RRR adalah milik SSR dan teman serta sanak keluarganya sapa-sapa aja ga apal :p saya cumak pinjam setting dan karakternya untuk hura-hura semata.
summary: Aku jatuh dalam pesonanya. Akankah ia jatuh dalam dekapanku?
warning/note: ooc, bucin gombal, dontkalmimemsaabitisjeniyes's POV, tbh ini cuma jadi RRR versi shojo manga lol. Anggap aja dialog yang italic autotranslet yes.
Namaskaram! Saya tidak fasih dalam budaya India pada umumnya dan budaya Telugu pada khususnya, apalagi budaya Bri'ish lol. Bila menemukan ketidaksesuaian atau kesalahan mohon berbaik hati untuk mengoreksi yaak. Selamat membaca~
fic ambyar binti spesiyal untuk memperingati ulang tahun naa Tarak annayya ehehe
DEKAP
Setelah teman di sampingnya berkata sesuatu dalam bahasa yang asing di telingaku, pria itu menggeleng setengah bingung. Setelah pertanyaanku mengenai tumpangan diterjemahkan, ia mengangguk setengah bimbang. Temannya yang klimis itu menyeringai puas mengiringi kepergian sepeda motor yang kubonceng bersamanya.
"Bisa tolong mengantarku ke pasar?"
"Pasar...? Aah ya ya!"
Nada canggungnya mulai berkurang. Untunglah ia paham 1-2 kosakata bahasaku. Pria berambut ikal di depanku mengendarai sepeda motornya dengan halus. Banyak orang berlalu-lalang di jalanan menuju pasar, ia mampu melewatinya tanpa bersenggolan. Suara salam saling bersahutan antara dirinya dan orang-orang yang berpapasan. Lebih dari cukup bagiku untuk menyadari ia sangat akrab dengan lingkungan ini. Aku mencoba ikut meniru salamnya.
"Namaste."
Beberapa orang sempat kaget mendengar salamku, lalu membalas dengan dua telapak tangan tertangkup dan tersenyum. Benar-benar ramah! Menyenangkan sekali. Tidak sia-sia usahaku membujuk Paman Scott yang terkenal pelit untuk mengajakku ke negeri ini. Pengalaman yang didapat di tempat baru selalu menjadi kenangan yang berharga. Aku melepas pegangan, mencoba ikut menangkupkan kedua telapakku.
"Memsaab, hati-hati nanti jatuh. Tolong tetap berpegangan di sepeda."
Hanya kata Memsaab yang kumengerti sebagaimana semua orang di sini memanggilku demikian. Apa yang ingin dia sampaikan? Aku sedang asyik bertegur salam dengan orang di sekitarku, tidak menghirau bahwa kondisi jalan sudah berubah. Semakin ke daerah pinggir, jalan aspal makin sedikit menjadi jalan tanah dengan gundukan tercecer di sana-sini. Pria itu masih berkendara dengan waspada. Tak dinyana kerumunan orang memaksanya untuk melajukan sepedanya di lajur kosong namun berbatu.
Demi jenggot Raja George. Aku tersentak saat sepeda yang kutumpangi bergoncang hebat menabrak sebongkah batu yang tak terhindar. Topiku hampir melayang kabur. Secara reflek kutautkan kedua tanganku erat-erat pada sang pengendara. Badanku menempel pada punggung yang tegap. Entah berapa lama kami seperti ini. Relief jalan yang tak karuan mengurungkan niatku untuk lepas darinya.
"Maaf, Memsaab. Anda tidak apa-apa? Kuantar lewat jalur yang lebih aman saja, ya?"
Lagi-lagi hanya kata Memsaab yang kumengerti. Kepalaku masih tersandar di belakang bahunya. Baju putih longgarnya menjadi rapat dalam lingkar tanganku, mengungkap tubuh yang tak kusangka berisi otot kekar. Daun telingaku yang tersemat di punggungnya menangkap debar-debar yang teredam bising mesin sepeda.
