Title: Mr. Normal

Pairing: KaiSoo as main pair

Cast for this chapter: Kai EXO as Kim Jongin, D.O EXO as Do Kyungsoo, Nichkhun 2PM as Nichkhun

Rate: T

Genre: Romance, Drama, Hurt, Friendship

Length: Chaptered [7/?]

Summary for chap 7:

Jongin terlanjur menyanggupi tantangan ayahnya padahal ia tak memiliki kekasih untuk dibawa pulang. Jadilah ia meminta pertolongan kepada Kyungsoo. Ia meminta Kyungsoo untuk...

NOTE: special for syafakamilla yang request FF KaiSoo :)

Aku disini pinjem nama SOPA cuma sekedar pinjem nama sekolah aja. Tapi untuk urusan teknis tentang SOPA di FF ini 100% merupakan hasil imajinasiku. Jadi barangkali beda sama kenyataannya. Harap maklum

YAOI | CHAPTERED | SCHOOL LIFE | AU | OOC | TYPO | DLDR | NO PLAGIAT

Previous Chapter:

Oleh karena itu, Jongin memutuskan untuk tak menolak sesuai dengan keinginannya yang sebenarnya. "Baiklah, appa," ia memutuskan untuk setuju. "Aku akan membawa kekasihku ke rumah ini, karena sesungguhnya aku sudah menemukan seseorang yang aku cintai."

Entah sadar atau tidak, detik itu Jongin melirik pada Kyungsoo yang duduk tepat di sebelahnya. Sayangnya Kyungsoo tak menyadari hal itu.

..

CHAPTER 7 (A Favor)

HAPPY READING!


Suasana kamar Jongin sangat sepi saat ini. Itu bukan karena di kamar itu sedang tidak ada orang. Faktanya, di kamar itu ada Jongin dan Kyungsoo yang sama-sama tak mengeluarkan suara.

Kyungsoo duduk di tepi ranjang sembari menunduk, sementara Jongin berdiri di dekat jendela kamar yang terbuka, mengamati keadaan luar yang juga sepi. Maklum, kini hari sudah cukup larut.

"Maaf karena tadi kau harus melihat tingkah kolot ayahku," Jongin membuka suara.

Kyungsoo mengangkat kepalanya untuk menghadap Jongin. "Tidak masalah. Aku berpura-pura tidak mendengar semuanya, jadi kau tenang saja."

Mendengar jawaban Kyungsoo, akhirnya Jongin menoleh pada sosok mungil itu, kemudian berjalan mendekatinya. Ia duduk di samping Kyungsoo. "Tadi kau tampak terkejut. Tentu kau tidak berpura-pura untuk tidak mendengar semuanya, 'kan?"

"Aku ini punya telinga," dengan cepat Kyungsoo membalas ucapan Jongin. "Jadi bukan salahku kalau aku mendengar semuanya."

Setelah selesai bicara, Kyungsoo kembali menundukkan kepalanya.

Ia merasa tak nyaman berduaan di kamar itu bersama Jongin. Sebenarnya ia ingin langsung tidur supaya tak harus terlibat pembicaraan dengan Jongin, tapi ia sendiri tak yakin bisa memejamkan matanya dengan tenang saat batinnya sendiri tak merasa tenang.

Tiba-tiba saja, Jongin merebahkan badannya ke atas ranjang —namun kakinya masih menggantung di lantai-.

"Aku bingung," Jongin bicara dengan nada lemah. "Dimana aku bisa menemukan kekasih dalam waktu satu minggu?" pertanyaan itu sepertinya adalah pertanyaan untuk diri Jongin sendiri.

Kyungsoo yang mendengar pertanyaan Jongin kini menoleh untuk menatap Jongin. Ia tentu harus sedikit menunduk karena sekarang Jongin sedang berbaring. "Apa maksudmu? Bukankah tadi kau berkata bahwa kau sudah menemukan seseorang yang kau cintai?"

