Senyum dan tawa..
berganti menjadi tangis menyakitkan setelah sebuah peristiwa kelam menghampiri hidupnya.
Sebelumnya sebuah senyum tulus terukir dengan sangat indah dibibirnya tiap kali sang pujaan hati hadir disisinya.
o
o
o
Semua berawal ketika kekasihnya Uchiha Itachi memperkenalkan dirinya dengan teman-temannya.
o
o
Iris Aquamarine nya menjelajahi tiap sudut ruangan.
Sembari melangkah menaiki tangga, manik matanya masih memperhatikan area sekitar.
"Rumah siapa ini?" tanya gadis belia berparas indah.
Wajah polosnya menoleh menunggu jawaban yang keluar dari mulut pria yang berjalan bersamanya.
"Rumah ini milik Pain, ketua organisasi" jawab pria dewasa yang kini menyunggingkan senyum kecil.
"Wah~ rumah ini luas sekali" ujar wanita yang dikenal dengan sebutan Ino.
Lelaki disebelahnya mengangguk.
"Itachi-Kun ?" panggil wanita berparas cantik tersebut.
"Hai ?" lelaki yang dipanggil Itachi menoleh.
"Apa orang luar sepertiku diperbolehkan masuk kesini?"
"Jangan khawatir." sahut Itachi.
"Lagipula aku ada urusan dengan Nagato, aku akan mengantarmu pulang setelah urusanku dengan Nagato selesai."
"Boleh kan?" Itachi memastikan.
Ino mengangguk, "Boleh."
Mereka berdua saling melemparkan senyum.
Mereka berdua memijakkan kaki dilantai dua, kemudian melangkah menuju ruangan yang terdapat banyak suara percakapan.
Ino memegang erat tangan Itachi, ia takut ketika melihat seisi ruangan tersebut dipenuhi oleh laki-laki.
Tidak ada satu pun wanita disana.
Ino mencengkeram lengan Itachi.
"Tidak apa-apa, mereka semua orang yang baik."
Itachi mencoba menenangkannya.
"Oy Itachi ?!" interupsi salah seorang disana.
Semua mata memandang kearah mereka, Ino semakin risih ketika tatapan beberapa pria memandang intens kearahnya.
"Dimana Nagato?" tanya Itachi.
"Nagato baru saja pergi." celetuk seorang pria dengan paras wajah yang terlihat lebih dewasa.
"Kau memacari gadis polos Itachi?" seseorang yang berkata barusan menyunggingkan senyuman miring.
Ino menatap Itachi.
"Apa dia murid SMA?" tanya seorang pria berambut kuning panjang.
"Iya." jawab Itachi singkat.
Seseorang dari beberapa pria tersebut masih menatapnya intens.
Ino jadi semakin risih.
"Itachi-Kun aku mau pulang." bisik Ino.
Itachi merangkul pinggangnya, "Kita akan pulang setelah aku bertemu Nagato, kau kutinggal dikamar saja ya." bisik Itachi balik.
Ino mengangguk pelan, "Hai."
"Nagato dan ketua sedang membeli beberapa keperluan, kau susul saja mereka." usul pria berambut warna abu-abu.
"Baiklah" sahut Itachi.
"Obito, aku meninggalkannya sebentar dikamar." ujar Itachi.
"Hai!" sahut Obito.
Itachi mengantar Ino menuju sebuah kamar.
"Aku akan pergi sebentar menyusul Nagato."
Ino terlihat cemas.
"Baiklah tapi jangan lama-lama, aku takut." ujar Ino.
Itachi membelai kepalanya. "Kunci saja pintunya." ujar Itachi.
"Hai"
Setelahnya Itachi pergi keluar kamar.
o
o
o
o
Setelah kepergian Itachi, beberapa pria saling memberi kode.
"Gadis itu sangat menarik!" ujar seorang pria berambut abu-abu.
Seorang pria berambut kuning mengangguk setuju, "Apa menurutmu dia sudah ditiduri oleh Itachi ?"
Seorang pria berambut hitam panjang menggeleng tak habis pikir.
"Kalian berdua benar-benar menjijikkan."
