Title: Mr. Normal

Pairing: KaiSoo as main pair

Cast for this chapter: Kai EXO as Kim Jongin, D.O EXO as Do Kyungsoo, Krystal f(x) as Krystal Jung, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Sehun EXO as Oh Sehun, Kyuhyun Super Junior as Cho Kyuhyun, Jongin's mom (OC)

Rate: T

Genre: Romance, Drama, Hurt, Friendship

Length: Chaptered [10/?]

Summary for chap 10:

Krystal yang sudah membuat Jongin meninggalkan kamar asrama, dan Krystal juga yang akhirnya membuat Kyungsoo salah paham pada Jongin. Sayangnya, ulah Krystal belum berakhir sampai disitu

NOTE: special for syafakamilla yang request FF KaiSoo :)

Aku disini pinjem nama SOPA cuma sekedar pinjem nama sekolah aja. Tapi untuk urusan teknis tentang SOPA di FF ini 100% merupakan hasil imajinasiku. Jadi barangkali beda sama kenyataannya. Harap maklum

YAOI | CHAPTERED | SCHOOL LIFE | AU | OOC | TYPO | DLDR | NO PLAGIAT

Previous Chapter:

Kyungsoo menghela nafas frustasi. "Aku merasa nyaman dengannya, dan jangan bertanya lebih lanjut karena aku juga tak mengerti alasannya."

Kyungsoo akhirnya berdiri, lalu keluar dari ruang dance.

Ia meninggalkan Jongdae yang masih terbengong di tempatnya. Hal yang dikatakan Kyungsoo tadi terdengar sangat...aneh. Tak biasanya Kyungsoo seperti itu. Tak biasanya sahabatnya itu galau dan sampai tak fokus begitu. Ada apa dengan Kyungsoo?

..

CHAPTER 10 (Krystal)

HAPPY READING!


Semuanya berubah bagi Kyungsoo. Ia yang biasanya selalu cuek meskipun ada perkara besar yang menimpa, kini terlihat resah dan gelisah.

Hal itu terlihat jelas dari gerak-gerik Kyungsoo yang sedang memainkan sumpitnya tanpa berniat sedikitpun memakan menu makan siangnya.

Krystal yang duduk di sampingnya merasa heran pada kekasihnya. "Kau kenapa, Soo? Apa kau sakit?"

Kyungsoo tak menjawab secara lisan, tapi hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

Krystal tampak sedih melihat kekasihnya itu murung. Tanpa perlu bertanya pun ia tahu apa yang sedang Kyungsoo rasakan saat ini.

Tapi Krystal tetap tak akan melepas Kyungsoo. Ia terlalu mencintai Kyungsoo, dan ia tak ingin kehilangan Kyungsoo sampai kapanpun.

Hal itu wajar, 'kan? Semua orang pasti juga akan bersikap demikian jika sudah mencintai seseorang secara sungguh-sungguh. Krystal yang biasanya dewasa dan tak egois pun kini mengalami perubahan karakter karena rasa cintanya pada Kyungsoo.

"Kudengar Jongin memutuskan untuk meninggalkan asrama dan pindah ke rumahnya," Krystal bicara lagi, dan kali ini sanggup untuk menyita perhatian Kyungsoo. "Beberapa waktu lalu, Jongin mengatakan padaku bahwa ia merasa tak nyaman tinggal dengan orang yang membencinya. Ia berkata padaku bahwa ia mulai membencimu."

Hati Kyungsoo serasa tertusuk mendengar ucapan Krystal. Ia tak menyangka jika Jongin akan balas membencinya. Mungkin Kyungsoo yang lebih dulu membenci Jongin, tapi bukan berarti Jongin jadi balas membencinya, 'kan?

Apalagi Jongin sudah berjanji untuk selalu menemani Kyungsoo dan membuat Kyungsoo bahagia.

Sayangnya, Kyungsoo tak tahu bahwa Krystal sedang berbohong.

"Jongin juga berkata padaku bahwa tak ada gunanya berteman denganmu, karena kau hanya terus mengacuhkannya. Katanya, berteman denganmu hanya membuang waktunya."

Mata Kyungsoo rasanya mulai basah. Kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Krystal terus menyayat hatinya.

