Disclaimer : Sunrise
Chapter 7
18 Mei
.
Aku terbangun lagi, dan sekarang aku bisa melihat lebih jelas. Aku menghela nafas lega karena akhirnya aku tidak perlu melihat bayangan buram yang membuat kepalaku pusing. Aku masih bisa mendengar suara teratur dari penunjuk detak jantung yang tersambung padaku, dan juga suara seperti orang yang sedang mengetik—
"Cagalli?" Bersamaan dengan suara orang yang memanggilku, suara ketikan itu terhenti. Suara langkah yang pelan menghampiriku. Aku menengadah dan bisa melihat Athrun lebih jelas dari kemarin, menghampiriku.
"Ada yang terasa sakit? Mau aku panggilkan dokter?"
Aku terpaku sesaat, mengecek badanku sendiri. Rasa sakit di kakiku masih terasa tapi tidak separah sebelumnya. Kepalaku juga tidak pusing, pandanganku sudah lebih membaik. "Aku tidak apa-apa." Syukurlah akhirnya aku bisa bersuara lebih keras daripada sekedar bisikan yang susah payah kemarin. Aku memandang ke arahnya lagi, mendapati masih ada perban-perban yang menutupi tubuhnya. "Kau sendiri? Lukamu juga belum sembuh, tapi kau malah di sini."
Sambil menarik bangku yang ada di sebelah kanan tempat tidurku, Athrun duduk di sana dan memandang ke arahku. "Bukankah kau sendiri yang memintaku untuk tidak pergi?" Aku mendengar senyum dalam suaranya, dan samar-samar ingat kalau aku memang berkata begitu sebelum tertidur lagi.
"Ha-harusnya kau tidak usah dengarkan aku… Kau harus lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri." Aku merasa wajahku memerah, tidak sadar aku meminta yang tidak-tidak. Padahal aku bukan siapa-siapanya.
Pernikahanku dengannya semua cuma angan-angan pikiran bawah sadarku. Athrun bukan milikku. Aku menunduk menghindari pandangannya—tanganku mengepal selimut putih yang ada di bawah lenganku.
"Tidak masalah. Aku sendiri yang ingin berada di sini. Semua dokter, perawat dan staf keamanan dari Orb sebenarnya sudah memaksaku untuk kembali ke ruanganku. Aku yang memaksa mereka untuk membiarkanku tetap di sini sekalian berjaga."
"Dengan luka seperti itu kau masih berjaga di ruanganku?" Aku jadi merasa bersalah. Gara-gara aku dia jadi terluka dan sekarang tetap melakukan tugasnya sebagai anggota keamanan yang bertanggung jawab atasku.
"Di depan pintu ada staf pasukan pengamanan khusus, aku tidak sendirian. Tapi aku tidak bisa diam di atas tempat tidur sementara kau kritis di sini."
Aku kritis? "Seberapa parah?"
"Aku hanya kena luka gores dan benturan ringan. Tapi kepalamu terkena debris dari mobil akibat ledakan yang membuatmu koma selama seminggu. Kau juga kena luka bakar derajat dua di kakimu. Mungkin akan makan waktu sampai bisa benar-benar sembuh. Jadi mungkin nanti kau harus menggunakan kursi roda untuk beberapa waktu."
"Haah… Nanti pasti susah untuk bergerak dan bekerja…" Aku menghela nafas dalam dan mengernyit merasakan dadaku seperti ditahan sesuatu.
"Beberapa rusukmu juga patah akibat shockwave dari ledakan… Makanya mereka membebat dadamu supaya rusukmu yang patah lebih stabil dan meminimalisir gerakan yang tidak perlu." Suara Athrun menurun, sepertinya ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
"Ada apa?"
"Aku juga… jadi salah satu penyebab atas kondisi rusukmu sekarang… Maaf," Athrun memalingkan wajahnya dariku. "Beberapa hari lalu jantungmu sempat berhenti. Aku panik dan langsung melakukan kompresi dada sebelum dokter datang, sehingga beberapa rusukmu ikut patah selain akibat dari ledakkan." Athrun pasti merasa bersalah karena sudah menambah luka internalku selain yang aku terima akibat ledakkan itu. Tapi kalau dia tidak melakukan itu aku mungkin sudah tidak ada di sini.
Bersamaan dengan itu, aku teringat rasa sakit di dada yang aku rasakan yang seperti diinjak berulang-ulang di dada sewaktu aku masih di 'dunia sana'. Apa jangan-jangan rasa sakit itu dari sana?
Tidak akan kubiarkan kau pergi!
Jangan-jangan suara itu suara Athrun yang memanggilku, karena jantungku berhenti waktu itu?
Tangan Athrun yang menyentuh tangan kananku membuatku menatap ke arahnya lagi, kembali dari lamunanku. "Maaf, tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja. Aku akan melakukan apapun supaya kau tetap hidup."