"Uruse No Yatsu!" umpat pria berambut abu-abu.
"Apa kalian tidak memikirkan bagaimana perasaan Itachi?" celetuk pria berbaju hitam keunguan.
Pria berambut kuning menautkan alisnya tanda tidak suka.
"Damare Kono Yaro!" bentaknya.
"Sebaiknya kau diam saja Obito!" pria berambut hitam lancip menginterupsi.
Obito memalingkan wajahnya, "Ya ya. terserah!"
oOoOo
Chu~p
Chu~p
Ia dan Itachi saling mengecup bibir.
"Aku sudah memberi tahu Tousan jika kita akan pulang larut malam." ujar Itachi.
Ia kembali fokus pada lembaran kertas ditangannya.
Ino mengangguk, "Hai."
"Itachi-Kun." panggil Ino.
"Hai?" sahut Itachi.
"Sebenarnya Akatsuki itu organisasi apa?" tanya Ino.
"Organisasi elit kriminal yang sangat besar." jawab Itachi singkat.
Ino mengernyitkan alisnya, "Organisasi kriminal?" tanya Ino heran.
Itachi menatap Ino.
"Polisi sempat ingin membubarkan Akatsuki, namun gagal."
"Heh? Hontou Ni ?" tanya Ino tidak percaya.
"Karena Akatsuki sangat kuat. Akhirnya polisi mengajak bekerja sama untuk memburu kriminal kelas atas." ujar Itachi.
Itachi kembali fokus pada kertas ditangannya.
"Jadi semua member Akatsuki berisi penjahat?"
Itachi tertawa hingga menampakan gigi putihnya yang rapi.
Pertanyaan Ino terdengar lucu ditelinganya.
Ino menggembungkan pipinya.
"Apa sebelumnya aku seorang penjahat?" tanya Itachi yang kini kembali menatapnya.
Ino menggeleng.
"Mantan kriminal hanya 4 orang, selebihnya tidak." ujar Itachi.
Ino membulatkan matanya.
"Heh?! Lalu kenapa kau mau bergabung dengan mereka?"
Itachi diam sejenak sembari mengamati deretan kalimat yang tertera di lembaran kertas.
"Aku direkrut langsung oleh Pain." jawab Itachi lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Lagi pula mereka sudah berubah menjadi orang yang baik." tambah Itachi.
"Emm, Sou Ka. Kau bertugas sebagai apa?" tanya Ino lagi.
"Tergantung formasi." jawab Itachi.
Ino mengerutkan keningnya, "Saat bekerja kau bertugas sebagai apa?" tanya Ino penasaran.
"Sniper." jawab Itachi.
"Sou Ka." sahut Ino lalu menumpu wajahnya dipunggung Itachi.
Iris biru lautnya memperhatikan Itachi yang mencoret sebuah kertas.
"Apa itu?" tanya Ino.
"Ini sandi, sebuah kode rahasia yang berhasil direbut dari buronan yang bunuh diri."
Ino meringis.
"Kau bisa menerjemahkannya?" tanya Ino.
"Hai"
Ino melingkarkan kedua tangannya dipinggang Itachi, lalu mencium pipinya.
Lama diam akhirnya Itachi bergeming, "Ino" panggilnya.
"Hai" jawab Ino.
"Aku tidak bisa fokus bekerja jika sedang bersamamu."
Itachi menempelkan dahinya dengan dahi Ino.
"Kenapa? Apa aku mengganggumu?" tanya Ino.
Itachi tertawa pelan, "Apa kau benar-benar sepolos itu?"
Ino mengecup bibir Itachi.
Kelopak mata Itachi menutup, ia berusaha menahan gairah yang mulai timbul.
"Itachi-Kun" goda Ino.
Itachi menjauhkan diri dari Ino.
Ditempatnya Ino tertawa melihat reaksi Itachi.
"Aku akan keluar sebentar dengan Kisame, kau tinggallah disini."
Ino mengangguk, "Hai."
Itachi kemudian berdiri lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Ino kunci pintunya." suruh Itachi.
Dengan patuh Ino bangun lalu berjalan menuju pintu.
Sebelum menutup pintu ia menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
Bermaksud untuk melihat pujaan hatinya pergi.
