Title: Mr. Normal
Pairing: KaiSoo as main pair
Cast for this chapter: Kai EXO as Kim Jongin, D.O EXO as Do Kyungsoo, Jongin's mom and dad (OC)
Rate: T
Genre: Romance, Drama, Hurt, Friendship
Length: Chaptered [6/?]
Summary for chap 6:
Alasan sikap dingin Kyungsoo selama ini akhirnya terbongkar. Di balik pribadinya yang dingin dan angkuh, Kyungsoo ternyata memiliki masa lalu yang membuatnya tak lagi percaya pada orang lain
NOTE: special for syafakamilla yang request FF KaiSoo :)
Aku disini pinjem nama SOPA cuma sekedar pinjem nama sekolah aja. Tapi untuk urusan teknis tentang SOPA di FF ini 100% merupakan hasil imajinasiku. Jadi barangkali beda sama kenyataannya. Harap maklum
YAOI | CHAPTERED | SCHOOL LIFE | AU | OOC | TYPO | DLDR | NO PLAGIAT
Previous Chapter:
Krystal akhirnya menceritakan segalanya, dan Jongin mendengarkan dengan serius semua yang dituturkan oleh Krystal.
Dua orang itu terlalu serius hingga mereka tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasi, dan pemilik sepasang mata itu kini mengepalkan dua tangannya erat-erat.
Jelas. Pemilik sepasang mata itu merasa marah dan cemburu.
..
CHAPTER 6 (The Reason)
HAPPY READING!
Hari ini rasanya berjalan begitu cepat, sampai-sampai Jongin tak menyadari bahwa sekarang sudah sore, dan ia sedang berjalan menuju kamarnya.
Tadi siang Jongin sudah berhasil mendapatkan informasi tentang Kyungsoo langsung dari Krystal, dan sekarang ia mengerti semuanya.
Sekarang ia merasa sangat ingin mengubah Kyungsoo seperti sedia kala. Ia ingin menemani Kyungsoo dan memberikan kebahagiaan untuk Kyungsoo. Entah apa yang memberikan desakan itu di hati Jongin.
Klek. Jongin membuka pintu kamar setelah sebelumnya membuka kuncinya.
Begitu pintu sudah terbuka, Jongin langsung berjengit kaget karena di depannya saat ini sedang berdiri seorang Do Kyungsoo yang sedang menatapnya tajam. Scene ini mirip dengan scene saat pertama kali Jongin datang ke kamar nomor 42.
Tapi kali ini atmosfer kamar itu jauh lebih menegangkan. Tatapan mata Kyungsoo jauh lebih tajam dan mengintimidasi, dan Jongin berani bersumpah bahwa ia sangat kaget.
Pasalnya, tadi pagi hubungannya dan Kyungsoo masih baik-baik saja, tapi sepertinya detik ini semuanya berubah.
"A-ada apa, Kyungsoo?" Jongin memberanikan diri untuk bertanya. Tak dapat dipungkiri bahwa Jongin masih sering ketakutan tiap kali berhadapan dengan Kyungsoo.
Tanpa berkata apapun, Kyungsoo menarik lengan Jongin untuk semakin masuk ke kamar, lalu mengunci pintu kamar mereka.
Jongin semakin ketakutan melihat Kyungsoo yang sepertinya akan mengamuk.
Dan benar saja. Detik berikutnya, Kyungsoo meraih kerah kemeja Jongin, selanjutnya...
Bugh! Bugh! Dua pukulan keras menghampiri pipi kiri Jongin. Seketika sudut bibir Jongin mengeluarkan darah, dan pipi Jongin terasa sangat perih.
Pukulan Kyungsoo kali ini jauh lebih keras dari pukulan Kyungsoo beberapa hari yang lalu.
"KAU INGIN MEREBUT KEKASIHKU, HAH?" Jongin hanya bisa melotot sebagai respon dari pertanyaan Kyungsoo. "Kau itu pria populer! Cari saja gadis lain, dan jangan dekati Krystal!"
Jongin tak mengerti arah pembicaraan Kyungsoo. "A-apa maksudmu?"
Kembali Kyungsoo meraih kerah kemeja Jongin dengan kasar. Meskipun tubuh Kyungsoo kecil, namun tenaganya sangat besar hingga Jongin tak mampu berkutik.
"Aku melihatmu mendekati Krystal! Aku melihat kalian berduaan di taman belakang sekolah!" terang Kyungsoo. Masih dengan nada tinggi penuh emosi.
"I-itu tidak seperti yang kau pikirkan, Kyungsoo."
"BERHENTI BICARA OMONG KOSONG!"
