Title: Mr. Normal
Pairing: KaiSoo as main pair
Cast for this chapter: Kai EXO as Kim Jongin, D.O EXO as Do Kyungsoo, Jongin's mom (OC), Jongin's dad (OC)
Rate: T
Genre: Romance, Drama, Hurt, Friendship
Length: Chaptered [14/?]
Summary for chap 14:
Jongin akhirnya kembali ke asrama lagi karena sang ayah sudah memberinya izin. Tapi ternyata sang ayah tak memberinya izin secara cuma-cuma. Sang ayah memberikan Jongin sebuah syarat
NOTE: special for syafakamilla yang request FF KaiSoo :)
Aku disini pinjem nama SOPA cuma sekedar pinjem nama sekolah aja. Tapi untuk urusan teknis tentang SOPA di FF ini 100% merupakan hasil imajinasiku. Jadi barangkali beda sama kenyataannya. Harap maklum
YAOI | CHAPTERED | SCHOOL LIFE | AU | OOC | TYPO | DLDR | NO PLAGIAT
Previous Chapter:
Jongin sudah pernah mencium dahinya, lalu tadi mencium pipinya, dan selanjutnya apa lagi? Apa Jongin akan mencium bibirnya?
Oops! Kyungsoo mulai berpikir yang tidak-tidak. Ciuman di pipinya tadi saja sudah membuatnya merona, dan kini ia semakin merona karena pemikirannya sendiri.
..
CHAPTER 14 (A Condition)
HAPPY READING!
Hari kembali berganti, dan esok sudah akhir pekan.
Kemarin semuanya sudah berhasil diperbaiki oleh Jongin dan Kyungsoo. Semuanya membaik hanya dalam waktu satu hari. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi untuk ke depannya, tapi setidaknya mereka tak lagi terlibat perang yang sebenarnya sama-sama menyiksa batin mereka.
Kemarin Kyungsoo berada di kediaman keluarga Kim sampai pukul 6 petang, dan selanjutnya ia kembali ke asrama dengan diantar oleh sopir keluarga Kim.
Hari ini Jongin sudah berangkat sekolah walaupun wajahnya masih lebam dan tubuhnya pun masih agak sakit jika digerakkan. Tapi Jongin tak ingin absent lagi. Apalagi sekarang hubungannya dengan Kyungsoo sudah membaik. Itu menjadi motivasi tersendiri bagi Jongin untuk berangkat ke sekolah.
Beberapa siswa bertanya padanya tentang hal yang membuatnya babak beluar, tapi ia tetap tak mau mengaku. Ia memilih untuk bungkam dan hanya menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu dengan senyuman tampan. Lama kelamaan para siswa yang bertanya merasa bosan, dan mereka pun tak lagi memaksa Jongin untuk buka mulut.
Hari ini semuanya berjalan lancar sampai jam makan siang.
Jongin pun bisa tersenyum lebar karena untuk pertama kalinya, ia makan siang bersama Kyungsoo.
Ia mengabaikan ejekan dari Chanyeol dan Sehun, dan ia memilih untuk menikmati moment bersama Kyungsoo.
"Ehm...Kyungsoo," tiba-tiba Jongin memanggil Kyungsoo yang baru selesai makan. Yang dipanggil langsung menoleh. "Hari ini aku sama sekali tak melihat Krystal. Apa terjadi sesuatu padanya?"
Jujur saja, Jongin takut jika harus bertemu Krystal. Bisa saja Krystal menamparnya lagi, dan ia tak mungkin balas menampar seorang gadis.
Mendengar pertanyaan Jongin, raut muka Kyungsoo sedikit berubah sendu. Ia diam sejenak untuk berpikir, kemudian memutuskan untuk menjawab pertanyaan Jongin. "Krystal tidak akan datang ke sekolah ini lagi."
Jawaban Kyungsoo menghadirkan kerutan di dahi Jongin. "Apa maksudmu?"
"Krystal dikirim ke Amerika. Ia mengalami sedikit...gangguan jiwa."
Kini mata Jongin membulat. Kyungsoo memang belum bercerita tentang Krystal, tapi rupanya Kyungsoo sudah tahu tentang semuanya. Jessica sudah menceritakan semua padanya tadi malam.
Jika boleh jujur, Kyungsoo sangat menyesal karena semuanya berakhir seperti ini. Kyungsoo sempat merasa sedih dan merasa bersalah ketika semalam Jessica meneleponnya dan mengatakan bahwa Krystal terus berteriak layaknya orang gila saat berada di rumah.