Ia memperhatikan Itachi yang berjalan lurus bersama Kisame, lalu menuruni anak tangga.
"Pergi kemana Itachi?" tanya sebuah suara.
"Hyaa!" pekik Ino kaget.
Ino menoleh kesamping kanan dan melihat seorang pria berambut abu-abu tengah menatapnya dengan tangan bersedekap didepan dada.
"Dia bilang ada urusan dengan Kisame." ujar Ino.
"Sokka" ujar pria tersebut.
"Apa kau tidak bosan dikurung Itachi didalam kamar, tiap kali kesini?" tanya sebuah suara.
Ino menoleh kesamping kiri dan mendapati pria berambut kuning berdiri tak jauh darinya.
"Chotto, aku ingin mengambil barangku." ujar pria yang berdiri disamping kanan.
Ino mau tak mau membuka pintu kamar, kemudian keluar dan menunggu disamping pintu.
"Apa kau dan Itachi habis bercinta?" tanya pria tersebut dari dalam kamar.
Ino melotot, "Tidak! Kami hanya mengobrol! "
Pria berambut kuning tertawa.
Ino menekuk wajahnya.
Tanpa ia sadari pria berambut kuning berjalan mendekatinya.
Hingga berdiri tepat didepannya, sebelah tangan pria itu memenjara tubuhnya.
Ino menatapnya penuh ketakutan.
Pria itu mendekatkan wajahnya, Ino secepat mungkin memalingkan wajahnya.
"Apa kau pikir aku akan menciummu?" tanyanya, tubuh Ino menegang.
"Deidara jangan mengganggunya." ujar pria berambut abu-abu yang kini berjalan keluar kamar.
Ino merasa tertolong ketika pria itu menarik tubuhnya hingga terlepas dari jangkauan pria yang dipanggil Deidara.
Namun perasaan Ino berubah cemas ketika pria bernama Deidara tertawa seraya memberi kode pada pria dibelakangnya.
Ino mengalihkan tatapannya kearah pria yang menyelamatkannya.
Pria itu tertawa menyeringai.
"Hidan! Bawa dia pergi." suruh Deidara.
Seketika pria yang dipanggil Hidan pun menarik tubuhnya.
Ino yang terkejut berusaha melepaskan diri.
"Oniisan lepaskan aku, aku ingin pulang saja!"
Hidan dan Deidara tertawa, "Oniisan!?" ejek mereka berdua.
Beberapa pria yang lain terlihat mulai berdatangan untuk melihatnya.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak menolongnya ketika ia diseret.
"Yamete Kudasai!" jerit Ino.
Hidan dan Deidara tertawa bersamaan.
"Dua bajingan bodoh ini seharusnya dijebloskan kembali kepenjara!" umpat seorang pria berambut merah dengan panjang sebahu.
Namun tidak dihiraukan oleh dua pria yang ia maki.
"Nagato cegah Itachi agar jangan cepat kembali." suruh seorang pria berambut oranye.
Pria yang dipanggil Nagato mendecih lalu berbalik pergi.
Ino berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Hidan.
Pria bernama Obito memalingkan pandangannya lalu berjalan meninggalkan mereka.
Ino semakin gencar melepaskan diri dari dua pria yang menyentuh tubuhnya.
Ia tahu apa yang dua orang pria itu inginkan.
Namun dua pria itu tidak melepaskannya dan semakin keras menarik tubuhnya masuk kedalam sebuah ruangan.
Ino memberontak sekuat mungkin, namun tetap tidak bisa lepas dari cengkeraman dua pria tersebut.
"Aku akan melaporkan kalian pada Itachi!" pekik Ino.
Deidara tertawa.
"Silahkan, Setelah itu aku akan membunuh Itachi."
Deidara dan Hidan terlihat saling melemparkan seringaian.
"Aku akan membantumu membunuhnya, Deidara." ujar Hidan.
Ino terdiam, tubuhnya menegang ketika dua orang itu menyeretnya masuk kedalam kamar.
GREKK!
Ino menggigit tangan Hidan, hingga menimbulkan jeritan kesakitan dari pria tersebut.
