Amato menatap pantulan dirinya di cermin dengan senyuman yang sedari tadi mengembang. Pemuda itu asik menyemprotkan parfum pada setiap sisi tubuhnya, membuat harum sandalwood menguar di ruangan tersebut. Selesai memakai wewangian, ia juga memasangkan kalung berbahan titanium dengan liontin cinci berinisial AT ke lehernya.
"Tumben kau rapi begini. Mau kemana, sih?" Mechabot yang baru datang dari dapur setelah membantu umi menggoreng karipap tiba-tiba bertanya. Robot canggih itu menatap Amato dari atas sampai bawah, memperhatikan penampilan sang master.
"Gimana? Udah cocok belum? Masuk, kan, penampilanku?" bukannya menjawab, Amato malah bertanya. Seulas senyum pongah hadir di bibir pemuda itu.
Kembali, Mechabot memperhatikan master-nya dari atas sampai bawah. "Lumayan masuk sih, cuma...," powersphera itu menjeda kalimatnya, membuat Amato menatapnya dengan alisnya terangkat sebelah. "... agak aneh aja melihat kau yang selalu berpenampilan serampangan tiba-tiba jadi rapi begini."
Mendengar jawaban itu, Amato menghela nafasnya dengan berat. Pemuda itu kemudian mengambil sih powersphera, kemudian mulai memukul-mukulnya seperti yang selalu ia lakukan saat dirinya kecil dulu setiap kesal dengan sang robot. Hal itu membuat Mechabot dipelukannya mengaduh kesakitan. Puas menyiksa sih powersphera, Amato melepaskannya sedangkan Mechabot langsung menjauh beberapa meter darinya sambil bersungut-sungut, sedangkan sih pelaku hanya tertawa.
"Kebiasaan lamamu itu nggak berubah ya, Amatolol!" sungut sang powersphera sambil mengelus kepalanya yang masih terasa nyut-nyutan setelah di KDRT oleh sang master.
Dan setelah berkata seperti itu, Mechabot keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah, meninggalkan Amato yang mengekorinya di belakang.
•
•
"Kurensia" by jennetchs
Mechamato/ Boboiboy belongs to (c) Monsta
Warning(s) : AT (Alternatif Timeline), romance, hurt/comfort, family, bahasa Indonesia (baku dan non-baku), typo, etc. Amato x Mara!area
Disclaimer: Tidak ada keuntungan materi yang saya terima. Fanfic ini hanya untuk kesenangan semata. Selamat membaca.
•
•
Bagian dua : Unexpected Marriage Proposal
"Hm? Kau mau ke mana berpenampilan rapi begitu, Amato?"
Pertanyaan itu muncul dari aba ketika melihat putra tunggalnya turun dengan berpenampilan yang sangat rapi, tidak seperti biasanya.
Amato berjalan mendekati sang aba, duduk berhadapan dengannya, "Pergi jemput Mara, aba," dan sekalian pergi kencan, sambungnya dalam hati. Tangannya kemudian mengambil sepotong karipap dan memakannya.
"Eh? Memangnya Mara sudah pulang? Bukannya kamu pernah cerita ke umi kalau dia tinggal dan bekerja di Kuala Lumpur?" Umi yang datang dari dapur juga ikut menimpali pembicaraan kedua lelakinya tersebut sambil meletakkan sepiring karipap lagi—khusus untuk Mechabot—yang langsung dilahap oleh sih powersphera hobi makan itu.
"Aku belum cerita, ya?" Umi menaikkan satu alisnya menatap Amato. "Mara sudah tidak bekerja lagi di Kuala Lumpur mulai hari ini. Dia sudah dipindah tugaskan oleh bosnya untuk menjadi executive chef di hotel yang bercabang di sini, umi. Hari ini dia pulang, makanya aku mau jemput dia di bandara."