Kyungsoo tak bermaksud untuk ikut campur, tapi ia hanya merasa aneh dengan tingkah Jongin.

Jongin balas menatap Kyungsoo, dan ia baru menyadari bahwa Kyungsoo tetap manis walaupun dipandang dari sudut manapun.

Saat dipandang dari bawah seperti ini, Kyungsoo tetap terlihat indah di mata Jongin. Bahkan Kyungsoo terlihat berkilau karena efek cahaya lampu yang menggantung di langit-langit kamar.

"Aku memang sudah menemukan orang itu, tapi jujur saja, aku masih ragu pada perasaanku."

Mendengar jawaban Jongin, Kyungsoo merasa sedikit kaget. Sepertinya malam ini justru menjadi sesi curhat bagi mereka, dan Kyungsoo tak menyangka Jongin akan bersikap sangat terbuka padanya.

"Kenapa kau ragu pada perasaanmu sendiri?" akhirnya Kyungsoo bertanya setelah beberapa detik ia terdiam.

"Itu karena, perasaanku ini sepertinya sedikit salah. Tak seharusnya aku merasakan hal ini pada orang itu. Dan lagi, aku sebenarnya belum yakin bahwa perasaan ini adalah cinta."

Kyungsoo diam lagi. Ia sama sekali tak curiga bahwa sebenarnya dirinyalah yang dimaksud oleh Jongin sejak tadi.

Ya. Jongin sedang membicarakan mengenai perasaannya pada Kyungsoo yang sebenarnya sampai sekarang belum diakuinya. Penyangkalan di hati Jongin tetap ada, dan itu mengganjal langkahnya.

Mungkin tadi ia sempat keceplosan mengaku saat di meja makan, tapi sesungguhnya itu diluar kendalinya. Sesungguhnya ia tak yakin pada apa yang ia ucapkan.

"Kyungsoo, bisa kau jelaskan padaku tentang perasaanmu pada Krystal? Aku ingin tahu seperti apa cintamu padanya. Aku ingin tahu apa itu cinta."

Kyungsoo mengalihkan pandangannya dari Jongin, dan kini ia sedikit mendongakkan kepalanya menatap langit-langit kamar. "Perasaanku padanya tidak bisa dijelaskan. Aku hanya selalu ingin bersamanya, dan ingin ia selalu ada di sampingku."

Jongin secara mendadak bangkit dari posisinya tadi, dan kini ia kembali dalam posisi duduknya di samping Kyungsoo. "Apa benar itu yang disebut dengan cinta? Menurutku, itu lebih pada perasaan membutuhkan. Layaknya aku yang membutuhkan orang tuaku untuk selalu di sampingku."

Kyungsoo menurunkan pandangannya, dan kini menatap Jongin lagi. Ia diam menatap wajah Jongin yang kini terlihat serius.

Jujur, Kyungsoo tak tahu harus bagaimana membalas ucapan Jongin. Pasalnya, hal yang ia katakan tadi adalah hal yang ia rasakan pada Krystal. Dan baginya, itu adalah cinta.

Ia tak pernah mempertanyakan perasaan cintanya pada Krystal. Ia tahu bahwa ia mencintai Krystal, tapi ia tak bisa mendefinisikan rasa cintanya itu.

"Sudahlah. Bukankah tadi kita sedang membicarakan tentang dirimu, dan bukan aku?" tanya Kyungsoo setelah beberapa menit ia larut dalam pikirannya sendiri.

Jongin menghela nafas. Mengorek informasi dari seorang Do Kyungsoo memang tak mudah. "Ok, kita sedang membahas diriku," seperti biasa, ia mengalah. "Jadi, dimana aku bisa menemukan seorang kekasih dalam waktu satu minggu?"

Pandangan mata Kyungsoo ke Jongin kini berubah menjadi malas-malasan. "Bukankah di sekolah kau memiliki banyak penggemar, tuan populer?"

