Title: Mr. Normal
Pairing: KaiSoo as main pair
Cast for this chapter: Kai EXO as Kim Jongin, D.O EXO as Do Kyungsoo, Jongin's mom (OC), Jongin's dad (OC)
Rate: T
Genre: Romance, Drama, Hurt, Friendship
Length: Chaptered [15/15]
Summary for chap 15:
Keputusan sudah diambil oleh ayah Jongin. Tapi bukan hanya ayah Jongin yang mengambil keputusan. Kyungsoo juga mengambil keputusan akhirnya
NOTE: special for syafakamilla yang request FF KaiSoo :)
Aku disini pinjem nama SOPA cuma sekedar pinjem nama sekolah aja. Tapi untuk urusan teknis tentang SOPA di FF ini 100% merupakan hasil imajinasiku. Jadi barangkali beda sama kenyataannya. Harap maklum
YAOI | CHAPTERED | SCHOOL LIFE | AU | OOC | TYPO | DLDR | NO PLAGIAT
Previous Chapter:
Jongin menoleh pada Kyungsoo sebentar, kemudian kembali menatap ayahnya. "Kuharap appa tidak akan menjodohkanku dengan gadis manapun, karena itu hanya akan membuatku menderita," Jongin mengambil jeda untuk mengumpulkan keberaniannya. "K-karena aku se-sebenarnya...gay."
Ayah Jongin kaget setengah mati, lalu langsung berdiri dari posisi duduknya. "APA KAU BILANG? ULANGI LAGI APA YANG KAU KATAKAN, KIM JONGIN!"
..
LAST CHAPTER! (The Last Decision)
HAPPY READING!
Rasa takut di benak Jongin dan Kyungsoo bertambah besar setelah mendengar bentakan ayah Jongin.
Tapi tekad Jongin untuk mengakui semuanya sudah bulat. Dengan lembut ia menarik tangan Kyungsoo dan mengajaknya berdiri. Ia lalu menatap mata ayahnya yang memancarkan kemarahan dan kekecewaan.
"Aku seorang gay, appa. Dan aku mencintai Do Kyungsoo."
PLAK!
Pengakuan Jongin dihadiahi oleh tamparan telak di pipi kanannya yang masih dihiasi oleh bekas lebam.
Pergerakan ayah Jongin saat mendekati Jongin sangatlah cepat, sehingga seluruh orang yang ada disana sangat terkejut.
Karena tamparan tadi, Jongin refleks melepaskan tangan Kyungsoo, lalu tangan kirinya itu menyentuh pipi kanannya yang tadi ditampar sang ayah.
"KENAPA KAU MENGECEWAKAN AYAHMU, JONGIN? KENAPA?!" ayah Jongin mencengkeram kerah jaket jeans yang dipakai Jongin, dan bersiap untuk melayangkan tamparan keduanya.
Tapi kali ini Kyungsoo bergerak cepat. Dengan segera ia mendorong Jongin sehingga pria itu terduduk di sofa, dan tamparan ayah Jongin akhirnya mendarat di pipi Kyungsoo.
PLAK!
"KYUNGSOO!" Jongin yang melihat adegan di depannya refleks berteriak dan berdiri untuk memeriksa kondisi Kyungsoo.
"Kau membelanya, Jongin?" suara ayah Jongin kembali terdengar, namun dengan suara yang lebih pelan.
Jongin tak mengeluarkan reaksi apapun mendengar pertanyaan ayahnya. Ia merangkul pundak Kyungsoo sembari menundukkan kepalanya.
Kyungsoo sendiri saat ini masih memegangi pipinya yang terasa panas dan perih.
"IA YANG SUDAH MEMBUATMU BERUBAH, JONGIN! IA YANG MEMBAWA PENGARUH BURUK UNTUKMU!"
Ayah Jongin berusaha mendorong Kyungsoo, dan mencoba mengincar wajah Kyungsoo untuk ia pukul, tapi dengan cepat tubuh ayah Jongin ditahan oleh istrinya, dan dengan cepat pula Jongin memeluk erat Kyungsoo. Berusaha melindunginya.
"Ini bukan salah Kyungsoo, appa. Aku yang lebih dulu mencintainya. Justru aku yang memberi pengaruh buruk bagi Kyungsoo!"
Emosi ayah Jongin belum terkontrol, tapi ia memilih diam saat melihat putranya mulai menangis.
"Aku...hiks...aku benar-benar mencintai Kyungsoo, appa. Aku bahagia bersama Kyungsoo," tanpa sadar Jongin semakin mengeratkan pelukannya pada Kyungsoo, dan terus menangis di perpotongan Leher Kyungsoo. Ia tak peduli meskipun kini posisinya jadi membelakangi ayahnya.
Yang ia pedulikan saat ini adalah rasa cintanya pada Kyungsoo. Ia ingin semua orang tahu bahwa perasaannya sangat mendalam dan tidak main-main.
Kyungsoo bisa merasakan kesungguhan hati Jongin. Ia hanya bisa diam dan membalas pelukan Jongin, tanpa peduli bahwa ayah Jongin kini sedang menatapnya tajam.
Ibu Jongin juga bisa merasakan kesungguhan putranya. Selama belasan tahun ia membesarkan Jongin, belum pernah ia melihat putranya memiliki kesungguhan yang sedemikian besarnya.
Sebagai seorang ibu, ibu Jongin merasa sangat wajib untuk menjaga kebahagiaan sang anak. Hasilnya, ia membulatkan tekad untuk berbisik di telinga sang suami. "Aku tahu jika cinta sesama jenis adalah hal yang dilarang oleh hukum dan agama, tapi jika kita melarang Jongin untuk mencintai Kyungsoo, maka sama saja kita melarang Jongin untuk berbahagia."
Ayah Jongin memandang sang istri dalam diam. Ia bisa melihat bahwa istrinya itu sedang menatapnya penuh harap, seolah sedang memohon padanya untuk merestui hubungan Jongin dan Kyungsoo.
Ayah Jongin tentu sangat menyayangi Jongin dan ingin membahagiakan putra semata wayangnya itu.
Tapi apa harus dengan cara seperti ini ia memberikan kebahagiaan untuk Jongin? Apa yang akan dikatakan oleh keluarga besarnya jika mereka tahu bahwa Jongin itu gay? Apa pula yang akan dikatakan oleh rekan-rekan kerjanya jika mereka mengetahui aib itu?
Mana yang harus ayah Jongin pilih? Kebahagiaan Jongin, atau nama baik keluarga?
Pada akhirnya, ayah Jongin harus mengambil sebuah keputusan yang paling bijak.
