Disclaimer : Sunrise


Chapter 6

17 Mei

.

Sambil duduk di ruang sunroom yang ada di sebelah taman tempat aku biasa minum teh bersama Athrun, aku menatap foto-foto yang masih saja terlihat buram di mataku. Meskipun sekarang aku tahu sebabnya.

Pernikahan kami tidak pernah terjadi. Itu semua hanya harapan bawah sadarku saja. Makanya aku tidak punya gambaran tentang pernikahan kami untuk diletakkan di bingkai-bingkai foto itu. Berbeda dengan foto-foto lama yang memang benar-benar ada dan pernah kulihat sebelumnya. Mungkin karena itu juga aku tidak bisa melihat wajah dokterku dan ruangan rumah sakit itu—aku tidak pernah benar-benar pergi ke sana atau bertemu orangnya.

"Kita bisa membuatnya jadi sungguhan," Athrun yang duduk di sampingku berkata, seolah ia tahu apa yang aku pikirkan ketika menatap lurus ke arah foto-foto pernikahan kami yang masih terlihat buram di mataku. "Kau hanya perlu tinggal di sini selamanya."

"Kalau aku di sini selamanya, apa yang akan terjadi?"

"Kita akan selalu bersama," jawabnya, seolah itu adalah hal yang memang wajar.

"Lalu, aku yang ada di sana?" Aku bertanya, meskipun aku punya perkiraan jawabanku sendiri.

"Kalau kau bahagia tinggal di sini, untuk apa mengkhawatirkan dunia sana?" Ia balik bertanya alih-alih menjawab pertanyaan ku. "Bukankah aku sudah cukup untukmu? Lagipula disini ada semua yang kau butuhkan. Aku, nona Myrna, pelayan di rumah ini. Kalau kau mau bertemu dengan yang lainnya pun bisa." Tentu saja mereka semua ada, semua orang yang aku tahu tersimpan di alam bawah sadarku seperti dia.

"Kenapa aku bisa ada di sini?" kuputuskan menanyakan hal lain, yang masih lumayan samar di ingatanku.

"Bukankah kau sudah ingat semuanya, Cagalli?"

"Aku hanya ingat sampai malam hari, waktu kau—Athrun mengantarku sampai ke kamar. Setelah itu… aku…" Aku masih mencoba mengingatnya, tapi masih belum kutemukan. "Kau pasti ingat kan?"

Athrun yang ada di sebelahku mengangguk. "Pagi berikutnya adalah hari pertama, hari pembukaan konferensi. Kita semua bersiap untuk pergi dengan mobil yang sudah disiapkan oleh panitia pelaksana dari pemerintah Kerajaan Skandinavia."

Aku mengerjap, mengingat apa yang ada dalam bayanganku sewaktu aku tersadar di tempat ini. Waktu itu aku masih belum mengerti itu bayangan apa, rupanya itu potongan ingatan.

"Representatif, kita harus berangkat sekarang." Aku ingat itu suara supir mobil yang sudah disiapkan oleh pemerintah Kerajaan. Aku ingat aku menyuruhnya menunggu dan keluar dari sana, menghampiri Athrun yang baru saja hendak ikut bersamaku.

"Maaf, sebentar saja. Aku segera kembali. Admiral Zala, maaf merepotkan, tapi sepertinya ada sesuatu yang tertinggal di kamar hotel." Aku langsung melangkah kembali menuju lobi hotel, dan aku bisa merasakan Athrun segera mengejar dan berdiri di sampingku.

"Apakah itu dokumen yang dipakai untuk rapat? Kalau Anda tidak keberatan, biar saya ambilkan—"

Aku menarik nafas perlahan, sadar tentang sisa ingatanku setelah itu—lantai yang ada tepat di depan mataku.

Aku jatuh terjerembab ke lantai, sebab sebelum Athrun selesai berbicara, bersamaan dengan suara yang memekakan telinga, mobil di belakangku tiba-tiba meledak, menghempaskan kami semua. Waktu itu mungkin yang ada paling dekat dengan mobil adalah aku, sebab Athrun sudah beberapa langkah di depanku, mencoba menghentikanku ke atas dan menawarkan diri untuk pergi mengambilkan dokumenku.

Aku mengusap kaki kiriku yang terkadang terasa sakit.

"Luka bakar," Athrun yang ada di sebelahku berkata. "Ledakannya tidak seberapa jadi tidak terlalu parah. Tapi ada debri dari ledakan yang menghantam kepalamu. Makanya sekarang kau ada di sini bersamaku."