Jessica juga bercerita bahwa Krystal bahkan beberapa kali mencoba untuk bunuh diri (lagi). Untungnya Jessica selalu mengawasi adiknya itu sehingga tak terjadi hal fatal lagi pada Krystal.
Jessica pun semalam langsung mendatangkan seorang psikiater ke rumahnya untuk memeriksa kondisi Krystal. Dan akhirnya, Krystal divonis mengalami depresi, yang besar kemungkinan mengganggu kondisi kejiwaannya.
Jelas terlihat bahwa Krystal amat mencintai Kyungsoo, sampai-sampai gadis cantik itu mengalami depresi. Tapi untungnya Jessica sama sekali tak menyalahkan Kyungsoo. Kakak Krystal itu justru meminta maaf pada Kyungsoo karena adiknya sempat membuat Kyungsoo kerepotan. Kyungsoo pun tak ragu untuk memaafkan Krystal, karena ia tahu bahwa Krystal tak sepenuhnya bersalah.
"Maaf karena aku sudah menghancurkan hubungan kalian," akhirnya Jongin berujar dengan nada menyesal.
"Tidak perlu minta maaf. Hubungan kami memang sudah waktunya berakhir. Lama-lama aku hanya menganggapnya sebagai sahabat, tak lebih."
Balasan ucapan dari Kyungsoo cukup untuk membuat Jongin bernafas lega. "Jadi, mulai sekarang kita bisa berhubungan dengan bebas?"
"Kalau yang kau maksud dengan kata hubungan adalah hubungan pertemanan, maka jawabanku adalah iya. Kuharap kau tidak berharap lebih dariku, Jongin."
Jongin sebenarnya kecewa mendengar kata pertemanan yang baru saja diucapkan Kyungsoo. Tapi sebisa mungkin ia memaksakan senyumnya. Mungkin semuanya bisa diawali dengan hubungan pertemanan.
Lagipula Jongin merasa cukup lega karena kali ini Kyungsoo tidak membawa-bawa kata normal yang selama ini menjadi kata favorite-nya jika sudah berhadapan dengan Jongin.
"Ya. Maksudku adalah hubungan pertemanan," ucap Jongin walau dengan setengah hati. "Ngomong-ngomong, ayahku mengizinkanku untuk tinggal di asrama lagi. Besok aku bisa mulai pindah," sambung Jongin.
Senyuman Kyungsoo tanpa sadar langsung terkembang indah. "Benarkah?" tanyanya. "Aku sangat senang, Jongin! Kita bisa menjadi roommate lagi!"
Sesungguhnya, reaksi Kyungsoo itu tak terduga untuk Jongin. Ia tak menyangka jika Kyungsoo akan secara terbuka mengakui bahwa dirinya senang. Jongin pikir, si Mr. Normal akan tetap menjaga gengsinya.
Barangkali ini adalah awal yang baik untuk Jongin. Walaupun ia tak jujur pada Kyungsoo bahwa sebenarnya sang ayah mengajukan sebuah syarat supaya Jongin bisa tinggal di asrama lagi.
Syarat yang diajukan ayahnya sebenarnya sulit untuk Jongin. Tapi untuk saat ini, ia belum ingin memikirkannya.
#Mr. Normal
Saat ini sudah hari Sabtu, dan sore ini Jongin tiba di asrama lagi.
Jika sebelum-sebelumnya Jongin selalu mengetuk pintu kamar nomor 42 dengan perasaan gugup dan takut, maka tadi ia mengetuk pintu itu dengan penuh percaya diri. Senyumnya bahkan terus terkembang lebar saat ia mengetuk pintu nomor 42 itu.
Ia pun semakin tersenyum cerah ketika Kyungsoo membukakan pintu untuknya, dan Kyungsoo juga tersenyum pada Jongin.
Hidup Jongin rasanya sempurna...
Saat ini, Jongin sedang mengeluarkan isi kopernya satu persatu. Namun kali ini ia tak melakukannya sendirian. Kyungsoo membantunya.
Setelah puluhan menit Jongin dan Kyungsoo sibuk dengan barang-barang Jongin, dua orang itu akhirnya selesai bekerja. "Ah~ akhirnya selesai," Jongin membaringkan tubuhnya di lantai usai seluruh isi kopernya berpindah ke lemari.
"Ya Tuhan! Aku tak percaya bahwa pria berusia 17 tahun mengoleksi boxer kartun Doraemon, Pororo, bahkan Dora the Explorer."