Panorama berangsur-angsur berganti. Yang tadinya area penuh bangungan dan penduduk, kini di hadapanku terbentang hamparan padang rumput di satu sisi dan danau luas di sisi lainnya. Perbukitan hijau rindang terpagar di sepanjang cakrawala. Segarnya angin menerpa wajah, membuatku menegakkan kepala. Cahaya matahari terpantul di permukaan air membentuk serpihan-serpihan berkemilau. Dari kejauhan seekor rubah terdiam di sela-sela ilalang menatap kami heran sebelum berlari dan menghilang ke dalam rimbunnya semak. Baru kuketahui ada tempat seindah ini di Delhi.
"Pemandangannya keren, kan, Memsaab? Ini sebagai permintaan maaf atas perjalanan yang kurang mengenakkan tadi."
Dia mulai berbicara lagi. Mungkin tentang deskripsi alam atau sejarah lokasi ini. Jalan sudah kembali mulus. Aku belum meregangkan pegangan.
"Lewat sini sebenarnya agak memutar kalau mau ke pasar. Tapi bisa sambil menikmati alam bukan hal yang buruk. Bhaiyya yang memberitahuku tentang tempat ini. Bila kemari di malam hari yang cerah, tiduran di rerumputanmemandang bintang juga tidak kalah keren. Tapi yang paling kusuka adalah berlomba balap bersama Bhaiyya di jalanan ini, aku dengan sepedaku, Bhaiyya dengan kudanya. Omong-omong Bhaiyya, Bhaiyya-lah yang membantu mempertemukanku dengan Memsaab. Aku harus berterima kasih pada Bhaiyya sepulang nanti. Hehe."
Satu Memsaab dan lima Bhaiyya. Apa itu Bhaiyya? Nama hewan khas daerah sini? Yang bisa kumengerti adalah nada antusias yang teramat kentara. Ia memalingkan wajahnya ke samping, mengerling untuk mempertahankan kontak percakapan. Sorot matanya meneduh dan pipinya yang terbungkus jenggot menembam kala tertawa. Entah mengapa jadi ingin kucolek penasaran seempuk apa pipinya.
Celotehnya terus berlanjut. Sebelah tangannya kadang menunjuk pada vegetasi atau struktur yang tampak unik. Seandainya aku mengerti bahasa yang ia ucapkan, aku pasti bisa menjadi pemandu teman-temanku saat mereka berkunjung kemari nantinya. Riuh rendah banyak orang kembali mengisi suasana. Tak terasa kami sudah sampai di pasar.
Aku lupa apa kalimat yang tadi ia ucapkan seraya menunjuk tasku untuk dia bawakan. Tapi aku tidak bisa lupa senyum supelnya ketika kutitipkan tasku padanya dan kuucapkan terima kasih. Langkahnya kecil-kecil, berusaha menyamai kecepatan langkahku dari belakang. Kulihat kanan kiri berbagai macam kios dan kedai. Kamera Rolleiflex siap di tangan. Menjelajah pasar kulakukan dengan santai. Masih ada banyak waku sampai acara pesta nanti siang. Dari mana sebaiknya kumulai—
"Awas, Memsaab!"
Sebuah lengan besar muncul dari samping, menyambar badanku mundur. Punggungku menumbuk pada dada yang bidang. Seekor lembu masif berjalan pelan tepat di depan ujung hidungku. Lonceng di lehernya berdentang-denting mengumandangkan keberadaannya agar diberi ruang gerak. Pria di belakangku mengatakan sesuatu pada gembala yang menggiring lembunya. Dari ekspresi kalem si gembala kusimpulkan tidak ada yang dipermasalahkan. Syukurlah. Aku bisa meneruskan kegiatan dengan tenang. Kulangkahkan kakiku. Aku hanya berjalan di tempat. Eh?
"Um… permisi, lengan… Lenganmu…"
Dia mengerti ucapanku tidak ya? Atau dia tidak mendengarkanku? Lengannya masih mengunci kuat sampai badanku tidak bisa berkutik. Kutoleh ke belakang, sepasang mata bergerak tajam ke segala arah memindai lingkup kami, memastikan tidak ada lagi ancaman yang menghadang. Punggungku rasanya memanas. Senyum tipis tersimpul di wajahku. Kutepuk ringan lengan yang membelit pinggangku, membuyarkan konsentrasinya. Serta merta ia mengangkat kedua tangannya.
