ChanBaekChen Side

Cast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Kim JongDae

Genre :

Humor, fluffy, absurd

Rate :

T

Lenght :

Oneshoot, just drabble

Desc :

Semua cast milik tuhan dan cerita ini adalah punya saya karena ceritanya saya yang bikin, pernah di post dengan cast berbeda. ini GS dan disini Baekhyun bukan anggota EXO, dia hanya yeoja yang di sukai 2 orang anggota Exo.

Happy reading!

Cuaca hari ini cukup indah untuk menghabiskan waktu bersama se-cup ice cream berjalan-jalan di luar sana menikmati indahnya sang mentari atau berteman baik dengan kipas angin maupun AC terdekat. Namun tidak itu yang sedang di lakukan oleh namja tampan berwajah sedikit persegi dengan tonjolan mencolok di lehernya. Ia menutupi matanya yang memiliki bulu mata pendek-pendek yang lentik dengan shade hitamnya tak lupa dengan masker sedikit nyentrik yang menutup mulutnya. Ia memacu jalannya menuju sebuah gedung putih besar yang berada di pusat kota. Ia terlihat seperti seorang mahasiswa terkena flu yang sepertinya akan telat memasuki jam pelajaran seorang dosen yang mengingatkan pada nilai C di setiap melihat wajahnya. Mengingat hanya kaus putih bercorak hitam pendek yang melekat pada tubuhnya bersama celana jeans biasa dan sepatu yang entah punya siapa di pakainya asal di kakinya tanpa clutch bag dan barang ber merk yang biasa ia gunakan.

Bruk!

"yak.. "protesnya lengking pada seorang yang menabraknya. Namun, di balas tak kalah lengking oleh sang penabrak yang juga tak terlihat dalam keadaan tak berbeda darinya terduduk di lantai di depan lift.

"kau.. "

"kau.. "

Aksi saling tunjuk dan membantu berdiri tak terhindarkan dari keadaan mereka. Mereka masih saling memandang sengit.

"jongdae sii, apa yang kau lakukan disini huh?"tanya namja penabrak yang lebih pendek pada namja yang di tabraknya sembari sedikit mendekat, mengecilkan suaranya dan menunggu lift terbuka.

"bukan urusanmu, Tuan Park"balas namja yang di panggil Jongdae itu cuek, dan tak mengalihkan matanya dari penanda pergerakan lift.

"tapi kan aku milikmu, jadi urusanmu juga milikku, chenchen" namja tinggi bernama Chanyeol itu tak menyerah menganggu Jongdae. Jongdae langsung menghela nafas berat, ia tiba-tiba teringat kejadian saat natal namja di sampingnya ini merangkul dan mengolok-oloknya dengan menyatakan dirinya akan menjadi pengantinnya kelak. Hell! Bagaimana mungkin mereka sama-sama laki-laki.

Ting!

Mereka membuka shade dan masker mereka karena hanya ada Chen dan Chanyeol. Jongdae langsung menekan tombol 13 sesuai arahan dari suster tadi. Ia heran karena Chanyeol tak menekan tombol apa pun setelahnya.

"hey.. kau mau ke lantai berapa? Jangan bilang kau menguntitku, Chanyeol sii"tegur Chen.

"hati-hati ucapanmu Dae iee. Aku ada urusan yang lebih penting dari itu"sela Chanyeol.

"terserahlah. Sepertinya baju hitam itu tak asing bagiku"celetuk Jongdae.

"ya, aku tahu. Ini milikmu. Dan aku akan mencucinya dan mengembalikannya. Gomapta Jongdae sii" Chanyeol mengacungkan jari jempolnya sebagai tanggapan ucapan Chen padanya. Chen menahan tawanya, berhasil menyerang salah satu anggota bandmatenya.

"hey, aku tak bilang apa-apa"

"ya, setidaknya kau tak lupa juga memastikan label pada sepatu yang kau gunakan, jongdae ah"

Chen melihat pada sepatu yang ia gunakan. Lalu tersenyum tipis.

