tapi aku janji tidak akan melukaimu lagi. Aku janji akan menjagamu, Kyungsoo."

Cup. Mata Kyungsoo membola karena Jongin tiba-tiba mencium dahinya yang bebas dari kompres batu es.

Jongin menciumnya! Sekali lagi. JONGIN MENCIUMNYA!

Oh! Wajah Kyungsoo rasanya terbakar! Pikirannya mendadak kosong, dunia terasa berputar-putar, dan ia merasa gila! Ia bahkan tak sadar jika saat ini Jongin sudah tidak ada di ruangan itu.

'Kenapa pria hitam itu menciumku?' pertanyaan itu muncul di benak Kyungsoo. 'Dan kenapa ia berjanji padaku?'

Kyungsoo tiba-tiba memikirkan janji Jongin.

Janji. Kyungsoo tak lagi percaya dengan janji. Beberapa orang berjanji padanya, namun ujung-ujungnya mereka mengingkari janji mereka sendiri.

Kyungsoo merasa dikhianati. Sejak empat tahun lalu, ia percaya bahwa janji itu ada untuk diingkari. Karena...itulah yang dikatakan oleh dua orang tuanya.


#Mr. Normal


Jongin bersenandung kecil saat ia membereskan buku-buku di meja belajarnya.

Pagi sampai siang tadi ia merasa sangat menyesal karena sudah membuat Kyungsoo terluka, tapi malam ini perasaannya sudah membaik karena Kyungsoo sudah sembuh.

Seperti biasa, Jongin saat ini sedang menyiapkan buku-buku Bahasa Inggris sebagai bahan untuk belajar bersama Kyungsoo.

Ia tak mengerti kenapa ia bisa merasa bahagia seperti ini padahal ia hanya akan belajar bersama roommate-nya.

"Hai, kau," Kyungsoo yang baru keluar dari kamar mandi langsung merenggut atensi Jongin. "Hari ini kita tidak bisa belajar bersama. Aku ada acara."

Jongin memperhatikan Kyungsoo dari atas ke bawah. Kyungsoo tampak sangat rapi. Tubuh rampingnya dibalut oleh kemeja lengan panjang berwarna merah maroon, kakinya ditutupi oleh celana jeans warna hitam pekat, dan ia baru saja selesai memakai sneakers yang juga berwarna hitam.

Setelah puas memperhatikan outfit Kyungsoo, Jongin mengalihkan pandangannya ke jam dinding yang menggantung di salah satu sisi tembok kamar itu. "Sekarang sudah pukul tujuh malam. Gerbang utama pasti sudah ditutup. Kau tidak bisa keluar asrama, Kyungsoo."

"Memangnya siapa yang akan keluar asrama?" tanya Kyungsoo.

"Kau seperti akan berkencan," kembali Jongin mengamati penampilan Kyungsoo. "Kau pasti keluar asrama 'kan kalau ingin berkencan? Kecuali jika kau...akan berkencan dengan siswa pria di asrama in—"

"APA KAU BILANG?" dengan cepat Kyungsoo memotong perkataan Jongin. "Jangan bicara macam-macam! Aku ini masih normal!"

Tanpa menunggu balasan ucapan dari Jongin, Kyungsoo dengan cepat keluar dari kamar. Ia meninggalkan Jongin yang masih tampak blank.


#Mr. Normal


Kyungsoo berjalan pelan di halaman samping asrama pria. Ia berjalan menuju gerbang tinggi yang membatasi asrama itu.

Setidaknya ia harus berjalan seratus meter untuk sampai di gerbang itu.

Begitu sudah sampai di dekat gerbang, Kyungsoo sedikit berbelok menuju sebuah pohon besar yang tingginya kira-kira tiga meter. Dengan gesit Kyungsoo memanjat pohon itu.

Pohon setinggi tiga meter itu rupanya cukup mampu untuk membantu Kyungsoo mencapai pagar beton setinggi empat meter. Pria kulit putih itu kini sudah duduk manis di atas pagar beton. Sepertinya ia sudah biasa memanjat pohon dan pagar itu hingga tadi ia sama sekali tak menemukan kesulitan berarti.

