Disclaimer : Sunrise


Chapter 1

11 Mei

.

"Cagalli?"

Perlahan aku membuka mataku, dan yang pertama kali kulihat adalah wajah yang tersenyum.

"Selamat pagi," wajah lembut yang disinari matahari pagi yang menyeruak masuk dari sela tirai itu menyapaku.

Hal pertama yang ada di pikiranku adalah, 'Ah, sudah lama aku tidak melihat wajahnya sedekat ini. Syukurlah, kelihatannya dia bahagia sekali'.

Namun beberapa saat kemudian, aku mulai tersadar. Mataku berkedip sambil berpikir—sedang apa dia di sini?

"...Athrun?" setengah ragu dan setengah bingung namanya keluar dari mulutku. Mataku yang mulai bisa menangkap hal lain selain wajahnya, mendapati kalau ia hanya mengenakan piyama. Langit-langit kelambu tempat tidurku—sebentar, ini bukan kamarku…

Meskipun sedikit tidak familiar, tapi aku ingat pernah ke sini beberapa kali.

Ini kamar utama di kediamanku…

"Ada apa? Tidak biasanya kau sebingung ini ketika bangun pagi, Cagalli," wajah Athrun yang tadinya tenang sekarang sedikit terlihat khawatir. Sebelah alisnya mengernyit sambil terus menatapku.

Masih merasakan disorientasi, beberapa pertanyaan berputar di kepalaku. Kenapa aku ada di sini, dan bukannya di kamarku sendiri? Kenapa dia ada di sini, ketika aku bangun pagi, mengenakan piyama?

Apa semalam dia tidur bersamaku di sini?

…Sebentar…

"KENAPA KAU DI SINI?" Aku langsung bangkit terduduk di tempat tidur, mataku membelalak ke arah Athrun yang kaget karena aku tiba-tiba bangung sambil berteriak.

"Kenapa… katamu? Maksudmu apa…?" Athrun malah balik bertanya, wajahnya juga seperti tak kalah bingung denganku.

"Apa semalam kita… kita tidur…" bibirku tersendat, tidak bisa melanjutkan kata-kataku dan aku merasa kalau wajahku memanas membayangkan Athrun tidur di sampingku semalam. Melihat rambutnya yang sedikit berantakan khas orang yang baru bangun tidur, piyamanya, dan juga kenyataan kalau dia membangunkanku seperti ini. Tapi itu tidak mungkin. Dulu sewaktu Athrun masih tinggal bersamaku sebagai bodyguard pribadiku saja kami tidak pernah melewatkan malam bersama seperti ini. Kenapa sekarang dia tiba-tiba ada di sini? Apa tadi malam terjadi sesuatu? Atau kemarin? Atau…

Lho…

Kemarin aku…

Apa yang kulakukan kemarin…?

Aku mencoba mengingat-ingat apa yang kulakukan di hari sebelumnya, tapi entah kenapa aku tidak bisa menemukan apapun di dalam kepalaku. Aku bahkan tidak ingat sekarang hari apa, tanggal berapa…

"Cagalli, apa kau sakit? Sejak tadi kau seperti orang linglung," sekarang wajah Athrun terlihat khawatir. Sebelah tangannya naik ke dahiku, sepertinya bermaksud untuk mengecek suhu tubuhku. "Tidak panas… Apa kau merasa tidak enak badan? Apa ada yang sakit?"

"Sebentar, aku tidak sakit!" Aku menarik tangannya dari dahiku. Sesaat aku merasa asing dengan tangan yang kupegang karena aku sudah lama tidak sedekat ini dengannya. Sudah bertahun-tahun sejak perang Valentine Berdarah kedua berakhir, dan sejak saat itu kami berdua hidup terpisah. Aku kembali menjalani hidupku sebagai Representatif dari Dewan Petinggi Orb, dan Athrun masuk ke barisan pertahanan negara Orb, sehingga ia memilih tinggal di rumah dinas militer yang disediakan untuk CO di dekat Onogoro supaya lebih dekat ke markas militer utama. Hubungan kami hanya sebatas atasan dan bawahan. Dan yang pasti kami tidak memiliki hubungan khusus sampai-sampai kami bisa berduaan seperti ini, di kamar utama di kediamanku. Aku saja tidak ingat kapan dan kenapa aku pindah ke kamar ini. "Dari pada itu, kau belum menjelaskan padaku kenapa kau ada di sini," aku berkeras meminta jawaban. Entah kenapa kepalaku benar-benar buntu mencoba memecahkan misteri keberadaannya bersamaku, di tempat tidur, setelah sekian lama kami hidup terpisah tanpa ada kedekatan apapun. "Terus kenapa aku ada di sini? Kenapa aku tidak di kamarku?"