Oh! Kyungsoo menyindirnya!

Tapi Jongin memilih untuk tak menanggapi sindiran itu. Yang ada, Jongin malah terus menatap wajah Kyungsoo dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Mungkin ia memang belum bisa memastikan perasaannya pada Kyungsoo. Tapi yang jelas, Jongin sangat suka memandangi wajah Kyungsoo.

Bisakah Jongin memandang Kyungsoo seperti ini untuk selamanya? Bisakah Jongin membuat Kyungsoo tersenyum bahagia karena kehadirannya?

Tapi Jongin cukup sadar diri. Ia tak berhak memandang Kyungsoo untuk selamanya, dan ia tak berkewajiban untuk membuat Kyungsoo tersenyum bahagia.

Kyungsoo sudah memiliki seseorang yang berhak memandangnya.

Kyungsoo sudah memiliki seseorang yang wajib membuatnya tersenyum bahagia.

Andai Jongin bisa memiliki Kyungsoo. Tapi agaknya itu merupakan hal yang tabu. Gay tentu akan menjadi hal yang tidak lumrah, dan orang tuanya tak akan menerima hal itu dengan mudah.

Seharusnya saat ini Jongin memikirkan cara untuk mencari seorang kekasih, bukannya malah memikirkan Kyungsoo. Ia harus membawa seorang kekasih agar ayahnya tak menjodohkannya. Bagaimanapun caranya, Jongin harus segera mendapatkan kekasih.

Di tengah rasa putus asa, tiba-tiba Jongin menemukan setitik pencerahan.

Dengan cepat ia memegang pundak Kyungsoo supaya atensi Kyungsoo sepenuhnya mengarah padanya. "Kyungsoo, aku membutuhkan bantuanmu supaya aku bisa membawa seorang kekasih ke hadapan ayahku," Jongin berujar dengan semangat, sedangkan Kyungsoo hanya memandangnya bingung. "Aku ingin kau..."

Kyungsoo dengan pandangan tidak sabar menunggu lanjutan ucapan Jongin. Sungguh. Lelaki tan itu seperti sengaja membuatnya penasaran.

"...aku ingin kau meminjamkan Krystal padaku untuk menjadi kekasih pura-pura-ku."

Sontak mata Kyungsoo melotot, beserta bibirnya yang refleks membentuk kata tanya dengan suara keras. "APA?"

"Hanya pura-pura, Kyungsoo. Aku tidak mudah akrab dengan gadis, dan di sekolah aku hanya cukup akrab dengan Krystal. Hanya Krystal yang bisa membantuku."

"Tidak!" dengan tegas Kyungsoo menolak. "Mana bisa aku merelakan kekasihku untuk berdekatan dengan pria lain? Jangan bermimpi kau!"

Wajah Jongin tertekuk begitu mendengar penolakan Kyungsoo. Tapi detik berikutnya ia memiliki sebuah ide untuk membuat Kyungsoo berubah pikiran.

Hanya Krystal yang bisa menyelamatkan Jongin dari perjodohan, dan ia harus melakukan apapun untuk meyakinkan Kyungsoo.

Pelan tapi pasti, Jongin mendekatkan wajahnya pada wajah Kyungsoo. Itu bagian dari ide barunya. "Kalau kau memang tidak mengizinkan Krystal untuk membantuku, bagaimana jika kau saja yang membantuku? Bagaimana jika kau berpura-pura menjadi...kekasihku?"

Plak. Tamparan ringan Kyungsoo mendarat di pipi kanan Jongin. Hanya tamparan yang sangat ringan, tapi itu membuat Jongin refleks menjauhkan wajahnya dari Kyungsoo.

"KAU GILA, HAH?" Kyungsoo menambah volume suaranya. Untung kamar Jongin kedap suara. "Aku masih normal, Kim Jongin! Dan aku tidak mau berpura-pura menjadi seorang gay!" wajah Kyungsoo kini merah padam bak kepiting rebus karena ia marah besar.