Setelah beberapa saat, Kyungsoo akhirnya merogoh saku celananya, kemudian meraih i-Phone hitam miliknya.

Dengan lincah, jemari lentik Kyungsoo membuka menu pesan, lalu mengetik beberapa kata disana.

To: KJ

Aku sudah sampai. Cepat keluar

Setelah selesai mengetik, ia menekan pilihan send, lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

Kyungsoo harus menunggu beberapa menit, sampai akhirnya seorang gadis cantik berjalan mendekati pagar beton tempat Kyungsoo duduk.

Gadis itu harus mendongakkan kepalanya agar bisa melihat Kyungsoo. "Kenapa kau ingin bertemu denganku?"

Kyungsoo tampak kaget mendengar gadis itu bertanya dengan nada dingin. "Kenapa kau bertanya begitu? Bukankah kita sudah hampir satu minggu tidak bertemu? Wajar 'kan kalau aku ingin menemuimu?"

Si gadis tersenyum sinis. "Jadi kau masih ingin bertemu denganku? Kukira kau sudah melupakanku karena tadi pagi aku melihatmu berada dalam gendongan seorang pria tampan. Bukankah itu romantis?"

Kyungsoo berpikir keras. Berada dalam gendongan seorang pria? Kyungsoo sedang berusaha mengingat moment yang dimaksud oleh si gadis, dan tak lama kemudian ia mengingat kejadian itu.

"Astaga! Kenapa kau cemburu pada seorang pria? Dan juga, kenapa pria yang kau cemburui itu harus seorang Kim Jongin? Aku masih normal, Krystal!"

Si gadis —Krystal- tersenyum meremehkan. Krystal adalah gadis yang tadi pagi tak sengaja melihat Jongin menggendong Kyungsoo. "Tadi pagi kalian tampak begitu intim. Kau bahkan belum pernah menggendongku seperti itu padahal kita sudah dua tahun berpacaran."

Kyungsoo memandang kekasihnya bingung. Ia mungkin sudah lama sekali mengenal Krystal, tapi ia sangat jarang melihat sisi manja kekasihnya itu.

Dan malam ini ia melihatnya. Krystal yang biasanya tampak matang dan dewasa, kini tampak manja dan kekanakan. Kyungsoo tak bisa menahan senyumnya melihat tingkah kekasihnya.

Di dunia ini, hanya ada dua orang yang mendapat kepercayaan dari Kyungsoo. Dua orang itu adalah Kim Jongdae dan Krystal Jung.

Di dunia ini, hanya ada dua orang yang mampu membuat Kyungsoo tersenyum tulus. Dua orang itu juga adalah Kim Jongdae dan Krystal Jung.

Jongdae adalah sahabat terbaik Kyungsoo, dan Krystal adalah kekasih terbaik Kyungsoo. Dua sosok itu sangat berharga bagi Kyungsoo.

Kyungsoo kini mengalihkan pandangannya pada semak-semak setinggi satu meter yang berada tak jauh darinya. Ia berdiri di atas pagar, kemudian berjalan mendekati semak itu.

Hap. Kyungsoo melompat turun, dan mendarat di semak tebal itu. Hal itu sudah biasa ia lakukan, dan ia selalu berhasil turun dengan selamat setiap kali melakukannya.

Setelah kakinya sudah berpijak di atas tanah, Kyungsoo berjalan mendekati Krystal. Tanpa aba-aba, pria imut itu menggendong kekasihnya bridal style. Krystal terkejut karena perlakuan Kyungsoo.

"Kau ingin aku menggendongmu seperti ini, hm?" tanya Kyungsoo lembut sembari menatap wajah Krystal di gendongannya.

Krystal merona malu, lalu melingkarkan dua tangannya di leher sang tercinta. "Aku merasa sangat hangat saat seperti ini. Kau harus sering menggendongku seperti ini."

Kyungsoo tertawa halus. Hal yang sangat jarang dilakukannya selama ini. "Anything for you, Love."

Krystal tak bisa menyembunyikan senyumnya mendengar Kyungsoo bicara romantis. "Sekarang, turunkan aku. Kurasa berat badanku naik belakangan ini."

