RRR adalah milik SSR dan teman serta sanak keluarganya sapa-sapa aja ga apal :p saya cumak pinjam setting dan karakternya untuk haru-haru semata.
summary: Aku jatuh dalam pesonanya. Akankah ia jatuh dalam dekapanku?
warning/note: ooc, bucin gombal, dontkalmimemsaabitisjeniyes's POV yang mana menjadi RRR versi shojo manga hahah. Anggap aja dialog yang italic autotranslet yes.
Namaskaram! Penpik ini dipisah menjadi 2 bab semata disebabkan kegajean authornya. Selamat membaca~
fic ambyar binti spesiyal untuk memperingati hari ulang tahun naa Tarak annayya ufufu
DEKAP
Setelah dia memanggilku Memsaab, aku mengoreksinya setengah cemberut. Setelah dia memegang perutnya mengisyaratkan lapar, aku beranjak keluar setengah tergesa. Gara-gara Opsir Robert meributkan hal yang tidak penting di pintu depan tadi, aku sampai lupa meminta tolong pegawai untuk mengantarkan makanan ke ruanganku. Dahiku berkerut seraya membuka pintu dapur.
"Permisi. Apakah masih ada kue atau roti untuk temanku?"
"Akan segera kami siapkan, Ma'am."
Teman. Sebatas itu istilah yang bisa kuutarakan untuk menyebut hubunganku dengannya. Seperti Maggie adalah temanku. Seperti Jake adalah… yah, dia masih temanku. Tentu saja aku ingin hubungan ini bisa berlanjut menjadi lebih dari sekedar teman. Karena itulah kumantapkan diri untuk mengajak Akhtar ke mansion seusai pesta tadi, tetapi sambutan yang didapatnya tidak semantap niatanku. Bodohnya diriku.
"Ma'am. Ma'am. Yang Anda oles di roti bukan selai kacang."
Salah satu pegawai dapur menyadarkanku dari satu kebodohan baru. Roti bersalut pasta kunyit menjadi sia-sia di tanganku. Kuputuskan untuk berhenti membantu dan duduk di pojokan, membiarkan para ahli yang melakukan keahlian mereka.
Semangkuk puding, setumpuk scone, seloyang tart. Kira-kira cukup tidak ya? Energinya pasti banyak terkuras untuk menari, apalagi dia mengalami kram hingga digendong oleh Ram. Para pegawai berjalan bersamaku membawakan semua hidangan itu dengan tangkas, tak satupun remah yang bergeser dari tempatnya. Aku juga ingin percaya diri seperti mereka. Semangatku sedikit pulih.
"Maaf membuatmu menunggu, Akhtar. Ada puding, biskuit dan kue…"
Akhtar masih berdiam di kursinya. Namun kulihat napasnya agak terengah. Aku kembali duduk di dekatnya. Jemari kedua tangannya saling meremas. Cemas menyelimuti rona wajahnya lagi. Sepasang mata tampak berkaca-kaca, seolah satu sentuhan di pipinya akan mengurai air mata yang tertahan.
"Maaf, Mem—Jenny. Sebaiknya aku segera pulang."
Nadanya terdengar sedih sekaligus marah. Apa yang telah terjadi selama aku meninggalkannya ke dapur? Apakah rundungan beruntun dari Jake dan Robert yang menderanya hari ini sudah mencapai ambang batas baginya? Selesai menata hidangan, seorang pegawai yang sedikit banyak mengerti bahasanya memberitahuku apa yang barusan Akhtar ucapkan. Meski pegawai tersebut menerjemahkan pertanyaanku, tidak ada jawaban yang terujar. Ia tidak lagi menatapku. Aku tertunduk lesu. Dengan hati terbeban aku mengantarnya ke teras. Kue-kue itu teronggok sia-sia di mejaku.
"Terima kasih, Jenny."