Amato melihat jam tangannya berkali-kali. Sudah cukup lama sekali dirinya menunggu, tetapi yang ditunggu-tunggu sedari tadi olehnya tidak kunjung datang juga memperlihatkan batang hidungnya. Memang benar apa kata orang-orang, menunggu itu memang tidak enak, apalagi tanpa adanya kepastian. Namun, menjadi orang yang ditunggu juga tidak enak, karena ia tahu betul bagaimana tak enaknya menunggu.
Amato menghela nafas lelah. Lalu, ia pun kemudian memutuskan untuk mengecek notifikasi pesan dari ponselnya, mana tahu Mara ada mengirimkannya pesan.
"Amato!" seruan seorang perempuan dengan suara sopran membuat Amato menoleh.
Di depan gate arrival , seorang perempuan berpashmina silk merah muda dengan memakai blouse putih dengan motif floral yang dipadukan dengan celana khaki tersenyum lebar ke arahnya. Sambil mendorong kopernya, Mara berjalan menyusuri setiap lantai demi lantai menuju Amato yang kini membalas senyumannya dengan tipis.
"Sudah menunggu lama?" tanyanya dan Amato mengangguk. "Maaf ya, tadi koper milikku sempat tertukar sama milik punya orang lain. Makanya aku lama keluarnya. Sekali lagi maaf ya, Amato," sambungnya sambil tersenyum merasa bersalah.
"Iya, aku maafin," sahut Amato. Pria itu kemudian mengambil alih koper di tangan Mara dan tangannya yang bebas mulai menggenggam erat tangan perempuan itu.
Kedua sejoli itu pun berjalan keluar meninggalkan arrival hall menuju parkiran.
Hiruk pikuk bandara—dari keribetan, keresahan, kecemasan, dan kegembiraan penumpang yang hendak datang atau pergi adalah peristiwa yang sangat lazim dialami bandara kota Hilir.
"Habis ini kita mau ke mana?" Mara menatap Amato yang baru saja bertanya ketika masuk ke kursi kemudi setelah meletakkan kopernya di bagasi.
"Hmm... ke rumahmu dulu aja, ya? Aku sudah lama nggak melihat aba dan umimu,"
"Boleh sih, tapi habis kita pulang kencan, ya?" Dan Mara yang ditawari hanya mengangguk saja.
Kemudian mesin mobil itu menyala dan mobil sedan itu langsung meluncur dengan kecepatan sedang, meninggalkan area bandara yang semakin ramai.
"Mar, bangun. Kita sudah sampai nih." Amato dengan pelan menggoyangkan bahu perempuan di sampingnya.
Kelopak mata itu perlahan terbuka, memperlihatkan netra cokelat indah yang masih menyesuaikan cahaya. "Oh, kita udah sampai?" tanya Mara dengan suara khas orang bangun tidur. Selama perjalanan pulang, wanita itu terlelap dengan nyenyak di sepanjang perjalanan.
Amato mengangguk, dan berkata, "Iya, kita sudah sampai. Yuk, turun dulu." Lalu tangan kiri pria itu mulai mengelus sayang kepala sang kekasih. Senyumnya juga tak pernah luruh. Sungguh, ia sangat gemas dengan wajah masih setengah mengantuk sang kekasih.
Mara menurut saja. Dengan masih setengah mengantuk, perempuan berdarah Melayu itu pun keluar dari mobil, disusul oleh Amato yang kini sudah di sampingnya—menggandeng tangannya erat.
"Masih jet lag, Mar?" tanya Amato dengan nada khawatir. Ia menatap lekat wajah perempuan yang telah menjadi kekasihnya sejak dua bulan yang lalu.
Mara menggeleng, "Udah nggak, kok. Yaudah, yuk kita masuk. Aku udah laper banget nih."
Mara berjalan masuk ke restoran mendahului Amato yang mengekorinya dibelakang. Saat pintu restoran itu dibuka, bunyi lonceng berdenting menyambut pendengarannya.
