Gadis berumur dua puluh tiga tahun itu sibuk menyuruput banana milkshake-nya sembari matanya tidak teralihkan dari televisi. Sesekali ia mendumel tak kala melihat tingkah menyebalkan sang antagonis dari sinetron yang ditontonnya. Dumelannya seketika berhenti saat telinganya menangkap suara yang berasal dari pintu rumahnya.
"Assalamualaikum," ucap seseorang di sana. Mara lekas meletakkan gelasnya. Ia kemudian berlari kecil menghampiri sang suami yang tampak baru pulang.
Lekas, Mara mengambil tangan sang suami dan menyalaminya."Wa'alaikummussalam. Tumben kali ini pulangnya agak lama? Bukannya kamu tadi izinnya sama aku mau ke cafe ya ngerjain skripsi sama Deep?" tanyanya.
Suami gadis itu, Amato, berjalan masuk dan langsung mendudukkan dirinya di sofa begitu saja. Ransel yang dipakainya kini sudah tergeletak di samping kakinya sedangkan jaket bombernya ia lepas. Kentara sekali kalau pemuda yang seumuran dengan istrinya itu sedang lelah.
"Tadi sebelum ke cafe, aku ke kampus dulu, mau minta saran soal penilitian aku ke dosbing. Hampir dua jam lho aku menunggu di sana, tapi ternyata beliau malah nggak ada. Kata para dosen sih, beliau memang hari ini nggak ada jadwal mengajar. Sia-sia aja aku tadi datang ke kampus," Amato memejamkan matanya. Hampir saja ia tertidur kalau saja istrinya yang dinikahinya dua bulan yang lalu tidak mencubit pinggangnya. "Aduh, sakit lah, Mar!" adunya sambil mengelus pinggangnya yang dicubit.
"Lebay ah, kamu," sambut Mara sambil memutar matanya malas. "Mandi dulu sana. Aku sudah sudah siapkan makan malam buat kamu. Oh ya, kamu sudah salat Isya, kan?"
Amato menggeleng, ia lalu berkata, "Belum. Kelupaan tadi, saking sibuknya aku ngetik mulu." Mara hanya berdengus sambil mencubit gemas pipi sang suami. "Oh ya, Mechabot mana?"
"Mechabot sudah tidur sehabis makan malam tadi. Lagian, ini sudah jam sembilan malam,"
Amato mengangguk. "Oh, syukurlah. Berarti tinggal aku doang yang belum makan nih?"
Mara menggeleng. "Aku juga belum. Aku nungguin kamu pulang, biar kita bisa makan sama-sama," sambutnya.
Amato berdengus. Pemuda itu menjentik pelan kening sang istri, membuat Mara meringis. "Lain kali jangan diulangi ya. Aku nggak mau kamu kelaparan hanya karena nungguin aku."
Mara yang dinasihati hanya mengangguk.
"Oh ya, kamu masak apa buat makan malam kali ini?"
"Gulai ayam kuning sama ikan pari asam pedas," jawab Mara sambil berdiri dan mengambil ransel dan juga jaket bomber hitam yang dilepas oleh pemuda itu. Dia kemudian membawanya ke kamar mereka. "Kamu mandi dulu ya, habis itu salat. Kalau sudah selesai, nanti langsung ke dapur aja, aku di sana kok."
"Oke, oke," setelah berkata demikian, Amato pun masuk ke dalam kamar mandi yang menyatu dengan kamar mereka sedangkan Mara sendiri langsung keluar kamar. Gadis itu ke dapur untuk memanaskan kembali lauk pauk.
Mereka sudah menikah sejak dua bulan yang lalu. Alasan menikah mereka sederhana—takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dan juga atas saran dari aba Amato sendiri. Pernikahan yang mereka laksanakan tidak begitu 'wah'. Mereka mengadakan resepsi, tentu. Tetapi tidak terlalu banyak mengundang tamu. Yang diundang hanya keluarga besar mereka saja, begitu juga beberapa sahabat mereka.