"AKU TIDAK BICARA OMONG KOSONG, BODOH!"
Untuk pertama kalinya Jongin membentak Kyungsoo, bahkan menyebutnya bodoh. Hal itu cukup untuk membuat Kyungsoo melepaskan kerah kemeja Jongin, lalu berjalan mundur satu langkah.
Kyungsoo tampaknya kaget. Ia tak menduga Jongin bisa marah begitu.
Tapi Jongin sendiri sebenarnya juga kaget. Ia tak bermaksud untuk membentak Kyungsoo, tapi sepertinya tadi ia kehabisan kesabaran.
"Maaf, Kyungsoo. Aku tidak bermaksud membentakmu..."
Kyungsoo menggelengkan kepalanya, dan matanya tak memandang Jongin. "Jelaskan padaku apa yang terjadi."
"Aku tadi meminta Krystal untuk bercerita tentang dirimu," Kyungsoo langsung menatap Jongin setelah Jongin mulai menjelaskan. "Aku sekarang tahu semua tentang dirimu, Kyungsoo. Aku—"
"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah kau tahu tentang aku? Kau akan mengasihaniku?" Kyungsoo menyela perkataan Jongin. Air mata mulai mengumpul di pelupuk matanya. "Orang tuaku berjanji untuk saling mencintai dan untuk selalu menjagaku. Tapi nyatanya apa? Ayahku selingkuh sejak lima tahun lalu! Saat itu ibuku berjanji untuk selalu bersamaku meskipun ayahku meninggalkan kami. Tapi nyatanya apa? Ibuku bunuh diri di depan mataku empat tahun yang lalu. Ibuku meninggalkanku sebatang kara."
Kyungsoo yang tak mampu menahan sakit akhirnya jatuh bersimpuh. "Empat tahun lalu ayahku kembali ke rumah, tapi ia membawa istri barunya," Kyungsoo mulai menangis. "Apa arti janji-janji dua orang tuaku dulu? Mereka mengkhianatiku! Janji itu hanya untuk diingkari. Begitu kata mereka! Ayahku bahkan tak peduli padaku sejak ia menikah lagi. Aku tak bisa lagi mempercayai orang lain setelah itu!"
Ya. Jongin sudah tahu tentang semua itu. Krystal sudah menceritakan segalanya pada Jongin.
Semua itu yang menyebabkan Kyungsoo tak mau percaya lagi pada orang lain. Ia tak mau dekat dengan orang lain, dan ia tak mau memiliki roommate.
Karena sesungguhnya Kyungsoo trauma. Orang tuanya —yang notabene selalu tinggal bersamanya- akhirnya mengkhianati dan meninggalkannya. Roommate-nya juga bisa seperti itu, 'kan? Tinggal bersamanya, lalu mengkhianatinya, dan akhirnya meninggalkannya. Sama seperti orang tuanya. Begitulah isi pikiran Kyungsoo.
Jongin menatap Kyungsoo iba, kemudian ia mendudukkan tubuhnya di depan Kyungsoo, lalu memeluk tubuh rapuh itu erat. "Aku tidak akan mengasihanimu, Kyungsoo. Aku akan menyayangimu. Aku akan menemanimu selamanya," tanpa sadar Jongin ikut meneteskan air mata.
Kyungsoo masih terus menangis, tapi ia merasa ada yang aneh dengan pelukan Jongin. Pelukan Jongin terasa sangat hangat dan nyaman. Hampir sama seperti pelukan mendiang ibunya. Ia bahkan tak merasa sehangat dan senyaman ini saat Krystal memeluknya.
Karena rasa hangat dan nyaman itulah Kyungsoo memutuskan untuk membalas pelukan Jongin. Ia melesakkan kepalanya di dada Jongin, lalu menangis keras disana.
Sedangkan Jongin memutuskan untuk membiarkan Kyungsoo menangis sepuasnya. Tangan kanannya terus ia gerakkan untuk membelai punggung Kyungsoo. Berharap Kyungsoo bisa lebih tenang karena hal yang dilakukannya.
#Mr. Normal
Dengan telaten Kyungsoo mengobati luka lebam di pipi kiri Jongin. Di pangkuannya terdapat kotak P3K, dan di tangan kanannya terdapat kapas yang sudah diberi obat untuk mengobati luka yang disebabkan oleh dirinya itu.
Sepasang roommate itu tak saling bicara. Kyungsoo dengan serius mengobati luka Jongin, sedangkan Jongin dengan serius memperhatikan wajah Kyungsoo yang dekat dengan wajahnya.
Kyungsoo tampak begitu cantik.
