Title: Mr. Normal

Pairing: KaiSoo as main pair

Cast for this chapter: Kai EXO as Kim Jongin, D.O EXO as Do Kyungsoo, Krystal f(x) as Krystal Jung, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Sehun EXO as Oh Sehun, Jessica SNSD as Jessica Jung, Jongin's mom (OC)

Rate: T

Genre: Romance, Drama, Hurt, Friendship

Length: Chaptered [13/?]

Summary for chap 13:

Kyungsoo menyesali perbuatannya. Ia menyesal karena sudah membuat Jongin terluka dan menderita. Pada akhirnya ia meminta maaf pada Jongin, dan untunglah Jongin memaafkannya

NOTE: special for syafakamilla yang request FF KaiSoo :)

Aku disini pinjem nama SOPA cuma sekedar pinjem nama sekolah aja. Tapi untuk urusan teknis tentang SOPA di FF ini 100% merupakan hasil imajinasiku. Jadi barangkali beda sama kenyataannya. Harap maklum

YAOI | CHAPTERED | SCHOOL LIFE | AU | OOC | TYPO | DLDR | NO PLAGIAT

Previous Chapter:

Air mata akhirnya meleleh dari mata Jongin. Membasahi luka lebamnya, dan itu membuat lukanya bertambah perih.

Pria itu terus menangis karena hati dan tubuhnya sama-sama terasa sakit. Karena tak kuat menahan sakit, mata Jongin akhirnya terpejam dengan sendirinya dan tubuhnya terdiam kaku di atas lantai yang dingin...

..

CHAPTER 13 (Forgive)

HAPPY READING!


Saat ini sudah hari Kamis. Itu artinya, sudah dua hari berlalu semenjak insiden di koridor sepi lantai tiga terjadi.

Jongin juga sudah dua hari tak menampakkan batang hidungnya di sekolah. Selama itu pula, banyak terdapat kasak-kusuk di lingkungan sekolah.

Mereka pada akhirnya tahu mengenai insiden Jongin terdampar penuh luka di koridor sekolah, karena saat itu ada seorang siswa yang kebetulan berjalan di koridor dan melihat Jongin.

Siswa itu lalu melapor pada guru, dan sekolah menjadi gempar seketika.

Tak ada yang tahu pasti mengenai insiden itu, karena Jongin meminta pihak sekolah untuk tak mengusut lebih jauh tentang hal itu.

Ya. Jongin yang secara langsung meminta pada pihak sekolah. Itu artinya, Jongin selamat dari insiden berdarah tempo hari. Ia bisa membuka matanya kembali setelah mendapat perawatan untuk beberapa waktu.

Luka Jongin sebenarnya terbilang parah, tapi tak cukup untuk membuatnya coma maupun untuk membunuhnya. Ia dua hari lalu sempat tak sadarkan diri karena ia sudah tak mampu lagi menahan rasa sakit di tubuhnya —juga rasa sakit di hatinya-.

Jongin meyakinkan pada pihak sekolah bahwa semua hanya masalah pribadi, dan biar diselesaikan secara pribadi pula. Tidak perlu dibesar-besarkan.

Pihak sekolah akhirnya mengabulkan permintaan Jongin, karena itu juga bisa melindungi citra sekolah. Tak perlu masalah itu dibesar-besarkan, dan biarkan saja kabar burung yang beredar. Toh rumor negatif pasti akan hilang seiring berjalannya waktu.

Tapi rupanya sampai sekarang rumor itu masih banyak diperbincangkan oleh para siswa. Mereka pastinya merasa penasaran kenapa si siswa populer bisa terdampar tak sadarkan diri di koridor.

Bahkan tak hanya para siswa yang sibuk membicarakan Jongin, tapi para guru pun asyik menggosip untuk membahas insiden Jongin. Apalagi Lee saem. Guru dance itu merasa sangat marah karena murid kesayangannya babak belur. Ia hanya berharap semoga Jongin tak kehilangan kemampuan dance-nya setelah insiden mengenaskan itu.

Banyak dugaan yang muncul mengenai insiden itu. Ada dugaan bullying, dan ada pula dugaan bahwa Jongin memang terlibat dalam perkelahian.

Namun tak ada yang tahu pasti mengenai siapa lawan Jongin saat itu. Meskipun ada kecurigaan yang mengarah pada Ravi, Ken, dan Hyuk karena tiga siswa itu juga babak belur. Tapi tetap itu tak bisa dibuktikan, karena seluruh sekolah juga tahu bahwa hampir setiap hari tiga berandal itu babak belur karena kenakalan mereka selama ini.

Seluruh kabar burung itu hanya senantiasa terbang tanpa suatu kejelasan yang berlandaskan fakta.

Selama dua hari ini, Kyungsoo tak bisa hidup dengan tenang. Di pikirannya hanya ada Jongin dan Jongin. Ia pun kini 100% mengacuhkan keberadaan Krystal.

Pada awalnya Kyungsoo hari ini makan siang bersama dengan Krystal seperti biasa. Gadis itu bertingkah seolah dua hari lalu tak terjadi apa-apa. Ia seolah tak pernah melihat Jongin terkapar kesakitan di atas lantai. Entah apa yang menyebabkannya menjadi setega itu pada pria yang sempat dekat dengannya.

