DISCLAIMER: Spy x Family © Tatsuya Endo. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.

Catatan Author: Tiba-tiba dapet ide bikin oneshot tentang persahabatannya Anya, Becky, Damian, Emile dan Ewen (oke, saya tahu kalau fic ini saya tulis jauh sesudah short mission 10 keluar, dan sekarang kebanyakan yang baca manganya fokus ke chapter 79 & 80 yang, kalau saya boleh kasih spoiler sedikit, lebih fokus ke TwiYor, tapi nggak salah kan, kalau saya mau tulis fic tentang lima anak ini?). Sebelumnya, saya sempet baca ulang bus hijacking arc (chapter 69-76), dan saya baru ngeh kalau di chapter 69, Damian nggak jadi kasih kue ke Anya, yang malah dimakan sama Emile dan Ewen. Ditambah lagi, Damian janji ke Anya mau kasih kue ke dia (lagi?) di chapter 76, supaya Anya berhenti nangis. Dari situ saya berpikir kalau mungkin aja kan, Damian berpikir keras supaya bisa kasih kue yang dia janjiin ke Anya, dan akhirnya tercetuslah ide yang saya tulis dalam fic ini.

Summary: Damian Desmond masih ingat akan janjinya pada 'teman dekat terbarunya', Anya Forger, untuk membelikannya kue supaya gadis cebol itu tidak menangis lagi… tidak, dia juga masih harus membalas budi padanya karena telah memberinya sapu tangan itu, yang sekarang masih disimpan rapi dalam laci meja belajar di kamar asramanya. Damian telah mencoba untuk memberikan sekotak kue untuk Anya di hari 'itu'… tapi rencananya tidak berhasil lantaran kue tersebut malah dihabiskan oleh kedua sahabatnya sendiri, Emile dan Ewen. Kalau begitu, apa Damian harus membelikan dua kotak kue untuk Anya?

"Duh, ini kebanyakan. Sekalipun Anya memakannya bersama Becky, kue ini masih terlalu banyak, jadi…"

Sejak saat itu mereka pun menyadari, bahwa kue yang dimakan bersama-sama akan terasa lebih enak.

Anime & Manga spoiler alert (Anime episode 20. Manga chapter 61, 69-76 dan short mission 10).


.

Friendship over Sweets

.


"Wah, ternyata kamu asyik diajak main juga, ya? Anya pikir, kamu cuma mau jadi bawahannya jinan," komentar Anya setelah ia bermain roket kertas bersama Ewen, "Kamu juga tahu banyak tentang roket."

"Aku menghormati Damian-sama, tapi aku bukan bawahannya. Kami bersahabat baik," ralat Ewen, "dan aku memang berminat untuk menjadi astronot saat aku besar nanti, jadi aku selalu mengikuti perkembangan beritanya."

"Begitu ya?" Anya tersenyum, "Anya jadi mau temenan sama kamu deh. Boleh kan?"

"Tentu saja, Forger. Sudah pasti aku mau berteman dengan siapapun yang mengerti daya tarik ruang angkasa sepertimu," balas Ewen, "Maaf ya, kalau selama ini aku sering berprasangka buruk terhadapmu."

"Nggak apa-apa kok. Anya senang kalau kamu juga mau temenan sama Anya."

"Karena kita sudah berteman, jangan panggil aku dengan sebutan 'kamu' terus dong, Forger," ujar Ewen, "Mungkin akan lebih gampang kalau kau memanggilku 'Ewen' daripada 'Egeburg'. Bagaimana?"

"Baiklah, Ewen," sahut Anya setuju, "Senang berteman denganmu."

"Aku juga senang."

Tak lama kemudian, bel masuk pun berbunyi. Anya dan Ewen bergegas menuju kursi mereka masing-masing. Becky, yang duduk di sebelah Anya pun berbisik kepada sahabatnya itu, "Kelihatannya akhir-akhir ini, kamu selalu sukses bikin dia cemburu, Anya-chan."

"Cemburu?" tanya Anya tidak mengerti, "Maksud Becky apa?"

"Anya-chan, memangnya kamu nggak pernah memperhatikan ada sesuatu yang berubah dari seseorang yang duduk di belakang sana? Kamu masih suka sama Damian kan?"