Aku menoleh ke arahnya, mencerna kata-katanya.

Suara Athrun yang kudengar dari jauh… berarti itu suara Athrun yang sebenarnya?

Aku merasa lega seketika. Kalau itu memang Athrun berarti dia baik-baik saja setelah kejadian itu. Kalau begitu orang yang sedang terluka yang dia bicarakan itu…

Dia bilang kepalaku terluka sehingga berada di sini…

Kalau sampai seminggu kemudian dia masih belum sadar, kami akan langsung memindahkannya.

Berarti waktu itu mereka sedang membicarakanku ya…

Aku yang sebenarnya sedang tidak sadar, dan ini adalah di dalam pikiranku. Sepertinya aku terluka cukup serius. Dan Athrun sepertinya sedang berada bersamaku yang sedang tidak sadarkan diri, lalu berbicara dengan orang lain yang juga ada di sana.

"Berarti, waktu itu ketika kau memintaku tetap di sini…"

"Kalau kau setuju untuk tetap di sini, maka kau tidak akan kembali lagi ke sana."

Aku teringat akan rasa sakit di dadaku begitu aku membayangkan untuk menerima tawarannya waktu itu. Juga teringat Athrun yang sempat mengatakan sesuatu tentang henti jantung. Aku tidak bisa menyembunyikan gemetaranku menyadari semuanya berkaitan. Aku sudah sedekat itu dengan kematian? Kalau aku berkata iya padanya—menyerah kepada diriku sendiri—apakah berarti aku akan mati di dunia sana?

"Tapi tentu saja dia tidak membiarkanmu untuk tinggal di sini," 'Athrun' sedikit mendongak menatap langit-langit. Ketika kulihat, matanya seperti menerawang jauh, entah melihat apa.

"Kau mendengarnya juga?"

"Aku adalah bagian dari kesadaranmu. Tentu saja aku tahu."

"Kau ingin aku mati?" Kalau dari semua yang dilakukannya untukku dan ia katakan, cuma itu kesimpulan yang bisa kuambil—dia tidak mau aku kembali.

"Jangan berkata seolah-olah aku berniat jahat. Aku hanya tidak mau kau menderita." 'Athrun' mendengus, masih tidak menatapku.

"Aku tidak seperti itu!"

"Benarkah? Tapi kau selalu memikirkan dia kan? Hidupmu juga semakin berat setelah perang usai. Semua orang bergantung padamu. Negara ini bertumpu padamu untuk bisa berdiri kembali. Tapi kau tidak bisa bertumpu pada siapapun. Kau sendiri memutuskan untuk tidak akan menyerah sampai kau bisa berdiri sendiri. Tapi semua itu juga membuat tubuhmu hancur perlahan kan? Badanmu semakin kurus dan tidak sehat. Belum lagi insomnia yang datang dan pergi sampai kau tidak bisa istirahat dengan benar. Bukankah kalau kau bisa istirahat selamanya kau akan merasa lebih baik? Makanya aku di sini bersamamu, menjadi orang yang paling kau sayangi supaya kau bisa melepaskan semua belenggumu dengan tenang."

Karena dia bagian dari bawah sadarku, tentu saja dia tahu apa yang terjadi padaku dan apa kupikirkan selama ini. Sejak aku memutuskan untuk melepasnya sepenuhnya demi bisa berdiri di kakiku sendiri. Hari-hari berisi tugas negara yang tidak pernah berakhir. Rasa lelah yang meskipun menyerang tapi harus ditunda karena kalau tidak perjuangan Kira, Athrun dan yang lainnya akan jadi sia-sia. Juga supaya Athrun bisa melupakanku dan mencari kebahagiaannya sendiri tanpaku.

Tapi dalam hati aku juga menyimpan sedikit harapan kalau ia masih belum melupakanku.

Kalau bisa bersamanya, tentu saja itu akan membuatku bahagia. Tapi bahagia dengan mengambil jalan pintas seperti ini? Tambah lagi kebahagiaan palsu, bahkan Athrun tidak akan di sini bersamaku, hanya pikiran bawah sadarku dan kenangannya saja yang akan menemaniku.