Kyungsoo merasa jengah karena terus mendengar ocehan Krystal yang tidak bermutu. Akhirnya, ia berkata pada Krystal bahwa ia ingin pergi ke toilet. Krystal pun hanya bisa mengangguk. Meskipun ia ingin selalu mengikuti Kyungsoo, tapi ia tak pernah berhasil mengikuti pria itu sampai ke toilet.

Tapi Kyungsoo ternyata tak benar-benar pergi ke toilet. Ia ingin mencari tahu tentang sesuatu. Sesuatu yang selama dua hari ini membuatnya hidup dalam kekalutan dan rasa penyesalan luar biasa.

Jadilah Kyungsoo berjalan menuju meja Park Chanyeol dan Oh Sehun yang letaknya di luar jangkauan pandangan mata Krystal.

"Aku ingin bertanya pada kalian," ujar Kyungsoo begitu ia sampai tepat di depan meja duo Park dan Oh.

Chanyeol dan Sehun hanya menatap Kyungsoo malas dan tak menanggapi ucapan Kyungsoo. Mereka berdua tahu tentang insiden dua hari lalu karena mereka memaksa Jongin untuk bercerita.

Jongin awalnya juga enggan membuka suara saat dua sahabatnya itu memaksanya bercerita, tapi pada akhirnya ia menceritakan semuanya pada Chanyeol dan Sehun.

Begitu dua orang itu mendengar cerita langsung dari Jongin, mereka berdua jadi merasa kesal pada Kyungsoo. Karena di mata mereka, Kyungsoo seenaknya meninggalkan Jongin begitu saja padahal Jongin sudah menyelamatkannya. Di samping itu, mereka juga tahu bahwa selama ini Kyungsoo sudah banyak membuat Jongin menderita.

Mereka tentu tak rela melihat sahabatnya yang selama ini selalu bersedih dan terluka karena Kyungsoo.

"Kalian dekat dengan Jongin. Kalian pasti tahu bagaimana kondisi Jongin sekarang, 'kan?"

Tatapan malas Sehun berubah menjadi tatapan tajam. "Kau melihat dengan mata kepalamu sendiri saat Jongin dihajar habis-habisan, 'kan? Tentu kau bisa memikirkan kira-kira bagaimana kondisi Jongin sekarang," ucap Sehun sarkastis.

Kyungsoo mencoba menahan amarahnya. Tentu Sehun berhak marah padanya, karena ia sadar bahwa Jongin terluka karenanya. "Aku sungguh tidak tahu bagaimana kondisi Jongin, karena itulah aku bertanya pada kalian."

Sehun sudah hampir berdiri dari tempat duduknya karena terlalu emosi, tapi segera Chanyeol menahannya. "Tenanglah, Hun," ujar Chanyeol pada Sehun, lalu beralih pada Kyungsoo. "Kondisi Jongin buruk sekarang. Ia sedang dalam perawatan di rumahnya."

Sehun memberi sahabatnya itu tatapan membunuh karena dengan mudahnya ia membeberkan kondisi Jongin.

Di sisi lain, Kyungsoo merasakan nyeri di hatinya. Karena dirinya, Jongin kini yang merasakan sakit. Padahal bekas luka di wajah Kyungsoo saja sekarang sudah mulai pudar, tapi Jongin sampai sekarang justru masih merasakan sakit. Ia kini sangat merasa bersalah.

Tapi Kyungsoo tetap bisa menyembunyikan ekspresinya. Ia berekspresi datar ketika kembali bicara. "Jadi, kapan Jongin kembali masuk sekolah?"

"Kembali masuk ke sekolah ini maksudmu?" kali ini Sehun yang bertanya, dan Kyungsoo hanya mengangguk. "Jongin tak akan kembali ke sekolah ini. Ia sudah lelah, dan ia menyerah."

Kini giliran Chanyeol yang menatap Sehun tajam, bahkan ia menepuk keras paha Sehun karena pria albino itu sudah seenaknya bicara tentang Jongin. Tak seharusnya Sehun bicara seperti itu. Mereka tak berhak mencampuri urusan Jongin, tapi baru saja Sehun justru membeberkan kondisi perasaan Jongin yang sebenarnya.

Sedangkan Kyungsoo kini tampak membeku di tempatnya. Jika boleh, ia tak ingin percaya pada perkataan Sehun tadi.

Tapi bisa jadi Sehun berkata jujur. Itu karena ia sadar diri bahwa ia yang sudah membuat Jongin lelah, dan akhirnya memutuskan untuk menyerah.

Ia sadar bahwa dari awal ia sudah menyakiti Jongin, dan kini ia menyesali semuanya.

Andai waktu bisa diputar ke belakang, maka Kyungsoo ingin memperbaiki semuanya.


#Mr. Normal


Waktu tak pernah bisa diputar ke belakang. Waktu senantiasa berputar ke depan, tanpa peduli ada insan yang tersiksa karena penyesalan di masa lalu.

