Tae Shimura menderita rabun dekat akut.
.
.
Gorila di Pelupuk Mata
.
.
Disclaimer
Gintama by Gorila-sensei
Semua karakter tercipta dari tangan berbulu sensei
.
Warning
AU
Au… tan (banyak nyamuk dan gombal-gambil receh)
.
.
Maba bernama Tae Shimura itu aneh. Senyum manisnya cukup membuat para mahasiswa pria klepek-klepek, sementara para mahasiswi jomblo lain siaga satu. Tapi singkatnya, hal lain dalam dirinya memacu lebih lagi penyebaran gosip busuk di kalangan fakultas ekonomi Universitas Edo. Hal yang belum teridentifikasi.
"Kamu udah lihat Tae si maba sok cantik itu? Dia kira dia sapa, senyam-senyum ke para ikemen jurusan manajemen, men!" seru yang satu.
"Iya! Senyum murahannya itu diumbar setengah harga! Katanya dia menawarkan jasa tutor! Maba mana yang langsung jadi tutor? Dia pasti bukan cewek baik-baik!" sahut yang lainnya sirik.
"Para mahasiswa penggemar setiaku juga berkurang gara-gara dia. Asli, tuh anak harus dibikin kapok biar ga macem-macem!" Satu lagi tak mau kalah.
Bukannya secara tak langsung mereka mengakui pesona Tae?
Sore itu, sang target pulang sendirian. Persatuan perempuan insecure Univ Edo mencegatnya.
"Hai, Tae! Mau ke mana, kok sendirian?"
Dalam pertanyaan itu terbersit sedikit ejekan.
Sudah setebar pesona itu, masih bisa sendirian juga dia. Pasti ada yang tak beres dengan cewek satu ini.
Lagi-lagi Tae Shimura yang kalem itu tersenyum simpul. Malu-malu dia pun menjawab, "Mau nonton mortar kombat live, nih. Mbak mau ikut?"
Perkataan yang mengirimkan getaran ketakutan ke delapan penjuru. Sangat tak cocok dengan imej manis Tae.
Sebetulnya, itu bukanlah hal yang akan diucapkan rata-rata orang, sih.
"O-oh, nggak kusangka cewek sebersahaja Tae suka menyaksikan kekerasan."
Komentar berbumbu sindiran itu dilontarkan untuk menutupi kepanikan.
Gadis itu menahan tawa lugu.
"Saya kerja sambilan jadi komentator di sana setiap dua minggu."
BURGH!
Preman! Orang yang membocorkan aib sebesar itu tanpa sungkan tentu adalah preman!
"Eh, jangan bilang kamu jago bela diri?" tanya seorang mundur selangkah, yakin Tae memang sengaja mengintimidasi hati wanita mereka yang rapuh.
Begitu ditanya, para mahasiswi jeles itu seakan menemukan kilat ancaman di mata bulat Nona Shimura.
"Kan, almarhum ayah saya pemilik dojo. Sebagai penerus, tentu saya harus menguasai ajaran beliau," ujarnya—senyum bertahan, meluruskan jari-jari, seakan hendak hormat bendera.
Secepat kilat, tangan terayun, berhenti satu mili dari jidat salah satu kakak tingkat.
"Andaikan semua Disney princess belajar seni bela diri, maka omong kosong tentang menunggu diselamatkan pangeran akan sirna. Untuk pemula, pemanasannya ringan, kok. Cukup menimba seratus ember. Eh iya, setelah latian disediakan coklat macademia nut dan teh hijau, lho. Buatan tangan saya. Gimana? Mbak-mbak tertarik bergabung?"
Perempuan yang nyaris tertepok tadi otomatis rebah ke tanah, pantat duluan.
Ma-mafia princess! Batinnya. Hanya tank atau bazooka yang dapat menghentikannya!
"Bagaimana? Tertarik? Saya kasih diskon deh," desak Tae Shimura ala agen asuransi.
Tubuh kakak tingkat yang jatuh itu bergetar hebat.
"Psikopat."
"Eeeh…? Bilang apa?"
"Eh! Nggak-nggak! Bukan apa-apa!" raungnya ngesot mundur.
"Nggak heran kakak tingkat kelas dua B tergila-gila padamu! Kau pasti pakai kekerasan buat memaksa mereka!" sela yang lain, berusaha memberanikan diri.
"Maaf, di dunia nyata, logika shoujo manga seperti itu tidaklah berlaku," balas Nona Shimura dengan senyum manis tak tergoyahkan.
"Apa kau bilang?" jeritnya, menelan penghinaan tanpa bisa membalas apa-apa selain:
"Ngajak berantem? Memangnya cuma kau yang bisa pakai kekerasan?"
"Ho? Saya nggak ingat kapan saya menggunakan kekerasan?"
Tae melirik sang korban yang masih terduduk di atas tanah.
"Selain vantat, ada bagian lain yang sakit, mbak?"
Uluran tangan Tae langsung disalahartikan sebagai ancaman. Serentak, para kating yang lain segera mengeroyok mahasiswa baru tersebut.
"Bisa apa kau sekarang, hah?!" serang yang satu, menjambak rambut ekor kuda Tae.
"Mana jurus rahasia dojo-mu, HAH?!" yang satunya lagi menahan tangan.
Satu demi satu bergabung, bagai pasukan santri hendak mengusir orang kesurupan.
Aneh. Sang korban kurang lebih hanya diam saja, seakan penderitaan itu belum cukup berat.
Bully takkan puas jika buruan belum menangis. Gadis-gadis urakan menjambak lebih keras, mencengkram lebih kuat, bahkan mulai mencakar.
"Siapa yang monster? Maba biasa yang polos, atau kating yang bertindak semena-mena? Bukankah ospek sudah selesai?" kata Tae. Suaranya begitu tenang, meskipun dirinya menahan sakit.
Tetapi pergulatan di senja sepi itu tidak berkesudahan.
"Bah! Kalau numbangin lima cewek lemah aja nggak bisa, mana mau orang masuk dojo bualanmu itu?" raung gadis yang barusan berdiri dan kini menjulang marah.
"Kamu hanya menggertak kami, kan?! Alasan itu sudah sering kudengar! Itu adalah tipu muslihat maba yang sebetulnya lemah!"
"Dasar Ta*!"
Set!
Tiba-tiba tangan Tae muncul entah dari mana dan mencengkeram pergelangan tangan penyerang yang berdiri tepat di hadapannya.
"Hm?" tanyanya.
Oh…
"Kamu memanggilu dengan julukan lain? Coba ulangi."
Gadis-garis garang itu bergidik ngeri menatap bibir melengkung Tae. Harusnya tak ada yang berubah dari senyuman sang maba. Entah mekanisme apa yang memunculkan rasa takut itu.
Akan tetapi, sebelum armagedon tiba, pipi kating penakut disentuh sesuatu dari arah belakang.
Ia menoleh hanya untuk mendapati sebilah pedang kayu.
"Ups, kamu menoleh ke arah yang salah. Jika ini pedang betulan, wajahmu sudah tergores, Nona," ujar seorang pria tinggi berjenggot tipis dan berambut jabrik.
Tambahnya, "Kalau yang menyogokmu pedangku yang lain, beda cerita sih"
Perempuan itu sedikit terhenyak. Bukan karena orang itu tampan atau apa.
"Gori—Pak Kondo."
Kondo Isao, atau Gorila Lepas Kandang Pindah ke Kampus, disingkat Gori.
Ya, orang ini memang terkenal suka membuat joke receh berbau dewasa. Ckckck. Hina memang si oom jabrik.
"Semangat pagi sekali kalian! Saya nggak pernah lihat pemanasan seintens ini selain di klub kendo. Jangan-jangan kalian mau daftar kendo?"
"Be-betul, Pak! Maba ini mau ikut klub kendo."
Pak Kondo bukan dosen tetap. Aslinya, sih, dosen nirmana honorer. Akibat cita-cita menjadi samurai tak kesampaian karena ia lahir di zaman yang salah, Kondo pun menjadi pelatih klub kendo di Universitas Edo.
Kondo yang ngajar kendo. Yep. Seperti mantera, mengingatkan para mahasiswa bahwa humor dalam kehidupan ini bisa ditemukan di mana saja.
"Ho? Kalau gitu sini suruh ke saya. Udah lama klub kendo Kondo gak ada ceweknya. Capek juga lama-lama lihat pedang terus. Muahaha!" tawa anehnya menggelegar.
"Ba-baik, Pak!"
Gyaru united pun menggiring mangsa, berharap lolos dari masalah, sekaligus berharap dosen nyentrik itu melahap musuh mereka bulat-bulat.
"Satu lagi. Kayaknya tadi ada yang panggil dia dengan kata-kata kotor itu?"
Seringai curang terhapus mendengar ancaman di balik pertanyaan yang kesannya sambil lalu.
"Ta-Tae, Pak, bukan Ta*."
"Oh, kirain. Soalnya si dosen bahasa, Pak Zura, biasa langsung kasih nilai D abadi kalau dengar orang salah ucapin nama."
"Padahal Gori pun salah ngucapin namanya Pak Katsura…" bisik yang seorang.
Lelaki itu berkacak pinggang.
"Biar nggak ada yang kepeleset lidah, mulai sekarang dia akan dipanggil Otae. O-ta-e. Repeat after me."
"O-ta-e," ulang para cewek unison. Ah udahlah, biar bisa cepet pulang.
Bukannya berterima kasih, Tae yang dibela oleh Kondo sepertinya justru lebih marah sekarang.
Ditariknya napas panjang sebelum memaki,
"Ngapain kau ngikutin aku lagi, Gorila?! Belum kapok ku-smack down dua kali kemarin?! Atau mau kupelintir jempolmu? Kali ini biar kubikin kau cuti tiga bulan, kayak cuti melahirkan sekalian!"
Betapa dalam teror menguar. Maba itu menggulingkan Gori—dua kali? Memelintir jempolnya dan mengancam mata pencaharian sang dosen? Apanya yang maba polos? Di kehidupan sebelumnya, gadis ini pasti Ratu Iblis!
Namun sebetulnya, yang lebih mengejutkan adalah, sepertinya mereka akrab? Hmm…
.
Gori dan Otae pertama berkenalan di salah satu pertandingan mortar kombat. Itu loh, pertandingan mixed martial arts tempat para bandit dan preman pasar di pinggiran Edo bertanding.
Pada waktu itu, Kondo kalah taruhan. Saat egonya sedang berserakan, yang menemaninya merutuki diri semalaman adalah komentator pertandingannya: Tae Shimura, atau sekarang, Otae.
Mahasiswi ini merangkap sebagai seorang host di dekat arena mortar kombat.
"Pria nggak jelas macam gue nggak mungkin dicintai. Jagoan gue kalah lawan alien begitu, mau di kemanain muka gue," bola salju rutukan yang alay pun menggelinding.
"Lagian yang jegrak bukan cuma rambut, rambut dada gue juga. Huh. Mana bisa cowok kayak gue populer."
"Ngomong apa. Justru manly, dong," ujar Otae sambil menyuguhkan segelas bir kaleng.
"Kalo gitu," kejar Kondo, "kalo pacarnya Otae-san bulu keteknya dadanya macem afro dicat pirang, direbonding, trus dibelah dua, gimana?"
Perempuan tidak bergeming. Kondo semakin tak sabar mendengar tangkisan macam apa yang akan ditujukan padanya.
Dan Otae, dari lubuk hati dijawabnya, "akan kuterima dia apa adanya."
Saat itu juga, di mata Kondo, Otae bagaikan dewi nirwana pemurni segala kelemahan.
"Ja… Ja… Ja… JADILAH ISTRIKUUUUUU!"
Begitu gorila menggenggam, hilang sudah kebebasan makhluk dalam genggamannya itu.
Sejak hari itu, tidak ada kata menyerah. Kondo terus berusaha memenangkan hati Nona Tae Shimura.
Memang benar! Orang yang memberikan julukan Gori adalah seorang pelihat masa depan.
"Otae-san! Menikahlah denganku!"
Benar-benar nggak tahu malu! Anggota klubnya pun dipaksa menyaksikan balada penolakan cinta hampir setiap minggu.
"Kata mama, wanita lebih bahagia dicintai daripada mencintai! Aku akan membahagiakanmu! Aku janji!"
"CEH!"
Dan mahasiswi itu pun melenggang pergi tanpa mengindahkan permintaan Kondo.
Si gorila nyeni itu pun menggambarkan perasaannya ke tanah dengan ranting.
"Ya ampun, ngegambar ta* segala," kata Hijikata Toshiro, mahasiswa tingkat akhir klub kendo Kondo.
