Title: Mr. Normal
Pairing: KaiSoo as main pair
Cast for this chapter: Kai EXO as Kim Jongin, D.O EXO as Do Kyungsoo, Krystal f(x) as Krystal Jung, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Sehun EXO as Oh Sehun
Rate: T
Genre: Romance, Drama, Hurt, Friendship
Length: Chaptered [12/?]
Summary for chap 12:
Saat Kyungsoo berada dalam bahaya, Jongin rela bertarung mati-matian untuk menyelamatkannya. Tapi apa yang ia dapat? Kyungsoo meninggalkannya begitu saja saat ia dalam kondisi sekarat
NOTE: special for syafakamilla yang request FF KaiSoo :)
Aku disini pinjem nama SOPA cuma sekedar pinjem nama sekolah aja. Tapi untuk urusan teknis tentang SOPA di FF ini 100% merupakan hasil imajinasiku. Jadi barangkali beda sama kenyataannya. Harap maklum
YAOI | CHAPTERED | SCHOOL LIFE | AU | OOC | TYPO | DLDR | NO PLAGIAT
Previous Chapter:
Walaupun kini semuanya sudah berubah. Waktu yang membuat Kyungsoo sadar bahwa perasaannya pada Krystal hanya sebatas rasa suka dan butuh. Ia tak benar-benar jatuh hati pada gadis itu. Debaran di jantungnya tak terasa keras saat ia berdekatan dengan Krystal, dan hatinya pun tak berbunga saat Krystal tersenyum padanya.
Tapi bagaimanapun juga, Krystal pernah menjadi sosok yang paling berharga di kehidupan Kyungsoo. Oleh karena itu, ia tak ingin menyakiti Krystal lebih dalam lagi. Jadilah ia mengambil keputusan walaupun itu berat baginya. "Baiklah. Kita...kembali bersama."
..
CHAPTER 12 (Leave)
HAPPY READING!
Tak terasa, kini sudah seminggu pasca insiden bunuh diri Krystal, dan sekarang gadis itu sudah kembali beraktivitas di sekolah.
Pergelangan tangan kiri Krystal masih dibalut oleh perban putih. Wajah Krystal juga masih sedikit pucat, namun untungnya gadis itu memoles wajahnya dengan sedikit make up sehingga ia tak seperti gadis di film-film horror yang wajahnya pucat menyeramkan.
Rumor negatif tentang Krystal tentu beredar di sekolah mengingat Krystal merupakan salah satu siswi populer disana. Banyak siswa yang berspekulasi bahwa Krystal melakukan usaha bunuh diri. Walaupun itu memang faktanya, tapi hal itu sama sekali tak dikonfirmasi.
Pihak-pihak yang mengetahui duduk perkara yang sebenarnya memilih untuk bungkam. Pihak sekolah pun memilih untuk tak mengusut lebih lanjut insiden Krystal karena Krystal sendiri juga memutuskan untuk menutup kasusnya itu.
Hingga saat ini masih banyak siswa yang menggunjing tentang Krystal, bahkan mereka tak ragu menggosip di depan Krystal.
Tapi hal itu rupanya tak digubris oleh Krystal. Gadis cantik itu sepertinya tebal muka dan tampak percaya diri menjalani harinya di sekolah.
Apalagi Kyungsoo selalu ada di sampingnya. Meskipun sebenarnya kekasihnya itu menemaninya dengan setengah hati.
Krystal sekarang sangat berubah sejak adanya insiden bunuh diri itu. Jika dulu Kyungsoo mengenal Krystal sebagai pribadi yang dewasa, maka kini semuanya berubah. Krystal menjadi sangat manja, utamanya pada Kyungsoo.
Saat berada di sekolah, Krystal selalu menempel pada Kyungsoo saat jam istirahat atau saat jam kosong, dan selalu bermanja-manja pada kekasihnya itu ketika mereka bisa menghabiskan waktu bersama.
Krystal juga sangat over protective. Kyungsoo kini tak bisa seenaknya berdekatan dengan orang lain, tak peduli orang itu memiliki jenis kelamin yang berbeda maupun sama.
Jongdae saja merasa tersisih karena perubahan Krystal itu. Ia kini tak bisa sering-sering hang out dengan Kyungsoo karena Krystal selalu menginginkan quality time dengan kekasihnya itu. Jongdae sering diusir secara halus agar tak mengganggu waktu berharga mereka.