Waktu terus berjalan, dan itu terbukti karena hari ini berlalu dengan cepat, dan saat ini hari sudah sore.

Jam sekolah sudah berakhir sejak tiga puluh menit lalu, dan Kyungsoo sudah berada jauh dari sekolah sejak beberapa detik lalu.

Ia kini berdiri di depan sebuah pagar tinggi. Pagar berwarna putih yang membentengi rumah yang pernah ia kunjungi beberapa waktu yang lalu.

Kyungsoo baru saja ingin melapor pada security rumah itu bahwa ia akan bertamu, namun tiba-tiba lengannya ditahan oleh seseorang dari belakang.

Sontak Kyungsoo menoleh, dan seketika tubuhnya membeku. "K-Krystal?"

Krystal menyeringai melihat Kyungsoo yang shock setengah mati. "Aku mencurigaimu, Soo. Jadi aku memutuskan untuk mengikutimu sejak pulang sekolah. Ternyata kecurigaanku benar. Kau sekarang berdiri di depan rumah...Kim Jongin?"

Kyungsoo mengerjap bingung. Ia tak tahu harus bicara apa pada kekasihnya itu. Apalagi Krystal terus menatapnya dengan penuh intimidasi.

"Aku harus menjenguk Jongin. Bagaimanapun juga, ia yang sudah menyelamatkanku dua hari lalu," akhirnya Kyungsoo mampu bicara.

Ia bicara jujur. Niatnya mendatangi rumah Jongin memang untuk menjenguk Jongin. Ia merasa wajib melakukan hal itu, karena Jongin sakit karena dirinya. Jongin terluka karena berjuang mati-matian menolongnya.

"Kau tidak perlu menjenguknya, Soo. Ayo kita kembali ke asrama," Krystal mulai menarik lengan Kyungsoo, tapi Kyungsoo tak bergerak sedikitpun dari tempat berpijaknya. Hal itu membuat Krystal geram. "AYO PERGI, KYUNGSOO!"

Rasanya Kyungsoo sudah tak tahan lagi dengan ulah Krystal. Dengan keras ia menghentakkan tangan Krystal yang memegang lengannya. Seketika pegangan Krystal dari lengannya terlepas.

"Aku sudah lelah, Krys," sebisa mungkin Kyungsoo bersabar meskipun sebenarnya emosinya sudah sampai ubun-ubun. "Sebaiknya kita berpisah saja. Hubungan kita benar-benar tak bisa dilanjutkan lagi."

Mata Krystal mulai berkaca-kaca menatap Kyungsoo. Lagi-lagi Kyungsoo menyebut kata pisah? Semudah itukah bagi Kyungsoo untuk memutus hubungan mereka? Apa Kyungsoo benar-benar sudah tak mencintainya lagi?

Tapi Krystal tak menyerah. Sampai kapanpun ia tak akan mau melepas Kyungsoo. Jadilah ia mulai menarik-narik lengan Kyungsoo lagi sembari berteriak layaknya orang gila.

Hal itu mengundang perhatian security kediaman keluarga Kim. Security paruh baya itu sudah hampir berjalan mendekat ke arah Kyungsoo dan Krystal, tapi Kyungsoo meyakinkan security berkumis itu bahwa semuanya baik-baik saja. Untung sang security memutuskan untuk percaya pada Kyungsoo dan tak ikut campur.

Saat Krystal masih terus berteriak sambil menangis, tiba-tiba sebuah mobil putih berhenti tepat di samping mereka.

Krystal sontak menghentikan pergerakannya. Ia dan Kyungsoo secara bersamaan menoleh pada mobil itu.

Pintu mobil bagian belakang terbuka, dan keluarlah sosok wanita cantik bak model dari sana.

Kyungsoo dan Krystal sama-sama mengenali wanita itu.

Wanita itu mendekati mereka berdua, kemudian menghela nafas. "Kali ini apa lagi ulahmu, Krys?" tanya wanita itu dengan nada yang terdengar sarat akan rasa lelah.

Krystal memandang takut-takut pada wanita itu. "A-aku tidak berulah, eonni. Kyungsoo yang berulah!"

Jessica —kakak Krystal- kembali menghela nafas, kemudian menarik lengan Krystal untuk mendekatinya. "Kita pulang," ucapnya.

Krystal tentu saja menolak ajakan kakaknya. "Tidak!" dengan sebuah bentakan ia menolak. "Eonni tidak tahu masalah kami, jadi eonni tidak perlu ikut campur!"

"Aku tahu semuanya!" Jessica balas membentak. "Jongdae sudah menceritakan semuanya padaku, dan kurasa semua ini harus diakhiri. Kita pergi, Krys. Berhenti mengganggu Kyungsoo, karena ia sudah tak mencintaimu!"

Air mata Krystal meleleh semakin deras. "Kyungsoo mencintaiku, eonni! Hiks..ia akan selalu mencintaiku!"

Menyadari tubuh adiknya makin lemas karena terlalu banyak menangis dan merasa tertekan, Jessica segera mendekapnya. Ia sedikit melirik Kyungsoo. "Aku akan membawanya pergi," ucapnya tanpa suara pada Kyungsoo.

