Amato melemparkan tasnya di samping kursi kemudi. Ia bersandar lelah pada kursi kemudi sambil menatap dengan tenang jalanan yang kini dipenuhi oleh berbagai macam motor dan mobil yang berlalu lalang menyusuri jalanan kota Hilir. Mobil-mobil dan motor-motor dari yang paling jelek hingga yang paling bagus ada di sini, yang sedari tadi menjalar sangat panjang di jalanan dan hanya bergerak beberapa meter lalu berhenti lagi.

Lantas ia merenggangkan jari-jari kekarnya lalu menutup mulutnya yang menguap. Entah mengapa, jalanan di sore hari ini begitu macet, tidak seperti hari-hari biasanya. Sepertinya orang-orang memilih menghabiskan waktu mereka di luar, menikmati berbagai pemandangan menyejukkan di kota Hilir mengingat hari ini adalah hari sabtu—malam minggu. Sangat wajar bagi para pemuda-pemudi di kota tersebut untuk menghabiskan weekend mereka dengan berjalan-jalan keluar.

Toko-toko pakaian, beberapa restoran—dari restoran cepat saji, fine dining, fast casual dining, dan café melambai sepanjang mata memandang. Para remaja dan orang dewasa bergiliran keluar masuk ke dalam sana. Gedung-gedung tinggi, pusat perbelanjaan yang sangat besar dan mewah juga menjalar di tepi-tepi jalanan tersebut. Hiruk-pikuk dan kemewahan kota amat kentara. Tentu saja. Kota Hilir merupakan salah satu kota termaju di Malaysia selain Kuala Lumpur—sang ibukota negara jiran tersebut.

Suara dentingan ponsel membuat Amato mengalihkan perhatiannya dari jalanan yang masih macet ke dashboard. Tangannya yang bebas lekas menekan ponselnya yang tertempel pada car holder tepat di atas dashboard mobil tersebut. Senyumnya lantas mengembang saat objek berbentuk pipih itu menampilkan notifikasi whatsapp dari seseorang yang sedari tadi ia tunggu pesannya. Lekas ia pun membuka room chat dirinya dan orang yang ditunggunya itu.

Wawa (Bismillah jodoh)


Hari ini


Maaf Amato. Tapi sepertinya aku tidak bisa menerima ajakanmu malam ini. Aku sudah diajak duluan oleh Juna untuk berlibur ke Pulau Rintis. Kami akan berangkat malam ini. Maaf ya, sekali lagi aku minta maaf. Lain kali saja kita menonton film-nya. Oh ya, kau mau kubawakan oleh-oleh apa dari sana?

4: 52 PM

Senyum pria berambut hitam dengan bagian poninya berwarna putih itu lenyap. Wajahnya yang tadi sumringah kini mendadak datar. Ah, Amato lupa. Selain dirinya, ada satu orang lagi yang naksir dengan Wawa yang juga satu fakultas dengannya. Yah Junada namanya. Anak baru dari Pulau Rintis yang merantau ke kota Hilir dan melanjutkan pendidikannya di sini. Jarak kota Hilir dan Pulau Rintis tidaklah begitu jauh, di mana jika ingin berangkat ke sana hanya memerlukan waktu 3-4 jam dari kota Hilir dengan menggunakan kereta cepat.

Sepertinya kali ini Amato benar-benar harus mundur memperjuangkan Wawa—gadis manis yang dulunya teman semasa sekolahnya hingga akhirnya saat mereka dewasa, dirinya dan Wawa dipertemukan kembali di Universitas yang sama namun berbeda fakultas dan prodi tentunya. Amato mengambil prodi Teknik Robotika di Universitas Hilir, satu-satunya universitas swasta di kota itu sedangkan Wawa mengambil prodi Akuntansi. Walaupun berbeda prodi, mereka sering berangkat bersama, pulang bersama bahkan sering belajar bersama baik di perpustakaan maupun di luar. Karena saking dekatnya hubungan mereka, beberapa mahasiswa universitas bahkan mengenal mereka sebagai sosok sepasang kekasih.