Tapi perubahan Krystal yang paling membuat Kyungsoo merasa tidak nyaman adalah ketika gadis itu dengan tegas melarang Kyungsoo agar tidak berkomunikasi dengan Jongin dalam bentuk apapun.
Menurut Kyungsoo itu sangat berlebihan, dan cenderung impossible untuk dilaksanakan oleh Kyungsoo. Pasalnya, Kyungsoo sekarang masih memiliki tanggungan untuk melakukan presentasi dengan Jongin saat pelajaran Sejarah Musik Korea Selatan.
Mungkin mereka memang belum harus presentasi minggu ini, tapi minggu depan mereka harus melakukannya karena itu adalah giliran mereka.
Saat ini, Kyungsoo dan Krystal sedang makan siang bersama di cafetaria. Krystal dengan manja meminta Kyungsoo untuk menyuapinya. Meskipun Kyungsoo sebenarnya enggan, tapi tetap saja Kyungsoo akhirnya menyuapi Krystal karena kekasihnya itu terus merengek manja.
Tentu saja Kyungsoo hanya bisa menurut jika Krystal sudah bertingkah begitu.
Semua perubahan yang ada pada diri Krystal rupanya turut merubah kepribadian Kyungsoo. Kyungsoo yang beberapa waktu lalu sudah mulai berubah menjadi pribadi yang sedikit lebih hangat, kini kembali menjadi Kyungsoo yang dingin. Bahkan lebih dingin dibanding sebelumnya.
Jongin rupanya menyadari perubahan itu. Ia sekarang sedang memandang sendu pada Kyungsoo dan Krystal yang menempati sebuah meja tak jauh dari mejanya.
Ia sudah tahu bahwa Kyungsoo dan Krystal sekarang kembali berpacaran.
Jongin sebenarnya berharap akan ada eye contact atau semacamnya dengan Kyungsoo, tapi ternyata Kyungsoo sama sekali tak meluangkan sedikitpun waktunya untuk sekedar melirik Jongin.
Hal itu membuat Jongin merasa sedih. Ia sudah menyatakan perasaannya pada Kyungsoo, namun ia kini justru semakin jauh dari Kyungsoo.
"Aku ingin menyerah," Jongin berujar sembari menjatuhkan kepalanya di atas meja. Mengabaikan dahinya yang sedikit nyeri karena berciuman dengan meja kayu itu.
"Jangan menyerah, Jongin. Kyungsoo hanya terpaksa kembali pada gadis itu, tapi bukan berarti ia masih mencintai gadis itu," Chanyeol yang merasa iba mulai menepuk-nepuk pelan punggung sahabatnya.
Sehun kini menganggukkan kepalanya. "Chanyeol benar. Beri Kyungsoo waktu untuk meyakinkan perasaannya."
Dengan malas kini Jongin mengangkat kepalanya, kemudian menatap Sehun dengan mata yang basah. "Masalahnya tidak sesederhana itu," ia mulai merengek. "Sekarang Krystal memiliki alat untuk menahan Kyungsoo supaya tetap di sampingnya. Sedangkan aku? Kyungsoo justru menjauhiku."
"Hey, Kim Jongin," panggilan Chanyeol membuat si pemilik nama mengalihkan pandangannya pada si pemanggil. "Cinta itu tidak membutuhkan alat, tapi hanya membutuhkan kasih sayang yang tulus dan juga perhatian yang nyata. Kau tunjukkan saja dua hal itu pada Kyungsoo. Pendekatan. Kau tahu? Kau pasti belum melakukan pendekatan yang benar pada Kyungsoo, 'kan?"
Kali ini Jongin menggelengkan kepalanya. "Menurutmu, aku harus mendekati Kyungsoo? Tapi bagaimana jika ia menjauhiku?"
"Hey hey, siapa yang mengajarimu menjadi seorang pengecut begitu, huh?" tanya Chanyeol. "Cobalah dulu, baru kita akan tahu hasilnya. Kuncinya adalah ketulusan. Mengerti?"
Chanyeol berujar sangat serius pada Jongin, dan tampaknya itu berhasil meyakinkan Jongin karena pria itu akhirnya menganggukkan kepalanya.