Dengan segera Jessica membawa tubuh adiknya untuk masuk ke mobil, sebelum akhirnya ia juga memasuki mobil.

Mobil putih itu selanjutnya cepat melaju. Meninggalkan Kyungsoo yang mematung di titik pijakannya.

Kyungsoo sebenarnya masih bingung karena kedatangan Jessica yang terbilang mendadak. Tapi mungkin Jongdae memang sudah menceritakan yang sebenarnya pada Jessica, dan kakak Krystal itu memutuskan untuk turun tangan.

Bahkan Jessica sampai tahu bahwa Kyungsoo dan Krystal berada di depan rumah Jongin. Barangkali Jessica tahu mengenai hal itu dari Jongdae, karena tadi Kyungsoo sempat bilang pada sahabatnya itu jika ia ingin menjenguk Jongin di rumahnya.

Ia tak tahu apa yang akan dilakukan Jessica pada Krystal. Yang jelas, Jessica adalah sosok yang sangat tegas, dan ia beruntung karena Jessica justru berpihak padanya kali ini.

Sepertinya Kyungsoo harus berterimakasih pada Jongdae untuk hal ini. Mulut ember Jongdae untuk saat ini sangat membantunya.

Setelah diam untuk beberapa menit di depan pagar rumah Jongin, Kyungsoo akhirnya bergerak untuk mendekati security rumah itu.

Ia berkata bahwa ia adalah teman Jongin, dan ingin menjenguk Jongin.

Sang security awalnya merasa ragu karena tadi Kyungsoo sempat membuat keributan dengan Krystal, tapi pada akhirnya pria paruh baya itu mengizinkan Kyungsoo memasuki gerbang. Apalagi ia ingat bahwa Kyungsoo pernah berkunjung ke rumah itu beberapa waktu lalu.

Tak hentinya Kyungsoo mengucap terimakasih, sebelum akhirnya berjalan melewati gerbang.

Kyungsoo kembali merasa gugup saat ia sudah sampai di pintu utama rumah Jongin. Ia takut jika nanti orang tua Jongin marah padanya, lalu mengusirnya. Bagaimanapun juga, Kyungsoo itu sadar diri. Ia tahu jika ia sudah menyakiti si pangeran Kim, dan orang tuanya berhak marah.

Kyungsoo tak hanya menyakiti Jongin secara mental, tapi juga menyakiti Jongin secara fisik. Sungguh Kyungsoo merasa jadi tokoh antagonis sekarang.

Tapi Kyungsoo sudah membulatkan tekadnya. Ia harus mencobanya dulu sebelum menyerah. Mencoba untuk menghadapi orang tua Jongin dan menjenguk Jongin selagi masih ada kesempatan.

Dengan tangan bergetar, Kyungsoo menekan bel yang tertempel di samping pintu.

Tak berselang lama, pintu besar di depan Kyungsoo terbuka, menampilkan sosok wanita dewasa yang tak asing di mata Kyungsoo.

Wanita itu tampak terkejut saat melihat Kyungsoo, hingga akhirnya wanita itu hanya menatap Kyungsoo dalam diam.

Sedangkan yang ditatap kini hanya bisa menundukkan kepalanya. Jantungnya berdetak kencang karena rasa takut yang menyerangnya.

"Kyungsoo.." suara lembut wanita yang merupakan ibu Jongin itu membuat Kyungsoo dengan pelan mengangkat kepalanya. "Sudah lama kau tidak berkunjung. Eomma merindukanmu."

Kyungsoo melebarkan matanya saat tiba-tiba ibu Jongin memeluknya. Ia pikir ibu Jongin akan marah padanya, tapi ternyata pikirannya salah.

Setelah beberapa saat berpelukan, ibu Jongin akhirnya melepas pelukannya. "Kau pasti ingin menjenguk Jongin, 'kan? Ayo masuk. Jongin ada di kamarnya."

Kyungsoo hanya bisa pasrah ketika ibu Jongin menarik lengannya, kemudian mendorongnya untuk menaiki tangga.

Setelah Kyungsoo mulai menaiki tangga, ibu Jongin justru tak lagi ikut berjalan. Kyungsoo menoleh, tapi wanita dewasa itu hanya memberi isyarat pada Kyungsoo untuk lanjut berjalan. Ibu Jongin tersenyum pada Kyungsoo seolah meyakinkan Kyungsoo bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Tak memiliki pilihan lain, Kyungsoo akhirnya berjalan menuju kamar Jongin sendirian.

Kyungsoo kembali merasa gugup dan ragu saat ia sudah berada di depan pintu kamar Jongin. Tapi ia sudah sampai disitu, dan ia tak mungkin mundur.

Dengan ragu, Kyungsoo akhirnya mengetuk pintu di depannya.

"Masuk," suara serak Jongin terdengar tak lama kemudian.

Suara Jongin itu rupanya cukup untuk membuat Kyungsoo semakin gugup.

Tangannya yang bergetar kini meraih handle pintu, dan membuka pintu kamar Jongin.

Ia mendapati Jongin terbaring lemah di atas ranjang, dan ia memutuskan untuk mendekatinya.

