Title: Mr. Normal
Pairing: KaiSoo as main pair
Cast for this chapter: Kai EXO as Kim Jongin, D.O EXO as Do Kyungsoo, Krystal f(x) as Krystal Jung, Chen EXO as Kim Jongdae, Jessica SNSD as Jessica Jung
Rate: T
Genre: Romance, Drama, Hurt, Friendship
Length: Chaptered [11/?]
Summary for chap 11:
Jongin akhirnya memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya pada Kyungsoo. Tapi yang ia dapatkan setelah mengungkapkan perasaannya itu adalah...penolakan.
NOTE: special for syafakamilla yang request FF KaiSoo :)
Aku disini pinjem nama SOPA cuma sekedar pinjem nama sekolah aja. Tapi untuk urusan teknis tentang SOPA di FF ini 100% merupakan hasil imajinasiku. Jadi barangkali beda sama kenyataannya. Harap maklum
YAOI | CHAPTERED | SCHOOL LIFE | AU | OOC | TYPO | DLDR | NO PLAGIAT
Previous Chapter:
ZRASH! Krystal benar-benar memotong nadinya sendiri.
Darah langsung mengalir deras dari nadi yang terpotong itu.
"KRYSTAL!" Kyungsoo langsung panik, dan segera mendekati Krystal. Ia pegang pinggang gadis itu untuk menahan badannya yang mulai lemah.
"A-aku serius de-dengan perkataanku, Kyungsoo."
Setelah itu, Krystal tak sadarkan diri.
..
CHAPTER 11 (Rejection)
HAPPY READING!
Lagi-lagi Kyungsoo berlari kencang di koridor sekolah, tapi kali ini ia tak sendirian. Ia berlari seraya membopong tubuh Krystal yang tak sadarkan diri.
Pergelangan tangan Krystal mengeluarkan banyak darah, hingga darah itu turut mengotori baju dan tangan Kyungsoo.
Tapi Kyungsoo tak peduli. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah keselamatan Krystal.
Ia merasa takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Krystal. Mungkin ia tak akan memaafkan dirinya sendiri jika hal buruk itu benar-benar menimpa Krystal. Apapun kesalahan Krystal, Kyungsoo tetap tak ingin kehilangan sosok yang pernah dikasihinya itu. Hingga tanpa sadar, Kyungsoo meneteskan air mata karena terlalu takut.
Jongin tak sengaja melihat pemandangan mencolok di koridor itu. Pemandangan saat Kyungsoo berlari kencang dengan Krystal berada di gendongannya. Tentu pemandangan itu menarik perhatiannya. Bahkan bukan hanya menarik perhatian Jongin, tapi juga menarik perhatian seluruh manusia yang kebetulan berada disana. Tak heran jika kini koridor itu menjadi ramai karena siswa mulai berkasak-kusuk.
Jongin sebenarnya merasa cemburu karena Kyungsoo bersama Krystal, tapi di sisi lain ia juga merasa bingung. Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dua manusia itu.
Jongin juga merasa cemas karena ia sempat melihat bercak darah di pakaian dua orang itu.
Sebenarnya ia ingin menyusul Kyungsoo, tapi ia tak tahu apa yang akan ia lakukan setelah ia berhasil menyusul Kyungsoo. Ia pun tak yakin apakah Kyungsoo mau bicara dengannya atau tidak.
Jongin hanya bisa berharap semoga semuanya baik-baik saja. Karena tadi ia sempat melihat raut ketakutan dan kesedihan Kyungsoo, dan ia yakin bahwa itu karena Krystal.
Barangkali Krystal terluka, lalu Kyungsoo merasa takut dan sedih hingga pria kecil itu menangis. Jongin berpikir bahwa Kyungsoo sangat mencintai Krystal sampai-sampai ia rela meneteskan air mata berharganya karena takut kehilangan Krystal.
Jongin hanya bisa tersenyum pilu sembari memegang dada kirinya yang terasa sesak. Rasanya tak ada harapan lagi. Hati Kyungsoo sepenuhnya milik Krystal, dan Jongin tak akan memiliki kesempatan untuk mengubah realita itu. Sekiranya itu yang dipikirkan oleh Jongin.