Suaranya lirih. Samar-samar aku dapat menangkap senyumnya yang sekejap muncul lalu melenyap. Masih senyuman lembut yang sama. Kuharap itu artinya dia tidak membenciku. Andai aku bisa menawarkan undangan pesta besok lusa di mansion ini, tapi para penyelenggara sudah menegaskan perayaan pelantikan Paman Scott hanya untuk tamu terbatas. Lambaian tanganku terasa berat saat ia berpamit masuk ke dalam mobil bersama seorang pengemudi.
Gerbang besi telah menutup. Mobil yang ditumpangi Akhtar telah hilang dari pandangan. Aku menghela napas panjang. Mengapa tadi tidak kuhibur dirinya? Sekedar menggenggam tangannya? Aku ingin mendekapnya dan mengatakan padanya semua akan baik-baik saja, menenangkan hatinya meski tidak tahu apa yang sedang dihadapinya. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
.
.
"Sungguh tata lampu yang luar biasa! Cuacanya cerah, ya!"
Bahan basa-basi yang bisa kulontarkan sudah hampir habis. Wajahku hampir kelu memasang senyum untuk setiap orang yang kutemui di pesta malam ini. Di teras depan terlihat Malli berdiri dalam bisu di samping Bibi Catherine yang sibuk menyambut para tamunya. Bahkan dalam meriah alunan musik dan senda gurau, gadis itu lebih muram dari biasanya. Belum pernah satu kalipun dia tertawa selama tinggal di mansion.
Beberapa jenis camilan kusatukan dalam piring kecil. Akan kucoba mengobrol menggunakan permen sebagai umpan. Semoga ia mau membukakan hatinya padaku. Dinding bahasa tidak akan menghalangiku, sama seperti ketika aku bersama pria itu. Akhtar. Di mana dia sekarang? Kami berpisah dalam suasana yang murung dan dua hari berlalu tanpa dapat kuketahui kabarnya. Memikirkan dirinya menyebabkanku hampir menabrak tiang lentera dalam perjalananku menghampiri Malli.
Lalu sebuah truk berkecepatan tinggi tiba-tiba memasuki lapangan pesta menabrak tiang dan mobil. Kain yang menyelubungi bak belakangnya tersingkap. Lusinan binatang buas melompat keluar dari kandang-kandangnya. Di tengah-tengah mereka seorang pria gahar turut melompat membawa obor, bagai gembala yang tak kalah buas dari ternaknya. Cat perang tercoreng di wajah itu. Siluet tubuh itu, rambut ikal itu.
Akhtar?
Kekacauan melanda. Semua orang lari berhamburan berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Jeritan manusia dan auman hewan saling betumpang tindih. Piring yang kubawa sudah jatuh pecah saat berbenturan dengan kepanikan di sekitarku. Sambil berlindung di balik meja saji kulihat Malli dan Bibi Catherine dikawal oleh Robert masuk ke dalam mansion. Syukurlah.
"Malli!"
Suara lantangnya bercampur putus asa. Suara yang sangat kukenal. Benarkah itu Akhtar? Ia mengenal Malli? Rasa penasaranku mengalahkan rasa takut. Dengan sangat waspada aku bersembunyi di balik satu benda ke benda lainnya yang bisa membentengiku dari kerusuhan ini. Aku berusaha mengendap-endap ke arah pria yang tengah menghajar para polisi lalu bergulat melawan leopard dan harimau.
Tangan pria itu masih terkepal penuh emosi, keinginannya segera mencapai pintu depan teras terhambat satu polisi yang langsung terkapar menerima tonjokannya. Dari balik mobil di sampingnya aku berjalan perlahan, tidak ingin mengagetkannya. Bagai dirasuki Insting pemburu ia langsung berbalik badan begitu merasakan ada sosok yang mendekatinya.
Kepalan tinjunya terhenti sebelum sempat mengenaiku. Kami berdua hanya saling beradu pandang tanpa bergeming. Bijih amber gelap itu milik Akhtar yang baik dan manis, sorot mata itu dipenuhi amarah dan putus asa. Siapa Akhtar yang sebenarnya?