Mereka juga tidak ingin buru-buru mendapatkan momongan. Alasannya karena mereka berdua, kan, masih muda. Baik dirinya atau pun Amato masih ingin menikmati masa 'pacaran' sehabis menikah mereka sebelum diberikan titipan dari Allah. Selain itu, Mara juga sibuk dengan pekerjaannya sebagai executive chef dan Amato juga masih sibuk dengan skripsinya walaupun pemuda itu sudah memiliki pekerjaan sampingan yang layak dengan gaji yang lumayan besar sebagai superhero penjaga bumi dan kota Hilir dari kedatangan para alien dan robot jahat.
Tapi, jika suatu saat Allah memberikan mereka keturunan pun, mereka siap menerimanya. Bagaimana pun juga, menjadi seorang orang tua adalah impian beberapa pasangan yang telah menikah, termasuk impian Amato dan Mara juga.
"Kurensia" by jennetchs
Mechamato/ Boboiboy belongs to (c) Monsta
Warning(s) : AT (Alternatif Timeline), romance, hurt/comfort, family, bahasa Indonesia (baku dan non-baku), typo, etc. Amato x Mara!area
Bagian tiga : Kabar Gembira
PS : It is hoped that you will read this section while listening to Lee Hi-Only. Because some of the scenes here I was inspired when I heard the song and saw the music video.
"Hoeek! Hoeek! Hoeeek!"
Amato yang baru tidur tiga jam yang lalu setelah sibuk melanjutkan skripsinya, kini membuka matanya dengan susah payah ketika mendengar suara berisik seperti orang sedang muntah dari kamar mandi. Pemuda itu mengerang sambil mencoba untuk duduk. Kepalanya terasa pusing dan matanya perih karena terlalu sering berhadapan dengan layar laptop.
Ketika dia melihat ke samping, istrinya sudah tidak ada dan seketika itu juga dia terserang rasa panik. Amato lekas turun dari ranjangnya lalu berdiri tepat di depan pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Tok. Tok. Tok.
"Mar? Kamu di dalam?"
Tak ada sahutan, yang terdengar hanyalah suara muntahan yang berulang-ulang kemudian diikuti suara tombol flush yang berbunyi nyaring dan suara air keran yang berdesir.
"Mar, jawab aku! Kamu di dalam, kan? Kamu kenapa? Kok muntah-muntah?" Amato semakin kalut dan khawatir. Ia pun menggedor kembali pintu kamar mandi dengan kuat. Masa bodoh dengan waktu tidurnya yang terpotong, keadaan istrinya jauh lebih penting saat ini.
"Aku nggak apa-apa kok." Pintu kamar mandi itu terbuka, menampilkan sosok sang istri yang wajahnya terlihat pucat. "Cuma mual sama pusing aja. Mungkin kecapekan sama asam lambung aku lagi naik kali ya, soalnya beberapa hari ini aku memang sering telat makan."
Amato berjalan mendekati sang istri. Memegang wajahnya sambil menatapnya dengan tatapan khawatir. "Yakin kamu nggak apa-apa? Jangan bohong sama aku, Mar. Wajah kamu ini pucat banget lho, kayak orang sakit," balasnya dengan nada khawatir. Dia kemudian menuntun sang istri menuju kasur mereka kembali. Dia juga menyingkirkan rambut panjang Mara ke pundak gadis itu dan memijat bahunya.
"Benaran, aku nggak apa-apa kok," elak Mara. Perempuan itu tersenyum tipis pada sang suami yang masih betah memijat bahunya. "Mending kamu tidur lagi aja. Kasihan kamu baru bisa tidur tiga jam yang lalu, sekarang malah ikut kebangun gara-gara aku," lanjutnya sambil tersenyum minta maaf. Mara sungguh merasa tidak enak. Perempuan itu tahu betul seberapa lelah keadaan suaminya saat ini, jadi dia tidak mau menambah beban sang suami. "Amato ..."
"Oke, oke. Aku tidur sekarang. Tapi dengan syarat, kalau kamu masih merasa mual dan mau muntah, bangunkan aku biar aku bisa bantu kamu ke kamar mandi," titahnya sambil menghentikan pijatan di pundak istrinya itu. Amato menyelipkan anak rambut sang istrinya ke belakang telinganya, lalu membawa sang istri ikut berbaring sambil memeluknya erat.
