Di halaman gereja Mondstadt, dua orang remaja berjalan bersama. Dari gerak gerik mereka, kelihatannya mereka sedang berdebat tentang sesuatu. Salah satu di antaranya memegang minuman keras.
"Ahahaha, Naruto tidak berani minum sake." ucap Venti sambil meminum sake yang ia bawa. Wajahnya yang memerah tandanya kebanyakan minum alias mabuk.
Alis mata Naruto berkedut-kedut. Orang ini mengejeknya. "Mau mati kapan lu tanya begitu ke aku?" tanyanya dengan nada ancaman. Ia kesal terhadap orang ini.
Tak perduli dengan ancaman Naruto, Venti mendekat dan berbisik. "Udah minum aja, dewa gak bakal tahu kok."
Naruto facepalm. Ia tidak habis pikir dengan ucapan ngelantur dari Venti. Haruskah ia membeli cermin dan menyuruhnya berkaca?
"Kau kan Ar-"
Wush
Gelombang angin kencang bercampur es menerpa mereka berdua. Naruto dan Venti langsung melindungi diri dengan lengan menutupi pandangan mereka.
Begitu gelombang angin tersebut berhenti, suara langkah kaki terdengar di kegelapan.
"Akhirnya ketemu."
Perempatan tercipta di dahi Naruto. Kekesalannya sudah berada di puncak. "Woi sialan, jangan sembarangan- eh?" Ia tak jadi meneruskan ucapannya begitu sang pelaku memunculkan jati dirinya.
Seorang wanita dewasa berpakaian tak bisa di jelaskan bersama dengan dua orang bertopeng dan jubah hitam. Naruto terdiam saat melihat ekspresi tersenyum dari wanita itu, apalagi ia bisa melihat background penuh cinta di sekeliling wanita.
Rasa kesalnya menguap begitu saja ketika terhipnotis dengan kecantikan wanita itu.
Wush
Entah bagaimana caranya Naruto sudah berada di depan wanita tersebut. Ia memasang wajah tampan yang ia bisa. "Oh ya ampun cantiknya. Apa kamu bidadari yang turun dari langit?" tanya Naruto dengan nada serak basah. Wanita itu tersentak karena di beri pertanyaan tersebut.
Dua pengawal yang bersama wanita itu bersiap untuk menyerang pemuda, tapi tidak jadi karena bos mereka malah terpesona dengan wajah merona merah.
"Ti-tidak kok. Aku kesini hanya untuk mencari seseorang." ucap sang wanita tergagap membuat pengawalnya tercengang di balik topeng mereka. Serius? ini bos mereka yang kejam itu kan? kenapa sikapnya berubah 180 derajat!?
"Begitu."
"T-tsaritsa. Kenapa kau di sini!?" tanya Venti tajam yang agak jauh dari kumpulan orang-orang tersebut. Ia was-was sekarang sebab wanita itu berbahaya.
Pletak
"Aw!" Venti mengeluh kesakitan karena di jitak oleh Naruto.
"Mata lu Tsaritsa. Dia itu La Signora." ucap Naruto misuh-misuh sendiri. Emang ngeselin kalau sama Venti. Sesukanya mengubah nama orang, padahal sebelumnya dia sendiri yang memberitahunya. Ia berbalik badan lagi ke La Signora. Ia masih klepek-klepek dengan wanita itu.
"Jadi, siapa yang kau cari?"
La Signora berdehem sebentar untuk mengendalikan dirinya. Lalu ia memasang ekspresi meremehkan. "Saya kesini untuk mengambil sesuatu yang penting di dalam Venti." Tiba-tiba La Signora menjilat bibirnya sendiri. "Yah~ sesuatu yang penting di dalam tubuh Venti." ulangnya dengan nada sensual sekaligus menggoda iman.
Srek
"Woi!"
"Nih! Orangnya. Silahkan berbuat apapun kepadanya."
Naruto langsung mendorong-dorong Venti dan mendekatkannya kepada La Signora. Ia sangat kesal dan cemburu. Ia kira wanita itu kesini untuk menemuinya, ternyata untuk mencari Femboy ini. Ia bahkan tak perduli kalau Venti sedang di pegang oleh pengawal misterius itu.