Wajah Jongin seketika merona merah. Karena tadi Kyungsoo membantunya mengeluarkan isi kopernya, Kyungsoo jadi tahu koleksi boxer Jongin, dan itu sangat memalukan.
Tapi rasa malu Jongin terbayar ketika ia melihat Kyungsoo tertawa lebar dan lepas. Tawa Kyungsoo adalah yang terindah...
Tapi lama-lama, Jongin kesal juga karena Kyungsoo terus menertawakannya.
Bermodalkan otak jahilnya, Jongin bangkit dari posisi tidurnya, lalu mendorong Kyungsoo sehingga tubuh Kyungsoo kini yang terbaring di lantai, dan tubuh Jongin berada di atasnya.
Kyungsoo yang kaget langsung menghentikan tawanya.
"Sudah selesai tertawanya, hm?" tanya Jongin.
Kyungsoo bisa merasakan hembusan nafas hangat Jongin di wajahnya.
Jongin yang tadi hanya iseng saat berencana mendorong Kyungsoo, kini justru mati langkah saat wajahnya berada dekat dengan wajah Kyungsoo.
Dada mereka yang saling menempel sama-sama mengeluarkan detakan yang kencang. Suara detakan itu bisa dipastikan merupakan suara detakan jantung mereka berdua.
Seperti terbuai oleh suasana, Jongin tanpa sadar semakin memajukan wajahnya untuk mendekati wajah Kyungsoo. Fokus matanya tertuju pada bibir Kyungsoo, seakan bibir itu mengundangnya untuk mendekat.
Kyungsoo sepertinya juga kehilangan kesadarannya hingga ia diam saja.
Tapi itu tak lama. Sebelum bibir Jongin menyentuh bibirnya, Kyungsoo memalingkan wajahnya. "Bisakah kau angkat tubuhmu dari tubuhku? Kau berat."
Jongin tampak terkejut mendengar ucapan Kyungsoo. Ia tak mengira jika Kyungsoo menolaknya, lagi. Sepertinya, Mr. Normal tidak mudah untuk ditaklukan.
Jongin pada akhirnya mengalah. Ia bangkit dari tubuh Kyungsoo, dan duduk dengan canggung di depan Kyungsoo. "Ma-maafkan aku, Kyungsoo. Aku...hanya terbawa suasana."
Kyungsoo yang kini sudah dalam posisi duduk hanya menyunggingkan senyum tipis walaupun wajahnya juga terlihat sama canggungnya dengan Jongin. "Tidak apa-apa. Tapi lain kali jangan diulangi lagi. Tubuhmu itu sangat besar, dan rasanya tulang-tulangku akan hancur gara-gara tertindih oleh tubuhmu."
Jongin tersenyum lega. Ia pikir Kyungsoo akan marah, tapi ternyata tidak. Kyungsoo justru bersikap seolah ia tidak tahu bahwa tadi Jongin hampir menciumnya.
Sungguh tak masuk akal jika Kyungsoo tak tahu. Tadi sangat jelas bahwa Jongin ingin menciumnya.
Tapi sepertinya Kyungsoo lebih memilih untuk pura-pura tidak tahu demi menjaga hubungan pertemanan-nya dengan Jongin.
#Mr. Normal
Rasanya baru kemarin Jongin kembali pindah ke asrama, dan rasanya baru kemarin hari Sabtu terlewati, tapi ternyata sekarang hari sudah berlari menjadi hari Jumat.
Empat hari ke belakang berlalu dengan baik bagi Jongin maupun Kyungsoo.
Sepasang roommate itu selalu berangkat sekolah bersama, makan siang bersama, dan pulang ke asrama bersama.
Bahkan peran Chanyeol dan Sehun bagi Jongin seakan terlupakan, demikian pula peran Jongdae bagi Kyungsoo.
Jongin dan Kyungsoo kini bisa berteman dengan baik. Tak ada lagi rasa canggung maupun rasa tak nyaman yang dulu selalu melingkupi hubungan mereka.
Kedua teman baru itu tampak akrab dan akur, seolah mereka sudah lama berteman. Mungkin orang yang tak mengenal mereka tak akan percaya jika mendengar fakta bahwa mereka dulu tidak akur.
Siapa yang akan percaya jika kondisinya sekarang sudah berubah? Dua rekan sekamar itu tampak lengket kemana-mana. Mereka tak canggung untuk tertawa dan bercanda.
Kyungsoo baru tahu bahwa Jongin itu sangat lucu dan menyenangkan. Jongin sering bercerita lucu padanya, dan itu membuatnya tertawa. Jongin sering menceritakan pengalaman-pengalaman konyolnya di masa lalu, dan itu membuat Kyungsoo seakan tak bisa berhenti tertawa.