Amato sih senang-senang aja dibilang sebagai kekasih Wawa, mengingat dia memang sudah naksir berat dengan gadis yang selalu menggunakan bros bunga berwarna putih pada hijabnya itu dari semasa sekolah menengah atas. Sedangkan Wawa, setiap ditanya apakah dirinya menjalin hubungan dengan Amato, perempuan itu selalu menyangkalnya dan mengatakan bahwa mereka hanya sebatas 'sahabat' saja.

Jari-jarinya pun mulai bergerak lincah demi membalas pesan dari crush—atau mungkin ex-crush(?)—yang mungkin menunggu balasannya di sana. Atau malah tidak, mungkin dia sedang bersenang-senang membalas pesan Juna, lanjutnya dalam hati.

"Baiklah, nggak apa-apa kok. Oh ya, kau nggak perlu repot-repot bawain aku oleh-oleh. Aku titip salam saja pada Juna, ya. Selamat bersenang-senang kalian." Setelah mengetik pesan tersebut, Amato mematikan data seluler ponselnya dan menghidupkan mode pesawat untuk menggantikannya.

Pedal gas diinjaknya ketika jalanan yang tadinya macet mulai lenggang. Merasa kesepian dan bosan, flashdisk berisi lagu-lagu pop pun dipasangkannya pada port usb di mobilnya. Lagu pop mendayu-dayu memanjakan indera pendengaran Amato. Suasana sendu lagu itu sangat cocok dengan perasaannya yang sedang galau brutal.

Merasa haus dan kebetulan di saku pintu mobilnya tidak terdapat botol air mineral yang biasa ia bawa, Amato menepikan mobilnya di sebuah mini market. Ia harus membeli air mineral atau apa pun yang dapat menyegarkan pikirannya yang penat seharian ini digunakannya.

Ketika sudah membayar minuman dan berbagai macam snack yang diambilnya ke meja kasir dan akan keluar dari minimarket tersebut, mata Amato tak sengaja bertabrakan dengan kelereng coklat seorang gadis berjilbab cream dengan model segi empat yang duduk dengan tenang memakan mie sembari membaca buku di tangannya.

Itu adalah sebuah ketidaksengajaan, tetapi tetap saja ada perasaan aneh yang menghampirinya. Hati pria itu berdetak tak karuan, sangat berisik tentunya. Ia masih tak mengalihkan pandangannya dari sosok gadis berjilbab cream itu.

Sementara Amato masih berpikir, si gadis melanjutkan kegiatannya yang sedang makan sembari membaca buku di tangannya. Jarinya yang lentik itu membuka lembaran demi lembaran kertas pada buku tersebut, tanpa menyadari bahwa hal tersebut menyebabkan seorang pria jangkung dengan kulit tan yang barusan beradu pandang dengannya mulai mengingat sesuatu.

Bayangan seorang gadis yang selalu menggunakan topi kuning dan hoodie merah muda dengan syal kuning yang melilit di lehernya dan juga headphone bercorak batik berwarna merah muda yang kerap digunakannya kini tumpang tindih dengan sosok perempuan yang ditatapnya. Hal yang samar menjadi jelas. Hal yang kabur menjadi tegas.

Ya, Amato ingat.

Lebih dari ingat.

Mendadak Amato bingung ia harus apa. Gadis yang duduk tidak jauh dari posisinya itu adalah sepenggal masa kecilnya—salah satu sahabatnya yang dulu juga kerap membantunya dalam aksi heroiknya saat masih sekolah dasar sebagai super hero terhebat di kota Hilir sebagai pengganti Maksamana, Mechamato. Sebelum akhirnya pada tahun pertama sekolah menengah pertama, gadis yang bernama lengkap Tamara—kerap dipanggil Mara—itu memutuskan untuk pindah dari kota Hilir ke ibukota Malaysia, Kuala Lumpur. Setelah Mara pindah, hubungan persahabatan mereka yang awalnya baik-baik saja perlahan putus kontak.

Gadis itu Mara. Sahabat perempuannya satu-satunya. Yang selalu ada membantu aksi heroiknya saat masa sekolah dasar. Yang selalu adu mulut dengannya karena masalah sepele ; teman satu kelasnya dan juga cinta monyetnya.