Lagi-lagi Kyungsoo tertawa, lalu menurunkan Krystal dari gendongannya. Ia menggenggam dua tangan kekasihnya, dan menatap dua mata Krystal dalam-dalam. "Aku merindukanmu, Love."

"Aku juga merindukanmu," balas Krystal. "Seharusnya kita mempublikasikan hubungan kita, Soo. Jadi kita bisa dengan bebas bertemu saat di sekolah. Bukannya harus sembunyi-sembunyi seperti ini."

Kyungsoo mengangkat tangan kanannya, lalu menggunakan tangan itu untuk membelai rambut panjang Krystal. "Mianhae, Love. Aku hanya tidak ingin menjadi pusat perhatian karena mengencani seorang siswi populer."

"Tapi kau menyiksaku," Krystal merengek manja. "Aku harus berpura-pura single di depan teman-temanku, dan juga harus berpura-pura menjadi fangirl dari pria-pria populer di sekolah. Itu menyebalkan, kau tahu?"

Kyungsoo terkekeh, lalu menyentil dahi Krystal pelan. "Kau tidak harus berpura-pura menjadi fangirl. Aku cemburu melihatmu menjadi fangirl centil. Apalagi saat aku melihatmu mendekati Kim Jongin bersama teman-temanmu. Malamnya aku sampai memukul wajah Jongin karena terlalu cemburu."

Mata Krystal membulat penuh. "A-apa?" ia bertanya dengan terbata. "Kau sampai memukul Jongin? Aigoo, Soo. Seharusnya kau lebih mengontrol emosimu. Kau tahu 'kan kalau aku hanya berpura-pura menjadi fangirl?"

"Aku tahu," Kyungsoo menghela nafas. "Tapi aku cemburu, Love. Hatiku rasanya sakit. Kau harus mengerti itu."

Senyuman lembut hadir di bibir Krystal seraya dua tangannya bergerak untuk menangkup sepasang pipi chubby sang kekasih. "Aku hanya mencintaimu, Soo. Kau harus percaya itu."

Tangan Kyungsoo tergerak untuk menangkup dua tangan Krystal yang masih berada di pipinya. "Aku percaya padamu. Dan kau seharusnya bangga karena bisa mendapat kepercayaanku. Aku juga mencintaimu, Love."

Sepasang kekasih itu diliputi oleh keheningan yang sangat nyaman untuk beberapa menit. Keduanya hanya saling menyalurkan rasa cinta mereka melalui tatapan mata.

"Aku merasa ini semua sangat lucu, Soo," Krystal akhirnya memecah keheningan.

"Kenapa sangat lucu?" tanya Kyungsoo.

Krystal terkekeh sebentar sebelum menjawab pertanyaan kekasihnya. "Kita berdua sama-sama cemburu pada Kim Jongin. Bukankah itu sangat konyol?"

Kyungsoo terdiam sesaat, sebelum akhirnya tertawa lirih. "Ya, kau benar. Semua ini sangat lucu. Tapi bagiku, kau lebih lucu, Love."

Lagi-lagi keduanya saling bertatapan, tapi kali ini tangan Krystal sudah tak berada di pipi Kyungsoo, melainkan tangan Kyungsoo yang kini bertengger di pipi tirus Krystal.

Setelah beberapa saat, Kyungsoo menggerakkan wajahnya untuk mendekati wajah Krystal. Krystal yang mengerti, kini mulai memejamkan mata.

Wajah mereka berdua terus mendekat, sampai...


#Mr. Normal


Di sisi lain...

Jongin mati kutu di kamarnya sendirian karena beberapa menit lalu Kyungsoo pergi meninggalkan kamar.

Sebenarnya Jongin mencoba untuk belajar, tapi pikirannya benar-benar tak bisa difokuskan. Pikirannya terus berkelana kemana-mana.

"Hah..." tiba-tiba pria tinggi itu menghela nafas. Sepertinya ia bisa mati bosan jika terus diam di kamar seperti itu.

Setelah berpikir untuk beberapa waktu, Jongin akhirnya bangkit dari kursi belajarnya. Pria tampan itu meraih jaket hitamnya, juga memakai sepasang sneakers putih kesayangannya, selanjutnya membuka pintu dan keluar kamar.