Jongin harus mengakui bahwa Chanyeol lebih expert dibanding dirinya jika sudah menghadapi masalah cinta. Apalagi Jongin tahu bahwa saat ini Chanyeol sudah berhasil mendapatkan hati Baekhyun seutuhnya.
Ya. Kini Chanyeol resmi berpacaran dengan Baekhyun. Tepatnya dua hari lalu Chanyeol resmi melepas masa jomblo-nya. Hubungan Chanyeol dan Baekhyun tentu dirahasiakan dari publik karena gay pasti akan menuai kontroversi. Tapi itu tak masalah bagi dua sosok yang sedang kasmaran. Mereka menjalani kisah kasih mereka dengan penuh kebahagiaan.
Jongin hanya bisa berharap semoga kisahnya dengan Kyungsoo akan indah pada akhirnya. Mungkin dengan belajar dari Chanyeol, Jongin akan bisa meluluhkan hati Kyungsoo.
#Mr. Normal
Biasanya sepulang sekolah Jongin akan langsung pulang ke rumah dengan mobil jemputannya. Setiap hari Jongin memang selalu diantar dan dijemput oleh sopir keluarganya. Sekedar informasi, pria tampan itu belum bisa menyetir sampai sekarang.
Agaknya hari ini tak biasa bagi Jongin. Pemuda itu tak langsung pulang ke rumah, melainkan ia memasuki gedung asrama siswa laki-laki. Rasanya sudah sangat lama Jongin tak mengunjungi tempat itu. Dan sekarang tak ada yang tahu apa yang akan dilakukan oleh pria berkulit kecoklatan itu.
Setelah beberapa menit berjalan pelan dan juga menaiki lift untuk beberapa saat, Jongin akhirnya tiba di lantai tiga. Setelah keluar dari lift dan berjalan sebentar, ia pun sampai di depan kamar nomor 42.
Ia pandangi papan nomor yang tertempel di daun pintu. Rasanya seperti deja vu. Dulu Jongin juga memandangi papan nomor itu saat ia pertama kali tiba di asrama.
Ia saat ini juga merasa takut dan ragu. Sama dengan saat ia pertama kali akan mengetuk pintu kamar itu.
Iya. Jongin berniat untuk mengetuk pintu kamar di depannya. Rencananya ia ingin melakukan pendekatan, seperti apa yang disarankan oleh Chanyeol siang tadi.
Setelah Jongin bisa sedikit menenangkan dirinya, ia pun mengetuk pintu...tok tok tok.
Tangannya yang tadi terangkat kini kembali turun, dan tangan itu tampak berkeringat. Pemuda itu pasti sangat gugup.
Klek. Rupanya Jongin tak perlu menunggu lama hingga pintu itu terbuka.
Siapa lagi yang membukanya kalau bukan seorang Do Kyungsoo?
Benar. Saat ini pria berpipi chubby itu sedang membuka matanya lebar-lebar, guna memastikan bahwa orang yang berdiri di depannya detik ini adalah Kim Jongin. "Jo-Jongin?" tanyanya lirih.
"Hey, rasanya sudah lama aku tidak berada disini. Ehm..boleh aku masuk?" Jongin balas bertanya sembari sebelah tangannya menggaruk belakang lehernya canggung.
Kyungsoo tak segera memberi respon. Ia hanya menatap pria yang lebih tinggi dengan dua matanya yang besar. Tak dapat dipungkiri bahwa ia sangat terkejut melihat Jongin berada di asrama lagi.
"Aku hanya ingin berkunjung, dan tidak berniat untuk kembali ke kamar ini. Jadi kau tidak perlu khawatir, Kyungsoo."
Pikiran Kyungsoo yang tadi melayang-layang tak jelas kini sudah kembali ke bumi lagi. Ia menatap Jongin ragu-ragu. "Ta-tapi..."
"Kumohon, Kyungsoo. Disini tidak ada Krystal."
Jongin benar. Ia memilih asrama sebagai tempat untuk bertemu Kyungsoo karena itu adalah tempat paling aman karena Krystal tak bisa masuk kesana —Krystal tak mungkin nekat memanjat pagar setinggi empat meter dan menyusup masuk ke gedung itu-.
Setelah beberapa saat berpikir, Kyungsoo akhirnya menyingkir dari jalan masuk untuk membiarkan Jongin memasuki kamarnya.
Jongin tentunya dengan senang hati melangkah masuk ke dalam bekas kamarnya itu.