"Eh tunggu, itu ta* apa Otae. Oh. Kayaknya bukan cuma jempolnya ngilu. Matanya juga bengkak, nggak kelihatan. Begitulah cinta. membutakan."
"Gue ga nyangka, badan segede badak, jauh di dalamnya komandan kita adalah budak cinta," ujar Sogo Okita, salah satu junior klub kendo Kondo yang memang terkenal ceplas-ceplos.
"Lo benar," kata Kondo, mengangkat ranting dengan sebuah determinasi baru. "Gue nggak akan menyerah ditolak barang sekali dua kali!"
"Udah hampir tiga belas kali woy. Nyadar diri, Pak!" timpal Hijikata lagi. "Nanti matanya yang sebelah kena juga loh!"
"Cowok itu seperti kasur kapuk. Harus digebukin sampai akhirnya bisa ditidurin."
"IH, NGOMONGIN APAAN?!" sela Hijikata menutup kuping Sogo. "Di sini masih ada anak bawah umur!"
"Lho? Bener, kan, kasur kapuk harus digebukin dulu biar enak tidurnya."
"Maksud lo bukan itu kaaan!?" protes Hijikata.
"Itu kok!"
"Kalo kasurnya sarang kutu, mau digebukin sampai kiamat juga gak enak ditidurin!" timpal Okita.
"Sogo~" rengek Gori.
Ah. Senja yang indah.
.
.
.
"Aneue, gimana hari ini? Masih dijahilin?"
Hari itu adik Otae menelepon. Dia adalah anak cowok kelas satu SMA bernama Shinpachi.
"Geng kating jablay itu? Kayaknya sih makin kapok mulai hari ini."
"Aneue! Cewek gak boleh ngomong frontal kayak gitu!"
"Habis, mereka nyebelin. Ufufufu," Otae terkikik.
"Aneue, kalau begitu terus nanti aneue susah menikah."
Otae tertawa mendengar nasihat adiknya.
"Ah, kamu sudah besar, ya! Entah mengapa, di hatiku kamu masih Shinpachi cengeng yang selalu bersembunyi di balik punggungku," gumamnya seorang diri.
Shinpachi tersipu malu.
"Mana bisa jadi anak-anak terus," balasnya. "Suatu saat nanti, aku akan meneruskan dojo Ayah. Saat itu, ganti aku yang akan melindungi aneue."
Senyum Otae melebar.
"Bagaimana sekolahmu, Shin-chan? Bisa ngikutin pelajaran?" tanya sang kakak kemudian.
Tidak ada masalah, tandas seberang. Wali kelasnya memang agak sableng, namun ia masih dapat bersenang-senang.
"Wali kelasmu Gin-san? Dari dulu kan, memang begitu," tanggap Otae.
Perempuan itu menahan senyuman. Kalau saja ada kaca, Otae akan menyadari betapa manis senyumannya kala itu.
Gin-san, atau Gintoki Sakata, dulu adalah tetangga keluarga Shimura. Otae dan Shinpachi dekat dengannya dari kecil, namun akhir-akhir ini yang bersangkutan sering bekerja di luar kota.
Sebagai sosok yang terkenal serba bisa, pekerjaan yang dia jalani selalu berubah setiap saat. Dulu dia jadi akuntan kantoran. Karena bosan, pria itu belajar programming kemudian sempat berkecimpung di bidang IT, dan sekarang, seperti yang sudah dibahas, mengajar sebagai guru SMA di sekolah Shinpachi.
Sang adik berapi-api menjelaskan kebiasaan pachinko gurunya.
Lagi-lagi Otae terbahak, dan untuk ke dua kalinya berkata: memang begitu orangnya.
"Gimana dengan Dosen itu? Kalau tak salah, namanya Kondo-san? Masih ngejar-ngejar?"
Kali ini suara Shinpachi tidak begitu khawatir. Jangan remehkan! Anak pemilik dojo tidak mungkin ditaklukkan begitu saja.
"Dia hewan buas. Dirantai pun kayaknya nggak bakal menyerah," jelas kakaknya. "Tapi jangan khawatir. Akan kupastikan dia menikah sama yang satu spesies. Shin-chan, sampai ketemu nanti ya! Belajar yang rajin!"
Mereka berbincang sejenak, sebelum menutup telepon.
Selepas kuliah, Otae mandi, lalu bersiap keluar lagi. Malam itu dia akan bertemu dengan adiknya di suatu restoran.
Sebetulnya, sudah tiga tahun mereka hidup terpisah dikarenakan orangtua mereka bercerai. Saat masih hidup, Otae tinggal bersama ayah mereka, dan Shinpachi dengan ibu tirinya.
Jadi, ibu kandung mereka meninggal melahirkan Shinpachi, kemudian ayahnya menikah lagi.
Jangan salah, keduanya merupakan orangtua yang baik. Hanya, pernikahan ke dua itu tak berjalan selancar yang pertama, hingga semua itu tak dapat dihindari.
"Aneue," di depan restoran, Shinpachi Shimura, seorang remaja berkacamata berpenampilan necis, menyapa. "Seperti biasa, aneue sangat cantik."
Mata perempuan itu terpejam bersama senyum.
"Shin-chan juga cantik."
"Eh? Masa aku malah dibilang cantik?!"
Ia acak rambut adiknya yang manyun. Bocah yang lucu.
Mereka pun makan dan pencuci mulutnya adalah es krim. Bargain dash, kesukaan Otae.
"Aneue, ada berita buruk."
Gadis itu berhenti menyendok.
"Otsu-chan dapat pacar baru?"
Otsu adalah idol favorit yang mampu membuat anak laki-laki itu menaiki roller coaster asmara. Hah, banyak yang halu memang anak SMA zaman sekarang.
"Bukan!" hentak otaku itu, pipi memerah. "Ini serius, aneue."
Otae pun meletakkan alat makan, memasang rupa yang lebih pantas.
"Ibu meninggal kemarin."
Ibu meninggal kemarin.
Ibu meninggal kemarin…
Otae mengolah input.
Ibu meninggal kemarin. Berarti, hari ini, ibu mereka sudah tidak ada di dunia ini.
"Oh."
Ibu meninggal kemarin, berarti hari ini, mereka resmi menjadi yatim piatu.
Hening. Dan terus hening hingga akhirnya Otae mengangkat perangkat makan plastiknya lagi.
"Aku juga ada berita buruk," kata mahasiswi ekonomi tersebut. "Kemarin penagih hutang mendatangiku. Mereka mengancam menyita dojo ayah."
Wajah patirasa absen ekspresi tidak berubah. Ia mengulum sendok, menikmati rasa jeruk karamel. Rasa manis pun menipis, lalu menghilang. Hanya tersisa rasa plastik di lidahnya.
Sementara manusia di seberang hanya menatap lantai, Otae terus mengeduk camilan beku itu.
"Aku sedih," ujar Otae, seperti seorang munafik. "Tapi lihat sisi baiknya: kita bisa tinggal bersama lagi, seperti waktu aku dan Shin-chan masih kecil."
"Bagaimana dengan dojo-nya?"
Sang gadis menelengkan kepala, ragu berbicara.
"Bagaimana dengan dojo kebanggaan Shimura?" desak Shinpachi.
Shimura tertua hanya mengukir sebuah senyuman manis.
"Dojo itu," kata adiknya, "adalah satu-satunya warisan keluarga Shimura! Ayah sampai berhutang banyak untuk mempertahankannya! Aku yakin dia ingin kita meneruskannya, menjaganya!"
"Shin-chan," panggil Otae lembut, "aku tahu itu, oke?"
Adiknya pun bungkam. Ditelusurnya senyuman manis kakak satu-satunya. Senyuman yang cantik, tak tersentuh kepedihan.
"Sekarang, kita urus dulu pemakaman ibu. Setelahnya baru kita bicarakan itu lagi, ya?"
Pada akhirnya Shimura muda pun mengangguk.
Otae mengulum lagi sendok es krim itu. Ah, apa ini? Apakah es krim salted caramel-nya semakin asin oleh luapan duka?
Sebelum kakak beradik kembali berpisah, pertemuan pun disegel janji bahwa sang kakak akan mengatur semua supaya adiknya dapat fokus belajar.
Sesampainya di rumah, Shinpachi tersengut hingga bengkak mata. Otae? Otae menyiapkan undangan lelayu, mengetik nama-nama orang yang ia rasa akan menangis untuk ibunya, sebagai pengganti dirinya yang takkan menyumbang setetes pun.
.
.
.
"Gawat! Bisa-bisa aku terlambat!"
Gadis maba itu berlari-lari kecil sambil mencari kelas. Gara-gara teman kerja sambilannya telat datang, shift Otae molor, dan sekarang ia masih harus mencari ruangan ujian di bagian antah berantah kampus.
Tae Shimura pun bergegas. Dalam pikirannya, ia akan menyelesaikan satu ujian, lalu menghadiri upacara pemakaman ibu tirinya.
Gadis berwajah manis itu melewati halaman kampus di mana kemarin dirinya dikeroyok. Ia masih sedikit kesal gara-gara kemunculan Gori, tapi sekarang tak ada waktu.
Jam istirahat belum selesai, sehingga masih banyak orang berlalu-lalang di sekitar gedung fakultas ekonomi.
"Otae-san,"
Perempuan itu tak menduga sang Gorila Seniman, si dosen nirmana, telah menunggunya. Ia tidak pernah mengambil mata kuliah Kondo namun entah kenapa pria itu seperti dosen pembimbingnya, bertemu secara rutin.
"Turut berduka atas ibumu."
Orang ini, sejauh apa membuntutiku?!
Mata kanan Otae bercahaya geram.
"Kalau nggak berhenti, kau bakal terluka, lho, Gorila Stalker."
Bulu roma Kondo sempat berjoget satu detik.
"Eh, ini kebetulan!"
Kondo menggelar pohon keluarga dan menjelaskan:
"Istrinya abangnya sepupunya kakeknya keponakannya kakak iparnya pamanku adalah kenalan ibumu. Dia menerima sms undangan lelayumu."
Apa?
"Coba kau ulang…"
"Eh… Istrinya… Kakaknya… Sepupunya… Kakeknya… Keponakannya…"
Tiba-tiba, kesadaran Otae pun kembali.
"Aku masih ada ujian!" potongnya, bergegas maju.
"Intinya," ringkas Kondo, "boleh, tidak, aku ikut melayat? Mungkin aku bisa jadi teman perjalanan Otae ke rumah duka. Siapa tahu Otae merasa sepi?"
Urat marah menyembul.
"Kalau kau mau ke rumah duka…"
Tinju mengepal.
"Pergilah sekarang juga!"
Tinju mendarat.
"Amitabha—"
Kondo memegangi perut. Ia sempat melihat cahaya putih.
Untunglah dia masih terbangun di sisi ini.
.
.
.
Bukannya selesai tepat waktu, peserta ujian ekonomi mikro itu memerlukan jam tambahan untuk menyelesaikan soal-soal hitungannya. Pikirannya tidak fokus. Ia terus berusaha mempersiapkan wajah seperti apa yang harus dipasangnya di depan Shinpachi nanti.
Begitu waktunya habis, ia berbenah ke kamar mandi. Kimono hitam yang terlipat rapi ia kenakan tergesa-gesa, bahkan obi hanya melingkar seadanya, hampir jatuh.
"Otae!"
Perempuan tersebut dipanggil tepat saat busnya tiba.
"Naiklah! Cepat!"
Memang Kondo tak tahu menyerah. Dan tak tahu malu. Apa menurutnya, mesin butut zaman prehistoris yang ia kendarai itu bisa bergerak lebih cepat daripada bus?
"Kau hampir terlambat, kan? Adikmu pasti khawatir."
Kondo menyaksikan sosok Otae terhalang bus. Untuk sedetik, rasanya Otae hendak mengabaikannya.
Namun, saat bus bergerak maju, tertinggallah gadis itu, berusaha memungut obi yang terjatuh.
.
.
Obi yang terikat kuat hasil tenaga Kondo Isao memeluk tubuh gadis mungil di depan peti mati.
Itu upacara kecil; tamu undangannya dapat dihitung jari. Hanya saja, di antaranya ada makhluk tak diundang, yang mengundang makhluk-makhluk tak diundang lainnya.
Kondo dan beberapa anggota klubnya berhasil menyusup.
"Dengar, ya, suatu saat Otae akan jadi pacar bos kita! Jadi mulai sekarang, panggil dia anego! Tidak ada lagi Gorilla Woman! Yang pantas menyandang sebutan Gorila cuman Kondo-san!"
Kondo mengamini orasi yang sesungguhnya sedang menghina dirinya.
Ia puas melihat solidaritas anggota klub kendo. Mahasiswa-mahasiswa itu meluangkan waktu di tengah kesibukan masing-masing untuk membawakan karangan bunga, bahkan lebih bermodal daripada bos geng yang bertangan hampa.