Jongin tidak memiliki rencana untuk keluar asrama —karena gerbang asrama memang sudah ditutup-, tapi Jongin hanya berencana untuk berkeliling di dalam kompleks dorm. Maklum, Jongin belum pernah benar-benar berkeliling di tempat tinggalnya itu.

Langkah kaki Jongin mengarah menuju pintu gedung asrama yang ada di belakang. Ia sebenarnya belum pernah melewati pintu itu, dan ia tak yakin apakah pintu itu dikunci atau tidak.

Tapi rupanya Jongin beruntung. Pintu itu tidak dikunci, dan Jongin bisa membukanya untuk selanjutnya keluar dari gedung itu.

Meskipun Jongin tak bisa keluar melewati gerbang asrama, namun setidaknya Jongin bisa keluar dari dalam gedung.

Begitu sudah berada di luar, Jongin mendongakkan kepalanya. Langit Seoul selalu gelap tak berbintang. Bukan tak berbintang sebenarnya, tapi kilau bintang-bintang itu kalah dengan kilau lampu-lampu di Seoul.

Setelah puas memandang langit, Jongin akhirnya melanjutkan langkahnya. Ia berjalan menuju halaman samping gedung dorm.

Jongin baru tahu bahwa dorm yang sudah beberapa hari ditempatinya ini memiliki taman yang indah. Di taman itu terdapat beberapa pohon besar dan tinggi, juga terdapat beberapa bangku taman dan satu ayunan besar. Taman itu pasti terlihat indah saat siang hari.

Tapi entah mengapa, Jongin terus berjalan dan tak memilih untuk duduk di bangku taman maupun di ayunan besar yang ada disana.

Jongin menemukan pohon tinggi yang letaknya tepat di samping pagar pembatas. Entah apa yang menyebabkan Jongin tertarik untuk memanjat pohon itu. Mungkin ia akan menemukan sesuatu jika ia memanjat pohon itu? Mungkin.

Setelah beberapa menit memanjat, akhirnya Jongin sampai di atas pohon. Ia baru sadar bahwa pohon ini bisa digunakan untuk memanjat pagar pembatas, dan akhirnya bisa memasuki kompleks dorm siswa perempuan.

'Pantas saja banyak beredar rumor tentang para siswa yang berkencan di dalam kompleks asrama,' pikirnya.

Jongin akhirnya berdiri di cabang pohon terbesar, lalu tangannya menyentuh pagar beton. Ia berencana melihat-lihat kondisi dorm siswa perempuan dari atas sana. Bukan karena apa-apa. Ia hanya iseng saja.

Tapi rupanya Jongin justru mendapat sebuah kejutan besar saat matanya melihat ke balik pagar. Lampu yang terletak tak jauh dari pagar cukup membantu penglihatan Jongin sehingga ia bisa menatap pemandangan di depannya.

Pemandangan itu adalah...sepasang siswa dan siswi sedang berciuman mesra.

Di tengah rasa kagetnya, Jongin memicingkan matanya agar bisa melihat lebih jelas siapa dua siswa yang sedang melakukan adegan intim itu.

Jarak yang tidak terlalu jauh dan keberadaan lampu yang menyinari tempat itu ternyata cukup membantu Jongin untuk mengenali dua siswa yang masih asyik berciuman.

Jongin yang masih shock akhirnya menggumamkan dua nama...

"Krystal dan...Kyungsoo?"


#Mr. Normal


Jongin duduk di ayunan yang berada di taman asrama dengan wajah murung. Scene yang beberapa saat lalu dilihatnya membuatnya bad mood.

Ia tak mengerti mengapa hatinya seperti tertusuk saat melihat adegan itu. Apa ia menyukai Krystal hingga ia merasa cemburu? Atau ia justru menyukai...

Tidak! Jongin cepat-cepat menepis pikiran bodohnya. Straight! Normal! Jongin masih mempertahankan keyakinannya bahwa ia masih lurus dan normal. Tidak mungkin orientasi seksualnya berubah begitu saja.

Saat Jongin sedang bergulat dengan pemikiran-pemikirannya sendiri, tiba-tiba saja ia mendengar suara derap langkah kaki yang semakin mendekatinya.