Ya. Cantik. Jongin kini tak lagi ragu untuk menganggap Kyungsoo itu cantik karena memang itulah faktanya.
Ia tak peduli Kyungsoo itu pria atau wanita. Yang jelas, Kyungsoo tetaplah cantik. Jongin akhirnya mengakui hal itu setelah sekian lama ia menyangkal orientasi-nya yang menyimpang.
Meskipun mata Kyungsoo tampak bengkak karena terlalu lama menangis, tapi Kyungsoo tetap mempesona.
Jongin jadi merasa malu sendiri karena dulu ia sempat merasa takut pada wajah yang sebenarnya manis dan cantik itu.
Kyungsoo itu sebenarnya juga lembut. Hal itu terlihat jelas dari caranya mengobati luka Jongin. Sangat lembut dan telaten. Jongin rasa, Kyungsoo memiliki sisi keibuan yang selama ini tertimbun di bawah sifatnya yang sangat dingin.
Di mata Jongin, Kyungsoo mirip dengan ibunya. Ah~ Jongin jadi merindukan sang ibu. Sudah hampir satu minggu Jongin tak bertemu dengan sosok yang telah melahirkannya itu.
"Aku minta maaf," Kyungsoo berujar saat ia selesai mengobati luka Jongin.
Tangan kecilnya dengan lincah kembali membereskan obat-obatan dalam kotak P3K, lalu meletakkan kotak itu di atas ranjang Jongin.
"Tidak apa-apa, Kyungsoo. Yang penting kau sudah paham bahwa aku mendekati Krystal bukan karena aku ingin merebutnya darimu, tapi karena aku sangat peduli padamu dan ingin tahu tentang dirimu yang sebenarnya."
Kyungsoo memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya yang tadi menunduk. Ia menatap ragu-ragu pada mata Jongin yang sedang menatapnya lembut.
Jika biasanya Kyungsoo sangat membenci tatapan Jongin, namun kali ini rasanya berbeda. Ia bisa melihat ketulusan di mata itu, dan itu membuatnya tersenyum.
Sekali lagi. DO KYUNGSOO TERSENYUM!
Jongin saja terpana melihat senyum itu. Senyum yang sebenarnya hanya tipis itu rupanya mampu menggetarkan hati Jongin. Bahkan perut Jongin rasanya ikut tergelitik.
Sensasi macam apa itu? Jongin belum pernah merasakan sensasi itu sebelumnya, tapi ia tak berdusta bahwa ia menyukai sensasi itu.
Atmosfer hangat di ruang kamar itu tiba-tiba terganggu oleh suara dering ponsel Jongin.
Jongin sempat berdecak sebelum akhirnya ia meraih smartphone miliknya yang ia letakkan di atas meja nakas.
"Yoboseyo?" Jongin mulai bicara dengan seseorang di ujung telepon.
Kyungsoo hanya bisa diam sambil memperhatikan Jongin yang entah bicara dengan siapa.
Sambungan telepon Jongin mungkin hanya berlangsung dua menit, dan Jongin kembali mengalihkan atensinya pada Kyungsoo.
"Siapa yang menelepon?"
Jongin sedikit melebarkan matanya begitu mendengar pertanyaan Kyungsoo. Biasanya Kyungsoo tak pernah peduli pada siapa yang menelepon Jongin meskipun sering sekali Jongin mendapatkan telepon saat berada di kamar.
Tapi ini apa? Kenapa tiba-tiba Kyungsoo peduli?
Tak mau ambil pusing, Jongin akhirnya menjawab pertanyaan Kyungsoo. "Ayahku. Beliau menyuruhku untuk pulang besok. Besok weekend, 'kan?"
Kyungsoo mengangguk datar.
Sekedar informasi, para siswa yang tinggal di asrama diperbolehkan pulang ke rumah saat akhir pekan.
"Oh iya, Kyungsoo," suara Jongin kembali terdengar. "Krystal bercerita padaku bahwa kau tak pernah pulang ke rumah selama bersekolah disini. Apa itu benar?"
Sebenarnya Jongin sedikit merasa takut saat melontarkan pertanyaan itu. Tapi sekali lagi, rasa penasaran membuat Jongin lebih berani.
Untungnya, Kyungsoo tidak terlihat marah mendengar pertanyaan Jongin. "Ya, itu benar. Aku memang tak pernah mau pulang ke rumah. Aku lebih suka disini."
Jongin memandang Kyungsoo sendu, tapi beberapa saat kemudian Jongin seperti mendapat sebuah ide yang brilian. "Bagaimana kalau besok kau ikut aku pulang ke rumahku? Ayah dan ibuku sangat baik. Mereka pasti akan menyukaimu," tawar Jongin.