Akhirnya, Jongin memilih untuk membalik badannya dan pergi dari koridor itu. 'Kyungsoo pasti akan baik-baik saja selama ada Krystal di sampingnya.'
#Mr. Normal
Kyungsoo duduk di kursi yang berada di depan ruang ICU dengan dua tangannya yang saling bertaut.
Krystal dipindahkan ke ruang ICU setelah tadi sempat mendapat perawatan di IGD.
Dokter berkata bahwa Krystal kehilangan cukup banyak darah karena urat nadinya nyaris terpotong. Meskipun nadinya belum benar-benar putus, tapi tetap saja dari luka itu mengucur deras darah merah milik Krystal.
Tapi untungnya gadis itu tak sampai kehilangan seluruh darahnya sehingga ia masih bisa diselamatkan. Ya...meskipun sampai sekarang kondisinya masih kritis dan belum sadarkan diri.
Kyungsoo sudah menghubungi orang tua Krystal, tapi mereka baru besok bisa datang ke Korea. Maklum saja, orang tua Krystal tinggal di Amerika. Ia juga sudah menghubungi kakak kandung Krystal, dan mungkin sosok kakak kesayangan Krystal itu sekarang sedang berada dalam perjalanan untuk menuju rumah sakit.
Kyungsoo merasa bahwa semua menjadi semakin rumit baginya. Ia tadinya hanya bermaksud untuk meluruskan semuanya dengan cara bertanya pada Krystal, tapi ternyata justru muncul masalah baru. Padahal masalahnya dengan Jongin belum juga selesai.
Kyungsoo tak menduga jika Krystal akan bertindak senekat itu. Setahunya, Krystal adalah gadis yang rasional, dan jarang sekali bertindak gegabah. Krystal yang sekarang mungkin telah berubah, dan perubahan itu terjadi karena cinta.
Dengan kasar Kyungsoo mengusap wajahnya. Ia tak peduli bahwa tangannya kini diselimuti oleh darah kering milik Krystal. Ia sepertinya tak memiliki energi untuk sekedar mengguyur tangannya dengan air bersih hingga bekas darah itu hilang.
Kyungsoo yakin bahwa setelah ini ia tak akan bisa lepas dari Krystal. Krystal pasti akan terus berusaha untuk memiliki Kyungsoo sampai akhir.
Sekarang Kyungsoo sadar bahwa ia tak memiliki perasaan special pada Krystal. Perasaannya dulu pada Krystal mungkin memang bukan cinta. Dulu ia merasa nyaman dengan Krystal dan ia juga selalu mengagumi kecantikan Krystal. Dulu ia selalu merasa beruntung karena memiliki kekasih secantik Krystal.
Tapi kini Kyungsoo sadar. Mungkin ia memang pernah memiliki sedikit rasa pada Krystal, tapi barangkali itu hanyalah rasa suka, dan bukan cinta. Ia telah salah mengartikan perasaannya sendiri.
Di tengah rasa kalutnya, entah mengapa Kyungsoo mengingat sosok hangat Kim Jongin.
Ia bahkan berandai-andai...
'Seandainya Jongin ada di sini, aku akan memeluknya dan menangis di dadanya.'
#Mr. Normal
Lagi-lagi hari baru telah datang. Satu demi satu pelajaran di sekolah juga sudah dilewati hari ini.
Tapi apalah arti hari baru jika Jongin tak kunjung bisa move on?
Hari ini rasanya ia begitu clueless. Tak ada satupun kabar tentang Kyungsoo, dan pria mungil itu seharian ini juga sama sekali tak menampakkan batang hidungnya di lingkungan sekolah.
Feeling Jongin mengatakan bahwa terjadi sesuatu dengan mantan roommate-nya itu, dan semuanya pasti berkaitan dengan Krystal.
Jongin benar-benar tak bisa fokus karena terlalu penasaran sekaligus cemas.
Tapi ternyata bukan hanya Jongin sendiri yang merasa penasaran dan cemas. Kim Jongdae agaknya juga merasakan hal yang sama.