"Bisakah kalian berhenti berpelukan?" ayah Jongin bersuara dengan nada datar. Jongin dan Kyungsoo dengan pelan melepas pelukan mereka, lalu dengan takut-takut menatap ayah Jongin. Begitu mendapat atensi penuh dari dua pemuda di depannya, ayah Jongin melanjutkan ucapannya. "Aku sudah mengambil keputusan. Aku memutuskan bahwa Jongin harus..."
#Mr. Normal
Di ruang keluarga kediaman keluarga Kim kini hanya terdapat tiga orang saja. Tiga orang itu adalah Jongin, Kyungsoo, dan ibu Jongin.
Beberapa menit yang lalu ayah Jongin meninggalkan ruangan itu. Sebenarnya bukan hanya meninggalkan ruangan itu, namun meninggalkan rumah itu secara keseluruhan.
Tampaknya ayah Jongin masih merasa sangat shock sehingga beliau memutuskan untuk pergi dari rumah dan menenangkan diri. Bagaimanapun juga, beliau sudah mengambil sebuah keputusan, dan beliau meyakini bahwa itu adalah yang terbaik.
Mungkin sudah hampir sepuluh menit ayah Jongin pergi, tapi tiga orang di ruang keluarga itu masih setia bertahan dalam keheningan.
"Jangan terlalu dipikirkan, Jongin..." ibu Jongin akhirnya bersuara. Mungkin sudah tak tahan dengan atmosfer sepi di ruangan itu. "Ayahmu tidak marah padamu, dan nanti ia akan pulang. Ia hanya ingin mendinginkan kepalanya yang tadi sempat memanas. Semua yang terjadi hari ini begitu mengejutkannya."
Jongin diam. Kepalanya tertunduk dalam. Ia seperti menyesal karena sudah membuat sang ayah pusing setengah mati hari ini. Untungnya ayah Jongin tak memiliki riwayat penyakit jantung.
Kyungsoo agaknya juga merasa menyesal dan merasa sedih. Kepala pemuda mungil itu juga tertunduk dalam. Rasanya sedih karena ia sudah membuat ayah Jongin kecewa pada putranya tunggalnya.
Tapi tak ada yang bisa mereka lakukan. Ayah Jongin sudah mengambil keputusan, dan mereka hanya bisa menerimanya dengan besar hati.
"Eomma yakin appa tidak marah padaku?" Jongin akhirnya mengangkat kepalanya dan memberi ibunya satu pertanyaan setelah selama beberapa menit ia hanya diam.
Sang ibu mengulum senyum manis. Putranya itu sudah dewasa, tapi terkadang masih bertingkah layaknya anak kecil yang lugu. "Ya. Eomma berani bertaruh bahwa ayahmu tak marah padamu," jawabnya. "Kau masih ingat saat dulu usiamu masih 8 tahun, kau pernah tanpa sengaja membakar dokumen penting ayahmu gara-gara kau bermain korek api? Saat itu ayahmu tidak marah padamu, 'kan?"
Jongin mengangguk kecil, tapi ekspresi wajahnya masih terlihat suram. "Tapi kondisi yang sekarang berbeda, eomma. Appa pasti sangat marah padaku sampai-sampai beliau membuat keputusan yang tadi itu."
Kembali ibu Jongin tersenyum tipis, selanjutnya melirik Kyungsoo selama beberapa detik. Beliau tahu bahwa Kyungsoo merasa takut dan serba salah. Keputusan ayah Jongin memang membuat semua orang terkejut.
"Appa-mu membuat keputusan itu justru karena appa-mu sangat menyayangimu, Jongin. Ia ingin yang terbaik untukmu, dan ingin kau bahagia."
Jongin mendengus lemas mendengar ucapan sang ibu. Ia benar-benar takut jika sang ayah membencinya. Jongin sangat menyayangi ayahnya meskipun selama ini ia lebih dekat dengan sang ibu.
Selama ini pula ayah Jongin yang memegang kendali atas Jongin. Tapi bukan berarti Jongin dikekang. Jongin masih memiliki kebebasan, namun ayahnya selalu mengarahkan langkah Jongin supaya ia tak salah melangkah.
"Kyungsoo jadi menginap disini, 'kan? Lebih baik kau antar Kyungsoo ke kamar tamu supaya Kyungsoo bisa beristirahat. Kamar tamu di lantai dua sudah selesai direnovasi. Tapi kalau Kyungsoo ingin tidur di kamar Jongin, eomma tidak masalah."
Ibu Jongin mengerling jahil pada dua pemuda di depannya.
Jongin dan Kyungsoo sama-sama salah tingkah. Ibu Jongin benar-benar tak pernah bosan menggoda mereka.
"Appa akan semakin marah padaku kalau aku tidur dengan Kyungsoo," Jongin berdiri dari sofa yang didudukinya, kemudian sedikit melirik Kyungsoo yang masih duduk di sampingnya. "Ayo aku antar ke kamar tamu."
Kyungsoo tak lantas bergerak. Jujur, ia masih dalam kondisi yang penuh rasa kaget. Keputusan ayah Jongin benar-benar membuat pikiran Kyungsoo blank. Andai saja tadi ia bisa bersuara untuk menolak keputusan itu.
Melihat Kyungsoo tak kunjung bergerak, Jongin dengan lembut meraih pergelangan tangan Kyungsoo, kemudian menarik Kyungsoo untuk berjalan menuju lantai dua.
Ibu Jongin melihat dua pemuda itu dengan tatapan penuh kasih sayang. 'Semoga kalian bisa mendapatkan akhir yang bahagia meskipun jalan yang kalian lewati sangat terjal dan berliku.'
#Mr. Normal
Jongin dan Kyungsoo sudah tiba di kamar tamu lantai dua kediaman keluarga Kim.
Kyungsoo sudah meletakkan ranselnya di atas ranjang, kemudian mengamati kamar itu dengan seksama.
Kamar itu seperti kamar yang masih baru. Jelas terlihat bahwa cat tembok di kamar itu masih baru, dan beberapa furniture disana juga masih baru.
Renovasi total benar-benar dilakukan di kamar itu.
Jongin mendudukkan tubuhnya di atas ranjang, mengamati Kyungsoo yang masih berdiri di samping ranjang.
"Aku minta maaf..." Jongin membuka suara. "Aku tahu bahwa keputusan ayahku sangat mengejutkan, dan itu pasti memberatkanmu. Setelah ayahku pulang, aku akan bicara pada beliau bahwa aku menolak keputusan itu."
Kyungsoo memandang Jongin sendu, selanjutnya ia ikut duduk di atas ranjang, tepat di sebelah Jongin.
Pikiran Kyungsoo melayang. Ia kembali mengingat perkataan ayah Jongin beberapa menit silam.
"Aku memutuskan bahwa Jongin harus..."