"Aku pergi memesan di counter, kamu yang cari tempat, oke?" titah Mara ketika Amato sudah berada di sampingnya. Pemuda itu mengangguk saja.
Belum sempat Amato melangkah, Mara kembali menahan pemuda itu dengan memegang erat pada jaket lengan jaket bomber hitam yang dikenakannya. Amato lekas menatap sang kekasih dengan wajah bingungnya.
"Kamu mau aku pesankan makanan apa?" tanya Mara, masih enggan melepaskan pegangannya pada lengan jaket sang kekasih.
"Apa aja deh. Aku makan semua, kok."
"Beneran?"
Amato mengangguk. "Benaran."
"Minumannya?"
"Air mineral aja."
Wajah perempuan berpashmina silk merah muda itu merengut. Ia kemudian mencubit pelan pinggang sang kekasih, membuat Amato meringis kesakitan. Dan kini, dua pasang sejoli itu menjadi sorotan pengunjung lain di restoran bergaya fast casual dining tersebut.
"Ih, gara-gara kamu nih! Sudah sana, cari tempat!" omel Mara dengan suara pelannya kemudian berjalan ke counter meninggalkan Amato yang kini sendirian dan ditatap lama oleh para pengunjung lain—dan ada yang sampai berbisik-bisik kemudian terkekeh kecil sambil meliriknya.
Mara menghentikan pembicaraannya dengan Amato saat seorang waitress berjalan ke meja mereka—mengantarkan makanan yang mereka pesan. Saat sang waitress kembali, Mara melanjutkan pembicaraannya dengan sang kekasih yang kini sudah menyantap spaghetti bolognese yang dipesan oleh Mara.
"Sebenarnya bosku nggak mau lho ngelapasin aku, dia malah nyuruh aku tetap stay di Kuala Lumpur aja," ujar Mara sambil menyendokkan kwetiau seafood goreng yang dipesannya ke dalam mulutnya. "Tapi, aku maksa sama beliau minta dipindah tugaskan ke hotel di sini. Banyak cara aku lakuin, sampai akhirnya kepindahan aku di sini di approved sama beliau," sambungnya selesai mengunyah.
"Oh? Memang cara apa yang kamu pakai sampai bosmu setuju sama kepindahanmu?"
"Aku harus bohong dengan mengatakan bahwa calon suamiku sama ibu minta aku kembali dan bekerja di kota Hilir aja. Aku juga bilang ke beliau kalau tetap beliau nggak mau, aku bakal resign atas perintah ibu—ya, nggak bohong-bohong amat sih, sebenarnya ibu sempat nyaranin ini juga dua hari yang lalu pas aku ngadu bahwa aku nggak dibolehin balik ke sini," jelas Mara sambil bergidik bahu.
"Calon suami?" Amato menatap Mara dengan alis terangkat sebelah. "Kamu selingkuh dibelakang aku?" tuduhnya dan langsung saja tangannya digeplak oleh perempuan berwajah cantik itu.
"Apa, sih, kok mukul?"
Mara melotot menatap Amato yang masih mengelus punggung tangannya yang memerah. "Ya, mulutmu itu! Sembarangan aja main nuduh! Kamu pikir aku perempuan apaan?" sungutnya dengan nada menggebu-gebu.
"Ya, kamu tadi bilang calon suami—"
"Ya, tapi nggak usah nuduh juga! Lagian, aku sudah bilang, kan, aku berbohong dikit ke bosku! Gimana, sih, kamu!" dasar nggak peka banget nih cowok, tambahnya bersungut dalam hati. "Udah ah, males ngomong sama kamu. Daripada aku makin emosi sama kamu, mending makan aja!"
Dan Mara kemudian memakan kwetiau seafood gorengnya tanpa bersuara sehabis itu. Suasana di meja yang mereka tempati kini hening, hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring. Dalam hati, Amato merasa bersalah pada Mara karena sudah menuduh sang kekasih.