Kyungsoo percaya pada Krystal, karena selama ini Krystal memang tak pernah membohonginya. Dan bisa jadi, Jongin memang bercerita pada Krystal karena selama ini Jongin cukup dekat dengan Krystal.

Jadi, benarkah Jongin mengkhianati dan juga membohongi Kyungsoo? Mungkinkah Kyungsoo dikhianati dan dibohongi lagi? Apa janji Jongin dulu hanya janji palsu yang tak ada artinya? Sederetan pertanyaan itu mengganggu benak Kyungsoo. Ia menyesal karena sempat percaya pada Jongin.

Karena tak kuasa lagi menahan tangisnya, Kyungsoo akhirnya bangkit dari kursinya, lalu berlari menuju kamar mandi.

Krystal memandang Kyungsoo iba. Kekasihnya itu sangat jarang meneteskan air mata, tapi kini dengan mudahnya menangis karena kejahatannya. 'Maafkan aku, Kyungsoo. Aku hanya tak ingin kehilangan dirimu.'


#Mr. Normal


Hari-hari terus berlalu dengan tak menyenangkan bagi Jongin.

Ia seperti terlibat perang dingin dengan Kyungsoo, sehingga ia dan Kyungsoo saling diam satu sama lain. Saat berada di sekolah, mereka bertingkah layaknya orang asing yang tidak saling mengenal.

Bahkan saat mereka berada pada tim yang sama saat pelajaran olahraga, mereka sama sekali tak saling bicara. Mereka diam, seolah bibir mereka terkunci rapat untuk satu sama lain.

Kegiatan tutorial Bahasa Inggris yang seharusnya mereka lakukan, kini resmi dihentikan.

Miss Tiff dengan berat hati menyetujui permintaan Jongin untuk mengganti tutornya, dengan alasan bahwa Kyungsoo tak lagi sekamar dengannya.

Kini Jongin belajar Bahasa Inggris dengan seorang siswa pertukaran dari Kanada bernama Kris Wu.

Sungguh Jongin sebenarnya lebih memilih untuk belajar bersama Kyungsoo. Pasalnya, Kris adalah orang yang super galak. Ditambah lagi, Kris selalu asyik berkirim pesan dengan kekasihnya saat sedang belajar dengan Jongin. Kalau tidak salah, kekasihnya adalah seorang gadis tomboy bernama Amber.

Hah~ Jongin benar-benar merindukan Kyungsoo. Saat malam begini, biasanya Kyungsoo asyik belajar, dan Jongin asyik memandangi Kyungsoo. Tapi itu dilakukan secara rahasia tentunya.

Jongin dan Kyungsoo memang tak sering terlibat pembicaraan saat mereka masih satu kamar. Tapi tetap saja Jongin merindukan kehadiran Kyungsoo. Hanya melihat Kyungsoo saja selalu bisa membuat malam Jongin terasa lebih indah.

Sekedar informasi, malam ini adalah malam minggu, dan Jongin sudah bertekad untuk membebaskan dirinya dari tugas-tugas sekolah. Ia ingin menenangkan dirinya di rumah.

Ia ingin menenangkan hatinya yang galau. Jadilah malam ini ia berdiri di balkon kamarnya sembari memandang langit. Persis seperti adegan di drama-drama yang sering Jongin tonton.

"Hai, tampan!" Jongin melompat kaget ketika ia mendengar sebuah suara tiba-tiba muncul di belakangnya.

Ia menoleh, dan mendapati sang ibu sedang nyengir lebar. "Eomma mengagetkanku!"

Ibu Jongin tak menanggapi ucapan Jongin, dan memilih untuk berdiri di samping Jongin. Bersandar pada pagar sembari menatap langit. "Belum juga berbaikan dengan-nya, hm?"

Meskipun ibu Jongin tak bertanya secara jelas, tapi Jongin tahu benar arah pertanyaan sang ibu.

Ibu Jongin benar-benar wanita yang pengertian. Beliau tahu bahwa sang putra sedang memiliki problema dengan —mantan- teman sekamarnya.