"Tidak apa-apa, terima kasih sudah membawaku kembali." Masih banyak yang harus aku lakukan, aku tidak bisa mati di sini sekarang. Jadi aku merasa berterima kasih karena ia tidak membiarkanku mati. "Sekarang hari apa?" Dia bilang aku koma selama seminggu.
"Tanggal 18 Mei," Athrun berkata dan aku mengerjapkan mata.
"Sungguh?"
Athrun mengangguk sambil meneruskan, "Aku sungguh berharap bukan begini caramu melewatkan ulang tahunmu, tapi setelah melihat kondisimu sejak dibawa dari lokasi kejadian, jantungmu yang sempat berhenti, sampai kau keluar dari ruang perawatan intensif, aku benar-benar bersyukur kau masih hidup dan akhirnya sadar kembali. Apalagi di hari ini. Terima kasih sudah kembali lagi padaku. Selamat ulang tahun, Cagalli."
"Rasanya seperti terlahir kembali saja," aku tertawa pelan, tapi langsung merasakan lagi belitan di dadaku sehingga aku segera menenangkan diri. "Terima kasih, Athrun." Seharusnya aku sudah pulang di hari ulang tahunku yang kedua puluh dua ini. Karena kejadian ini semua kru yang ikut bersamaku jadi harus tinggal lebih lama. "Aku tidak bisa mengucapkan selamat pada Kira hari ini ya? Ah… Apa Kira tahu tentang kejadian ini?"
Athrun mengangguk, senyumnya sedikit memudar. "Sudah seminggu berlalu sejak kejadian itu. Beritanya ada di mana-mana, dan masih berlanjut hingga sekarang. Kira dan Lacus ingin datang ke sini, tapi Yzak menentang karena ia khawatir tempat ini masih belum aman. Jadi mereka memutuskan untuk datang ke Orb begitu kita pulang ke sana. Aku akan memberitahunya nanti kalau kau sudah siuman dan mungkin kita akan segera pulang."
Aku merasa tidak enak karena membuat Kira dan Lacus khawatir, meskipun aku merasa senang juga karena sepertinya bisa bertemu mereka lagi dalam waktu dekat. Tapi aku penasaran dengan wajah Athrun yang kelihatan sedikit gusar, juga ceritanya tentang Yzak, yang mana menurutnya Kerajaan Skandinavia tidak aman didatangi oleh mereka.
"Athrun… Kalau tidak salah… Beberapa hari yang lalu ada orang lain selain kau yang datang ke sini kan? Selain dokter."
"Ah, kau bisa mendengar semuanya? Meskipun kau dalam keadaan koma?" wajah Athrun berubah seolah takjub.
"Tidak semuanya, tapi terkadang aku bisa mendengarmu dengan jelas. Salah satunya orang lain yang bersamamu itu."
Athrun mengangguk. "Pangeran Kerajaan Skandinavia datang untuk menjenguk."
Pangeran datang kemari? Tapi kalau dipikir tentu saja beliau akan datang kemari. Pangeran pasti merasa kalut karena kejadian seperti ini muncul ketika para perwakilan dari negara-negara netral berkumpul. Beliau pasti merasa bertanggung jawab pada kami. "Kalian juga membicarakan sesuatu tentang pelaku yang tertangkap… Benar kan?"
Athrun tidak segera menjawab. Melihat wajahnya yang nampak ragu-ragu itu, kurang lebih aku bisa menebak penyebabnya. "Yang kalian maksud pelaku yang membuat mobil itu meledak kan? Berarti mereka semua sudah ditemukan dan tertangkap?"
Masih ragu-ragu, Athrun mengangguk.
Aku ingat Pangeran berkata kalau pelakunya bukan orang Skandinavia. "Kalau begitu bukankah seharusnya tidak masalah kalau Kira dan Lacus datang kemari?" Athrun lagi-lagi tidak menjawab dan malah menghindari dari mataku yang memandangnya. "... Kenapa? Ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu?"
Alih-alih menjawabku, aku melihat Athrun seperti memutuskan sesuatu yang tidak aku pahami, dan mengelak dari pertanyaanku, "Kau baru saja bangun, sebaiknya jangan memikirkan hal seperti ini dulu. Apalagi hari ulang tahunmu. Beristirahatlah supaya kau bisa cepat pulih. Aku akan ceritakan sisanya yang aku tahu setelah kita pulang ke Orb nanti."
"Tapi—!"
