Title: Mr. Normal

Pairing: KaiSoo as main pair

Cast for this chapter: Kai EXO as Kim Jongin, D.O EXO as Do Kyungsoo, Krystal f(x) as Krystal Jung

Rate: T

Genre: Romance, Drama, Hurt, Friendship

Length: Chaptered [8/?]

Summary for chap 8:

Jongin semakin yakin pada perasaannya. Hingga kini ia sudah berani berkata dalam hati... 'Aku mencintaimu, Mr. Normal'

NOTE: special for syafakamilla yang request FF KaiSoo :)

Aku disini pinjem nama SOPA cuma sekedar pinjem nama sekolah aja. Tapi untuk urusan teknis tentang SOPA di FF ini 100% merupakan hasil imajinasiku. Jadi barangkali beda sama kenyataannya. Harap maklum

YAOI | CHAPTERED | SCHOOL LIFE | AU | OOC | TYPO | DLDR | NO PLAGIAT

Previous Chapter:

Jongin memandang bibir itu lama. Terlalu lama, dan ia tanpa sadar menggerakkan wajahnya lagi untuk mendekati wajah Kyungsoo, sampai-sampai—

"YA! KIM JONGIN! LANJUTKAN GERAKAN SIT UP-MU!"

—teriakan Khun saem membuat Jongin dan Kyungsoo refleks menjauhkan wajah mereka masing-masing.

..

CHAPTER 8 (I Love You, Mr. Normal)

HAPPY READING!


Rasa malu, rasa takut, dan rasa canggung yang selama ini dirasakan oleh Jongin tiap kali ia berhadapan dengan Kyungsoo, kini perlahan-lahan hilang.

Jongin kini merasa nyaman berada dekat dengan Kyungsoo, hingga ia bisa bersikap sesuka hati di depan pria pendek itu.

Padahal Kyungsoo sampai detik ini masih suka jaga image dan tak mudah digoda oleh Jongin, tapi Jongin tak pernah menyerah. Jongin terus berusaha untuk menggoda Kyungsoo. Ia ingin Kyungsoo juga merasa nyaman di dekatnya.

Seperti malam ini. Jongin tak henti-hentinya menggoda Kyungsoo.

"Seharusnya tadi aku memberimu cermin. Wajahmu benar-benar merah, Kyungsoo! Kau benar-benar gugup ya saat wajahmu dekat dengan wajahku?"

Tawa renyah Jongin menggema di kamar itu. Membuat Kyungsoo tanpa segan melempar bantalnya ke arah Jongin. "Diam kau, hitam!"

Jongin dengan sigap menangkap bantal hasil lemparan Kyungsoo. "Kau memberikan bantal ini padaku? Aigoo~ kau pasti sangat menyukaiku! Uh~ wangi sekali bantal ini!" Jongin mengoceh sembari terus menciumi bantal Kyungsoo layaknya maniac.

"Dasar tidak waras!" Kyungsoo hanya menanggapi singkat, lalu kembali merebut bantal miliknya dari tangan Jongin. Padahal sebenarnya ia sempat merasa sedikit aneh karena tadi Jongin menyebut bantalnya wangi.

Tapi Kyungsoo masih saja sok jual mahal. Ia mengacuhkan Jongin yang tertawa, lalu merebahkan tubuhnya ke atas ranjangnya. Ia menarik selimut sampai sebatas perutnya. Pemuda imut itu sepertinya bersiap untuk tidur.

Jongin memutuskan untuk melakukan hal yang sama karena ternyata Kyungsoo benar-benar tak bisa digoda malam ini. Ia berbaring di ranjangnya, lalu memakai selimutnya. Maklum saja, udara malam ini cukup dingin. Sepertinya akan hujan sebentar lagi.

"Aku sudah bilang pada Krystal tentang rencanamu," tiba-tiba Kyungsoo bicara pelan.

Membuat Jongin yang hampir menutup matanya kini kembali membuka dua mata itu. "Benarkah? Ia bersedia membantuku, 'kan?"

Kyungsoo mengangguk. Masih pada posisi berbaringnya. "Ia terlalu baik untuk menolak permintaanmu."

"Kalian berdua sama-sama baik. Aku iri pada hubungan kalian."

Karena sedikit terkejut mendengar ucapan Jongin, Kyungsoo menolehkan kepalanya menghadap si pria tan. Yang ditatap kini justru asyik menatap langit-langit kamar.

"Apa menurutmu, aku bisa menemukan kekasih yang baik juga?" Jongin bicara lagi.

