Disclaimer : Sunrise


Chapter 3

14 Mei

.

"Cagalli, kau masih belum sehat—"

"Aku tidak sakit! Aku masih bisa bergerak, masih bisa bekerja, aku tidak kekurangan suatu apapun! Minggir, Athrun. Aku harus pergi ke Gedung Parlemen."

Aku dan Athrun baru saja selesai sarapan. Begitu kami keluar dari ruang makan, aku berkata pada Athrun kalau aku ingin kembali bekerja karena rasanya aku sudah libur terlalu lama. Namun sebelum aku bisa melangkahkan kaki ke tangga yang menuju kamarku untuk bersiap-siap, Athrun menghalangi jalanku dan melarangku pergi.

"Kau masih belum ingat tentang semuanya, artinya masih ada yang tidak beres dengan kesehatanmu. Ini sudah 4 hari dan kau janji untuk menemui dokter spesialis kalau kau masih belum ingat juga," begitulah alasannya.

"Mungkin saja aku bisa ingat sesuatu kalau pergi bekerja—" Aku bersikeras. Aku memang tidak ingat tentang masa selama beberapa tahun lalu, tapi kalau pekerjaan seharusnya aku tidak perlu bergantung pada ingatanku, kan?

"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu di sana dan aku tidak ada?" Athrun masih mencoba menahanku.

"Athrun, kau juga tidak bisa begini terus!" Aku mengubah argumenku. Sama denganku yang sudah bolos kerja selama 4 hari ini, selama itu pula Athrun selalu berada bersamaku dan tidak pergi keluar sama sekali. Biarpun dia memegang kepemimpinan tertinggi di kemiliteran dibawah Representatif yang sekarang, ini tetap penyalahgunaan kewenangan. Aku tidak mau dia seenaknya tidak menjalankan tugasnya di markas besar hanya karena aku.

"Kenapa? Apakah salah kalau aku mengkhawatirkanmu?" wajahnya sekarang berubah dari keras menjadi sedih. Membuatku merasa tidak enak karena membuatnya berekspresi seperti itu.

"Tapi kau menelantarkan tugas-tugasmu di markas," Aku membantahnya, meskipun suaraku jadi tidak sekeras tadi.

"Aku tidak menelantarkan tugasku. Aku tetap bekerja. Kau juga tahu aku mengerjakan tugasku setiap hari, kan?" memang Athrun selalu bekerja dengan rajin di ruang kerjanya. Dia hanya keluar di siang hari setelah pekerjaannya bisa ditunda dulu sebentar, menghabiskan waktu bersamaku untuk beberapa lama, dan Athrun akan kembali lagi ke ruangannya.

"Tapi ini sudah 4 hari sejak kau terakhir pergi ke markas besar. Kerjaanmu di sana pasti sudah menumpuk!" Begitulah, semenjak hari di mana aku mengetahui kalau aku sudah menikahi Athrun, ia masih masih belum pergi ke markas utama sekalipun. Kalau hanya sehari dua hari tidak masalah. Tapi kalau selama ini, dengan dalih karena kesehatanku padahal aku baik-baik saja, aku tidak bisa ikut diam.

Tapi Athrun sepertinya tidak menanggapi hal ini seserius aku. "Tenang saja, aku bisa minta pada Kolonel Flaga atau Kolonel Waltfeld…"

"Bukan begitu! Kau—" aku terdiam, bingung harus berkata apa. "Sejak kapan kau jadi begini? Admiral Zala biasanya bukan orang yang melempar tanggung jawab pada orang lain. Kau tidak biasanya begini, Athrun…"

"Aku memang Admiral kesatuan militer Orb, tapi aku juga Athrun Zala, suamimu. Masih ada hal-hal penting yang tidak kau ingat, mana bisa aku meninggalkanmu untuk bekerja? Kau lebih penting bagiku dibanding pekerjaan, Cagalli."

"Tidak…." Aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak tahu kenapa, tapi Athrun yang ada di depanku sekarang terasa asing. Kasih sayangnya padaku sekarang terasa berkali-kali lipat, sampai-sampai dia terasa seperti Athrun yang berbeda. "Athrun, kau biasanya tidak seperti ini. Kau pasti akan mendahulukan pekerjaanmu dibanding aku."

"Itu sebelum aku jadi suamimu. Kau sama-sama tahu aku pernah hampir kehilanganmu sekali dulu, dan aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Sekarang setelah aku mendapatkanmu, aku ingin selalu berada bersamamu. Kita sudah berjanji setia, baik di saat sehat maupun sakit untuk selalu bersama. Dengan kondisimu sekarang, kau akan jadi prioritasku di atas pekerjaan." Athrun melangkah ke arahku dan menarikku ke pelukannya.