Kyungsoo sedikit terkejut mendengar tawaran Jongin.
Jongin sadar bahwa Kyungsoo merasa ragu, makanya ia memutuskan untuk menggenggam dua tangan Kyungsoo, kemudian memandang roommate-nya itu dengan tatapan pengharapan. "Ayolah, Kyungsoo. Sekali-sekali kau harus meninggalkan kamar ini. Kumohon~"
Kyungsoo masih diam, tapi matanya mengarah pada tangannya yang digenggam oleh Jongin.
Kenapa tangan besar Jongin terlihat sangat pas saat melingkupi tangan kecil Kyungsoo? Kenapa tangan mereka seperti puzzle yang saling melengkapi?
Setelah beberapa saat berpikir sembari terus menatap dua pasang tangan mereka yang saling bertaut, akhirnya Kyungsoo kembali mengangkat kepalanya untuk menatap Jongin. "Baiklah, Jongin. Aku mau."
#Mr. Normal
Sabtu pagi itu, Kyungsoo terlihat sedang memasukkan beberapa helai pakaian di ranselnya.
Pakaian-pakaian itu yang akan ia bawa ke rumah Jongin. Rencananya, ia dan Jongin hanya akan menghabiskan dua hari satu malam di kediaman keluarga Kim. Jadi, Kyungsoo tak perlu membawa pakaian terlalu banyak.
Jika boleh jujur, Kyungsoo sebenarnya merasa kurang yakin pada acara menginapnya. Ia bukan orang yang mudah bergaul, dan rasanya sungguh aneh ketika tiba-tiba ia menyanggupi permintaan Jongin.
Kyungsoo mulai berpikir yang tidak-tidak. Bagaimana jika ternyata orang tua Jongin itu jahat? Bagaimana jika ternyata Jongin hanya ingin menjahilinya? Bagaimana jik—
"Kyungsoo?" suara panggilan Jongin memutus deretan pikiran negatif yang ada di otak Kyungsoo. "Kau melamun?" kembali suara Jongin terdengar.
Sedari tadi pria itu menatap Kyungsoo sehingga ia merasa aneh ketika Kyungsoo hanya diam dengan tatapan mata kosong. Jongin tentu tak harus membawa pakaian untuk pulang ke rumah. Ia masih punya stok pakaian di rumahnya.
"Eh? Tidak," Kyungsoo menjawab seadanya.
Melihat teman sekamarnya tampak linglung, Jongin tersenyum lembut. "Kau seperti orang yang akan dieksekusi mati, kau tahu?"
Kyungsoo tak mengubah ekspresinya saat Jongin bicara lagi dengan nada mengejek. "Kau yakin orang tuamu adalah orang yang baik? Kau yakin mereka tidak akan mengusirku? Kau tid—"
"Hey..." Jongin memotong rentetan pertanyaan yang dilontarkan oleh Kyungsoo. "Sejak kapan kau bisa bicara panjang lebar dalam tempo cepat seperti itu?" pria tan itu terkekeh. "Orang tuaku adalah orang yang baik. Mereka tidak akan mengusirmu. Dan terakhir, aku tidak akan menjahilimu."
Kyungsoo menatap Jongin tak percaya. Baru saja Jongin menjawab dua pertanyaannya, sekaligus menjawab satu pertanyaan yang bahkan belum selesai ia ucapkan. Jongin seperti bisa membaca pikiran Kyungsoo.
Melihat Kyungsoo yang masih diam tak sedikitpun mengeluarkan suara, Jongin akhirnya berdiri dari ranjangnya, lalu berjalan mendekati Kyungsoo. Puk. Dua tangannya ia jatuhkan di atas bahu sempit Kyungsoo begitu ia berada tepat di depan sang roommate.
"Jangan takut," Jongin memulai. Ia menatap lembut mata Kyungsoo yang sedetik yang lalu sempat melebar. "Aku selalu di sampingmu. Berpeganglah padaku ketika kau takut. Mengerti?"
Seolah terhipnotis, Kyungsoo menganggukkan kepalanya pelan.
"Anak pintar," kata Jongin lagi. Kali ini sembari mengusak pelan helai rambut hitam Kyungsoo.
Uh! Kyungsoo mulai merasa aneh!
#Mr. Normal
Jongin dan Kyungsoo baru saja keluar dari mobil BMW hitam yang mengangkut mereka ke kediaman keluarga Kim.
Kyungsoo baru tahu bahwa ternyata Jongin lumayan kaya. Hal itu terlihat dari merk mobil yang baru saja ia naiki, dan juga terlihat dari rumah besar yang ada di depannya.