Kondisi Jongin terlihat lemah. Wajahnya dipenuhi bekas luka, dan Kyungsoo yakin bahwa tubuhnya yang tertutup oleh kaos dan selimut juga dipenuhi oleh luka. Sungguh rasanya miris melihat Jongin yang seperti itu.

Di sisi lain, Jongin tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya saat melihat Kyungsoo. "Mau apa kau kemari?" tanyanya dengan suara lemah namun terkesan dingin.

Kyungsoo kini berdiri tepat di samping ranjang Jongin. Dua tangannya saling bertaut dengan gugup. "A-aku...aku ingin menjengukmu. Ba-bagaimana keadaanmu?"

Mendengar kalimat tanya Kyungsoo, Jongin sedikit memamerkan smirk di wajahnya yang penuh luka. "Tempo hari kau dengan mudahnya meninggalkanku, jadi untuk apa hari ini kau menanyakan keadaanku?"

Rasa sesal dan sesak kembali menyergap Kyungsoo. Jongin benar. Ia sudah melakukan kesalahan yang besar karena telah meninggalkan Jongin yang terluka parah.

"Maafkan aku," Kyungsoo menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Saat itu aku hanya takut jika Krystal kembali menampar atau melukaimu, jadi aku memutuskan untuk pergi. Aku benar-benar minta maaf."

Jongin melirik Kyungsoo yang masih menundukkan kepalanya. Meskipun kepala Kyungsoo tertunduk, tapi ia bisa melihat cairan bening yang mulai membasahi pipinya.

Kyungsoo menangis, dan Jongin paling lemah jika sudah melihat air mata Kyungsoo.

Meskipun ia marah dan sakit hati, namun ia tak kuasa jika melihat Kyungsoo menangis. Lagipula, Kyungsoo juga sudah menjelaskan alasan kenapa ia meninggalkan Jongin begitu saja dua hari yang lalu.

Kyungsoo memutuskan untuk pergi karena ia tak ingin Krystal semakin melukai Jongin. Bukankah itu artinya, Kyungsoo sebenarnya peduli pada Jongin? Bagi Jongin, fakta itu sudah lebih dari cukup untuk menghapus semua sakit hatinya.

"Aku sudah memaafkanmu. Berhenti menangis dan angkat kepalamu," meskipun Jongin sudah berkata begitu, Kyungsoo masih saja menangis dan menundukkan kepalanya. "Kalau kau tetap seperti itu, aku tidak akan memaafkanmu, Kyungsoo."

Sontak Kyungsoo mengangkat kepalanya dan menghapus air matanya. "Be-benarkah kau sudah tidak marah lagi?" Jongin mengangguk menjawab pertanyaan Kyungsoo. "Ta-tapi harusnya kau tersenyum jika memang sudah tidak marah lagi."

Jongin merasa bahwa ekspresi Kyungsoo saat ini sangat lucu dan menggemaskan, hingga ia akhirnya tersenyum. "Aku sudah tersenyum, dan sekarang aku ingin kau juga tersenyum."

Mata bulat Kyungsoo mengerjap polos. Melihat senyuman Jongin membuat dadanya berdesir aneh. Tapi detik selanjutnya, dua sudut bibir Kyungsoo terangkat membentuk lengkungan senyum yang indah.

Dua pemuda itu saling tersenyum dalam damai. Rasanya sudah lama sekali mereka diliputi suasana tegang, dan akhirnya hari ini ketegangan itu mencair.

"Kemarilah..." Jongin kembali bersuara seraya tangannya menepuk-nepuk ruas kosong di sebelah tempatnya berbaring. Kyungsoo mengerutkan dahi tak mengerti. "Kemarilah, berbaring di sampingku."

Rona merah samar menyergap pipi mulus Kyungsoo begitu ia paham apa maksud Jongin.

Ia merasa ragu, dan matanya pun berkelana kemana-mana asal tak menatap Jongin.

Karena Kyungsoo tak mematuhi perintahnya, Jongin akhirnya menarik tangan Kyungsoo dengan kuat, dan akhirnya Kyungsoo jatuh di atas tubuh Jongin.

Jongin sempat meringis sakit karena tubuhnya yang masih belum sembuh total kini tertimpa tubuh Kyungsoo.

"A-apa yang kau lakukan, Jongin? Tu-tubuhmu masih sakit," Kyungsoo berusaha bangkit dari tubuh Jongin, namun gagal karena tangan Jongin menahannya.

"Biarkan seperti ini dulu. Aku akan cepat sembuh jika seperti ini," balas Jongin sambil tersenyum manis.

Uh! Tak bisakah Jongin berhenti tersenyum manis? Pipi Kyungsoo rasanya terbakar melihat senyuman itu!

Tapi Kyungsoo segera mencari topik pembicaraan lain untuk menyamarkan rasa gugupnya. "Jongin, apa benar kau tak akan kembali ke SOPA? Kau...benar akan meninggalkan SOPA dan pindah sekolah?" Kyungsoo akhirnya sukses mengalihkan pembicaraan. Posisinya masih menindih Jongin, dan wajahnya hanya berjarak beberapa centimeter dari wajah Jongin.