"Anna! Anna!"
Pekikan Malli terdengar dari kejauhan. Akhtar memejamkan matanya dalam-dalam, lalu mencengkeram lenganku dan menggiringku masuk ke dalam mobil kosong. Aku masih tertegun menatapnya dari balik jendela mobil. Telapakku menempel pada kaca jendela, ingin meraihnya. Sedetik ia balas menempelkan telapaknya dari luar sebelum bergegas pergi. Dia masih Akhtar yang sama, Akhtar yang senantiasa melindungiku dari bahaya.
Hanya sekelebat-sekelebat peristiwa yang dapat kuamati dari dalam mobil. Kereta kuda yang terbakar dan terjungkal melayang tinggi. Kembang api yang meledak di sana-sini. Kolam air mancur yang hancur lebur. Aku hanya bisa berdoa semoga tidak akan terjadi yang lebih buruk setelah ini.
Begitu situasi berangsur mereda, kuberanikan diri keluar dari mobil. Aku yakin Akhtar menuju taman belakang tempat Malli berada. Melewati jalan tembus kuputari mansion dan sampai di pekarangan perdu tak jauh dari gazebo. Ujung senapan Paman Scott teracung pada Malli. Akhtar bergelantungan di beranda, tangannya terikat oleh seutas tali yang ditarik oleh Ram yang berseragam khaki. Keduanya penuh luka dan bergelimang darah. Air mataku menetes.
.
.
Komaram Bheem.
Nama yang terlantun di antara gelegar cambuk dan erang kesakitan. Akhtar. Bheem. Itukah jati diri yang sebenarnya? Seorang pria yang hanya menginginkan adik kecilnya kembali. Melakukan perjalanan lebih dari 700 mil ke kota yang asing baginya, menantang kekuatan dari kekuasaan yang asing baginya, demi adik yang bahkan tidak sedarah dengannya.
Sungai merah yang mengalir dari panggung siksaan itu sudah mengering. Pemberontakan yang tersulut oleh nyanyiannya sudah memadam. Mataku masih sembab, hidungku masih merah, aku tak sanggup menahan mual bila mengingatnya lagi. Kekejaman Paman Scott. Kesadisan Bibi Catherine. Entah apa yang Ram pikirkan ketika ia melecutkan cambuk berduri itu pada sahabatnya, yang bisa kulihat adalah nanar pilu matanya melebihiku saat itu.
"Hari ini pun tidak bisa?"
"Maafkan kami, Ma'am. Tidak ada yang boleh masuk."
Isak tangis anak perempuan terdengar lagi dari balik pintu yang dijaga pengawal. Mengunjungi Malli yang disekap di dalam mansion ini pun aku tidak diperbolehkan, terlebih ke penjara tempat Bheem mendekam. Tidak ada hari yang kulewati tanpa mengkhawatirkan kedua tahanan tersebut. Apakah Malli cukup makan? Apakah ada yang merawat luka-luka Bheem? Sepiring roti selai kutitipkan pada pengawal, seperti kemarin dan kemarinnya, berharap ada perubahan kebijakan seiring berjalannya waktu.
"Bagaimana dengan hari ini?"
"Maafkan kami, Ma'am. Anak itu belum kembali sejak dibawa pergi bersama Governor tadi pagi."
Akhirnya ada yang berubah dari kalimat para pengawal, tapi tetap saja tidak mengurangi kekhawatiranku. Belum sampai aku menanyakan maksud jawabannya, suara dobrakan pintu depan memutus percapakan kami. Paman Scott memasuki mansion dengan teriakan serapah. Semua yang masuk di lapang pandangnya mendapat cerca.
"Sampah cokelat kurang ajar! Dia pasti juga bermaksud kabur setelah melepas teroris dan bocah itu! Hajar sampai dia memuntahkan semua rencana busuknya!"