'Suka? Jinan? Anya makin nggak ngerti sama pikirannya Becky,' pikir Anya yang kemudian menyahut, "Anya kan udah temenan sama jinan, jadi nggak salah kan, kalau Anya temenan sama Ewen juga?"

"Ya, memang tidak ada salahnya, sih…" gumam Becky sambil berpikir, kemudian menambahkan, "tapi, apa kamu nggak khawatir, kalau nanti mereka bertengkar hanya gara-gara kamu, Anya-chan?"

"Bertengkar? Buat apa? Mereka sama-sama teman Anya, kok," jawab Anya polos, "Kenapa mereka harus bertengkar? Kan terserah Anya mau temenan sama siapa aja."

"Hmm… gimana caranya ya, ngejelasin ke kamu supaya kamu ngerti…" Becky menggaruk kepalanya yang tidak gatal, 'Anya-chan benar-benar kurang peka.'

'Peka?' pikir Anya setelah pikiran Becky terbaca olehnya, 'Apa maksudnya? Jinan dan Ewen kan sahabat baik. Mereka nggak mungkin bertengkar.'

Sementara itu, Emile mengomentari Ewen saat ia duduk di kursinya, "Jadi sekarang tinggal aku yang nggak bersikap manis sama si cebol."

"Jangan begitu, Emile. Aku baru sadar, ternyata menyenangkan juga berteman dengan Forger," sahut Ewen yang kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Damian, "Aku nggak heran kalau sekarang Damian-sama mau berbuat baik padanya."

"Si-siapa yang berbuat baik? Aku hanya melakukan apa yang perlu dilakukan. Itu saja," seru Damian sambil tersipu, kemudian memelankan suaranya, "Lagipula, kalau boleh jujur, dia yang paling pantas mendapatkan bintang Stella kemarin."

"Maksudnya, yang dari insiden pembajakan bus, kan?" tebak Ewen, "Forger dan Blackbell memang hebat. Mereka bisa tahu tempat tujuan busnya, padahal seingatku, para pelakunya kan nggak pernah bilang ke mana mereka mau membawa kita pergi."

"Tapi kan ide Damian-sama juga hebat."

"Pokoknya, mulai hari ini jangan ada yang merundung siapa pun di kelas ini," simpul Damian, memotong perkataan Emile, "Meski begitu, kita juga jangan terlalu dekat dengan siapa pun disini. Bersikap biasa saja. Bagaimanapun, kita harus tetap menjaga nama baik keluarga kita masing-masing."

"Setuju!" sahut Ewen dan Emile secara bersamaan sebelum pak Henderson memasuki kelas dan memulai pelajaran sejarah di hari itu.

.O.

Sore hari, di asrama putra Graha Cecile…

Damian Desmond memasuki kamar asramanya seorang diri, sementara kedua sahabatnya, Emile Elman dan Ewen Egeburg, sedang bermain kartu bersama teman sekamar mereka yang lain di ruang santai.

'Kenapa tiba-tiba aku jadi ingat hutangku sama si cebol?' pikirnya, 'Gara-gara dia main roket kertas sama Ewen tadi pagi, sampai sekarang aku jadi terus-terusan mikirin dia.'

"Duh, kenapa sih aku harus janji beliin dia kue segala?" gerutu Damian pada dirinya sendiri, "Ditambah lagi, kue yang mau aku kasih ke dia waktu itu malah dimakan Emile dan Ewen. Kalau begitu, apa aku harus beli dua jenis kue untuknya?"

Damian berjalan menuju meja belajarnya, duduk di kursinya, lalu mulai berpikir keras, "Pokoknya, aku harus cari cara supaya aku bisa memberikan kue-kue itu padanya tanpa ada satupun yang tahu, sekalipun mereka Emile dan Ewen…"

'Mereka kan hanya tahu kalau aku berjanji padanya untuk memberinya kue supaya dia tidak menangis pagi itu, padahal hutangku padanya bukan cuma itu,' Damian menghela napas, 'Mereka nggak tahu soal sapu tangan itu.'

Putra kedua keluarga Desmond itu pun membuka lacinya, memandangi sebuah sapu tangan bertuliskan huruf A yang terlipat dengan rapi di dalamnya. Ia pun mengambil sapu tangan itu, lalu menyadari bahwa ada secarik kertas bertuliskan sebuah sandi rahasia di bawahnya.

