Disclaimer: Sunrise


Chapter 4

15 Mei

.

Begitu bangun aku sudah terbaring di ruangan yang mirip rumah sakit.

Kenapa kubilang mirip, karena aku sendiri tidak yakin itu ruangan di rumah sakit atau bukan. Begitu membuka mataku, ruangan di sekelilingku terlihat buram, sama seperti ketika aku melihat foto pernikahanku dengan Athrun di kediamanku. Aku hanya punya kesan kalau ruangan itu berwarna putih khas rumah sakit, tapi aku tidak tahu di sana ada apa saja, ruangannya seperti apa. Aku hanya setengah yakin itu rumah sakit karena merasakan ada selang infus di tangan kiriku.

Lalu begitu aku melihat Athrun yang berwajah lega, dia pun bercerita kalau ia segera membawaku ke rumah sakit terdekat begitu kesadaranku hilang. Dokter sudah memeriksaku tapi katanya tidak ada yang salah denganku.

Begitu aku sadar dokter yang memeriksaku datang kembali. Namun dia malah membuatku semakin bingung dan takut karena begitu dia masuk, wajahnya juga sama seperti ruangan ini. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, seolah dia tertutup suatu kabut atau apa. Aku hanya bisa diam selama dia menjelaskan bahwa untuk jaga-jaga aku diharuskan menginap di rumah sakit semalam supaya mereka bisa memantau kondisiku. Kalau sampai hari berikutnya tidak ada masalah, aku akan diperbolehkan pulang. Jadi seharusnya hari ini aku bisa keluar dari rumah sakit.

Syukurlah, semakin lama aku semakin muak dengan bayangan buram yang membuat kepalaku pusing. Aku ingin cepat pergi dari sini.

Untungnya selama aku di rumah sakit, Athrun selalu ada di sebelahku, tidak pernah meninggalkanku barang sebentar. Tapi akibatnya semua pekerjaan yang dibawanya ke rumah jadi ia tinggalkan. Kadang-kadang ponsel kerjanya berbunyi, yang berarti ada orang dari kemiliteran yang menghubunginya. Tapi tiap kali Athrun hanya menjawab dengan singkat kalau ia sedang berada di rumah sakit dan tidak bisa menerima telepon, dan menyuruh mereka untuk mengirim email sebagai gantinya. Aku senang aku tidak ditinggalkan sendirian, tapi aku juga merasa sikapnya itu tidak benar.

"Memangnya boleh kau menolak semua panggilan pekerjaan seperti itu?" Kenapa representatif yang sekarang tidak menegurnya sama sekali? Kalau aku masih bekerja seperti biasa, aku pasti akan menyeretnya langsung kembali ke markas besar. Aku tahu dia mementingkanku di atas apapun, termasuk pekerjaannya sekarang, tapi aku tidak mau jadi alasan sehingga dia mengabaikan tugasnya seperti ini. Apalagi dia adalah memegang posisi sebagai Admiral; apa kata bawahannya nanti melihat sikapnya ini? Tidak, bahkan mungkin sekarang pun mereka sudah merasakan ada yang tidak beres. Kalau kredibilitasnya hancur gara-gara aku bagaimana?

Sebentar, siapa representatif yang sekarang menjabat? Kenapa aku juga tidak ingat itu?

"Athrun, siapa orang yang menggantikan aku sekarang di parlemen?"

Sambil menggeleng, Athrun menukasku, "Kau tidak perlu memikirkan hal seperti itu. Tugasmu cuma sembuh saja. Pekerjaanku juga bisa menunggu. Jangan khawatir, aku sudah mendapat izin untuk cuti selama beberapa waktu untuk menemanimu. Makanya kau harus segera sembuh supaya kita bisa cepat pulang."

"Hari ini aku bisa pulang, kan?"

"Kalau tidak ada gejala apa-apa lagi, ya kau akan pulang. Tapi kita tidak tahu apakah hal itu akan terjadi lagi atau tidak kan? Makanya kau harus cepat sembuh. Kau membuatku ketakutan karena kukira aku akan kehilanganmu waktu itu," Athrun yang tadinya duduk di kursi di sebelahku—aku bahkan tidak bisa melihat jelas seperti apa kursinya—apakah itu kursi bangku atau kursi dengan sandaran duduk—dan pindah ke sampingku. Sambil bersandar pada sandaran tempat tidurku, ia menarikku mendekat, memelukku dari samping. "Tolong jangan buat aku merasakan takut seperti itu lagi. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa mendapatkanmu, aku tidak sanggup kalau harus melepaskanmu pergi."