Mara dalam pelukan pemuda itu mengangguk pelan dan tersenyum samar. "Oke."
"Nah sekarang, ayo kita tidur lagi."
"Iya."
Mara benar-benar merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Pertama, dia terus mengalami muntah-muntah sampai akhirnya harus membangunkan suaminya. Kedua, sekujur tubuhnya terasa sangat lemas, kepalanya pusing dan ia sering merasa kantuk saat bekerja. Ketiga, dia selalu merasa nyeri pada payudaranya dan dia bahkan hampir selalu bolak-balik ke kamar kecil hanya untuk buang air kecil. Keempat, dia tidak bisa menolerir bau suaminya sendiri. Bahkan Amato sendiri sampai kaget mendengarnya saat dirinya bilang tubuh pria itu bau.
Padahal parfum yang biasa digunakan Amato justru parfum kesukaan Mara, di mana dirinya juga sering membelikannya untuk sang suami.
Dan yang terakhir, dia merasa sering lapar. Mara yang selalu makan teratur sebanyak tiga kali sehari—pagi, siang dan malam—kali ini tampak berbeda. Di tengah malam, terkadang dia bangun dan membuat cemilan untuknya sendiri di saat Amato tertidur pulas karena kelelahan dengan skripsinya.
Awalnya, gadis itu tak merasa aneh. Namun hal ini telah berlangsung selama lima hari berturut-turut dan berhasil membuat suaminya cemas setengah mati. Amato bahkan sampai berniat tidak ke kampus hanya karena ingin menemani istrinya di rumah—ya, Mara akhirnya meminta izin pada bosnya untuk tidak masuk bekerja untuk beberapa hari ke depan di karenakan kondisinya yang masih lemas—meskipun tentu saja Mara melarangnya.
Di hari kelima ini, gadis berkerudung bergo cream itu memutuskan untuk pergi ke dokter. Semoga saja dia tidak mendapat kabar yang buruk setelah pulang dari sana. Sebelum pergi, tak lupa ia juga sempat mengirimkan pesan pada Amato, agar sang suami tidak kalut mencarinya jika sewaktu-waktu dirinya masih di rumah sakit dan pemuda itu pulang lebih awal dari jadwal perkuliahnya. Dia juga berpamitan pada Mechabot sekaligus meminta powersphera itu menjaga rumah mereka dan robot canggih itu pun menyetujuinya dengan syarat saat pulang nanti Mara harus membuatkannya karipap.
Pukul setengah sembilan pagi, Mara berjalan dengan tenang di lorong rumah sakit yang tampak ramai oleh para pengunjung yang mungkin sedang menjenguk kerabatnya yang sakit. Selain para penjenguk itu, Mara juga sering melihat pasangan suami-istri datang dengan perut besar sang istri yang mungkin melakukan check up pada kandungannya.
Langkah perempuan berkerudung bergo cream itu berhenti ketika sampai di depan poli OBGYN, di sana lumayan banyak para ibu hamil yang ikut mengantri—ada yang membawa suaminya, ada juga yang datang sendirian seperti dirinya. Mara kemudian duduk di kursi tunggu setelah mendapatkan nomor antriannya.
"Sudah berapa minggu, bun?" Mara menolehkan wajahnya ke samping, matanya bertemu pandang dengan mata seorang wanita hamil yang duduk tepat di sampingnya.
Mara tersenyum tipis. "Belum tahu, soalnya saya juga baru mau periksa," katanya dan wanita hamil itu hanya ber'oh' ria sebagai responnya.
Kemudian hening. Tak lama suara perawat memanggil sebuah nama dan wanita hamil yang berada di sampingnya lekas berdiri.
"Saya dipanggil, saya duluan ya."
Mara hanya mengangguk dan wanita hamil itu pun masuk ke dalam ruangan.