Ya~ walaupun sebenarnya Kyungsoo juga tak kalah kaya. Hanya saja, Kyungsoo tak pernah peduli dengan hal yang berhubungan dengan harta. Menurutnya, harta itu hanya semu. Harta hanya menghadirkan banyak kesombongan dan kelicikan.
Apalagi, Kyungsoo saat ini tak menikmati harta keluarganya. Harta keluarganya dikuasai oleh ayah dan istri barunya. Ia sama sekali tak dipikirkan oleh mereka.
"Ayo jalan," ajak Jongin. Tanpa sadar sebelah tangan Jongin menggenggam tangan Kyungsoo. Mengajak Kyungsoo untuk berjalan mengikutinya.
Mau tak mau, Kyungsoo mengikuti Jongin walaupun matanya terus terpaku pada jemarinya yang bertautan dengan jemari Jongin.
Begitu sampai di depan pintu utama, Jongin menekan bel yang berada tepat di samping pintu.
Mereka berdua tak perlu menunggu lama karena beberapa detik setelahnya, pintu putih itu terbuka, dan menampilkan sosok wanita yang mungkin berusia kepala empat.
"Jongin!" wanita yang masih terlihat cantik itu memekik begitu melihat sosok Jongin di depannya.
Refleks, Jongin melepas genggaman tangan Kyungsoo, lalu memeluk wanita itu. Kyungsoo terpaksa harus merelakan rasa hangat di tangannya lenyap begitu saja.
"Eomma!" Jongin ikut-ikutan memekik.
Sepasang ibu dan anak itu terus saling memeluk dengan erat, seolah mereka sudah tak bertemu selama bertahun-tahun.
Kyungsoo tanpa sadar tersenyum tipis. Ia jadi ingat pada ibunya yang telah tiada.
Setelah beberapa saat, Jongin akhirnya melepas pelukan ibunya, dan membelai pipi tirus wanita yang sangat disayanginya itu. "Aku merindukan eomma," rengeknya manja.
Ibu Jongin gemas, lalu mencubit hidung Jongin pelan. "Kau sangat manja! Tapi eomma juga merindukanmu," ucapnya. Wanita dengan rambut sebahu itu selanjutnya menyadari bahwa putranya tak sendirian, dan ia mengalihkan pandangannya pada Kyungsoo. "Pasti ini Do Kyungsoo? Aigoo~ imut sekali. Sini eomma peluk."
Kyungsoo tak bergeming menatap ibu Jongin yang kini sudah merentangkan tangannya. Berharap Kyungsoo akan segera menghambur ke pelukannya.
Sejenak Kyungsoo melirik Jongin, dan pria itu tersenyum padanya. Seolah Jongin memberikan kode agar Kyungsoo melakukan apa yang diharapkan oleh ibunya.
Meskipun sebenarnya merasa ragu, tapi Kyungsoo akhirnya memeluk ibu Jongin.
Hal pertama yang Kyungsoo rasakan saat itu adalah...hangat.
Pelukan ibu Jongin sama hangatnya dengan pelukan Jongin. Ia merasa sedang memeluk ibunya, dan ia merasakan matanya memanas. Tapi sebisa mungkin Kyungsoo mencoba untuk menahan air matanya. Sudah cukup semalam ia menangis hebat.
"Jongin banyak bercerita tentangmu. Ia bercerita bahwa kau adalah roommate-nya yang sangat baik. Terimakasih banyak, sayang. Jongin itu sangat manja, tapi kau mau membantunya selama di sekolah."
Tubuh Kyungsoo menegang dalam pelukan ibu Jongin. Sedikit melirik Jongin, ia menemukan teman sekamarnya itu tersenyum menenangkan padanya.
Jongin sudah mengubah cerita rupanya. Mengubah fakta di depan ibunya, dan menutupi hal yang sebenarnya bahwa Kyungsoo adalah roommate yang buruk.
Tak berselang lama, ibu Jongin membebaskan tubuh Kyungsoo dari dekapan hangatnya, lalu membingkai wajah Kyungsoo dengan tangan halusnya. "Ya Tuhan...aku tidak tahu bahwa di dunia ini ada pria se-imut dirimu, sayang. Kau seharusnya tinggal disini saja. Eomma akan memasak untukmu, menyanyikan lullaby ketika kau akan tidur, dan mencium dua pipi tembam-mu ketika kau akan bersekolah."
Air mata di pelupuk mata bundar Kyungsoo semakin banyak, namun dengan cepat Kyungsoo mengusap matanya supaya benda bening itu tak menetes di pipinya. "Te-terimakasih, bibi."