Saat diperjalanan pulang hanya hening yang menguasai euforia di mobil sedan yang dikendarai Amato. Mara masih dongkol dengan Amato, yah walaupun lelaki di sebelahnya ini sempat meminta maaf padanya dan mentraktirnya dengan popiah—cemilan kesukaannya—tapi tetap saja sebagai wanita Mara sedikit sakit hati dituduh berselingkuh oleh orang yang dia suka. Sedangkan Amato, pemuda itu tetap fokus menyetir di kursi kemudi.
Mobil sedan itu kemudian berhenti tepat di depan halaman rumah Amato. Di teras rumah pemuda itu, terlihat umi dan aba sedang duduk bersantai menikmati waktu sore sambil bercengkrama.
"Kamu ambilkan paper bag di bagasi. Ada oleh-oleh dari KL buat umi sama abi di sana," ucap Mara sebelum akhirnya ia langsung keluar begitu saja, lagi-lagi meninggalkan Amato yang langsung berjalan ke bagasi mobil untuk mengambil oleh-oleh yang dimaksud sebelum akhirnya ikut menyusul sang kekasih.
"Assalamualaikum, aba, umi."
"Eh, Mara datang!"Umi menoleh menatap Mara yang kini berjalan menghampiri mereka. "Gimana kabarmu? Sehat-sehat aja, kan, selama di KL? Kamu nggak jet lag, kan?" sambut umi dengan deretan berbagai macam pertanyaan.
"Alhamdulillah, Mara sehat-sehat aja kok, umi. Sempat jet lag tadi, tapi bentar doang kok, hehehe. Umi sama aba sendiri apa kabar?" Mara menyalami aba dan umi Amato secara bergiliran. Sedangkan Amato yang merasa tak diacuhkan kini duduk berhadapan dengan abanya sambil meletakkan beberapa paper bag di sampingnya.
"Umi sama aba sehat. Oh ya, silahkan duduk dulu ya, ngomong-ngomong sama aba. Umi mau ke dapur dulu buatin air sama ambil cemilan buat—"
Belum sempat umi menyelesaikan perkataannya, Mara memotong, "Nggak perlu repot-repot kok, umi. Ini Mara ada bawa oleh-oleh cemilan dari KL," Mara memberi kode pada Amato dan pemuda itu langsung menyerahkan dua buah paper bag pada sang ibu yang langsung menyambutnya.
"Wah, tau sar piah! Ini cemilan kesukaan aba nih! Makasih ya, Mara." Umi tersenyum manis pada Mara. Wanita paruh baya itu kemudian meletakkan box berisi tau sar piah varian kacang hijau dan cokelat di atas meja. "Yaudah, umi tinggal buatin minum sebentar ya. Kalian ngobrol-ngobrol aja dulu sama aba," lanjutnya sambil berdiri dari duduknya.
"Mara ikut, umi!"
"Eh? Nggak pa-pa, umi bisa buat sendiri, kok."
Mara menggeleng. Perempuan itu berjalan mendekati umi Amato sambil menggenggam tangannya. "Mara mau bantu umi. Selain itu, kalau kita berdua yang membuat minuman, bisa lebih cepat. Boleh, ya, umi?"
Umi mengerjapkan matanya kemudian mengangguk saat melihat tatapan mata Mara yang tampak memelas. Mara tersenyum lebar, ia mencium pipi wanita itu kemudian menariknya memasuki rumah Amato, meninggalkan kekasihnya dan calon ayah mertuanya yang sedari tadi hanya menonton.
"Jadi... kapan kamu mau menikahi Mara?" tanya aba saat Mara dan istrinya meninggalkan dirinya dan Amato sendirian di teras dengan keadaan canggung.
Amato tersentak. Pemuda itu lekas menatap wajah sang ayah yang kini dengan tenang memakan tau sar piah.