Kyungsoo menghela nafas begitu otaknya mengingat kembali perkataan itu. "Keputusan itu juga berat untukmu, Jongin. Aku tahu kau juga tertekan. Tapi sebaiknya jangan dulu menolak keputusan itu di depan ayahmu. Kondisi ayahmu saat ini pasti tidak baik, Jongin."
"Lalu menurutmu aku harus berdiam diri?" tanya Jongin dengan nada yang sarat akan rasa gundah dan putus asa. "Aku harus menerima keputusan ayahku? Aku harus bertunangan? Begitu?"
"Aku memutuskan bahwa Jongin harus bertunangan dengan..."
Kali ini giliran Jongin yang memutar kembali perkataan ayahnya dalam benaknya.
Keputusan itu sungguh tak terduga. Bagaimana bisa ayahnya mengambil keputusan secepat itu? Ayahnya benar-benar tak tahu bagaimana perasaan Jongin yang sebenarnya.
"Untuk sementara, lebih baik kau menerima keputusan itu, Jongin. Jangan semakin membuat ayahmu stress. Itu bisa mengganggu kesehatan beliau."
"Oh ayolah, Kyungsoo!" Jongin tampak frustasi. "Kau tak mungkin membiarkanku menerima keputusan itu, 'kan? Kau akan membantuku untuk menolaknya, 'kan?"
Kyungsoo kini menundukkan kepalanya. Jemarinya saling bertaut di atas pahanya. "Aku hanya tak ingin membuat ayahmu merasa bingung dan tertekan, Jongin," suara Kyungsoo terdengar sangat lemah. "Lagipula, pertunanganmu masih lama, 'kan? Kau baru akan bertunangan setelah kau lulus sekolah. Selama itu, kau bisa mencoba untuk menggagalkan pertunanganmu."
Jongin menatap Kyungsoo tajam. "Bukan pertunangan-ku, tapi pertunangan KITA. Pertunangan Kim Jongin dan Do Kyungsoo! Ini tentang kita, Kyungsoo!"
Wajah Kyungsoo mulai dihiasi rona pink samar. Ia kembali mengingat perkataan ayah Jongin tadi...
"Aku memutuskan bahwa Jongin harus bertunangan dengan Kyungsoo setelah lulus sekolah."
Benar-benar sebuah keputusan yang tak terduga.
Siapa yang tahu jalan pikiran ayah Jongin?
Ayah Jongin ternyata berpikir bahwa semuanya sudah terlanjur terjadi, dan tak bisa diubah lagi. Jongin sudah terlanjur menyimpang, dan itu tak bisa diubah lagi.
Lagipula, penyimpangan Jongin itu ternyata merupakan kebahagiaan Jongin. Jadi tak ada alasan bagi ayah Jongin untuk menghancurkan kebahagiaan sang putra.
Ayah Jongin tahu bahwa jalan yang harus ditempuh oleh putranya dan Kyungsoo tak akan mudah. Akan ada banyak rintangan yang menghadang mereka. Akan ada banyak pihak yang menentang hubungan mereka dan berusaha memisahkan mereka.
Dan ayah Jongin yakin bahwa perpisahan itu hanya akan menghancurkan Jongin. Menghancurkan kebahagiaan Jongin.
Oleh karena itu, ayah Jongin membuat sebuah keputusan yang mengejutkan.
Pertunangan. Sebuah kata yang menggambarkan kesungguhan dan ikatan. Sebuah kata yang mendeskripsikan keseriusan dan kebersamaan hakiki.
Ayah Jongin berharap agar sepasang cincin bisa menjadi pengikat cinta Jongin dan Kyungsoo. Beliau berharap agar cincin itu senantiasa mengikat kebahagiaan putranya.
Karena ayah Jongin yakin bahwa kebahagiaan putranya ada pada seorang Do Kyungsoo.
Pertunangan adalah benteng pertama yang ingin ia bangun guna melindungi kebahagiaan putranya. Apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan Jongin.
Tapi agaknya Jongin tak menerima dengan senang hati satu keputusan ayahnya itu.
"Aku tentu akan senang bertunangan denganmu jika kau bersedia membalas cintaku, Kyungsoo. Tapi kau tidak mencintaiku, 'kan? Itu artinya, pertunangan itu hanya akan menyiksa kita. Aku tak ingin memaksakan cintamu, Kyungsoo. Aku tak ingin membuatmu bersedih."
Jongin memalingkan wajahnya dari Kyungsoo, selanjutnya mendongak menatap langit-langit kamar. Ia menahan air matanya agar tak jatuh membasahi pipi.
Bertunangan dengan Kyungsoo berarti Jongin bisa memiliki Kyungsoo. Seharusnya Jongin bahagia dengan hal itu.
Tapi pikiran Jongin tidak sesempit itu. Ia tak ingin hanya memiliki raga Kyungsoo dalam jangkauan peluknya, tapi ia ingin memiliki hati Kyungsoo dalam jangkauan cintanya.
Ia tak ingin memiliki Kyungsoo dengan cara bertunangan seperti itu, karena pertunangan itu tak ubahnya sarat akan unsur paksaan. Ia tahu jika suatu paksaan hanya akan menyiksa batin Kyungsoo.
Jongin ingin Kyungsoo bahagia. Dan jika Kyungsoo tak bisa bahagia saat bersama Jongin, maka lebih baik ia merelakan Kyungsoo pergi.
Itulah prinsip seorang Kim Jongin.
Setelah lama dilanda keheningan, Jongin akhirnya kembali menghadapkan wajahnya ke arah Kyungsoo. Ia tatap wajah Kyungsoo yang tertunduk lesu.
Jongin mengangkat dua tangannya, kemudian menggunakan tangan itu untuk membingkai wajah Kyungsoo.
Kyungsoo terpaksa mengangkat kepalanya dan menatap Jongin. Jongin juga sedang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Tapi dibalik bingkai bening air mata, mata Jongin memancarkan ketulusan dan rasa cinta yang mendalam. Hal itu membuat jantung Kyungsoo berdebar.
"Aku berjanji tidak akan membuatmu terikat denganku jika kau tidak menginginkan hal itu. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk bicara dengan ayahku," suara Jongin terdengar sangat lembut.
Jika suara Jongin itu dapat divisualisasikan, maka mungkin akan muncul sederetan permen kapas dari mulut Jongin.
Suara itu sungguh lembut dan sarat akan rasa pengertian.
Beruntungnya seorang Do Kyungsoo karena dicintai oleh pria seperti Kim Jongin.
Sayangnya, Kyungsoo belum sepenuhnya menyadari bahwa dirinya beruntung. Ia masih bimbang dengan perasaannya sendiri.
"Aku mencintaimu dan ingin kau selalu bahagia, Kyungsoo. Apapun akan aku lakukan asal kau bahagia." Cup~ Jongin mengakhiri kalimatnya dengan sebuah kecupan penuh sayang di dahi Kyungsoo.