Mendengar kata sapa yang digunakan Kyungsoo, ibu Jongin mengernyit. "Jangan memanggilku bibi. Panggil eomma saja, ne? Eomma menyayangimu, dan sudah menganggapmu seperti putra eomma. Lagipula, Jongin itu anak tunggal, dan eomma ingin memiliki putra yang lain. Bagaimana?"
Kyungsoo tak lantas menjawab. Ia hanya menatap ibu Jongin dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca. Lagi-lagi ia melirik Jongin, dan pemuda tinggi itu lagi-lagi hanya tersenyum padanya.
Kyungsoo kembali menatap ibu Jongin. Wanita dewasa itu menatapnya dengan tatapan tulus. Tatapan yang semalam ia lihat di mata Jongin. Sungguh wanita di depannya sekarang sangat mirip dengan Jongin.
"A-aku mengerti, e-eomma," akhirnya Kyungsoo mengabulkan harapan ibu Jongin.
Ibu Jongin tersenyum sangat lebar. Terlihat sekali kepuasan di wajahnya.
Ibu kandung Jongin itu selanjutnya berjinjit, lalu mencium kening Kyungsoo lembut. "Selamat datang di rumah, sayang."
#Mr. Normal
Jongin, Kyungsoo, dan juga ibu Jongin kini sudah berpindah ke ruang tamu.
"Di rumah ini sebenarnya ada empat kamar. Satu kamar eomma dan appa, satu kamar Jongin, dan dua kamar tamu. Tapi sebulan yang lalu kami mengubah satu kamar kami menjadi gudang karena kamar itu tak pernah digunakan. Lalu satu kamar tamu yang lain sedang dalam renovasi, karena dua hari yang lalu sepupu kecil Jongin datang, kemudian ia membuat kerusakan kecil di kamar itu."
Kerusakan kecil yang dimaksud oleh ibu Jongin sebenarnya bukan benar-benar kerusakan kecil.
Apa menurutmu kerusakan semacam: kaca meja rias hancur, pintu lemari pakaian terlepas, ranjang king size ambrol, gorden di jendela robek menjadi potongan-potongan kecil, dan dinding yang dipenuhi oleh pilox warna-warni merupakan kerusakan kecil?
Ah~ salahkan saja sepupu Jongin yang berusia tujuh tahun itu. Entah kenapa anak kecil itu merusak kamar tamu di rumah Jongin.
"Lalu Kyungsoo harus tidur dimana, eomma?" tanya Jongin.
Ibu Jongin meletakkan jari telunjuknya di dagu. Memasang pose berpikir. "Sebenarnya eomma ingin Kyungsoo tidur bersama eomma, tapi eomma yakin bahwa appa-mu tak akan mengizinkannya," Jongin memutar bola matanya malas mendengar ucapan ibunya. Ibunya sekarang sudah seperti seorang pedofil. "Kyungsoo tidur di kamarmu saja, Jongin. Kalian 'kan sudah biasa tidur di kamar yang sama."
Jongin dan Kyungsoo melebarkan mata mereka bersamaan. "Ka-kami memang tinggal sekamar di asrama, tapi tidak di satu ranjang, eomma," itu Jongin yang bicara. Kyungsoo memilih diam walau dalam hati ia menolak usulan ibu Jongin.
"Oh ayolah, Jongin," ibu Jongin mulai merengek. "Tidur satu ranjang tidak akan membuat Kyungsoo hamil. Kecuali jika kau melakukan hal yang iya-iya padanya."
Blush. Jongin dan Kyungsoo sama-sama merona.
Tapi selanjutnya Jongin membantah candaan ibunya dengan mengatakan bahwa Kyungsoo itu laki-laki, dan Kyungsoo tak akan bisa hamil.
Namun sayangnya ibu Jongin justru tertawa keras mendengarnya. Ibu Jongin selanjutnya semakin bersemangat mengusulkan dua anak muda itu untuk tidur satu kamar.
Mau tak mau, Jongin dan Kyungsoo hanya bisa mengangguk patuh.
Jongin lalu mengajak Kyungsoo ke kamarnya untuk meletakkan ransel Kyungsoo terlebih dahulu.
Kyungsoo berpamitan pada ibu Jongin, kemudian berjalan mengikuti Jongin dari belakang.
Ibu Jongin tersenyum lembut melihat pemandangan itu.
Satu fakta yang harus diketahui: ibu Jongin sebenarnya tahu hal yang sebenarnya tentang Kyungsoo. Jongin dengan jujur menceritakan semua tentang Kyungsoo pada ibunya. Ia tak pernah berbohong pada wanita yang telah melahirkannya itu.