"Kami tidak bertengkar atau semacamnya, eomma. Kami hanya—"

"Kalian hanya sama-sama bingung," ibu Jongin menyela ucapan putranya. "Kalian sama-sama bingung dengan perasaan kalian. Andai kau tidak menuruti ucapan gadis itu, dan tidak pergi meninggalkan Kyungsoo."

Gadis yang dimaksud oleh ibu Jongin adalah Krystal. Jongin sudah menceritakan semuanya pada ibunya, namun belum berani bercerita pada sang ayah. Meskipun ayahnya baik, namun Jongin tak cukup terbuka pada sang ayah. Apalagi jika sudah menyangkut masalah perasaan, Jongin biasanya hanya akan bercerita pada ibunya.

Ibunya sangat sayang padanya, dan beliau sama sekali tak marah meskipun beliau tahu bahwa putranya menyimpang. Mungkin beliau memang tak secara gamblang merestui orientasi seksual putranya yang tidak lurus, tapi beliau sebisa mungkin memberikan dukungan penuh pada apapun keputusan sang anak.

Jika pada akhirnya Jongin memang berubah orientasi, maka ibu Jongin akan berusaha untuk menerima itu, karena beliau tahu bahwa Jongin berhak menentukan pilihannya. Meskipun beliau ragu bahwa suaminya akan menerima penyimpangan Jongin itu. Tapi hal itu tak ingin dipikirkannya untuk saat ini. Saat ini, beliau hanya memikirkan kebahagiaan Jongin.

Mengenai kebohongan Jongin tentang Krystal, ibu Jongin juga tidak marah. Ibu Jongin justru senang karena Jongin tak jatuh dalam pelukan Krystal. Entahlah~ instinct wanita yang telah melahirkan Jongin itu mengatakan bahwa Krystal bukanlah yang terbaik untuk putranya.

"Perasaan ini tidak normal, eomma. Dan satu lagi, Kyungsoo tidak merasakan hal yang sama. Ia normal, eomma," Jongin akhirnya bersuara setelah ia sempat berpikir keras untuk beberapa menit.

Ibu Jongin tersenyum lembut, kemudian melempar satu pertanyaan penting untuk sang anak. "Apa yang kau tahu tentang normal, Jongin?"

Jongin diam karena ia tak sanggup menjawab pertanyaan ibunya. Ia selama ini juga masih bertanya-tanya, sebenarnya apa itu normal? Ia sering menyebut kata normal, tapi ia tak tahu definisi yang jelas dari kata itu. Apalagi dalam konteks cinta, Jongin masih rancu mengenai definisi kata normal.

Ibu Jongin kembali tersenyum lembut saat melihat putranya frustasi memikirkan jawaban dari pertanyaannya. "Kau tak perlu memikirkan jawabannya sekarang, sayang. Kau akan menemukan jawaban itu cepat atau lambat," ibu Jongin memberi putranya satu kecupan hangat di dahi, kemudian pergi meninggalkan putra tunggalnya.

Jongin menatap kepergiaan ibunya dengan tatapan nanar. Ia merasa beruntung memiliki ibu yang begitu baik, tapi ia juga sedikit gemas pada ibunya karena ibunya itu suka sekali bermain teka-teki yang tak ia mengerti jawabannya.


#Mr. Normal


Malam minggu yang sunyi dan sepi juga dirasakan oleh Kyungsoo.

Sebelum Jongin datang ke dalam kehidupannya, Kyungsoo biasa dengan rasa sunyi dan sepi.

Namun semenjak ada Jongin, Kyungsoo sudah lupa pada dua rasa itu.

Kyungsoo dan Jongin mungkin tak akan banyak mengobrol saat malam tiba. Keduanya akan sibuk dengan kegiatan masing-masing di kamar.

Tapi tetap saja, kehadiran Jongin seperti menemani malamnya. Kehadiran Jongin seperti menghangatkan hidupnya yang dingin.

Ada sedikit rasa sesal di hati Kyungsoo karena ia selama ini bersikap buruk pada Jongin, padahal Jongin selalu baik padanya.

Jadi, sebenarnya Jongin tak salah jika pada akhirnya ia membenci Kyungsoo. Itu semua adalah salah Kyungsoo, karena ia yang terlebih dahulu membenci Jongin.