Mara lalu memutar pandangannya, melihat poli OBGYN yang ramai akan pasien yang ingin periksa. Dia tersenyum kecil ketika melihat pasangan suami-istri dengan anak mereka di tengah-tengah mereka tampak sedang membicarakan hal yang menyenangkan, seperti keluarga bahagia pada umumnya. Mara mengelus sayang perutnya yang masih datar, berharap saat pemeriksaan nanti ia dinyatakan positif mengandung.
"Pasien atas nama nyonya Tamara."
Suara seorang perawat terdengar, Mara segera berdiri dari duduknya.
"Apa pasien atas nama nyonya Tamara ada?" Perawat itu memanggil ulang namanya dan Tamara mengangkat tangannya ketika berjalan mendekati sang perawat.
"Silahkan masuk," ucap perawat itu ramah lalu Mara pun segera memasuki ruangan tersebut.
"Selamat pagi, ibu Tamara. Silahkan duduk dulu ya, ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan untuk tahap pemeriksaan pertama." Mara tersenyum mengikuti saran dokter kandungan itu dan duduk dengan tenang.
"Baiklah. Sebelum itu saya tanya dulu ya ibu. Kapan terakhir ibu menstruasi?"
"Hmmm... terakhir kali saya menstruasi itu sebulan yang lalu, dok. Itu pun, hanya berupa bercak flek saja."
Dokter itu mengangguk. Ia kemudian tampak sibuk mencatat di sebuah buku.
"Apa ada keluhan selama ini, ibu?"
Mara mengangguk. "Ada, dok. Saya sering merasa kelelahan dan muntah-muntah beberapa hari terakhir ini, selain itu payudara saya juga terasa nyeri."
"Ada lagi?"
"Ah, ada. Nafsu makan saya semakin meningkat. Saya selalu merasa lapar, dan setiap kali saya selesai makan untuk mengurangi rasa lapar saya, sehabis itu juga makanan yang sudah saya masukkan ke perut itu saya muntahkan, dok," jelas Mara dan dokter spesialis kandungan itu mengangguk paham sembari mencatat di bukunya.
Dokter itu kemudian bangun dari duduknya dan berjalan menujunya. "Ibu Tamara, silahkan ikuti saya. Kita periksa berat dan tinggi badan ibu dulu ya. Sehabis itu saya akan melanjutkannya dengan tes darah dan urin, baru selanjutnya bisa kita lanjutkan dengan tes ultrasonografi."
"Baik, dokter." Mara lekas bangun dari posisinya, mengikuti instruksi dari dokter spesialis kandungan tersebut. Dimulai dari tes tinggi dan berat badan, lalu dilanjutkan dengan tes urin dan kini akan berlanjut ke tes ultrasonografi.
Ruangan dokter kandungan tampak begitu hening. Saat ini, hanya suara alat ultrasonografi yang mendominasi ruangan tersebut. Dokter spesialis kandungan itu menempelkan transduser pada permukaan perut Mara yang telah diolesi oleh gel.
"Nah, jadi seperti inilah penampakan anak ibu di dalam rahim sana. Masih kecil, umurnya juga baru masuk tujuh minggu, ukurannya mungkin seperti ukuran biji kopi." Dokter kandungan itu menunjuk monitor yang menampilkan kondisi rahim Mara yang berisikan sosok janin mungil yang terlihat begitu kecil. "Sekarang ari-ari, wajah, lengan, dan kaki sih janin sudah mulai terbentuk. Selain itu, jantung sih bayi juga sudah mulai berdetak, ibu. Yang ini wajah sih adik bayi, dan yang ini tangan sama kakinya, ibu. Memang masih terlihat kecil sekali, belum kelihatan kayak tangan," jelas sang dokter sambil menyoroti monitor dengan remote control lasernya.
Mara menatap takjub layar USG empat dimensi dihadapannya. Itu artinya, dulu ia juga sekecil itu saat dalam kandungan ibunya? Dan sekarang, justru dia sekarang mempunyai anak dengan ukuran sebesar itu?