"Cagalli, hari ini sampai di sini saja. Aku janji akan mengatakan semuanya ketika kita pulang. Dokter bilang asalkan kondisimu stabil dan tidak menurun lagi kita bisa memindahkanmu segera. Pesawat khusus evakuasi dan medis dari Orb sudah tiba di sini sejak beberapa hari yang lalu. Kita hanya tinggal menunggumu saja." Athrun mengulurkan tangannya dan menyentuh lembut pipiku—yang aku yakin kelihatan parah karena aku bisa merasa sedikit perih di sebagian besar wajahku—sepertinya luka gores.
Selama seminggu ke belakang, aku terus menghabiskan 'waktu' bersama 'Athrun', di mana dia terus memanjakanku layaknya seorang kekasih. Tapi di sini, aku ingat kalau hubungan kami tidak seperti itu, bahkan sangat jauh dari itu.
Mungkin aku memang memintanya untuk tetap bersamaku di sini. Tapi aku sudah tidak apa-apa. Di luar ada petugas keamanan yang berjaga. Athrun sudah tidak perlu berada di sini lagi.
"Admiral Zala, terima kasih banyak untuk beberapa hari ke belakang. Kau tidak perlu berjaga di sini lagi. Aku yakin tidak akan ada yang mencoba untuk menyerangku lagi di sini. Istirahatlah, kau pasti lelah selalu berada di sini. Laporamu bisa kau kerjakan ketika kita pulang ke Orb," aku mengubah panggilanku, mencoba membangun lagi batas yang selalu kupasang di depannya. Sebab kalau tidak, hatiku yang lemah ini akan memohon padanya untuk tetap bersamaku, membuatku bergantung padanya lagi seperti dulu.
Aku bisa melihat Athrun yang kebingungan mendengar perubahan suara dan cara bicaraku. Sesaat ia seperti ragu-ragu, tapi setelah itu ia membalas, "Kau tidak mau aku berada di sini?" Anehnya, dia tidak mengikutiku seperti biasanya—Athrun biasanya langsung paham kalau aku mengajaknya bicara formal, dia akan langsung mengikuti dengan gaya bicara yang sama. Tapi kalimatnya tadi sama sekali tidak seperti itu. Dia masih bicara seolah kami adalah kawan lama yang dekat.
"Aku berterima kasih kau sudah memaksakan diri untuk melaksanakan tugasmu sebagai bagian dari staf keamananku kali ini—"
"Aku akan menerjemahkan itu sebagai tidak. Jadi aku akan tetap di sini. Aku akan panggilan dokter supaya mereka tahu kau sudah bangun lagi karena ada beberapa tes yang harus dilakukan sebelum kau benar-benar boleh pulang."
"Tunggu, Admiral—"
"Cagalli," Athrun memotongku. Namaku yang keluar dari mulutnya menunjukkan dia masih bicara sebagai Athrun, bukan Admiral Zala. Mulutnya terbuka sedikit, tapi ia menutupnya lagi seolah ragu mau mengatakan apa.
Namun seolah mengurungkan semua itu, tiba-tiba dia menunduk dan mengecup pipi kananku—yang dari posisinya membuatnya sedikit kaku karena ia ada di sebelah kananku.
"Kenapa kau tiba-tiba—!"
"Karena menurutku ini bisa lebih cepat dimengerti."
"Haaah?" Apanya yang lebih cepat dimengerti? Aku malah tidak paham sama sekali dasar dari tindakannya itu. Apalagi dengan hubungan kami sekarang yang sudah tidak seperti dulu lagi. Itu jelas-jelas di luar batas untuk atasan dan bawahan, bahkan untuk teman sekalipun.
"Aku paham kalau kita tidak bisa benar-benar seperti dulu, terutama waktu itu setelah perang baru saja selesai. Aku juga sangat mengerti dengan batasan yang kau buat ketika kita sedang di tengah pekerjaan. Meski begitu, bahkan ketika kau tidak lagi memakai cincin yang kuberikan dulu, aku tidak pernah menganggap kalau kita sudah benar-benar berpisah. Meskipun sepertinya kau tidak sependapat denganku."
"Itu…." Memang benar, aku sudah berniat untuk melepaskannya. Aku merasa kalau Athrun akan lebih bahagia tanpa aku. Meskipun begitu, jauh di lubuk hatiku aku masih belum bisa melupakannya. Bahkan alam bawah sadarku sampai menampilkan bayangan kehidupanku jika saja kami menikah—masih sebegitunya perasaanku padanya.
"Makanya aku ingin memperjelas perasaanku saja. Bahwa aku masih tidak mau menyerah terhadap kita. Kau ingat kan, aku bukan orang yang pandai menyerah."
"Tapi…"
"Apa kau tahu seperti apa perasaanku melihatmu terbaring di sini, mendengar detak jantungmu yang tiba-tiba berhenti di depanku?" Wajahnya seketika mengeras.
Aku terpaku sesaat mendengar perubahan arah bicaranya.