Posisi kepala Kyungsoo masih sama. Masih menghadap pada Jongin. Ia bisa merasakan kesedihan Jongin dari nada bicaranya. "Kau orang baik, dan aku percaya bahwa orang baik akan mendapatkan kekasih yang baik pula," jawabnya.

Jongin tersenyum lemah sebelum memalingkan wajahnya pada Kyungsoo. Dua insan itu kini saling tatap dari atas ranjang mereka masing-masing. "Terimakasih, Kyungsoo."

Tak ada hal lain yang bisa dilakukan Kyungsoo selain mengangguk, kemudian membuang pandangannya dari Jongin. Ia lebih memilih untuk menatap langit-langit kamar.

Kyungsoo tak mengerti kenapa dirinya selalu tak mampu bila harus adu tatap dengan Jongin. Rasa gugup dan canggung selalu menyergapnya setiap kali bersitatap dengan Jongin.

Tak ada suara lebih lanjut di kamar itu. Kini yang terdengar hanyalah suara rintik hujan di luar gedung. Ya. Saat ini air langit mulai menetes ke tanah dengan intensitas sedang, tapi sepertinya akan bertambah deras.

Jongin yang tadi menolehkan kepalanya ke arah Kyungsoo, kini kembali mengarahkan kepalanya pada langit-langit kamar. Suara hujan membuatnya sedikit takut. Apalagi kini hujan bertambah deras.

"Menurut ramalan cuaca, malam ini akan ada badai. Sebaiknya kita tidur," ucap Kyungsoo.

Badai? Jujur saja. Jongin trauma dengan badai. Apalagi jika di dalamnya terdapat petir yang menggelegar. Dan malam ini, tampaknya badai petir yang ditakuti oleh Jongin kembali datang.

Di luar asrama, kilat menyambar-nyambar diikuti oleh suara petir yang begitu keras.

Lihatlah, keringat dingin mulai menetes di pelipis Jongin. Tubuhnya pun mulai bergetar karena ketakutan. Sayang, Kyungsoo sudah mulai memejamkan mata hingga tak tahu bahwa Jongin sedang sangat ketakutan.

Tak tahan lagi, akhirnya Jongin bangkit dari posisi berbaringnya. Ia duduk di atas ranjangnya sembari memeluk erat selimut tebal miliknya. Badannya bergetar hebat, dan matanya jelas mencerminkan rasa takut.

Jongin akhirnya menoleh pada Kyungsoo yang masih memejamkan mata. "Kyung-Kyungsoo.." panggilnya lirih. Terlalu lirih hingga Kyungsoo tak mendengarnya. "Kyungsoo.." panggilnya lagi dengan suara yang lebih keras.

Untunglah Kyungsoo belum sampai menyelami alam mimpinya, hingga kini ia mau membuka matanya, lalu menoleh pada Jongin.

Mata Kyungsoo membesar begitu melihat kondisi Jongin. Tubuh Jongin bergetar hebat, keringat membasahi wajahnya, dan matanya pun mulai meneteskan air mata.

"Kau...kau kenapa?" tanya Kyungsoo sembari mendudukkan tubuhnya di atas ranjang.

DUAR! Suara petir menyambar lagi, dan refleks Jongin menutup telinganya dengan kedua tangannya. "A-aku...aku takut pe-petir."

Kyungsoo yang merasa iba langsung melompat turun dari kasurnya, dan berjalan mendekati ranjang Jongin. "A-apa ada hal yang bisa aku lakukan untukmu?"

Jongin mendongak menatap Kyungsoo yang berdiri di dekat ranjangnya. "Bi-biasanya ibuku akan menemaniku tidur dan menggenggam tanganku erat. I-itu akan mengurangi rasa takutku."

"Tapi ibumu tidak ada disini," ujar Kyungsoo. Mata Jongin menatap penuh harap pada pria yang baru saja bicara itu. "Jangan menatapku begitu! Kau tidak bermaksud memintaku untuk menggantikan peran ibumu, 'kan?"

Merasa ditolak, Jongin akhirnya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia kini hanya bisa berharap semoga badai petir ini cepat reda, dan ia bisa melupakan ketakutannya.

Di sisi lain, Kyungsoo tampak bersalah karena sudah gagal membantu Jongin. Setelah menghela nafas, ia memutuskan untuk berubah pikiran. "Oh baiklah! Aku akan menolongmu, tapi aku tidak akan tidur di ranjangmu. Aku hanya akan menggenggam tanganmu sampai kau tertidur."