Selama upacara, Gori terus mencari celah bagaimana supaya bisa mengobati hati si doi yang berduka. Mata gorila itu tidak lepas dari pisang lezat bernama Tae Shimura.
"Pak Kondo! Lo ngapain melotot mesum gitu, sih! Malu-maluin, dilihatin orang, tahu!"
"Ah, masak? Gue wajar-wajar aja, kok. Kalian-kalian doang kali yang ngeliatin gue?" balas pembina klub kendo tak berpaling. "Wah, dia pakai jepit rambut mawar hitam. Meskipun bersedih, Otae tetap modis."
"Gori-san, kalau mau menaklukkan wanita, sekaranglah waktunya. Waktu hatinya lagi rapuh," saran Sogo, memasang teropong mengawasi gerak-gerik Otae.
Acara pengiriman jenazah pun berakhir. Para pelayat mulai bubar.
Pria berjenggot tipis itu masih menunggu saat tepat untuk menunjukkan belasungkawa secara layak. Ia bahkan memalak salah satu buket bunga anak didiknya.
Sebagai manusia dengan orangtua masih lengkap, ia tidak dapat membayangkan sesedih apa Otae ditinggal bukan dua, tapi tiga orang tua. Tiga orang tua yang baik, menurut catatan sadapannya. Dan perempuan manis itu masih sangat muda.
Ketika dilihatnya Otae kembali sendiri, Kondo pun maju.
Tapi tiba-tiba, langkahnya melambat begitu seorang pria berambut perak mengajak pujaan hati berbicara.
Ketika orang itu menepuk perlahan kepala si jelita, sontak alis Kondo menukik. Siapa dia? Akrab sekali. Teman dekat? Atau saudara jauh? Mereka berdua tidak mirip.
Jangan-jangan mereka itu… Kekasih?
Kondo menggeleng kuat-kuat.
Tidak, tidak. Mereka adalah majikan dan babu, batin Kondo kekeuh.
Tetapi, si Perak lagi-lagi melakukan suatu gestur yang hanya dapat dilakukan orang yang hubungannya dekat: dia melepaskan mawar hitam penghias sanggul Otae.
"Keterlaluan! Bapak-bapak itu berani-beraninya menggoda Otae yang masih belia. Pedosaurus!" ujarnya tanpa berkaca.
Sementara ia merutuk, perbincangan Otae dan si dinosaurus pun selesai.
Setelah orang itu pergi, barulah Kondo masuk mengisi.
"Otae," panggilnya, mengusap belakang leher.
"Oi Gorila, obi ini terlalu ketat, aku sendiri hampir terbang ke nirwana."
Mendengar komplain Otae, pria itu merasa lega. Sepertinya Otae tidak terlalu bersedih.
"Kan, Otae memang datang dari sana," katanya dengan cengiran minta maaf.
Kondo melirik Shinpachi di kejauhan yang wajahnya basah oleh air mata dan ingus.
"Apa Adik Ipar tidak apa-apa?" gurau Kondo, berharap candaannya dapat meringankan beban hati anak muda itu.
"Adik Ipar jidatmu!" Otae menyalak.
Lagi-lagi Kondo Isao hanya dapat tertawa gugup.
Ia pun menyerahkan buket bunga curian dan sekali lagi mengucapkan belasungkawa. Otae menanggapinya sambil lalu, membuatnya heran.
"Anda Kondo-san, ya?"
Pria itu berbalik kepada remaja berkacamata yang gamang.
Ah, anak ini memang adik Otae. Matanya persis Otae.
"Terima kasih telah membimbing aneue," ujar Shinpachi.
"Ah, sudah kewajiban saya sebagai dosen."
Dan calon suami, batin si Jengtip—jenggot tipis—sumringah.
"Saya ingin bertanya. Apakah kelompok teman aneue di kampus semuanya mencintai kekerasan?"
Entah mengapa, menghkawatirkan hal semacam itu membuat Shinpachi kelihatan sedikit lebih dewasa dari umurnya.
"Eh… Tidak juga," kata si komandan klub kendo berhati-hati.
Siapa tahu, Otae merahasiakan profesinya sebagai komentator sebuah ajang cekik mencekik dari adiknya. Jika demikian, tidak perlu membuat kecemasan Shinpachi meroket.
Shimura tertua yang sudah mulai bercengkerama dengan seorang china girl berambut merah tak sengaja melirik padanya. Kondo pun melantangkan suara.
"Otae sudah bergabung dengan klub kendo-ku. Mulai sekarang kami yang akan menjaganya dari bahaya dunia luar."
"Aku dengar aneue digangguin sekelompok gyaru… Memang apa yang mereka lakukan?" sambung Shimura termuda.
"Pemfitnahan massal yang keji," terang Kondo bangga karena telah menyajikan informasi akurat dan terpercaya.
Shinpachi sedikit terlunjak. Seketika itu juga urat kekhawatiran merambati wajahnya.
Waduh.
"Bi-biasalah, para wanita kalau merasa daerah kekuasaannya terancam, memang jadi ganas," Kondo pun ngeles. "Bagaimana, ya, Otae, kan, memang cantik. Dia juga ceria, lucu, kuat, tidak sombong dan rajin bekerja. Biasanya cewek paling menarik jadi buronan nomor satu."
"Buronan?"
Isao, kau bodoh. Bukannya bikin tenang malah makin kisruh.
"Bukan masalah. Sebentar lagi akan kubebaskan kakakmu. Tuduhan itu nggak akan berlaku kalau Otae sudah nggak single lagi. Muhahahha!"
Cling, kacamata Shinpachi berkilat. Bagaimana lagi? Kedengarannya Gori malah memanfaatkan keadaan.
Gara-gara omongannya dari tadi memunculkan kesalahpahaman, Kondo pun merasa, jauh lebih baik berubah jadi gorila dan lari ke hutan.
"Eh. Anu. Uho."
Apa pula 'uho' itu. Apa dia kira berbicara dengan dialek gorila bisa membuat orang lain maklum!
Tep. Tangan bertengger di pundak.
"Kondo-san," ujar Shimura kecil. "Saya tidak tahu harus bilang ke siapa. Dari dulu, aneue memang seperti itu."
"Heh? Dari dulu komentator mortar kombat? Dari dulu buronan? Yang mana, nih?"
"Aneue," sambung Shinpachi menghiraukan balasan un-faedah Gori.
"Aneue…?"
Glek.
Suspense ala telenovela menggetarkan jiwa Kondo.
"Aneue…"
Tiba-tiba, Kondo Isao merasakan suatu cengkeraman kegelapan yang mencekam.
.
"Di belakangmu…" desis Otae.
.
Sensasi sentuhan dan suara yang dingin membuatnya merinding.
"WUAAAAAAAAAA!"
Semua mata yang memaku Kondo dan seakan mengutukinya.
Jika itu bukan upacara pemakaman, Otae sudah tertawa. Ternyata makhluk berbulu satu ini gampang di-bully.
"Otae jahat! Aku kaget, nih!" rengek Kondo pura-pura menangis.
"Dari tadi kau bikin ribut saja! Awas ya, kupanggilkan penangkar hewan!"
Komentar pedas dari Nona Shimura ditanggapi Kondo sambil termewek-mewek. Namun gadis itu tidak memedulikannya dan langsung ngacir begitu saja.
Sementara itu, picingan mata-mata tamu lainnya masih menghujani sang guru seni.
Dicambuki rasa bersalah atas terganggunya kedamaian para pelayat, Kondo menepuk-nepuk pundak seolah berusaha mengusir tuyul. Pasti semua itu salah tuyul, bukan salahnya!
Sampai di mana tadi?
"Eh! Adik Ip—Shin-chan, kenapa masih di situ?"
Makhluk bertampang murung itu masih memperhatikannya. Melihat kekuyuan Shinpachi, pria jabrik itu semakin kasihan.
"Shinpachi-kun, maafkan kelancanganku barusan."
Tep. Tangan berjempol bengkok bertengger di pundak sang pemuda berkacamata.
"Jangan khawatir. Nggak akan kulakukan hal yang dapat membuat Otae menangis."
Shinpachi hanya melengos. Lagipula, apa janji Gorila Stalker tak normal ini masuk hitungan?
Dengan sedih, Shinpachi pun bergumam.
"Yang tidak perlu khawatir adalah Anda, Kondo-san. Aneue tidak pernah menangis."
Eh…
Gori Isao pun segera menyadari, informasi yang disampaikan Shinpachi ini sangat penting.
Laki-laki dewasa itu mendadak serius.
"Katakan alasannya, Shinpachi."
Anak muda itu mengunci mulut.
Kondo-san tak tahan melihat wajah mendung adik ipar di masa depannya itu lebih lama. Akhirnya ia mulai menebak.
"Apakah dengan senyum manisnya itu Otae menutupi masa lalu yang kelam?"
Kondo melihat angkasa. Oh sendunya.
"Ataukah dia berusaha menjadi kuat untuk orang yang disayanginya, yaitu kamu?"
Terakhir, si bujang mengedangkan tangannya ke awan sambil bermonolog, "Jangan-jangan, dia dikutuk tujuh turunan oleh peri jahat sehingga tidak dapat merasakan emosi apapun, sampai dia menemukan cinta sejati? Oh, Otae! Nice backstory!"
Oh tidak, pikir Shinpachi. Ada juga ternyata kesamaan dirinya dengan orang gila ini. keduanya sama-sama main otome game…
Pria sawo matang itu menaikkan tingkat kedramatisannya; menyatukan tangan dalam sebuah doa khusyuk.
"Jika benar demikian, aku rela melepaskannya dari hidup yang begitu memilukan itu!"
Shinpachi memang tidak berkomentar, tapi dalam hatinya, dia malu melihat tingkah lakunya sendiri ketika sedang tak ada orang diperagakan oleh spesies abnormal ini.
Tapi Kondo masih belum selesai. Di atas panggung dadakannya, ia pun mengangkat tinjunya dan berjanji,
"Sudah kuputuskan! Akan kubuat Otae menangis dan jatuh cinta kepadaku!"
Gimana, sih, bola pingpong? Tadi bilang takkan membuat Otae menangis.
Para tamu kembali melempar tatapan menghakimi. Sang dosen menciut.
Sementara Shimura Shinpachi sudah mengangkat ponsel untuk nelpon pawang sirkus, ternyata orang berambut perak tadi memperhatikan deklarasi barusan.
Dengan mata-ikan-matinya, Gintoki Sakata membakar sosok Kondo ke dalam memori.
.
.
.
"Pak Kondo, kenapa latihan sore ini dibatalkan? Wah, apa-apaan nih tumpukan sampah!"
Kepala Hijikata Toshiro menyembul dari balik pintu yang hanya bisa terbuka setengah, disusul oleh Okita Sogo.
"Oooh, Toshi, Sogo! Sini masuk! Gue lagi bikin sesuatu."
Guru seni itu menunjukkan sesuatu.
"Topeng… kecoa?"
"Eh? Mirip kecoa? Bukannya mirip Ksatria Baja Karat?"
Sogo yang adalah wakil tim kendo Kondo itu menggaruk-garuk janggutnya.
"Hmmm… Meski dosen nirmana, ternyata untuk kerajinan 3D, tidak ada bakat."
Si Gori manyun sambil menunjuk-nunjuk jempolnya yang belum juga bener.
"Gue ada kencan sore ini."
Hijikata pun berpikir.
"Terus topeng itu buat apa?" tanyanya. "Biar gua tebak. Lu mau ngestalking Otae dengan menyamar jadi kecoa."
"To-Toshiii! Tudinganmu itu tidak berdasar!" hentak Kondo Isao.
"Tolong jangan keras-keras," bisiknya kemudian tanpa harga diri.
BRAK! Gebrakan Toshi layaknya jaksa profesional.
"Pak! Bapak itu laki-laki! Bapak harus terang-terangan mengakui perasaan, lalu ditolak, seperti biasanya! Bukannya Bapak selalu berlapang dada menerima penolakan demi penolakan? Itulah Kondo-san yang kami kenal! Gorila yang tak punya malu!"
"Benar," timpal Okita. "Mengendap-endap seperti kecoa di balik tong sampah ini sungguh tak berwibawa!"
"Kembalikan Kondo-san kami yang gorila! Buang yang kecoa!"
Slogan yang menghujam hatinya itu membuat Gorila Bucin berlinangan air mata.
"Kalian menghujatku gara-gara latihan sore ini batal, kan?" rintihnya.
"Intinya, sih, seperti itu," aku Sogo tanpa ragu.
Toshi melipat tangan. Ia mendudukkan diri di meja Kondo seperti seorang hakim yang hendak mendakwa.