Damian mengingatnya. Anya memberikan pesan rahasia itu padanya beberapa hari setelah mereka membuat laporan tentang pekerjaan orangtua mereka masing-masing. Saat itu, Damian memang sempat melempar kertas itu ke lantai, tapi tak lama kemudian dia mengambil kertas itu lagi, dengan alasan bahwa dia tidak mau orang-orang menganggapnya suka membuang sampah sembarangan. Ia pun melipat dan memasukkan secarik kertas itu ke dalam saku celananya, sebelum akhirnya diam-diam menyimpannya dalam laci itu.

Dia juga ingat bahwa pada saat Anya memberikannya, gadis itu juga menyuruhnya untuk memecahkan sandi rahasia tersebut, tapi saat itu dia membalasnya dengan berteriak, "Kamu pecahkan saja sendiri!"

Meski begitu, Damian sempat diam-diam memecahkan sandi rahasia itu sebelum menyimpannya di lacinya, dan menemukan bahwa Anya mengajaknya bertemu di dekat jembatan Sabtu pekan itu jam 8 pagi, walaupun dia memutuskan untuk tidak datang ke sana pada waktu yang telah ditentukan. Damian mau saja menghampiri gadis cebol itu di sana, tapi entah kenapa, ia merasa bahwa datang ke jembatan itu bukanlah ide yang bagus.

'Bagaimana kalau dia sengaja membuat sandi rahasia itu untuk mengerjaiku? Mungkin dia hanya mau menjebakku,' pikir Damian saat itu, 'Anak seperti dia mana mungkin bangun sebelum jam 8 pagi di akhir pekan? Kalaupun dia mau datang ke jembatan itu, pasti dia akan telat sampai di sana.'

Setelah beberapa lama mengingat sandi rahasia itu, Damian kembali memikirkan tentang kue-kue yang ingin diberikannya kepada Anya.

'Hmm, apa sebaiknya aku menulis sandi rahasia seperti ini dan menyuruhnya datang ke suatu tempat di mana aku bisa memberikan kue-kue itu padanya, ya?' pikirnya, 'Masalahnya, di mana tempat yang cocok?'

Akhirnya sebuah ide muncul dalam benaknya. Damian pun tersenyum, "Aku tahu!"

Damian lalu mengambil selembar kertas dan mulai menuliskan sesuatu. Beberapa kali ia melirik sandi rahasia pemberian Anya sebelum meneruskan apa yang ditulisnya.

'Waktu yang dia pilih di sandinya jam 8 pagi, tapi kurasa akan terlalu pagi kalau dia harus menemuiku di sana jam segitu,' pikir Damian, 'Baiklah, aku akan menyuruhnya untuk datang ke sana jam 9 pagi. Kalau jam segitu, kurasa dia nggak akan mungkin telat.'

Damian pun selesai menulis pesannya tepat saat Emile dan Ewen memasuki kamar itu. Dengan cepat ia memasukkan pesan yang baru ditulisnya, bersama dengan sandi rahasia dan sapu tangan pemberian Anya ke dalam laci mejanya lalu menutup laci tersebut.

"Masih belajar, Damian-sama?" tanya Emile, "Tidak mau main kartu atau main catur bersama yang lain?"

"Yah, Aku baru saja selesai. Mungkin aku akan main nanti saja," jawab Damian, mencoba untuk bersikap tenang. Ia lalu teringat sesuatu sebelum menambahkan, "Ngomong-ngomong, tentang rencana pergi ke arcade bersama Edward dan George… kelihatannya, aku tidak bisa ikut kalian ke sana Sabtu ini."

"Memangnya ada apa, Damian-sama? Apa ada urusan keluarga mendadak?" tanya Ewen, "Atau mungkin, ada hal lain yang harus kaulakukan?"

"Ya, itu… Ada buku-buku baru yang ingin kubeli di toko buku, jadi…" Damian mengucapkan alasannya dengan hati-hati, "Mungkin kita masih bisa berangkat sama-sama, tapi cuma sampai persimpangan jalan. Kalian tahu sendiri kalau toko buku dan arcade letaknya di arah yang berbeda, jadi kita harus pisah jalan di persimpangan itu."

