Naruto Lemon con otra esposa Capitulo 33
...
Disebuah danau yang jauh dari apartement yang Narumi buat terlihat mereka berdua yang tengah saling menghangatkan satu sama lain disaat kondisi hutan cukup dingin karena beberapa hari yang lalu terlihat bekas hujan badai yang ganas yang menghantam sebagian pesisir hutan yang rusak parah.
"Ohhh~! Ahhh~!Ahh~!Ahhh~!Yaaah~!Narumi~!...Lebih~!Keras~!Lagi~!Ahh~!Uhhh~!Sangat~!Dalam~!"
Ternyata itu Shinobu Kocho mantan pacar Naruto terdahulu ke 22 dari total jumlah sekitar 50 mantan Naruto Uzumaki sewaktu tinggal di Inggris sebelum akhirnya menikah dan Narumi Yotsuba diketahui sebagai Kloningan dari Naruto Uzumaki yang sedang melakukan sex gelap di malam hari.
"Arghh~!Shinobu~!Aku~!...Keluar~!Lagi~!Erghh~!"
Ucap Narumi akan segera muncrat
"Ohhh~!Narumi~!Kun~!Keluarkan~!...Berikan~!Aku~!Cairan cintamu~!Ahhh~!Yaah~!"
Shinobu mendesah nikmat dengan wajah mesum menjulurkan lidahnya.
Narumi yang semakin diambang batasnya akhirnya muncrat dan menekan pinggulnya sedalam mungkin agar Shinobu bisa menikmatinya
Crooot~!Crooot~!
Banyak sperma Narumi yang keluar dan juga memenuhi isi rahim Shinobu, tak berhenti disitu saja Narumi mengganti posisi dari yang doggy style menjadi saling berhadapan antara dia dengan Shinobu.
"Uhhh~!Shinobu~!... "
Narumi kembali menggerakkan pinggulnya, ia memegang kedua pantatnya agar tak jatuh sementara Shinobu memeluk erat Narumi.
Ia merasakan penis Narumi masuk lebih dalam dari sebetulnya dan ia merasakan kenikmatan yang luar biasa walau ini pertama kali baginya tapi shinobu cukup menikmatinya.
Sex di alam terbuka memanglang terbaik,Narumi terus menerus menggemput vagina Shinobu tanpa ampun.
"Uhhh~!Shinobu_chhan tubuhmu sangat sexy~!Aku bisa keluar lagi~!Sial~!"
PLAK!PLAK!PLAK!PLAK!
Semakin dalam sodokan Narumi maka semakin keras desahan Shinobu yang terus menerus keluar dan menghiasi hutan itu dengan suara desahan merdu milik Shinobu Kocho.
"Narumi~"
"Shinobu~"
Keduanya saling mencium dan beryusaha mendominasi lawan mereka,dibandingkan dengan Nami Park yang lebih suka didominasi Shinobu lebih suka melawan bahkan ia lebih agresif daripada Nami Park.
Sembari saling berciuman sex mereka semakin intim dimana Narumi berusaha memperdalam penetrasi penisnya di vagina Shinobu dan membuat gadis bermarga Kocho itu mengerang nikmat dalam ciumannya.
"Emmhh~!..Emphh~!Puahh~!Ahhh~!Narumi~!Kun~!Aku~!Mau~!Keluar~!...Lagi~!Ahh~!Ohhh~!"
Sodokan brutal nan dalam Narumi membuat Shinobu akan segera keluar lagi. Narumi menyeringai mesum sambil memandang kedua asset besar bombastis milik Shinobu.
Ia menghisap salah satu putingnya hingga menyisakan bekas.
"Ohhh~!Narumi Kun~!Hisaplah~!Sesukamu~!Ahhh~!Ohhh~!Narumi kun~!...Ohhh~! Narumiiiii~!"
Vagina Shinobu menyempit dan gesekan dinding vagina Shinobu lebih nikmat disbanding sebelumnya pertanda dia akan muncrat.
"keluarkan Shinobu~!Aku juga akan sampai~!...Uhhh~!"
Penis Narumi juga berkedut dan kali ini mereka akan klimaks bersama.