Jongin mengecup dahi Kyungsoo lama. Berusaha menyampaikan seluruh rasa cintanya melalui sebuah kecupan sederhana.
Kyungsoo tampak tak menolak kecupan Jongin. Pria Do itu bahkan kini memejamkan matanya, seolah meresapi kehangatan kecupan Jongin di dahinya.
Sungguh, hati Kyungsoo rasanya menghangat berkat perlakuan Jongin.
Jongin yang selalu mencintainya...
Jongin yang selalu mementingkan kebahagiaannya...
Jongin yang rela berkorban demi dirinya...
Mengapa ia tak kunjung bisa memantapkan hatinya dan menerima cinta Jongin?
#Mr. Normal
Langit malam yang hitam tampak menggantung di atas Kota Seoul.
Hari Sabtu ini rasanya berjalan cukup cepat. Peran mentari untuk menyinari bumi kini digantikan oleh sang rembulan.
Keluarga Kim sudah selesai makan malam sejak setengah jam yang lalu.
Tapi situasi makan malam hari ini terasa berbeda karena sang kepala keluarga tak turut bergabung dalam acara itu.
Jadilah tadi hanya Jongin, Kyungsoo, dan ibu Jongin yang makan malam bersama.
Ayah Jongin belum pulang sampai saat ini. Ibu Jongin mengatakan bahwa suaminya sedang berada di rumah kakaknya yang sama-sama berada di Seoul, dan mungkin tengah malam nanti ayah Jongin baru pulang.
Meskipun ayah Jongin sudah membuat keputusan, namun rupaya pria berusia setengah abad itu masih enggan untuk pulang.
Berulang kali ibu Jongin menenangkan Jongin dan Kyungsoo yang tampak khawatir. Beliau yakin suaminya baik-baik saja dan nanti akan pulang.
Tapi Kyungsoo tetap terlihat tak tenang malam ini.
Pria bermata bulat itu saat ini sedang merenung sendirian di kamar tamu rumah Jongin.
Kyungsoo sedang berpikir keras. Mungkin masalah ayah Jongin bukan satu-satunya hal yang mengusik pikirannya saat ini.
Faktanya, Kyungsoo malam ini lebih memikirkan perihal perasaannya.
Hari ini ia dengan jelas melihat kesungguhan hati Jongin. Ia tahu bahwa Jongin benar-benar mencintainya dengan tulus.
Kyungsoo juga tahu bahwa ia merasa nyaman dengan Jongin, tapi ia tak tahu sejauh mana rasa nyaman itu singgah di hatinya.
Apakah ia merasa nyaman karena Jongin adalah temannya, atau ia menganggap Jongin lebih dari itu. Ia benar-benar belum tahu.
Ia juga belum tahu arti debaran di dadanya setiap kali ia berdekatan dengan Jongin. Apakah debaran itu membawa perasaan cinta? Apakah debaran itu melunturkan segenap kenormalan Kyungsoo?
Kyungsoo masih belum yakin. Jika sebelum-sebelumnya ia selalu membantah keanehan hatinya, maka malam ini ia tak melakukannya.
Malam ini ia tak membantah, tapi ia lebih memilih untuk mencoba memahami hatinya.
Kyungsoo menghela nafas kasar. Bayangan wajah Jongin terus menerus muncul di benaknya. Kyungsoo terus mengingat senyum Jongin, suara Jongin, tatapan mata Jongin, juga kecupan Jongin.
Hal terakhir yang ia ingat itu membuat dada Kyungsoo semakin berdebar. Kecupan Jongin. Kecupan Jongin bahkan rasanya masih membekas di dahi Kyungsoo.
Ah! Kyungsoo sudah gila! Bahkan di dalam hatinya ia terus mengagumi ketampanan Jongin.
Ia terus mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia menganggap pria lain tampan? Dirinya sendiri saja juga tergolong tampan.
Bagaimana mungkin Kyungsoo mengagumi pria yang jelas-jelas bagian tubuhnya sama dengannya? Apa penyakit abnormal Jongin menular padanya?
Kyungsoo menggeleng cepat, kemudian bangkit dari ranjangnya. Ia menoleh ke arah jam dinding, dan ia baru sadar bahwa malam sudah mulai laut. Sepertinya tadi ia terlalu lama merenung.
Kaki Kyungsoo tiba-tiba bergerak. Langkah kaki itu membawa si pemilik kaki untuk keluar dari kamar. Antara sadar dan tidak sadar, Kyungsoo hanya mengikuti gerak kakinya.
Kyungsoo berjalan menjauhi kamar tamu tempatnya menginap, lalu berhenti di depan sebuah pintu kamar lain yang letaknya tak jauh dari kamar tamu.
Kyungsoo menghela nafas sebentar, lalu memutuskan untuk menyentuh handle pintu di depannya. Ia tahu itu pintu kamar siapa, tapi ia tak mau susah-susah mengetuk pintu itu.
Ia ingin langsung masuk saja walaupun ia tahu itu tak sopan.
Kepala Kyungsoo masuk lebih dulu setelah pintu sedikit terbuka untuk memantau keadaan. Kamar itu cukup gelap karena hanya diterangi oleh lampu tidur yang ada di atas meja nakas.
Tapi Kyungsoo tetap bisa melihat sosok Kim Jongin terbaring damai di atas ranjang.
Kyungsoo memutuskan untuk berjalan pelan mendekati ranjang Jongin.
Begitu ia sampai tepat di samping ranjang Jongin, Kyungsoo mengamati Jongin dengan intens.
Jongin bernafas dengan teratur, dan tubuhnya yang dibalut oleh selimut pun terlihat tenang. Pria itu tampaknya sudah larut dalam alam mimpinya. Tak dapat dipungkiri bahwa hari ini merupakan hari yang berat untuk Jongin, dan ia layak mendapatkan waktu istirahat.
Kyungsoo akhirnya berjongkok di dekat ranjang Jongin. Ia memperhatikan wajah Jongin. Untung saja Jongin tidur dalam posisi telentang sehingga Kyungsoo mudah mengamati wajahnya.
Tanpa sadar Kyungsoo tersenyum. Ini seperti deja vu. Dulu ia juga sudah pernah mengamati wajah tidur Jongin seperti ini.
Tapi Kyungsoo memang selalu merasakan kedamaian setiap kali memandang wajah tenang Jongin. Rasanya hatinya juga ikut tenang.
Tangan kanan Kyungsoo terulur untuk menggapai dahi Jongin. Ia singkirkan helaian rambut Jongin yang menutupi dahinya.
"Kau membuatku bingung, Jongin," Kyungsoo berbisik lirih. Ia tentu tak ingin membangunkan Jongin. "Awalnya aku membencimu, tapi sekarang aku merasa nyaman bersamamu."