Jongin juga baru tahu bahwa Kyungsoo sebenarnya merupakan pendengar yang baik. Sampai saat ini Kyungsoo memang tak banyak bicara, dan lebih sering menjadi pendengar. Tapi itu tak masalah bagi Jongin. Ia sudah cukup bersyukur karena kini semuanya membaik.
Kini Jongin dan Kyungsoo tak ragu untuk menghabiskan waktu bersama.
Seperti sore ini. Jam sekolah sudah berakhir sejak sepuluh menit yang lalu, tapi Jongin dan Kyungsoo masih setia duduk berdua di dalam kelas.
Salahkan saja Jongin yang tak kunjung memahami materi mencipta lagu. Jadilah Kyungsoo yang harus menjadi tutornya saat ini.
"Astaga, Jongin! Tak bisakah kau menciptakan rangkaian nada yang lebih harmonis?" Kyungsoo bertanya setelah ia selesai membaca rangkaian nada hasil ciptaan Jongin.
Jongin mendengus sebal. "Di sekolah lamaku, aku terbiasa membuat rangkaian rumus kimia, bukan rangkaian nada. Jadi jangan salahkan aku," kepala Jongin kini tergeletak lemas di bangkunya.
"Seharusnya kau bertahan saja di sekolah lamamu. Membuat rangkaian rumus kimia atau rangkaian listrik," ujar Kyungsoo sarkastis.
Sontak Jongin kembali mengangkat kepalanya dari atas meja. "Dan melewatkan kesempatan emas untuk bertemu dan mengenalmu? Aku dengan tegas mengatakan...TIDAK!"
"Memangnya kenapa kalau kau tidak bertemu dan mengenalku? Gadis-gadis di sekolah lamamu pasti banyak yang cantik, 'kan?"
Agaknya Jongin sedikit tersinggung mendengar pertanyaan Kyungsoo. Ekspresi wajahnya yang tadi santai, kini berubah menjadi serius. Ia pun terdiam untuk beberapa saat.
Kyungsoo rupanya menyadari hal itu. Jadilah ia kembali bicara. "A-aku salah bicara, ya? Ma-maaf, Jongin."
Jongin yang tadinya tersinggung kini mulai menghela nafas untuk menenangkan diri. Jika Kyungsoo sudah meminta maaf dan sudah menyebut namanya, maka amarah Jongin luntur seketika. "Aku memaafkanmu, tapi kau jangan bicara seperti itu lagi. Kau sudah tahu bagaimana diriku yang sebenarnya, 'kan?"
Kyungsoo mengangguk. "Aku tahu itu. Tapi...bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" dengan hati-hati Kyungsoo bertanya. Jongin mengangguk singkat, dan Kyungsoo melanjutkan ucapannya. "Apa sebelumnya, kau pernah menyukai seorang pria?"
Ini adalah kali pertama mereka berbicara serius mengenal orientasi seksual. Jongin saja sedikit kaget mendengar pertanyaan Kyungsoo.
Tapi dengan tegas Jongin menggelengkan kepalanya. "Aku belum pernah menyukai seorang pria maupun wanita. Kau yang pertama," wajah Jongin memerah malu.
Ah! Jongin benar-benar polos. Penampilan luarnya yang seperti bad boy benar-benar berbanding terbalik dengan karakter sebenarnya pria Kim itu.
Kyungsoo pun ikut merona karena pengakuan jujur Jongin tadi.
Ia benar-benar tak mengerti. Ia merasa normal, tapi ia selalu merasakan hal yang aneh ketika berhadapan langsung dengan Jongin.
"S-sudahlah. Kita kembali belajar. Kalau memang kau tidak bisa menciptakan lagu ballad, coba kau buat lagu rap," akhirnya Kyungsoo memilih untuk mengganti topik pembicaraan. Ia tak sanggup jika harus berbicara serius dengan Jongin. Hal itu membuat dirinya merasa aneh sendiri.
#Mr. Normal
Jumat malam ini agaknya menjadi malam yang menegangkan bagi Jongin.
Kyungsoo tak tahu kenapa teman sekamarnya itu dari tadi risau sendiri di ranjangnya. Tak biasanya Jongin terlihat gelisah begitu.
Jongin dan Kyungsoo sama-sama tak sedang belajar. Kyungsoo sedang membaca novelnya, sementara Jongin —tadinya- sibuk memainkan ponselnya sambil berbaring.