'Untungnya tempat itu letaknya tidak jauh dari toko buku, jadi tidak akan mungkin ketahuan kalau aku bertemu dengannya di sana. Aku memang jenius,' pikir Damian, 'Mudah-mudahan dia juga datang sendirian ke sana. Ngg, tapi kalau orangtuanya mau mengantarnya ke sana, bagaimana? Ya, itu masih bisa ditolerir sih. Aku hanya tidak ingin kalau dia nanti memberitahu Blackbell dan mengajaknya ke sana. Kalau dia sampai tahu aku ingin bertemu dengan si cebol, nanti dikiranya aku ngajak dia kencan lagi.'

"Damian-sama?" panggil Emile menyadarkan Damian dari lamunannya, "Apa buku-buku yang ingin kaubeli semenarik itu? Damian-sama sampai memikirkannya terus."

"Begitulah. Isinya benar-benar menarik sampai aku nggak sabar ingin membacanya," Damian pun mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar itu, "Ayo kita keluar. Sebentar lagi waktu makan malam."

Ketiganya lalu meninggalkan kamar itu, bersiap untuk makan malam bersama murid asrama lainnya.

.O.

Keesokan harinya, Damian diam-diam bangun lebih pagi dari biasanya. Saat teman-teman sekamarnya masih tertidur lelap, termasuk Emile dan Ewen, Damian berjalan keluar dari kamar mereka dengan hati-hati, kemudian bergegas menuju ke gedung sekolah. Kepada penjaga asrama dia beralasan bahwa ada sesuatu yang tertinggal di lokernya, padahal yang dilakukannya hanyalah menyelipkan pesan rahasia yang ditulisnya kemarin di pintu loker Anya. Tanpa membuang waktu lama, Damian pun kembali ke asrama untuk mempersiapkan dirinya.

Beberapa lama kemudian, murid-murid pun berdatangan menghampiri loker mereka masing-masing, tak terkecuali Anya. Gadis berambut merah muda itu pun menemukan pesan rahasia Damian yang terselip di lokernya.

'Apa ini?' pikir Anya sambil membuka lipatan kertas itu. Ia pun menyadari sandi rahasia yang tertulis di sana, 'Oh, sandi rahasia! Ada yang kasih misi ke Anya untuk pecahin sandi rahasia ini! Pasti seru banget!'

"Selamat pagi, Anya-chan!" sapa Becky "Kelihatannya kamu senang sekali."

"Met pagi, Becky!" balas Anya, "Coba lihat, ada yang taruh sandi rahasia di loker Anya."

"Eh, siapa? Itu surat cinta ya?" tanya Becky yang kemudian memeriksa secarik kertas yang diperlihatkan oleh sahabatnya itu, "Oh, cuma sandi rahasia yang mirip sama yang waktu itu toh. Kupikir ada yang memberimu surat cinta."

"Anya mau pecahin sandinya di kelas. Anya duluan ya, Becky!" seru Anya yang tanpa pikir panjang langsung berlari menuju kelas pertama mereka di hari itu.

"Hei, tunggu aku dong, Anya-chan! Kita kan sebangku," sahut Becky protes, "Anya-chan!"

'Sabtu, 09.00. Datang ke toko kue dekat toko buku di pusat perbelanjaan dan pilih dua jenis kue yang kamu mau. Jangan beritahu siapapun,' pikir Anya yang dengan mudahnya memecahkan sandi tersebut secepat mungkin, 'Kue? Kalau nggak salah, ada yang janji sama Anya mau beliin kue… Oh iya, itu jinan! Apa artinya, jinan yang kasih sandi rahasia ini ke Anya?'

Gadis itu lalu menoleh ke deretan kursi dibelakangnya dan melihatnya. Damian memang sedang meliriknya sambil memikirkan tentang sandi rahasia yang ditulisnya, sebelum akhirnya ia menanggapi perkataan Emile dan Ewen yang memang sedang mengobrol disebelahnya.

'Ternyata benar.'

Anya lalu mengalihkan pandangannya dan melipat pesan itu, menyembunyikannya dalam saku seragamnya sebelum Becky memasuki kelas dan duduk disebelahnya.

"Duh, ternyata kamu larinya kenceng juga ya, Anya-chan," komentar Becky sambil terengah-engah, "Mana kertas yang tadi? Apa sandinya sudah kamu pecahkan?"

"Sudah dong, tapi karena itu sandi rahasia, Anya nggak bisa bilang ke Becky apa isinya."

