Halo Penulis Pemula "Ero Shounen" Disini, Fanfic ini adalah R-18

Jadi bagi kalian yang di bawah umur sebaiknya pertimbangkan kalau mau membaca, karena kedepannya bakan ada cerita ehem-ehem IYKWIM


CHAPTER 1 - Prolog

.

.

.

Di bawah langit yang mendung dengan terpaan angin yang bertiup kencang, seorang anak kecil sedang bergantungan pada sebuah dahan di dinding jurang, anak itu bernama kurogane kotaro, dia merupakan murid akademi ninja desa konoha yang suka berbuat onar. Ketika Perang shiboni keempat dimulai, banyak ninja-ninja senior termasuk guru-guru akademi yang juga ikut kemedan perang, hal ini membuat pelajaran di akademi terhenti. Kotaro yang merasa bosan memutuskan untuk melakukan pertualangan kecil didalam hutang yang pada akhirnya berujung diserang oleh babi hutan dan jatuh kejurang, tapi untungnya dia berhasil meraih sebuah dahan.

"Sial, ini benar-benar buruk, aku akan mati kalau terus begini." Ucap anak itu yang sangat ketakutan ketika melihat tingginya tempat dia bertahan.

Langit semakin mendung dan suara Guntur mulai terdengar, menyadari kalau badai akan datang membuat kotaro semakin khawatir, dia melihar sekelilingnya untuk mencari cara keluar dari situasi ini, pada saat itu dia melihat sebuah lubang didinding jurang yang bejarak 40 meter sebelah kanannya. Awalnya dia ragu untuk pergi ke lubang itu, tapi Guntur yang terus bergemuruh meyakinkannya untuk segera bergerak sebelum badai.

Menggunakan kedua kunai di tangannya, Kotaro segera memanjat kearah lubang. Walau jaraknya hanya 40 meter, itu merupakan perjalanan yang sulit bagi anak kecil pada umumnya, tapi kotaro adalah seorang ninja, dengan penuh usaha dan kerja keras sembari menahan rasa sakit di tangannya, Kotaro akhirnya berhasil masuk kedalam lubang yang merupakan sebuah gua.

Sesaat kemudian hujan lebat mulai turun, kotaro yang masih mengatur nafasnya merasa bersyukur karena dia berhasil mencapai gua tepat sebelum hujan. Tapi meski begitu, dia dihadapkan olah masalah adalah rasa laparnya yang mulai muncul. Dia belum makan semenjak jatuh kejurang, melawan rasa laparnya, kotaro mulai berdiri untuk menyelusuri bagian dalam goa sambil berharap menemukan sesuatu yang bisa dia makan.

Langkah demi langkah dia bejalan kedalam gua, anak itu menyadari kalau semakin dalam dia pergi semakin luas dinding gua, selain itu jalan yang dia lewati bergerak menurun. Waktu terus berjalan dan dia mulai merasa haus karena berjalam tanpa istirahat, Kakinya mulai kesakitan, semanganya yang mulai goyah membuat tubuhnya runtuh.

"Sialan, sampai sejauh mana aku harus berjalan. Jika aku tahu ini akan terjadi, maka aku tidak akan pergi keluar desa." Dia mulai menyesali keputusannya untuk keluar dari desa.

Didalam keheningan tiba-tiba dia mendengar suara, suaranya berasal dari kedalaman gua, meski suara itu kecil tapi dia bisa mengenali suara itu. Kotaro mulai menempelkan telinganya ke prmukaan tanah dan memfokuskan pendengaranya.

"!"

"Tidak salah lagi ini suara air yang mengalir. Hahaha akhirnya aku sudah dekat." Dengan penuh harapan, anak itu mulai berdiri dan berlari sekuat tenaga seolah melupakan rasa sakitnya.


"Apa-apaan ini, Luas Sekali!"

Ketika dia sampai berhasil sampai di tempat asal suara tersebut, Kotaro tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya terhadap pemandangan yang dia lihat. Didalam gua terdapat ruangan yang sangat luas, disana juga terdapat air terjun kecil dengan air jernih yang mengalir. Kotaro yang sudah tidak bisa menahan dahaganya segera berlari keloam untuk meminum air.

"Luar biasa, Airnya benar-benar segar. Tapi-" Sensasi segar memenuhi tergorokannya yang kering. Tapi minum saja tidak cukup baginya, dia masih merasakan rasa lapar. Dia sudah pergi berkeliling, tapi sayangnya kemanapun dia melihat, dia hanya bisa menemukan sebuah pohon besar yang hanya yang hanya memiliki satu buah dengan warna putih yang bersinar di tangkainya.

"Apa buah itu bisa dimakan? Aku bahkan tidak pernah melihat buah sepeti itu." Meski merasa ragu, tapi karena di dorong rasa laparnya, Kotaro memanjat pohon itu dengan susah, hingga pada akhirnya dia dia berhasil mengambil buah tersebut, dan langsung memakan buah tersebut.

"Rasanya benar-benar aneh….Tunggu ini!" Dia merasakan sensasi aneh, seolah cakranya mulai meningkat pesat.

"Apa yang terjadi, kenapa rasanya cakraku tiba-tiba meningkat pesat." Ketika dia masih di kejutkan dengan cakranya yang meningkat, tiba-tiba pohon besar itu mulai begetar dan bersinar. Kotaro yang panik begegas untuk turun dan kabur, tapi sayangnya ranting pohon besar itu mulai bergerak dan menariknya untuk masuk kedalam pohon.

"Tidak, sialan apa yang sebenarnya terjadi, Lepaskan aku….Arghhhhh!"

Dia merontah sekuat tenaga tapi sayangnya itu percuma saja, hal terakhir yang dia bisa lakukan hanyalah berteriak ketakutan sampai suaranya tidak terdengan lagi.