Tapi sepertinya kini kondisi itu berubah. Karena Jongin terlihat galau, Kyungsoo akhirnya meletakkan novelnya, dan fokus menatap Jongin. "Kau kenapa?"
Jongin yang tadi memutar-mutar ponselnya kini menghentikan gerakannya, lalu balas menatap Kyungsoo. "Aku? Memangnya aku kenapa?" Jongin justru balas bertanya sembari menunjuk dirinya sendiri. Ia bahkan mengedipkan matanya dengan ekspresi super polos.
"Dari tadi kau bergerak-gerak random. Kakimu menendang-nendang udara, tanganmu memutar-mutar ponsel, dan berulang kali kau menghela nafas berat. Kau pikir aku tak terganggu, huh?"
Jongin terkekeh. Ia akhirnya mendudukkan tubuhnya yang tadi berbaring, lalu menghadap Kyungsoo yang duduk di ranjangnya sendiri. "Kau tahu? Kau dulu acuh-acuh saja walaupun aku jungkir balik di kamar. Kenapa sekarang kau begitu peduli, hm?"
Kyungsoo memutar bola matanya mendengar godaan Jongin. "Jangan mengalihkan pembicaraan. Atau, kau lebih suka aku yang acuh dan tak peduli padamu?"
"Aku menyukai semua sisi dirimu, Kyungsoo."
Blush. Seketika wajah Kyungsoo merona, dan ia tanpa sadar memalingkan wajahnya dari Jongin. Ia tak ingin Jongin melihat wajahnya yang memerah. "K-kau mengalihkan pembicaraan!" suara Kyungsoo terdengar bergetar. "Sebaiknya kau katakan padaku, apa yang sejak tadi kau pikirkan?"
Jongin yang tadi tak serius, kini mulai mengubah ekspresinya. Tiba-tiba ia menundukkan kepalanya, dan ia terlihat frustasi. "Ini masalah ayahku," Jongin akhirnya mengalah dan mulai bercerita. "Sebenarnya, ayahku tidak secara cuma-cuma mengizinkanku tinggal di asrama ini lagi."
Kyungsoo kini kembali menatap Jongin dengan matanya yang membulat. "A-apa? M-maksudmu, ayahmu mengajukan syarat untukmu? Begitu?" Jongin mengangguk lemah guna menjawab pertanyaan Kyungsoo. Setelahnya, Kyungsoo melanjutkan pertanyaannya. "Jadi...apa syarat yang diajukan oleh ayahmu?"
Jongin dengan pelan kembali mengangkat kepalanya. Ia menatap Kyungsoo intens. Ia sedang mempertimbangkan semuanya matang-matang. Haruskah ia bercerita pada Kyungsoo? Atau haruskah ia menyimpan semuanya sendiri dan mengalah pada takdir?
Jongin meragu, dan Kyungsoo tahu hal itu. Kyungsoo yang sekarang bukanlah Kyungsoo yang dulu. Kini ia adalah sosok yang peduli. Sungguh mirip dengan sifat mendiang ibunya, dan itu memang sifat asli Kyungsoo yang telah lama terkubur.
Agaknya Jongin sukses menggali sifat Kyungsoo itu. Pelan tapi pasti, Kyungsoo yang dulu beku seperti es, kini berubah menjadi sosok yang lebih hangat dan peduli. Meskipun perubahan itu juga tak terjadi secara drastis.
"Jongin?" Kyungsoo memanggil Jongin karena pria di depannya seperti larut dalam pikirannya terlalu lama.
Mendengar namanya dipanggil oleh Kyungsoo, hati Jongin bergemuruh seperti biasa, dan ia akhirnya mengalah. Sepertinya ia harus bercerita pada Kyungsoo.
Entah kenapa, jika berhadapan dengan Kyungsoo, Jongin rasanya seperti berhadapan dengan ibunya sendiri. Jongin jadi tak bisa menyembunyikan apapun dari Kyungsoo.
"Jadi begini, Kyungsoo..." Jongin memulai ceritanya. "Ayahku memintaku membawa Krystal beserta keluarganya untuk datang ke rumahku besok. Beliau ingin...aku bertunangan dengan Krystal. Beliau masih belum tahu kebenaran dari semuanya, Kyungsoo. Jadi beliau mengajukan syarat itu."
Kyungsoo tak langsung memberikan reaksi karena ia terlalu kaget. Ia tak menduga jika syarat yang diajukan oleh ayah Jongin berkaitan dengan mantan kekasihnya.