Sebenarnya Jongin merasa tertusuk mendengar penolakan Kyungsoo. Ia merasa sakit karena secara tidak langsung, Kyungsoo tidak ingin menjadi gay. Itu berarti, Jongin hanya akan bertepuk sebelah tangan jika ia benar-benar jatuh hati pada Kyungsoo.

Tapi Jongin menutup rapat rasa sakit hatinya. Ia tersenyum lemah, namun Kyungsoo tak menyadarinya. "Kalau begitu, izinkan aku meminjam Krystal. Dengan begitu, kau tidak perlu berpura-pura menjadi gay," Jongin menjelaskan dengan pelan. "Aku janji tidak akan merebut Krystal darimu. Aku juga hanya membawa pergi Krystal selama satu hari saja, lalu aku akan mengembalikannya padamu."

Kyungsoo tampak mempertimbangkan ucapan Jongin. Tatapan memelas Jongin cukup mengusik batin Kyungsoo. Walaupun ia sangat cuek, tapi ia tahu bahwa Jongin membutuhkan Krystal saat ini.

Jadi, Kyungsoo sudah mengambil keputusan. "Hanya untuk satu hari, dan tidak lebih."

Melihat Kyungsoo sudah menyetujui permohonannya, Jongin tanpa komando langsung menyergap Kyungsoo dengan sebuah pelukan erat. "Gomawo, Kyungsoo. Gomawo."

Kyungsoo tak membalas pelukan Jongin. Lagi-lagi ia merasa hangat, tapi ia ragu untuk membalas pelukan itu. Jadi, ia memutuskan untuk diam. Memberikan waktu pada Jongin untuk memberinya sebuah kehangatan.

Tapi ketika Kyungsoo merasa bahwa Jongin memeluknya terlalu lama, ia akhirnya berusaha untuk melepas pelukan Jongin. "Sudah cukup, Jongin. Lepaskan aku!"

Namun Jongin kali ini keras kepala. Ia tak melepas pelukannya, dan justru kini menjatuhkan badan mereka ke atas ranjang.

Ia mengajak Kyungsoo berguling ke kanan dan ke kiri beberapa kali, untuk selanjutnya menghentikan aksinya, namun dua tangannya masih memeluk Kyungsoo dalam posisi tidur.

"Aku suka saat kau menyebut namaku," Jongin berkata dengan lembut seraya matanya menatap mata bulat Kyungsoo, juga dengan kelembutan yang sama.

Kyungsoo mengedipkan matanya polos. "Jongin..." nama itu lolos begitu saja dari bibirnya. "Jongin Jongin Jongin..." ia bahkan mengulang pengucapan itu, dan ia sendiri kaget karena tiba-tiba mulutnya bisa mengeluarkan suara secara otomatis.

Jongin tersenyum lebar. Hatinya berbunga mendengar lantunan nama yang baru saja diucapkan oleh Kyungsoo.

Dengan pelan Jongin semakin memeluk Kyungsoo, hingga kini wajah Kyungsoo terbenam di dadanya. "Gomawo. Kau sudah membuatku merasa bahagia. Aku berjanji akan membuatmu bahagia, dan akan selalu berada di sisimu. Percayalah padaku, Kyungsoo."

Percaya. Kyungsoo memang tak pernah percaya pada orang lain, termasuk pada Jongin.

Tapi Jongin sudah berulang kali membuat janji padanya, dan seluruh janjinya itu terdengar meyakinkan.

Hingga sadar atau tidak, Kyungsoo mulai membuat penerimaan akan kehadiran Jongin —Penerimaan disini maksudnya adalah penerimaan akan kehadiran Jongin sebagai seorang teman sekamar, tidak lebih dari itu-.