.

.

.

.

.

"Arghhhhh…..ah?" Kotaro yang behenti berteriak karena menyadari tubuhnya baik-baik saja. membuka matanya, dia saat ini berada di dimensi putih yang aneh.

"ini dimana?" Ucapnya yangmelihat dimensi putih yang sangat luas.

"Sepertinya ada yang berhasil datang ketempat ini."

"Uwaahh!" Kotaro berteriak kaget dengan kemunculan tiba-tiba seorang kakek tua yang misterius, dia melompat mundur dan mengeluarkan kunainya.

Kakek tua itu memiliki pucat, dengan keriput wajahnya tuanya. Dia memiliki rambut yang runcing, dengan kunci rambut tergantung didekat telinga kirinya, ia memiliki janggut yang panjang. Dia juga memiliki tonjolan seperti tanduk di dahinya, memiliki sepasang mata Rinnenghan, dan tanpa alis mata, dia juga tanda lingkaran merah dengan dua pola di tengah dahinya, Dia mengenakan kimono putih berukuran penuh dengan motif enam magatama hitam mengelilingi kerahnya tingginya, ia juga mengenakan kalung yang terdiri dari enam magatama berwarna hitam. Pada bagian belakang kimononya terdapat tanda Rinnegan hitam besar dengan pola sembilan magatama tersusun dalam baris tiga kali tiga dibawahnya.

"Selamat datang, Aku adalah Otsutsuki Hagoromo" Ucap Kakek tua itu.

"Otsutsuki Hagoromo? Oi kakek tua ini ada dimana?"

"Mungkin kalian tidak tahu siapa aku, tapi aku juga dikenal dengan nama Rikudou Sennin"

Merasa kesal karena diabaikan Kotaro mulai berjalan kearah pria tua itu "Aku tidak bertanya tentang itu…Aku tanya ini diman-!?" Ketika tangan Kotaro menyentuh Hagoromo, tangannya menembus tubuh kakek itu.

"Apa yang terjadi, tanganku menembus tubuhnya?" Shougo yang kebingungan mulai bertarnya-tanya.

"Itu wajar saja, karena aku hanyalah Salinan jiwa yang di tanam ke pohon ini untuk membimbing orang yang datang kemari. Pertama, tempat ini adalah dimensi yang berada didalam pohon cakra buatanku."

"Pohon Cakra?"

"Kau mungkin tidak tahu apa itu pohon cakra, karena itu aku akan menceritakan asal-usul dan semua rahasia tentang dunia ini."

.

.

.

.

.

.

.

"Karena itulah aku mengajarkan orang-orang cara menggunakan Ninshuu untuk memperbaiki dunia yang mengalami kehancuran dan membawa kestabilan. Tapi ketika aku mengingat asal-usul ibuku, itu membuatku semakin khawatir tentang masa depan dunia ini. Bagaimana jika dimasa depan orang-orang yang berasal dari klan otsutsuki yang sama dengan ibuku datang kedunia ini? Bagaimana jika apa yang kuajarkan tidak cukup untuk melindungi dunia ini?"

"Karena dipenuhi rasa khawartir tersebut aku memutuskan untuk melakukan Dosa besar dengan membuat pohon cakra buatanku dan meninggalkan semua pengetahuanku untuk melindungi dunia ini. Karena itulah, untuk kau yang berhasil datang ketempat ini kumohon pelajari dan pahami semua warisanku demi menghadapi ancaman dimasa depan."

Setelah mengucapkan itu hagoromo menghilang dan ribuan gulungan mulai muncul.

"Ugghhh Bicaramu panjang banget, Kaket Tua! Selain itu, siapa juga yang mau membaca semua gulungan ini."

Tiba-tiba Hagoromo muncul kembali seolah membalas keluhan dari Kotaro."Ngomong-ngomong, satu-satunya cara keluar dari tempat ini adalah dengan menyelesaikan semua tes-ku dan menghapal semua gulungan ini adalah salah satunya, Karena itu lakukanlah yang terbaik." Setelah itu kakek tua itu menghilang lagi.

Meninggalkan Kotaro yang berteriak mengejeknya.

.

.

.

.

Waktu terus berjalan tanpa henti dan begitu juga dengan gulungan yang dibaca oleh kotaro. Dia membaca setiap gulungan dengan teliti untuk bisa memahami isinya yang rumit hingga membuatnya lupa sudah berapa lama dia sudah berada didalam pohon. Selain membaca gulungan Kotaro juga belajar cara mengendalikan chakra dari hagoromo, meski itu latihan yang sulit, dia menjalaninya dengan tekun demi tujuannya untuk bisa keluar dari pohon chakra.

Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan sudah berlalu didunia luar tanpa dikehatui oleh kotaro, hingga akhirnya tanpa dia sadari kalau dirinya sudah selesai membaca gulungan terakhir.

"Yosha, Akhirnya aku berhasil!" Kotaro berteriak mengeluarkan kebahagiaannya.

"Selamat anak muda." Ucap Hagoromo yang tiba-tiba muncul.

"Kakek tua. aku berhasil menyelesaikan semua gulungan, sekarang tepati janjimu."

"Tentu saja, Hanya Jika kau bisa menyelesaikan semua ujian-ku."

"Tapi aku sudah menghapal gulungan itu!" Ucap kotaro yang menunjuk semua guluagan yang menumpuk dengan emosi

"Sudah kubilang bukan, kalau itu hanya salah satunya."

"Apa?"

"Dan sekarang kita akan memulai ujian kedua." Ucap Kakek tua.

"Dasar…..KAKEK TUA SIALAN!"

.

.

.

.

Bersambung