Berbalik badan, kini aku bertatap muka dengannya. Iris cokelat dihias setitik pantulan jernihnya langit. Warna amber gelap yang mengingatkanku pada harimau. Sejenak napasku tercekat. Aku tidak terlalu memperhatikannya saat awal bertemu tadi. Sekali lagi kuucapkan terima kasih dan ia menjawab dengan goyangan kepala. Kuharap itu artinya dia mengerti.
Kulanjutkan pendokumentasian hari ini. Kalung manik berbagai warna, hiasan kepala berbagai bentuk, mainan kayu berbagai ukuran. Kuabadikan apa saja yang menarik perhatianku sambil melihat-lihat barang yang sebaiknya kubeli untuk oleh-oleh. Anak perempuan India yang Bibi Catherine ajak untuk tinggal di mansion kami masih saja murung. Nyanyiannya merdu namun sendu. Aku ingin menghadiahinya sesuatu untuk melipurnya.
Pria itu berbincang sepanjang jalan. Mungkin dia sedang menjelaskan tiap-tiap barang yang hendak kupotret. Saat nada bicaranya seperti bertanya, dengan menyesal kutanggapi sekenanya. Sama sepertinya, aku pun hanya mengerti 1-2 kosakata bahasa mereka. Dia menunjuk diriku, kemudian ujung jari-jarinya disatukan membuat sudut menyerupai atap lalu kedua tanganya terbuka menyamping.
"Oh maksudmu rumahku besar? Memang megah, tapi, um, tapi tidak terlalu bagus juga. Tidak terasa seperti rumah."
"Bolehkah aku melihat rumah Anda, Memsaab? Bisakah aku berkunjung ke rumah Anda?"
Aku yakin dia berbicara tentang rumah. Selebihnya aku tidak mengerti apa yang dia ingin bahas mengenai rumahku. Kami berdua sama-sama menghela napas frustrasi. Tapi dia tidak menyerah dan membuka obrolan baru.
"Mee peru? Peru... uhh... N-naam?"
"Naam…? Ah! Nama? Namaku?"
Meski bukan bahasa serumpun, aku bersyukur satu kata ini pengucapan dan artinya mirip dengan bahasa ibuku. Dia pun tampak ceria ketika aku memahami maksud ucapannya.
"Siapa nama Anda, Memsaab?"
"Jangan memanggilku Memsaab. Cukup Jenny saja, ya."
Dua kali kuulang jawabanku agar tidak ada Memsaab lagi di antara kami. Kelopak matanya melebar dan pupilnya membundar mengikuti gerak bibirku. Mengapa ia memelototiku sampai segitunya? Aku tertawa kecil menahan gemas.
"Bagaimana denganmu? Siapa namamu? Naama… muu..."
Kupanjangkan tiap kata sambil menunjuk dirinya untuk memperjelas maksudku. Matanya berbinar mengisyaratkan paham. Sudut-sudut bibirnya membentuk utas yang mengalahkan bulan sabit di malam tak berawan.
"Akhtar."
Akhtar. Akhtar. Namanya berdengung di telingaku. Senyumnya tertambat di mataku.
.
.
Kasur dan tumpukan bantal bulu angsa tidak sanggup memanjakan letihnya hari ini. Bercak lembab masih membekas di pakaianku seusai Malli menumpahkan emosinya. Gadis mungil itu menangis sejadi-jadinya saat kuberi sebuah gelang kuning bermotif dari pasar. Sekarang ia terlelap kelelahan di kamarnya yang berjeruji, menggenggam hadiah barunya dekat di dada.
Gelang tersebut dibuat oleh pria itu. Akhtar. Apakah terdapat makna spesial untuk anak-anak India di balik ornamen yang ia torehkan? Apabila kutanyakan padanya, apakah aku bisa mengerti apa yang ia sampaikan? Dahiku berkerut kesal. Kuubah posisi rebahku mencari kenyamanan. Menoleh ke samping ranjang kudapati lukisanku berdiam di sisi jendela. Sayap burung bulbul itu sabar menanti diberi warna agar dapat terkepak.