"Lagian, kenapa harus Otae? Apa Bapak nggak ingat berapa kali dia membuat Pak Kondo hampir masuk rumah sakit? Apa nggak ada cewek lain yang lebih normal? Ngotot banget sih!"
"Apa jangan-jangan, yang Kondo-san rasakan itu adalah rasa kasihan, bukan cinta?" sambung Sogo setajam silet. "Dia kan anak yatim."
Bapak Dosen memandangi kedua anak didiknya lama.
"Awalnya, karena dia bak Dewi Kwan Im pemurni semua kelemahan. Otae akan bisa menerima semua kejanggalan gue."
Sogo dan Toshi mundur selangkah mendengar pelatih mereka mengeluarkan jawaban seperti itu dengan rupa serius.
"Tapi, setelah makin lama memperhatikannya dari dekat, gue mulai berpikir," ujar penanggung jawab klub kendo, tersenyum lebar,
"Kalau nanti dia benar-benar senyum, kayaknya cantik juga, ya."
Maksudnya gimana, sih, lu ngerti nggak? Hijikata melirik Okita.
Hanya Dewi Kwan Im yang paham, balas Okita menyatukan tangan.
Emang bener sih dia makhluk janggal.
Namun setidaknya, dua mahasiswa yang lebih fokus ke klub kendo daripada jurusannya itu sama-sama bisa menyimpulkan sesuatu.
"Gimana cara Bapak memperhatikan dari dekat? Bapak udah nyusup ke rumahnya ya?"
"LOH?! Kok malah itunya yang disorot?" protes sang suhu.
Kemudian Gori pun kabur untuk mencegah pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang membahayakan.
.
Setelah menyelesaikan perbincangan, kedua kenshi menuju gimnasium. Mereka disuruh tetap latihan meski tanpa awasan Pak Stalker.
Di sepanjang koridor yang sepi, sang kakak kelas kembali memulai diskusi.
"Gua agak keberatan kalau Pak Kondo ngutamain cewek ini daripada klub kendo."
"Valid. Lu sebagai istri pertama Kondo-san merasa terancam banget ada cewek lain di hati beliau."
Urat marah Hijikata mencuat.
"Bentar lagi kan ada turnamen nasional. Klub kita harus fokus," tanggapnya menganggap lalu omongan Sogo.
"Iya, iya. Mahasiswa bangkotan kayak lu pasti was-was karena belum pernah juara. Pantes lu ga lulus-lulus. Tidak akan lulus sebelum menang. Banzai!"
Urat marah pun beranak pinak.
Untung nih bocah kesayangan Pak Kondo. Kalau ngga udah gue sate.
"Cuma, gue kaget juga alasan dia sebucin itu. Kalau Gori-san bilang doi horny, masih masuk akal," sambung Okita si mahasiswa pirang.
"Gua malah mikir, karena dia udah umur, jangan-jangan emaknya mulai neror supaya cepet kawin," timpal sang kapten. "Dan gue selalu bayangin kalau emaknya Gori-san itu pastilah King Kong-san, jadi gue paham sih kalau doi jiper."
Keduanya terhanyut dalam pikiran masing-masing.
"Cuma lagi-lagi, kenapa harus Otae? Bukanya banyak cewek cantik lain yang lebih penurut dan cinta damai?" celetuk Toshiro.
"Justru kayaknya karena Kondo-san itu maso deh. Inget ga, dulu dia bilang laki-laki itu harus digebukin dulu sebelum di—"
"Ngapain lu inget-ingetin omongan kayak begitu?!" Toshi jadi sewot.
"Dan lagian, emang ada yang beda sih dari cewek satu itu," papar Sogo. "Dia memang kayak menyembunyikan semua perasaannya di balik senyuman."
Mengenali perubahan air muka Sogo, Hijikata Toshiro mengunci mulutnya dan memperhatikan.
"Lu tau lah kecenderungan savior complex Kondo-san. Saking baiknya, seolah-olah penderitaan semua orang jadi tanggung jawab dia. Makanya gue curiga, doi cuma kasihan, bukan sayang."
Toshi mengernyit. Pernyataan Okita memang ada benarnya. Ia pun teringat, hati mulia sang dosen itulah yang menariknya masuk ke dalam klub kendo.
Tapi emang sifat malu-maluin Kondo lebih besar dari kebaikannya, makanya bagian itu sering ketutupan.
Sogo mengendikkan bahu sambil menambahkan, "Yah, bisa jadi juga alasannya karena Otae cantik. Dia disebut-sebut sebagai kembang desa universitas ini," ujarnya sambil lalu.
"Maksud lo, macem venus flytrap," jawab kapten klub sambil lalu juga.
"Lebih ke Rafflesia arnoldii deh. Mangsanya kan segede gaban, mana muat."
"Meski badan segede gentong, entah kenapa Gori tuh lebih kayak nyamuk nyebelin ga sih."
Keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju dojo dengan perdebatan remeh seperti biasa.
.
.
.
Sore itu gerimis.
Pengunjung festival Obon di pusat kota pun kebanyakan berteduh. Para gadis muda banyak yang merasa sudah capek-capek berdandan merasa kecewa usaha mereka terguyur begitu saya.
Menyusuri deretan warung di sepanjang jalanan Kabuki-cho ialah sosok bertopeng mencurigakan. Badan besar membuat pria itu mirip yakuza yang ditugaskan menculik orang. Catatan: ini juga menyebabkan pesta rakyat itu makin sepi.
Ndus, ndus…
"Kayaknya Otae di sana."
Penciuman hewaniah pun menunjukkan suatu arah.
Di tepi jalan, terdapat sebuah teras dengan pergola yang kursi-kursinya diarahkan menghadap sungai.
Itu adalah penghujung musim panas, namun pergola tersebut berhiaskan rentengan bunga ungu yang menjuntai ke bawah.
"Wisteria…" gumam Kondo.
Melalui lubang topengnya, yakuza itu mendapati sosok seorang gadis muda sedang duduk menatap aliran air.
Perempuan berambut gelap itu juga memakai topeng, sehingga Kondo tidak bisa memastikan identitasnya.
"Tapi kalau dilihat dari topologi badannya… sepertinya itu Otae."
Perlahan, pejantan alfa mendekati mangsa. Dan dia berhasil duduk di sebelahnya tanpa dicurigai.
"Nona," ujarnya tak lama berselang. "Di malam seindah ini, mengapa Anda sendirian?"
Tak ada balasan.
Jangan menyerah, Isao! Waktunya gombal-gambil andalanmu bersinar!
"Bunga wisteria," ujarnya. "Seharusnya mereka layu di bulan Juni. Namun sepertinya yang ini mekar untuk yang ke dua."
Gadis itu tetap tidak bergeming.
"Di mata saya, tanaman ini seakan ingin menantang keindahan kembang api yang akan kita saksikan sebentar lagi. Sungguh tampan dan berani, bukan?"
Di balik topeng-topeng itu, mata keduanya terpaku ke sungai yang nyaris kering.
"Anda tahu apa yang menurut saya lebih mengagumkan?"
Perempuan itu masih tidak bergerak, tapi Kondo merasa ia sedikit mencondongkan tubuhnya untuk mendengar lebih dekat.
"Seorang wanita yang bangkit dari duka demi orang-orang yang dicintainya."
Uhuy! Nggak salah kau disebut Raja Gombal!
Koreksi: dia disebut Kain Gombal, tapi ya sudahlah. Biarlah Kondo bahagia.
"Topeng yang Anda kenakan bagus, meski saya yakin Anda jauh lebih cantik tanpanya. Tapi, akhir-akhir ini saya berpikir. Sebetulnya, ada topeng lain yang secara tak disadari sering dipakai. Seseorang yang saya kagumi selalu memakainya. Topeng itu disebut senyuman."
SIIIING…
Mata Kondo menelusur kuncup pertama api di langit.
"Bayangkan Anda bertemu dengan seseorang yang menggabungkan kedua hal ini; seseorang yang menggunakan senyuman untuk menunjukkan keberanian."
DAR DAR DAR DAR!
Bunga cahaya pun meletup-letup, membentuk bulatan-bulatan kecil berwarna-warni.
Sementara itu, Ksatria Baja Karat mengedangkan tangannya menyentuh serenteng bunga ungu. Bunga itu tiba-tiba jatuh ke dalam genggaman dengan sendirinya.
Ah, ternyata memang sudah hampir layu. Tangkainya sudah tidak kuat menahan beratnya.
"Itu seperti bunga wisteria ini. Ia mekar, namun sebenarnya membawa banyak luka."
DAR DAAR DAR DAAAR!
"Nona, apakah Anda juga sedang menyembunyikan luka?"
Hening.
Gue ga yakin dia lagi menangis terharu atau ngacangin gue. Mana stok gombalan udah hampir abis! renung Kondo.
"Malam yang indah, ya."
Hening.
DARDARDARARARARAR!
"Kembang api yang indah…"
DARDARDAAAR!
"Otaeeeeeeeee! Kok aku didiemin!" rengek Gori tak tahan.
Sosok itu pun membuka topengnya.
Kondo Isao membatu sejenak.
"HA?! Kamu—kamu siapa?!"
Sosok itu melepas wig coklat dan mengenakan kacamata.
Kondo Isao mengenali wajah di balik topeng tersebut.
"A-adik Ipar?"
"Boleh nggak jangan panggil aku itu?" protes Shimura Shinpachi.
Kondo mempertanyakan tokoh apa yang diperankan bocah SMA pada malam lembap itu.
"Ternyata kabar bahwa aneue dibuntuti itu benar."
Si Jengtip menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Dalam situasi lain, Anda sudah dilaporkan ke polisi, loh, Kondo-san."
Mau tak mau, sang stalker pun tertawa grogi.
"Kamu ngapain ada di sini, Shinpachi?" mulainya sedikit malu.
"Tentu saja untuk mengalihkan perhatian Gorila Stalker dari aneue."
Kata-kata Shinpachi seakan tersendat dan tidak tuntas.
"Tapi, sekarang saya jadi mengerti kesan Kondo-san tentang aneue. Meskipun gara-gara kembang api, saya nggak dengar separuhnya, sementara separuhnya lagi lebay—"
Menohok!
"Sepertinya, hati Anda tak seburuk itu meski tak tahu adat."
Entahlah air yang menitik di ujung mata sipit Kondo merupakan air mata bahagia atau sedih.
"Kondo-san, ada banyak hal yang membuat aneue seperti itu…" mulai Shinpachi lagi.
"Sebelum umurnya genap delapan belas tahun, aneue kehilangan tiga orang tua, dan sepanjang delapan belas tahun tersebut, kami menghadapi masalah-masalah keuangan. Mungkin Anda ingat betapa sedikit orang yang menghadiri pemakaman ibu tiri kami kapan hari. Menurut saya, itu karena banyak kerabat kami menghindar dari kemungkinan dimintai uang.
"Karena tidak ada orang dewasa lain yang bisa diharapkan, dari usia belia aneue terpaksa bekerja keras."
DARDARDAR!
Kembang api di angkasa kembali meluncur. Akan tetapi, di telinga Kondo, bunyinya begitu sumbang dan mengganggu.
"Tidak banyak orang mau berteman dengan orang miskin. Itulah mengapa aneue berusaha untuk tidak bergantung kepada orang lain. Meskipun saya yakin, sekarang aneue sudah benar-benar tertempa dan jadi kuat… Tapi sayangnya, yang paling memojokkannya sehingga jadi seperti itu… adalah saya…" lanjut Shimura muda tanpa berani melihat rupa Pak Dosen.
Pertunjukan kembang api itu mulai surut.
Tak lama berselang, rintik hujan terdengar kembali.
"Shinpachi, jangan biasakan diri berbicara seperti itu," celetuk yakuza yang tak tahan berdiam lama-lama. "Otae akan sedih mendengarnya."
"Saya sering berandai-andai. Jika saya tidak ada, mungkin aneue bisa hidup seperti gadis pada umumnya. Memiliki waktu luang untuk hobi, membeli barang-barang yang diinginkan, dan berkencan dengan orang yang disukai."
"Shinpachi, aku saja sedih mendengarmu," ujar pria jangkung itu. "Lagipula, bukannya jadi komentator mortar kombat itu hobinya?"
"Iya, sih," gumam Shinpachi sedikit tak rela.
"Makanya, tolong berhenti menyalahkan diri sendiri. Aku yakin tak ada yang lebih Otae inginkan selain melihatmu tersenyum."
Anak laki-laki itu mengikuti saran Kondo, meski senyumannya lemah.
Mata pelatih kendo itu melebar.
Mirip! batin Kondo.
"Shinpachi, jika ini membuatmu lebih tenang, kamu dan Otae bisa mengandalkan aku," ujar pria jabrik itu akhirnya.