Jongin akhirnya mengangkat kepalanya, lalu ia mendapati sosok Do Kyungsoo sedang berdiri kira-kira dua meter di depannya.

"Apa yang kau lakukan disini?" Kyungsoo yang membuka pembicaraan. Ada sedikit raut kaget di wajahnya saat ia mendapati Jongin di tempat itu.

Jongin menundukkan kepalanya karena ia merasa tak sanggup menatap mata Kyungsoo. "Bukan urusanmu."

Kyungsoo berjengit kaget mendengar jawaban Jongin. Biasanya Jongin itu lembut, sabar, dan hangat. Tapi baru saja ia mendengar Jongin bicara dengan nada yang sangat dingin. Kyungsoo yakin bahwa ada yang salah dengan roommate-nya itu.

Kyungsoo akhirnya memutuskan untuk berjalan mendekati ayunan yang diduduki Jongin, kemudian ia duduk di sebelah Jongin. "Ada yang salah denganmu," ujarnya.

Jongin sebenarnya terkejut lantaran tiba-tiba saja Kyungsoo jadi sok peduli padanya. Tapi sebisa mungkin ia menyembunyikan kekagetannya itu dengan terus diam.

"Kau marah karena kita tidak jadi belajar malam ini?" lagi-lagi Kyungsoo bersuara.

"Untuk apa aku marah? Kau yang memiliki hak untuk menentukan apakah kita bisa belajar atau tidak," akhirnya Jongin mau bicara.

Mendengar Jongin yang masih saja bicara dengan nada dingin, Kyungsoo hanya mengangkat bahunya acuh. Sebenarnya ia tak terlalu peduli pada Jongin, dan ia pun tak mau mencampuri urusan Jongin.

Tapi Kyungsoo yang cuek terpaksa menoleh pada Jongin ketika mendengar teman sekamarnya itu memanggil namanya.

Kyungsoo menatap Jongin dan menunggu pria itu untuk lanjut bicara.

"Aku sudah tahu tadi kau berkencan dengan siapa."

Kembali Kyungsoo dibuat kaget oleh perkataan Jongin. Matanya yang sudah bulat itu kini semakin bertambah besar ukurannya. "A-apa? Ba-bagaimana bisa?"

"Kalian berciuman di tempat terbuka. Tentu saja aku tahu," jawab Jongin santai.

Wajah Kyungsoo memanas. Walaupun Kyungsoo itu cuek, tapi tetap saja Kyungsoo hanya manusia biasa yang bisa merasa malu.

"Kau tahu, Kyungsoo?" suara Jongin kembali terdengar dan itu membuat mata Kyungsoo kembali terfokus pada Jongin. "Aku sempat berpikir bahwa kau itu gay. Tapi ternyata aku salah. Kau sangat normal. Benar-benar normal."

Kyungsoo tak menanggapi ucapan Jongin karena ia menangkap ekspresi lain yang hadir di wajah Jongin.

Seharusnya Kyungsoo marah karena ternyata Jongin pernah berpikiran negatif tentangnya. Tapi nyatanya kini Kyungsoo hanya bisa diam.

"Maafkan aku karena aku sempat berpikiran yang tidak-tidak tentangmu, Kyungsoo. Dan selamat karena ternyata kau sudah memiliki seorang kekasih yang cantik," ujar Jongin lagi. Kali ini wajahnya sudah tak menghadap pada Kyungsoo.

Kyungsoo juga memalingkan wajahnya dari Jongin. Ia menghadap ke depan, dan bibirnya pun masih terkatup rapat karena ia tak tahu harus bicara apa lagi.

Cukup lama keduanya terdiam, hingga akhirnya Jongin menyadari ada hal aneh pada sosok di sebelahnya.

Jongin akhirnya menoleh pada Kyungsoo, dan pria itu terkejut saat melihat tubuh Kyungsoo menggigil.

Malam sudah mulai larut rupanya. Angin malam pun mulai berhembus kencang. Salahkan saja Kyungsoo yang tidak memakai jaket.

Tapi Jongin tak pernah tega untuk menyalahkan Kyungsoo. Hal yang ia lakukan saat ini justru melepas jaketnya, kemudian memakaikan jaket itu di tubuh mungil Kyungsoo.