Aku mendesah. Tidak ada yang ingin kulakukan. Tidak mencetak foto. Tidak menyelesaikan lukisan. Pikiranku tengah dipenuhi satu hal. Meluncur dari bibirku begitu saja.
"Akhtar."
…Ya, ya. Aku tahu. Belum genap sehari aku berkenalan dengannya. Hanya bertukar nama yang berhasil kami capai dengan susah payah. Tapi degap-degup jantungku yang kian menyesakkan ini bukan hal yang bisa dipungkiri. Sejuknya angin tepi danau berlawanan dengan panas semangatnya bercerita ketika aku melekapnya di atas sepeda. Lembut sinar matanya menatapku berlawanan dengan tegas sorot matanya memperhatikan sekitar ketika dia merengkuhku di pasar. Hangat tubuh kami saat berlekatan masih bisa kurasakan. Akhtar—
Tok tok.
Ketukan pintu mengakhiri pengembaraanku di dunia angan. Seorang pegawai meminta ijin untuk memasuki kamarku membawakan sebuah kotak gaun. Kulirik jam dinding. Sudah waktunya bersiap-siap untuk pesta dansa yang sudah lama ingin kuhadiri. Siapa yang bisa memprediksi hidup, bilamana kemudian yang paling kunanti-nantikan hari ini bukan lagi pesta, melainkan dia.
Di tengah kepanikan dalam hati saat pengawal tiba-tiba menjemputku di pasar tadi, tanpa pikir panjang aku memberikan Akthar kartu undangan pesta. Pesta yang pastinya sangat mendadak baginya. Yang terlintas di pikiran saat itu hanyalah aku ingin bisa bersamanya lebih lama lagi, mengenalnya lebih dekat lagi. Akankah ia datang memenuhi undanganku?
.
.
"Kau tahu tidak, Jennifer, perbedaan antara flamenco dan fandango blablablah—"
Telingaku jenuh oleh ocehan lobak berkumis di hadapanku. Aku mencoba bersabar karena bagaimanapun Jake adalah teman. Sesekali mataku mencuri pandang ke arah gerbang. Sosok yang kuharapkan belum juga nampak. Pesta ini terasa berlangsung sangat lambat. Akan kukambinghitamkan cuaca terik bila kegalauanku ketahuan oleh para sahabatku.
"Jika kau butuh rekan dansa, Jennifer, aku—"
Segala suara menghening dan segala citra memburam. Hanya dia yang tertangkap oleh indraku. Seakan tadi pagi belum cukup, setelan jas biru kelabu memberinya tambahan daya tarik. Ia membawa kartu undangan dengan penuh percaya diri, langkahnya mengayun tanpa ragu. Hm? Apa itu kelap-kelap di sekitar Akhtar saat aku melihatnya? Dan siapa kentang berkumis yang berjalan bersama di sebelahnya?
Kuhampiri Akhtar dan langsung kugamit lengannya. Dari dekat kuamati tatanan rambut ikalnya agak berubah dan jenggotnya menjadi lebih rapi. Kentang berkumis di sampingnya berbicara dalam bahasaku. Sepertinya pernah lihat. Ohh. Kalau tidak salah ingat dia teman Akhtar yang selalu menyeringai ketika roda mobilku kempis tadi. Baiklah, tidak usah dipikirkan lebih jauh. Aku ingin segera mengajak Akhtar ke lantai dansa.
"Tangan kiri di sini… tangan kanan di sini. Satu langkah mundur. Mundur lagi, lalu ke samping. Begitu."
Awalnya dia sedikit kaku mempelajari gerakan yang baru baginya. Satu menit berlalu dan aku sudah tidak perlu mengarahkan dansa kami. Ritme kakinya menunjukkan dia bukan pemula. Tangan kirinya menggenggam tangan kananku, hangatnya melebihi perkiraanku. Tangan kanannya di pinggangku, berbeda dibandingkan sewaktu dia mencegahku bertabrakan dengan lembu, kali ini yang kurasakan adalah kelemahlembutan.
"Apakah Anda sudah memberikan gelang itu, Memsaab? Bolehkah aku ke rumah Anda?"