"wah, terima kasih perhatiannya Chanyeol ah"jawabnya santai, yang tentu saja membuat Chanyeol sebal karena tak lain sepatu yang digunakan jongdae adalah miliknya.

"yak.. Kim Jongdaee...!" Chen mengusap-ngusap telinganya prihatin sekalipun seringkali menikmati lengkingan Chanyeol namun tetap saja ia tak terbiasa.

"kau mau membuat telingaku rusak huh?"

Chanyeol menanggapi dengan cengengesan dan berjalan lebih dahulu keluar dari lift.

"annyeong, Jongdae sii"kekeh Chanyeol sambil menekan tombol lift sebelum Chen keluar dari lift tersebut. Chen sempat terdiam namun beruntung ia berhasil menahan pintu lift tersebut sebelum membawanya kelantai 21 dari gedung itu.

"yak! Park Chanyeol! "amuk Chen setelah berhasil keluar dari lift tersebut. Ia terpaksa harus membungkuk minta maaf karena tatapan dari perawat-perawat yang menatap tajam padanya. Dalam hatinya ia berjanji akan membalas Chanyeol lebih dari ini.

Ia menelusuri koridor panjang di lantai tersebut mencari Dandelion Room tempat seseorang yang ingin di kunjunginya di rawat. Ia menangkap sosok namja tinggi dengan baju hitam, bercelana pendek bersama dengan topi yang menambah kesan manlynya, yang membuat Chen seketika berpikir untuk melakukan pembunuhan saat itu juga.

"Park Chanyeol, jangan kabur kau!" Chen mengejar targetnya.

"argghhhh!"pekik Chanyeol merasakan tangan Chen yang kini sudah memeluk erat lehernya, membuat tangan pemilik jari lentik itu harus bersusah payah melepas kungkungan lengan besar Chen.

Belum selesai Chen melaksanakan niat tulus dan ikhlasnya –membunuh Chanyeol- , ia sudah mendapat pandangan menekan lagi dari orang yang sepertinya adalah ketua perawat disana yang mau tak mau membuatnya harus memaksa senyuman aneh di bibirnya dan Chanyeol membuat seolah ini adalah pertemuan mengharukan dua sahabat. Sudahlah.

Mereka sama-sama ngos-ngosan mengingat aksi kejar-kejaran dan pelukan-pelukan(?) yang mereka lakukan tadi cukup menguras energi. Mata mereka tertuju pada papan petunjuk yang sama dan terjadilah aksi menguras energi berikutnya.

"yak.. lepaskan tanganmu" Chen memukul tangan Chanyeol yang ingin membuka pintu sebuah ruangan. Chanyeol mengaduh dan reflek melepas tangannya dari ganggang pintu tersebut. Chen tersenyum senang.

"jangan bermimpi" Chanyeol menginjak kaki Chen yang di balut sepatu miliknya sendiri. Chen mengaduh, namun berhasil menahan Chanyeol yang mengambil kesepatan. Aksi itu berlangsung cukup sengit hingga tanpa sengaja keduanya membuka pintu tersebut dan masuk secara rebutan dan berbarengan.

"Baekhyun ahh.. !"sapa mereka serentak.

Yang di sapa terbatuk karena kaget, nyaris saja ia memuntahan obat yang baru saja di berikan perawat padanya. Sementara di sebelah kanannya seorang perawat nyaris menyuntik dirinya sendiri, di sebelah kirinya seorang perawat baru saja di terkena air oleh air yang di pegang suster yang membantu Baekhyun untuk minum tadi. Semua mata mengarah pada Chen dan Chanyeol sekarang, membuat mereka seolah terpaku pada posisi beku dan membuat bahkan menelan ludah pun susah. Canggung begitulah kira-kira. Mereka langsung memasang posisi tegak kemudian membungkuk.

"jungseohamnida.. "ucap mereka lantang. Kemudian membuat langkah konyol dan senyum canggung menuju tempat Baekhyun.