"Nah, meskipun saat pemeriksaan tadi gula darah ibu Tamara termasuk normal, tapi tetap ibu perhatikan ya asupannya. Sebisa mungkin jangan terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang manis-manis atau minuman yang mengandung kafein yang dapat membahayakan sih janin."Dokter itu kembali menjelaskan sambil menutup perut Mara dengan tunik biru langit yang perempuan itu kenakan.
"Ada baiknya saat mengandung, ibu Tamara banyak mengkonsumsi buah dan sayur yang kaya serat dan vitamin untuk sih janin. Untuk sayur, ibu bisa mengonsumsi brokoli, bayam, kale dan tomat. Sedangkan untuk buah, ibu bisa mengonsumsi pisang, jeruk, alpukat, apel dan mangga. Tapi untuk buah mangga, jika ibu ingin mengonsumsi mangga yang muda, saran saya porsinya jangan berlebihan ya, ibu. Kasihan dedek bayinya nanti. Selain itu, jika ibu terlalu banyak mengonsumsi mangga muda, takutnya asam lambung ibu naik lalu membuat ibu pusing dan mual-mual. Lebih bahaya lagi ibu bisa terkena penyakit maag,"
Dokter itu tersenyum sembari duduk di kursi dokter. Tangannya mencoret-coret kertas dengan cekatan. "Oh ya, selain menjaga asupan makanan, ibu juga harus istirahat yang cukup. Nanti saya sekalian kasih obat dan vitamin kehamilan juga."
"Baik, dokter. Saya mengerti." Mara yang sudah bangun dari bed ginekologi duduk kembali dihadapan sang dokter.
"Oh, ya, saya lupa menanyakan satu pertanyaan lagi. Sebelumnya, apa ibu ini IRT atau masih kuliah?" tanya dokter kandungan itu sambil menatap Mara, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum.
"Saya wanita karir, dok, sudah bekerja. " jawabnya.
"Ah, begitu. Kalau boleh tahu, ibu bekerja sebagai apa ya?"
"Executive chef, dokter."
Dokter itu ber'ah' ria sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ah, begitu. Kalau bisa, ibu Tamara jangan terlalu memforsir diri sendiri untuk bekerja jika masih merasa mual dan lelah, jangan sampai stress. Kalau memang dirasa nggak kuat sekali saat bekerja, ada baiknya ibu mengambil cuti kerja dulu. Takutnya terjadi hal-hal yang nggak diinginkan, apalagi ini kehamilan pertama ibu," kata dokter kandungan itu menasihati. Mara hanya menganggukkan kepalanya sambil mengelus perutnya dengan sayang.
"Baik dok, akan saya ingat."
"Ada lagi yang ingin ditanyakan, ibu?" tanya dokter kandungan itu memastikan. Mara mengulum bibirnya, tampak berpikir. Dia lalu menganggukkan kepalanya.
"Bu dokter, untuk mengetahui jenis kelamin anak saya nanti itu di saat kehamilan bulan ke berapa ya?" tanya Mara, penasaran.
"Untuk mengetahui jenis kelamin anak ibu, itu bisa dilakukan saat ibu melakukan tes USG pada di usia kehamilan 18-20 minggu, atau sekitar empat atau lima bulan nanti," jawab sang dokter sambil tangannya kemudian memberikan sebuah buku kecil berwarna merah muda dengan gambar suami istri dan juga seorang anak perempuan. Selain buku kecil, ia juga diberikan hasil tes USG, test pack, dan juga nota yang harus ditebus di unit administrasi.
"Untuk pemeriksaan selanjutnya, silahkan ibu datang bersama suami dengan membawa buku kontrol kehamilan ini, ya. Semoga dedek bayinya sehat-sehat terus ya, bu."
"Assalamualaikum," Amato langsung melepas sepatunya dan berlari dengan cepat lalu menuju ruang tengah—tenang saja, pintu rumah mereka yang terbuka sudah tertutup kok. "Mara! Mara!" panggilnya dengan kedua matanya mengedar ke segala penjuru ruangan, mencari keberadaan sang istri.