Setelah selesai melepas sepatu, Jongin mendudukkan dirinya di ranjang yang dulu ia tempati. "Semua ternyata belum berubah," ucapnya sembari matanya memandang sekeliling.
"Kau baru pergi dari sini sekitar dua minggu. Tentu tak akan ada perubahan yang berarti," Kyungsoo menanggapi perkataan Jongin acuh tak acuh.
Jongin baru sadar bahwa dari tadi Kyungsoo masih memakai seragam, sama sepertinya. Itu artinya, Kyungsoo juga belum lama berada di kamar.
Jongin memperhatikan Kyungsoo yang kini mulai melepas kancing bajunya. Dari ekspresi santainya, sepertinya Kyungsoo sedikit melupakan keberadaan Jongin.
Ia tak mungkin bisa sesantai itu melepas bajunya di depan Jongin 'kan? Dulu saja Kyungsoo gugup setengah mati saat hampir telanjang dada di depan Jongin. Jadi harusnya saat ini Kyungsoo tak sesantai itu. Jika ia menyadari kehadiran Jongin tentunya.
Jongin sendiri sampai saat ini memilih untuk diam. Matanya tetap terpaku pada Kyungsoo yang kini bahkan sudah selesai melepas seluruh kancing kemejanya, dan segera menanggalkan kemeja putih yang tadi dipakainya.
Dan saat itulah Kyungsoo akhirnya sadar. Ia sadar bahwa ia tak sendiri di dalam kamar itu.
Tapi sayang. Kyungsoo sudah terlanjur half naked.
Langsung saja wajah Kyungsoo memerah. Bahkan telinganya juga ikut memerah. Ia sangat malu, apalagi saat ini ia sedang bertatapan dengan Jongin.
Ya Tuhan! Jantung Kyungsoo berdetak tak karuan!
Setelah beberapa detik, akhirnya Kyungsoo memutus kontak mata mereka, lalu menutup dadanya dengan dua tangannya. "A-apa yang kau lihat, hah?" tanyanya dengan suara bergetar.
Jongin tak bisa menyembunyikan senyumnya, ia bahkan tertawa kecil. "Ugh~ kau squishy sekali, Kyungsoo!"
Blush. Wajah Kyungsoo tak ubahnya kini bagaikan tomat busuk. Dengan cepat ia membuka lemari pakaian, mengambil kaos dan celana, lalu berlari memasuki kamar mandi dan menguncinya dari dalam. "Aku membencimu, Kim Jongin!"
Jongin tertawa keras mendengar teriakan Kyungsoo dari dalam kamar mandi.
Sore ini Jongin bagaikan mendapat bonus manis karena melihat Kyungsoo half naked. Sebelumnya ia tak pernah melihat Kyungsoo half naked meskipun mereka sekamar —dulu Kyungsoo selalu berganti pakaian di kamar mandi-.
Ah~ padahal fitur tubuh mereka sama, tapi kenapa Jongin merasa dadanya bergejolak saat melihat Kyungsoo bertelanjang dada?
Jongin rasanya gugup saat melihat tubuh putih mulus Kyungsoo. Tubuh itu benar-benar bersih tanpa cacat sedikitpun. Meskipun tak ada tonjolan besar di dada Kyungsoo, tapi rasanya Jongin sangat mengagumi tubuh mungil milik Kyungsoo.
Jongin sekarang memang sudah melewati batas normal. Pria normal pastinya mengharapkan dada besar dan bukannya dada rata, 'kan?
#Mr. Normal
Setelah Kyungsoo selesai berganti pakaian, ia duduk di ranjangnya, dan Jongin pun masih duduk di atas ranjang yang dulu menjadi miliknya.
"Jadi, apa maumu?" Kyungsoo bertanya dengan nada dingin.
Jongin menurunkan kakinya yang tadi duduk bersila di atas ranjang. Tubuhnya kini sepenuhnya menghadap pada Kyungsoo. "Aku akan menunggumu, Kyungsoo," ujarnya tegas.
Kyungsoo yang tadi enggan menatap Jongin, kini memusatkan perhatiannya pada pria yang baru saja bersuara. "Apa yang kau tunggu dari pria normal sepertiku? Tak ada gunanya kau menungguku, karena aku tak akan menyerahkan hatiku padamu."