Kalau ditanya begitu, aku tahu—setidaknya aku pernah merasakan itu sewaktu Kisaka membawa Athrun yang tidak sadarkan diri ke Archangel. Setiap hari setiap malam aku terus di sebelahnya, takut setengah mati kalau ia mungkin tidak akan kembali lagi. Hanya Kira yang sesama Coordinator seperti Athrun yang bisa meyakinkanku kalau Athrun tidak selemah itu. Bahwa kemungkinan dia selamat lebih tinggi jika dibandingkan dengan aku yang seorang Natural ini. Aku masih punya harapan waktu itu.
Tapi Athrun melihatku dengan jantung yang tidak berdetak selama beberapa saat. Dia melihat aku yang—bisa dibilang—dalam keadaan mati. Dan selama beberapa menit yang krusial itu, tidak ada yang bisa menjamin jantungku bisa berdetak lagi meski dengan segala macam upaya CPR yang dilakukan padaku.
"Selagi mencoba mengembalikan detak jantungmu, selagi menunggu tim dokter datang, pikiranku dipenuhi kemungkinan bahwa saat kita keluar dari hotel pagi itu adalah saat terakhirku bersamamu. Dan aku menyesali semua waktu yang aku lewatkan tanpamu," tangannya masih di wajahku, membelaiku dengan lembut sambil berhati-hati untuk tidak menyentuh luka yang ada.
Aku yakin dia tidak akan melepaskanmu setelah ini.
Sekilas aku teringat dengan apa yang dikatakan Athrun yang dibuat oleh pikiran bawah sadarku.
"Athrun…"
"Ini juga, kita bicarakan lagi nanti ketika kita sudah kembali ke Orb ketika kau sudah benar-benar pulih. Jangan mencoba untuk kabur," Athrun berdiri dari bangkunya dan mengakhiri kalimatnya dengan senyum yang seolah menantangku.
"Aku tidak akan kabur," aku merengut.
"Berarti aku boleh berharap kalau pembicaraan kita nanti akan berakhir dengan baik, kan?"
Tanpa menungguku menjawab, Athrun menekan tombol pemanggil untuk dokter dan perawat. Athrun kembali ke tempatnya dan mengerjakan laporan seperti sebelum aku terbangun. Padahal ia juga terluka, tapi ia masih memaksakan diri dan bekerja.
Tapi inilah Athrun yang aku kenal—yang meskipun khawatir padaku tapi tetap tahu tugas dan kewajibannya sendiri dengan pangkat yang ia pegang. Dan aku sendiri yang memutuskan untuk kembali ke dunia ini, untuk bersama dengan Athrun yang sebenarnya, Athrun yang selama ini selalu ada di hatiku.
"Memang benar ya, yang asli lebih baik dari yang semu," aku bergumam.
Athrun menghentikan jemarinya di atas keyboard. "Kau perlu sesuatu?" Ia menoleh ke arahku.
Aku menggeleng. "Tidak. Aku hanya senang bisa melihatmu lagi." Akan panjang ceritanya kalau aku memberitahunya mimpi yang kulihat selama aku tertidur. Biar nanti saja kuceritakan ketika kami pulang ke Orb.
Toh sepertinya dia tidak akan meninggalkanku untuk beberapa waktu ke depan.
Halo semua, terima kasih buat yang sudah baca cerita ini.
Tadinya pingin update sesuai tanggal aslinya tapi memang selalu ada yang bikin sibuk di tanggal itu. Dari dulu ga pernah bisa kesampaian buat ngerayain ultahnya Hime. Gapapalah, yang penting niat hehe.
Yes, meskipun ceritanya gajebo begini, tapi ini birthday fic nya Cagalli (sedih amat yah ulang tahunnya di rumah sakit). Cuma ya karena kepikirannya mendadak, dan yang dadakan biasanya jadi dan tahu-tahu udah ketulis 3 chapter, jadi yasudah ini saja deh yang dipublish. Jadi keidean bikin ini gara-gara sering nonton/baca cerita kalau ada orang yang koma dokternya suka bilang buat ajak ngomong pasiennya karena dia mungkin bisa dengar meskipun ga sadar. Chitta sendiri artinya memang subconscious mind (sasuga longlivecagalli pai-sen memang), di mana di sini Cagalli terjebak sama alam bawah sadarnya ketika koma, dan dikasih gambaran kehidupan yang dia ingin tapi ga bisa didapat di kehidupan nyata—atau belum sih. Jadi beginilah hasilnya.
Buat yang baca To Be With You Again, nanti mungkin selain finishing cerita aslinya bakal ada beberapa omake chapter dibuang sayang dan beberapa kejadian waktu Cagalli udah SMP/SMA atau pas mereka uda bener-bener jadian secara resmi. Jadi abis ini pingin nulis yang fluffy2 lagi aja untuk self-healing XD
Thanks for joining me here,
Cheers