Kyungsoo pun terkejut mendapat perlakuan itu dari Jongin.

"Sepertinya kau kedinginan," ucap Jongin.

Mata Kyungsoo tak berkedip menatap Jongin. Dari mata itu, Jongin bisa melihat rasa sedih, rasa sepi, dan rasa sakit yang ada pada diri Kyungsoo.

Jongin semakin penasaran. Sebenarnya apa yang membuat Kyungsoo menjadi sosok dingin yang sangat acuh? Jongin yakin bahwa itu bukanlah karakter Kyungsoo yang sebenarnya.

Jongin rasanya ingin memberikan Kyungsoo kehangatan dan kenyamanan. Jongin ingin menemani Kyungsoo hingga rasa sepi itu pergi meninggalkan Kyungsoo. Tapi bagaimana caranya?

Kehangatan...

Jongin tak tahu bagaimana cara memberikan kehangatan bagi hati Kyungsoo. Untuk saat ini, Jongin hanya tahu bagaimana cara memberikan kehangatan bagi tubuh Kyungsoo.

Jadilah pemuda itu saat ini menangkup dua belah pipi Kyungsoo, lalu mengusapnya selembut mungkin seolah ingin mentransfer kehangatan dari tubuhnya sendiri ke tubuh Kyungsoo.

Jelas Kyungsoo terperanjat karena hal itu. Tapi herannya, tubuhnya seperti membeku hingga ia hanya bisa terdiam. Ia bahkan tak menepis tangan Jongin seperti sebelum-sebelumnya.

Di sisi lain, Jongin merasakan sensasi yang sangat berbeda saat telapak tangannya menyentuh kulit pipi Kyungsoo. Rasanya hangat dan nyaman, dan Jongin ingin selalu merasakan dua sensasi itu.

Sungguh. Saat ini jantung Jongin bahkan ingin melompat-lompat dari sarangnya lantaran sensasi yang ditimbulkan oleh skinship mereka itu.

Meskipun hanya sederhana, namun skinship yang hangat itu sepertinya cukup untuk membuat Jongin menyadari sesuatu...

'Sepertinya justru aku yang tak lagi normal.'


#Mr. Normal


Hari sudah berganti, dan tampaknya hari ini menjadi hari yang lebih baik bagi Jongin.

Bagaimana tidak? Tadi pagi, untuk pertama kalinya ia bisa berangkat ke sekolah bersama Kyungsoo.

Bagaimana itu bisa terjadi? Jawabannya adalah: Jongin memaksa Kyungsoo untuk menunggunya agar bisa berangkat bersama. Pria tan itu bahkan mengunci pintu kamar mereka dari dalam, lalu menyembunyikan kunci kamar duplikat yang selama ini selalu dibawa Kyungsoo, hanya supaya ia bisa berangkat bersama Kyungsoo.

Hingga tengah hari, semua berjalan lancar bagi Jongin. Mata pelajaran vocal dan dance berjalan dengan baik. Ya...walaupun Jongin sempat kesulitan di bidang vocal karena suaranya yang pas-pasan.

Seharusnya saat ini adalah jam makan siang. Seharusnya Jongin sekarang sudah bergabung dengan Chanyeol dan Sehun di cafetaria. Tapi rupanya hari ini sedikit berbeda. Jongin saat ini justru sedang berdiri di depan ruang kelas 2nd grade MC 2 untuk menunggu seseorang.

Dan seseorang itu adalah...

"Krystal!"

Ya. Krystal Jung.

Krystal yang baru saja keluar dari kelas langsung mengernyit bingung saat melihat Jongin berdiri di depan kelasnya. Teman-temannya bahkan sudah berteriak histeris karena kehadiran Jongin.

Tapi Krystal mengabaikan teman-temannya, dan memilih untuk berjalan mendekati Jongin. "Ada apa, Jongin?" tanyanya.

"Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Kau ada waktu?"

Sebenarnya Jongin bukan pria yang mudah bergaul, apalagi dengan seorang gadis. Tapi rasa penasaran di benaknya terus mendesaknya untuk bertanya pada Krystal. Jadilah ia nekat menemui Krystal pada jam makan siang begini.

Krystal menganggukkan kepalanya, dan Jongin segera memberi isyarat pada Krystal agar gadis itu mengikutinya.