Ada keraguan dari tatapan mata Kyungsoo pada Jongin, dan Jongin dapat melihatnya dengan jelas. "Tak apa," ia tersenyum manis dan begitu tulus. "Aku akan tetap menunggumu."
Jongin kemudian berdiri tanpa mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo yang masih setia duduk di ranjangnya. Ia berjalan mendekati Kyungsoo, lalu sedikit menunduk, dan...Cup. Bibirnya mendarat tepat di dahi Kyungsoo. Membuat Kyungsoo refleks membulatkan matanya.
"Aku akan membuktikan padamu bahwa aku benar-benar mencintaimu, dan akan selalu berusaha membuatmu bahagia. Itu akan membuatmu menyadari perasaanmu, Kyungsoo."
"Pe-perasaan apa yang kau maksud?" Kyungsoo bertanya dengan lirih.
"Perasaanmu...rasa cintamu padaku," entah apa yang membuat Jongin bicara dengan penuh percaya diri begitu. Sebenarnya ia tak yakin pada apa yang baru saja diucapkannya. Ia sesungguhnya tak yakin apakah Kyungsoo mencintainya atau tidak, tapi kalimat itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari bibirnya.
Kembali Kyungsoo membulatkan matanya. "Aku...aku tidak mencintaimu, Jongin! Aku masih normal!"
Jongin tersenyum menanggapi bantahan Kyungsoo. Ia tahu pasti Kyungsoo akan menyangkal. "Kau tidak tahu definisi dari kata normal yang sebenarnya, Kyungsoo."
Setelah selesai bicara, Jongin meraih ranselnya dan bergegas keluar dari kamar Kyungsoo.
Normal. Jongin rasanya sudah tahu definisi yang sebenarnya dari kata itu.
#Mr. Normal
Hari kembali berganti. Dan seperti biasa, Kyungsoo selalu tak bisa melepaskan diri dari Krystal.
Gadis yang berstatus sebagai kekasihnya itu terus menempel padanya bagaikan bayangan, dan itu membuatnya risih.
Bahkan Krystal hampir saja mengikuti Kyungsoo ke kamar mandi pria. Untung Kyungsoo menyadarinya dan segera menghentikan langkah Krystal. Gadis itu sepertinya benar-benar terobsesi pada Kyungsoo.
Saat ini adalah jam pulang sekolah, dan Kyungsoo sangat lega karena hari ini ia tak harus pulang bersama kekasihnya.
Krystal tadi izin untuk meninggalkan pelajaran karena harus kontrol ke rumah sakit, dan sepertinya gadis itu tak akan kembali ke sekolah untuk terus mengikuti Kyungsoo.
Kyungsoo rasanya sangat lega. Meskipun saat ini ia harus menunda keinginannya untuk pulang ke asrama karena ia harus pergi ke ruang guru terlebih dahulu.
Tadi jam pelajaran terakhir adalah Bahasa Inggris, dan Miss Tiff meminta tolong padanya untuk membawakan buku-bukunya ke ruang guru karena guru cantik itu harus segera pergi untuk sebuah urusan penting. Sebut saja urusan penting itu adalah kencan-dengan-calon-suaminya.
Itu memang benar. Tadi Miss Tiff langsung bergandengan tangan dengan Khun saem untuk buru-buru meninggalkan kompleks sekolah.
Ruang guru terletak di lantai 3 —sedangkan kelas terakhir Kyungsoo berada di lantai 2-, dan Miss Tiff tidak sempat untuk mengunjungi ruang guru terlebih dahulu karena calon suaminya langsung menyeretnya pergi begitu guru cantik itu keluar kelas. Untung Miss Tiff sudah sempat meminta tolong pada Kyungsoo untuk membawakan buku-bukunya ke ruang guru sebelumnya.
Kyungsoo sebagai murid yang baik tentu mau-mau saja dimintai tolong oleh gurunya. Apalagi, Kyungsoo merupakan siswa kesayangan Miss Tiff.
Buku-buku milik Miss Tiff sudah diletakkan oleh Kyungsoo di atas mejanya yang berada di ruang guru, dan kini Kyungsoo sedang berjalan santai di koridor menjauhi ruang guru.
Bisa dibilang, ruang guru di SOPA terletak pada area yang tersembunyi dan jauh dari peradaban. Kyungsoo harus melewati sebuah koridor panjang yang sangat sepi guna bisa menuju anak tangga yang membawanya turun ke lantai bawah.