"Kau bicara apa? Ini kamar kita." Athrun menjelaskan, tapi kata-katanya malah membuatku semakin bingung.

"Kamar kita?" Sejak kapan kita berdua punya kamar bersama? Seperti suami istri saja.

Namun kata-katanya yang berikutnya seolah menjawab pikiranku. Sambil mengangguk, Athrun melanjutkan pelan-pelan, "Kau pindah ke kamar ini sejak kita menikah dan jadi suami istri."

Aku mengerjap, mencerna kata-katanya perlahan, takut aku salah mengartikan. "Apa katamu…?" Kepalaku penuh dengan tanda tanya, tapi aku bisa merasakan jantungku semakin berdegup kencang.

"Cagalli, apa kau lupa kita sudah menikah tahun lalu?" Athrun balik bertanya lagi, sekarang wajahnya terlihat waspada. "Bagaimana bisa—"

"Menikah? Tahun lalu!?" Aku berseru tanpa sempat mendengar lanjutan darinya. "Tunggu, tunggu. Itu tidak mungkin… Kita kan—kau tidak pernah—" Memangnya kapan aku bersama lagi dengan Athrun, bahkan sampai menikah? Terakhir bertemu dengannya kan kalau tidak salah waktu rapat tentang detil keamanan untuk perjalanan dinas ke Kerajaan Skandinavia di ruanganku beberapa hari yang lalu—dan bagiku saat itu dia masih Admiral Zala. Dari mana ceritanya aku bisa tiba-tiba menikah dengannya, tahun lalu?

Aku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi setelah rapat itu, maupun ingatan ketika kami menikah atau bahkan merencanakan pernikahan itu. Tapi aku juga tidak menemukannya di sudut manapun dalam ingatanku.

Seketika aku merasakan tubuhku kaku, keringat dingin mengaliri punggungku begitu aku menyadari keanehan ini. Kenapa aku tidak ingat apa-apa? Aku bahkan tidak ingat aku menjalin hubungan kembali dengan Athrun sampai menikah seperti ini…

Apa ada yang salah denganku?

"Kau tidak ingat itu juga? Apa kemarin waktu bekerja terjadi sesuatu dan kau kena gegar otak atau apa?" Suaranya semakin terdengar panik

"Jangan konyol, kalau ada kejadian yang membuatku gegar otak kau pasti tahu, kau kan—"

"Representatif, ….. harus berangkat seka…..."

"Maaf, sebentar ... Admiral Zala, maaf merepotkan ….ada…. tertinggal di ….hotel."

"Apa ….dokumen … rapat? ….tidak keberatan, … saya ambilkan—"

Apa itu? Di mana kejadian ini? Kenapa semuanya buram? Aku hanya ingat kepingan-kepingan kejadiannya saja.

Tiba-tiba bayangan di kepalaku berubah. Aku melihat lantai di depan mataku, sepertinya aku tertelungkup. Dan lagi ... aku… seperti merasakan darah mengalir di dahiku….

Sesaat tubuhku mengejat mengingat rasa sakit yang entah dari mana datangnya. Entah kepala samar-samar aku bisa merasakan kepalaku terluka dan kaki kiriku sakit dan panas. Panik, aku menyibakkan selimut, mengecek kakiku. Tapi tidak ada luka apapun di sana. Dan secepat rasa sakit itu datang, secepat itu pula mereka hilang begitu aku melihat kalau kakiku baik-baik saja. Bingung, aku menepuk-nepuk kaki kiriku dari atas piyamaku dan juga mengecek kepalaku yang tadi berdenyut sakit.

"Cagalli? Aku minta Nona Myrna panggilkan dokter ya. Kau sepertinya benar-benar tidak sehat. Tunggu di sini ya, berbaringlah lagi kalau kau merasa pusing. Wajahmu pucat," suara Athrun menarikku dari kelebatan kejadian yang tidak kumengerti. Tiba-tiba aku merasakan tangannya mendorongku kembali ke tempat tidur yang asing ini.

Athrun turun dari tempat tidur dan segera meraih telepon yang ada di meja samping, dengan luwesnya menekan tombol ekstensi yang langsung terhubung pada Myrna.

Apa ini mimpi?