"Jika besok aku tak membawa Krystal dan keluarganya ke rumah, maka aku harus meninggalkan asrama ini, dan aku juga harus...setuju dijodohkan dengan gadis pilihan ayahku."
Kyungsoo yang tadinya sudah kaget, kini menjadi semakin kaget setelah Jongin kembali bicara.
Ia tak mengerti kenapa ia merasa sakit saat Jongin berkata demikian.
Oke lah jika Jongin memang harus kembali meninggalkan asrama. Tapi yang jadi masalah adalah, kenapa Jongin harus dijodohkan dengan seorang gadis?
Kyungsoo tak paham kenapa ia merasa tak terima dengan keadaan itu.
Setelah cukup lama terdiam, Kyungsoo akhirnya menemukan suaranya kembali. "La-lalu...kau akan menerima perjodohan itu? Ma-maksudku, kau itu gay, 'kan? Apa kau akan baik-baik saja jika harus bersama seorang gadis?"
Jujur, Kyungsoo sebenarnya merasa tak tega bertanya seperti itu pada Jongin. Apalagi karena ia membawa-bawa kata gay yang seolah menyudutkan Jongin.
"Sebenarnya aku ini normal, Kyungsoo. Hanya untukmu aku menjadi gay," Jongin sempat-sempatnya menggombal sambil tertawa kecil. "Tapi apa yang bisa aku lakukan sekarang? Ayahku tak mungkin menerima putranya yang menyimpang, 'kan? Beliau pasti akan marah padaku."
Kyungsoo lagi-lagi terlihat berpikir. Ia mencerna ucapan Jongin yang intinya adalah Jongin menjadi gay hanya untuk Kyungsoo.
Dari situlah Kyungsoo menyadari sesuatu.
"Jongin..." Kyungsoo yang menemukan pencerahan akhirnya memanggil Jongin. "Apa kau...mau meminjamku kali ini?"
Kalimat tanya Kyungsoo terdengar ambigu bagi Jongin. "Apa maksudmu, Kyungsoo?"
"Dulu kau pernah berkata padaku. Jika aku tak mau meminjamkan Krystal padamu untuk berpura-pura menjadi kekasihmu, maka kau akan meminjamku. Apa sekarang kau ingin meminjamku?"
Jongin akhirnya connect pada maksud ucapan teman sekamarnya itu. "Kyungsoo..." panggilnya dengan nada tak percaya.
"Aku baru saja menyadari sesuatu, Jongin," Kyungsoo tak membiarkan Jongin kembali bicara. "Aku sadar bahwa aku yang telah mengubahmu menjadi gay, dan aku harus bertanggung jawab. Bawa aku ke depan ayahmu, bersembunyilah di belakangku, dan aku akan mengaku pada ayahmu bahwa aku yang sudah membuatmu menyimpang."
"Kyungsoo..."
"Aku akan mengaku sebagai kekasihmu di depan ayahmu. Aku akan mengatakan padanya bahwa aku yang sudah membawa pengaruh buruk padamu."
"Kyungsoo..."
"Ayahmu tidak akan marah padamu, melainkan akan marah padaku. Kau akan ba—"
"KYUNGSOO!" Jongin yang sudah tak tahan akhirnya berteriak. Ia bahkan sudah berdiri di depan Kyungsoo, dan memegang erat dua pundaknya. "Kalau kau melakukan hal itu, maka ayahku akan menjauhkanku darimu, dan itu adalah hal yang paling tak kuinginkan."
Kyungsoo diam sembari menatap Jongin. Mata Jongin berkaca-kaca, dan sepertinya cairan bening di mata elang pria itu siap tumpah kapan saja.
"Aku tak ingin berpisah denganmu, Kyungsoo. Kau harus mengerti hal itu," akhirnya satu tetes cairan bening meleleh di pipi Jongin. Air mata itu seolah membuktikan kesungguhan hati Jongin.
Kyungsoo yang tak kuasa lagi bertatapan dengan mata basah Jongin akhirnya menunduk. Rasanya ia ingin ikut menangis. "Ta-tapi lebih baik kau jujur pada ayahmu, Jongin. Lagipula kau pernah bilang bahwa ayahmu adalah orang yang baik. Kau harus jujur pada beliau apapun yang terjadi."
Jongin kini menjauhkan tangannya dari pundak Kyungsoo, kemudian menggunakan satu tangannya untuk mengusap wajahnya secara kasar. "Apa aku benar-benar harus mengaku sekarang? Aku belum siap dan aku takut, Kyungsoo..."