Sebenarnya ada fasilitas lift disana, tapi Kyungsoo terpaksa harus menggunakan tangga untuk naik turun lantai karena lift sedang dalam perbaikan.
Dalam perjalanannya di koridor yang panjang nan sepi, tiba-tiba Kyungsoo menghentikan langkahnya karena di depannya kini berdiri tiga orang siswa yang melipat tangan mereka di depan dada masing-masing.
Kyungsoo harus mendongak karena tubuh siswa-siswa itu lebih tinggi darinya.
Ia tahu siapa siswa-siswa di depannya. Di sebelah kiri ada Ken, lalu di tengah ada Ravi, dan di sampingnya ada Hyuk.
Kyungsoo tak tahu nama asli ketiganya —dan ia pun tak mau tahu-, tapi yang jelas mereka bertiga adalah bad boy di SOPA.
"Hai, shortie.." Ravi membuka suara, tapi bibirnya yang baru terbuka untuk mengeluarkan suara itu kini dihiasi oleh seringai menyeramkan.
Kyungsoo sebenarnya tak merasa takut karena ia tak merasa punya salah pada ketiganya, tapi tetap saja ia sedikit was-was. Pasalnya, trio itu terkenal sebagai trio pembuat ulah.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Krystal tempo hari?" tanya Ravi.
Kyungsoo kini mengerutkan keningnya. Jangan-jangan tiga pria itu menghadang jalannya karena ada hubungannya dengan Krystal? Tapi apa hubungannya?
"Apa maksudmu?" akhirnya Kyungsoo balas bertanya.
Ravi tertawa sebentar, lalu memberi kode pada Ken untuk menjelaskan pada Kyungsoo. "Kami sudah membiarkanmu menjalin hubungan dengan Krystal, tapi kenapa kau menyakitinya, hm? Kau tak takut pada kami?" Ken bertanya sambil menggerakkan tangannya untuk membelai pipi Kyungsoo.
Tapi Kyungsoo dengan cepat menepis tangan itu. "Memangnya apa urusan kalian dengan Krystal?"
"Pertanyaanmu itu sungguh tidak berguna," Ravi kembali bicara sembari menahan tawanya. "Krystal tentu lebih pantas untukku, dan sama sekali tidak pantas untukmu, shortie."
Ah! Kyungsoo sekarang agak bisa memahami kondisi ini. Tampaknya boss para bad boy itu menyukai Krystal, dan ia marah karena kemarin Krystal sempat terluka. Ia sepertinya menyalahkan Kyungsoo.
Kyungsoo baru ingat bahwa kekasihnya itu amat populer di kalangan para pria. Harusnya ia tak terkejut jika bad boy macam Ravi juga bisa terjerat oleh pesona Krystal.
Tapi Kyungsoo benar-benar kaget karena hari ini tampaknya trio berandal itu berencana untuk menghabisinya. Pasalnya, mereka tak berulah saat mereka tahu bahwa Krystal berpacaran dengan Kyungsoo. Tampaknya amarah mereka muncul karena insiden bunuh diri Krystal minggu lalu. Mereka pasti menyalahkan Kyungsoo atas insiden berdarah itu.
"Sepertinya aku harus memberi perhitungan denganmu, shortie," Ravi memberi aba-aba pada Ken dan Hyuk untuk memegang kedua lengan Kyungsoo, sedangkan dirinya tampak bersiap dengan tinjunya.
Kyungsoo rasanya ingin berteriak, karena mungkin para guru atau siswa lain akan mendengar teriakannya —walaupun ia tahu bahwa saat ini area sekolah sudah sangat sepi-.
Tapi rupanya, Ravi and the gank tidak bodoh. Mereka sudah menyiapkan sebuah kain panjang berwarna hitam untuk menutup mulut Kyungsoo.
Hyuk yang berperan mengikat kain itu di belakang kepala Kyungsoo setelah memastikan bahwa mulut Kyungsoo sudah tertutup rapat.
Kyungsoo mulai merasa takut. Sangat takut. Meskipun ia dua kali menghajar wajah Jongin, tapi sebenarnya ia bukan tipe petarung. Apalagi jika yang harus ia hadapi adalah kaum berandal macam tiga pria itu.