Teroris dan bocah? Siapa yang Paman maksud? Jantungku berdenyut nyeri. Aku berdiri merapat di dinding lorong menanti bentakan dan amukan berkurang. Edward, asisten pribadi merangkap sekretaris merangkap bendahara kepercayaan Paman Scott, keluar dari ruang panas itu dengan lemas. Kusambar dia dan meminta penjelasan atas segala yang terjadi. Keengganannya terpatahkan oleh sepiring roti selai dan pelototan galakku. Mungkin salah dengar tapi ia seperti bergumam 'aww' sebelum menceritakan semuanya.
.
.
Jalan ini sepertinya sudah kulewati dua kali hari ini. Biarlah. Mobilku memang kukendarai tanpa tujuan. Hari-hari kulalui dengan menghabiskan bahan bakar. Aku hanya tidak ingin berlama-lama di dalam mansion, satu atap bersama Paman dan Bibi. Beberapa kali aku berpikir untuk kembali ke London agar bisa segera melupakan kenangan menyakitkan di tempat ini.
"Segera laporkan bila kalian menemukan petunjuk atau mengetahui keberadaan napi yang kabur itu!"
Suara inspektur polisi bergema dari corong. Dua baris polisi yang mengekorinya memenuhi setengah sisi jalan, membagikan selebaran poster buron kepada orang-orang di sekitar. Pemandangan ini telah menjadi rutinitas di tiap pelosok Delhi beberapa bulan ini. Kuputar haluan mobil, menghindari berpapasan dengan jalur patroli mereka.
Cinta? Asmara? Atau sekedar terpikat? Bheem yang sepintas singgah dalam hidupku sebagai Akhtar. Bheem yang berjuang demi orang-orang desanya sebagai pelindung. Bheem yang belum juga menghilang dari pikiranku, ia membawa kemudiku untuk kesekian kalinya kembali pada tempat ini. Padang rumput di tepi danau ini. Bila memang hanya terpikat dalam pesona sesaat, mengapa dadaku perih tiap kali mengingat tawanya, laranya, amarahnya, semuanya.
Kuparkirkan mobil di bawah pepohonan rindang. Kuhirup angin segar yang behembus. Aku ingin bisa mengagumi panorama yang terpapar di hadapanku seperti dulu. Tapi semua tampak kabur tertutup air mata. Meski bukan anak pingit, ketidaktahuanku atas apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini sungguh memalukan. Kusandarkan dahiku pada kemudi mobil supaya yang menetes tidak membasahi pipi. Merdu kicauan burung yang melintas kuabaikan. Suara orang yang memanggilku kuabaikan. Eh?
"Madam. Permisi, Madam."
Seorang pria India setengah baya dengan kepala bersorban muncul dari balik pohon. Dengan was-was ia mendekati mobilku, sesekali menoleh kanan-kiri seolah takut akan ada yang memergokinya. Kedua telapaknya menyatu memberi salam.
"Namaste, Madam. Maaf atas lancang saya. Saya Venkateswarulu, paman dari Ram. Berapa hari ini saya mengikut jalur yang Anda selalu lewat. Ada yang mau saya sampaikan."
Dengan Bahasa Inggris yang patah-patah ia memperkenalkan diri. Kerabat Ram. Mualku mendadak kambuh. Hampir tiap hari kudengar prajurit yang melapor ke mansion bergosip tentang jenis siksaan yang sudah dan akan dilakukan padanya. Orang tua di depanku tampak pasrah, namun nyalinya sama sekali tidak ciut. Ia mulai berbicara. Mataku membulat tak percaya.
.
.
"Eh… Tapi aku ingin hasilnya jadi kejutan. Bukannya tadi Paman juga bilang hendak mengunjungi teman spesial? Tidak apa! Bisa kupasang sendiri, kok!"