Sontak Jongin mengangkat kepalanya, lalu tersenyum kecil pada Kyungsoo. "Te-terimakasih."

Kyungsoo tak menjawab ucapan terimakasih Jongin. Ia hanya langsung mendorong tubuh Jongin untuk berbaring, lalu menyelimutinya.

Ia sendiri juga langsung duduk di lantai samping ranjang Jongin, lalu dengan ragu...ia mulai menggenggam sebelah tangan Jongin.

Sensasi pertama yang ia rasakan adalah...hangat.

Selalu saja begini. Kyungsoo selalu merasa hangat bila anggota tubuhnya bersentuhan dengan anggota tubuh Jongin.

Tapi tidak. Ia tak boleh mementingkan perasaannya untuk saat ini. Ia harus lebih memikirkan kondisi Jongin yang memprihatinkan.

Dengan pelan Kyungsoo sedikit menggerakkan jemarinya untuk mengusap sebelah tangan Jongin yang ada dalam genggamannya. Ia berharap Jongin akan merasa lebih tenang karena perlakuannya itu.

Dan berhasil. Nafas Jongin sudah tak memburu seperti tadi, getaran di badannya juga sudah berkurang, dan ia pun mulai bisa memejamkan matanya.

Kyungsoo terus menatap si tampan yang sepertinya sudah mulai tidur itu.

Tampan? Ya. Kyungsoo mengakui bahwa Jongin itu tampan. Fitur wajah Jongin sempurna, dan baginya Jongin bahkan lebih dari tampan.

Seharusnya Jongin bisa saja mendapatkan wanita manapun yang ia mau, tapi kenapa Jongin sampai sekarang masih sendiri? Kyungsoo penasaran dengan hal itu.

Dua sudut bibir Kyungsoo perlahan terangkat membentuk seulas senyuman. Melihat wajah tidur Jongin entah mengapa membuatnya ingin tersenyum. Wajah itu tampak damai sekali di matanya.

Entah dorongan keberanian dari mana, Kyungsoo tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya, lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Jongin.

Cup~ bibir Kyungsoo menempel pada dahi Jongin yang berkeringat. "Selamat malam, Kim Jongin."


#Mr. Normal


Pagi hari akhirnya menyapa. Bias cahaya matahari yang mengganggu matanya, kini membuat Kyungsoo harus membuka dua matanya secara perlahan.

Begitu dua mata bulat itu sudah terbuka sepenuhnya, Kyungsoo menatap langit-langit kamarnya dengan bingung. Ia sepertinya masih berusaha mengumpulkan nyawanya yang mungkin masih bermain-main di dunia mimpi.

Saat nyawanya sudah mulai terkumpul lagi, ia bisa merasakan bahwa bagian perutnya serasa dibebani oleh sesuatu. Ia akhirnya mengalihkan pandangannya ke perutnya, dan disana ia mendapati tangan berwarna tan sedang bertengger dengan indahnya.

Mata Kyungsoo membola tak terkendali. Dengan cepat ia menoleh ke samping, dan ia kaget bukan main saat melihat wajah Jongin berada tepat di depannya.

Ya. Jongin tidur tepat di sebelahnya. Jongin memeluk perutnya. Mereka berdua tidur satu ranjang.

Mungkin ini bukan kali pertama mereka tidur satu ranjang. Tapi tetap saja, posisi mereka kali ini berbeda dengan posisi mereka saat mereka tidur di kamar Jongin beberapa waktu lalu.

Dulu tubuh mereka berdua berjauhan, dipisahkan oleh sebuah guling di tengah ranjang. Tapi kali ini apa? Tubuh mereka saling menempel.

Tubuh Kyungsoo menegang. Seingatnya, semalam ia tidur dalam posisi duduk di lantai sambil menggenggam tangan Jongin. Tapi mengapa pagi ini semua berubah? Mengapa pagi ini ia justru tidur dengan Jongin?

Cup~ sebuah ciuman tiba-tiba mampir di pipi kanan Kyungsoo saat ia masih asyik berpikir.

Ia menoleh cepat ke kanan, dan ia mendapati Jongin sedang nyengir padanya.

"Selamat pagi, Do Kyungsoo," sapa Jongin dengan suara seraknya.

"K-kau...kenapa kau mencuri satu ciuman dariku?" tanya Kyungsoo sembari berusaha menjauhkan tangan Jongin dari perutnya.