Tapi semua sudah terlanjur basah. Jongin sudah pergi meninggalkan dirinya dan melupakan janjinya. Kyungsoo seharusnya memang tak percaya pada janji-janji palsu.

Setelah menghela nafas yang terasa sangat lelah dan menyedihkan, Kyungsoo menoleh menatap ranjang Jongin yang kosong. Sudah beberapa hari ranjang itu tak ada yang menempati.

Ia jadi ingat saat Jongin merasa takut pada petir. Saat itu Kyungsoo menggenggam tangan Jongin semalaman.

Kyungsoo sekarang tahu kenapa mantan teman sekamarnya itu sangat takut pada petir.

Dulu saat Jongin masih berusia tujuh tahun, Jongin dan orang tuanya terjebak badai di dalam mobil. Saat itu, petir menyambar-nyambar. Salah satu dari petir itu menyambar sebuah pohon besar yang terletak di dekat mobil ayahnya. Pohon itu terbakar dan akhirnya tumbang menimpa mobil yang dikendarai Jongin dan orang tuanya.

Jongin kecil merasa ketakutan. Untungnya saat itu Jongin dan orang tuanya bisa dievakuasi tepat sebelum mobil itu pada akhirnya meledak.

Kyungsoo mendengar cerita itu langsung dari Jongin beberapa waktu lalu, sebelum hubungan keduanya memburuk tentunya.

Mengingat semua itu membuat Kyungsoo semakin sedih. Apalagi Kyungsoo ingat bahwa setelah ia menggenggam tangan Jongin semalaman karena Jongin takut petir, paginya ia terbangun di atas ranjang Jongin. Lebih tepatnya berada dalam dekapan hangat Jongin.

Kyungsoo tak bisa untuk tidak merona saat memory itu menyergap benaknya.

Ia...merindukan Jongin.

Entah sadar atau tidak, Kyungsoo akhirnya berjalan menuju ranjang Jongin, lalu berbaring di atasnya.

Ia membenamkan wajahnya pada bantal yang dulu digunakan Jongin. Menyesap sisa-sisa wangi maskulin seorang Kim Jongin. Ia sendiri tak paham kenapa ia jadi seperti ini. Mungkinkah ia hanya merasa kehilangan seorang teman? Atau ia merasa kehilangan sesuatu yang lain semenjak kepergian Jongin? Kyungsoo belum bisa menjawab pertanyaan itu.


#Mr. Normal


Hari sudah berganti lagi, dan kini sudah hari Senin lagi.

Beberapa mata pelajaran sudah dilewati oleh para siswa, dan kini tibalah mereka harus mempelajari Sejarah Musik Korea Selatan.

Pelajaran sejarah selalu terdengar membosankan bagi para siswa. Para siswa harus menghafal nama-nama orang yang bahkan sudah tiada, juga menghafal tahun-tahun kejadian suatu perkara. Semua itu benar-benar membosankan, dan selalu membuat siswa mengantuk saat jam pelajaran sejarah tiba.

Cho saem —atau yang memiliki nama lengkap Cho Kyuhyun- dengan semangatnya bicara di depan kelas. Ia tak mau ambil pusing meskipun hampir sepertiga siswanya kini meletakkan kepala di atas meja dan mulai menyelami alam mimpi mereka masing-masing. Pemandangan itu sudah biasa baginya.

"Sejak tiga minggu lalu saya sudah menjelaskan tentang gambaran umum mengenai Sejarah Musik Korea Selatan dari awal sampai akhir. Tugas kalian sekarang adalah membuat resume mengenai apa yang sudah saya jelaskan. Minggu depan kalian harus mempresentasikan hasil resume kalian."

Para siswa mulai berkasak-kusuk. Mengeluh malas mendengar tugas baru yang harus mereka jalani. Para siswa yang tadi sudah tertidur pun terpaksa membuka mata karena suara riuh yang mengganggu telinga mereka. Mau tak mau, mereka langsung ikut berkasak-kusuk karena tak menyukai tugas baru guru sejarah mereka.

"Tenang, semuanya! Jangan khawatir," Cho saem berusaha menenangkan kelasnya yang ribut. Guru berusia 27 tahun itu kembali bersuara. "Kalian akan bekerja berpasangan sehingga tugas ini tak akan terlalu berat."