Rupanya Jongin mengajak Krystal menuju taman belakang sekolah. Taman itu lumayan sepi, jadinya Jongin memilih untuk bicara dengan Krystal disana.

Keduanya kini sudah duduk bersebelahan di sebuah bangku, dan Jongin memulai pembicaraan. "Ternyata kita mengenal orang aneh yang sama," Krystal yang tak memahami ucapan Jongin kini memutuskan untuk tetap diam. "Kekasihmu yang aneh itu ternyata adalah roommate-ku. Sungguh sebuah kebetulan yang lucu, 'kan?"

Krystal membulatkan matanya. "A-apa? Ke-kekasih?"

"Ya," Jongin mengangguk. "Aku sudah tahu siapa kekasihmu, tapi kurasa itu merupakan rahasia bagi kalian. Aku benar?"

Kini giliran Krystal yang mengangguk. "Benar. Ia tak ingin mempublikasikan hubungan kami. Apa...ia yang menceritakan semuanya padamu?"

"Tidak. Ia tak bercerita padaku. Aku sendiri yang melihat kalian sedang bersama. Lebih tepatnya, aku melihat kalian sedang berciuman."

Blush. Wajah Krystal merona. "Ja-jadi semalam..."

"Ya, aku melihat kalian," Jongin kembali bicara sebelum Krystal menyelesaikan ucapannya. "Tapi sebenarnya bukan itu yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku ingin membicarakan hal lain. Lebih tepatnya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu."

Krystal menatap Jongin bingung. "Memangnya apa yang ingin kau tanyakan padaku?"

"Ini tentang Kyungsoo," jawab Jongin setelah pria itu sempat menghela nafas untuk menenangkan dirinya. "Aku ingin kau menceritakan padaku semua tentang Kyungsoo. Aku ingin tahu kenapa Kyungsoo begitu acuh dan begitu antisosial."

"Kenapa aku harus bercerita padamu? Itu semua privacy Kyungsoo. Ia berhak memiliki rahasia."

Mendengar Krystal menyuarakan penolakan, Jongin menatap Krystal serius. "Aku ingin menjadi temannya. Aku ingin memberikan kebahagiaan untuk Kyungsoo. Kau percaya padaku?"

Krystal mematung. Belum pernah ia melihat seseorang yang sangat bersungguh-sungguh seperti Jongin. Belum pernah ia melihat orang yang memiliki ambisi besar untuk membahagiakan Kyungsoo.

Meskipun Krystal itu kekasih Kyungsoo, namun Krystal selama ini tak merasa berhasil membahagiakan Kyungsoo. Ia merasa bahwa Kyungsoo masih sering merasa sedih dan kesepian meskipun Kyungsoo memiliki dirinya.

Barangkali seorang teman baru bisa mengubah Kyungsoo. Atas dasar itulah, Krystal memutuskan untuk bercerita. "Sebenarnya, Kyungsoo seperti itu karena orang tuanya..."

Krystal akhirnya menceritakan segalanya, dan Jongin mendengarkan dengan serius semua yang dituturkan oleh Krystal.

Dua orang itu terlalu serius hingga mereka tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasi, dan pemilik sepasang mata itu kini mengepalkan dua tangannya erat-erat.

Jelas. Pemilik sepasang mata itu merasa marah dan cemburu.

..

..

TBC


Halo~ maaf ya karena hari ini update-nya malem. tadi siang sampai sore males online. hehe~

nah, di chapter ini terbuka satu rahasia penting tentang Kyungsoo. ternyata dia NORMAL. haha. dan mulai chapter ini sebenernya mulai bisa ditebak konflik ke depannya bakal gimana.

di FF ini aku memutuskan buat pake KyungStal karena KaiStal terlalu mainstream. tapi semua masih bisa terjadi di FF ini, karena FF ini masih panjang. jadi, bebas kok kalo para reader mau ngasih masukan :)

maaf ya karena FF ini enggak full yaoi, tapi ada slight straight-nya. aku cm pengen realistis aja. gay kan masih tabu, jd menurutku mending tetep ada straight-nya.

terimakasih yang masih setia ninggalin review. review again? :)