Sungguh, bicara tentang suprise dari dua orang tersebut sudah bukan rahasia lagi untuk Baekhyun. Apalagi dalam kenyataannya sikap beagle mereka itu sulit di hentikan kecuali oleh jijutsu dari bandmate mereka yang cukup manematikan. Namun, sekali lagi ini rumah sakit,bukan? Bisakah bertingkah layak sehingga ketika memanggil 'oppa' tak terasa janggal? Baekhyun hanya menggeleng kepalanya heran.

"apa kau baik-baik saja, Baekki ah?"tanya Chanyeol yang sekarang berada di sebelah kanan Baekhyun.

"tentu saja tidak baik-baik saja bodoh, kalau tidak mengapa dia berada disini dengan wajah sepucat itu" bukan Baekhyun yang menjawab malah Chen yang berada di sebelah kiri Baekhyun yang menjawab. Chanyeol sudah hendak melayangkan protes tapi Chen sudah terlebih dahulu bersuara.

"apa msih terasa sakit, Baekhyun?"tanya Chen lembut menatap Baekhyun khawatir.

"tentu saja masih, kalau tidak kenapa dia masih disini dan tidak pulang. Kau lihat bahkan keningnya berkerut menanggapi pertanyaanmu" lagi-lagi bukan yang di tanya yang menjawab malah Chanyeol yang menjawab, ia mencibir seolah berkata skor mereka satu sama.

Baekhyun hanya menghela nafas menyerah, sepertinya ia takkan berhasil untuk sekedar menjawab "gwenchana oppa, sekarang aku sudah merasa lebih baik" mengingat Chanyeol dan Chen lagi-lagi masih berdebat.

"oppa .. "lirih Baekhyun pada akhirnya berharap bisa menengahi keduanya walaupun yakinlah itu percuma karena mereka akan memulai pertengkaran lain lagi nantinya.

"ne.. "respon serempak keduanya.

Baekhyun ingin mengatakan sesuatu tapi lidahnya terasa kelu, ia terasa tak bertenaga untuk bersuara. Apa ini masih bagian dari sakitnya atau efek obat dia juga tidak tau. Ia masih berusaha menggerakan bibirnya mengatakan ia baik-baik saja dan kedua orang itu tak perlu bertengkar dan khawatir.

Chen langsung menggengam tangan Baekhyun dan menyentuh dahi Baekhyun dengan tangannya.

"apa kau merasa semakin sakit? Badanmu bertambah panas? Apa?"tanya Chen dengan tatapan penuh kekhawatiran.

Baekhyun tercekat karena perbuatan tiba-tiba Chen. Pipinya tiba-tiba merona mungkin ini yang menyebabkan Chen menyangka suhu tubuhnya naik. Baekhyun juga tak berdaya memandangi mata penuh ketulusan dan kekhawatiran milik Chen.

"hmm.. aku tak mengerti.. apa aku harus.. " Chen bermonolog sendiri. Ia tak mengerti apa suhu tubuh Baekhyun naikk atau tidak.

Tiba-tiba Chen mendekatkan wajahnya ke wajah Baekhyun. Tentu Baekhyun panik mengingat wajah tampan milik Chen berdekatan dengan wajahnya. Ia ingin meronta menjauh tapi tetap saja badannya terlalu lemah untuk itu. Chen sudah berjarak kurang dari 10 centimeter sebanding dengan detak jantung Baekhyun yang semakin tak terkoontrol. Membuat yeoja itu berpikir untuk melakukan operasi jantung karena sungguh bahkan perutnya terasa menegang. Lengkaplah sudah segala sakit di tubuhnya.

"yak! apa yang kau lakukan?"

"arghhhhh!" Chen memekik sedikit tidak elit pasalnya rambutnya baru saja di tarik dengan kasar oleh Chanyeol.

"apa-apaan kau Park Chanyeol?"protes Chen.