Para siswa kembali tenang untuk mendengarkan Cho saem membagi mereka dalam kelompok-kelompok kecil yang tiap kelompok terdiri dari dua siswa.

Ada siswa yang merasa senang dengan rekan kelompoknya, tapi ada pula siswa yang merasa kesal dan tak terima. Hal itu sangat wajar terjadi.

"...Kelompok yang selanjutnya adalah Do Kyungsoo dan...Kim Jongin."

Dua pemilik nama yang baru saja disebut oleh Cho saem secara kompak membulatkan mata. Tapi mereka memilih untuk tidak protes meskipun dalam hati mereka tak terima. Ungkapan protes hanya akan menghadirkan kecurigaan dari siswa-siswa lain, dan mereka tak ingin hal itu terjadi.

Jongin yang duduk di depan kini memberanikan diri untuk menengok ke belakang, dan melihat reaksi Kyungsoo.

Kyungsoo balas menatap Jongin dengan tatapan datar, dan itu membuat nyali Jongin menciut. Kembali ia merasa takut pada Kyungsoo. Karakter Kyungsoo yang dingin sepertinya kembali menyeruak ke permukaan.


#Mr. Normal


Sejumlah siswa tampak berada di perpustakaan dengan buku-buku di tangan mereka.

Cho saem memang mengizinkan mereka untuk mengerjakan tugas di perpustakaan supaya mereka mudah mencari referensi.

Jongin dan Kyungsoo adalah contoh siswa yang memilih perpustakaan sebagai tempat untuk mengerjakan tugas.

Dua siswa itu memilih tempat di bagian paling belakang perpustakaan karena tempat itu adalah yang paling sepi. Kyungsoo yang memilih tempat itu, dan Jongin hanya mengikuti Kyungsoo dalam diam.

Mereka berdua duduk dengan hening. Hanya suara gesekan lembar demi lembar kertas saja yang terdengar disana. Keduanya seperti terlalu canggung untuk memulai pembicaraan.

"Kau mendengar penjelasan Cho saem minggu lalu? Minggu lalu aku tidak fokus, dan yah~ aku tidak tahu inti penjelasan beliau," akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk memecah keheningan meskipun ia tetap bicara dengan nada datar.

Dengan malas Jongin menggelengkan kepala sebagai jawaban. Ia bahkan terlalu malas untuk mengeluarkan suaranya.

"Kau sudah menemukan buku yang lengkap tentang sejarah musik Korea Selatan?" kembali suara Kyungsoo yang terdengar, sedangkan Jongin lagi-lagi menggelengkan kepala. Hal itu rupanya membuat Kyungsoo sebal. "Kau begitu membenciku sampai-sampai kau tak bersedia bicara padaku?"

Ekspresi Jongin berubah kaget mendengar pertanyaan Kyungsoo. "Kau yang membenciku, Kyungsoo. Kau lupa?"

Tiba-tiba Kyungsoo menyeringai karena Jongin justru balas bertanya. "Tak mau mengaku padaku, tapi mau mengaku pada Krystal. Kenapa kau begitu pengecut, Kim Jongin?"

Jantung Jongin berdebar hebat saat mendengar Kyungsoo melantunkan namanya. Rasanya sudah sangat lama ia tak mendengar Kyungsoo menyebut namanya.

Tapi ini bukan saatnya ia mengagumi suara Kyungsoo. Ini adalah saat untuk bicara serius. "Aku tidak mengerti apa maksudmu," ucap Jongin.

Kali ini Kyungsoo menatap Jongin jengah. "Kau bercerita pada Krystal bahwa kau membenciku. Karena itulah kau memutuskan untuk pergi dari kamar asrama. Kau lupa?"

Jongin semakin merasa terkejut. Memangnya kapan ia pernah bercerita pada Krystal bahwa ia membenci Kyungsoo? Fakta yang ada adalah, ia pergi meninggalkan Kyungsoo karena perintah Krystal.

Sangat disayangkan karena Kyungsoo tak tahu hal itu.

Tapi Jongin jadi bertanya-tanya. Apa Krystal memfitnahnya di depan Kyungsoo?