"Bukankah akan lebih mudah untuk melepas semuanya? Kau tidak perlu berjuang sekeras itu lagi—"

"Hidup adalah perjuangan yang sesungguhnya." Aku memotongnya sebelum ia berkata lebih jauh lagi. "Aku tidak akan menyerah dan meninggalkan semua yang aku pegang dalam hidupku hanya untuk kebahagiaan semu," aku menjawabnya sambil menatapnya tajam.

Selama beberapa saat ia hanya balik menatapku, namun setelah itu ia menyandarkan punggungnya ke sofa. "Tentu saja kau akan berkata begitu," dia menghela nafas sambil tersenyum kalah. "Baiklah kalau begitu. Temuilah dia. Hampir setiap hari dia berada di sebelahmu. Jangan terlalu memaksakan diri tapi, kondisimu baru saja lewat dari masa kritis."

Aku terdiam mendengarnya melepasku begitu saja. Melihatku yang kebingungan dia hanya tersenyum kering.

"Aku juga bagian dari dirimu, jadi aku juga tahu kemungkinan kau akan menentangku lebih besar daripada kau menerima tawaranku. Dan lagi, aku yakin dia tidak akan melepaskanmu setelah semua kejadian ini." Senyumnya perlahan hilang ditelan latar belakang yang tiba-tiba bersinar menyilaukan.


Ketika membuka mata aku langsung melihat lagi latar buram di sekelilingku. Tidak, kenapa aku harus melihat itu lagi? Aku memejamkan mataku kuat-kuat, aku sudah tidak mau melihat itu lagi. Apa jangan-jangan aku masih ada di dalam pikiranku seperti tadi?

"Cagalli?"

Suara itu.

Aku mencoba membuka mataku lagi, dan pandanganku sudah tidak seburam tadi, tapi masih tetap tidak terlihat jelas.

"Cagalli? Kau dengar aku?"
Athrun…

Mataku mengernyit merasakan sesuatu di tenggorokanku. Apa ini? Aku mencoba memanggilnya lagi tapi sesuatu di tenggorokanku mengahalangiku melakukannya.

"Jangan bicara. Di tenggorokanmu ada selang intubasi. Jangan panik, aku akan panggilkan perawat dulu untuk melepasnya."

Aku berhenti mencoba bersuara mendengar penjelasannya. Perlahan-lahan rasa sakit mulai merayap ke kesadaranku, membuatku meringis pelan karena terutama luka di kakiku, sampai akhirnya aku merasakan sakit di seluruh tubuhku yang seperti habis dihantam sesuatu. Memejamkan mata kuat-kuat, tanganku meraih apapun yang ada di dekatnya—sepertinya kain selimutku—dan kukepal sekuat tenaga, mencoba mengalihkan perhatianku dari rasa sakit.

"Sebentar lagi perawat akan datang. Kau tertidur lama jadi kami tidak memberikan penghilang sakit, tapi mereka seharusnya akan memberimu sesuatu untuk sakitnya. Maaf ya. Bertahanlah sedikit lagi," sesuatu menyentuh kepalan tanganku. Rasanya seperti sentuhan tangan lain, tapi terasa familiar.

Apa ini Athrun? Athrun yang sebenarnya?

Tidak lama kemudian aku bisa mendengar beberapa orang memasuki ruangan, dan suara Athrun yang melaporkan tentang kondisiku. Aku juga mendengar orang-orang yang bekerja di sampingku dengan sibuknya.

"Representatif Athha? Saya akan melepaskan selang di tenggorokan Anda. Mungkin akan terasa sedikit tidak nyaman, tapi akan saya usahakan supaya lekas selesai." Aku tidak berani mengangguk karena aku masih dikuasai rasa sakit dan tidak berani bergerak sekenanya. Aku hanya membuka mataku dan melihat bayangan buram, tapi setidaknya sedikit lebih jelas dari sebelumnya—bayangan seseorang yang sedang membungkuk ke arahku. Aku bisa melihat tangan di atas wajahku yang memegang daguku, dan aku pun bersiap untuk tindakan yang akan dilakukan orang yang sepertinya seorang dokter ini.

Begitu selangnya dicabut, tenggorokanku langsung bereaksi, membuatku terbatuk dan aku langsung merasakan kering, aku ingin minum. Sudah berapa lama selang itu di tenggorokanku? Berapa lama aku tidak sadar?