"Baka Ona!" pekik Hidan.
Deidara mendecih.
"Bukankah kau yang bodoh?" ujar Deidara yang masih mencengkeram kuat tangan Ino.
Hidan menarik kerah seragam Ino hingga kini posisi Ino menjadi berdiri.
"Konoyaroo!"
Ino menahan air matanya.
Setelahnya pria tersebut mendorong keras tubuhnya hingga terhempas dipelukan Deidara.
Ino menatap Deidara yang menyematkan senyum mengerikan.
Deidara mengunci pergerakan tangannya, "Saa, Hidan lepaskan bajunya."
Kelopak mata Ino membesar mendengar kalimat barusan.
"Tidakk!" Ino mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari Deidara.
Namun sedikitpun ia tidak dapat bergerak.
Hidan mendekat dan mulai membuka kancing seragamnya.
"Hentikaann! AAAAAaarrrh!" pekik Ino.
Namun tidak dihiraukan oleh dua pria yang saling melemparkan tertawaan.
Ino kemudian meludahi wajah Hidan, hingga membuat pria itu terdiam dengan wajah memerah.
"Dasar wanita jalang!"
Hidan menarik tubuhnya dari belenggu Deidara, lalu menampar wajahnya dengan keras.
PLAKK!
Ino pun jatuh terduduk dilantai, matanya memejam karena merasa pusing.
Sebuah cairan yang terasa hangat mengalir keluar dari hidungnya.
Sedetik kemudian sebuah tangan kembali menarik tubuhnya, hingga membuat Ino kembali bertatapan dengan Hidan.
Pria itu menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur, lalu dengan beringas melepaskan pakaian yang menutup tubuh bagian bawahnya.
Ino kembali memejamkan matanya, rasa pusing masih menjalari kepalanya.
"Wanita itu berdarah!" ujar sebuah suara berat yang baru datang.
"Kalian memang bajingan yang kejam." ujar seorang pria berambut merah pendek.
"Wanita itu meludahi Hidan." ucap Deidara.
Deidara berdiri memperhatikan perlakuan Hidan.
Sedangkan Ino dengan susah payah mulai memberontak dengan menendang kearah pria yang melecehkan tubuhnya.
Namun gerakan kedua kakinya ditahan oleh pria tersebut.
Hingga kemudian Ino merasa pahanya mulai dilebarkan oleh pria yang menamparnya.
Ino membuka kelopak matanya, ia melihat Hidan yang mulai memasukan alat vitalnya.
Ino pun mencoba untuk bangun, "Yameteee!" Ino berteriak menjerit.
"Deidara pegang tangannya" suruh Hidan.
Pria yang dipanggil Deidara pun berjalan mendekat, lalu merebahkan tubuhnya dan menahan pergerakan Ino.
"AAaaaarh!" teriak Ino sekencang mungkin.
"Sasori, bisa kau hentikan teriakan wanita ini?" ujar Deidara.
Ino pun menangis sekencang mungkin.
Tak berapa lama, pria yang dipanggil Sasori mendekat.
Ino menatap ketakutan pria bernama Sasori, kelopak matanya semakin melebar ketika pria itu mencium bibirnya.
Hingga tangisan Ino teredam sepenuhnya oleh ciuman pria tersebut.
Ino merasa pria dibawahnya mulai memaju mundurkan pinggangnya.
"Hngm!! Engmm!"
Air mata mengalir deras dari kelopak mata Ino.
"Dadanya sangat indah!" ujar Deidara.
Ino menggerakan kepalanya agar dapat lepas dari ciuman Sasori, namun pergerakan kepalanya langsung ditahan oleh Sasori.
Ino merasa sebuah tangan mulai melepaskan seluruh baju atasannya.
"Sshh~" desah nafas Hidan terdengar.
Ino mencoba untuk berontak, lagi-lagi tubuhnya tidak dapat digerakkan, kekuatan pria yang sedang menahannya jauh lebih kuat.
Pria yang menciumnya menyudahi perlakuannya.
Ino melepaskan tangisannya.
"Itachi-Niiii !" teriak Ino sambil menangis.
Hidan dan Deidara tertawa.