Tapi ibu Jongin tak marah walaupun Kyungsoo selama ini memperlakukan Jongin dengan buruk. Ia justru merasa iba pada Kyungsoo, dan merasa harus menyayangi sosok mungil itu.
Satu fakta lagi: ibu Jongin juga tahu tentang luka lebam di pipi Jongin. Semalam putranya itu mengiriminya pesan singkat berisi curahan hatinya tentang Kyungsoo yang memukulnya karena masalah wanita.
Jongin bukannya pria yang suka mengadu, tapi ia merasa perlu bercerita pada sang ibu. Dan Jongin merasa senang karena ibunya itu bisa bersikap bijak, dan sekarang justru sangat menyayangi Kyungsoo.
#Mr. Normal
Klek. Jongin membuka pintu kamarnya, lalu mempersilahkan Kyungsoo masuk ke dalam kamar bernuansa warna merah itu. Sepertinya Jongin menyukai warna itu.
"Ehm...maafkan ibuku, Kyungsoo. Beliau memang suka bercanda," Jongin menggaruk belakang kepalanya sembari memperhatikan Kyungsoo yang sedang mengamati kamarnya.
Kamar Jongin cukup luas, dan tidak terlalu berantakan untuk ukuran kamar pria. Ranjang di kamar itu juga besar sehingga Kyungsoo tak perlu khawatir meskipun mereka harus tidur bersama.
Tidur bersama? Entah kenapa Kyungsoo jadi gugup sendiri memikirkan hal itu.
"Tidak apa-apa. Ibumu adalah orang yang baik," balas Kyungsoo.
"Ibuku sekarang juga menjadi ibumu, Kyungsoo."
Kyungsoo tak lagi membalas ucapan Jongin. Dengan tenang ia meletakkan ranselnya di atas lantai, kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang Jongin. "Kau keberatan kalau aku tidur sebentar? Semalam aku tidak bisa tidur."
Jongin terkekeh geli mendengar perkataan Kyungsoo. Walaupun nada bicaranya masih terasa dingin, namun saat ini Jongin tak menganggap hal itu sebagai hal yang menyeramkan.
"Baiklah. Kau boleh tidur. Tapi sebaiknya aku membenarkan posisi tidurmu," Jongin berjalan mendekati Kyungsoo, kemudian mengangkat tubuh Kyungsoo hingga berada di tengah ranjang —tadi Kyungsoo tidur di tepi ranjang dengan kakinya yang menggantung di lantai-.
Lagi-lagi Kyungsoo blushing. Ia heran kenapa dengan mudahnya ia merona tiap kali ia berdekatan dengan Jongin.
Menyadari Kyungsoo merona, Jongin segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh Kyungsoo. "Aku akan ke dapur untuk membantu eomma menyiapkan makan siang."
Jongin berlari keluar kamar sebelum Kyungsoo sempat merespon. Pria berbadan tegap itu tampaknya juga merasa malu atas ulahnya tadi.
#Mr. Normal
Waktu sepertinya berjalan begitu cepat saat Kyungsoo berada di kediaman keluarga Kim. Tak terasa, kini malam sudah menjelang.
Kyungsoo merasakan kebahagiaan saat berada di rumah Jongin. Sejak tadi moment makan siang, ia merasakan kehangatan seorang ibu karena ibu Jongin begitu memperhatikan dan menyayanginya.
Kyungsoo yang biasanya sangat jarang tersenyum, hari ini ia cukup sering tersenyum walaupun hanya sebatas pada senyuman tipis saja.
Setidaknya, Kyungsoo lebih bisa mengeluarkan ekspresi hari ini.
Saat ini keluarga Kim plus Kyungsoo sedang makan malam bersama di ruang makan.
Tadi Kyungsoo sempat merasa gugup sebelum bertemu dengan ayah Jongin, tapi ternyata ayah Jongin juga baik padanya.
Mungkin ayah Jongin memang tak se-ramah ibu Jongin, tapi paling tidak beliau menerima dengan baik kehadiran Kyungsoo. Pria yang usianya sedikit lebih tua dibanding ibu Jongin itu bahkan meminta Kyungsoo untuk memanggilnya 'appa'.
Kyungsoo rasanya memiliki keluarga yang lengkap, meskipun itu hanya untuk satu hari saja.
"Jongin..." suara berat ayah Jongin terdengar. Keluarga kecil itu baru saja selesai makan malam, namun masih belum beranjak dari meja makan. "Kau sudah punya kekasih?"
Uhuk. Jongin tersedak air putih yang baru ia minum.