Tapi gagal. Tangan tan itu justru semakin erat mendekapnya.

"Aku hanya memberimu ciuman selamat pagi karena tadi malam kau juga sudah memberiku ciuman selamat malam."

Blush. Kyungsoo merona hebat. Rupanya semalam Jongin hanya berpura-pura tidur.

Dengan cepat Kyungsoo membuang muka ke arah kiri. Tak mau Jongin melihat wajahnya yang merona merah.

Tapi Jongin belakangan ini memang sedang sangat jahil. Ia justru semakin memeluk Kyungsoo, dan kini bahkan melesakkan wajahnya di ceruk leher Kyungsoo.

Oh! Wajah Kyungsoo semakin merah sekarang! Debar jantungnya juga tak terkendali! Ya Tuhan! Ada apa denganmu, Kyungsoo?

Jongin dan Kyungsoo bertahan dalam posisi mereka itu sampai beberapa menit, sebelum akhirnya Kyungsoo mendorong Jongin sekuat tenaga hingga Jongin terjatuh dari ranjang. Alasannya sih karena mereka harus siap-siap untuk pergi ke sekolah.


#Mr. Normal


Hari sudah berganti lagi. Hari kemarin dilalui dengan baik oleh Jongin dan Kyungsoo.

Mungkin hanya Jongin yang merasa baik, tapi Kyungsoo tidak.

Pasalnya, Jongin terus saja menjahili Kyungsoo sejak keduanya bangun di satu ranjang yang sama kemarin. Godaan demi godaan dilontarkan oleh pria berkulit eksotis itu, dan hal itu tak pelak membuat Kyungsoo tak berhenti blushing seharian.

Tapi meskipun ia selalu mengutuk tingkah childish Jongin, sebenarnya ia merasa nyaman dengan tingkah kekanakan roommate-nya itu. Ia merasa senang, namun ia enggan mengakuinya. Tentu saja Kyungsoo gengsi, 'kan?

Hari ini adalah hari Sabtu. Itu artinya, hari ini adalah jadwal kencan Jongin dengan Krystal.

Jika boleh jujur, Kyungsoo merasa sedikit tak rela dengan hal itu. Tentu saja ia tak rela. Memangnya siapa pria yang rela jika kekasihnya akan berkencan dengan pria lain? Ya~ walaupun kencannya hanya pura-pura.

Kyungsoo kini memperhatikan Jongin yang asyik bersolek di depan cermin. Jongin sepertinya ingin serius berakting hari ini. Buktinya, pria itu begitu sungguh-sungguh merapikan penampilannya demi kencan-nya.

"Aku akan membunuhmu kalau kau sampai menggoda Krystal," ancam Kyungsoo.

Jongin tampak cuek-cuek saja sembari menggulung lengan kemeja hitamnya hingga ke siku.

Sungguh. Penampilan Jongin sebenarnya hanya sederhana, tapi benar-benar mempesona. Ia hanya memakai kemeja hitam lengan panjang, celana hitam, juga sneakers warna merah-hitam. Rambutnya pun hanya disisir biasa saja. Tapi itu semua sudah lebih dari cukup untuk membuat Jongin tampil sempurna.

"Aku tidak tertarik pada Krystal, jadi kau tak perlu khawatir," balas Jongin santai.

Kyungsoo mencibir. "Krystal itu cantik. Lelaki normal pasti menyukainya."

Setelah selesai berdandan, Jongin akhirnya membalik badannya menghadap Kyungsoo yang duduk di ranjang yang ada di belakangnya. "Menurutmu, aku ini lelaki normal?" tanya Jongin dengan serius.

Kyungsoo hanya mengerjap polos di hadapan Jongin. Ia tak paham. Pertanyaan macam apa yang diajukan oleh Jongin?

"Apa maksudmu?" akhirnya si pria Do malah balik bertanya.

Jongin hanya mengangkat bahunya, kemudian meraih ranselnya di atas meja. "Aku hanya bercanda. Tak perlu dipikirkan," ia melangkah menuju pintu, lalu membuka pintu itu sebelum akhirnya menoleh lagi pada Kyungsoo. "Aku pergi dulu. Sampai jumpa nanti malam."

Kyungsoo mematung di tempatnya. Bahkan saat Jongin sudah menghilang di balik pintu, ia tetap tak bergeming di posisinya.

Ia merasa...tadi Jongin sangat serius dan tidak bercanda.


#Mr. Normal


Sepanjang hari Sabtu ini, Kyungsoo tak bisa berdiam diri dengan tenang.