"Itachi-Nii kemarilah! kekasihmu butuh bantuan!" ejek Deidara.
Sasori kini memegangi sebelah tangannya, hingga kini kedua sisi tubuhnya ditahan oleh Deidara dan Sasori.
Ino melihat seorang pria yang berdiri disebelah Hidan tengah mengarahkan kamera kearahnya.
Ino sekuat tenaga mencoba melepaskan diri namun tubuhnya tetap tidak dapat bergerak.
"Itachi-Nii !" teriak Ino lagi.
"Aaaaaaarrrh!" Ino berteriak sekuat tenaga.
Dua pria didepannya tertawa.
Ino menangis sekencang mungkin.
Pria didepannya meremas payudaranya.
Ino kembali memberontak.
"Yametee!" teriaknya sambil menangis.
Pria diatas tubuhnya kembali mendesah, Ino menangis sekerasnya.
Pria itu mengeluar masukan miliknya dengan cepat lalu merebahkan tubuhnya diatas tubuh Ino yang menangis sejadinya.
Setelahnya pria itu bangun dari tubuhnya, hingga beberapa menit kemudian pria itu berpindah tempat dengan Deidara.
Ino pun menangis pasrah.
Ia menoleh kearah pintu yang dipenuhi oleh beberapa orang yang menyaksikan tindakan pelecehan seksual terhadapnya.
Yang membuat Ino semakin sedih adalah beberapa orang yang berdiri disana tidak ada yang bergerak menolongnya.
Ino kembali menangis histeris.
Seseorang yang sangat Ino kenal terlihat masuk.
Dengan segera Ino mengalihkan pandangannya.
Lalu kembali berteriak.
"Itachi-Nii !" teriaknya dengan keras.
Deidara menghentakkan miliknya dengan kasar.
"Apa yang terjadi?" tanya orang tersebut.
"Biasa." ujar seorang pria bersurai cokelat.
"Hidan dan Deidara menjadi bajingan sialan ketika bertemu wanita cantik."
Ino dengan lemas memberontak, ia malu dilihat oleh pria itu.
"Lepaskan aku!" pinta Ino sambil menangis.
Ino kembali berteriak ketika Deidara menggerayangi tubuhnya.
Saat pria itu mendekatkan wajahnya bermaksud untuk menciumnya, tanpa merasa takut sedikitpun Ino meludahi wajahnya.
Mata memerahnya menatap penuh kebencian pada pria tersebut.
Pria disamping tubuhnya tertawa.
"Dasar wanita sialan!"
Bagai slow motion Ino melihat kepalan tangan Deidara melayang kearah wajahnya.
BUGH!
Pandangan Ino seketika menjadi gelap.
o
o
o
o
"Apa semua senjata ini tidak bisa dipindahkan besok Nagato?"
"Tidak bisa, ketua menyuruh kita untuk membawa semuanya ke markas!" sahut Nagato seraya melirik Itachi.
"Aku khawatir meninggalkan Ino terlalu lama." ujar Itachi.
"Jangan terlalu dipikirkan, mungkin kekasihmu sedang tidur." sahut Kisame.
"Kalau kau masih ragu, hubungi saja ketua." ujar Nagato, lalu menunduk untuk menyembunyikan raut kesalnya.
Itachi mengangguk.
o
o
o
o
Hidan dan Sasori melepaskan cengkeraman tangan mereka.
"Kau sungguh kejam Deidara" ujar Sasori.
Deidara mendecih.
"Kau bernafsu melihat tubuh kekasih sepupumu Shisui?" tegur Hidan.
Shisui diam mematung.
"Atau kau menunggu giliran?" tanya Hidan dengan nada mengejek.
Shisui menggeleng, "Ah tidak tidak."
Shisui kemudian berjalan keluar kamar.
"Apa dia akan memberitahu Itachi?" tanya Deidara.
"Hm! Terserah." jawab Hidan cuek.
Deidara mempercepat gerakannya, hingga kemudian menghentakkan miliknya dengan keras.
"Ternyata kau menjadi lebih bajingan diatas ranjang, Deidara!" ujar Sasori.