"Cagalli, buka mulutmu. Ini kepingan es untuk melegakan tenggorokanmu," seketika aku merasa lega mendengar suara Athrun begitu dekat di sebelah telingaku. Tanpa ragu aku membuka mulut—aku bisa merasakan rahangku yang lemas hanya bisa terbuka sedikit. Tapi aku bisa merasakan es dingin yang disuapkannya ke mulutku. Begitu es dingin itu mencair dan masuk mengaliri tenggorokanku, rasanya aku seperti hidup kembali setelah sekian lama berada di gurun pasir.

Sedikit demi sedikit aku bisa merasakan nyeri di kakiku semakin memudar. Setelah pikiranku bebas dari rasa sakit untuk sementara, sambil masih menerima kepingan es untuk kerongkonganku, aku merasakan orang-orang lalu lalang di sekelilingku, membicarakan istilah-istilah medis yang kebanyakan tidak kumengerti.

"Representatif Athha, nama saya dokter Karan. Anda sekarang ada di rumah sakit pusat ibukota Skandinavia. Anda terkena efek ledakan dari mobil yang diperuntukan kepada Anda untuk menuju lokasi konferensi pada tanggal 10 Mei lalu. Apa Anda ingat?"

Ah, berarti semua kesimpulanku sebelum aku terbangun itu benar. Aku mengangguk sebisaku; entah terlihat kentara olehnya atau tidak. Aku masih belum bisa melihat dengan jelas.

"Saya akan melakukan beberapa pemeriksaan terlebih dahulu." Aku merasakan cahaya yang sedikit mengganggu ke mataku. "Apakah pandangan Anda terlihat buram?" Aku mengangguk pelan lagi. "Benar-benar buram sampai tidak jelas?" Aku menggeleng kecil. "Masih ada bayangan yang cukup terlihat?" Aku mengangguk. "Pandangan yang buram biasa terjadi untuk trauma kepala. Biasanya akan membaik dalam beberapa hari, jadi Anda tidak perlu khawatir. Baik, tolong tarik nafas." Aku merasa lega, meskipun sepertinya aku masih tidak akan bisa melihat jelas sampai beberapa hari ke depan. Aku merasakan sesuatu membelit dadaku dan ingin bertanya, tapi aku masih tidak bisa mengeluarkan suara yang cukup sementara dokter terus menjalankan pemeriksaannya.

"Apakah dia bisa dipindahkan?" Aku mendengar suara Athrun bertanya.

"Untuk saat ini kondisinya bagus. Kalau dalam dua hari tidak ada masalah, kita bisa segera memulangkannya ke Orb."

Athrun masih berbicara dengan dokternya, tapi aku sudah tidak bisa mengikuti pembicaraan mereka dan hanya menunggu sampai pemeriksaannya selesai dan para perawat selesai menanganiku—sepertinya mereka melakukan sesuatu pada kakiku.

Setelah semua pemeriksaan selesai dan para petugas medis keluar ruangan, aku hanya mendengar suara mesin yang ada di ruanganku. Apa Athrun juga pergi? Dengan tenggorokan yang masih sedikit perih dan lemas aku mencoba memanggil namanya.

"Aku di sini," aku merasakan tangannya menggenggam tanganku. "Tidak apa-apa. Istirahatlah lagi."

Aku memalingkan wajahku ke arah suaranya. Aku masih belum bisa melihat dengan benar-benar jelas, tapi aku bisa melihat siluetnya yang sedang duduk di sebelah tempat tidurku. Samar-samar aku bisa melihat perban di wajahnya.

"Kau… terluka…" aku mengucap sejelas yang aku bisa.

"Lukaku sudah membaik, aku bisa sembuh lebih cepat, ingat? Tapi kau harus banyak istirahat."

"Kon…ferensi…nya…"

"Sementara ditunda sampai situasi kembali kondusif. Nanti yang mulia Raja Skandinavia pasti menghubungi kita terkait hal itu. Tapi untuk sekarang kau tidak perlu memikirkannya. Pulihkan tubuhmu dulu, baru kita bicarakan lagi tentang kelanjutannya."

Entah karena tubuhku masih begitu lemah atau dokter tadi memberiku dosis obat yang kuat, kelopak mataku jadi terasa berat.

"Jangan… pergi…" Aku takut aku akan kembali ke dunia bawah sadarku seperti sebelumnya dan tidak bisa kembali lagi. Aku takut kali ini aku benar-benar tidak bisa bertemu dengannya lagi.

"Aku tidak akan ke mana-mana," sebelum kesadaranku hilang kembali, aku bisa merasakan sesuatu yang lembut di dahiku.