"Iya iya, aku tahu. Isinya top secret kan?" Becky memutar bola matanya, tapi kemudian menyadari sesuatu dan menambahkan, "Tunggu sebentar. Kalau ada orang selain aku di sekolah ini yang tahu tentang sandi rahasia seperti itu, berarti waktu itu, kau bukan hanya memberikan sandi itu padaku kan, Anya-chan?"

"Oui. Waktu itu Anya juga kasih sandi top secret ke jinan dan beberapa orang lain di luar sana," aku Anya, "Ada satu orang yang bisa pecahin sandinya, tapi karena ada kesalahan teknis misinya terpaksa dibatalkan…" 'Gara-gara Bond gigit jam weker Anya Om Kribo jadi sempet marah sama Anya karena Anya bangun telat.'

"Oh, begitu…" simpul Becky, "Artinya yang taruh sandi rahasia itu Damian, kan?"

"Kok Becky tahu?" tanya Anya kaget, "Padahal ini kan top secret."

"Gimana aku bisa nggak tahu kalau diantara semua murid yang ada di kelas ini, kamu cuma kasih sandi rahasia itu padaku dan Damian?" jawabnya sambil melirik Anya dengan tajam, "Kalau setelahnya ada yang memberimu sandi rahasia yang serupa di sekolah ini, orang yang mungkin memberikannya padamu hanya aku dan Damian, dan kita semua tahu kalau aku bahkan baru mengetahui tentang sandi di lokermu saat kamu memperlihatkannya padaku, Anya-chan."

"Jadi itu sebabnya?"

"Tentu saja," ujar Becky, "Jadi, apa dia mengajakmu berkencan?"

"Kencan? Tidak kok, isinya bukan itu," Anya menggeleng, "Apapun isinya, nggak ada hubungannya sama kencan atau semacamnya kok."

"Oke, aku tahu kamu nggak akan bohong," akhirnya Becky tersenyum, 'Memang bukan ajakan kencan, tapi intinya Damian mengajaknya bertemu. Tidak apa-apa, Anya-chan, dari sini aku bisa mencari tahu sendiri.'

'Cari tahu? Kenapa Becky jadi kepo banget ya?' pikir Anya, 'Terserahlah. Yang penting jinan mau traktir Anya makan kue Sabtu ini.'

.O.

Sabtu pagi…

Damian, Emile dan Ewen sedang berjalan kaki menyusuri salah satu jalan di pusat perbelanjaan. Sesuai rencana, mereka hanya berjalan bersama-sama sampai di sebuah persimpangan di ujung jalan itu. Damian pun berbelok ke kanan sementara Emile dan Ewen berbelok ke kiri.

'Kurasa mereka nggak akan mengikutiku sampai ke toko kue,' pikir Damian yang kemudian mengecek waktu yang tertera di jam tangannya sambil terus berjalan menuju ke toko kue, "Baru jam 08.45."

Sesampainya di toko kue, Damian lalu memutuskan untuk duduk di salah satu kursi yang ada di sana, menunggu Anya datang, tapi begitu gadis itu tiba di sana, Damian terkejut mendapati bahwa Anya tidak datang ke sana sendirian saja.

"Kenapa kamu ajak Blackbell kesini sih, dasar cebol!" seru Damian dengan nada marah, "Aku kan sudah menambahkan kata-kata 'jangan beritahu siapapun'! Kenapa kamu malah ajak dia?"

"Tapi jinan, Anya nggak ngajak Becky," ralat Anya, "Dia cuma mau antar Anya ke sini."

"Lebih tepatnya, aku cuma mau memastikan aja, kalau pertemuan kalian ini bukan kencan," jelas Becky, "dan kalau pertemuan kalian ini bukan kencan, harusnya aku juga boleh ada di sini kan?"

"Baiklah, terserah kamu saja, Blackbell," keluh Damian yang akhirnya menyerah. Ia lalu bertanya kepada Anya, "Jadi, apa kamu sudah tahu kue yang mana saja yang kamu inginkan?"

"Hmm, kue apa ya?" sahut Anya yang kemudian berjalan menghampiri etalase toko "Oh, ada kue kacang karamel! Ada kue cokelat hazelnut juga!"