Entahlah. Jongin tak mau berpikir negatif tentang kekasih Kyungsoo itu.

"Tidak apa-apa kalau kau mengira seperti itu, Kyungsoo," kali ini Jongin berujar dengan sabar. "Tapi semoga kau cepat mengetahui hal sebenarnya. Yang jelas, aku sebenarnya sangat ingin menepati janjiku untuk selalu menemanimu. Tapi sayang, aku tak bisa."

Setelah selesai bicara, Jongin berdiri dari kursinya dan dengan cepat berlalu menjauhi Kyungsoo.

Persetan dengan tugas dari Cho saem. Jongin tak sanggup berlama-lama melihat wajah Kyungsoo. Wajah itu membuatnya ingin menangis.

Tapi ternyata, bukan hanya Jongin yang merasa sedih. Kyungsoo pun kini juga merasakan hal yang sama.


#Mr. Normal


Chanyeol dan Sehun melihat kepergian Jongin dari perpustakaan. Dua sahabat itu berada dalam kelompok yang sama sehingga mereka mengerjakan tugas bersama. Dan bisa dikatakan, tadi mereka menguping pembicaraan Jongin dan Kyungsoo.

"Kondisinya semakin buruk," Sehun membuka suara. Wajahnya yang biasanya datar kini sedikit menampakkan raut kasihan.

Chanyeol mengangguk. "Apa menurutmu, kita bilang saja pada Kyungsoo tentang kejadian yang sebenarnya?"

"Kurasa itu ide yang kurang baik," Sehun menggeleng cepat. "Kita tidak boleh mencampuri urusan mereka. Lagipula Jongin mempercayai kita untuk menyimpan tentang semua itu."

"Tapi tetap saja Kyungsoo harus tahu tentang Jongin yang sebenarnya. Mereka hanya saling salah paham sek—"

"Apa yang harus aku ketahui?"

Ucapan Chanyeol terpotong karena tiba-tiba Kyungsoo menyela. Ya. Pria pendek itu entah sejak kapan berdiri di belakang Sehun dan Chanyeol —Sehun dan Chanyeol duduk bersebelahan-.

Dua pria tinggi sontak berbalik untuk menghadap Kyungsoo. Keduanya saling pandang untuk sesaat, selanjutnya menundukkan kepala mereka bersamaan.

Tak seharusnya Kyungsoo mendengar pembicaraan mereka, dan kini mereka bingung harus mengatakan apa pada Kyungsoo. Pasalnya, mereka sudah berjanji pada Jongin untuk tak bicara apapun pada Kyungsoo.

Kyungsoo berjalan mendekati mereka, lalu menatap mereka bergantian. "Apa ada hal yang tidak aku tahu tentang Jongin?"

"I-itu tentang Jongin. Kau tak berhak tahu, Kyungsoo," jawab Chanyeol. Ia masih belum berani mengangkat kepalanya.

Kyungsoo menghela nafas. Berusaha untuk tetap sabar. "Hal yang kalian sembunyikan itu juga berkaitan denganku, 'kan? Itu artinya, aku juga berhak tahu."

Chanyeol dan Sehun kembali saling tatap untuk beberapa detik, sebelum akhirnya mereka mengangkat kepala untuk berhadapan langsung dengan Kyungsoo.

"Kami tadi tak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Kau berpikir bahwa Jongin membencimu, 'kan?" tanya Sehun. Pria berkulit putih itu memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Kyungsoo.

Kyungsoo sendiri kini mengangguk sekali.

"Yang kau pikirkan itu sama sekali tidak benar, Kyungsoo," kini Chanyeol yang bicara. "Jongin sama sekali tak membencimu, dan ia meninggalkanmu karena..."


#Mr. Normal


Tap tap tap

Suara derap langkah kaki menggema di koridor. Kyungsoo berlari kencang untuk mencari seseorang.

Ia memang sudah mendengar semua cerita mengenai Jongin dari Chanyeol dan Sehun, tapi ia tetap harus membuktikan bahwa hal yang dikatakan oleh dua pria itu adalah kebenaran.

Kepala Kyungsoo tergerak ke kanan dan ke kiri. Saat ini adalah waktunya pergantian jam sehingga koridor cukup ramai dengan para siswa yang berlalu-lalang.