"kau yang apa-apaan mencari kesempatan dalam kesempitan seperti itu, sialan. Dasar byoentae! Kau mau menciumnya dalam keadaan lemah seperti ini" kesal Chanyeol.

"kau gila! Dasar pikiran Byoentae! Aku hanya sedang berusaha memeriksa suhunya"bela Chen yang juga kesal.

"memeriksa suhu apanya? Dasar Byeontae!"

"yak! aku hanya meniru di film mereka mendekatkan kening untuk mengetahuinya. Kau jangan berpikiran aneh-aneh"

"kau.."

"kau... "

Lagi-lagi mereka bertengkar, Baekhyun yang kepala sudah terasa sakit tadi merasa kepalanya semakin sakit gara-gara dua orang berisik tersebut.

"hmm.." sebuah deheman membuat aksi saling berpelukan(?) Chanyeol dan Chen part 2 sedikit terinterupsi.

"siapa yang bertanggungjawab pada pasien Park Baekhyun?"tanya seseorang yang di yakini dari pakaiannya adalah dokter yang bertanggungjawab pada kondisi Baekhyun.

"saya dokter, Kim Jongdae"kata Chen mengangkat tangannya seolah menjawab pertanyaan guru.

"tidak. Saya dokter, Park Chanyeol"kata Chanyeol sambil menunjuk dirinya meyakinkan sang dokter.

Dokter itu mengerutkan kening karena dari kedua namja tersbut berbeda marga dari Baekhyun. Ia menyangka salah satu dari keduanya adalah keluarga Baekhyun, mengingat yang harus di lakukan si penanggungjawab adalah mendengarkan perkembangan kesehatan pasien, memutuskan keputusan terbaik terakhir membayar seluruh biaya rumah sakit.

"tenang saja dokter saya akan bertanggung jawab tentang biaya berapa pun itu"kata Chen yan mengerti.

"saya yang akan bertanggungjawab pada bayinya"ucap Chanyeol yang entah darimana muncul ide untuk mengatakannya.

"saya akan bertanggung jawab pada masa depannya"timpal Chen tak mau kalah.

"saya pada kehidupannya"kata Chanyeol.

"saya pada kebahagiaannya"

"saya.. "

Sebelum jawaban mereka semakin ngawur dan membuat perimpangan di dahi yang mendengarnya. Baekhyun yang entah mendapat kekuatan dari mana menggengam apel yang berada di nakasnya, melempar ke kedua namja absurd tersebut.

"arghh.. aduh .. " keluh keduanya. Siapa coba yang tak kesakitan di lempar apel tempat di bagian kepala. Mereka menatap Baekhyun yang sekarang memandang mereka dengan tatapan marah.

"ah.. oke"kata kedua namja itu serentak.

Mereka tau kalau mereka membuat kekacauan lebih dari ini Baekhyun akan mengamuk dan mungkin tak bicara pada mereka selama beberapa hari. Mereka memilih untuk berdiskusi sedikit menjauh dari Baekhyun. Alhasil, Chen mengikuti dokter untuk mengurus administrasi dan mendengar tentang perkembangan kesehatan Baekhyun dan Chanyeol menelpon keluarga Baekhyun dan menjaganya hingga Chen datang nanti setelah itu Chanyeol mungkin akan pergi menjadi MC di salah satu acara music.

Chanyeol yang sudah leluasa tanpa Chen mengambil posisi duduk di sisi kanan Baekhyun dan mengenggam tangan Baekhyun.

"apa lagi yang kau lakukan kali ini huh?"tanya Chanyeol lembut dan membuat yang mendengarnya merasa nyaman dan di manjakan. Baekhyun mengerutkan keningnya tak mengerti.

"kau malas makan obatmu lagi atau berkutat dengan calon novelmu itu huh?"kata Chanyeol seolah sudah menduga itu terjadi. Baekhyun seolah tak berkutik namun tetap saja menggeleng menolak mengakui.

Tangan Chanyeol sekarang mengelus lembut Baekhyun, menyalurkan kenyamanan. Tak banyak yang tau sifat Chanyeol yang seperti ini.