Penerimaan itu misalnya saja dengan menerima pelukan Jongin seperti saat ini. Bahkan Kyungsoo kini dengan pelan mulai menggerakkan tangannya untuk memeluk pinggang Jongin, dan ia pun semakin melesakkan kepalanya di dada Jongin.

Kyungsoo merasa aman dan nyaman. Ia merasa seperti di rumah. Perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


#Mr. Normal


Minggu siang ini Kyungsoo dan Jongin sudah kembali ke asrama. Keduanya sedang berjalan di koridor lantai tiga, dan sebentar lagi sampai di kamar mereka.

Dua pasang kaki milik mereka akhirnya terhenti di depan pintu kamar nomor 42, lalu salah satu pemilik sepasang kaki membuka pintu kamar itu.

Jongin dan Kyungsoo memasuki kamar mereka. Kyungsoo langsung meletakkan tasnya di atas meja belajar, kemudian melangkah mendekati ranjangnya.

Pria berbibir tebal itu duduk di tepi ranjang. "Aku berhutang padamu, Kim Jongin."

Jongin yang masih berdiri di sisi ranjang mengerutkan dahinya. "Berhutang untuk apa? Aku yang seharusnya berhutang padamu karena kau bersedia membantuku."

"Aku berhutang padamu karena kau sudah mau membagi orang tuamu denganku. Terimakasih banyak."

Jongin tertegun. Kyungsoo baru saja berterimakasih? Bahkan Jongin melihat Kyungsoo sedikit menyunggingkan senyum.

Andai Jongin bisa lebih sering melihat senyuman indah itu.

Oh! Jongin jadi mendapatkan gagasan bagus karena pengharapannya barusan. Dengan cepat Jongin melangkahkan kaki jenjangnya mendekati ranjang Kyungsoo, lalu duduk di sebelah pria imut itu.

Kyungsoo refleks bergerak menjauhi Jongin, tapi Jongin mendekatinya lagi. Akhirnya ia menyerah dan membiarkan Jongin duduk tepat di sampingnya.

"Jadi kau merasa berhutang padaku?" Kyungsoo mengangguk pelan menjawab pertanyaan Jongin. "Kalau begitu, kau pasti ingin membayar hutangmu, 'kan?"

"Y-ya. Bagaimana cara agar aku bisa membayar hutangku?"

Bagus. Pertanyaan Kyungsoo sesuai dengan harapan Jongin.

"Agar bisa membayar hutangmu, kau harus..." Jongin sengaja menggantung ucapannya. Membuat Kyungsoo penasaran. "...kau harus sering tersenyum. Kalau bisa, kau juga harus sering tertawa."

Mata Kyungsoo kini tak berkedip karena di depannya, Jongin sedang tersenyum sangat manis padanya. Seolah pria tinggi itu sedang mencontohkan satu senyum yang baik untuk Kyungsoo.

Kyungsoo akhirnya mengedipkan matanya, kemudian tersenyum tipis. "Baiklah. Aku akan lebih sering tersenyum. Tapi untuk tertawa, aku tidak akan tertawa jika memang tidak ada hal yang lucu."

"Jadi kau baru akan tertawa jika ada hal yang lucu?" Kyungsoo menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia menjawab iya. "Bagaimana jika tidak ada hal yang lucu, tapi ada hal yang seperti...ini."

Jongin secara tiba-tiba menggelitik perut Kyungsoo dengan dua tangannya. Kyungsoo yang tak siap akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.

"Ya! Berhen..haha..berhenti, Kim Jongin! Haha."

Kyungsoo tertawa. Iya. Do Kyungsoo tertawa!

Hal itu membuat Jongin merasa sangat senang, sehingga ia terus menyiksa Kyungsoo dengan gelitikan mautnya.

Tak ada hal lain yang bisa dilakukan Kyungsoo kecuali hanya tertawa dan terus tertawa.