Saat ia hampir mendekati ruang dance, tiba-tiba ia menemukan sosok yang dari tadi dicarinya.

Tanpa perlu menunggu waktu, ia mendekati sosok itu, kemudian menarik pergelangan tangannya.

Sosok itu berontak, namun ia terpaksa mengikuti langkah kaki Kyungsoo karena Kyungsoo menariknya dengan sekuat tenaga.

Kyungsoo membawa sosok itu ke dalam gudang sekolah yang letaknya relatif di belakang gedung sekolah pada umumnya.

BLAM. Pintu gudang itu dibanting keras oleh Kyungsoo hingga tertutup rapat.

Kerasnya suara pintu yang dibanting itu membuat sosok yang tadi ditarik oleh Kyungsoo terlonjak kaget.

Dengan sinis Kyungsoo menatap sosok itu. "Jelaskan padaku tentang semua yang sebenarnya terjadi," ujarnya. Kyungsoo tampak berusaha menahan emosinya yang mungkin bisa meluap kapan saja.

"A-apa maksudmu, Kyungsoo?" dengan terbata lawan bicara Kyungsoo melempar satu pertanyaan.

Kyungsoo memejamkan matanya untuk menenangkan diri. Rasanya ia ingin memukul telak sosok di depannya, tapi ia tak tega. "Jelaskan padaku tentang...Kim Jongin."

Gadis di depan Kyungsoo melebarkan mata sipitnya. Terkejut mendengar permintaan Kyungsoo. "Me-memangnya apa yang harus aku jelaskan?"

"SEMUANYA! JELASKAN PADAKU TENTANG SEMUANYA, KRYSTAL JUNG!"

Rasanya tubuh Krystal mengkerut seketika karena bentakan Kyungsoo. Ia segera menundukkan kepalanya dalam-dalam karena tak berani menatap Kyungsoo.

Ia sudah bertahun-tahun mengenal Kyungsoo, dan ia hafal betul bahwa angry Kyungsoo adalah hal yang paling menyeramkan, dan ia tak pernah ingin membuat Kyungsoo marah.

Tapi hari ini Krystal justru membuat kekasihnya itu murka. Tak ada hal yang bisa dilakukan Krystal selain diam seribu bahasa karena terlalu takut.

"Apa benar kau yang menyuruh Jongin untuk meninggalkan kamar asrama dan menjauhiku? Dan benarkah kau berbohong padaku dengan berkata bahwa Jongin membenciku? Jawab aku, Krystal!"

Tubuh Krystal bergetar karena takut. Suara Kyungsoo terdengar begitu keras karena terlalu diliputi emosi, dan Krystal sadar betul akan hal itu.

Kyungsoo paling tidak suka dibohongi dan dikhianati. Sayangnya, Krystal sudah melakukan dua kesalahan itu dan kini membuat Kyungsoo marah besar.

"Aku selalu mempercayaimu, Krys..." suara Kyungsoo melemah seiring dengan jatuhnya air mata di pipinya. "Kenapa kau tega berbohong padaku dan membuatku salah paham?"

Dengan ragu Krystal mengangkat kepalanya dan menatap Kyungsoo. Hatinya sakit melihat Kyungsoo menangis karenanya. "A-aku hanya tak ingin kehilangan dirimu, Soo. Jongin...ia ingin merebutmu dariku. Aku...aku tak rela."

"Apa kau bilang? Jongin ingin merebutku dariku? Apa maksudmu, Krys?"

Kali ini Krystal menatap Kyungsoo tanpa keraguan. "Jongin itu gay, dan ia mencintaimu, Kyungsoo! Aku hanya ingin menyelamatkanmu dari pengaruh buruknya. Aku tidak salah, 'kan?"

Kyungsoo terperanjat, dan ia diam. Ia tak menyangka Krystal akan bicara seperti itu. Hatinya berdesir tak karuan mendengar kalimat Krystal.

Benarkah Jongin mencintai dirinya? Atau...itu hanya salah satu kebohongan Krystal saja? Kyungsoo tak yakin mana yang merupakan fakta, dan mana yang merupakan kebohongan.

"Aku tidak salah, 'kan?" Krystal mengulangi pertanyaannya.