Saat ini, Jongin dan Jongdae tergabung dalam satu kelompok saat kelas Instrument dengan guru tampan mereka yang bernama Henry Lau. Mereka tidak hanya berdua, tapi bersama dua siswa yang lainnya.
Henry saem membagi seluruh siswanya menjadi lima kelompok. Itu artinya, terdapat tiga kelompok yang beranggotakan empat siswa, dan terdapat dua kelompok yang beranggotakan lima siswa —Kyungsoo ikut dimasukkan di salah satu kelompok-.
Setiap kelompok dianggap sebagai kelompok band. Setiap band akan tampil saat pertengahan semester, dan penampilan mereka akan dinilai oleh Henry saem sebagai nilai pelajaran Instrument. Oleh karena itu, saat ini setiap band sedang mendiskusikan perihal penampilan mereka sekitar dua bulan lagi supaya mereka mendapatkan nilai yang baik.
Setiap band kini sedang mendiskusikan tentang pembagian posisi tiap anggota band. Siapa yang menjadi vocalist, guitarist, drummer, dan posisi-posisi lain yang lazim dalam sebuah band.
Jongin bisa melihat sedari tadi Jongdae tak fokus dalam diskusi kelompoknya. Pria bersuara emas itu dari tadi menunduk, dan tangannya menyembunyikan ponsel di laci mejanya.
Tampaknya Jongdae sedang berkirim pesan dengan seseorang.
"Aish! Tak bisakah ia membalas pesanku dan memberitahuku dimana rumah sakit tempat Krystal dirawat?" Jongdae menggerutu dengan suara pelan.
Tapi gerutuan yang hanya lirih itu rupanya mampu didengar oleh Jongin yang saat ini duduk tepat di sampingnya. Dengan cepat ia menepuk bahu Jongdae untuk meminta atensinya. "Apa yang terjadi, Jongdae-ssi? Apa Krystal...sakit?"
Jongdae jelas merasa kaget karena tiba-tiba Jongin bertanya padanya. Ini adalah kali pertama Jongin bicara padanya secara langsung. Maklum saja, sifat pemalu Jongin menyebabkan dirinya tak punya banyak teman di kelas.
Jujur, saat ini Jongdae bingung. Ia tak tahu harus bercerita pada Jongin atau tidak.
Ia tahu bahwa saat ini Jongin seperti ingin ikut campur, tapi ia juga tahu bahwa sebenarnya Jongin berkaitan dengan masalah dua sahabatnya —Jongdae juga bersahabat dengan Krystal-.
"Jongdae-ssi, tolong katakan padaku apa yang terjadi..." Jongin memohon dengan wajah yang super memelas.
Jongdae tampaknya luluh melihat wajah memelas Jongin. "Krystal sekarang dirawat di rumah sakit karena kemarin ia mencoba untuk bunuh diri."
Mata Jongin membulat seketika. Sejak kemarin, para siswa di sekolahnya memang meributkan insiden Kyungsoo yang berlarian di koridor sembari menggendong Krystal, tapi tak ada satupun dari mereka yang tahu tentang hal yang sebenarnya.
Hanya Jongdae yang tahu tentang hal itu karena Kyungsoo semalam bercerita padanya lewat telepon. Tapi bodohnya, Jongdae tak bertanya di rumah sakit mana Krystal dirawat. Baru pagi ini Jongdae bertanya tentang hal itu karena rencananya ia akan berkunjung sepulang sekolah.
"Lalu, apa Kyungsoo sekarang menemani Krystal di rumah sakit?" tanya Jongin lagi.
Terlihat sekali bahwa sebenarnya yang menjadi pusat perhatian Jongin adalah Kyungsoo, dan bukan Krystal.
"Ya, Kyungsoo menemani Krystal sekarang," jawab Jongdae.
Jongin tampak sedih. Sekali lagi ia meyakini bahwa cinta Kyungsoo pada Krystal begitu besar sampai-sampai siswa rajin seperti Kyungsoo rela membolos agar bisa menemani Krystal.
Jongdae sendiri tampak tidak peka pada perubahan raut wajah Jongin. Ia kembali fokus pada ponselnya, kemudian tersenyum cerah. "Akhirnya ia membalas pesanku. Nanti sore aku akan berkunjung ke rumah sakit," ujarnya pada diri sendiri.