Merasa kasihan, Kyungsoo mengusap pelan punggung Jongin supaya pria itu tak terlalu kesakitan.
Efek usapan Kyungsoo pun langsung terasa karena Jongin tak lagi terbatuk. Usapan Kyungsoo memiliki magis atau bagaimana? Entahlah. Hanya Jongin yang tahu tentang hal itu.
"Kenapa appa menanyakan hal itu lagi?" Jongin balas bertanya dengan malas.
"Kau pasti belum punya kekasih, 'kan? Bukankah bulan lalu appa sudah menyuruhmu untuk mencari kekasih? Usiamu sudah 17 tahun, Jongin. Dulu appa mulai berpacaran sejak usia 13 tahun. Lalu dirimu? Kau bahkan belum pernah berpacaran."
Wajah Jongin memerah karena malu. Aibnya dibongkar di depan roommate-nya, dan ia sangat merasa malu.
Tapi mau apa lagi? Hal yang dikatakan ayah Jongin adalah fakta. Jongin memang belum pernah berpacaran. Bukannya Jongin tidak laku. Hanya saja, Jongin memang tidak pernah tertarik pada seseorang.
"Usiaku masih muda, appa. Seharusnya appa bangga karena memiliki anak yang tidak sibuk pacaran. Bukannya malah menyuruhku berpacaran begini."
Ayah Jongin memutar bola matanya bosan. Kalimat Jongin itu sudah ia dengar puluhan kali. Putra tunggalnya itu benar-benar tak kreatif.
Tak mau mempermasalahkan ucapan Jongin, ayah Jongin mengarahkan pandangannya pada Kyungsoo yang dari tadi diam. "Kyungsoo, kau sudah punya kekasih?"
Kyungsoo terkejut mendengar pertanyaan ayah Jongin, tapi selanjutnya ia menjawab pelan. "I-iya. Saya sudah punya kekasih."
Mendengar jawaban Kyungsoo, ayah Jongin tersenyum lebar, dan kembali menatap Jongin. "Kau lihat, Jongin? Temanmu sudah punya kekasih, sedangkan kau bahkan belum pernah jatuh cinta. Kau tidak malu, huh?"
Posisi Jongin semakin tersudut.
"Begini saja, Jongin," kembali ayah Jongin berbicara. "Appa memberimu waktu satu minggu untuk mencari kekasih. Kalau kau tak juga bisa mendapatkan seorang kekasih, maka appa akan menjodohkanmu dengan putri rekan kerja appa."
Tiga orang yang ada di ruang makan itu terkejut mendengar keputusan sang kepala keluarga.
Ibu Jongin saja ikut terkejut. "Yeobo, bukankah itu terlalu berlebihan?"
Ayah Jongin dengan tegas menggelengkan kepalanya. "Tidak. Pokoknya minggu depan Jongin harus membawa kekasihnya ke rumah, atau Jongin akan dijodohkan."
Jongin mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia tahu bahwa ayahnya adalah orang yang baik dan penyayang, tapi ia juga tahu bahwa ayahnya adalah orang yang tegas.
Jongin sebelumnya sudah diperbolehkan untuk pindah sekolah sesuai dengan keinginannya, dan ia yakin jika kali ini ayahnya tak akan mudah mengabulkan keinginannya.
Oleh karena itu, Jongin memutuskan untuk tak menolak sesuai dengan keinginannya yang sebenarnya. "Baiklah, appa," ia memutuskan untuk setuju. "Aku akan membawa kekasihku ke rumah ini, karena sesungguhnya aku sudah menemukan seseorang yang aku cintai."
Entah sadar atau tidak, detik itu Jongin melirik pada Kyungsoo yang duduk tepat di sebelahnya. Sayangnya Kyungsoo tak menyadari hal itu.
..
..
TBC
Chapter 6 diupdate~
aku ketawa lho waktu baca review2 yg masuk. reaksinya lucu2 waktu baca ttg KyungStal di chapter kemarin. tapi bisa dipastikan bahwa disini main pair-nya adalah KaiSoo, dan aku konsisten dengan hal itu. walaupun mungkin bakalan ada moment KyungStal maupun couple lain buat ke depannya.
di chapter 6 ini hubungan KaiSoo baru mulai membaik. kalo sebelum2nya kan mereka masih sering gak akur, nah disini mereka mulai akur. tapi ya konflik yang sebenernya emang belum muncul. ini aku kasih moment manisnya KaiSoo dulu. hehe.
makasih ya buat yg dari awal udah ninggalin review. aku berharap bakal tetep ada yg review supaya aku semangat lanjutin FF ini :)
