Disclaimer : Sunrise
Chapter 2
12 Mei
.
"Athrun, kau sungguh tidak perlu pergi ke pangkalan militer hari ini?" Aku bertanya pada Athrun yang menyiapkan teh dari tea-set yang yang dibawakan oleh pelayan ke ruangan dengan troli makan. "Padahal biar pelayan saja yang membuatkan tehnya." Aku berkomentar melihatnya menuangkan air panas ke poci teh.
"Tidak apa-apa, aku tahu kok tidak perlu, tapi aku ingin melakukannya untukmu," Athrun menjawab begitu teh yang dibuatnya sudah selesai. Athrun meletakkan lemon di dalam cangkir tehku dan mencampurkan susu ke dalam tehnya sendiri. "Mana bisa aku pergi bekerja sementara kau sedang tidak sehat." Athrun meletakkan cangkir teh di atas meja tepat di depan kami dan duduk di sebelahku. "Lagipula pekerjaanku akhir-akhir ini kebanyakan berhubungan dengan dokumen. Kalau ada yang perlu didiskusikan aku tinggal conference meeting dengan mereka lewat PC di rumah. Aku sudah menyelesaikan sebagian pekerjaanku tadi pagi. Sisanya aku lanjutkan nanti setelah menghabiskan waktu denganmu sebentar seperti ini."
Athrun tersenyum padaku, dan mau tidak mau akupun membalas senyumannya. Meski begitu separuh hatiku tidak bersamanya, melainkan memikirkan hal lain.
Kemarin gara-gara melihat sikapku sewaktu bangun, Athrun langsung meminta supaya dokter keluarga yang selalu aku datangi untuk periksa kesehatan supaya datang ke rumah. Jadi tentu saja seisi rumah langsung mengira ada sesuatu yang terjadi padaku, padahal aku baik-baik saja.
Meskipun sekarang aku jadi ragu apa aku memang baik-baik saja atau tidak.
Dokter yang datang memeriksaku berkata kalau tidak ada yang salah denganku. Hanya saja ada kemungkinan aku kelelahan jadi dokter menyarankan supaya aku istirahat saja selama beberapa hari. Lalu begitu aku berkata aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaanku, semua yang ada di sana terlihat bingung. Dari sana aku baru tahu kalau aku sudah mengundurkan diri dari posisiku sebagai Representatif Dewan Petinggi di tahun yang sama aku menikah dengan Athrun.
Karena banyaknya hal yang tidak kuingat, dokter juga menyarankan supaya aku diperiksa ke dokter spesialis. Athrun yang sudah panik mendesakku supaya lekas pergi, tapi aku menolak karena merasa mungkin dalam beberapa hari aku bisa ingat. Athrun kelihatan tidak setuju, tapi aku meyakinkannya kalau aku masih tidak ingat juga aku akan menurutinya dan pergi ke dokter spesialis nanti.
Oleh karena itu, sepanjang pagi selama Athrun bekerja di ruangan yang sudah dirancang ulang sebagai ruang kerja pribadinya di sebelah ruang kerjaku, aku mencoba menelusuri ingatanku dengan apa yang bisa kutemukan di sini.
Setelah selesai makan Athrun langsung naik ke ruangannya, setelah mencium bibirku di depan semua pelayan yang ada di ruang makan. Dia hanya terkekeh pelan melihat wajahku yang memerah. Mungkin karena sudah dilatih untuk diam di segala situasi ataupun karena sudah terbiasa, pelayan yang ada di sana tidak tidak berkomentar apa-apa.
Pertama, aku memanggil Myrna dan bertanya tentang bagaimana aku bisa menikah dengan Athrun. Lalu dari cerita Myrna, tidak lama setelah aku mengundurkan diri dari posisi Representatif dan berperan sebagai kepala keluarga Athha untuk anggota Dewan Lima, Athrun melamarku. Dia masih bekerja sebagai kepala staf gabungan di militer.
Myrna mengajakku ke ruangan istirahat dengan jendela yang berupa pintu geser kaca yang langsung terhubung dengan taman. Aku melihat lemari yang ada di satu sisi jendela, dihiasi dengan foto-foto keluargaku dari generasi sebelumnya, termasuk fotoku dengan Ayah. Dan di sana ada juga foto pernikahanku dengan Athrun.
"Nyonya terlihat sangat cantik dengan gaun Nyonya waktu itu, benar-benar gaun yang cocok dibandingkan—aah, tidak tidak. Jangan dipikirkan. Tapi pokoknya hari itu benar-benar hari bahagia untuk semuanya. Tuan Kira dan Nona Lacus juga ikut datang. Acaranya benar-benar meriah. Tapi Myrna cuma bisa menangis setiap kali melihat Nyonya, sebab Nyonya terlihat sangat bahagia hari itu—"
Myrna terus bercerita dengan semangat tentang hari itu. Meskipun begitu aku sama sekali tidak bisa mengingat apapun yang ia ceritakan.