Kyungsoo rupanya baru saja membalas pesan Jongdae, dan kini Jongdae tahu rumah sakit yang merawat Krystal.
Jongin tadi ternyata mendengar ucapan Jongdae. Pemuda dengan warna kulit mempesona itu kini terlihat berpikir keras. Ia ingin menemui Kyungsoo dan ingin meluruskan masalahnya dengan Kyungsoo. Meskipun harus menemui Kyungsoo di rumah sakit, tapi ia rela melakukannya.
Setelah merasa yakin, Jongin segera ia menoleh pada pria di sebelahnya. "Jongdae-ssi...bolehkan aku ikut ke rumah sakit?"
#Mr. Normal
Sepulang sekolah, Jongdae dan Jongin berjalan bersama menuju rumah sakit tempat Krystal dirawat.
Ya. Jongdae memutuskan untuk mengajak Jongin mengunjungi Krystal, karena ia tak memiliki hak untuk mencegah Jongin menjenguk sahabat wanitanya itu.
Meskipun sebenarnya Jongdae yakin bahwa maksud kunjungan Jongin bukanlah untuk Krystal, melainkan untuk Kyungsoo. Walaupun Kyungsoo tak terlalu jujur padanya terkait masalah Jongin, tapi rupanya Jongdae cukup peka membaca keadaan. Ia tahu bahwa ada hal yang tidak beres diantara Jongin dan Kyungsoo.
Dua pria bermarga Kim yang dari tadi saling diam itu akhirnya sampai di depan ruang ICU. Disana Jongdae melihat Kyungsoo bersama seorang wanita cantik yang ia ketahui merupakan kakak kandung Krystal, Jessica Jung.
Jongdae yakin bahwa sampai hari ini orang tua Krystal belum tiba di Korea.
"Annyeong~"
Mendengar sapaan Jongdae, Kyungsoo dan Jessica secara bersamaan mengangkat kepala mereka.
Saat itulah Kyungsoo bertemu pandang dengan Jongin, dan ia sangat terkejut melihat pria itu ada di rumah sakit.
"Kau Kim Jongdae, 'kan? Aigoo~ kita sudah lama tidak bertemu, dan kau semakin tampan saja," Jessica mengusak rambut Jongdae dengan gemas.
Jongdae sendiri hanya nyengir bangga. "Kita terakhir bertemu di hari pernikahan noona. Ngomong-ngomong, dimana suami noona yang tampan itu?"
"Taecyeon oppa sekarang bekerja sebagai model di Paris. Baru dua hari yang lalu ia berangkat, jadi ia tak bisa pulang sekarang," jawab Jessica.
Dua manusia beda usia itu terlibat obrolan seru hingga melupakan keberadaan Jongin dan Kyungsoo yang kini berdiri dengan canggung.
"Ehm..K-Kyungsoo..." panggil Jongin. Kyungsoo menoleh ragu pada Jongin. "Kurasa kita perlu bicara. Kau ada waktu?"
Kyungsoo berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk menganggukkan kepalanya. Mungkin ini saatnya ia memperbaiki hubungannya dengan Jongin.
#Mr. Normal
Disini lah Kyungsoo dan Jongin sekarang. Duduk berdampingan dalam hening di bangku taman rumah sakit.
"Jadi, apa yang perlu kita bicarakan?" Kyungsoo membuka suara.
Sejak tadi ia tak sedikitpun menatap Jongin. Jongin pun sama. Ia sama sekali tak memandang Kyungsoo.
"Apa sekarang kau sudah tahu tentang semuanya?" Jongin balas bertanya.
Kyungsoo kini mendongak, menatap langit yang mulai gelap di atasnya. "Ya, aku sudah tahu semuanya. Hal itulah yang akhirnya berujung pada insiden Krystal mengiris urat nadinya sendiri."
Jongin menoleh pelan pada Kyungsoo. Memperhatikan profil wajah Kyungsoo dari samping.
Sumpah demi boxer-nya yang berwarna pink, Jongin merindukan wajah Kyungsoo. Rasanya sudah sangat lama ia tak menatap wajah Kyungsoo dari jarak dekat.