Kyungsoo diam lagi. Mengamati wajah Jongin yang begitu damai.
"Jongin..." kembali Kyungsoo bersuara. "Kau benar-benar mencintaiku? Kau akan selalu di sampingku dan membuatku bahagia?"
Hening. Pertanyaan Kyungsoo hanya dijawab dengan hembusan nafas yang teratur oleh Jongin. Pemuda itu tampaknya tak terusik sedikitpun.
Kyungsoo menghela nafas berat, selanjutnya sedikit mengangkat tubuhnya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Jongin, dan...Cup~ satu kecupan mendarat sempurna di dahi Jongin. "Beri aku waktu, Jongin. Aku masih harus meyakinkan hatiku."
Setelah beberapa detik kembali memandangi wajah Jongin, Kyungsoo akhirnya bangkit berdiri.
Ia tersenyum kecil, kemudian beranjak keluar dari kamar Jongin.
Pintu kamar Jongin akhirnya kembali tertutup, dan saat itulah mata Jongin terbuka. Ia ternyata hanya berpura-pura tidur, dan ia mendengar semua perkataan Kyungsoo tadi.
Jongin memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan nanar. 'Aku akan menunggumu, Kyungsoo. Aku akan membuatmu yakin pada perasaanmu.'
#Mr. Normal
Hari Minggu yang cerah akhirnya menyapa. Hari Sabtu yang suram dan melelahkan kini sudah menjadi masa lalu.
Semua orang berharap agar hari ini menjadi hari yang lebih baik daripada kemarin.
Pagi ini keluarga Kim berada dalam formasi yang lengkap. Ayah Jongin, ibu Jongin, dan Jongin sedang berkumpul di ruang makan, bersiap untuk sarapan.
Disana juga masih ada Kyungsoo yang duduk di samping Jongin. Kyungsoo hanya duduk dalam diam, karena di tempat itu juga tak ada orang yang bersuara.
Suasana canggung benar-benar menyelimuti karena kali ini sang kepala keluarga Kim berada di tempat itu. Ayah Jongin benar-benar pulang tengah malam tadi.
Satu persatu penghuni ruang makan akhirnya mulai mengambil lauk dan nasi setelah ibu Jongin bicara sebentar. Hanya mengatakan bahwa sekarang waktunya makan. Tidak lebih dari itu.
Jongin, ayahnya, dan juga ibunya sudah menggerakkan tangan untuk mengisi piring mereka dengan nasi dan lauk, tetapi Kyungsoo tak bergerak sedikitpun.
Diam-nya Kyungsoo rupanya mengundang perhatian. Jongin, ayahnya, dan ibunya menghentikan gerakan mereka. Ayah Jongin bahkan kini menatap Kyungsoo intens.
Hal itu tak pelak membuat Kyungsoo salah tingkah dan memilih untuk menundukkan kepalanya. Ia benar-benar merasa takut pada ayah Jongin.
"Kyungsoo..." suara panggilan membuat Kyungsoo terlonjak kaget. Apalagi Kyungsoo tahu bahwa pemilik suara itu adalah ayah Jongin. Kyungsoo terpaksa mengangkat kepalanya untuk menatap ayah Jongin.
Ayah Jongin sejenak diam. Masih dalam posisinya yang terus menatap Kyungsoo.
Tak lama kemudian, helaan nafas ayah Jongin terdengar. Pria dewasa itu kemudian berdiri, dan berjalan mendekati Kyungsoo.
Begitu sampai di samping Kyungsoo, ayah Jongin meraih piring Kyungsoo yang masih kosong, selanjutnya mengisi piring itu dengan nasi dan lauk.
Tak pelak hal itu membuat mata Kyungsoo membulat. Jongin juga tampak terkejut melihat pemandangan di depannya. Sementara ibu Jongin justru tersenyum santai.
"Kau harus makan yang banyak supaya tetap sehat dan bisa menjaga Jongin. Jongin itu sangat manja, dan kemanjaannya itu bisa menguras tenagamu," ucap ayah Jongin pada Kyungsoo.
Kepala keluarga Kim itu kemudian kembali ke tempat duduknya setelah selesai bicara.
Kyungsoo masih diam. Perlakuan ayah Jongin tadi membuatnya merasa...diterima.
Kyungsoo merasa hatinya berbunga karena mendapat perlakuan baik dari ayah Jongin. Meskipun kemarin pipinya sempat panas akibat tamparan ayah Jongin, tapi sekarang ia tampak senang karena hati ayah Jongin sudah luluh.
Kyungsoo tiba-tiba berjengit kaget karena sebelah tangannya yang ia letakkan di atas pahanya kini sudah berada dalam genggaman Jongin.
Kyungsoo menoleh pada Jongin, tapi pemuda yang menggenggam tangannya itu malah makan dengan tenang menggunakan tangan kanannya yang bebas.
Walaupun Jongin tak berkata apapun, tapi Kyungsoo tahu bahwa sebenarnya Jongin sedang berusaha menenangkannya.
Dan itu berhasil. Rasa takut di hati Kyungsoo lenyap, dan kini ia bisa tersenyum lega.
"Jongin itu sangat plin-plan sebenarnya," suara ayah Jongin kembali terdengar. Membuat Kyungsoo mengarahkan pandangannya pada ayah Jongin. "Tapi kemarin aku melihat kesungguhan Jongin. Aku kemarin sampai hampir tak mengenali putraku sendiri karena kemarin Jongin tampak jauh lebih dewasa dan bersungguh-sungguh. Jongin sudah menentukan pilihannya, dan aku menerimanya."
Mata Kyungsoo mulai berkaca-kaca. Meskipun ayah Jongin tak mampu mengekspresikan perasaannya dengan baik, tapi Kyungsoo bisa merasakan kasih sayang ayah Jongin kepada Jongin.
Ia jadi merindukan keluarganya, tapi sayang ia tak lagi memiliki keluarga yang harmonis.
"Maafkan aku karena kemarin aku berkata hal yang buruk padamu, Kyungsoo. Tapi aku sadar bahwa kau sudah memberikan pengaruh baik untuk Jongin. Kau...masih mau menganggapku sebagai appa-mu, 'kan? Appa bangga memiliki putra sepertimu."
Air mata Kyungsoo akhirnya menetes. Ayah Jongin tersenyum padanya, dan hati Kyungsoo yang hampa rasanya seperti terisi penuh.
Sosok ayah. Sosok ayah yang ia impikan seperti hadir di hadapannya.
"Y-ya, a-appa. Te-terimakasih banyak karena sudah bersedia menjadi ayahku," Kyungsoo akhirnya menjawab pertanyaan ayah Jongin di tengah air matanya yang terus meleleh.