Mungkin karakter Kyungsoo memang cuek dan tidak sensitif, tapi sesungguhnya tubuh mungilnya itu sangat sensitif terhadap sentuhan.

Alhasil, Kyungsoo terus tertawa, bahkan perutnya sampai sakit karena terlalu banyak tertawa.

Jongin pun tertawa. Ia merasa sangat bahagia, karena ternyata suara tawa Kyungsoo bagaikan suara nyanyian surga —walaupun Jongin belum pernah mendengar nyanyian surga-.

Jongin berharap bisa terus membuat Kyungsoo tertawa bahagia. Dalam hati ia berjanji akan berusaha membahagiakan Kyungsoo.


#Mr. Normal


Hari terus berlalu dengan cepat, hingga ini sudah lewat beberapa hari semenjak hubungan Jongin dan Kyungsoo membaik.

Dua roommate itu sudah tak lagi terlibat dalam perang dingin, dan mereka kadang mengobrol bersama walaupun intensitasnya tak bisa dikatakan sering.

Paling tidak, hubungan mereka sudah membaik.

Setiap pagi, Jongin dan Kyungsoo juga berangkat bersama ke sekolah. Mereka akan saling berbincang ringan, sedikit bercanda, dan juga sedikit tertawa.

Jongin merasa nyaman saat bicara dengan Kyungsoo. Apalagi ketika ia bisa mendengar suara tawa Kyungsoo. Padahal sebelumnya Jongin itu pemalu, tapi ternyata rasa malunya pudar saat ia bersama Kyungsoo.

Jam pelajaran pertama hari ini adalah olahraga. Jongin jadi ingat kejadian minggu lalu. Ia sempat menggoda Kyungsoo dengan kejadian yang pekan lalu menyebabkan kepala Kyungsoo memar.

Langkah kaki Jongin dan Kyungsoo akhirnya tiba di ruang ganti.

Keduanya berhenti di depan ruang ganti, dan Jongin tiba-tiba menggaruk tengkuknya canggung. "Kalau kau tidak nyaman berganti pakaian bersama denganku, kau bisa lebih dulu melakukannya. Aku akan menunggu di luar lebih dulu."

Tatapan mata bingung Kyungsoo tepat mengarah pada mata Jongin. "Kenapa kau berkata begitu? Ruang ganti pria biasa digunakan bersama-sama. Aku tidak masalah berganti pakaian bersama orang lain."

"Tapi minggu lalu kau terlihat tak nyaman saat aku tiba-tiba masuk ruang ganti," Jongin menambah argumennya. "Kau tampak sedikit malu dan canggung. Aku tidak ingin kau merasa tak nyaman seperti itu."

Perkataan Jongin membuat Kyungsoo merona parah. Benar kata Jongin. Minggu lalu Kyungsoo memang salah tingkah karena Jongin melihatnya hampir bertelanjang dada.

Jongin saja saat itu merasa malu. Uh! Jongin sekarang ikut-ikutan blushing.

"Y-ya sudah kalau begitu. Aku akan berganti pakaian lebih dulu," setelahnya Kyungsoo memasuki ruang ganti dengan cepat. Ia tentu tak ingin Jongin melihat wajahnya yang kini semerah tomat.

Jongin hanya bisa terkekeh geli, tapi tak lama kemudian ia merasa ada yang aneh pada jantungnya. Jantungnya berdetak heboh. Selalu saja seperti itu ketika ia berdekatan dengan Kyungsoo.


#Mr. Normal


Jika minggu lalu olahraga dilaksanakan outdoor, maka hari ini olahraga dilaksanakan indoor.

Padahal pagi ini ada banyak awan di langit yang cukup untuk menyembunyikan sang mentari, hingga para siswa tak akan terlalu kepanasan.

Namun rupanya sang guru olahraga memiliki gagasan lain sehingga hari ini para siswa berolahraga di dalam ruangan.