"Makan ini!"
Duagh
La Signora langsung menendang Venti yang membuatnya terpental. Naruto yang melihat itu hanya melenguh padahal bukan ia yang di tendang. Yah itu diluarnya saja padahal di dalam hatinya tertawa puas.
'Mampus kau.'
"Oi Venti, kau baik-baik saja?"
"..."
Tak ada jawaban dari Venti, Naruto langsung mendekatinya dan berlutut. Ternyata dia sedang pingsan.
"Oi!" Naruto menggoyang-goyangkan badan Venti, namun dia tetap tidak sadar. Ia menggertakkan giginya. Temannya di tendang seperti ini! Ia tidak terima.
"Beraninya kau menendang Venti dengan kakimu yang seksi itu! Kau!" Mata Naruto mengkilat marah dan menengok ke arah orang yang melakukannya.
"BIADAB KAU, TSARITSA!"
"La Signora, Bodoh."
"Oh iya lupa. BIADAB KAU, LA SIGNORA!" ralat Naruto sambil berteriak setelah di beritahu oleh Venti yang entah bagaimana dia bisa berbicara.
La Signora merengut "Apa sih?"
Naruto tiba-tiba menangis anime "Aku iri. Venti di tendang dengan kakimu yang indah itu. Bagaimana aku tidak marah, Hiks." ucapnya mewek sembari mengelap ingus di hidungnya.
Dua pengawal La Signora Sweatdrop. Kirain marah karena temannya di celakain, ternyata malah iri. Sementara La Signora sendiri tersenyum.
"Baiklah."
Duagh
Akhirnya La Signora juga menendang Naruto hingga membuat pemuda itu jatuh pingsan tepat di sebelah Venti.
Srek
Atau lebih tepatnya Naruto pura-pura pingsan. Ia merasakan kalau La Signora mendekati mereka berdua. Karena ia penasaran, ia membuka sedikit matanya dan mengintip.
Seketika ia menyesali perbuatannya sebab ia melihat Venti di pegang-pegang oleh La Signora membuat hatinya terasa panas.
'Venti bangsat. Enak banget di pegang-pegang tante cantik.'
"Akhirnya aku mendapatkannya." seru La Signora senang. Ia mengangkat tangannya ketika mendapatkan benda kecil mirip bidak catur yang di sebut Gnosis. Setelah mendapatkan benda yang ia cari, ia menatap kedua pemuda yang pingsan, lebih tepatnya ke arah pemuda surai hitam dengan penutup mata sebelah kiri.
Ia merona tipis saat mengingat wajah tampannya itu menggoda dirinya, walau di tutupi sifatnya yang nyeleneh. "Saat kita bertemu lagi..." Ia menjeda perkataannya begitu dua pengawalnya telah dekat dengannya.
"..mungkin kita bisa bermain di ranjang sepuasnya." lanjutnya yang membuat pengawalnya menatap horor dirinya.
La Signora berserta rombongannya langsung menghilang.
Srek
"Tentu saja aku akan melakukannya sampai kau tidak bisa berjalan." Naruto langsung bangun dari pura-pura pingsannya. Tentu saja ia bersemangat setelah mendengar ucapan La Signora. Ia bisa membayangkan tubuh telanjangnya yang aduhai sampai liur menetes dari mulutnya.
"Ups." Sadar ia bertingkah oot, ia mengelap air liurnya. Ia mendengus ketika melihat Venti yang masih pingsan. Sepertinya tidak ada pilihan lain.
"Ayo pergi ke kedai Diluc, aku yang traktir."
"GAS!"
Secara aneh bin ajaib Venti langsung bangun dari pingsannya dan bersemangat untuk berjalan menuju ke arah tempat tujuan yang ia sangat sukai.
"Ayo, Naruto!"
Sementara Naruto hanya memberikan tatapan datar-sedatarnya. Ia pun bergumam.
"Archon Mondstadt brengsek."