"Dua itu saja, ya?" simpul Damian yang kemudian berkata kepada salah satu pegawai toko kue itu, "Permisi, kami pesan kue kacang karamel dan kue cokelat hazelnutnya masing-masing satu loyang ya? Terima kasih."

"Eh? Dua loyang kue? Cuma buat Anya-chan?" tanya Becky tidak percaya, "Kamu yang bener aja, Damian!"

"Jangan ikut campur! Kan aku yang beli kuenya, bukan kamu, Blackbell, jadi terserah aku mau beli kue sebanyak apapun," balas Damian, 'Yang satunya kubeli untuk membayar hutang budiku gara-gara sapu tangan itu, dan yang satunya lagi untuk menepati janjiku pagi itu, supaya si cebol ini nggak nangis lagi! Kamu nggak ngerti keadaannya, Blackbell!'

Mengetahui apa yang dipikirkan Damian, Anya pun menyahut, "Jinan memang menulis di pesannya, kalau Anya disuruh pilih dua jenis kue, tapi Anya pikir jinan cuma mau beliin Anya sepotong untuk masing-masing jenis kue, jadi Anya setuju mau datang ke sini. Tapi kalau jinan mau beli dua loyang kue, kayaknya terlalu banyak buat Anya makan sendiri."

Damian pun menghela napas sebelum menambahkan, "Baiklah, Blackbell juga boleh memakannya bersamamu."

"Duh, ini kebanyakan. Sekalipun Anya memakannya bersama Becky, kue ini masih terlalu banyak, jadi…"

"Kalau begitu, aku juga akan memakannya bersama kalian," putus Damian pada akhirnya, "Nah, kuenya sudah datang. Ayo kita makan sama-sama."

"Kamu yakin dua loyang kue sebesar ini bisa kita habiskan sama-sama?" tanya Becky sambil bertolak pinggang, "Setidaknya sih, kalau pengawal-pengawal setiamu ada disini…"

"Lho, Damian-sama kok ada di sini? Katanya ke toko buku?" tanya Emile yang baru memasuki toko kue itu bersama Ewen, "Tadi kami mencarimu ke toko buku, begitu tahu kalau ternyata tempat arcade yang di sebelah sana sedang direnovasi, tapi Damian-sama malah tidak ada di sana."

"Eh, ya… maaf aku telah membohongi kalian. Aku cuma merasa sedang ingin makan kue, jadi…"

"Damian-sama ngajak Forger kencan tapi ketahuan sama Blackbell?" tebak Ewen.

"Kami nggak kencan!" seru Damian dan Anya secara bersamaan.

"Ya, aku lebih suka kalau mereka kencan sih, tapi sayangnya, mereka nggak bohong," tambah Becky yang kemudian menghela napas sebelum melanjutkan perkataannya, "Kita cuma mau makan kue."

Gadis berkuncir dua itupun menyadari sesuatu, "Mumpung kalian berdua juga datang ke sini, bagaimana kalau kalian juga ikut makan kue-kue ini bersama kami?"

"Kenapa jadi kamu yang nawarin kuenya, Blackbell?" tanya Damian protes, "Bukan kamu yang beli kue-kue ini, dan aku membelinya juga… tadinya bukan buat kamu."

"Eh? Jadi tadinya kue-kue ini cuma buat si cebol?" simpul Emile.

"Anya nggak cebol!" kali ini, giliran Anya yang protes, "Sudah ah. Lebih baik sekarang ayo kita makan kuenya sama-sama."

Mendengar perkataan Anya, perut Emile tiba-tiba berbunyi, "Baiklah, karena aku lapar, jadi aku akan memakannya juga."

"Oh, aku juga mau!" sahut Ewen, "Kelihatannya kue-kue ini enak sekali."

Kelimanya pun masing-masing mengambil sepotong kue dan mulai menyantapnya. Kue-kue itu memang lezat.

"Jadi lebih enak karena kita makan sama-sama kan?" ujar Anya sebelum ia menghabiskan sepotong kue kacang karamel yang diambilnya.

"Wah, iya. Kuenya jadi enak banget!" seru Emile setelah melahap sepotong kue cokelat hazelnut di piringnya.

Tanpa diduga, kelima anak itupun menyantap kue mereka sambil mengobrol dengan akrab. Satu hal yang jarang sekali mereka lakukan saat mereka di sekolah.