Semenjak kepergian Jongin untuk kencan dengan Krystal, Kyungsoo terus saja dihantui pikiran negatif. Ia berpikir yang tidak-tidak tentang kencan Jongin-Krystal.

Bagaimana jika Jongin menggenggam tangan Krystal?

Bagaimana jika Jongin membelai rambut panjang Krystal?

Bagaimana jika Jongin mencium Krystal?

Bagaimana jika—

Uh! Terlalu banyak pertanyaan yang berlalu lalang di pikiran Kyungsoo seharian ini, dan ia bahkan tak sadar bahwa kini hari mulai malam. Sebentar lagi gerbang utama asrama akan ditutup, dan Jongin rencananya akan kembali ke asrama sebelum gerbang itu ditutup —Jongin memutuskan untuk tidak tidur di rumahnya akhir pekan kali ini-.

Kyungsoo akhirnya menunggu Jongin di kamarnya dengan perasaan yang tidak tenang.

Sebenarnya bukan menunggu sosok Jongin, tapi menunggu laporan Jongin. Ia ingin tahu apa saja yang sudah dilakukan oleh Jongin dan Krystal seharian ini.

Ia bersumpah akan memukul wajah Jongin lagi jika pria itu macam-macam pada Krystal.

Kyungsoo mencintai Krystal. Ya. Ia selalu mempercayai hal itu, dan ia tak mau meragukan perasaannya.

Sebisa mungkin ia mengabaikan perasaan aneh di hatinya setiap kali ia ada di dekat Jongin. Ia yakin bahwa itu hanyalah karena Jongin terus saja menggodanya.

Klek. Pintu kamar tiba-tiba dibuka dari luar di saat Kyungsoo masih sibuk dengan lamunannya.

Kyungsoo mendongak saat itu juga, dan mata bulatnya langsung menangkap sosok Kim Jongin tengah tersenyum padanya.

"Bagaimana?" Kyungsoo bertanya tak sabaran. Bahkan Jongin belum selesai melepas sepatunya, tapi pria bermata besar itu sudah bertanya padanya.

"Aku lelah~" Jongin malah mengeluh manja sembari membaringkan tubuh besarnya ke atas kasur.

Kyungsoo merengut, dan ia berpindah tempat duduk ke tepi ranjang Jongin. "Ceritakan padaku apa yang terjadi hari ini. Kau tidak berbuat macam-macam, 'kan?"

"Oh ayolah, Kyungsoo~" Jongin yang tampak kelelahan terus-terusan merengek. "Justru Krystal yang berbuat macam-macam. Ia tak suka pada orang tuaku, jadi ia bertingkah menyebalkan."

"Benarkah?" tanya Kyungsoo memastikan.

"Tentu itu benar. Tapi itu tak masalah. Yang penting adalah, orang tuaku tak lagi memiliki rencana untuk menjodohkanku," Jongin tersenyum lebar seraya mengangkat tubuhnya hingga kini ia berada pada posisi duduk.

Kyungsoo memandang pria itu dengan cemas. "Tapi bagaimana jika orang tuamu tahu yang sebenarnya? Aku tidak akan mengizinkanmu untuk meminjam Krystal lagi, kau tahu?"

"Aku tahu," Jongin mengangguk santai. "Bagaimana kalau untuk selanjutnya, aku meminjam dirimu?" godaan Jongin kembali muncul.

"Dalam mimpimu saja, Kim!" Kyungsoo berdiri dan kembali ke ranjangnya sendiri.

"Aku serius, Kyungsoo."

"Aku juga serius. Aku masih normal, dan kau pun begitu. Jangan bicara macam-macam!"

Jongin diam, kepalanya tertunduk dalam.

Sebenarnya apa itu normal? Kenapa harus ada hal yang disebut dengan normal dan abnormal?

Bagi Jongin, perasaannya normal-normal saja, dan ia pun merasa baik-baik saja. Ia sama sekali tidak merasa tidak normal.

Tapi barangkali, definisi normal menurut Jongin sudah berubah. Hal yang dianggap normal oleh Jongin sudah berubah.


#Mr. Normal


Tak terasa, hari ini sudah awal pekan lagi, tepatnya adalah hari Senin.

Jongin sedang berjalan keluar kelas sendirian saat jam makan siang. Tadi ia menyelesaikan catatannya sehingga duo temannya sudah lebih dulu pergi ke cafetaria.