"Kenapa Krystal akhirnya memotong urat nadinya? Kau memarahinya?" tanya Jongin.
"Lebih dari itu," Kyungsoo mulai menundukkan kepalanya lagi, lalu memainkan jemarinya di atas pangkuannya. "Aku memutuskan hubungan kami berdua. Krystal tak bisa menerima hal itu, dan ia melakukan hal bodoh."
Sulit rasanya Jongin mempercayai apa yang ia dengar. Jadi, saat ini Kyungsoo dan Krystal sudah putus? Bolehkah Jongin berharap?
Tampaknya tidak. Kondisinya masih belum baik, dan Jongin tak berani untuk berharap lebih.
"Kenapa kau memutuskan untuk mengakhiri hubungan kalian?" Jongin kembali bertanya.
Kyungsoo menghela nafas. Pemuda itu bagaikan memikul beban ekstra berat di pundaknya. "Ia membohongiku, dan aku tak suka dibohongi. Dan kurasa kami berdua memang sudah tidak cocok lagi."
Jongin mengangguk paham. "Itu artinya, kau sudah tak mencintainya lagi?" tanyanya.
Kyungsoo tertawa halus mendengar pertanyaan itu. "Berpisah dengannya bukan berarti aku sudah tak mencintainya."
Jongin tampak sedikit kecewa mendengar jawaban Kyungsoo. Ia tak tahu bahwa sebenarnya perasaan Kyungsoo pada Krystal sudah pupus sejak beberapa waktu lalu.
Tapi sepertinya Kyungsoo masih sok jual mahal pada Jongin. Ia masih enggan mengakui perasaannya yang terkini. Karena ia pun masih menyangkal perasaannya itu.
"Kau tahu, Jongin?" dada Jongin bergetar hebat saat mendengar Kyungsoo memanggil namanya. Apalagi, Kyungsoo kini menatap matanya. "Setelah ini aku tak mungkin bisa lepas dari Krystal," lanjut Kyungsoo.
"Apa maksudmu, Kyungsoo? Kalian sudah berpisah, dan kau sudah bebas darinya."
Kyungsoo menggelengkan kepalanya tak setuju. "Tak semudah itu. Krystal tak mungkin mau melepasku setelah ia sadar."
"Tapi, Kyungsoo..."
"Tidak ada tapi, Jongin," Kyungsoo memotong kalimat Jongin, lalu ia mulai berdiri. "Kurasa sudah tak ada hal yang harus kita bicarakan. Yang penting sekarang aku tahu bahwa kita tak saling membenci. Aku pergi."
Kyungsoo baru berjalan dua langkah ketika Jongin menahan lengannya dan membalik badannya untuk menghadap Jongin lagi.
Tapi Kyungsoo menolak untuk menatap wajah Jongin. Ia lebih suka memandang sepasang sepatu hitam yang dipakainya.
"Tatap aku, Kyungsoo," pinta Jongin. Tapi Kyungsoo tak bergeming hingga akhirnya Jongin mengangkat dagu Kyungsoo. Memaksa pria itu untuk menatapnya. "Kau sudah tahu bahwa aku tak membencimu, tapi kau belum tahu perasaanku padamu yang sebenarnya."
Kyungsoo mulai gugup, dan ia menggerakkan bola matanya gelisah.
Ia bisa menebak perasaan Jongin yang sebenarnya karena kemarin Krystal sudah memberitahunya —walaupun Kyungsoo sendiri tak begitu percaya dengan itu-. Tapi tetap saja, jantung Kyungsoo berdebar kencang karena ia akan mendengar pengakuan langsung Jongin.
"A-aku...aku men—...aku mencintaimu, Kyungsoo." Jongin mengakhiri pengakuannya dengan tegas meskipun awalnya sempat terbata.
Jantung Kyungsoo berpacu semakin kencang. Meskipun ia sudah menduga pengakuan itu, tapi tak dapat dipungkiri bahwa kini jantungnya sedang melompat-lompat heboh.
Apalagi kini Jongin sedang menggenggam dua tangannya dan menatap matanya lembut.