"Aku memang belum sedapatdiandalkan itu, tapi… untuk bidadari yang ingin kunikahi, akan kulakukan apapun!"
Si Kain Gombal satu ini…
"Kondo-san, sebetulnya aneue sudah punya orang yang disukai."
GROG!
Rontok sudah separuh hati Kondo Isao.
"Ka—kamu hobi sekali menikam hatiku, Shinpachi."
Ternyata kakak beradik memang setipe.
"Tadinya saya diberi misi mengalihkan perhatian Anda, tapi biarlah kali ini…"
.
Kondo dan Shinpachi menunggu di balik suatu pohon.
"Otae akan muncul di tempat begini, Shinpachi?"
"Iya, mereka berdua selalu ketemu di sini."
Mereka berdua. Siapakah gerangan? Mendengarnya, mellow lah hati Kondo Isao.
Muncullah sosok yang dinantikan. Otae.
"O-Otae!" seru Kondo. "Dia basah kuyup!"
Shinpachi menahannya.
"Kalau Kondo-san ingin tahu siapa yang disukai aneue, bersabarlah sebentar lagi."
Menit demi menit berlalu. Tak terasa sudah hampir lima belas menit jam. Seiring berlalunya waktu, hujan menjadi semakin deras.
Sementara Otae bolak-balik melihat jam tangan, Isao membatin dalam hatinya. Orang macam apa yang membiarkan seorang gadis basah kuyup di tengah hujan.
Tunggu. Lebih tepatnya, demi orang seperti apakah Otae rela menunggu di bawah hujan.
Pasti dia betul-betul menyukainya, batinnya.
Dan akhirnya, tibalah sosok yang membuatnya penasaran.
Separuh diri Kondo terkaget-kaget. Separuhnya lagi, sudah menduga.
"Pedofilus predatorus!" raungnya sedikit terlalu keras.
Syukurlah Shinpachi langsung menjebloskan dirinya ke dalam sesemakan.
Ya, insting Kondo lagi-lagi benar!
"Paman itukah yang disukai Otae?" tanyanya.
"Kalau dia paman, kau oomnya paman!" desis Shinpachi sengit.
"Gu-gue baru dua delapan…"
"Muka Anda boros," sisip Shinpachi.
Pria tegap berambut perak itu segera memayungi Otae dengan sebatang payung vinil yang dibeli di mini market.
Keduanya berbincang di bawahnya, seakan dunia milik berdua.
"Jarak mereka terlalu dekat! Ini tidak bisa dipertontonkan kepada anak kecil!" protes Kondo.
"Itulah yang disukai aneue."
"Apa? Ngobrol dengan paman-paman telatan di bawah payung dalam jarak yang meresahkan? Kebiasaan yang aneh."
"Orang itu Gin-san, kenalan kami dari kecil. Dia seperti sosok kakak," jelas si bungsu.
"Heee…"
Firasat Gori aneh.
"Waktu kecil, Gin-san sering datang saat hujan."
"Nongol di saat hujan, kayak kappa saja…"
"Upacara pemakaman ayah dilanda badai. Karena merasa kesempatan terakhir kami untuk menghormati ayah rusak, aneue menangis sejadi-jadinya," lanjut Shin-chan tak menggubris.
"Di saat itulah, Gin-san menenangkan aneue di bawah payung. Aku yakin momen itu selalu dikenang aneue."
Orang seperti apa yang bisa menahan payungnya saat badai? Yah, mengesampingkan hal itu, memang tidak bisa dielak. Romantis banget, sih.
Eh, perasaan apa ini? Perasaan kalah…? batin Kondo.
Ternyata di atas Raja Gombal masih ada Dewa Gombal.
"Terus? Perasaan orang itu gimana ke Otae?"
Shinpachi menelan ludah. Sekejap, ekspresinya kelihatan sedih.
"Dialah yang mendorong supaya aneue tetap kuat. Tapi, meski demikian, saya rasa Gin-san tidak bisa membalas perasaan aneue. Oleh sebab itu, Gin-san jarang menampakkan diri,"
DEG!
Sesuatu yang panas membakar dada Kondo Isao.
"Supaya aneue belajar tidak terlalu mengandalkan orang lain."
Tanpa disadari, Gori mengepalkan tangan mendengar penjelasan Shinpachi.
"Apa-apaan itu? Tidak apa-apa, kan, mengandalkan orang lain?" geramnya.
"Anda belum menjalani apa yang dialami aneue. Sementara, Gin-san sudah," pungkas Shimura muda.
Tanpa menjelaskan lebih panjang lagi, Shinpachi membiarkan Kondo bertanya-tanya.
Dua sejoli di bawah payung pun tidak berlama-lama.
Gin-san menyerahkan payungnya kepada gadis di hadapannya beserta selembar amplop coklat.
Kondo merasa raut wajah Otae carut marut menerima pemberian itu.
Tersenyum, pria itu pun berbalik.
Namun, baru juga hujan hendak menyentuhnya, Otae menarik lengannya… dan memberikan sebuah kecupan kepada pria bersurai perak itu.
Payung vinil pun tergeletak terbalik. Hujan yang deras pun tertampung memenuhi permukaan cekungnya.
Sementara siraman di musim panas itu terus menggerojok, adegan itu membuat Kondo memalingkan wajah. Ia tak tahu mana yang lebih panas: hatinya atau ciuman itu.
Kondo Isao kembali menengadah setelah sang pria yang beruntung itu menghilang di kegelapan.
Jadi ini pria yang dicintai Otae. Pria yang selalu dinantikan. Dan gue ini apa? Apa gue hanyalah pengganggu hubungan mereka?
Kondo Isao menjadi sangat diam, sehingga Shinpachi pun menyadari perubahan sikapnya.
"Kondo-san?" panggilnya.
"Sumpah. Kayak nonton film bioskop," ujar si janggut tipis yang masih dibakar api cemburu.
"Mereka bagai Bang Roma Irama dan Juleha… Dibandingin itu, gue mah apa atuh? Bocah kemarin sore bagaikan kremesan ayam goreng di bawah toples serundeng."
"Kondo-san, ingat, Anda itu sudah bapak-bapak."
Shinpachi pun mengucapkan salam perpisahan. Akan tetapi, sebelum berpisah, ada satu hal yang disadari si endapan serundeng.
Kali itu, Otae tidak tersenyum.
.
.
.
"Dengan dimulainya semester baru, akan semakin banyak PR kalian. Bapak harap kalian makin rajin, ya!" kata Pak Kondo sebelum membubarkan kelas.
"Pak, kenapa jempolnya bengkak gitu? Gambar Bapak jadi jelek," ungkap seorang muridnya tanpa tedeng aling-aling.
"Oh, ini sariawan karena kebanyakan ngejulid lewat sosmed."
"Jempolnya?"
"Benar," tutur Kondo ringkas.
"Lagian, ngasih nilai ga pakai jempol juga bisa, kan? Kerjakan tugas kalian sebaik-baiknya, yah! Oke! Bubar!"
Jadi sebetulnya, jempol Kondo lagi-lagi jadi korban gara-gara ketahuan mengintip privasi Otae dengan si Oom-oom Uban. Waktu itu, Otae yang diguyur hujan mulai bersin-bersin, dan tololnya Kondo buru-buru muncul memayunginya.
Tak lupa, Shinpachi pun ikut jadi korban, dan sepertinya anak itu semakin tidak menyukainya.
"Akhirnya ketemu juga," celetuk seseorang di tengah perenungan sore.
"Oh, Toshi! Sogo!"
Kedua muridnya langsung mengomentari penampilan Gori.
"Kondo-san, jangan lupa cukur jenggot. Ingatlah secepat dan sepanjang apa bulu primata tumbuh."
Gori Isao hanya mengusap janggutnya malu.
"Iya, iya. Makasih sudah mengingatkan, Sogo."
Ia hendak beranjak, namun kedua mahasiswa itu masih terpaku di tempat.
"Kondo-san," panggil Hijikata.
Keraguan tersisip dalam kata-katanya.
"Akhir-akhir ini Kondo-san sering tampak di gimnsium."
"Iya, dong! Gue kan pelatih kendo!" jawabnya.
Pak Kondo pun membereskan PR liburan anak didiknya, lalu mulai beranjak dari ruangan kuliah.
"Apa kabar Gorila Stalker?" lanjut Hijikata ragu.
"Bicara apa kau, Toshi? Aku ini masih Gorila Nirmana, kok. Eh, maksudku, Dosen Nirmana."
"Maksud Hijikata, biasanya kan Kondo-san mangkir delapan jam sehari di rumah Otae. Kenapa tiba-tiba berhenti?" sambung Sogo tak sabaran.
"Ha… Ngomong apa kau, Sogo. Aku nggak ngerti."
Pria itu hendak melangkah keluar dari kelas.
Tiba-tiba, di hadapannya Otae lewat.
Kedua anak didiknya menyaksikan Bapak Kondo Isao menahan napas, sementara gadis yang mendekap buku-buku tebal itu itu hanya meliriknya sekilas dan melanjutkan perjalanan dengan sedikit… gamang?
Setelah adegan itu berlalu, Sogo berbicara kembali.
"Pasti ada sesuatu yang sudah terjadi di antara Kondo-san dan Otae baru-baru ini."
Sewaktu Kondo membuka mulutnya untuk berkelit, Hijikata mendorongnya masuk kembali dan menutup pintu di belakang mereka.
"Ditolak Otae lagi?" tanya sang kapten.
Pembina klub kendo pun tersenyum masam.
"Bisa dibilang begitu," ujarnya.
Hm, sepertinya ada yang berbeda dengan penolakan kali ini, batin Toshi.
"Tapi, gue kan emang sudah biasa! Gue gapapa, gapapa!" tekannya.
Jarum jam terus berputar sementara dua mahasiswa berusaha menyusun kata-kata yang pantas. Untuk menyudutkan tentunya, bukan untuk menghibur.
"Di mata gua, lu kelihatan agak lesu, Pak? Lu tadi bilang itu sudah biasa, tapi kok kayaknya yang ini beda, ya?" lanjut Toshiro.
"Kondo-san, peraturan nomor dua puluh dua klub kendo Universitas Edo: baper adalah tanda kelemahan. Ini Kondo-san sendiri yang bikin, loh."
Gori pun pura-pura sibuk membereskan kertas tugasnya.
"Siapa bilang gue baper? Gue laper. Selalu."
"Kondo-san," desis Sogo. "Anda nggak sedang patah hati, kan?"
Hijikata Toshiro pun menyindir, "Ya. Apa mungkin Gori yang sudah ditolak lebih dari tiga ratus kali akhirnya benar-benar patah hati?"
Pak Gori menggeleng.
"Mana mungkin? Huahahaha!"
Serentak, Okita Sogo menarik keluar sebuah buku catatan.
"Mulai hari Kamis tiga minggu yang lalu, Kondo-san nggak lagi berkeliaran di dekat fakultas ekonomi seperti biasa. Untuk mencapai sekretariat klub kendo, Kondo-san justru memutar lewat gedung MIPA yang cukup jauh. Aku catat Kondo-san hanya melewati pintu depan fakultas ekonomi di saat kelas lagi berjalan; menghindari pagi hari, jam istirahat, dan jam pulang kampus.
"Setiap hari Rabu dan Jumat, waktu ada kelas nirmana fakultas ekonomi, Kondo-san selalu minum susu coklat panas di siang bolong. Padahal Anda alergi laktosa. Aku curiga, itu Anda lakukan untuk menenangkan diri.
Sogo membalik halaman bukunya.
"Kondo-san berhenti mengunjungi host-club tempat Otae bekerja mulai tiga minggu yang lalu juga. Dan aku nggak tahu apakah Hijikata yang tumpul ini menyadari, tapi Kondo-san semakin jarang menyebut nama Otae dan malah membicarakan aktris televisi kalau lagi ngebucin."
Terus dan terus bocah itu mengutip hasil observasi dalam buku.
"Tanggal dua puluh satu kemarin, Kondo-san berpapasan dengan Otae di koridor kantin, tapi menghindar. Di sini ditulis, Anda terus memandangi Otae dari jauh."
TEP. Buku pun ditutup.
"Kesimpulan: pasti ada yang terjadi di antara Kondo-san dan Otae. Mungkin pas Obon bulan lalu?"
Mata Pak Kondo melebar, seakan sudah tak dapat mengelak lagi.
Merasa berhasil memojokkan sang dosen, Okita Sogo menutup buku catatannya dengan puas.
"Ayo ngaku, apa yang terjadi malam itu?"
Kondo Isao menelan ludah.
"Sogo, lu… Lu stalking gue?" tanyanya.