Kyungsoo tersenyum lembut, kemudian menggenggam sebelah tangan Jongin yang bebas. "Aku akan berada di sampingmu. Kau tidak akan sendirian, jadi kau tak perlu takut."
Jongin menatap Kyungsoo dengan matanya yang berair. Wajah Kyungsoo memancarkan kesungguhan, dan matanya memancarkan ketulusan.
Dua hal itu membuat hati Jongin terasa sejuk, seolah ia menemukan oase di padang tandus.
Rasa takut di benak Jongin mendadak hilang, dan ia perlahan menemukan keyakinannya.
"Baiklah, Kyungsoo," akhirnya Jongin memutuskan. "Tapi aku yang akan bicara pada ayahku. Kau cukup berdiri di sampingku, berpura-pura menjadi kekasihku, dan jangan bicara apapun. Mengerti?"
Kyungsoo lagi-lagi tersenyum, kemudian mengangguk.
Senyum manis Kyungsoo bagaikan mantra. Mantra yang membuat Jongin secara otomatis menggerakkan tubuhnya untuk memeluk Kyungsoo. "Terimakasih karena sudah bersedia membantuku, Kyungsoo."
Kyungsoo tanpa ragu membalas pelukan Jongin. "Aku senang karena bisa membantumu," ucapan Kyungsoo itu membuat Jongin tersenyum. "Tapi ada satu poin penting yang harus kau ingat, Jongin. Aku membantumu bukan karena aku berubah menjadi gay dan menerima perasaanmu. Aku tetaplah seorang pria normal."
Dan senyum Jongin seketika luntur, seiring dengan hatinya yang seperti tercabik dan tersayat. Lagi-lagi pria tampan itu dihadapkan pada sebuah penolakan.
#Mr. Normal
Hari Sabtu akhirnya tiba. Hari ini bagaikan hari penghakiman untuk Jongin. Rasanya, masa depan dan kebahagiaan Jongin sepenuhnya tergantung pada apa yang terjadi hari ini.
Jongin dan Kyungsoo baru saja keluar dari mobil BMW milik keluarga Jongin. Seperti sebelumnya, dua pria itu sebelumnya dijemput di asrama, selanjutnya diantar oleh sopir keluarga Kim.
Jongin dan Kyungsoo sama-sama gugup. Apalagi saat Jongin berkata bahwa ayahnya sengaja cuti dari kantor untuk menemuinya siang ini.
Kyungsoo tak tahu apa yang akan dilakukan Jongin hari ini. Tadi malam Jongin hanya memintanya untuk selalu berada di sisinya, dan Kyungsoo hanya bisa menurutinya.
"Kau sudah siap?" tanya Jongin begitu ia dan Kyungsoo sudah berada di depan pintu utama rumah Jongin.
Kyungsoo mendongak ke samping untuk menatap Jongin, kemudian ia mengangguk. Meskipun ia sebenarnya sama sekali tak siap. Rasanya ia sedang dihadapkan di depan kandang macan yang siap menerkamnya.
Setelah melihat Kyungsoo mengangguk, Jongin dengan ragu mengangkat tangannya untuk menekan bel.
Dua manusia itu sama-sama tegang saat menunggu pintu terbuka.
Mereka tak harus menunggu lama karena ibu Jongin langsung membukakan pintu, dan menyambut mereka dengan senyum hangat. "Eomma sudah menduga bahwa hari ini kau membawa Kyungsoo, Jongin."
Jongin tersenyum kikuk pada sang ibu. Ia belum bercerita pada ibunya tentang keputusannya untuk membawa Kyungsoo ke rumah, tapi rupanya sang ibu kandung sudah menebak hal itu sebelumnya.
Di sisi lain, Kyungsoo tampak bingung mendengar ucapan ibu Jongin. Jadilah pria imut itu hanya mengerjapkan matanya polos.
Tak ingin membiarkan Jongin dan Kyungsoo berdiri terlalu lama, ibu Jongin segera mengajak mereka memasuki rumah. Wanita cantik itu berjalan memasuki rumah lebih dulu meninggalkan Jongin dan Kyungsoo.
Tapi rupanya Kyungsoo tak bergeming dari posisinya, dan itu membuat Jongin menatap khawatir teman sekamarnya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Kyungsoo mengangguk. Pria bermata besar itu sama sekali belum mengeluarkan suara merdunya sejak pertama mereka sampai di kediaman keluarga Kim. Hal itu membuat Jongin sedikit merasa khawatir.