Lengkap. Kyungsoo kini merasa lengkap. Ia memiliki ibu Jongin sebagai ibunya, juga memiliki ayah Jongin sebagai ayahnya.
Dan, ia pun memiliki Jongin sebagai...
Sosok special.
#Mr. Normal
Jongin dan Kyungsoo kembali ke asrama saat hari beranjak sore. Sepasang rekan sekamar itu menghela nafas lega begitu mereka sampai di kamar nomor 42.
Hari yang berat telah terlewati, dan kini mereka siap untuk menatap hari baru. Walaupun sebenarnya sepasang remaja itu masih memikirkan masalah keputusan ayah Jongin. Hal itu sangat penting dan tentu tak bisa diabaikan begitu saja.
Kyungsoo memutuskan untuk langsung mandi karena ia merasa gerah. Cuaca hari ini cukup membuatnya berkeringat.
Pemuda mungil itu membuka lemari untuk mengambil pakaian ganti, selanjutnya meraih handuk dan masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.
Jongin sedari tadi memperhatikan pergerakan Kyungsoo. Begitu ia yakin bahwa Kyungsoo sudah benar-benar berada di kamar mandi dan mulai mandi, Jongin akhirnya berjalan mengendap menuju jaket jeans yang tadi dipakainya.
Ia meraih jaket yang tadi digantungnya di balik pintu kamar, selanjutnya mengambil sesuatu dari saku jaket itu.
Sticky notes. Jongin meraih satu set sticky notes berwarna kuning dari saku jaketnya. Sepertinya beberapa lembar sticky notes sudah dibubuhi tulisan tangan oleh Jongin.
Selain mengambil sticky notes, Jongin juga mengambil amplop kecil berwarna biru muda dari tempat yang sama. Sepertinya di dalam amplop itu terdapat kertas yang dilipat rapi karena amplop itu tampak sedikit tebal.
Begitu dua benda itu sudah ada di tanganya, Jongin bergegas melakukan aksinya. Ia menempel tiga lembar sticky notes di tiga tempat yang berbeda di dalam kamar itu, selanjutnya meletakkan amplop biru muda miliknya di sebuah tempat yang agak tersembunyi.
Begitu ia yakin bahwa pekerjaannya selesai dengan baik, Jongin kembali meraih jaketnya, lalu memakainya.
Pemuda tan itu kemudian berjalan menuju pintu kamar mandi, lalu mengetuknya. "Kyungsoo..." panggilnya begitu ia selesai mengetuk pintu. Kyungsoo hanya menyahut sekilas, kemudian Jongin kembali bicara. "Aku akan pergi sebentar. Kau tidak apa-apa 'kan kalau aku tinggal dulu?"
"Memangnya kau mau kemana, Jongin? Matahari bahkan sudah hampir terbenam, kan?" suara Kyungsoo terdengar sayup-sayup di dalam kamar mandi.
"Aku hanya pergi sebentar. Aku tinggal dulu ya, Kyungsoo?"
Tanpa perlu mendengar balasan ucapan Kyungsoo, Jongin akhirnya berlari kecil untuk keluar kamar. Entah mau pergi kemana pria tampan itu.
Sepuluh menit berlalu sejak kepergian Jongin, dan Kyungsoo akhirnya keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan celana pendek tanpa atasan.
Sebenarnya Kyungsoo tadi lupa tidak membawa kaos bersih yang seharusnya ia gunakan setelah mandi. Rencananya ia ingin meminta tolong pada Jongin untuk mengambilkan kaos di lemarinya, tapi ternyata Jongin justru pergi.
Terpaksa Kyungsoo keluar kamar mandi dalam keadaan topless. Ia sempat celingukan untuk memantau kondisi kamar, dan untungnya Jongin benar-benar tak ada di kamar itu.
Kyungsoo selanjutnya berjalan menuju lemari pakaian, tapi langkahnya terhenti saat ia melewati cermin besar yang letaknya di samping lemari pakaiannya.
Mata Kyungsoo menyipit mengamati sticky notes berwarna kuning yang tertempel di cermin itu. Akhirnya Kyungsoo mengulurkan tangannya untuk mengambil benda tipis berwarna kuning itu, selanjutnya ia membaca tulisan yang tertera disana...
Awalnya aku merasa takut padanya.
Tapi ia sungguh istimewa karena ia mampu membuatku jatuh cinta.
Kau ingin tahu siapa orang yang kumaksud?
Cukup angkat kepalamu, dan tataplah lurus ke depan. Kau akan langsung bertemu dengan orang yang kucinta.
Kyungsoo menuruti instruksi yang tertulis di sticky notes. Ia mengangkat kepalanya, dan ia langsung melihat wajahnya sendiri yang dipantulkan oleh cermin di depannya.
Kyungsoo seketika merona. Jantungnya berdetak hebat, dan senyumnya terkembang indah di bibirnya. Tanpa perlu berpikirpun Kyungsoo tahu siapa orang yang telah menulis di kertas kuning itu.
Kyungsoo akhirnya meletakkan sticky notes itu di atas meja belajar, selanjutnya beranjak menuju lemari pakaiannya. Tapi lagi-lagi Kyungsoo dikejutkan oleh keberadaan sticky notes yang tertempel di pintu lemarinya.
Kembali Kyungsoo mengambil sticky notes yang ia lihat, kemudian ia membaca hangul yang tertulis rapi disana...
Kau ingin membuka pintu lemari ini?
Andai kau mau membuka pintu hatimu seperti kau membuka pintu lemari ini,
Aku pasti akan langsung masuk ke hatimu dan bersemayam disana selamanya.
Kembali senyum Kyungsoo merekah sempurna. Senyum berbentuk hati itu terkembang cantik di bibir Kyungsoo. Hatinya menghangat membaca tulisan romantis itu. Ia tak berdusta bahwa ia merasa tersentuh karena semuanya terasa begitu manis.
Masih dengan senyum yang bertahan di bibirnya, Kyungsoo akhirnya membuka pintu lemarinya, lalu mengambil satu kaos berwarna abu-abu dari dalam sana. Ia pakai kaos itu, kemudian ia berjalan menuju ranjangnya.
Lagi-lagi Kyungsoo menemukan satu lembar sticky notes, dan kali ini ada di atas bantalnya. Kyungsoo akhirnya mendudukkan dirinya di atas ranjang, kemudian membaca tulisan di atas sticky notes itu tanpa harus mencabut sticky notes itu dari bantal, dan tanpa harus mengangkat bantal itu dari atas kasur.
Jujur, aku iri dengan bantal ini.
Selama ini bantal ini menjadi tempatmu bersandar ketika kau sedih dan gelisah.
Bisakah kau bersandar di pundakku dan membagi keluh kesahmu padaku?