Ia berusaha menutupi tubuhnya seperti seorang gadis diintip oleh hidung belang.
"Apa… Apa saja yang telah kaulihat, Sogo?"
"Ini catatannya si Zakky. Gue yang suruh dia, daripada dia malah main badminton di gimnasium. Ogah banget gue ngestalk gorila jantan," balasnya singkat.
"Ga nyangka gua, di atas stalker masih ada stalker lagi," Hijikata gagal fokus. "Zakky kayaknya bisa tuh masuk intel nanti setelah lulus."
"Kondo-san, kami masih menanti jawaban Anda," desak Sogo tak sudi mundur.
Kondo akhirnya mengerti, sudah tidak ada jalan kabur.
Ia tidak tahu harus berkata apa, namun ia tahu, anak didiknya yang kelihatan sadis itu cukup mengkhawatirkannya. Jika Okita tak mendapat penjelasan yang memuaskan, mungkin dia akan mempertanyakan kepercayaan Kondo padanya.
Ia pun buka mulut.
"Gue lagi menilai kembali keputusan-keputusan gue."
"Keputusan apa?" desak Okita.
"Keputusan untuk melanjutkan profesi stalker ini atau tidak."
Urat marah muncul di jidat sang junior.
"Otae kelihatannya lebih bahagia sejak gue berhenti membuntuti dia. Dia sudah dapat part-time baru, dan kayaknya masalah keuangannya sedikit demi sedikit membaik. Mungkin gue selama ini sudah jadi pengganggu."
Mana ada orang senang distalking, batin Okita. Tapi kok begitu berhenti ngestalk, dia jadi kehilangan jati diri begini.
KRIIINGG!
Telepon genggam berbunyi.
"Oh, sori! Telepon penting!" elak Kondo.
"Halo? Oh, ya! Benarkah? Wah, senang sekali mendengarnya. Jumat ini?! Baiklah, akan saya persiapkan sebaik-baiknya!"
Entahlah tentang apa telepon barusan, tapi Gori pun ber-uho-uho sumringah.
"Ehem!" Sogo berdehem.
Keceriaan Gori pun terhapus. Ia tampak berpikir.
"Apa gue adalah orang yang nggak bisa diandalkan juga?"
Kondo memandangi 'jempol sariawan'nya.
.
Usai sesi interogasi itu, Kondo menyusuri jalan utama kampus.
Karena kelasnya barusan adalah jam terakhir, kampus sudah mulai sepi dan mentari hampir tenggelam.
Di depan, ia mendengar keributan.
"Kamu, seorang hostess, mana mungkin cuma nawarin jadi sebatas tutor. Tentunya ada hal lain yang kamu tawarkan? Pantas sikap Takashi-kun ke aku jadi lebih dingin akhir-akhir ini!"
"Kalau mereka ga kasih kamu uang, pasti kamu akan gunakan jurus kung fu level black-belt, kan?! Dasar pemeras!"
Mulai dari sana, julukan-julukan tak enak didengar mulai terlontar.
Saat Kondo menggabungkan diri, benar saja dugaannya. Di tengah kerumunan gyaru bermulut pedas, berdirilah Otae.
Gadis itu tampak letih, tetapi masih bisa menyisipkan senyum.
"Apa kalian punya bukti?" ujarnya tenang.
"Bukti apa lagi? Aku dengar sendiri dari Kyoko-chan! Kamu berusaha menggoda cowok yang disukainya!"
"Nona, yang itu disebut gosip," Otae meluruskan.
"Iya, kata Kyoko-chan, yang keluarganya punya rumah sakit di Kabuki-cho, adikmu sedang sakit dan kamu nunggak biaya berobat! Makanya kamu pura-pura kerja jadi tutor, padahal sebetulnya kamu menawarkan host-club yang mencurigakan itu!"
Otae pun bungkam, meski lengkungan masih tersisa di bibir merah mudanya.
Tuduhan demi tuduhan pun dilontarkan. Memanfaatkan diamnya Otae, semakin kejam pula.
"Kalau tak punya uang, jangan sok cantik!"
"Memang dasar nggak mampu, dia akan menghalalkan segala cara buat dapat keberuntungan!"
"Makanya jangan berlagak jadi diva! Ini imbasnya karena sudah menggoda para cowok keren!"
Tangan Kondo mengepal. Tugas-tugas para muridnya pun sedikit lecek.
"Hei, hei, itu tidak benar. Buktinya, nggak pernah, tuh, sekalipun Otae menggodaku," tiba-tiba ia menengahi dengan lelucon garingnya dan kepedeannya yang luar biasa.
Keadaan panas itu sedikit surut dengan kemunculan seorang staf pengajar.
"Kebetulan saya kenal juga dengan adik Otae. Bulan lalu saya baru ketemu, dan dia baik-baik saja, kok," sangkal Kondo.
"Orang itu masuk koma pagi ini," ungkap salah satu siswi. "Penyakit berat, katanya. Kanker atau semacamnya."
Hati Kondo melonjak kaget.
Diliriknya Shimura tertua, menantikan elakkan. Namun gadis itu justru menunduk.
"Kalau kalian tahu berita ini bukan dari yang bersangkutan, ini namanya membocorkan informasi rahasia, loh. Setahu Bapak, tindakan seperti ini ada hukumannya."
Persatuan gyaru pun sedikit merasa terancam.
"Tapi tentang dia yang menawarkan diri untuk jadi tutor itu betul, Pak!" adu yang seorang ngotot.
"Dan entah mengapa, mangsanya selalu laki-laki!"
"Oke, mulai sekarang, Bapak yang ambil alih. Kalian boleh bubar."
Dengan hati dongkol, gyaru-gyaru judes itu pun dengan segan membubarkan diri.
Sementara itu, Otae kembali mengembangkan senyumannya.
"Lihat! Lihat senyumannya itu! Betul, kan! Sudah jelas dia menggoda cowok-cowok untuk mendapatkan uang!"
"Cewek menyedihkan seperti dia nggak berhak tersenyum!"
"Tentu aja nggak," sergah Kondo, masih dengan segaris senyuman.
"Otae nggak cuma berhak tersenyum. Dia juga berhak menangis, menangis sejadi-jadinya. Dia tidak perlu capek-capek berlagak kuat, sebab sebetulnya, ada orang-orang yang betul-betul peduli padanya."
Kondo Isao berpaling kepada mahasiswi satu itu.
"Bapak yakin, dia akan menemukan orang-orang yang bisa dia andalkan suatu saat nanti."
.
.
.
Otae pun diajak Kondo ke gimnasium.
Di situ sebetulnya lagi ada latihan klub kendo. Hanya saja, para anggota yang penasaran segera menghentikan latian—demi nguping.
Apakah ini saat yang mereka nantikan? Apakah komandan jomblo klub kendo akhirnya akan mendapat seorang pendamping?
"Otae," mulai jomblo ngenes—eh, gorila—itu. "Apa itu benar?"
Gadis itu tersenyum. Senyuman penuh ancaman.
"Apa nggak ada yang bisa dibantu?" sambil bergidik.
"Kalau ingin membantu, berhenti mencampuri urusan kami," jawab Otae ketus.
Sebagai balasan, sang dosen bilang dirinya hanya khawatir.
Tetapi balas Otae, "Kita kan orang asing. Tak ada kewajiban untuk merasa khawatir."
"Jangan gitu. Aku ini dosen, dan kamu mahasiswiku. Sudah sepantasnya dosen mengkhawatirkan muridnya. Lagipula, aku sudah pernah menghadiri pemakaman sanak keluargamu. Aku dan Shinpachi juga sudah pernah kencan sekali."
Para penguping terkaget-kaget. Banyak yang bisa dipertanyakan dari makhluk satu ini…
"Hal-hal itu tidak membuatmu jadi ada sangkut pautnya dengan permasalahan keluargaku,"
Perkataan Otae yang dingin sedikit melukainya. Meski sudah terbiasa, tetap saja ditolak mati-matian ketika bermaksud baik terasa perih.
Yah… Motivasi sesungguhnya Pak Gori tetaplah meluluhkan hati sang dewi… Jadi, nggak perlu terlalu dikasihani.
"Intinya, tak perlu repot-repot memusingkanku. Semua ini bisa kuurus sendiri. Aku akan baik-baik saja."
Dengan demikian, Otae berdiri hendak meninggalkannya.
"Tunggu, Otae!"
Otae terkejut mendapati Kondo menahan lengannya.
"Setidaknya, beritahukan di mana Shinpachi dirawat, supaya aku bisa menjenguknya. Boleh, ya?"
Perempuan itu terdiam.
Seseorang yang bersikap baik meski terus didepak. Gestur sederhana Kondo Isao hampir berhasil menembus perisai Tae Shimura!
"Sekalian minta alamat host club baru tempatmu kerja—"
Pukulan Otae sore itu menghasilkan homerun spektakuler.
"Gue ngerti sih kenapa dia masih jomblo sampe sekarang," cibir salah satu kenshi.
.
.
.
Jangan pernah sepelekan kekeraskepalaan gorila kebelet kawin. Dengan teknik nguntit-no-jutsu mutakhirnya, Pak Kondo berhasil mengetahui di mana Shimura Shinpachi terbaring. Kondo pun mengetahui bahwa Shimura muda ternyata mengidap leukemia kronis sejak kecil.
"Dojo Shimura dilelang," umum Hijikata suatu hari.
"Ah. Jadi begini juga akhirnya," sesal Kondo.
Bagaimana perasaan Shinpachi, ya? Tentu ia akan sangat sedih dojo yang dibangga-banggakan pada akhirnya harus terjual. Bagaimana ya perasaan Otae?
"Oh tidak. Kondo-san, bagaimana ini? Anda terpaksa berhenti mengintip Otae?" timpal Okita Sogo di tengah pemikirannya.
"Sogo! Aku nggak senista itu!" protes Pak Stalker.
"Mulai hari ini, aku berhenti jadi stalker," ikrar Kondo Isao di hadapan para muridnya.
Mahasiswa ternganga-nganga. Separuhnya senang, karena gara-gara julukan itu, makin menjauhlah para pendaftar wanita dari klub mereka.
Tapi, Gorila Stalker ialah julukan beken sang komandan. Terlalu ngetrend dan mendarah daging sampai-sampai mengganti julukan itu sama seperti mendustai jati diri sang pembina klub kendo.
"Jadi setelah ini kita panggil dia Gorila apa?"
"Gorila Ex-Stalker aja gimana?"
Intinya, untuk sementara, kerjaan sampingan Kondo sebagai intel ilegal dihentikan demi memberi Otae ruang beristirahat dan berpikir.
Meski demikian, Otae masih marah-marah dan mengancam akan melancarkan jurus baru padanya. Habis, bapak itu ga kapok melancarkan gurauan-gurauan jorok.
"Otae, kalau kamu butuh tempat menginap, pintuku selalu terbuka untukmu. Ritsletingku juga—UGOH!"
.
.
.
Hari demi hari berlalu. Tidak sekalipun ex-stalker melihat Otae merengut, apalagi menangis.
Meski tak pernah menunjukkan perasaan sedih, Kondo menyaksikan Otae melamun di siang bolong, atau menatap kosong langit malam. Terkadang ia membatin, apa yang dipikirkan gadis belia itu?
Ya, hari demi hari berlalu. Setiap Kondo Isao mengawasi pintu kamar rawat inap Shinpachi, sosok itu masih belum muncul juga; pria misterius brekele itu.
Bukankah ini kerabat dekat mereka? Bukankah dia wali kelas Shinpachi? Bukannya pria inilah yang dicintai Otae? Tidakkah pria ini juga menyayanginya?
Kunjungan demi kunjungan, mantan penguntit itu bertanya-tanya, apakah suatu saat dia akan berpapasan dengan si paman berambut ikal. Akan tetapi, Homo pedofilus tidak pernah muncul.
Ah, kompleks sekali hubungan cinta segitiga ini, batin Gorilus gombalilus di senja yang sendu itu.
.
Waktu terus bergulir. Meski kemajuannya lambat, kondisi Shinpachi semakin stabil.
Dan ternyata, meski dojo Shimura dalam proses penjualan, ia mendapatkan pos pengamatan yang lebih PW; di ruangan Shinpachi.
Shinpachi, maaf! Tapi aku berterima kasih! batin Gori, membayangkan sosok Otae memasuki ruangan itu sebentar lagi.
Ya dewam inikah jalanmu untuk menyatukanku dengan Dewi Kwan Im setelah semua penderitaan itu.
KRIIING!
Telepon genggamnya berdering.
Hatinya sedikit terlunjak mendapati nomor yang menghubunginya.
"Ya, kementrian pertahanan nasional? Iya, dengan saya sendiri, Kondo Isao."
Pria itu terdiam sejenak.