Ia tahu Kyungsoo merasa takut. Meskipun Kyungsoo selama ini berkedok sebagai pria dingin tak berhati, namun Jongin paham bahwa setiap manusia pasti memiliki rasa takut walaupun sedikit.
Dengan alasan untuk mengurangi rasa takut Kyungsoo, Jongin akhirnya menggerakkan tangan kirinya untuk menggenggam tangan kanan Kyungsoo. "Semua akan baik-baik saja."
Setelah berkata begitu, Jongin dengan lembut menarik Kyungsoo untuk berjalan memasuki rumahnya. Yang ditarik hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki Jongin.
Jongin dan Kyungsoo ternyata tak harus melangkah terlalu jauh. Dalam waktu sebentar saja keduanya sudah sampai di ruang keluarga, dan disana sudah ada ayah dan ibu Jongin.
Ayah Jongin melotot kaget saat mendapati sang putra tunggal menggandeng tangan seorang pria. "Apa maksudnya ini?" dengan nada tinggi, ayah Jongin bertanya.
Lelaki dewasa itu bahkan berdiri dari sofa, dan menatap tajam Jongin dan Kyungsoo bergantian.
"Tenanglah dulu, yeobo. Biarkan mereka duduk dulu," ibu Jongin mencoba untuk mengajak suaminya kembali duduk.
Ayah Jongin menuruti keinginan sang istri untuk duduk di sofa lagi.
Jongin segera mengajak Kyungsoo untuk duduk, dan mereka langsung menundukkan kepala begitu mereka sudah duduk berdampingan di depan ayah dan ibu Jongin.
Mereka tak berani mencuri pandang pada ayah Jongin yang kini menatap mereka tajam. Mereka benar-benar seperti tersangka yang akan dihakimi.
"Sekarang jelaskan padaku tentang semuanya, Kim Jongin. Dimana Krystal dan keluarganya yang kau janjikan padaku?"
Kyungsoo mengangkat kepalanya dan bersiap untuk menjawab pertanyaan ayah Jongin, tapi Jongin dengan cepat meremas tangan Kyungsoo yang masih digenggamnya, seolah memberi isyarat pada Kyungsoo untuk tetap diam.
Kyungsoo kembali menjatuhkan kepalanya, lalu sejenak melirik Jongin. Yang dilirik hanya memberinya sebuah senyum kecil, namun seperti senyum penenang untuknya.
Tak berselang lama, Jongin akhirnya mengangkat kepalanya untuk menatap sang ayah. Masih jelas terlihat pancaran rasa takut di mata Jongin, tapi pemuda itu berusaha untuk melawan rasa takutnya. "Aku tidak bisa membawa Krystal dan keluarganya hari ini. Sebagai gantinya, aku ingin membuat sebuah pengakuan pada appa."
Ayah Jongin merasakan firasat buruk. Ia mengepalkan tangannya erat, tapi sang istri di sampingnya terus berusaha membuat suaminya tenang.
Jongin menoleh pada Kyungsoo sebentar, kemudian kembali menatap ayahnya. "Kuharap appa tidak akan menjodohkanku dengan gadis manapun, karena itu hanya akan membuatku menderita," Jongin mengambil jeda untuk mengumpulkan keberaniannya. "K-karena aku se-sebenarnya...gay."
Ayah Jongin kaget setengah mati, lalu langsung berdiri dari posisi duduknya. "APA KAU BILANG? ULANGI LAGI APA YANG KAU KATAKAN, KIM JONGIN!"
..
..
TBC
Chapter ini full KaiSoo, dan chapter depan pun begitu. kemungkinan besar, chapter depan adalah yang terakhir.
jujur, aku belum nulis chapter endingnya. hehe. karena kebetulan lagi ada proyek sana-sini jadi dari dulu belum ngetik bagian akhirnya. tapi semoga besok bisa posting endingnya, dan semoga gak mengecewakan. karena aku tahu kalau FF ini sudah mengecewakan banyak orang sedari awal :)
aku mau ngucapin terimakasih banyak buat para reader yang selalu setia mendukungku. tapi tenang aja, yg kemarin itu aku gak apa2 kok. aku cuma ngasih klarifikasi aja. usiaku udah terlalu tua kalau cuma gara2 kritik aja aku sedih plus galau. haha. lagipula, kritik2 itu aku lihat sebagai sesuatu yg membangun. yang memberi kritik berarti peduli dengan karyaku^^
ada yang ingin memberiku kritik, saran, komentar, dan lain-lain lagi? feel free lho yaaa.. :D