TIdak butuh waktu lama untuk menyelinap ke ruang kerja Paman Scott, jika itu layak disebut menyelinap. Cukup dengan alasan ingin memajang hasil foto dan lukisanku di ruangannya. Dia bahkan tidak menyadari aku sudah jarang bicara dan menjauhinya sejak pencambukan publik itu, mungkin memang hanya sebatas itu saja perhatiannya padaku. Kertas yang kucari ada di dalam lacinya yang tidak terkunci, tinggal menyelipkannya ke dalam gulungan kanvas yang sengaja kulebihkan.
Paman Ram akan menungguku di tepi danau seperti kemarin. Hukuman gantung yang akan dijatuhkan pada keponakannya tinggal sehari lagi. Segera kutancap gas dan keluar dari mansion. Setelah sekian lama, akhirnya mobilku melaju dengan tujuan pasti. Ram mengorbankan dirinya sendiri untuk membebaskan Bheem dan Malli. Jika bisa membantunya, itu sudah cukup bagiku. Aku tidak berharap muluk untuk bisa bertemu Bheem kembali, tidak dengan kondisi dia masih menjadi buronan paling dicari.
Di sela-sela ilalang tampak berdiri sosok seorang tua bersorban. Mobilku berhenti di pinggir jalan dekat ia berada. Saat mengetahui kedatanganku, ia justru jalan berbalik menjauhiku lalu membungkuk sambil menunjuk ke arahku. Tersembunyi ilalang tinggi, di sampingnya muncul sesosok baru yang bangkit berdiri. Sosok yang yang kurindukan.
Bheem.
Napasku tercekat. Dadaku memerih. Kini kami saling berpandangan, tanpa suara, tanpa gerakan. Tak ubahnya pertemuan terakhir kami di pesta malam itu. Luka-luka di wajahnya sudah sembuh namun meninggalkan bekas. Pakaian biru kelam yang ia kenakan saat menyelamatkan adiknya, kali ini pun ia kenakan untuk menyelamatkan sahabatnya. Kesiapan hatinya terpancar jelas dari bijih amber gelap yang memantulkan kemilau permukaan danau. Aku pun menyiapkan hatiku seraya membentangkan kertas yang kubawa di atas kap mobil.
"Ini denah seluruh barak. Penjara berada di ujung paling belakang barak."
Gambar kotak-kotak kecil simbol sel isolasi yang menyebar di lapangan penjara juga kujelaskan, berjaga-jaga bila ternyata Ram dipindahkan ke sana. Paman Ram berkonsentrasi mendengarkan lalu menerjemahkan paparanku pada pria di sampingnya. Berbeda dengan pertemuan pertama kami, Bheem tidak lagi mengangguk setengah bimbang. Anggukannya penuh ketegasan.
"Kumohon, berhati-hatilah."
Bheem menyatukan telapaknya berterima kasih ketika tanganku bergerak sendiri ingin menggapainya. Kutarik kembali tanganku yang bodoh, yang tidak mengerti bahwa pria yang ingin didekapnya sedang mengemban misi mempertaruhkan nyawa. Saat prioritas telah diteguhkan, tidak ada yang dapat menggoyahkannya. Dadaku makin memerih.
"Bheem, bisakah… Bisakah kau berjanji untuk kembali?"
Terucap begitu saja tanpa memikirkan beban yang akan bertambah di pundaknya. Kuharap ia tidak mendengarkan permintaan egoisku. Serta merta tangan yang besar dan hangat meraih satu tanganku setelah Paman Ram berbisik padanya. Ia menengadahkan telapakku dan meletakkan tangannya yang lain di atasnya, membuatnya saling bertangkup denganku. Bingung mengamati tindakannya pada tanganku, aku kembali menatap wajahnya. Kutemukan sebusur senyum yang mengalahkan pelangi selepas hujan.
"Aku akan kembali, Jenny."
.
.