Bahkan saat Amato masih belum memiliki perasaan pada Wawa, dia terlebih dahulu menaruh rasa pada gadis yang senang memakai topi kuning itu.

Gadis itu Tamara. Mara-nya kembali, dengan wujud wanita dewasa yang sangat menawan dan juga tanpa kursi roda. Amato tak percaya ini.


"Kurensia" by jennetchs

Mechamato/ Boboiboy belongs to (c) Monsta

Warning(s) : AT (Alternatif Timeline), romance, hurt/comfort, family, bahasa Indonesia (baku dan non-baku), typo, etc. Amato x Mara!area

Disclaimer: Tidak ada keuntungan materi yang saya terima. Fanfic ini hanya untuk kesenangan semata. Selamat membaca.


Bagian satu : Accidental Meeting


Mara duduk dengan gelisah. Mengapa pemuda itu diam saja dan terus memandangiku? teriaknya dalam hati. Sedari tadi, sosok pria jangkung berkulit langsat terang dengan kemeja flanel merah yang dipadukan dengan ripped jeans itu terus memandanginya. Meskipun Mara mengalihkan kegelisahannya dengan membaca buku, ia tetap merasa seperti diawasi. Bahkan saat ini, seleranya untuk melanjutkan makannya juga menghilang.

Apa ada yang aneh dengan gaya berpakaiannya? Atau jangan-jangan pria itu adalah si penguntit yang mengikutinya tadi. Oh tidak, tiba-tiba rasa takut menyerang gadis itu.

Dengan hati-hati, Mara mencuri-curi pandang pada pria itu.

Oh, tidak! Mara benar-benar ketakutan sekarang! Pria itu kini mendekatinya!

Mara tahu tidak seharusnya ia berprasangka buruk terhadap orang yang tak dikenalnya. Tapi dia baru saja mengalami hal menakutkan tadi, dia diikuti oleh orang tak dikenal sedari keluar dari bandara hingga menuju terminal bus menuju daerah rumahnya. Demi menghindari orang tersebut, Mara akhirnya memutuskan untuk berdiam diri di minimarket dan mengisi perutnya yang berbunyi karena keroncongan.

Sudah mengalami kejadian tersebut, mana mungkin Mara bisa tenang?!

Pemuda itu kini sudah beberapa langkah lagi dari tempat Mara duduk. Ia memegang totebag berukuran kecil berwarna merah dengan gambar robot yang tampak familiar di ingatan Mara. Tapi karena ada perasaan takut yang menyerangnya—jadi dialihkannya pandangannya kembali pada buku di tangannya, berpura-pura membaca. Dalam hati gadis itu berdoa agar pria itu memutar balik arah tujuannya.

Beberapa detik kemudian, ruang kosong di samping Mara terisi. Aroma sandalwood yang sangat kuat tiba-tiba menguar dari arah kirinya, seiring dengan pemuda asing yang kini berada di sana, duduk dengan tenang. Sontak Mara langsung menggeserkan bokongnya semakin ke kanan. Menghindar.

"Assalamualaikum. Bagaimana kabarmu, Mara?"

Suara yang maskulin itu mengetuk membran timpani Mara. Membuat gadis itu terkejut dan sontak menolehkan kepalanya ke samping kirinya. Mata cokelatnya beradu pandang dengan mata cokelat sang pria yang kini tersenyum lembut padanya.

Tunggu... pria ini tahu namanya?!

"Aku nggak menyangka lho kita bisa bertemu lagi, Mara."

Kini ekspresi bingung dan kaget tercetak jelas di wajah Mara.

"Maafkan saya, tapi... Anda siapa ya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Mara.

Mara bukanlah seorang pelupa, sungguh. Tapi wajah sang pria di sampingnya ini benar-benar tak familiar untuknya. Rahang yang tajam dan tegas, kulit langsat terang, rambut hitam bercampur putih dibagian poni depannya berpotongan dengan gaya morrissey gantung, mata cokelat bulat dan besar yang memancarkan sesuatu yang hangat. Dia benar-benar tampan, Mara tak berbohong. Dan itu membuat gadis itu kini lebih waspada.