Jongin sebenarnya ingin menyusul Chanyeol dan Sehun, tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat Krystal sedang melambaikan tangannya di depan ruang kelas sebelah.

Sambil terus tersenyum, Jongin menghampiri gadis cantik itu.

"Hai, Jongin! Kau tidak ingin makan siang?" tanya Krystal ceria.

Jongin menghela nafas. "Sebenarnya aku ingin makan siang, tapi pasti saat ini cafetaria sudah penuh. Aku jadi malas."

Krystal memandang pria itu iba, tapi detik berikutnya, ia menyadari sesuatu. "Aku membawa sandwich hari ini. Mau makan siang bersama?"

"Apa tidak masalah kalau kita makan siang bersama? Maksudku...Kyungsoo..."

"Sshh...ia pasti mengerti. Ia tahu aku tak akan berselingkuh denganmu. Kajja," tanpa menunggu balasan Jongin, Krystal menarik tangan Jongin untuk masuk ke dalam kelasnya.

Krystal mendudukkan Jongin di sebuah kursi, dan ia pun menarik sebuah kursi lain untuk mendekati kursi Jongin. Tak lupa, ia mengambil kotak bekalnya yang berisi sandwich.

"Ini makanlah. Aku tahu kau kelaparan," Krystal memberikan satu potong sandwich pada Jongin.

Jongin menerima pemberian Krystal. "Gomawo."

Dua manusia beda gender itu akhirnya memakan sandwich mereka dengan damai. Mereka tak saling bicara karena terlalu sibuk mengunyah.

Mungkin mereka menghabiskan waktu sepuluh menit untuk menghabiskan bekal simple itu.

Entah karena kelaparan atau apa, Jongin makan dengan berantakan. Hasilnya, kini remah roti menghiasi dua sudut bibirnya.

Hal itu membuat Krystal tersenyum geli. Dulu Krystal menduga bahwa Jongin adalah pria cool yang tak mudah didekati. Namun rupanya ia salah. Jongin tak ubahnya adalah pria pemalu yang sangat lucu.

Tak dapat dipungkiri bahwa Krystal merasa nyaman dekat dengan Jongin. Ia sendiri tak pernah membayangkan bahwa ia akan berteman dekat dengan si pria populer, dan bahkan kemarin Jongin mengajaknya ke rumah.

Krystal merasa bahagia karena hal itu. Mereka belum lama kenal, tapi rasanya Krystal sudah merasa sangat nyaman berteman dengan Jongin.

Melihat Jongin yang tak kunjung menyadari bahwa dua sudut bibirnya masih dihiasi kotoran, Krystal akhirnya menggerakkan tangannya untuk mendekati wajah Jongin, lalu dengan lembut membersihkan sudut bibir Jongin. "Kau itu seperti anak kecil, Jongin," ujarnya sembari terkekeh geli.

Jongin merasa kaget menerima perlakuan Krystal. Ia sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum canggung. Ia merasa malu karena Krystal menyebutnya seperti anak kecil. Tapi begitulah seorang Kim Jongin yang sebenarnya. Childish di setiap kesempatan.

Setelah bisa menghilangkan rasa malunya, Jongin akhirnya membuka suara. "Sekali lagi terimakasih karena Sabtu lalu kau bersedia membantuku."

Krystal kembali terkekeh geli. "Kurasa aku justru mengacau kemarin. Kau tahu? Aku tidak terlalu menyukai ibu-ibu berisik. Jadi maaf kalau aku tidak bisa bersikap baik dan sopan pada ibumu."

"Tidak apa-apa," Jongin tersenyum maklum. "Kurasa ibuku juga kurang menyukaimu. Tapi yang penting, untuk sementara orang tuaku percaya bahwa aku memiliki kekasih, dan mereka tak akan membuat perjodohan untuk sementara waktu."

Krystal mengangguk menyetujui ucapan Jongin. "Bagus kalau begitu," ujarnya. "Oh iya, kurasa ibumu sangat menyukai Kyungsoo. Kemarin beliau terus membicarakan Kyungsoo."

Untuk beberapa saat Jongin terdiam, sebelum akhirnya tersenyum dan bicara. "Ibuku menyukai manusia imut dan menggemaskan, dan kurasa kekasihmu memenuhi kriteria itu."

Krystal tertawa keras sambil beberapa kali memukul ringan lengan Jongin. "Kurasa kau akan menyukai Kyungsoo kalau saja dia wanita. Tapi sayangnya, Kyungsoo-ku itu seorang pria."