Arlojiku tertinggal. Entah sudah berapa lama kami menunggu. Tidak ada satupun kendaraan yang melintas sejak kami tiba di titik pertemuan ini. Untunglah bunga-bunga kuning yang terhampar sejauh mata memandang lumayan menghalau bosan. Malli masih asyik membuat mahkota bunga bersama adik Bheem yang lain, anak perempuan keluarga muslim yang memberinya tempat bernaung selama di Delhi. Mahkota bunga yang mereka buat untuk mengurangi ketegangan tidak terlalu berguna bertengger di kepala para sahabat dan keluarga Bheem yang masih tampak gelisah.
Paman Ram menyarankan untuk aku ikut serta dengannya setelah Bheem pergi menuju barak. Tidak perlu melumpuhkan pemerintahan Inggris, tidak perlu merebut semua senjata, kami hanya ingin Bheem berhasil menyelamatkan Ram. Aku hanya ianya ingin Bheem kembali. Apapun hasilnya nanti, tetap ada kemungkinan akan timbul pemberontakan-pemberontakan baru dan keselamatanku akan turut terancam. Maka dari itu—
"Akka, Akka, rangkaian bunganya kepanjangan."
Teguran Malli menghentikan jalinan bungaku yang sudah melebihi satu yard. Kukalungkan hasil melamunku padanya. Duduk di sampingku seorang gadis manis yang sedari tadi berdoa tanpa henti, Sheeta, tunangan Ram. Kusampirkan tangan ke bahunya, memberinya semangat. Orang-orang yang kami sayangi tengah bertarung melawan penindasan. Sedikitnya yang bisa kami lakukan adalah saling menguatkan satu sama lain.
Deru suara mesin kendaraan membuat kami bersiaga. Dari ujung jalan di cakrawala muncul sebuah truk dengan bak yang dipenuhi peti-peti kayu. Truk itu berhenti di depan rombongan kami, pengemudinya yang berpakaian biru kelam turun disusul seorang penumpang bercelana saffron. Sheeta tak kuasa menahan tangis bahagia. Penampilan barunya hampir tak kukenali, tapi Ram tampak gagah menyambut tunangannya.
Setelah memberi berkat restu pada kedua insan yang akhirnya berhasil dipertemukan, Bheem berpaling padaku yang masih terharu oleh suasana. Ia mendatangiku, sorot matanya meneduh dengan pipi menembam terdorong oleh sudut-sudut bibir yang membuat seutas senyum.
"Semua ini berkat bantuanmu, Jenny. Terima kasih. Dan kutepati janjiku untuk kembali, padamu."
Semburat merah merekah di telinga mungil dan pipinya yang terbungkus jenggot. Sebelah tangannya agak malu-malu bersiap untuk berjabatan. Hatiku terlalu gembira untuk membalas jabatnya. Kutampik tangannya, formalitas bukan hal yang dibutuhkan saat ini. Kurentangkan kedua tangan, merengkuhnya lekat padaku. Dua lengan kekar melingkari punggungku erat, melepas semua rasa yang selama ini terbendung. Dapat kami dengarkan debar dua jantung yang saling bersahutan.
Bheem yang kikuk saat pertama bertemu. Bheem yang baik saat memberiku panorama indah. Bheem yang serius saat melindungiku dari bahaya. Bheem yang manis saat berbicara denganku. Bheem yang menawan saat menari bersamaku. Bheem yang gigih saat memperjuangkan orang-orang terkasihnya. Bheem yang tegar saat menghadapi semua cobaan. Bheem yang kucintai.
Aku jatuh dalam pesonanya. Kami saling jatuh dalam kasih sayang. Dan kini ia jatuh dalam dekapanku.
sekian
*joget Ettara Jenda*
Semoga Tarak Annayya sehat selalu panjang umur banyak rejeki anak istri rukun damai sejahtera sentosa dan jadi makin rajin menyapu serta gemar menolong amin.
Sayang nonik Jeni tidak sempat menyaksikan se-dosti apa Ram dan Bheem heuheu.
Untuk para pembaca budiman yang sengaja maupun ga sengaja nyasar ke sini, terima kasih banyak!