"Hah? Siapa yang mengatakan itu padamu?" Jongin balik bertanya.

Kyungsoo mengedipkan matanya polos, kemudian menjawab. "Sehun."

Jongin menahan tawanya agar tak meledak. "Kau dibodohi olehnya, Kyungsoo! Aku tak akan pindah."

"Tapi Sehun berkata padaku bahwa kau sudah lelah, dan kau ingin menyerah."

Jongin yang sempat tertawa kecil kini mulai kembali memasang ekspresi serius. "Aku memang sudah lelah, tapi aku tak akan menyerah. Sehun hanya ingin menjahilimu supaya kau merasa bersalah dan mencariku kemari."

Oh baiklah! Kyungsoo sukses dibodohi oleh orang yang biasanya tak lebih pintar darinya. Mungkin kapan-kapan Kyungsoo harus membuat perhitungan dengan Sehun.

Tapi untuk sekarang, Kyungsoo hanya bisa membuang muka dari Jongin. "Meskipun Sehun tak membohongiku, aku akan tetap datang kemari untuk mencarimu."

"Benarkah?" tanya Jongin. "Kenapa kau akan tetap mencariku?" imbuhnya.

"Karena aku...aku peduli padamu, Jongin. Aku merasa bersalah, dan aku ingin berada di sisimu ketika kau terluka seperti ini."

Wajah Kyungsoo sekarang benar-benar merah setelah ia selesai membuat pengakuan.

Karena tak ingin Jongin melihat wajahnya yang merah, Kyungsoo segera melesakkan wajahnya di dada Jongin. Bersembunyi di dada bidang itu.

Jongin rasanya sangat bahagia. Mungkin Kyungsoo tidak sadar jika saat ini skinship mereka sudah sangat intim, tapi Jongin menyadari itu. Jongin sadar bahwa kini seluruh bagian tubuh Kyungsoo menempel dengan tubuhnya. Dan jujur, Jongin menyukainya.

Tapi sebenarnya Kyungsoo pun menyukai sensasi yang kini ia rasakan. Ia suka ketika tubuhnya dan tubuh Jongin tak berjarak. Tanpa sadar, Jongin dan Kyungsoo sama-sama berharap supaya waktu berhenti, karena mereka tak ingin moment damai itu berakhir begitu saja.

Namun sayang, moment manis itu terganggu oleh suara pintu kamar yang terbuka.

Sontak Kyungsoo berusaha mengangkat tubuhnya dari tubuh Jongin, tapi itu terlambat karena ibu Jongin —orang yang baru saja membuka pintu kamar Jongin- sudah terlanjur melihat posisi intim mereka.

Meskipun ibu Jongin tadi sempat kaget, tapi wanita itu kini tersenyum manis dan berjalan mendekati ranjang dan meletakkan nampan berisi air minum dan makanan kecil di atas nakas. "Maaf mengganggu kalian. Eomma hanya ingin mengantar minuman dan snack untuk Kyungsoo."

Kyungsoo yang kini duduk di samping Jongin —yang sampai saat ini masih dalam posisi berbaring- hanya bisa menundukkan kepalanya guna menutupi rona merah di pipinya.

"Ck! Eomma benar-benar mengganggu!" Jongin berdecak kesal.

Ibunya langsung mendelik tajam padanya. "Ya! Kau tidak sopan sekali, huh?" wanita itu sedikit menjitak kepala Jongin. "Ya sudah kalau begitu. Eomma keluar dulu, ya? Selamat bersenang-senang~"

Dengan begitu, ibu Jongin segera beranjak keluar kamar dengan senyum jahil yang menghiasi bibirnya. Wanita itu meninggalkan dua sejoli yang kini memiliki ekspresi berbeda.

Kyungsoo dengan ekspresi malu, sementara Jongin dengan ekspresi bahagia.

"Hey, Kyungsoo.." Jongin memanggil Kyungsoo. Yang dipanggil sedikit mengangkat kepalanya untuk menatap Jongin yang berbaring di sampingnya. "Ayo kita lanjutkan yang tadi."

Seketika sebuah bantal empuk mendarat di wajah Jongin. "Kau menyebalkan!" Kyungsoo menggerutu sembari menyilangkan tangannya di depan dada. Uh! Pose itu sungguh imut bagi Jongin.

"Ehm..Jongin..." kini Kyungsoo memanggil Jongin setelah dua manusia itu sempat saling diam. "Kau tidak ingin tinggal di asrama lagi?"

Jongin mengernyit mendengar pertanyaan Kyungsoo. "Kenapa kau bertanya seperti itu? Aku tahu kau tidak ingin aku sekamar denganmu, ja—"

"Tidak!" dengan cepat Kyungsoo memotong kalimat Jongin. "M-maksudku, aku sudah berubah pikiran. K-kurasa tidak masalah berbagi kamar denganmu karena selama ini kau tak mengganggu ketenanganku."

Jongin terkekeh geli. Awalnya ia memang tak mengganggu ketenangan Kyungsoo, tapi ia sadar bahwa lama-lama ia jadi sering sekali menjahili Kyungsoo. Namun mengapa sekarang Kyungsoo berkata bahwa Jongin tak mengganggu ketenangannya?