Kali ini Jongin tak menunjukkan reaksi apapun. Ia hanya memandang kotak bekal kosong di hadapannya dengan tatapan nanar.

Sekali lagi, hatinya terasa seperti ditusuk. Rasanya sakit. Secara tidak langsung, Jongin seperti tidak akan mampu memiliki Kyungsoo.

Melihat Jongin yang seperti kehilangan jiwanya, Krystal dengan jahil mencubit keras perut Jongin. Yang dicubit tentu memekik kaget, dan itu membuat sang pelaku pencubitan tertawa keras.

"Apa yang kau pikirkan? Kau memikirkan perkataanku tadi? Atau...kau membayangkan jika Kyungsoo benar-benar wanita?" tanya Krystal dengan nada yang sedikit bercanda.

Candaan Krystal itu rupanya mampu membuat mata Jongin membelalak lebar. "A-apa yang kau katakan? Tentu saja aku tidak berpikir begitu."

"Baguslah kalau memang seperti itu," Krystal tersenyum. "Karena aku tak akan melepas Kyungsoo-ku untukmu, Kim Jongin."

Semakin sakit. Hati Jongin semakin sakit mendengar kalimat Krystal yang diucapkan dengan nada serius.

Tapi rupanya Jongin tak merasa sakit seorang diri. Seorang pria di balik jendela kelas memandang Jongin dan Krystal dengan tatapan terluka.

Tentu saja pria itu tak mendengar pembicaraan Jongin dan Krystal. Tapi pemandangan yang ia lihat tadi cukup untuk membuat hatinya tersayat. Kenapa Jongin dan Krystal tampak begitu mesra? Mereka duduk sangat dekat begitu. Krystal bahkan tak ragu untuk menyentuh wajah dan tubuh Jongin. Ada apa dengan mereka?


#Mr. Normal


Jam di ponsel yang dimainkan Jongin sudah menunjukkan angka 6 PM, tapi Kyungsoo tak jua menampakkan batang hidungnya di kamar asrama mereka.

Kyungsoo sama sekali tak terlihat di kamarnya sejak tadi. Bahkan tadi Kyungsoo membolos di dua mata pelajaran setelah jam makan siang. Hal itu membuat Jongin merasa cemas.

Kemana sebenarnya perginya seorang Do Kyungsoo?

Di era modern seperti ini, seharusnya Jongin tak perlu berpikir keras supaya bisa menemukan roommate-nya itu. Ia bisa dengan mudahnya mengirim pesan pada Kyungsoo.

Tapi sayangnya, hal itu tak bisa ia lakukan. Ia tak memiliki nomor ponsel Kyungsoo. Salahkan saja dirinya yang tak pernah meminta nomor ponsel si teman sekamar.

Karena sudah tak tahan lagi, Jongin akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Tapi sebelumnya, ia menyempatkan diri untuk meraih jaket milik Kyungsoo. Udara di luar cukup dingin, dan ia tak ingin Kyungsoo kedinginan.


#Mr. Normal


Sosok yang sedari tadi dikhawatirkan oleh Jongin ternyata kini sedang duduk manis di depan gerbang asrama.

Kyungsoo bahkan masih berseragam, lengkap dengan ransel yang tergeletak di bawah kakinya.

Wajah pria imut itu tampak blank. Sekedar informasi, pria itu sudah duduk disana selama beberapa jam.

Tampaknya ada hal yang mengganggu pikiran serta hatinya, hingga ia merenung sendirian disana.

Puk. Kepala Kyungsoo terdongak ke atas begitu merasakan sesuatu yang hangat melingkupi tubuhnya.

Matanya langsung mendapati seorang Kim Jongin berdiri di sampingnya. Rupanya pria dengan kulit kecoklatan itulah yang baru saja memakaikan jaket di tubuh Kyungsoo.

"Kenapa kau disini?" tanya Jongin seraya ikut duduk di samping Kyungsoo.

Kyungsoo membuang muka dari Jongin, namun ia tak berkata apapun.

Melihat hal itu, Jongin menghela nafas lelah. "Jika kau ada masalah, kau bisa bercerita padaku. Bukankah aku kemarin juga sudah menceritakan padamu tentang masalahku dengan petir? Seharusnya kau juga bercerita saja padaku tentang masalahmu. Kau tahu, Kyungsoo? Aku sudah menganggapmu sebagai temanku."

Perlahan Kyungsoo menoleh pada Jongin. "Teman katamu?" tanyanya.