"Wa'alaikummussalam," Mara yang keluar dari arah dapur sambil meminum jus pisangnya menatap heran Amato. "Kamu kenapa, kok kayak habis kena dikejar-kejar orang begitu, sih?" tanyanya. Dia berjalan mendekati sang suami sambil membantu melepaskan ransel yang masih terpasang di tubuh suaminya itu.
Amato menatap lekat Mara. Dan dengan cepat pemuda itu langsung memeluk erat sang istri, membuat Mara sedikit terlonjak karena kaget.
"Amato? Kamu kenapa?" tanya sang istri dengan keheranan. Mara menggeliat, minta dilepaskan dari kukungan sang suami.
"Kamu nggak apa-apa, kan? Nggak ada yang sakit, kan?" tanya Amato dengan nada khawatir. Tanpa sadar pemuda itu mencengkram kedua pundak Mara. Dia mengguncang pelan tubuh sang istri.
Mara terdiam sejenak, sebelum akhirnya gelak tawanya meledak. Amato menatap heran pada sang istri yang kini tampak menghapus setitik air mata yang keluar tanpa sadar dari ujung matanya.
"Kok ketawa? Nggak ada yang lucu lho, Mar. Aku nanya begitu serius, soalnya aku khawatir sama kamu!" gerundel Amato, menatap kesal pada sang istri yang kini tersenyum jahil.
"Memang nggak ada yang lucu, kok," sahut Mara santai.
"Terus kenapa kamu ketawa begitu? Senang ya ngejek aku yang khawatir sama kamu?!" gerutu Amato, kali ini nadanya jadi naik satu oktaf. Membuat Mara yang tadi tersenyum jahil mulai ikut emosi.
"Kok kamu tiba-tiba marah sih? Biasa aja, kali kalau membalas ucapan aku! Kamu nyebelin banget hari ini!" Perempuan berkerudung bergo cream itu juga ikut meninggikan suaranya. "Lagian, memangnya salah banget ya aku ketawa? Aku juga ketawa gara-gara merasa lucu sama tingkah kamu, bukan buat ngeledek kamu!"
Lalu hening. Mara bersedekap dada lalu pergi ke kamar mereka sambil membawa ransel sang suami, meninggalkan Amato yang melongos pelan sambil mengacak rambutnya.
"Salahmu sendiri, Amato. Udah tahu istrimu lagi mood swing beberapa hari ini, kamu malah ngajak berantem begitu," timpal suara lain yang membuat pemuda berambut hitam berponi putih itu mendelik tajam menatap sih robot canggih berwarna merah tersebut. Mechabot—sih powersphera yang sedari menguping pertengkaran pasangan itu—datang dari arah dapur sambil menggigit karipap buatan Mara. Ia kemudian mengangkat kedua tangannya dengan pose yang berkata seolah-olah 'bukan salahku', kemudian ikut masuk ke kamar kosong dan bersebelahan dengan kamar Amato-Mara,
Hah, sial. Aku harus minta maaf sama Mara nanti, soalnya aku juga salah karena terlalu emosi.
Amato diam-diam mengintip Mara yang sedang mengendap-endap berjalan ke dapur di tengah malam. Setelah pertengkaran mereka tadi sore, Amato memilih untuk tidur di ruang tengah, karena selain menghindari bertengkar kembali dengan Mara yang beberapa hari ini mengalami mood swing, dia juga ingin melanjutkan mengetik revisian skripsinya yang akan rampung.
Mata elangnya menatap terus gelagat Mara yang sedang membuka pintu kulkas mereka. Seketika Amato berdengus saat melihat istrinya itu ternyata mengambil zuppa soup yang dibelinya kemarin malam karena titipan Mara sendiri—katanya perempuan itu ingin makan hidangan hot appetizer dari negara Italia tersebut. Dia kemudian meninggalkan Mara yang menyantap zuppa soup dengan tenang di meja makan dan kembali ke ruang tengah, melanjutkan revisiannya.
Biarin deh dia sendiri, mungkin dengan makan itu Mara nggak moodyan lagi, batin Amato berkata.
"Hoeeek! Hoeek!"