Senyum Kyungsoo kembali terkulum indah. Sungguh. Ia merasa sangat disayangi dan dipedulikan. Meskipun ia hanya membaca tulisan demi tulisan, tapi ia bisa merasakan bahwa si penulis sangat tulus, dan itu menyentuh hatinya.
Kyungsoo akhirnya meraih bantalnya untuk ia peluk, tapi gerakannya terhenti ketika ia mendapati sebuah amplop tersembunyi di balik bantalnya.
Ia mengambil amplop itu, kemudian mengamati amplop itu untuk beberapa saat untuk kemudian membukanya dan mengambil isinya.
Kyungsoo menemukan selembar kertas putih yang terlipat rapi di dalam amplop. Ia akhirnya membuka lipatan kertas itu, lalu ia membaca kata demi kata yang tertulis di kertas itu dengan seksama...
Aku tahu, ada dua keraguan yang menyergap hatimu.
Keraguan pertama adalah tentang diriku.
Kau ragu apakah aku bersungguh-sungguh denganmu, atau aku hanya bermain-main denganmu.
Kau belum bisa sepenuhnya percaya padaku.
Aku sangat tahu hal itu.
Dan keraguan kedua yang singgah di hatimu adalah keraguan tentang dirimu.
Kau tak yakin bagaimana perasaanmu padaku.
Kau selalu menolak dan menyangkal bahwa kau memiliki perasaan yang sama denganku.
Tapi aku ingin bertanya padamu,
Apa kau tersenyum bahagia saat membaca tulisan demi tulisan di kertas kuning kecil yang tadi kau temukan?
Apa kau merasa hatimu menghangat ketika membaca tulisan-tulisan manis di kertas-kertas itu?
Dan, apakah kau merasa jantungmu berdebar hebat saat membaca suratku ini?
Aku tidak ingin memaksamu, Kyungsoo.
Aku ingin kau meyakini perasaanmu sendiri.
Tapi jika kau sudah berhasil menemukan keyakinan itu, aku menunggumu di tempat tertinggi gedung ini.
Di tempat tertinggi ini kau bisa menjadi saksi saat mentari mulai kehilangan cahayanya.
Tapi kuharap, di tempat ini kita justru akan menemukan cahaya baru yang akan menerangi hati kita.
Tak perlu terburu-buru, Kyungsoo. Aku akan menunggumu disini sampai kau sepenuhnya merasa yakin.
Aku mencintaimu, Kyungsoo.
Kyungsoo mematung begitu selesai membaca isi surat itu. Jantungnya berdetak sangat kencang.
Meskipun di dalam surat itu tak tercantum nama maupun inisial, tapi Kyungsoo sangat tahu siapa penulis surat itu.
Kyungsoo berpikir keras. Memang benar apa yang tertulis dalam surat itu. Kyungsoo memang meragu, dan ia tak yakin dengan perasaannya sendiri.
Tapi sebenarnya Kyungsoo sudah berpikir terlalu lama. Kyungsoo sudah menyangkal terlalu lama. Kyungsoo...sudah membiarkan Jongin menunggu terlalu lama.
Kyungsoo tak ingin membuang waktu lebih lama lagi untuk berpikir. Ia sudah membuat keputusan terakhirnya. Semua tulisan yang ia baca sore ini cukup untuk meyakinkan dirinya.
Akhirnya Kyungsoo meletakkan surat yang tadi ia baca, selanjutnya ia berlari keluar kamar.
Tempat tertinggi di gedung ini. Kyungsoo tahu tempat apa yang dimaksud oleh si penulis surat. Meskipun ia belum pernah mendatangi tempat itu, tapi ia tahu jalan yang akan membawanya ke tempat tertinggi di gedung asrama.
Kyungsoo masih terus berlari hingga sampai di lift lantai tiga. Ia memasuki lift, kemudian menekan tombol angka 6 yang ada di dinding lift.
Ting. Pintu lift akhirnya terbuka di lantai 6, tapi perjalanan Kyungsoo belum usai. Ia kembali berlari menuju sebuah tangga. Tangga yang akan membawanya menuju tempat tertinggi di gedung itu.
Kyungsoo masih terus berlari menaiki anak tangga hingga nafasnya terengah. Begitu ia sudah sampai di ujung tangga, ia membuka sebuah pintu besi yang ada disana. Begitu pintu itu terbuka, angin sepoi-sepoi langsung menyapa wajah Kyungsoo. Angin itu cukup untuk menyegarkan wajah Kyungsoo yang berkeringat.
Atap gedung asrama. Sekarang Kyungsoo sudah sampai di tempat tertinggi itu.
Pria bermata besar itu menyapukan pandangannya ke seluruh bagian atap, dan ia menemukan sosok yang ia cari sedang berdiri membelakanginya sambil bersandar di pagar beton yang membatasi sisi atap.
Kyungsoo mengambil nafas panjang sekali lagi. Ia berharap deru nafasnya kembali normal secepatnya.
Setelah deru nafasnya sudah mulai normal, Kyungsoo akhirnya berjalan mendekati sosok pria yang dikenalnya.
"Jongin..." Kyungsoo memanggil si pria yang tak lain dan tak bukan adalah seorang Kim Jongin begitu ia sudah berada di belakang Jongin.
Jongin langsung membalik badannya, dan ia tampak kaget saat melihat kondisi Kyungsoo. "Kau...baru saja berlari?" tanyanya. Kyungsoo mengangguk kecil menjawab pertanyaan itu. "Kau tidak perlu berlari, Kyungsoo. Aku akan selalu menunggumu disini," ucap Jongin lagi.
"Aku sudah terlalu lama membuatmu menunggu, Jongin. Aku tak ingin membuatmu menunggu lagi," Jongin terdiam mendengar perkataan Kyungso. Ia yakin bahwa perkataan Kyungsoo itu masih ada lanjutannya. "Kau benar-benar jahat, Kim Jongin. Kau menularkan penyakitmu padaku, dan aku tak bisa menyembuhkan diriku sendiri."
"Penyakit?" tanya Jongin.
Kyungsoo mengangguk. "Ya. Penyakit abnormal-mu sudah berhasil menginfeksiku, Jongin. Aku sudah tidak normal lagi karena dirimu."
Jongin kembali terdiam layaknya orang bodoh. Ia masih mencoba mencerna ucapan Kyungsoo. "Apa maksudmu, Kyungsoo?" akhirnya ia bertanya dengan ekspresi yang sangat bodoh dan konyol.
Kyungsoo sungguh geram karena Jongin tak kunjung memahami perkataannya. "Aku jatuh cinta padamu, bodoh! Kenapa kau tak paham juga?"