Seperti minggu lalu, hari ini para siswa juga sudah berbaris rapi di depan guru tampan mereka.

"Hari ini olahraga yang akan kalian lakukan tak akan terlalu menguras energi kalian, tapi akan sangat berguna untuk otot-otot tubuh kalian," sang guru olahraga mulai menjelaskan, dan para siswa dengan tenang mendengarkan. "Kita awali latihan kita hari ini untuk membentuk otot perut, yaitu dengan melakukan sit up."

Para siswa mulai berteriak riuh. Apalagi siswa perempuan yang mengeluh.. "Nanti baju kami kotor, saem."

"Tidak ada protes," dengan cepat Khun saem menengahi siswa yang ribut. "Kalian lakukan sit up masing-masing lima belas kali. Lakukan dengan berpasangan, dan kalian bebas memilih pasangan kalian."

Mendengar kalimat bebas memilih pasangan, para murid perempuan segera berlarian tak jelas untuk menyerbu pria-pria tampan di kelas mereka.

Jongin rupanya yang mendapatkan paling banyak fangirl. Begitulah susahnya menjadi pria populer.

Sadar bahwa nyawanya sedang terancam, Jongin segera berlari menjauhi para gadis, dan ternyata arah larinya menuju Kyungsoo.

Tanpa ragu, Jongin meraih sebelah tangan Kyungsoo, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. "Aku berpasangan dengan Kyungsoo!" ucapnya tegas.

Kyungsoo yang tak tahu apa-apa hanya memandang Jongin horror. "Apa-apaan kau?"

Sontak Jongin memasang puppy eyes melihat Kyungsoo yang sepertinya akan mengamuk. "Kumohon selamatkan aku dari gadis-gadis liar itu, Kyungsoo."

Kyungsoo sebenarnya ingin menolak dengan mengatakan bahwa ia akan berpasangan dengan Jongdae. Tapi ketika ia sedikit menoleh ke kanan, ia melihat Jongdae malah berpasangan dengan siswi bernama Yoon Bomi.

'Dasar pengkhianat!' Kyungsoo menggerutu dalam hati.

Merasa tak punya pilihan lain, Kyungsoo akhirnya mengangguk singkat. Jongin berteriak kegirangan melihat Kyungsoo mau menjadi pasangannya.

Ya...walaupun hanya pasangan untuk sit up.

Setelah semua siswa sudah mendapat pasangan, mereka mulai mengambil tempat yang bisa digunakan untuk sit up.

Kyungsoo terlihat ogah-ogahan berpasangan dengan Jongin. Apalagi ia cukup merasa kecewa karena Jongdae berkhianat padanya.

"Aku duluan yang melakukan sit up, dan tolong kau pegangi kakiku," Jongin yang kali ini bicara karena Kyungsoo dari tadi hanya diam.

Kali ini pun Kyungsoo tak menanggapi ucapan Jongin. Ia hanya memberi kode pada Jongin untuk cepat berbaring di lantai.

Tak mau membuat Kyungsoo semakin bad mood, Jongin dengan segera membaringkan tubuhnya di lantai, lalu sedikit menekuk kedua lututnya.

Kyungsoo pun cepat bekerja. Ia menumpukan dua lututnya di atas sepatu Jongin, lalu memeluk kaki Jongin yang ditekuk.

Jongin dalam hati merasa bahagia karena pelukan Kyungsoo di kakinya.

"Cepat mulai," Kyungsoo memerintah dengan tak sabaran. Sifat dingin-nya belum berubah sepenuhnya rupanya.

"Pegangi yang benar, Kyungsoo. Tubuhmu harus menempel di kakiku supaya kau lebih bisa menahan kakiku."

"Tidak ada aturan yang seperti itu untuk sit up, Kim Jongin!" Kyungsoo tak menyetujui ucapan Jongin, tapi ia tetap menggerakkan tubuhnya maju sehingga dadanya menempel di kaki Jongin.