"Kau sudah siap? Aku akan memberimu beberapa hadiah," Ravi menyeringai lagi, dan Kyungsoo benar-benar tak tahu harus melakukan apa. Dua lengannya ditahan erat oleh Ken dan Hyuk. "Ini untukmu yang sudah berhasil merebut Krystal dariku." BUGH!
Pipi kiri Kyungsoo menjadi tempat mendarat yang sempurna bagi tinjuan Ravi.
Kyungsoo hanya bisa meringis menahan rasa sakit.
"Dan ini untukmu yang sudah menyakiti Krystal!" BUGH!
Kembali Ravi memukul Kyungsoo, tapi kali ini pipi kanannya yang menjadi sasaran.
Ravi rupanya belum puas. Ia sudah bersiap untuk melayangkan tinjuan ketiganya ketika...
BUGH!
...sebuah tinjuan keras lebih dulu menghantam wajahnya, dan ia tersungkur tak berdaya di atas lantai yang dingin.
"JANGAN BERANI MENYAKITI, KYUNGSOO!"
Kyungsoo yang matanya mulai blur karena air mata, kini berusaha mengenali siapa yang telah memukul Ravi hingga terjatuh begitu.
Secara perlahan, pandangan Kyungsoo mulai jelas karena air matanya mulai jatuh. Dan saat itulah ia tahu bahwa kini Kim Jongin sedang berdiri membelakanginya. Memberi ultimatum pada Ravi.
Merasa boss mereka berada dalam bahaya, Ken dan Hyuk secara bersamaan melepaskan Kyungsoo, kemudian mendekati Jongin.
Ravi kini sudah berdiri. Itu artinya, Jongin kini sedang dikepung oleh tiga berandal.
Kyungsoo jatuh terduduk. Tangannya bahkan tak mampu tergerak untuk melepas kain di mulutnya.
Ia hanya diam melihat Jongin berjibaku dengan tiga bad boy sekolah.
Air mata Kyungsoo mengalir semakin deras saat melihat Jongin dihajar habis-habisan oleh tiga orang itu. Meskipun suara pertarungan itu cukup keras, tapi bisa dipastikan bahwa guru di ruang guru tak akan mendengarnya. Jarak tempat itu dengan ruang guru cukup jauh, dan ruang guru pun kedap suara dari suara-suara yang berasal dari luar ruangan.
Seharusnya Kyungsoo melepas kain yang menutup mulutnya, lalu berteriak sekeras-kerasnya untuk meminta bantuan. Tapi ia tak bisa. Pita suaranya seperti terputus begitu saja karena ia terlalu shock. Sisi lain Kyungsoo muncul. Kyungsoo yang lemah dan memiliki sifat rapuh layaknya wanita kini hadir ke permukaan.
Jongin —dalam kondisinya yang sangat lemah karena terus menerus dihajar- mendadak menatap Kyungsoo. Kyungsoo balas menatap Jongin dengan air mata yang berlinang.
Seperti mendapat suntikan kekuatan, Jongin tiba-tiba mampu bangkit berdiri, lalu membalas pukulan tiga bad boy itu dengan brutal.
Jongin sebenarnya juga bukan tipe petarung. Ini bahkan merupakan kali pertama ia bertarung. Hanya saja, kondisi yang mendesak membuatnya tanpa ragu mengayunkan tinju demi tinju untuk mempertahankan hidupnya. Hingga akhirnya, Jongin menang walaupun ia langsung jatuh terkapar.
Kyungsoo akhirnya bisa bergerak setelah Ravi and the gank lari terbirit.
Kyungsoo melepas kain yang menutup mulutnya, lalu dengan pelan berjalan mendekati Jongin yang kini mengerang kesakitan. Ravi dan kawanannya tadi tak hanya menghajar wajah Jongin, tapi juga seluruh tubuh pria itu.
Kyungsoo mengangkat kepala Jongin dan meletakkannya di pangkuannya.
"K-kau...baik-baik s-saja, K-Kyungsoo?" tanya Jongin lemah. Bibirnya pasti sakit untuk berbicara karena bibir tebal itu terluka dan mengeluarkan darah.
Hati Kyungsoo rasanya sakit karena Jongin masih saja mempedulikan kondisinya padahal dirinya sendiri sudah babak belur. "Hiks...harusnya kau mempedulikan kondisimu..."