"Kau tetap salah, Krys," Kyungsoo akhirnya menjawab setelah ia sempat diam membisu. "Meskipun kau adalah kekasihku, tapi kau tak berhak mencampuri urusanku dengan Jongin."

"AKU HANYA BERUSAHA MENYELAMATKANMU, KYUNGSOO!"

"TAPI TIDAK DENGAN CARA MENYURUH JONGIN UNTUK KELUAR DARI KAMAR ASRAMA!"

Sepasang kekasih itu kini terengah-engah karena mereka baru saja saling berteriak keras.

Ini adalah kali pertama mereka bertengkar hingga saling berteriak. Biasanya, mereka selalu bisa menyelesaikan masalah dengan baik-baik.

Kyungsoo yang frustasi kini menjambak rambutnya sendiri. "Kurasa kita tak bisa bersama lagi, Krys. Aku tidak suka jika ada orang yang berbohong padaku."

Krystal membulatkan matanya tak percaya. "A-apa kau bilang? Kau baru saja memutuskan hubungan kita? Memutuskan hubungan demi pria gay macam Jongin?"

"AKU INGIN PUTUS BUKAN KARENA JONGIN!" kembali Kyungsoo membentak Krystal. Tapi detik berikutnya ia memejamkan mata sejenak untuk mengontrol emosinya. "Aku hanya tidak bisa bersama denganmu lagi, Krys. Kita sudah tidak sejalan lagi."

Tes. Air mata mulai menetes di pipi putih Krystal. Hatinya tercabik karena ucapan Kyungsoo.

Hubungan mereka sudah berjalan selama dua tahun, dan kini semuanya harus berakhir hanya karena seorang pria gay. Dunia ini sungguh tak adil bagi Krystal.

Kepala gadis itu kini menunduk dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.

Saat gadis itu sedang menangis sesenggukan, tiba-tiba matanya menangkap sebuah potongan seng bersisi tajam tergeletak tak jauh dari kakinya.

Krystal dengan cepat menundukkan badan untuk mengambil potongan seng itu, lalu berdiri lagi dan bersiap untuk memotong nadi di pergelangan tangan kirinya. "Kalau kau meninggalkanku, aku akan mati, Kyungsoo."

Kyungsoo shock seketika saat melihat mantan kekasihnya kini bersiap untuk bunuh diri.

Tapi Kyungsoo tak ingin gegabah. Ia yakin bahwa Krystal hanya menggertak, dan tak mungkin ia benar-benar menyakiti dirinya sendiri. Walaupun segala kemungkinan masih bisa terjadi, apalagi kini kondisi mental Krystal sedang labil.

"Jangan main-main, Krystal. Letakkan seng tajam itu, dan kita keluar dari gudang ini."

Bukannya mematuhi perkataan Kyungsoo, Krystal justru menyeringai kejam. "Aku tidak main-main, Kyungsoo. Kau...tidak akan bisa lari dariku."

ZRASH! Krystal benar-benar memotong nadinya sendiri.

Darah langsung mengalir deras dari nadi yang terpotong itu.

"KRYSTAL!" Kyungsoo langsung panik, dan segera mendekati Krystal. Ia pegang pinggang gadis itu untuk menahan badannya yang mulai lemah.

"A-aku serius de-dengan perkataanku, Kyungsoo."

Setelah itu, Krystal tak sadarkan diri.

..

..

TBC


Chapter ini kerasa unsur drama-nya ya? hehe. konflik benar-benar dimulai :D

terimakasih ya buat para reader yang selalu meninggalkan review. aku selalu berusaha update tiap hari kok. tapi untuk besok aku gak yakin bisa update atau enggak, soalnya besok ada urusan dari pagi sampai malem. tapi kalau bisa, aku bakal usahain buat udpate. jadi mohon dimaklumi ya :)

aku masih belum tahu ini bakal end di chapter berapa. yang jelas, ini udh beneran masuk tahap konflik, dan yah~ bakal lebih banyak hurt-nya. tapi ini akan happy ending kok. aku kalo nulis FF yg chapternya banyak selalu happy ending biar reader yg udah baca panjang2 gak kecewa^^

ok, review again, please?