"Jadi, kau ingin aku tinggal bersamamu lagi?" Jongin memutuskan untuk bertanya.

"A-aku tak mengharapkan kau tinggal bersamaku lagi. Ta-tapi kalau kau mau tinggal denganku lagi, aku...aku tak keberatan."

Kyungsoo ternyata masih bertahan dengan gengsinya sehingga ia berkelit tak karuan.

Tapi Jongin merasa senang dengan itu. Jongin senang karena kini Kyungsoo mulai mau membuka diri untuk menerimanya.

"Aku ingin tinggal bersamamu lagi, tapi aku harus meyakinkan ayahku untuk mengizinkanku tinggal di asrama. Ayahku sama sekali tak tahu hal yang menyebabkanku babak belur kemarin lusa, karena aku hanya bercerita pada ibuku."

"A-apa? Kau bercerita pada ibumu?"

Jongin mengangguk dalam posisinya yang masih berbaring. "Dari awal aku memang menceritakan semua tentangmu pada ibuku, Kyungsoo. Ibuku tahu yang sebenarnya tentang kita."

"Ma-maksudmu, ibumu tahu bahwa selama ini aku memperlakukanmu dengan buruk, aku bahkan pernah memukul wajahmu, da—"

"Ya, ibuku tahu semua itu," Jongin menyela ucapan Kyungsoo. "Tapi ibuku sangat menyayangimu, Kyungsoo. Beliau sudah menganggapmu seperti putranya sendiri sejak kalian pertama bertemu."

Kyungsoo menundukkan kepalanya lagi. Kalimat Jongin membuatnya merasa sangat jahat. Jongin dan keluarganya sangat baik padanya, tapi ia justru terus menyakiti Jongin.

"Maafkan aku, Jongin," lagi-lagi Kyungsoo meminta maaf. "Kau...kau bisa memukul wajahku sepuasmu guna membalas semua perlakuanku padamu."

Jongin menatap Kyungsoo penuh kasih saying, namun detik berikutnya tatapan mata Jongin berubah jadi tatapan iseng dan jahil. "Kalau begitu, kemarikan wajahmu."

Jujur, Kyungsoo kaget mendengar perintah Jongin. Jongin memintanya untuk mendekatkan wajahnya, berarti Jongin benar-benar akan memukulnya, 'kan? Ia tak menyangka jika Jongin benar-benar akan melakukannya.

Tapi ia sendiri yang tadi meminta Jongin untuk memukulnya, jadi ia hanya bisa pasrah.

Dengan ragu Kyungsoo mendekatkan wajahnya pada wajah Jongin. Ia bahkan memejamkan matanya guna mempersiapkan kemungkinan terburuk. Mungkin ia akan mendapatkan luka lebam lagi di wajahnya, padahal lukanya yang kemarin saja belum sepenuhnya sembuh.

Kyungsoo sudah memejamkan matanya selama beberapa detik, tapi apa yang ia dapatkan? Ia tak mendapatkan pukulan di pipinya, melainkan mendapatkan sebuah ciuman lembut di pipinya itu.

Langsung saja mata Kyungsoo kembali terbuka, dan ia melihat Jongin tersenyum padanya usai mencium pipinya.

Jongin sudah pernah mencium dahinya, lalu tadi mencium pipinya, dan selanjutnya apa lagi? Apa Jongin akan mencium bibirnya?

Oops! Kyungsoo mulai berpikir yang tidak-tidak. Ciuman di pipinya tadi saja sudah membuatnya merona, dan kini ia semakin merona karena pemikirannya sendiri.

..

..

TBC


Tak terasa FF ini sudah sampai di chapter 13, dan saya ingin mengucapkan terimakasih banyak untuk reader yg memberi saran, pujian, kritik, maupun jenis komentar lainnya yg tidak bisa saya sebut satu persatu.

aku tipe penulis yg menerima segala jenis kritik, karena insyaAllah semua kritik akan menjadi pelajaran yg berharga buat aku ke depannya :) tapi sekiranya ada beberapa kritik yang perlu aku klarifikasi:

1. Pemilihan karakter kurang tepat. Karakter Jongin sama Kyungsoo ketuker

Jujur, aku kurang ngerti sama pemikiran itu. maksudku adalah, ini kan kisah fiksi, berarti bebas kan untuk penentuan karakternya? atau mungkin aku emang ada salah untuk hal itu? kalau emang ada salah, aku minta maaf. tapi aku gak bermaksud apa-apa, karena buat aku ini cuma kisah fiksi, dan aku nulisnya jg cm buat have fun aja. hehe.

2. Jongin terlalu direndahin di FF ini

Buat yang itu, aku minta maaf buat seluruh Jongin stan di dunia FFN. aku suka Jongin kok. dia bias keduaku di EXO. tapi sekali lagi, kisah ini cuma fiksi. walaupun disini aku bikin Jongin kyk lemah dan menyedihkan banget, tapi sebenernya aku gak pernah gitu ke Jongin. Jongin yang REAL juga baik-baik aja kan di dunia nyata? tapi tetep aku pengen minta maaf kalau ada Jongin stan yang gak terima. aku cuma pengen bikin sesuatu yg berbeda, dan aku minta maaf banget kalau ternyata ada pihak yg merasa dirugikan karena hal itu.