"Aku... aku belum berpikir sampai ke sana, aba," cicit Amato sambil tersenyum kikuk.
Lalu hening.
"Amato." Aba menatap serius putra tunggalnya yang kini menelan ludahnya dengan gugup. "Tidak baik berpacaran terlalu lama. Ingatlah nak, kalian itu muslim dan muslimah, dalam ajaran agama kita, berpacaran itu sudah termasuk zinah. Jika kau masih ingin berpacaran, takutnya setan nanti akan menjerumuskan kalian ke hubungan yang menghasilkan dosa lebih besar," tuturnya. "Jika kau benar-benar menyukai Mara, kau juga harus berani melamarnya. Jadikan dia istrimu, bangun keluarga bersamanya. Lagipula, umur kalian sudah cukup untuk menikah. Kau juga, sebentar lagi wisuda, kan?"
Amato diam. Pemuda itu tampaknya sedang merenungkan apa yang dikatakan oleh ayahnya.
"Jika kau memikirkan tentang biayanya, kau tenang saja. Kalian bisa mendaftarkan pernikahan kalian di JIAS terlebih dahulu, resepsinya bisa belakangan setelah kau wisuda dan mendapatkan pekerjaan," lanjut aba. "Atau, kalau kau dan Mara ingin ada resepsi di saat kalian menikah saat kau masih belum wisuda serta belum dapat pekerjaan, aba dan umi bisa bantu buat biayanya. Kau tenang saja."
Amato tersenyum. "Baik, aba. Nanti coba aku bicarakan dengan Mara tentang masalah ini," ucapnya.
Aba mengangguk. "Yap, bicarakan nanti pas kau mengantarkannya pulang. Lagian, apa kalian nggak iri sama Wawa? Dia bahkan akan menikah bulan depan sebelum sidang skripsinya."
"Hah?" Amato terkaget. "Wawa... akan menikah?"
"Iya. Umimu tadi diceritakan sama emaknya. Katanya sih, sehabis wisuda, Wawa dan suaminya bakalan tinggal di pulau Rintis."
Amato benar-benar terkejut mendengar informasi tersebut. Ia benar-benar tak menyangka bahwa mantan crushnya akan menikah terlebih dahulu daripada dirinya.
"Makanya, kau cepatlah melamar Mara. Aba dan umi juga ingin sekali menimang cucu dari kalian,"
Di dalam mobil, keadaan tetap hening. Mara sibuk dengan pikirannya, sedangkan Amato sibuk menyetir. Tak ada satu suara pun yang keluar dari mulut kedua pasangan sejoli itu sedari tadi. Hanya lantunan lagu pop dari port USB yang meramaikan keheningan tersebut.
Diam-diam, Mara melirik Amato yang masih tetap memandang lurus ke jalanan. Jujur saja, ia begitu penasaran apa yang dibicarakan oleh Amato tadi dengan ayahnya, karena setelah kedatangan dirinya dan umi tadi, aba Amato tak henti-hentinya membicarakan tentang Wawa—mantan crush kekasihnya dam juga temannya saat sekolah dasar dulu—yang akan menikah sebulan lagi.
"Amato," yang dipanggil menoleh dan kebetulan lampu merah di depan mereka juga sedang menyala. "Aba kenapa ya, pas tadi ngomongin soal Wawa yang mau nikah sambil terus melirik aku sama kamu?"
Amato terbatuk. Mara menaikkan satu alisnya dan juga terdapat raut kekhwatiran di wajah wanita cantik itu.
"Nih, minum dulu," ucapnya lalu menyodorkan sebotol mineral pada Amato yang langsung meminumnya.
Sudah merasa cukup, Amato mengembalikan botol mineral itu pada Mara. Ia kemudian berdehem, yang membuat Mara menatapnya dengan alis terangkat.
"Aba ingin kita menikah secepatnya," ungkapnya. "Pas kamu bantuin umi di dapur, aba nanyain ke aku, kapan aku berniat menikahi kamu. Nah aku bilang, aku belum berpikir sampai ke sana."