Selain itu, ada satu hal yang membuatku takut. Aku bisa melihat dengan jelas semua foto lama yang memang pernah kulihat dulu. Tetapi semua foto baru yang ada di lemari ini, terutama foto pernikahanku dengan Athrun, semuanya terlihat buram di mataku. Aku tidak bisa melihat dengan jelas baju macam apa yang kukenakan, juga seperti apa wajah Athrun di foto itu.
Tapi aku tidak sampai hati mengatakannya kepada Myrna karena ia terlihat begitu bahagia menceritakan semuanya. Aku tidak bisa mengingat kejadian persisnya, tapi setidaknya sekarang aku punya gambaran bagaimana pernikahanku dilaksanakan.
"Nyonya benar-benar tidak ingat apa-apa ya?" Myrna tiba-tiba berbalik ke arahku dengan wajah khawatir.
Panggilan itu juga masih terasa sangat asing buatku. "Tapi… aku sudah sedikit ingat kok. Terima kasih, Myrna."
Aku meminta waktu sendirian di ruangan itu, dan mencoba melihat foto-fotoku bersama Athrun lebih dekat. Tapi tetap saja, meskipun aku mengambil fotonya sampai tepat di depan mata, foto-foto itu masih tetap buram.
Ada apa ini? Kenapa bisa begini?
Karena semua foto buram itu lama kelamaan membuatku pusing, aku memutuskan untuk keliling rumah, mencoba mencari petunjuk lain. Aku mendapati banyak hal di rumah tidak jauh berbeda. Orang-orang yang ada di sana semua sama dengan yang aku kenal sampai ingatanku terputus, padahal aku kira akan ada setidaknya dua tiga orang baru menggantikan yang lama, karena sepertinya waktu sudah berlalu cukup lama.
Dan lagi, yang paling membuatku heran adalah Athrun sendiri.
Pagi hari ketika dia bilang dia memutuskan akan kerja dari rumah, aku mendesaknya untuk berangkat saja karena aku merasa aku tidak apa-apa. Mungkin aku hanya mengalami disorientasi sehingga aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi mulai dari ingatan terakhirku bersama Athrun tentang briefing yang kami lakukan hingga hari kemarin. Tapi Athrun bersikeras tidak mau meninggalkanku sendiri karena takut terjadi hal yang lebih buruk. Aku membantahnya, berkata kalau aku tidak sendirian di sini, namun Athrun tetap tidak mau mendengar. "Staf kemiliteran kita semuanya diisi dengan orang-orang yang kompeten. Tidak akan masalah meski kutinggal dua tiga hari," begitu dalihnya padaku.
Aku senang dia mencemaskanku, tapi setahuku Athrun biasanya selalu mendahulukan pekerjaannya. Dia orang yang berdedikasi tinggi, tahu mana yang sebaiknya ia lakukan dan mana yang bisa ditunda. Selama ini ia mengorbankan banyak waktunya menjalankan tugasnya sebagai petinggi di kemiliteran. Apalagi dia tahu seberapa pentingnya Orb bagiku. Rasanya agak janggal Athrun yang punya sifat seperti itu dengan mudahnya 'bolos' kerja hanya untuk menemaniku yang secara fisik masih segar bugar begini.
Dan lagi, entah kenapa aku merasa Athrun sekarang sedikit berbeda. Biasanya dia tidak seluwes ini dalam mengutarakan perasaannya padaku. Tapi sejak kemarin, dia terus saja bersikap begitu percaya diri menyatakan rasa sayangnya padaku. Ini juga membuatku senang, tapi di satu sisi membuatku bingung. Apa dengan menikah selama setahun bisa membuat Athrun yang pendiam jadi berani seperti ini? Bahkan ketika dia menciumku tanpa malu dan ragu di depan semua pelayan pagi tadi. Satu tahun pernikahan rasanya tidak akan cukup mengubah Athrun jadi seperti ini.
Lalu sekarang, ketika Athrun meninggalkan pekerjaannya untuk sekedar bersamaku. Athrun yang aku tahu biasanya tidak akan istirahat sebelum pekerjaannya selesai. Bahkan banyak bawahannya yang mengeluh karena Athrun susah sekali diminta untuk istirahat, sehingga membuat staf yang lain jadi sungkan untuk mengambil cuti gara-gara atasannya terlalu gila kerja.
Selain itu, bayangan kejadian aneh yang ada di pikiranku sejak aku bangun tidur kemarin. Aku tidak tahu itu apa, tapi entah kenapa rasanya sangat nyata. Aku bahkan masih bisa membayangkan rasa sakit di kaki dan kepalaku waktu itu. Sejauh apapun aku mencari ke sudut ingatanku, entah kenapa aku tidak menemukan akarnya.
Semakin lama aku jadi semakin ragu, apa aku benar-benar sakit? Apa ada yang tidak beres denganku sekarang ini?