Mata Jongin melebar begitu ia memahami arah pembicaraan Kyungsoo. Senyum Jongin juga terkembang lebar setelahnya. Dengan segera ia melangkahkan kakinya untuk semakin mendekati Kyungsoo, lalu berhenti saat jarak diantara mereka hanya tersisa kurang lebih setengah meter saja. "Kau terlalu banyak bermain kata-kata, Kyungsoo. Dan jika ketidaknormalanku kau anggap sebagai penyakit yang sudah menginfeksimu, maka izinkan aku untuk menyembuhkanmu, Mr. Normal."
Pletak. Kyungsoo menjitak kepala Jongin dengan gemas. "Kalau aku sembuh, berarti aku kembali normal. Dan kalau aku kembali normal, berarti aku akan meninggalkanmu. Kau mau itu terjadi, huh?"
Jongin terkekeh sebentar. "Memangnya apa yang kau tahu tentang normal?" tanya Jongin. Kyungsoo tak kunjung menjawab pertanyaan itu, dan Jongin lanjut bicara. "Secara fisik, manusia normal berarti manusia yang tidak cacat, 'kan? Manusia yang bisa melihat, mendengar, dan berbicara. Dalam urusan cinta, normal juga berarti tidak cacat. Aku melihat wajahmu yang sempurna, dan aku jatuh cinta padamu. Aku mendengar suaramu yang merdu, dan aku jatuh cinta padamu. Dan aku bisa berbicara, sehingga aku bisa mengatakan padamu...I love you, Do Kyungsoo."
Hati Kyungsoo rupanya tersentuh mendengar gombalan Jongin. Bahkan wajahnya merona hebat mendengar kalimat manis yang dirangkai oleh Jongin. Ia baru tahu bahwa Jongin sangat pintar merangkai kata.
Jongin menggerakkan kakinya lagi untuk mendekati Kyungsoo, dan ia langsung mendekap pinggang Kyungsoo erat supaya tubuh mereka saling menempel. "Jadi, kau mengizinkanku untuk selalu berada di sampingmu dan membuatmu bahagia?" tanyanya.
Kyungsoo harus mendongak untuk menatap wajah Jongin. Ia menyelami mata Jongin yang sedang menatapnya lembut. Mata itu dipenuhi oleh rasa cinta, dan itu membuat Kyungsoo tersenyum. "Ya. Aku mengizinkanmu, Kim Jongin."
Hati Jongin saat ini sedang melakukan selebrasi. Akhirnya ia tak ditolak lagi! Akhirnya Kyungsoo menerimanya!
Sungguh kebahagiaan yang dirasakan oleh Jongin tak bisa ditandingi oleh apapun di dunia ini. Rasanya ia jadi tak mempermasalahkan keputusan ayahnya untuk bertunangan dengan Kyungsoo. Bahkan ia tak akan menolak jika detik ini juga ia harus bertunangan dengan Kyungsoo.
Cukup lama dua sosok yang saling mencinta itu berpandangan, dan akhirnya Jongin memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya pada wajah Kyungsoo.
Sudah lama Jongin mengincar bibir Kyungsoo, dan ia tak ingin gagal lagi untuk kali ini.
Kyungsoo mengerti apa yang diinginkan oleh Jongin. Jadilah ia memejamkan matanya, dan ia sedikit berjengit kaget saat bibirnya bersentuhan dengan sesuatu yang basah dan lembab. Bibirnya resmi bersentuhan dengan bibir milik Jongin.
Itu adalah ciuman pertama Jongin, dan bisa dibilang Jongin tak mahir dalam urusan ciuman. Jadi jangan heran jika ciuman Kyungsoo dan Jongin saat ini terkesan sangat polos. Tak ada lumatan disana...tak ada nafsu disana.
Pasangan baru itu masih terus menempelkan bibir mereka bahkan saat sang surya benar-benar kehilangan cahaya.
Harapan Jongin menjadi kenyataan. Ia dan Kyungsoo menemukan cahaya yang akan menerangi hati mereka saat sang surya kehilangan cahayanya.
Dengan bias orange langit senja menjadi saksinya, Jongin dan Kyungsoo sama-sama berjanji untuk selalu bersama dan selalu saling mengasihi untuk selamanya. Semoga perjalanan mereka akan selalu dinaungi oleh cahaya dari Sang Pencipta, meskipun sebenarnya jalan yang dipilih mereka adalah jalan terlarang.
..
..
END
This is the last chapter!
aku bikin last chapternya panjang nih. semoga gak mengecewakan yaa~ aku ngetik last chapternya dadakan. ngejar target biar hari ini selesai soalnya minggu ini ada kerjaan di Malang. hehe.
terimakasih untuk para readers, reviewers, followers, dan semua temen2 yang membaca FF ini baik secara sengaja maupun tidak sengaja. FF ini sangat jauuuuh dari kata sempurna, dan aku minta maaf kalau FF ini gak memuaskan. aku lagi agak sibuk akhir-akhir ini, tapi aku selalu berusaha update tiap hari biar para reader gak kecewa :)
ada beberapa reader yang request FF, tapi mungkin gak bisa aku wujudkan dalam waktu dekat karena abis ini saya sibuk :( mungkin saya absent dari dunia fanfiction untuk beberapa waktu. gak lama kok kayaknya. paling lama satu bulan lah^^
special thanks to all reviewer:
MauliDyo, lailatulmagfiroh16, dokydo91, Hany Kwan, kaysaiko, ohhanneul, 7D, meliarisky7, flowerdyo, DahsyatNyaff, Pororo Kim, beng beng max, VS-125313, Lady SooJong, GotchaCode, wanny, oneheartforsuju, kyungie, meCa, Guest, yesayamei, Huang Zi Lien, rossadilla17, Re-Panda68, Natsuko Kazumi, dee, sjvixx, uffiejung, SognatoreL, me1214, Little Kyung Kyung, BabyWolf Jonginnie'Kim, sluthunkai, raulsungsoo12, meliarisky7, LayChen Love Love 2, dokydo91, Jenny, nikendd88, suhokim5011, GotchaCode, dyopororoo, IchaByun, humaira9394, KyuKyung, Kai aja, Fadilah Annisa, YeolSoo, akslagg, blackwhite1214, takaiyaki, haerinrinchan, nonono, ayusafitri35, me1214, Mrs. Kim, Insooie baby, KaiS, arumfitrinurazizah, leeyeol, guestttt, Kaikai, dyofanz, byunyeolliexo, chekaido, michyeosseo, uniooo, ayp, Iyagimagine, dekaeskajei, kaisoo jjang, cheinnfairy, SuvinaAsantoni, baekhyungurl, kaihun, Brown Kitty, overdokai, Asami Kaiya, Dobaek, HappyHeichou, its me.
maaf kalau ada reviewer yang terlewat :)
jadi, sampai jumpa di FF saya yang selanjutnya (kalau masih ada yang mau berjumpa dgn FF saya. haha). God bless you all :*