Sungguh Kyungsoo harus memeriksakan jantungnya ke dokter setelah ini. Ia benar-benar merasa aneh.
"Aku...aku memutuskan untuk menjauhimu karena Krystal. Tapi sekarang aku tak ingin menjauhimu lagi, Kyungsoo. Aku ingin bersamamu..."
Kyungsoo masih menatap mata Jongin yang juga menatapnya penuh harap. Tatapan Jongin juga sarat akan ketakutan. Terlihat sekali bahwa Jongin memiliki rasa takut di matanya. Ia mungkin takut jika Kyungsoo—
"Maaf, Jongin. Aku tak bisa bersamamu."
—menolaknya. Ya. Kalimat penolakan baru saja disuarakan oleh Kyungsoo.
Ia bahkan kini menarik dua tangannya dari genggaman Jongin.
"Setelah ini aku harus bersama Krystal, dan aku adalah pria normal, Jongin. Aku tak mungkin menerima cinta dari seorang pria. Maafkan aku..."
Kyungsoo akhirnya berlari meninggalkan Jongin.
Jongin ditolak oleh Kyungsoo. Benar-benar ditolak.
Ini adalah kali pertama Jongin menyatakan cinta, dan ia langsung ditolak. Ia tak menyangka jika rasanya akan sesakit ini.
Apalagi Kyungsoo menyebut tentang normal. Hal yang membuat Jongin mengutuk siapapun orang yang mencetuskan definisi kata normal dalam suatu hubungan.
Tak terasa, air mata Jongin tumpah di pipinya. Ia gagal mendapatkan cinta Kyungsoo, dan ia tak bisa melakukan apapun lagi setelah ini.
#Mr. Normal
Kyungsoo berlari sambil menyeka air matanya yang jatuh berceceran di pipinya.
Mungkin ia tampak tegar dan dingin tadi saat bicara dengan Jongin, tapi sebenarnya ia rapuh dan juga merasa sedih.
Tapi ia tak punya pilihan lain. Perasaan cinta Jongin adalah sebuah kesalahan, dan ia tak ingin terjebak dalam jurang dosa itu.
Lagipula ia setelah ini akan semakin terikat dengan Krystal. Krystal tak mungkin mau melepasnya begitu saja.
Dengan alasan itulah Do Kyungsoo memutuskan untuk menolak Kim Jongin.
Meskipun tak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya si Mr. Normal mulai kehilangan derajat kenormalan-nya dan sedikit memiliki perasaan pada Jongin.
Tapi Kyungsoo enggan mengakui hal itu pada Jongin —dan juga pada dirinya sendiri-. Ia akan terus menyangkal hal itu karena ia tahu bahwa itu adalah sebuah kesalahan.
Air mata Kyungsoo sudah sepenuhnya hilang dari pipinya ketika ia kembali tiba di depan ruang ICU. Disana ia melihat Jongdae duduk sendirian. "Dimana Jessica noona?" tanyanya seraya mendudukkan diri di samping Jongdae. Suara Kyungsoo terdengar agak serak karena efek tangisannya.
Jongdae memperhatikan Kyungsoo intens. "Kau menangis?"
"Tidak," refleks Kyungsoo menggeleng. "Jadi, dimana Jessica noona?"
Melihat Kyungsoo coba mengalihkan pembicaraan, akhirnya Jongdae memutuskan untuk tak bertanya lebih lanjut perihal tangisan Kyungsoo. "Jessica noona ada urusan, jadi ia berpamitan untuk pergi tadi."
Kyungsoo hanya mengangguk untuk menanggapi jawaban Jongdae.
Beberapa saat kemudian, Kyungsoo dan Jongdae sama-sama terkejut karena ada seorang dokter yang keluar dari ruang ICU, kemudian berjalan mendekati mereka. "Apa kalian kerabat nona Jung?"
"Kami sahabatnya," dengan cepat Kyungsoo menjawab.
"Nona Jung baru saja sadar, jadi kalian sudah bisa menjenguknya. Tapi masuklah satu persatu, dan gunakan pakaian sterile serta masker yang telah disediakan di dalam."