Rupanya dia belum bosan berbincang denganku. Aku senang walaupun terpaksa menjawab sekenanya juga. Sekilas rautnya cemas diselingi cercah gelisah. Apa gerangan yang membuatnya demikian? Apakah musiknya? Ataukah gaunku? Sungguh disayangkan aku tidak mengerti satupun ucapannya. Sedikitnya aku ingin kami berdua sama-sama terhibur.
"Para pecundang ini mengira mereka bisa berdansa?!"
…Lalu Jake mengacau. Oh kumohon. Untuk apa dia merundung Akhtar. Tak lama berselang, gemuruh tabuhan simbal dadakan membahana. Teman Akhtar membantunya bangkit berdiri. Seketika mereka berdua bagai menciptakan lampu sorot di lapangan siang bolong.
"Kau tahu Naatu?"
Dan setelahnya, hanya satu kata yang berulang muncul dari benakku. Wow. Kuulangi. WOW! Gemulai tariannya, gelora nyanyiannya, gesit harmoninya. Ini jelas-jelas jauh lebih dari sekedar 'bukan pemula'. Dia menyuguhkan sebuah pertunjukan yang saking dahsyatnya membuat tanah bergetar dan debu beterbangan akibat hentakan kakinya. Teman Akhtar juga menari dengan bagus.
Hampir semua hadirin terdorong untuk bergabung dalam tarian mereka. Bahkan Jake yang tadinya hanya berdiri sambil marah-marah sekarang pun turut menari sambil marah-marah. Lembaran jas berserakan, gaun-gaun berkibaran. Aku hampir kehabisan napas dan memutuskan untuk menepi. Tangan Akhtar menahan lenganku, melarangku untuk berhenti. Keceriaannya mengusir capaiku untuk sesaat.
Rona cemas gelisahnya telah sirn. Dengan tenaga yang tersisa aku menghela napas lega melihatnya tertawa gembira. Menyadari kapasitasku yang menipis, Akhtar merelakanku duduk istirahat di pinggir arena bersama yang lain. Satu persatu badan terjatuh dengan debaman keras tanda menyerah, menyisakan dua penari yang jiwa kompetitifnya setinggi langit. Seluruh mata terbelalak menyaksikan atraksi akbar yang tengah terjadi.
"Ram! Ram! Ram! Ram!"
Para gadis menyerukan nama teman Akhtar tanpa mempedulikan berapa banyak pria yang patah hati hari ini. Aku tidak boleh kalah dari mereka. Meski seorang diri kuteriakkan nama Akhtar. Suaraku terkubur dalam gegap sorak sorai dan caci maki, kecil kemungkinan ia menyadari dukunganku. Ia sangat fokus menari menghadapi pesaing sekaligus sahabat.
Sesaat Ram seperti melirik ke arahku. Apakah ada orang yang ia taksir duduk di dekatku? Sekalipun setelah itu tariannya mendadak jadi oleng dan terjatuh, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kecewa dan malah menyeringai bahagia. Aku tidak terlalu ambil peduli, karena yang terpenting adalah itu artinya Akhtar keluar sebagai jawara!
"Yeah!"
Ia melompat girang dengan kepalan tangan terangkat seperti anak kecil. Raung kemenangannya menggaung di seluruh arena, menandingi tepuk tangan yang menyelamati prestasinya. Butir-butir keringat di wajahnya bergelimang, menambah kelap-kelip yang kulihat muncul di sekitar dirinya. Aku hampir lupa bernapas.
Akhtar yang kikuk saat pertama bertemu. Akhtar yang baik saat memberiku panorama indah. Akhtar yang serius saat melindungiku dari bahaya. Akhtar yang manis saat mengajakku berbicara. Akhtar yang menawan saat menari bersamaku. Akhtar.
Aku jatuh dalam pesonanya.
BERSAMBUNG
Jai jai jr NTR yay …ehem uhuk. Untuk fans Ram anna, monmaap karena ini fic pake pov orang yang lagi bucin bikin dunia milik berdua yang laen ngontrak en kefilter jadi lobak dan kentang lmao.
Untuk para pembaca budiman terima kasih sudah mampir, tetap jaga kesehatan jaga cairan tubuh minum 8 galon aer sehari biar ga kehausan kayak coretsayacoret nonik jeni yes :D