3. Ini FF KaiSoo apa KyungStal? Kenapa lebih banyak KyungStal-nya?

Ini FF KaiSoo. dari awal juga FF ini fokus ke KaiSoo. tapi memang harus aku akui kalau di chapter-chapter belakang emang banyak KyungStal-nya. tapi maksudku tu bukannya mau ngasih moment KyungStal. kalau moment KyungStal kan moment yang manis2 gitu. nah disini kan KyungStal banyak gak manisnya. aku menghadirkan KyungStal cuma buat ujian perasaannya Kyungsoo aja. tapi sekali lagi, kalau ada yg gak berkenan aku minta maaf. maaf kalau ternyata FF ini terlalu banyak KyungStal-nya.

4. Alur FF ini terlalu aneh

Harus aku akui kalau aku memang tidak mempelajari tata cara penulisan kisah fiksi yang baik dan benar sehingga mungkin alur FF ini memang aneh. aku nulis FF ini cuma buat menyalurkan hobby, bukan buat lomba nulis atau semacamnya. apa yang aku tulis disini adalah apa yang sanggup dipikirkan oleh otakku. jadi, kalau ternyata otakku gak sanggup mikirin alur yang baik dan gak aneh, aku juga mohon maaf.

5. KaiStal lebih cocok daripada KyungStal

Itu pendapat personal. semua orang berhak berpendapat kan? tapi dari awal aku emang udah bilang kalau aku pengen bikin pairing yang anti mainstream. dan karena ini hanya kisah fiksi, jadi aku boleh ber-eksperimen kan? :)

6. FF ini boys love-nya kurang ngena

Reader yang mengikuti sepak terjang-ku di dunia FFN pasti tahu kalau awalnya aku gak pernah mau bikin yaoi. tapi banyak reader yang ngasih support buat aku belajar bikin yaoi, dan akhirnya aku beberapa kali nyoba bikin yaoi. aku sendiri jujur aja gak puas sama yaoi yang aku bikin. karena jujur aja, aku masih sulit untuk membayangkan cinta sesama jenis. maaf kalau boys love disini masih jauuuuh dari kata sempurna. tapi aku hanya ingin memberikan sesuatu buat reader yg udah ngasih support aku terkait FF yaoi. aku gak mau mengecewakan mereka yang berharap aku nulis FF yaoi :)

..

Mungkin kritik-kritik itu yang bakal ngasih aku pelajaran buat ke depannya. mungkin masih ada kritik lain tapi terlewatkan. tapi yang jelas, aku berterimakasih buat beberapa reader yang memberi kritik2 itu^^

tapi ada satu kritik reader yang bikin pikiranku tergelitik:

"lebih baik jgn bikin Kaisoo kalo anda bukan Kaisoo shipper. lebih baik bikin shipper lain"

perlu aku tegaskan bahwa aku adalah KaiSoo shipper. mayoritas FF yang aku tulis adalah KaiSoo. tapi memang harus diakui bahwa aku baru jadi KaiSoo shipper selama kurang lebih 15 bulan. jadi mungkin aku emang gak tau banyak tentang mereka kalau dibandingkan shipper2 lain yang udah ngeship mereka sejak lama.

tapi bukan itu yang jadi masalahnya. yang mau aku tanyain adalah: apa seorang penulis hanya boleh menulis kisah fiksi tentang couple yang disukai atau di-ship? apa penulis tidak boleh menulis tentang couple lainnya? apakah ada hal yang bisa menjadi batas imajinasi penulis?

mungkin pertanyaan2 itu bukan cuma dari aku, tapi juga dari penulis2 lain. jujur, aku suka berimajinasi, dan sepertinya tidak ada Undang-undang yang melarang manusia untuk berimajinasi. tapi kalau memang penulis fanfiction tidak diperbolehkan menulis kisah couple lain yang tidak secara spesifik disukai atau di-ship, maka aku pun akan berhenti menulis kisah couple lain selain KaiSoo (karena aku cuma KaiSoo shipper). aku butuh jawaban dari reader2 yang lain. aku cuma mengikuti masukan reader kok. karena selain menulis buat kesenanganku, aku juga berusaha buat memberi kesenangan bagi orang lain.

tapi jika memang apa yang aku tulis tidak bisa memberi kesenangan dan justru membawa kekecewaan yang mendalam, maka dengan amat sangat aku meminta maaf. semua yang aku tulis hanya kisah fiksi, jadi aku mohon banget pada para reader untuk jangan terlalu memikirkan dgn serius apa yang aku tulis.

terimakasih sekali bagi teman-teman yang memberikan kritik. teman-teman yang memberikan kritik berarti sangat peduli pada saya. dan pada teman-teman yang memberikan pujian pun saya berterimakasih, karena semua itu cukup untuk memberi motivasi saya untuk terus menulis.

saya selalu senang belajar, jadi jangan ragu jika ada yang ingin memberikan pembelajaran pada saya terkait dengan penulisan kisah fiksi :)