"Kapan saya harus berangkat?"
Terdiam lagi.
"Baiklah."
Tepat saat ia menutup telepon, yang dinantikan pun tiba.
Astaga. Comel nian makhluk ini! Dilihat berapa kali pun, dia tetaplah gadis yang menggetarkan hati! Kalau saja nggak brutal, mungkin dia sudah dijadikan istri juragan minyak kaya raya.
"Apa lihat-lihat?"
Isao terkekeh.
"Semangatmu sudah kembali, Otae," ujarnya.
"Oh, Kondo-san. Masih di sini-sini juga meski hari libur?" sapanya.
"Bucin emang ga pernah gabut," bisik si kapten pada wakilnya.
"Ooh! Toshi! Sogo! Kebetulan sekali! Ada sesuatu yang harus kubicarakan."
Hatinya begitu senang dan itu tampak dari raut wajah Kondo. Hanya, ketika matanya menyapu sosok Otae, setitik keraguan muncul di sana.
"Toshi, Sogo, Otae…" mulainya.
"Aku akan meninggalkan Universitas Edo. Bukan hanya itu, aku harus ke Kyoto, paling tidak selama tiga tahun."
Dijabarkannya isi pembicaraan lewat telepon barusan. Kondo resmi direkrut menjadi mata-mata oleh kementrian pertahanan.
"Komedi macam apa ini… Gorila Stalker yang sering bikin malu ini… benar-benar dijadikan aset negara," desis Sogo.
"Akhirnya ada yang megakui bakat tersembunyiku ini. Muahaha!"
Gori berpaling pada gadis impiannya dan berkata, "Otae, aku janji, waktu pulang nanti, aku akan semakin lihai bermain pedang. Jadi, bersiaplah."
"Nggak ada hubungan!" semprot Toshi.
"Dengan pedangku akan kubahagiakan Otae!"
"Hentikan lelucon kotormu! Di sini ada dua anak di bawah umur!"
"Gorila punya dua pedang loh, yang satu buntut, yang satunya lagi—"
"OI SOGO! Di sini ada anak kecil!" sentak Hijikata menunjuk-nunjuk Shinpachi.
Pungkas sang penyandang pedang, "Pedang yang ini maupun pedang yang itu, akan semakin—"
"Hentikan!" bentak Otae menonjok si dosen tepat di tengah perutnya. "Kalau aku melihat pedangmu, kali itu akan kupanggil algojo untuk mematahkannya!"
Dan di hari terakhir Kondo itulah, mereka semua berkumpul untuk membuat satu keributan terakhir.
.
.
.
Seorang perempuan terhuyung-huyung di depan gerbang keberangkatan.
Di sana, seorang laki-laki jangkung melambai-lambaikan tangan.
"Mana yang lain?" tanya gadis itu, menyeka keringatnya.
"Mereka sudah pulang."
"Loh? Bukannya penerbanganmu masih dua jam lagi?"
Lelaki bertubuh tinggi itu pun menggaruk-garuk kepala.
"Aku sedikit berbohong… supaya bisa ngobrol berdua dengan Otae."
Otomatis, perempuan itu balik kanan.
"Otae! Tunggu!"
Gadis itu berhenti dengan sebalnya.
"Aku sadar, diriku ini hanyalah gorila lepas kandang di matamu," kata sang dosen.
"Tapi kamu tahu, nggak, sebetulnya gorila adalah pengamat yang jeli. Sejak di pemakaman, aku mulai menyadari sesuatu. Ada yang sedikit berbeda dengan tiap senyuman manis Otae. Ketika bersedih, Otae tersenyum dengan mata menyipit. Ketika marah, Otae tersenyum maniak."
Wanita muda itu terdiam sejenak, sebelum berdecak kagum.
"Stalker sekelasmu ini layak dijadikan buronan," komentarnya.
"Huehehe. Berarti, setidaknya omonganku ini benar, kan?"
Ia menyingsingkan lengan untuk menjitak Kondo sambil mengelak.
"Ngaco. Kau kira aku sengaja mengatur cara tersenyumku? Memang ini otome game? Mana ada orang sekonsisten itu di dunia nyata!"
Kondo sedikit menciut dan mundur selangkah.
"Eh… Padahal sembilan dari sepuluh, Otae selalu melakukannya. Apa catatanku salah—"
Jurus kekerasan Otae dimulai, dan dalam tiga detik, Kondo Isao telah dililit pitingan maut.
"As—astaga!" jeritnya. "Otae… kamu…"
Pria sawo matang itu setengah mati berjuang untuk bernapas. Tapi setelah ia berhasil menghirup udara, yang dia katakan malah,
"Rata sekali."
Tanpa berpikir panjang, Otae menyucuk hidung Kondo.
Bahkan pria bertubuh besar itu hanya bisa pasrah saat tenaga badak Otae men-smack down dirinya.
Pertikaian selevel pergulatan profesional itu biasanya cepat mengundang petugas keamanan bandara. Namun, orang-orang lewat begitu saja tanpa melerai.
"Pasti kita sudah seperti pasutri di mata orang, makanya dibiarkan—"
"Cari mati, ya, Monyet?" raung Otae. Ia duduk menindih Kondo dan mulai menabok. Semakin lama, tabokannya semakin liar.
"Otae! Malu dilihat orang! Kita lanjutkan di kamar—UEGH!"
Si ketua klub kendo memang tak pernah belajar dari kesalahan. Kondo pun harus merasakan jurus pengempesan jakun.
"Ampun! Ampun Otae—GUEEKK!"
Raungan Gorila yang tertindas terdengar semakin aneh sampai Otae merasa malu sendiri dan berhenti menyiksanya.
Saat tangan sang gadis berhenti meninju, spesies berbulu itu lagi-lagi membuka mulutnya nyaris tanpa jeda.
"Otae," ujarnya. "Apakah kamu sudah benar-benar puas?"
"Masih kurang?" gertak sang Shimura galak.
"Heheheh… Habisnya, Otae selalu semangat kalau lagi nggebukin aku. Dan Otae tahu sendiri, aku akan pergi selama tiga tahun, mungkin lebih. Jadi, mumpung aku masih di sini, gebukin saja lagi."
"Dasar masokis kelainan!"
"Aku hanya ingin Otae semangat," timpal Pak Dosen. "Setelah aku nggak ada di sini pun, aku ingin Otae berjuang menjalani hari-hari seperti biasa."
Ungkapan itu membuat Otae tertegun. Entah mengapa, kali itu ia ragu si jenggot sedang merayu atau menyemangatinya.
"Otae," lanjut Kondo. Suaranya menjadi sedikit lebih lembut. "Memiliki jiwa yang tegar adalah hal mengagumkan. Tapi seorang gadis tidak boleh dilarang menangis. Dan saat kamu ingin menangis, ketahuilah ada orang-orang yang akan menampung air matamu."
Melihat Kondo mencorongkan tangan seperti menyediakan wadah, Otae memicing.
"Aku memang akan pergi. Tapi di sini, masih ada orang-orang yang peduli padamu. Toshi dan Sogo, begitu-begitu adalah orang-orang yang dapat diandalkan. Kalau kamu diganggu komplotan gyaru itu lagi, akan kuperintahkan mereka untuk mengawalmu. Dan gitu-gitu, mereka enak diajak ngejulid. Jadi, setidaknya sampai Shinpachi membaik lagi, tertawalah, menangislah. Lanjutkan hidupmu dengan sebaik-baiknya, seperti biasa, seperti seorang Otae-ku yang sedia kala."
Kemudian Isao sedikit memalingkan wajah.
"Dan semisal si uban itu berani mengganggumu, panggillah aku. Biar kubelah bolanya."
Tanpa sengaja, sudut bibir wanita itu pun tertarik.
"Kondo-san," panggilnya.
Kondo terkesiap. Itulah pertama kali Otae sudi mengucapkan namanya.
Seketika itu juga, Kondo Isao insyaf dia masih saja terkapar di lantai dengan Otae menindihnya.
"Anu… Kok kayaknya bagian kecil diriku mulai berdiri."
Senyum dengan mata sipit Otae berubah menjadi senyum maniak. Tiba-tiba urat pada punggung tangannya berdenyut gatal.
Sang perantau pun memperoleh cap tangan pada pipinya.
.
"Ya sudah, aku berangkat, ya."
Sementara Otae menghantarkan kepergiannya dengan tangan terkepal, pria babak belur itu terus menengok ke belakang sambil melambai-lambai.
Sang mantan dosen terus menjauh, dan sosoknya semakin membaur dengan para pelancong lain. Tinju Otae terus menguat meski sosok Kondo Isao makin kabur. Meskipun Otae tidak mengalihkan pandangan, pada akhirnya ia kehilangan pria jabrik itu di tengah kerumunan manusia.
Ia terkesiap.
Hilang. Sosok itu benar-benar hilang. Hilang tanpa jejak. Tanpa meninggalkan nomor, alamat, ataupun cindera mata sebagai pengingat.
Rasanya bagaikan mimpi. Mimpi yang begitu nyata. Ya, hari-hari yang ia lalui bersama makhluk gaib itu terasa begitu nyata, sekaligus semu. Semu karena semua telah berlalu.
Aneh. Bukannya Otae selalu uring-uringan di dekat sang stalker? Jadi, mengapa, kali ini mahasiswi ekonomi itu merasa ingin bergantung sekuat-kuatnya pada kenangan-kenangan itu?
Otae menyentuh dadanya.
Jadi inilah yang disebut kehilangan. Ia hanya terkejut si makhluk mesum sanggup membangkitkan rasa semacam itu.
Dan gadis belia itu mungkin mengada-ada, namun ia merasa ada sisik yang terjatuh dari matanya.
Mungkin memang kata-kata barusan ada benarnya. Sebelum ada Kondo, dia tak pernah sebersemangat itu.
Kembali senyuman itu tersungging di bawah mata yang menyipit. Kini bukan hanya Tuhan yang dapat menjelaskan arti lengkungan itu. Tetapi yang satu lagi itu sudah pergi.
"Dasar Gorila Stalker…"
Otae pun berbalik. Sebelum melangkah pergi, ia mengusap pinggiran matanya.
.
.
.
.
.
.
Kondo berbaris di gerbang pemeriksaan koper.
"Boarding pass?"
"Ah, tunggu sebentar."
Lelaki bermata sipit itu meraba-raba kantongnya.
"HAH! KOYAK!"
Agaknya itu akibat jurus cabikan KDRT Otae barusan.
Kondo pun langsung ngibrit balik, menyusuri jalan yang ia lalui sejak berpisah dengan sang Shimura pertama.
"Belum juga satu jam, aku sudah berlari merunut kembali perjalanan cintaku," ujarnya norak.
Akhirnya ia tiba di tempat dimana dia dan Otae membuat keributan.
Namun, tak peduli seberapa keras Gori mencari, benda yang menghilang tidak terlihat di manapun.
Sementara Gori panik, siaran di bandara mengumumkan dimulainya boarding untuk penerbangannya ke Kyoto.
"Gawat! Kalau ga hadir di upacara pembukaan, maka penerimaanku pun akan batal," Kondo gelagapan.
Dengan langkah-langkah besar, makhluk itu pun bermaksud mendatangi bagian informasi.
Naas, dia malah bertabrakan dengan seseorang di depan toilet wanita.
"Huoh! Maaf! Saya buru-buru!"
Sang calon intel melanjutkan langkahnya. Tapi tak lama, ia menyadari sesuatu.
"Otae!"
Senyuman pria itu tersungging.
Ia meluruskan tangan dan berlari seakan hendak memeluk gadis idamannya, seperti yang selalu ia lakukan untuk menggoda perempuan brutal itu.
Ia tahu, Otae pasti akan meninjunya. Tapi ia terus berlari dan berlari, hingga akhirnya—
Wanita itu benar-benar ada dalam pelukannya.
"Eh?"
Otae dalam pelukannya…?
Kayaknya hidup gue ga lama lagi.
"O-Otae, kan…?"
Aroma wisteria dari tubuh mungil itu meyakinkan Kondo dia tak salah orang.
Apa dosa gue…? OH IYA!
Kondo Isao teringat kesalahan fatalnya.
Ia pun melepas impiannya terbang ke Kyoto. Komat-kamit doa diucapkan, berharap dapat wafat dengan cara terhormat.
"Bodoh…" Otae menggeram. Tangannya mulai mencengkeram kerah baju Gori.
Pak Gori menelan ludah, ketakutan setengah mati.
"Anu… Ampun…" desah si Gori memohon belas kasihan. "Seenggaknya kasihanilah nyawa hamba…"
"Bodoh sekali," rintih Otae.
Pria itu sedikit heran waktu perempuan itu membenamkan wajah di dadanya.