Pelukannya ini selalu kurindukan selama kami menjalani hidup masing-masing. Terakhir yang aku ingat adalah ketika aku berpamitan dengan kru Archangel sebelum mereka pergi ke angkasa lagi untuk kedua kalinya. Memang terasa sama, tapi semua perbedaan sikapnya jadi membuat pelukan ini pun terasa berbeda.

"Apa kau tidak suka aku bersamamu seperti ini? Apa jangan-jangan hanya aku yang merasakan ini, Cagalli?"

"Bukan begitu," aku menengadah memandang wajahnya yang sedikit sayu menatapku. Aku tidak suka memikirkan bahwa aku membuat ya sedih. "Aku cuma…" kalau aku bilang aku ingin Athrun yang seperti dulu, aku merasa seperti orang serakah. Dia sudah menjadi suamiku, apa lagi yang mau aku minta? Kalau aku minta lebih dari ini, aku takut malah kena kualat nantinya.

"Aku akan mengabulkan apapun untukmu, kau tinggal bilang saja padaku," sambil tersenyum Athrun menunduk, mengecup dahiku dengan teramat lembut. "Oleh karena itu, tetaplah di sini bersamaku."

Tanpa dibilang pun disinilah aku ingin berada. Bertahun-tahun lamanya aku menunggu supaya bisa bersamanya seperti ini. Kalau memikirkan Athrun aku selalu bertanya-tanya bagaimana nanti cara memberitahunya kalau aku ingin memulai semuanya dengannya lagi dari awal. Dan meskipun aku tidak bisa ingat bagaimana bisa jadi seperti ini, Athrun sudah menjadi keluarga terdekatku sekarang.

Memang masih membuatku kepikiran, tapi Athrun yang mengedepankanku seperti ini, posisiku yang sudah turun sehingga aku tidak perlu sibuk dulu, bisa dibilang merupakan sesuatu yang sangat kuharapkan diam-diam.

Seandainya aku bukan pemimpin tertinggi Orb, seandainya aku bisa bebas bersama dengannya… Begitulah dulu hati kecilku sering berontak.

Dan akhirnya semua itu terwujud sekarang.

Apa mulai sekarang aku boleh menikmati semua itu?

"Athrun…"

"Tetaplah di sini, Cagalli. Di sini bersamaku, selamanya," Athrun menunduk untuk mengecup bibirku. Sambil merasakan pipiku memerah, aku memejamkan mata dan menerimanya.

Di sini, terus bersama Athrun yang hanya melihatku saja. Dalam hati, inilah yang kuinginkan. Akulah nomor satunya, dan tidak ada lagi yang bisa menghalangi kami untuk bersama.

Aku… boleh berbahagia seperti ini bersamanya kan?

Tidak boleh!

Mataku yang tertutup seketika terbuka. Suara siapa itu?

Tidak akan kubiarkan kau pergi!

Bersamaan dengan suara itu, aku merasakan rasa sakit di bagian dadaku—

"Akh!"

"Cagalli!" Aku mendengar suara panik Athrun dan merasakan kakiku melemas. Aku bisa merasakan juga dengan sigap Athrun langsung membopongku dan membawaku menaiki tangga.

Sesak! Rasanya dadaku seperti dihantam sesuatu yang kuat dan bertubi-tubi!

Cagalli, kembali kemari! KEMBALILAH!

Tidak, kenapa rasanya semakin sakit? Aku bahkan bisa merasakan rasa nyeri yang sama dengan yang kurasakan beberapa hari yang lalu menjalar di kaki kiriku.

"Athrun…" Aku mencoba menggapai dengan tanganku, tapi aku tiba-tiba tidak merasakannya. Athrun… dia di mana? Dia bilang tidak akan meninggalkanku lagi… Kenapa dia pergi?

"Aku di sini! Kita ke rumah sakit sekarang, bertahanlah!" Aku merasakan Athrun berada di sampingku lagi, dan masih meneriakkan sesuatu kepada para pelayan. Rasa sakit seperti kaki seekor gajah yang besar menginjak-injak dadaku masih terasa kuat dan tidak kunjung berhenti. Dan suara yang memanggilku tadi hilang. Sebagai gantinya suara-suara lain terngiang di kepalaku—suara yang aneh, seperti kerumunan yang terus-terusan berbicara tapi tidak bisa kumengerti saking banyaknya suara mereka dalam satu waktu.

Siapa? Siapa kalian?

Hidup adalah perjuangan yang sebenarnya, kau ingat kan?

Rasa sakit masih menguasai pikiranku, tapi kesadaranku masih bekerja. Mustahil, pikirku, cuma satu orang yang tahu aku pernah berkata begitu.

Bukankah dia seharusnya berada di sini? Tapi suara yang meneriakkan kata-kata itu padaku terdengar begitu jauh.

Sebelum aku tenggelam, samar-samar aku mengenali suara yang berteriak itu.

Athrun…