Raut bahagia menghiasi wajah Kyungsoo dan Jongdae. Mereka segera mengucapkan terimakasih, dan dokter yang menangani Krystal akhirnya pergi.
Jongdae kemudian menatap Kyungsoo. "Kau duluan saja yang masuk. Ia tak akan senang jika orang pertama yang ia lihat bukan dirimu."
Jongdae sebenarnya tahu bahwa hubungan Kyungsoo dan Krystal resmi berakhir kemarin, tapi ia sangat mengenal Krystal sehingga ia tahu bahwa saat ini Krystal pasti membutuhkan Kyungsoo.
Kyungsoo mengangguk sekali, kemudian memasuki ruang ICU.
#Mr. Normal
Tubuh mungil Kyungsoo sudah dibalut oleh pakaian sterile berwarna biru muda. Hidung dan mulutnya juga sudah tertutupi oleh masker berwarna senada. Tak lupa, rambutnya pun juga ditutupi oleh penutup kepala dengan warna sama.
Kyungsoo kini sudah berdiri di samping ranjang Krystal, dan menatap gadis itu ragu-ragu. "Kau sudah merasa baikan?"
Krystal mengangguk lemas. Wajahnya masih terlihat pucat karena ia sempat kehilangan banyak darah. Di samping ranjangnya juga masih menggantung sebuah kantung darah yang selangnya terhubung dengan punggung tangan Krystal.
"A-aku minta maaf, Soo," Krystal bicara dengan sangat lemah.
Kyungsoo menghela nafas, kemudian duduk di kursi yang ada di samping ranjang Krystal. "Kau minta maaf untuk kesalahanmu yang mana?"
"Aku minta maaf karena aku sudah membohongimu, dan juga minta maaf karena aku melakukan usaha bunuh diri yang membuatmu panik."
Kyungsoo berusaha keras untuk menarik dua sudut bibirnya membentuk senyuman. Meskipun bibirnya tertutup oleh masker, tapi ia merasa harus tersenyum pada Krystal. "Lupakan saja semua itu. Kita tak perlu memikirkannya lagi."
Krystal balas tersenyum, tapi dua detik setelahnya ekspresinya berubah serius. "Tapi aku sungguh-sungguh dengan ucapanku kemarin, Soo. Aku tak akan pernah rela melepasmu."
Senyum Kyungsoo pudar. Ia tak bisa lagi memaksa bibirnya untuk membentuk lengkung senyum karena perkataan Krystal seperti menghantam hatinya.
"Aku ingin kembali berpacaran denganmu, Soo," Krystal bicara lagi karena perkataannya tadi tak direspon oleh Kyungsoo. "Tapi kalau kau tetap bersikeras ingin meninggalkanku, mungkin aku akan berusaha mengakhiri hidupku lagi, karena hidupku tak berguna jika kau tak bersamaku."
Krystal mungkin terdengar egois, tapi sesungguhnya Krystal bukanlah gadis yang mementingkan egonya sendiri. Tapi apa mau dikata? Kali ini ia benar-benar tak ingin kehilangan Kyungsoo.
Krystal sudah jatuh hati pada Kyungsoo bahkan jauh sebelum Kyungsoo menyatakan cinta padanya. Di mata Krystal, Kyungsoo adalah sosok lelaki sempurna. Kyungsoo begitu sabar, pengertian, setia, dan selalu ada di samping Krystal dalam kondisi apapun.
Meskipun kadang Krystal tak bisa mengerti sifat Kyungsoo, tapi Krystal selalu berusaha memahami sifat aneh Kyungsoo. Ia menerima Kyungsoo apa adanya, dan ia ingin Kyungsoo menjadi pelabuhan terakhir hatinya.
Sebisa mungkin Krystal akan berusaha mempertahankan Kyungsoo meskipun harus menggunakan cara yang kotor. Lagipula itu juga demi kebaikan Kyungsoo karena ia tak ingin melihat Kyungsoo berubah menjadi gay.
"Krystal, kita bisa kembali menjadi sahabat seperti sebelumnya. Kit—"
"AKU TIDAK INGIN KITA KEMBALI BERSAHABAT!"
