Chapter 1_

.

.

.

Tepuk tangan meriah ia dapatkan begitu janji suci pernikahan telah diikrarkan, dilanjutkan dengan ciuman lembut dari pria yang kini resmi menjadi suaminya. Tawa bahagia pun terukir terus di bibirnya, diiringi ucapan selamat yang terus berdatangan, ia dan suaminya berjalan mendekati para tamu undangan dengan menggandeng erat lengan pria itu yang tampak kekar dan kuat.

Yah, intinya, saat ini ia merupakan wanita paling bahagia di kekaisaran Hi ini. Sangat bahagia, hingga ia lupa bahwa ini semua adalah 'game' yang pernah ia mainkan di kehidupan sebelumnya.

Ketika ia mengingatnya kembali, ia pun menyesal karena telah membiarkan dirinya terhanyut dalam 'game' sialan ini.

Bagaimana ia tidak terhanyut ketika salah satu tokoh utama pria dalam game reverse harem ini merupakan perwujudan dari laki-laki yang begitu ia idam-idamkan di kehidupan sebelumnya. Ditambah ia yang tidak pernah sekalipun menjalin hubungan dengan lawan jenis, membuatnya terpesona dan terhanyut begitu dalam. Sehingga, ketika ia dipaksa untuk memulai 'game' itu dari awal kembali, ia merasakan kekecewaan dan rasa sakit yang begitu dalam.

.

.

.

"Nona?" Pria dengan surai pirangnya itu memanggil, memastikan bahwa wanita di depannya saat ini benar-benar baik-baik saja. Yah, meski sebenarnya tubrukan mereka tidak begitu kuat, bahkan dapat dikatakan pelan, namun bukan berarti sama bagi nona bangsawan yang penuh dengan kelemahan lembut-an, yang seumur hidupnya tidak pernah melakukan kerja berat ataupun mengangkat hal-hal yang berat.

"Ah, maaf. Sejenak saya melamun." Hinata buru-buru mengambil satu langkah ke belakang agar memberi jarak diantara mereka, mengingat ia yang begitu dekat dengan pria itu sehingga debaran jantungnya dapat terdengar di telinganya sendiri.

"Tidak apa-apa, nona. Lebih dari itu, apakah nona baik-baik saja? Atau bagaimana jika saya memanggil dokter untuk memeriksa keadaan nona?"

"T-tidak perlu! Saya benar-benar baik-baik saja. Saya hanya teringat teman lama saya ketika melihat anda."

"Begitukah? Saya jadi iri dengan teman anda. Begitu beruntungnya dia karena dirindukan oleh wanita cantik seperti anda."

Awalnya, Hinata menganggap bahwa ia begitu beruntung, meski ia mengulang kembali 'permainan' ini dari awal, pria itu kembali mencintai nya di pertemuan awal mereka. Seperti di kehidupan ini, Hinata tanpa sengaja bertemu kembali dengan Naruto--suaminya di kehidupan sebelumnya--dan mereka kembali memadu kasih, hingga untuk kedua kalinya ia kembali menikah dengan pria itu dan berakhir ke permulaan lagi.

.

.

.

Hinata tidak menyerah. Ia tidak ingin kalah dari 'game' yang telah mempermainkannya berulang kali. Maka, di kehidupan ketiga dalam 'game' yang ia masuki ini, ia pun kembali mendekati pria itu dengan kamuflase 'tanpa sengaja'. Seperti yang ia harapkan, pria itu kembali jatuh cinta kepadanya pada pandangan pertama hingga kembali lagi mereka melakukan janji suci untuk yang ketiga kalinya. Tapi, seperti yang sebelum-sebelumnya juga, ia berakhir kembali ke permulaan dan membuatnya semakin frustasi.

Bagaimana tidak, ketika ia dan pria itu tidak genap sehari menjadi pasangan suami istri. Bahkan ia belum pernah sekalipun merasakan panasnya malam pertama mereka sementara ia telah tiga kali melakukan pernikahan.

Saking frustasinya, Hinata melakukan tindakan nekad di kehidupan keempat nya dan menawarkan hal gila pada pria di depannya ini.

"Mari kita kumpul kebo."

Hinata berpikir, mungkin letak kesalahannya ada di dalam pernikahan. Maka dari itu, Hinata akan memilih tindakan haram yang tidak sepatutnya ia lakukan. Meski ia akan dicap sebagai wanita bangsawan yang tidak bermoral, tapi mau apa dikata jika ia harus mengulang kembali dari awal. Setidaknya, ia akan membuat alur cerita yang berbeda kali ini dan membuat perubahan yang tidak pernah ada di kehidupan-kehidupan sebelumnya. Kemudian, katakan 'selamat tinggal' untuk permainan yang terus berulang.