Tanpa ragu Jongin mengangguk. "Ya. Kau adalah temanku, dan aku percaya padamu. Aku sangat berharap kau juga bisa percaya padaku. Jadi, apa masalahmu?"

Kini Kyungsoo yang menghela nafas sembari memalingkan wajahnya dari Jongin. "Kau adalah masalahku, Kim Jongin," jawaban Kyungsoo membuat Jongin melotot kaget. Kyungsoo akhirnya kembali bicara. "Kenapa kau membiarkan Krystal menyentuh wajahmu dengan lembut, lalu memukul lenganmu dengan mesra, dan juga mencubit perutmu dengan gembira?"

Akhirnya Jongin paham arah pembicaraan Kyungsoo. Rupanya masalah Kyungsoo memang berkaitan dengan Jongin, lebih tepatnya berkaitan dengan Jongin dan Krystal.

Tapi entah kenapa Jongin merasa ada yang janggal dengan ucapan Kyungsoo tadi. "Kau marah karena Krystal menyentuhku?"

Kyungsoo menganggukkan kepala, masih enggan menatap Jongin. "Seharusnya kau tidak membiarkan tangan gadis itu menyentuh tubuhmu."

Pernyataan Kyungsoo membuat Jongin berjuang keras untuk menahan senyumnya.

Mungkin kalimat Kyungsoo terdengar biasa, tapi Jongin memaknainya berbeda. "Sepertinya ada seseorang yang cemburu disini," sindirnya. Masih berjuang keras untuk tidak tersenyum lebar.

"Aku memang cemburu sejak tadi! Kau baru sadar?" tanya Kyungsoo sembari menoleh cepat pada Jongin.

Yang diberi pertanyaan kini tersenyum simpul. "Aku tahu kau cemburu, tapi aku baru tahu kalau kau tidak cemburu padaku, melainkan cemburu pada Krystal."

Seketika Kyungsoo membulatkan matanya. Ia baru menyadari sesuatu. Ia baru sadar bahwa tadi ia salah merangkai kata.

Tapi ia bisa apa? Kata-kata itu sudah terlanjur meluncur dari bibirnya. Dan bisa jadi, kata-kata itu adalah hal jujur yang Kyungsoo rasakan, tapi tak disadarinya.

"Lagi-lagi kau bicara omong kosong," kembali Kyungsoo membuang muka dari Jongin begitu ia bisa menetralkan kekagetannya.

"Aku tidak bicara omong kosong," Jongin membalas perkataan Kyungsoo dengan cepat. "Kau tidak rela jika tubuhku disentuh oleh Krystal, dan itu tentu bukan karena kau cemburu padaku, tapi justru cemburu pada Krystal. Itu faktanya, Mr. Normal."

Mata Kyungsoo kembali terbelalak. Apa baru saja Jongin menyindirnya? Ia memang normal, dan tak seharusnya Jongin menyindirnya seperti itu.

Dengan segera Kyungsoo berdiri, meraih ranselnya, lalu menatap Jongin tajam. "Aku memang normal! Kau yang tidak normal karena sudah bicara macam-macam! Aku membencimu!"

Tanpa menunggu balasan ucapan dari Jongin, Kyungsoo berjalan cepat memasuki kompleks asrama.

Jongin tak menyusul langkah Kyungsoo. Ia hanya tersenyum miris meratapi punggung sempit Kyungsoo yang semakin menjauhinya. 'Kau membenciku? Tapi kurasa aku mencintaimu, Mr. Normal.'

..

..

TBC


Annyeong para pembaca setia~ akhirnya FF ini sudah sampai di chapter 8^^

aku selalu nulis tiap chapter di FF ini minimal 3000 kata, tapi ada beberapa reader yg bilang kalo tiap chapternya kurang panjang. jadi aku minta maaf ya. kirain 3000 kata udh lumayan panjang. aku usahain biar sedikit lebih panjang deh untuk ke depannya :)

di chapter ini aku mutusin buat men-skip moment KaiStal waktu mereka ke rumah Jongin. aku lagi gak berminat nulis moment mereka banyak2, jd mohon dimaklumi. hehe.

chapter depan mungkin adegan fluff KaiSoo bakal berkurang, atau bahkan gak ada adegan sweet mereka. soalnya chapter depan mulai ada konflik yg lbh serius. jadi itu juga mohon dimaklumi^^

terimakasih utk para reviewer. maaf gak bisa bales satu2, tp semua review aku baca kok. dan aku sangat berharap chapter ini juga akan mendapat review dari kalian :)