Orang yang aneh. Tak setuju, tapi mau patuh pada perintah Jongin.

Jongin lagi-lagi tertawa senang di dalam hatinya. Tapi ia tak ingin main-main lagi karena ia tahu jika Kyungsoo akan merasa semakin sebal. Jadilah ia mulai meletakkan dua tangannya di belakang kepala, lalu mulai melakukan sit up.

Badan bangkit — berhenti. Saat tubuh Jongin berada pada posisi duduk, Jongin menghentikan gerakannya, dan ia menyadari bahwa jarak wajahnya dengan wajah Kyungsoo hanya tipis saja. Sayangnya Kyungsoo memalingkan wajahnya ke arah kiri sekarang.

Jongin tiba-tiba teringat pada adegan drama Secret Garden. Sepertinya ia berencana untuk mempraktekkan adegan itu.

Badan berbaring — berhenti. Tubuh Jongin sudah kembali berbaring di lantai, dan ia berhenti bergerak. "Tak bisakah kau memperhatikan gerakanku? Kau itu tak sopan sekali," ucapnya sok sinis.

Mendengar Jongin berbicara, Kyungsoo menolehkan kepalanya menghadap depan. "Tak ada gunanya memperhatikanmu. Cepat lanjutkan."

Jongin sedikit menyeringai. Badan bangkit — berhenti. Kyungsoo shock setengah mati karena sekarang wajah Jongin berada tepat di depan wajahnya. Jarak dua wajah itu begitu dekat.

"Kenapa tak mau memperhatikanku? Kau gugup jika kita berdekatan dengan jarak seperti ini, hm?" tanya Jongin dengan nada yang sarat akan godaan.

Tak dapat dipungkiri bahwa Kyungsoo memang merasa gugup. Kini bahkan wajahnya mulai memerah karena malu.

Refleks Kyungsoo menarik kepalanya ke belakang, namun rupanya Jongin memiliki refleks yang lebih baik karena dua tangan Jongin langsung menahan gerak kepala Kyungsoo.

"Kau benar-benar gugup rupanya," Jongin bicara lagi dengan nada mengejek.

Tapi tak lama kemudian, wajah Jongin yang tadinya konyol, kini berubah serius. Ia menatap lurus pada mata Kyungsoo yang tampak ragu menatapnya.

Jarak wajah mereka sangat dekat, hingga hidung mancung mereka nyaris bersentuhan.

Secara perlahan pandangan mata Jongin bergerak menjauhi mata Kyungsoo. Turun ke hidungnya, dan berakhir di bibirnya. Bibir itu sungguh tebal, dan tampaknya sangat kenyal. Sungguh indah, dan sangat menggoda iman.

Jongin memandang bibir itu lama. Terlalu lama, dan ia tanpa sadar menggerakkan wajahnya lagi untuk mendekati wajah Kyungsoo, sampai-sampai—

"YA! KIM JONGIN! LANJUTKAN GERAKAN SIT UP-MU!"

—teriakan Khun saem membuat Jongin dan Kyungsoo refleks menjauhkan wajah mereka masing-masing.

..

..

TBC


Chapter 7 ini full fluffy kan? hehe. emang sengaja dikasih yang fluff dulu sebelum masuk ke konflik2 di chapter2 selanjutnya.

buat yang kemarin minta KyungStal moment lagi, maaf di chapter ini belum bisa dikasih. mungkin chapter lain ya?

diusahakan bakal terus fast update asalkan masih ada yg mau ngasih review :)

mungkinkah di chapter2 selanjutnya akan ada KaiStal? itu rahasia saya. haha. tapi yang jelas, ini endingnya tetep KaiSoo. jadi buat yg KaiSoo hard shipper gak usah khawatir. yaa~ mungkin agak panas dingin aja waktu baca FF ini soalnya di depan masih ada konflik yg menanti :)

so, review again, please?^^