Deidara bergerak semakin memanas, kedua tangannya semakin melebarkan kedua kaki Ino.
Lalu memaju mundurkan miliknya dengan brutal.
Hingga pria itu mulai merasakan gelombang kenikmatan menghampirinya.
Gerakannya semakin beringas hingga membuat tubuh Ino yang sedang pingsan bergetar karena gerakannya.
Hidan mencium bibir Ino lalu meremas kuat payudaranya.
Sasori melepaskan tangan Ino dari genggamannya.
"Aaahh!!" Deidara mendesah.
Lalu menarik keluar miliknya.
"Wajahnya lebam." ujar Sasori.
"Biarkan saja." sahut Hidan.
"Sasori kau tidak mau?" tanya Hidan.
"Aku tidak suka menjadi bahan tontonan." jawab Sasori.
Deidara memakai pakaiannya.
"Tenang, kami akan keluar." Deidara kemudian melangkah pergi.
"Kakuzu?" Hidan memberi kode.
Kakuzu menggeleng, "Aku tidak bernafsu pada gadis kecil."
"Tapi payudaranya sangat besar" timpal Hidan.
Kakuzu menggeleng.
Hidan tertawa lalu berjalan bersama Kakuzu meninggalkan Sasori hanya berdua dengan Ino.
o
o
o
o
Setelah beberapa menit akhirnya Ino sadar, ia membuka matanya.
Ia melihat tubuhnya sudah ditutupi dengan selimut.
Beberapa kejadian yang menjijikkan mulai berputar dikepalanya.
Ino pun kembali menangis.
Hingga suara tangisannya menarik pendengaran dua orang pria yang sangat dibencinya.
"Sudah bangun ternyata" ujar Hidan.
Ino melayangkan tatapan penuh kebencian.
"Ohh tatapannya mengerikan!" ejek Deidara.
"Kau lihat ini?" Hidan menunjukan sebuah kamera padanya.
"Jika kau berani melaporkan kejadian ini pada Itachi dan orang luar."
"Aku akan menyebarkan video dan gambarmu pada semua orang"
Deidara duduk dihadapan Ino.
"Aku akan mengirimkan rekaman itu pada ayahmu." ujar Deidara.
Ino menahan tangisnya.
"Atau menyebarkannya disekolahmu." lanjut Deidara.
"Deidara kau membuatnya menangis" tegur Hidan.
"Ah Gomen Gomen" sebelah tangan Deidara mengusap air mata Ino.
Ino menepis tangan Deidara.
"Ayo keluar Deidara" ajak Hidan.
"Hai!" sahut Deidara.
Mereka berdua pun berjalan keluar kamar.
Dengan gerakan lemah Ino bangkit lalu mengambil bajunya yang berserakan dilantai.
o
o
o
o
Dengan langkah lemas Ino berjalan melewati ruang tamu yang dipenuhi oleh para pria yang ia benci.
Semua mata pria disana menatap kearahnya.
Ino meneteskan air matanya, ia sangat malu.
"Hey, kau tidak pamit dengan pacar barumu?" tanya Hidan.
Ino tidak melirik sedikitpun, lalu pergi dengan langkah tertatih.
"Seharusnya kau merapikan rambutmu, kau terlihat seperti wanita yang habis diperkosa" celetuk Deidara.
Tanpa bisa ditahan Ino pun menumpahkan tangisnya didepan kumpulan pria tersebut.
Beberapa pria disana terdengar tertawa.
Dengan perasaan yang sangat hancur Ino berjalan melewati ruangan tersebut.
Lalu dengan perlahan menuruni tangga.
oOoOo
Tatapan mata sendu Ino mengamati wajah Itachi yang menatap prihatin dirinya.
"Apa yang terjadi padamu Ino-Chan ?" tanya Itachi.
Air mata jatuh menuruni pipinya saat menggelengkan kepala.
"Kenapa wajahmu biru seperti ini?" tanya Itachi.
"Bibirmu juga terluka" Itachi menyentuh luka dibibirnya.
"Aku jatuh dikamar mandi" sahut Ino pelan.
Sakura yang sedari tadi berdiri memperhatikan mereka kini mengurut pelipisnya.