Si pemuda termangu sebelum akhirnya ia terkekeh geli. Kekehan yang menyebabkan Mara menyerngitkan alisnya, menatap bingung pria di depannya.

"Kamu melupakan aku? Oh, ayolah. Yang benar saja. Aku bahkan masih mengingat dan mengenalimu, tetapi kamu sama sekali tidak mengenaliku? Benar-benar tidak adil."

Mendengar jawaban yang sarkastik itu membuat Mara menutup mulutnya. Ia kembali menggeser posisi duduknya, menjaga jarak.

"Hei, aku hanya bercanda. Jangan diambil hati begitu, dong."

Mara menoleh, matanya menatap serius pemuda di sampingnya. "Maaf, tapi bisakah saya tahu siapa Anda?" tanyanya masih dengan nada formal.

Sebelum menjawab, Amato memandang pada langit jingga yang memperlihatkan sunset indah seakan mengenang sesuatu. Lalu tak lama ia menoleh pada Mara sembari berkata, "Aku anak lelaki yang dulu pernah membuat kursi rodamu rusak dan kau memintaku untuk menggantinya di hari pertama kita bertemu sewaktu kecil. Saat itu kau juga anak pindahan di kota ini."

Mara membeku. Sekilas secercah ingatan terbesit di kepalanya.

Satu-satunya bocah lelaki yang berani merusak kursi rodanya dan tidak mau menggantinya saat ditagih olehnya hanyalah sih pahlawan super yang sering menggunakan baju armor merah dengan wajah robot menyebalkan di depan dadanya di setiap aksi heroiknya, yang juga selalu berteriak mechanize saat melakukan aksi heroiknya. Dan lelaki itu adalah—

"Matomato?!"

"Amato. A. MA. TO. Namaku Amato lah, bukan Matomato, ck." Amato berdecak. "Kau benar-benar melupakanku ternyata, huh."

Mara melebarkan matanya, menatap tak percaya sosok pria di sampingnya. Kedua tangannya mengatupkan mulutnya yang ternganga lebar.

"Kau... benar-benar sih Amato yang itu...?"

Amato menaikkan satu alisnya. "Iyalah, siapa lagi. Seberapa berubahnya sih aku sampai-sampai kau nggak mengenaliku, Mara?"

"Ya ampun! Kau sekarang sangat berbeda! Dulu—maksudku, saat kita kecil, suaramu itu cempreng sekali dan tidak seberat ini dan—dan apa-apaan dengan gaya rambutmu itu—pftt..." Mara tak melanjutkan kalimatnya. Ia tiba-tiba menutup mulutnya yang kini tertawa lepas. Mata cokelatnya tak dialihkannya, masih menatap Amato yang kini memasang raut datarnya.

Walaupun raut wajah Amato tampak datar, dalam hati pria itu menganggumi wajah tertawa Mara. Ia benar-benar terpana melihat tawa lepas Mara. Amato bersumpah, Mara tak pernah terlihat secantik ini. Suara tawanya sangat candu, mengirim gelombang pada dadanya yang kini berdetak kencang. Sesaat, Amato takut Mara mendengarnya.

"Maaf..."Mara akhirnya berhenti tertawa. Gadis itu berdehem sebelum akhirnya memasang wajah tenang kembali.

Amato juga berdehem, demi menghilangkan rasa canggungnya. Diam-diam pria itu memendekkan jaraknya dengan Mara tanpa sepengetahuan perempuan itu.

"Awalnya aku juga nggak mengenalimu lho, Mar." Amato tersenyum. "Tapi karena raut seriusmu yang sedang membaca itu, membuatku menjadi teringat padamu."

"Kau mengenaliku hanya dengan raut wajah ku? Hebat sekali," kagum Mara. Ia benar-benar terkesan.

"Kan..." Amato menaik-turunkan alisnya, berniat menggoda Mara. Tapi bukannya tergoda, perempuan itu hanya berdengus.

"Tampaknya kau sudah bisa berjalan kembali, ya," ujar Amato kembali. "Ngomong-ngomong, kapan kau pulang ke sini? Apa kau sedang cuti kuliah makanya pulang kemari?"