"Narumii~!Kunn~!"
"Shinobu!~Chann~!"
"KYYYYYYYAAAAAAAAA/GUUUUUUUUHHHHHHH~!"
Mereka klimaks bersamaan dan menambah sensai hangat yang sangat nikmat diantara mereka.
Mereka saling melumat sembari beberapa kali Narumi melanjutkan sodokannya yang pelan.
"Ahh~!"
Shinobu mengerang nikmat sambil melihat vaginanya yang masih ada penis Narumi.
Danau itu bersih dan tidak ada ikan jadi aman jika kedua orang yang sedang memadu kasih ingin menikmati air danau yang segar.
Mereka pun pada akhirnya berendam di air danau yang kedalaman mencapai dada Narumi.
Plok!Plok! Plok! Plok!
Plok! Plok! Plok! Plok!
Tanpa aba aba Narumi kembali menggerakkan pinggulnya dan Shinobu kembali mendesah nikmat merasakan penis Narumi bergerak cepat dan sampai ke rahimnya, belum lagi ia seolah merasakan sensasi baru sex di sebuah danau.
.
.
.
Sudah 2 jam Narumi menggenjot brutal Shinobu dan sama sekali tidak menunjukkan penisnya akan layu dan lelah malahan Shinobu yang sekarang lelah setengah mati karena melayani nafsu buas Narumi yang terkontaminasi oleh Aura succubus secara sembunyi.
Tubuhnya penuh dengan keringat yang malah membuatnya semakin menggiurkan dimata Narumi dan ia makin bersemangat menggenjot tubuh seksi Shinobu.
"Ohhh~!Ohhh~!Narumi~!Ahhh~!...Apa kau selesai~!Ahhh~!Ahhh~!"
Shinobu sudah sangat lelah bahkan kedua kakinya tak sanggup berdiri.
Saat ini Shinobu berada di posisi berdiri bersandar ke sebuah batu besar dan kaki kanannya diangkat sampai pinggang oleh Narumi.
" Belum~!Aku masih lama~!"
Shinobu yang mendengar hanya bisa pasrah dan berharap ini segera selesai walau begitu ia masih menikmati perlakuan buas Narumi pada dirinya walau yang bekerja itupun pikirannya dibutakan kenikmatan sex nya dengan Narumi.
Selang cukup lama akhirnya Narumi akan segera muncrat.
"Uhhh~!Shinobu~!Aku akan muncrat~!"
Entah sudah berapa banyak sperma yang ia semburkan pada rahim Shinobu yang pasti itu sangat banyak mengingat mereka sudah 2 jam sex.
"Erghh~!Ohhh~!Ahhh~!"
Shinobu sudah tak memperdulikan apa apa lagi selanjutnya yang ia pedulikan hanyalah penis Narumi yang sangat nikmat.
"Shinobu~!GUUUUUUHHHHHHH~!"
Narumi mendongak keatas sambil menggigit bibirnya sendiri tak kuat menahan gempuran nikmat dan semburan sperma hangat divaginanya.
Narumi mencabut penisnya dan perasaan Shinobu sangat lega karena benda tebal keras itu sudah tak berada di vaginanya lagi.
" Ayo kembali shinobu akutak mau di curigai oleh penghuni apartement yang lain"
Ucap Narumi menggendong nya dengan bridal style seolah olah biasa setelah 2 jam berhubungan sex itu dan sekali lagi Shinobu heran kenapa Narumi seolah tak bisa lelah.
Kemudian mereka kembali ke apartement Narumi menggendong Shinobu karena tak bisa berjalan lancar akibat sex tadi yang melelahkan.
.
.
.
Sembunyi bawah pohon
" Selama ini aku menggoda Cid-kun, agar aku bisa berhubungan sex dengan nya bahkan aku satu kelompok belajar dengan nya bersama yang lain tapi apa yang aku dapatkan dari cid-kun sungguh bodh hanya membuang buang waktuku saja, tapi semenjak melihat mereka berdua berhubungan sex di tengah hutan tepi danau membuat darahku mendesir pemuda-kun "
Ucap nya dengan penuh sebal dengan tangan bersedikap di dadanya.
Continuará