"Sudah hampir seminggu kau tidak masuk sekolah, Tousan menelponku untuk membujukmu agar kembali bersekolah."
Ino kembali diam dan menatap kosong kearah lantai.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Itachi.
Tak lama suara langkah terdengar mendekat kearah mereka.
Tubuh Ino seketika bergetar ketika menyadari sosok pria yang datang.
Lewat ekor matanya Ino mengetahui siapa pria itu..
Pria itu adalah saksi hidup kejadian mengerikan malam itu.
Uchiha Shisui.
Seakan tidak pernah menyaksikan kejadian keji yang menimpanya, pria itu datang kemari melihatnya?
Ino ingin berkata pada Itachi bahwa ia tidak mau pria itu ada disini.
Namun ia takut.
Dan ia sangat malu.
Ino tidak dapat membendung air matanya, ia tidak peduli dengan apapun lagi.
Ino kemudian menangis sekerasnya didepan Itachi yang kini beralih memeluknya.
o
o
o
"Sakura" gumam Itachi.
"Nan Desu Ka Itachi No Niichan ?" tanya Sakura.
"Izinkanlah Ino tinggal diapartemenmu selama yang dia mau."
"Aku akan membayar semua kebutuhan kalian selama Ino tinggal disini."
Sakura mengangguk.
"Kenapa Ino jadi berubah seperti itu?" tanya Sakura.
"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Sakura lagi.
Itachi menautkan alisnya.
"Maksudmu?" tanya Itachi.
"Malam itu, Ino mendatangiku dalam keadaan terluka." ujar Sakura.
Kedua bola mata Itachi membulat.
"Apa?"
"Wajahnya seperti habis dipukuli seseorang." ujar Sakura.
Itachi diam membeku.
"Malam itu hidungnya tidak berhenti mengeluarkan mimisan."
Itachi masih mematung.
"Aku pikir kalian berdua bertengkar, dan mengira kau memukulnya." ujar Sakura.
o
o
o
o
Pagi-pagi sekali Ino sudah rapi mengenakan seragam sekolahnya.
Sakura yang baru bangun pun terkejut.
"Ino? Kau sudah bangun?" tanyanya.
"Hai!" Ino menyematkan senyum yang dipaksakan.
"Mandilah Sakura, kita berangkat sama-sama ke sekolah."
Sakura yang masih melongo pun mengangguk.
"H -Hai, tunggu!"
o
o
o
o
Derasnya hujan membasahi seluruh tubuh gadis cantik yang masih terbalut seragam sekolah.
Ia berdiri dipinggiran atap sekolah seolah menikmati dinginnya hujan.
Seluruh siswa yang lain telah lama pulang, hanya ia siswa yang tersisa.
Setelah berhasil mengelabui sahabatnya, ia pun menyelinap masuk kearea ini.
Sesaat memori yang memuat kenangan bersama Itachi berputar dikepalanya.
Bibirnya menyunggingkan senyum ketika mengingat pertemuan pertama dengan Itachi.
Mengingat saat pertama kali mereka berkencan.
Dan mengingat saat pertama kali merasakan ciuman memabukkan dari pria yang sangat dicintainya.
Selama ini yang ia nanti-nantikan adalah bersatu dan hidup bahagia selamanya dengan pujaan hatinya.
Namun khayalan itu harus ia tepis sejauh mungkin karena tidak akan pernah bisa menggapainya lagi.
Ino telah menyerah.
Ia memutuskan untuk melepaskan harapannya.
Sebuah kejadian yang membuat mentalnya hancur, merenggut senyum dibibirnya dan berganti menjadi ekspresi penuh kebencian.
Kejadian tersebut berimbas pada kesehatan psikologisnya.
Ia jadi tidak mau bertemu dengan orang-orang.
Hingga hari ini ia memutuskan untuk menghilang dari kehidupan.
Tubuhnya..
Bahkan cintanya...
sudah tidak layak untuk Itachi.
Ino memejamkan matanya, merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhnya untuk yang terakhir kali.
Dengan pasrah ia membiarkan tubuhnya melayang.
Dan jatuh kebawah seiring dengan derasnya guyuran hujan.
END