Kyungsoo mengatupkan bibirnya rapat karena Krystal baru saja membentaknya dan memotong ucapannya. Ia memandang sedih Krystal yang kini memegang kepalanya dengan sebelah tangannya. Sepertinya ia merasa pusing dan kesakitan. Kehilangan banyak darah tentu membuatnya anemia, dan tekanan batin yang dihadapinya hanya memperburuk kondisinya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kyungsoo cemas.
Krystal kini memandang Kyungsoo penuh harap. "K-kumohon jangan t-tinggalkan aku, Kyungsoo. Aku...aku masih sangat mencintaimu."
Kyungsoo tak bergeming memandang Krystal yang kini mulai menangis.
Ia tak pernah suka melihat Krystal menangis, tapi hari ini ia justru membuat gadis itu menangis.
Bagaimanapun juga, Kyungsoo masih menyayangi Krystal. Meskipun rasa sayang itu mungkin hanya sebatas rasa sayang pada sahabat.
Kenangan demi kenangan tentang Krystal bermunculan di ingatan Kyungsoo. Saat Krystal tertawa dengannya, saat Krystal memeluknya, saat Krystal menciumnya...
Semua itu melekat di benak Kyungsoo, dan semua itu sangat berarti bagi Kyungsoo.
Krystal adalah sosok yang selalu ada di samping Kyungsoo. Saat ibu Kyungsoo meninggal empat tahun silam, Krystal sampai beberapa minggu menginap di rumah Kyungsoo untuk menghibur Kyungsoo —mereka tentu tidur di kamar yang terpisah-.
Saat itu Krystal bahkan kehilangan banyak berat badannya karena ia tak tega melihat Kyungsoo yang depresi berat. Waktu itu Kyungsoo tak mau makan, dan Krystal pun tak mau makan jika Kyungsoo tak makan.
Hal itu menunjukkan bahwa Krystal merupakan sosok setia dan rela berkorban demi Kyungsoo. Kesetiaan dan perhatian Krystal itulah yang membuat Kyungsoo merasa jatuh hati pada Krystal. Ia akhirnya bisa move on dari keterpurukannya karena adanya Krystal. Tak heran jika Krystal menjadi sosok yang begitu berharga bagi Kyungsoo. Sosok Krystal telah membuatnya bangkit, dan sejak saat itu Kyungsoo seperti bergantung pada Krystal.
Krystal juga berbeda dengan gadis-gadis lain yang gila harta. Selama dua tahun mereka berpacaran, Krystal selalu menolak saat Kyungsoo ingin memberinya hadiah. Hal itulah yang membuat Kyungsoo merasa beruntung memiliki Krystal sebagai kekasihnya.
Walaupun kini semuanya sudah berubah. Waktu yang membuat Kyungsoo sadar bahwa perasaannya pada Krystal hanya sebatas rasa suka dan butuh. Ia tak benar-benar jatuh hati pada gadis itu. Debaran di jantungnya tak terasa keras saat ia berdekatan dengan Krystal, dan hatinya pun tak berbunga saat Krystal tersenyum padanya.
Tapi bagaimanapun juga, Krystal pernah menjadi sosok yang paling berharga di kehidupan Kyungsoo. Oleh karena itu, ia tak ingin menyakiti Krystal lebih dalam lagi. Jadilah ia mengambil keputusan walaupun itu berat baginya. "Baiklah. Kita...kembali bersama."
..
..
TBC
Annyeong~ hari ini aku update walaupun telat :p
maaf ya kalo Krystal disini jd agak antagonis. aku pernah kok bikin FF yg ada Krystal-nya, tp dia jd tokoh protagonis. sebenernya awalnya aku pengen bikin Krystal jd protagonis, tp setelah aku pikir2, aku pengen bikin kisah ini realistis. biasanya kan orang gak akan gampang merelakan orang yang dicintainya direbut sama orang lain. nah aku pengen nunjukin kalo Krystal jg gak gampang melepas Kyungsoo.
tapi aku usahain ini konfliknya gak lama2. aku biasanya kalo bikin konflik gak lama kok. hehe.
makasih yang udh ngasih review. review again, please? besok aku update lagi :)