"kau tak bisa berbohong padaku, ingat itu. aku tau kau melakukan keduanya sekaligus"

Baekhyun tak berkutik ia hanya bisa diam mendengarkan Chanyeol.

"berhentilah membuat yang menyayangimu khawatir, sayangi dirimu sendiri anggaplah demi orang-orang yang menyayangimu, ara?"

Jujur saja Baekhyun sering merasa benci di ceramahi seperti itu, menurutnya orang yang bicara seperti itu tak mengerti dia karena tak pernah berada di posisi yang sama seperti dia. Yang merasakan sakit dia, yang minum obat dia, yang merasakan kesepian dia, yang merasakan semuanya dia. Kadang ia juga lelah dan orang tak mengerti. Ia benci namun ia juga membenarkan sekalipun berat bahwa ia harus menyayangi dirinya setidaknya untuk yang menyayanginya.

"aku menyayangimu sangat, ah aku mencintaimu"kata Chanyeol tiba-tiba.

Deg.

Jantung Baekhyun berdebar cepat. Aliran darahnya terasa tak normal. Apalagi di tatapi oleh mata sipit Chanyeol yang penuh kesungguhan. Ia bingung apa ini sebuah pernyataan cinta. Apa ia sedang di tembak? Apa ia perlu menjawab?

"kau mencintaiku juga,kan?"

Deg.

Oh My God! Baekhyun mengerjapkan matanya tak percaya. Jika bisa bersuara dengan cepat "ya tentu saja, nado" namun tak bisa masih ada kata 'tapi' dalam pikirannya. Dan ia tak mengerti juga tapi untuk apa, kenapa atau siapa.

"kalau begitu lakukan untukku, oke?"

Baekhyun bingung, apa itu artinya Chanyeol sudah tau perasaannya?

Cup.

Serangan lain dari seorang Park Chanyeol sepertinya makin membuat organ-organ Baekhyun bertindak tak terkendali. Chanyeol baru saja mencium pipi kanannya.

"yak! Park Chanyeol"

Chanyeol sudah lebih dahulu kabur sebelum aksi peluk memeluk (?) part 3 nya bersama Chen terulang lagi. ia yakin jika tertangkap Chen mereka bisa jadi akan bergumul-gumul di tanah ala film india mengingat Chen memergoki aksinya tadi.

"sialan !"rutuk Chen.

Ia memposisikan diri duduk di sebelah kiri Baekhyun. Ia mengambil tissue kemudian ia lap kan pada pipi kanan bekas ciuman dari Chanyeol tadi. Ia terlihat sangat kesal dan terima.

"apa kau mau aku cari kan obat anti rabies atau pes untuk pipimu?"kata Chen.

Baekhyun nyaris tertawa. Apa Chen menganggap Chanyeol itu kucing atau tikus? Dan jika pun iya, seingat Baekhyun tadi Chanyeol juga tidak mengigit. Huft, seandainya Baekhyun tau Chen hanya sedang cemburu. /pukpukJongDae/

"tidurlah, aku akan menemani disini"kata Chen lembut.

Baekhyun mengangguk.

Entah karena efek obat atau sudah terlalu lelah atau pun mungkin karena suara merdu Chen yang bersenandung lembut di sampingnya. Baekhyun langsung menuju dunia mimpinya.

Cup.

Chen mencium pipi kiri Baekhyun.

"I Love you"katanya pelan.

Dalam hati Baekhyun membalas "I Love you too, but.."

End.

Aneh? Haahha..

Sudah dapat di maklumi..

Aku suka chemistry si Chen ama Baekhyun tapi tetap lucu terus sama si Chanyeol dan Baekhyun. So, gini deh jadinya. Beagle line emg kocak bgt.

Hm.. so who is the best? ChanBaek? Or ChenBaek?

Haahhahhaha...

Jangan lupa review ya, thank youu...

Love u.

Saranghaeyoooo~~