Hatiku sedikit terbelah dua. Selama ini aku selalu fokus pada pekerjaanku dan menolak memasukkan siapapun ke hatiku. Aku bahkan selalu menolak memikirkan tentang Athrun karena aku takut hatiku luluh dan melemah, aku takut aku akan bergantung lagi padanya sementara aku harus bisa berdiri di atas dua kakiku sendiri jika aku ingin memimpin negeri ini dengan baik. Aku tidak boleh bermanja padanya seperti dulu.

Meskipun sesekali, aku mengizinkan diriku memikirkannya, sedang apa Athrun sekarang? Apa dia sehat? Apa dia makan dengan benar? Apa dia tidak lupa makan karena terlalu sibuk?

Dan sekarang aku sudah tidak perlu mengemban tugas sebesar itu lagi karena sudah ada yang menggantikanku—meskipun aku masih tidak tahu siapa orangnya. Dan dengan Athrun sebagai suamiku sekarang, aku sudah bebas untuk bermanja dengannya. Tidak perlu diminta pun sekarang dia sudah menempel padaku setiap detik, kelihatannya dia tidak ada niatan untuk melepasku sama sekali, walaupun aku tidak akan pergi ke manapun.

Kembalilah padaku, Cagalli

Tubuhku menegang begitu aku mendengar suara itu lagi.

"Cagalli, kenapa?"

Aku diam saja mendengar Athrun yang menyadari reaksiku.

Sebelumnya aku tidak langsung sadar karena panik dan rasa sakit, meskipun samar-samar aku ingat aku merasa mengenal suara yang memanggilku dari jauh itu. Tapi sekarang begitu mendengar suara keduanya dalam waktu yang sangat dekat aku jadi semakin yakin.

Suara itu sama dengan suara orang yang ada di sebelahku sekarang; itu suara Athrun.

Tapi bagaimana mungkin? Athrun kan ada di sini bersamaku.

"Cagalli? Apa perlu kupanggilkan dokter?" Athrun sudah terlihat waspada melihatku terus mematung tanpa berkata apa-apa.

"Tidak, aku tidak apa-apa kok," aku menolaknya, "Kau di sini saja bersamaku." Aku mencoba mengalihkan perhatiannya dengan memeluknya erat-erat, menyembunyikan wajahku di dadanya supaya ia tidak melihat ekspresi di wajahku. Karena sekarang mungkin wajahku penuh dengan perasaan bingung.

Kenapa ada dua suara Athrun yang kukenal? Satu ada tepat di dekatku. Lalu yang satu lagi, yang sesekali memanggilku itu, yang seolah terdengar dari kejauhan… Itu suara dari mana? Kenapa sejak beberapa hari yang lalu banyak sekali hal yang membuatku bingung? Tempat ini juga, mataku seperti berkunang-kunang melihat ruangan buram ini. "Aku bisa langsung pulang, kan? Aku tidak suka di sini." Aku merajuk padanya. Tapi aku tidak memberitahunya kalau aku tidak bisa melihat ruangan ini dengan jelas, aku takut dia malah membuatku tinggal lebih lama dan mengira kondisiku semakin parah.

"Tentu saja boleh. Kalau kau mau, nanti kita bisa meminta dokter untuk berjaga di kediaman kita supaya kalau ada apa-apa kau bisa segera ditangani. Tapi aku harap itu tidak perlu terjadi."

"Aku mau cepat pulang," aku masih belum mengangkat wajahku sehingga suaraku sedikit teredam oleh tubuhnya.

"Tentu saja. Akan kupastikan kita pulang ke rumah nanti sore. Aku juga ingin cepat pulang bersamamu. Kembali ke rumah kita berdua." Aku merasakan pelukan Athrun semakin erat.

Tapi aku merasa aku tidak seharusnya mendengar kata-kata yang dibisikkannya setelah itu, "Syukurlah kau tetap di sini bersamaku. Aku harap kau tetap di sini dan tidak perlu kembali lagi."

'Tidak perlu kembali lagi' katanya?

Apa maksudnya? Memangnya aku mau kembali ke mana selain pulang bersamanya?

Kembalilah padaku, Cagalli

Aku teringat lagi kata-kata itu. Suara itu.

'Aku harap kau tetap di sini'.

Gara-gara suara itu, kata-kata Athrun yang seharusnya terdengar biasa saja, menjadi terasa aneh di telingaku.

Sekilas aku teringat kata-kata yang diucapkannya sejak kemarin padaku. 'Tetaplah di sini, Cagalli.'

Di sini… di mana?

Sebenarnya aku sekarang ada di mana?