"Terus?"
"Aku diomelin—dinasihati sih lebih tepatnya. Aba menyuruhku untuk cepat-cepat menikahi kamu. Dia juga cerita sudah lama ingin menggendong cucu dari kita."
Lalu suasana di mobil itu kembali hening. Kemudian lampu merah itu menjadi hijau, Amato kembali fokus dalam mengendarai mobilnya, sedangkan Mara kini menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Mar," panggil Amato masih dengan matanya fokus ke jalanan.
"Hm?"
"Kamu mau nggak sih nikah sama aku? Bikin keluarga sama aku?"
Mara tak bersuara.
"Nggak mau, ya?"
Mara masih diam.
"Ya, kayaknya benaran gak—"
"Diam!" tukas Mara sambil menatap kesal Amato. "Fokus menyetir saja dulu. Aku akan jawab pertanyaan kamu pas kita sudah sampai nanti."
Dan Amato pun menurut—diam seperti yang dititahkan sang kekasih.
Ketika mobil sedan itu sampai di halaman rumah bercat hijau sage, Amato terlebih dahulu turun—membukakan pintu yang ditempati Mara kemudian berjalan ke bagasi, mengeluarkan koper sang kekasih.
"Nih kopermu, Mar." Mara menerima kopernya dari pemberian sang kekasih.
"Terima kasih," dan Amato mengangguk.
"Sama-sama. Kalau begitu aku pamit, skiripsiku sudah menunggu."
Amato kini berjalan ke mobil sedannya setelah berpamitan pada sang kekasih dan Mara mempersilahkannya. Namun, belum sempat pemuda itu sampai ke mobilnya, Mara memanggilnya.
"Amato, tunggu!"
Pemuda berambut hitam dengan bagian poni depannya yang berwarna putih itu berbalik, menatap Mara tepat di mata, "Ada apa?"
"Aku mau," ucap Mara dengan cepat.
Amato terdiam beberapa detik. Sebelum akhirnya ia berceletuk, "Hah?" Terlihat raut bingung yang terpampang di wajah tampannya.
"Jawaban atas pertanyaanmu tadi. Ak–aku... mau," ulangnya dengan terbata. Perempuan berpashmina silk itu menundukkan wajahnya yang kini merona seperti tomat. "Aku mau menikah sama kamu. Aku mau membuat keluarga bersama kamu. Dan aku... mau selamanya sama kamu."
Dan setelah mengatakan itu, Mara masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan sosok Amato yang kini tercenung sebelum akhirnya mata pria itu melebar dan ia berteriak kegirangan.
"ABA! AKU JADI KAWIN! MARA MAU JADI ISTRIKU, ABA!"
Dibalik pintu, tubuh Mara merosot. Wajahnya semakin merona setelah telinganya mendengar teriakan heboh Amato. Perempuan itu menutup wajahnya yang memerah karen merasa malu gara-gara teriakan heboh sang kekaih.
Berbeda dengan Mara, Amato kini berjalan kegirangan memasuki mobilnya. Pemuda itu tak hentinya tersenyum sambil menyanyikan lagu artis pop dari negara tetangga yang berlirik, "kawin, kawin, minggu depan aku kawin~" dengan semangat dan keras.
Bagian dua : Unexpected Marriage Proposal
Selesai.
Author's note :
Bagian dua selesai. Di chapter ini aku mau memperlihatkan sisi tsundere Mara wkwkwk. Sedangkan Amato, di sini aku buat dia tipe calon suami yang bucin akut dan takut istri wkwkwkw. Sampai ketemu di chapter 3 nanti. Untuk Peek A Boo, kalau nggak besok ya sabtu/minggu aku update. Di peek a boo nanti bakal ada kejutan wrwrwrwr.
Sampai jumpa di next chapter~
with love
jennetchs