"Baiklah."

"Ha?!"

T-tunggu sebentar! Bukankah pria itu dari keluarga yang menjunjung nilai konservatif? Bagaimana mungkin ia menerima ajakan menyesatkan yang penuh dengan dosa-dosa? Bukankah ada yang salah di sini?!

"Apakah nona akan menarik kembali tawaran anda? Jika saya boleh jujur, saya tidak ingin anda menariknya kembali."

A-apa-apaan ini? Benarkah pria itu Namikaze Naruto yang ia kenal? Bukan orang lain? Atau sesuatu yang menjelma menjadi dirinya?

"Nona?"

Hinata tersentak dan buru-buru menjawab, "Ah, ya.. baiklah. K-kalau begitu mohon bantuannya."

Lalu, pria itu pun tersenyum dengan lembut, "Saya juga mohon bantuannya."

Setelah itu, mereka melakukan hal menyesatkan yang Hinata tawarkan hingga pada suatu hari saat dirinya tengah mengandung anak dari pria itu tepat bulan ketiga, kabar yang mengerikan datang bagai kilat yang menyambar ke arahnya.

Pria itu gugur dalam medan perang dan meninggalkan dirinya beserta calon bayi mereka sendirian di dunia ini. Padahal, hari pernikahan tinggal di depan mata. Yah, mereka berencana akan menggelar pesta pernikahan mereka setelah pria itu pulang dari tugasnya di medan perang dan kemudian hidup bahagia selamanya.

Tapi, itu semua sirna ketika kaisar memerintahkan Naruto untuk ikut berperang, yang di kehidupan sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Dari awal, Hinata sudah curiga dengan peperangan yang terjadi antara kekaisaran Hi dan kerajaan Roran, yang sebelumnya tidak ada. Bahkan konsep cerita seperti itu tidak pernah ada dalam rute 'Namikaze Naruto'. Apa yang salah sebenarnya?

"Ah, dia datang.."

Suara bisikan dari para pelayat mulai terdengar begitu seorang pria dengan surai hitamnya berjalan melewati kerumunan para bangsawan yang tengah berkabung itu, dan memilih berhenti tepat di depan peti mati yang hendak ditutup dan akan segera dikebumikan itu.

Hinata yang merasakan tatapan tidak bersahabat dari pria yang berada di sebelahnya itu lantas mendongak dan mendapati wajah tampan pria itu yang begitu menyeramkan. Buru-buru Hinata memutuskan kontak mata mereka dan membenarkan posisinya untuk berdiri serta menyingkir dari hadapan pria itu.

"Terima kasih telah datang, Sasuke. Bibi sangat bersyukur kamu yang membawa pulang kembali putra bibi. Jika tidak ada kamu, mungkin sekarang putra bibi akan... hiks... hiks..."

"Tenanglah, nyonya. Saya melakukannya karena itu sudah tugas saya dan Naruto juga merupakan sahabat saya."

Mungkin, jika Hinata tidak mengambil jarak yang sedikit jauh, ia tidak akan dapat melihat tatapan itu. Yah, Hinata sangat tahu tatapan penuh kemenangan itu.

Bagaimana bisa ia lupa jika Sasuke, yang merupakan salah satu tokoh utama pria, begitu manipulatif dan obsesif. Dalam cerita aslinya, saat ia memainkan rute 'Uchiha Sasuke' ia begitu kewalahan hingga frustasi dan memutuskan untuk berhenti di tengah jalan.

Diantara ketiga tokoh tersebut, hanya rute 'Sasuke' yang tidak pernah ingin ia coba di kehidupan game ini. Bahkan meski ia harus berulangkali memulai dari awal, ia tidak akan pernah mau mencoba dengan pria itu. Alasannya hanya satu, karena dialah yang membunuh Naruto pada kehidupan ini.

.

.

.

tbc.

.

Hai, minna. Terima kasih yang sudah mampir dan membaca cerita ku ini, yang tentunya masih penuh kekurangan dalam segi penulisan dan alur. Jujur, aku kurang percaya diri untuk mem-publish cerita ini, mengingat sudah cukup lama aku berhenti menulis. Berungkali aku membaca tulisan dari para senpai yang tidak bisa aku sebutkan namanya, namun berkat mereka aku belajar bagaimana cara menulis kembali.

Jika kalian bertanya latar belakang kerajaan apa yang kuambil, maka aku menggunakan latar belakang kerajaan eropa layaknya di manhwa-manhwa isekai pada umumnya. Jadi, gampang lah yah membayangkan bagaimana situasi dan kondisinya. Hehehe

Oke, kupikir cukup itu saja curhatan ku yang cukup kepanjangan ini. Saran dan komentar aku tunggu.

See you next chapter~!