Tamara tersenyum lebar. Lantas ia pun menjawab, "Baru saja tadi aku sampainya. Aku nggak kuliah, hehehe. Dan ya, aku udah bisa jalan sepenuhnya sekarang berkat dokter yang merupakan kenalan ayah Pian."

"Kau nggak kuliah? Kenapa?"

"Yah, karena aku sudah wisuda, setahun yang lalu," sahut Mara sambil tersenyum lebar.

Amato melebarkan matanya, menatap tak percaya perempuan yang berhadapan dengannya itu. "Kau benar-benar jenius," pujinya dan Mara terkekeh.

"Terima kasih."

Amato diam kembali. Begitu juga Mara. Diam-diam pemuda itu melirik kembali Mara yang kini sedang memasukkan bukunya ke dalam tasnya.

"Mar,"

Mara yang merasa terpanggil menoleh. Ia menatap langsung pada netra cokelat Amato yang juga menatapnya dengan raut serius. "Hm? Ada apa, Amato?"

"Mau pulang bersamaku?"


"Jadi, kamu mengambil jurusan teknik robotika?" Mara memberanikan diri menoleh dan bertanya. Memperhatikan lekukan wajah Amato yang semakin matang dan rahangnya terlihat begitu tegas.

Amato mengangguk. Pria itu juga sesekali menoleh menatap Mara yang duduk di sampingnya. "Um, ya. Kau masih ingat Mechabot, kan?" dan Mara mengangguk. "Kau tahu, ternyata dia itu bukan satu-satunya robot canggih yang ada di dunia ini, tetapi ada yang lain. Aku mengetahui ini dari Rubika, bahwa dia sebenarnya powersphera yang diciptakan oleh bangsa alien Kubulus dari planet Ata Ta Tiga yang merupakan planet dengan teknologi lebih maju dan canggih se-galaxy. Katanya sih, para alien itu mengumpulkan para ahli untuk membuat robot canggih yang dapat menjadi senjata planet mereka," jelasnya dan Mara hanya menyimak. "Nah, aku mengambil jurusan itu karena ingin mengetahui komponen-komponen apa yang digunakan oleh para alien itu dalam membuat robot canggih yang sejenis dengannya. Selain itu, aku juga ingin tahu apakah robot canggih sejenis dengannya bisa dibuat oleh kita, yang merupakan penduduk bumi? Mana tahu, kan, aku bisa membuat satu sebagai pengganti Mechabot," lanjutnya sambil berseloroh. Mendengarnya membuat Mara terkekeh geli.

"Kalau kamu, Mar? Masih nganggur atau sudah kerja?"

"Sudah kerja," jawab Mara sekenanya.

Amato menoleh kembali menatap Mara saat lampu merah kini menyala. "Oh, ya? Selamat untukmu. Kerja apa sekarang?"

"Executive chef di salah satu restoran ternama di Kuala Lumpur. Aku berhasil meraih mimpi masa kecilku."

"Kau... menganggumkan. Aku jadi ingin merasakan masakanmu," ujar Amato—yang membuat Mara tersipu mendengarnya.

Kemudian hening. Tidak ada lagi yang bersuara di antara keduanya, mereka terlarut dalam senyap yang panjang. Hanya lagu pop yang berputar dari port USB yang mengisi telinga mereka, menggantikan keheningan di mobil itu. Tak lama lampu merah yang tadi menyala kini berganti menjadi lampu hijau, dan Amato kembali menjalankan mobilnya dengan debaran jantung yang semakin menggila.

Amato tak berbohong, ia benar-benar terpana melihat penampilan Mara sekarang. Mara semakin cantik. Perempuan yang dulunya sering menggunakan topi kuning dan headphone bercorak batik berwarna merah muda, kini menggunakan kerudung segi empat berwarna cream tanpa topi dan headphone yang melekat di kepalanya. Tubuhnya yang dulu dibaluti oleh hoodie yang sewarna dengan headphone-nya itu kini tergantikan dengan tunik ruffle berwarna light blue yang dipadukan dengan pegged pants berwarna putih. Kakinya juga yang dulunya sering memakai sneakers merah muda kini berganti menjadi kitten heels dengan tinggi 3 cm, memberikan kesan feminim pada penampilannya. Dua netra coklatnya yang bulat juga bersinar.