"Eh… O-Otae…?"
Perlahan, Otae pun mengangkat wajahnya. Sisa lajur air mata membanjiri pipi merahnya.
Jantung Kondo serasa berhenti. Hatinya terasa begitu berat. Ia merasakan penyesalan yang dalam.
"Otae," panggilnya lembut.
Diusapnya kepala gadis itu saat air matanya mulai mengalir kembali.
"Maaf aku bilang dadamu rata."
"He?"
"Eh?"
Dengan bloonnya Kondo garuk-garuk kepala.
"IDIOT!"
Nona Shimura menepakkan boarding pass ke jidat Gori dan berlari liar meninggalkannya.
Rasa frustrasi maba itu mengisi hatinya dengan satu tujuan saja. Meninggalkan tempat itu secepat yang ia bisa.
Otae tidak melihat ke mana ia berlari. Sudah setengah lusin orang jadi korban tabrak larinya.
Ia terjatuh beberapa kali, namun bangkit berdiri dan mulai berlari lagi. Percuma juga berlama-lama di tempat itu. Toh dirinya tak mampu mencegah Kondo pergi.
Seorang pelancong yang terburu-buru menubruk Otae dari arah berlawanan dengan kopernya.
Perempuan itu tidak mampu menyambangi kekuatan yang menghantamnya, dan sekali lagi ia tersungkur.
"Hei, lihat-lihat kalau jalan!" hardik orang itu, kesal melihat isi kopernya berceceran.
Wisatawan itu tak terima. Dia berderap mendekat untuk meluapkan amarahnya lebih lanjut.
"Gara-gara kau aku akan ketinggalan pesawat! Kau tahu tidak sih apa yang akan kuhadiri ini adalah urusan negara?!"
Ia mengacung-acungkan telunjuknya ke arah Otae, berteriak-teriak di tengah keramaian.
Di tengah jatuh bangun itu, hati Otae semakin sesak saja. Teriakan marah sang turis menggedor-gedor memunculkan perasaan bersalah, sesal, panik, dan ketidakberdayaan yang seakan mengikat tubuh Otae.
Gadis malang itu terduduk di sana memeluk lutut. Bagaimana lagi? Selama ini, tidak ada seorang pun yang datang untuk memeluknya. Maka ia pun terpaksa memeluk dirinya sendiri.
"Permisi," ujar seseorang. "Maaf, biar saya bantu rapikan koper Anda."
Orang itu menjauhkan sang pelancong yang marah dari Otae. Dan berkat bantuannya, keributan yang berkelanjutan berhasil dicegah.
Sang penolong berlutut di hadapan Otae.
"Kamu pun akan pergi, kan?" gumam gadis itu kepadanya.
Panggilan terakhir untuk penerbangan KY223 ke Kyoto. Terdengar pengumuman membahana di lorong sibuk itu.
"Sudah sana! Tentu kamu nggak mau ketinggalan pesawat karena hal konyol!"
Tak ada balasan.
Mau tak mau, Otae pun mendongak.
Syukurlah yang ia lihat ialah wajah familiar sang Dosen Gorila.
Yang tidak familiar adalah tatapan penuh arti laki-laki jenaka itu.
"Aku berpikir diriku hanya akan jadi hama pengganggu… Karena ada orang lain yang Otae sukai."
Tidak ada pria baik-baik yang sengaja merusak hubungan percintaan wanita yang dicintainya.
"Selain itu, Otae pun cukup tangguh untuk menghadapi permasalahan hidup sendiri. Sombong sekali aku kalau sampai merasa diperlukan."
Lelaki itu mengalihkan pandangannya.
"Makanya aku memutuskan untuk pergi."
Panggilan terakhir untuk Pak Kondo Isao… Pesawat KY223 tujuan Kyoto menunggu Anda.
"Beruntung, ya, mereka sabar menunggumu," isak Otae. "Pergilah."
Kondo pun menarik napas panjang. Ia bersiap berdiri.
Seketika, rasa sakit yang tajam menusuk dada Otae.
"Pergilah!" ulangnya.
Seperti semua orang yang telah meninggalkanku sebatang kara. Seperti Gin-san, lanjutnya dalam hati.
Tanpa terasa, tangis perempuan itu berlanjut lagi. Ia merasa kosong.
Dengan hati hancur, Otae kembali memeluk lututnya. Ia tidak mau menyaksikan punggung itu menjauh untuk yang ke dua kalinya.
Otae diam mendengarkan. Mendengarkan langkah kaki orang itu. Tetapi sekitarnya bising. Orang bersahut-sahutan saling memanggil, saling mengucapkan salam perpisahan.
Sudahkah ia pergi? Sudahkah Kondo menjauh, cukup jauh sehingga hatinya yang bodoh itu tak perlu merasa kosong lagi?
Nona Shimura itu memberanikan diri mendongak. Dan ternyata, Kondo masih di situ. Tidak beranjak barang satu centi pun.
"Aku akan tinggal… kalau itu mau Otae," katanya.
Si jabrik mengusap rambut gelap Tae Shimura. Sorot matanya mengatakan seribu kata, meski hanya itu ucapan yang keluar dari mulutnya.
Kondo bingung. Bagaimana tidak bingung? Jangan-jangan keberadaannya di situ hanya akan menjadi hambatan saja? Apakah dia adalah substitusi yang malah mencegah Otae mengejar impiannya yang sejati?
Mantan pengintai itu tidak tahu. Tetapi, seakan telah menanam kakinya di tanah, ia sama sekali tak bergeser.
"Sudah kuputuskan! Aku akan tinggal!" Kondo pun berikrar.
"Pergilah sebelum seseorang merantaimu di kandang tua ini," uji gadis itu sekali lagi.
Tersenyum, Kondo menyodorkan pergelangan tangan.
"Aku mau, asal Otae yang rantai," kekeh orang itu. "Lagian, boarding pass dan koperku hilang entah di mana saking paniknya mengejar Otae."
Wajah perempuan itu berubah murung. Ia merasa sebagai gadis paling merepotkan di dunia.
"Kamu akan menyesal," ia memperingatkan.
Perlahan, Kondo Isao menghapus lajur air mata di pipi Otae. Ia menyejajarkan matanya dengan mata berkaca-kaca Nona Shimura.
"Otae, jika aku bisa menjadi alasanmu untuk berhenti sembunyi sambil memeluk lutut saat menangis, maka aku tak akan pernah menyesal."
"Dari mana kau tahu tentang itu?" sergah Otae kesal.
"Gimana? Sudah pantas kan jadi James Bond?" Kondo ngeles.
"Aku akan tinggal, kalau aku bisa melihat Otae tersenyum lagi."
Sungguh suatu keajaiban! Kali itu gombalannya mempan!
Bagaikan mantera penyihir mumpuni, senyum di bibir merah muda gadis itu pun merebak.
Ia memang gadis yang merepotkan, tetapi ia juga merasa sangat berutung.
Ya, Otae beruntung ditemukan oleh pria berhati besar ini. Laki-laki yang mengencangkan obinya, memayunginya dari hujan, bahkan rela jadi karung samsakdemi membuatnya merasa lebih baik.
Meskipun hobi nguntit dan ngegombalnya sungguh nyebelin. Tapi, yah, adakah gorila yang sempurna di kehidupan ini?
"Otae, aku pernah berjanji pada seorang anak muda, aku akan mematahkan kutuk generasional kakak perempuannya dengan membuatnya jatuh cinta," aku Kondo.
"Apa menurutmu… aku berhasil?"
Ia melihat sudut bibir mahasiswi fakultas ekonomi itu terangkat.
Ya Buddha! Gila! Kalau ini mimpi, tampar aku! Goku, Gautama! Siapapun, tampar aku sekarang juga!
"Menikahlah denganku!"
Dada laki-laki itu dag-dig-dug tak menentu. Ia kehabisan seribu kata saat perlahan sang Dewi Kwan Im pemurni kelemahan mengangkat wajahnya juga.
"Ini bukan otome game! Insyaflah Gorila Stalker!" hardik Otae.
BUGH!
Yang menampar Kondo adalah tinju kenyataan.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kondo-san! Kami datang!"
"Oh, Toshi! Sogo! Lama tak berjumpa!"
Dua laki-laki muda melepas alas kaki mereka dan bergabung dengan tuan rumah di ruang tamu.
"Aku bawakan pisang."
Kondo nyengir sumringah.
"Omong-omong, bagaimana kesehatan anego dan bayinya?"
Hijikata tampak takjub mendengar pertanyaan juniornya.
EH? Sejak kapan? Pikirnya.
Itu kejutan yang menyenangkan. Hijikata pun menyunggingkan senyum, turut berbahagia.
Pria berjanggut tipis itu menggaruk kepala.
"Sehat walafiat! Terima kasih ya sudah repot-repot menengok! Oh iya, aku lupa bilang padanya kalian akan datang. Ayo, ikut aku."
Kondo menuntun mereka melewati selasar di dekat taman tengah kediamannya.
Di tengah taman, terdapat gundukan rerumputan, dan di tengahnya berbaringlah seekor gorila betina beserta banyinya.
"Anego! Wah, lucunya," seru Sogo, berjongkok untuk mengamati sang bayi kingkong.
E… Buset…
Batin Hijikata histeris. Namun, demi kesopanan, tiada satu kata terucap dari bibirnya.
Toshi baru berusaha menerima realita alam liar, saat terdengar raungan.
"Gorila—"
Belum sempat melakukan apapun, siluet hitam melesat.
"Skydive shot!"
JDUAR!
Pak Kondo pun terpental ke atas pohon.
Di balik debu yang berterbangan, muncullah sosok yang tak asing.
"Otae!" seru Toshiro takjub.
"Sudah kubilang Anego jangan berak di WC tamu! Apa harus kupakukan peringatan ke jidatmu dulu baru kau ingat?" bentak nona itu galak.
"Hah…"
Seseorang mendesah lelah di sebelah Toshi.
"Kamu… adiknya Otae?" tebaknya. "Sudah lama tak bertemu."
"Hijikata-san. Terima kasih sudah repot-repot menjenguk," balas Shinpachi.
Toshi nyaris berkomentar. Bagaimana orang ini bisa pasang raut datar di tengah keamburadulan itu.
"Kenapa ada di sini?" tanyanya penasaran. "Oh, maaf. Sebelumnya, bagaimana keadaanmu?"
Shinpachi menjawab dengan sopan, "Saya sudah jauh lebih baik. Mungkin Anda belum tahu, tempat ini adalah dojo mendiang ayah saya. Setahun yang lalu, Kondo-san membelinya. Sekarang, dia dan saya sedang berusaha membangun perguruan shinobi."
Toshi berpikir sejenak.
"Aah… Gabungan kendo dan stalking ya?" simpulnya.
Pemuda berkacamata itu mengangguk sambil tersenyum simpul.
"Karena belum dapat murid, untuk sementara, tempat ini dijadikan tempat singgah Anego, peliharaan kesayangan seorang komandan organisasi intel nasional Jepang. Anego sedang bete dengan suaminya di kampung halamannya di Kyoto."
Perkembangan cerita macam apa ini, batin Hijikata lagi.
Pemuda berambut hitam itu mengamati sekali lagi dinamika ajaib di dojo Shimura bersaudara.
Okita Sogo bermain-main dengan bayi kingkong. Hijikata mempertanyakan dari mana dia mendapatkan informasi tentang Anego. Apakah dia diam-diam telah direkrut sebagai intel juga?
Namun kemudian perhatiannya terpaku pada acara kucing-kucingan Kondo-Otae.
"Mereka berdua itu apa?" tanyanya iseng.
Shimura Shinpachi tertawa.
"Masih seperti tiga tahun yang lalu. Stalker dan korban yang dibuntuti. Sedikit sekali yang berubah."
"Berarti ada yang berubah?" runut Hijikata.
Shinpachi mengangguk. Senyum bahagia menghiasi wajah polosnya.
"Di hadapan semua orang, duo maso dan sadis itu adalah petinju dan karung pasir. Tapi," ujarnya, "ketika tidak ada yang melihat, aneue kadang mengizinkan Kondo-san menggenggam tangannya."
Sang mantan murid termangu. Perjuangan Pak Dosen pun akhirnya membuahkan hasil.
Ia menghembuskan napas. Sudut bibir pria bermata sipit itu terangkat. Ia lega sekaligus terharu.
"Akhirnya Otae sadar juga nilai sejati Gori-san," komentarnya.
Hijikata melipat tangan dan tersenyum puas. Kemudian ia tersadar.
"Hee… Kamu pun ternyata mengikuti jejak Gori, ya, Shinpachi?"
Sambil memperhatikan tingkah laku penuh semangat kakaknya, yang ditanya hanya tertawa.
.
.
.
End.