Melihat Kyungsoo menangis, Jongin merasa sangat bersalah. "Ma-maafkan aku karena a-aku datang terlambat. K-kau jadi terluka, Kyungsoo," tangan Jongin terulur untuk menyentuh pipi Kyungsoo yang lebam.
Jongin benar-benar hanya peduli pada Kyungsoo, sampai-sampai ia malah meminta maaf padahal ia baru saja menyelamatkan Kyungsoo.
"Ti-tidak, Jongin. Kau sudah menyelamatkanku. Hiks. Aku...aku berterimakasih padamu..." Kyungsoo tiba-tiba memeluk tubuh lemah Jongin. Tak pelak, itu membuat tubuh Jongin menegang.
Tapi ia menyukai pelukan Kyungsoo. Tubuhnya yang tadi terasa remuk, kini seperti sembuh dengan sendirinya.
Ia menyukai pelukan itu. Sangat menyukainya. Tapi sayangnya, pelukan Kyungsoo tak bertahan lama karena...
"KYUNGSOO!"
...teriakan nyaring seorang gadis membuat Kyungsoo refleks melepaskan pelukannya.
Ia mendongak, dan terkejut setengah mati saat ia mendapati Krystal sedang menatapnya penuh amarah. "K-Krystal.."
Ia tak menyangka jika gadis itu kembali ke sekolah lagi setelah dari rumah sakit. Barangkali Krystal memiliki feeling yang kuat hingga ia memutuskan untuk kembali ke sekolah.
Krystal berjalan cepat mendekati Kyungsoo dan Jongin, lalu meraih kerah kemeja Jongin, dan menamparnya telak.
Plak. Kepala Jongin seketika terjatuh dari pangkuan Kyungsoo. Krystal sudah hampir melayangkan tamparan lagi ke pipi Jongin, tetapi Kyungsoo sudah lebih dulu menahan tangan serta tubuh gadis itu.
"TENANGLAH, KRYSTAL!" Kyungsoo terpaksa berteriak karena kekasihnya itu terus berontak.
"BAGAIMANA AKU BISA TENANG SAAT KAU BERSELINGKUH, HAH?" emosi Krystal ikut tersulut.
Kyungsoo diam, kemudian memeluk tubuh gadis itu erat. "Maafkan aku, Krystal. Tapi Jongin hanya menolongku. Aku hampir celaka jika tak ada Jongin," suara Kyungsoo terdengar lebih lembut.
Jongin yang masih terbaring lemah di lantai hanya bisa menatap adegan di depannya dengan tatapan sedih.
Saat Krystal sudah mulai tenang, Kyungsoo melepas pelukannya, dan ia menatap Jongin dengan tatapan yang sama sedihnya dengan tatapan Jongin.
Tapi kontak mata penuh kesedihan itu tak berlangsung lama karena Kyungsoo segera memutusnya, dan membawa Krystal pergi dari tempat itu sebelum kekasihnya itu mengamuk lagi.
Sakit. Hati Jongin terasa sakit karena Kyungsoo meninggalkannya begitu saja demi Krystal. Kyungsoo bahkan tak mengucapkan sepatah katapun sebelum pergi. Apakah Jongin benar-benar tak berarti bagi Kyungsoo hingga ia ditinggalkan begitu saja padahal kondisinya bisa dibilang sekarat begitu?
Air mata akhirnya meleleh dari mata Jongin. Membasahi luka lebamnya, dan itu membuat lukanya bertambah perih.
Pria itu terus menangis karena hati dan tubuhnya sama-sama terasa sakit. Karena tak kuat menahan sakit, mata Jongin akhirnya terpejam dengan sendirinya dan tubuhnya terdiam kaku di atas lantai yang dingin...
..
..
TBC
Halo semuanya~ chapter ini masih hurt ya? hehe.
aku sebenernya gak tega bikin Jongin menderita banget. tapi sebenernya ini bagian dari request. aku diminta buat bikin Jongin menderita makanya aku mengusahakan nulis FF yg Jongin-nya banyak menderita. maafkan aku :(
tapi chapter depan semua akan membaik kok. bisa dibilang, chapter ini puncaknya konflik. walaupun besok masih ada konfliknya, tapi itu bagian dari penyelesaian. aku juga gak tega bikin Jongin lama-lama menderita.
makasih banyak buat para reader yang setia review maupun para silent reader. buat yang mau review lagi boleh banget lho :)