Amato harus mati-matian menahan diri supaya tetap berkonsentrasi menyetir—tak mencuri pandang terhadap cinta monyetnya yang kembali menghadirkan perasaan itu.


Amato ikut turun, mengantarkan Mara berjalan ke halaman rumahnya.

"Terima kasih, Amato. Aku senang kita bisa reuni kembali," kata Mara. Dan Amato hanya merespon dengan raut wajah yang tak dapat diterjemahkan.

"Sama-sama. Aku juga senang bertemu denganmu kembali,"

Sejenak hening. Suara jangkrik terdengar nyaring, dan Amato sangat bersyukur karena dengan suara itu artinya gemuruh yang berisik dari jantungnya dapat tersamarkan. Mara yang bermandikan pantulan sinar rembulan sangat jelita, kecantikannya menguar. Membuat Amato... jatuh cinta lagi padanya.

"Sekali lagi terima kasih telah mengantarkanku pulang, Amato." Mara tersenyum.

Amato mengangguk. "Ya. Lain kali, mari kita reunian juga bersama Pian dan Deep. Kurasa mereka juga harus bertemu denganmu."

Mara diam dan mengangguk. Tak lama, gadis itu berpamitan pada Amato untuk masuk ke dalam rumahnya dan Amato mempersilahkannya. Ia juga sempat memperingatkan pemuda itu untuk berhati-hati membawa kendaraannya.

Sebelum Mara sempat membuka pintu rumahnya, Amato memanggilnya. Hal tersebut membuatnya memutar kembali tubuhnya, menatap tepat pada netra coklat sang pemuda.

"Ada apa, Amato?"

"Besok... apa kamu masih berada di sini?" Amato menatap serius wanita di depannya, dan Mara mengangguk.

"Aku masih di sini kok untuk dua minggu ke depan," sahutnya. "Kenapa? Kamu ingin mengajakku kencan atau apa?" sambungnya sambil tersenyum jahil.

Amato mengangguk, dan Mara termangu.

"Kamu... serius?" tanya Mara, tak percaya. Sungguh ia tak percaya Amato benar-benar menyeriusi perkataannya.

Amato kembali mengangguk. Kini ia tersenyum manis. "Kapan aku pernah bermain-main padamu? Aku serius ingin mengajakmu berkencan besok. Kau bisa, kan?"

Mendapati bahwa Amato serius, Mara menghembuskan nafasnya dengan berat. Gadis itu kemudian mengangguk kaku, lalu lantas berkata, "Besok, jam 6 sore. Aku tunggu, di sini."

Dan setelah mengatakan itu, Mara masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan sosok Amato yang tercenung sebelum akhirnya mata pria itu melebar dan ia tertawa terbahak-bahak.

Amato pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Mara olehnya. Sungguh.

Berbeda dengan Amato yang kini berjalan ke mobilnya sambil tersenyum tak jelas, di balik pintu rumah bercat hijau sage itu, tubuh Mara jatuh merosot. Wajah perempuan berdarah Melayu itu merona bak kepiting yang lama direbus. Ia mendengar dengan jelas suara tertawa Amato tadi. Pasti pria itu mentertawakan jawabannya.

"Dia masih saja menyebalkan..." gumam Mara masih dengan wajah memerah.


Bagian satu : Accidental Meeting

Selesai


Author's note :

Bagian satu selesai. Btw ini cuma fanfic selingan buat peek a boo ya wkwkwk, jadi updatenya nggak nentu. Dan btw, ini mungkin cuma sampai 4-5 chapter. Soalnya udah aku bilang, ini cuma selingan dan juga berupa diary awal pertemuan kembali Amato dan Mara, sampai mereka berakhir bersama. Sampai jumpa next chapter.

PS : Peek A Boo update seminggu sekali ya, harinya nggak menentu, tapi seminggu sekali nanti aku perbarui. bye bye~