Namun, baru saja jarinya mengetik beberapa kata pada laptopnya, Amato harus mendengar suara orang muntah lagi. Lekas dengan perasaan khawatir dan kalut, pemuda itu berlari ke dapur. Dia bahkan harus mengalah dengan egonya yang masih merasa dongkol dengan sang istri.
Matanya terbelalak saat melihat keadaan meja makan yang diduduki Mara dipenuhi cairan kuning—yang Amato bisa tebak bahwa istrinya lah yang memuntahkan cairan itu. Pemuda itu lekas berjalan mendekati sang istri setelah membersihkan sisa muntahan sang istri di meja dan lantai dapurnya tanpa geli sama sekali. Sedangkan Mara, wanita itu tampak terlihat sedang membersihkan sisa-sisa muntahannya di westafel dapur.
"Mara," panggil Amato lembut, membuat sang istri yang berwajah pucat menoleh dan menatapnya dengan tatapan sayu. Bagian depan piyama yang dikenakan wanita itu juga terkena muntahannya.
"Kamu kenapa? Sakit? Kita ke rumah sakit aja ya besok, sekalian besok aku juga libur. Aku temanin deh," tuturnya masih lembut sambil mengelus sayang pipi sang wanita.
Mara menggelengkan kepalanya lunglai. Perempuan itu mematikan kran pada westafel lalu melepaskan tangan sang suami dari wajahnya.
"Jangan sentuh," gumamnya, pelan. Hampir tak terdengar jika Amato tidak berada didekat sang istri.
Amato mengerutkan alisnya. "Kenapa? Kamu nggak suka?" tanyanya, mulai sebal. Tapi nadanya ia buat setenang mungkin, karena jujur ia tak tega membuat keributan dengan Mara di saat kondisi istrinya itu jauh dari kata baik-baik saja. Tubuh istrinya gemetar dan wajahnya pucat pasi.
"Bukan begitu, tapi..." Mara menjeda kalimatnya. Wanita itu menatap Amato dengan sedih, dapat pemuda itu lihat mata sang istri mulai berkaca-kaca. "... aku ... hiks, kotor. Aku... jorok..."lirihnya.
Amato terdiam.
"Aku bikin kamu repot. Aku... jorok, hiks. Muntah sembarangan..., aku jorok..., hiks," tangis Mara langsung pecah. Wanita itu menangis tersedu-sedu.
Hal itu membuat Amato membulatkan matanya, kaget. Dia benar-benar kaget dengan perubahan emosi istrinya beberapa hari ini. Sebenarnya istrinya ini sakit apa sih? Amato khawatir Mara terkena penyakit yang dapat membahayakan kesehatan wanita itu.
"Udah, kamu jangan nangis ya. Kamu nggak ngerepotin aku kok, nggak sama sekali, Mar..." ucap Amato demi menenangkan perempuan berambut hitam yang digelung rapi itu. Dengan lembut, tangan pemuda itu mengelus sayang kepala sang istri yang masih sedang menangis. "Sekarang, ayo kita ke kamar, nanti aku bantu lepasin piyamamu yang bekas muntahan itu. Kamu mandi lagi ya, biar aku siapkan baju kamu yang baru," lanjutnya lalu menggendong Mara dengan gaya bridal style ke kamar mereka.
Mara hanya diam, wanita itu tak menolak. Biarlah kali ini ia mengalah dengan Amato, mengingat saat ini tubuhnya benar-benar lemah hanya untuk sekedar berjalan.
"Besok kita ke rumah sakit. Kali ini nurut sama aku, oke. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa," ucap Amato begitu selesai memasangkan nightgown berwarna baby pink berbahan dasar satin dengan panjang selutut dan berlengan panjang serta berenda itu pada tubuh lemah Mara.
Setelah itu, dia merapikan rambut sang istri yang berantakan. Dia membenarkan gelungan pada rambut panjang Mara, sekalian menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga.
"Nggak perlu, Amato. Aku nggak sakit apa-apa, kok," bantah Mara, menggelengkan kepalanya. "Lagipula, bukannya pagi tadi aku sudah ngabarin kamu bahwa aku ke rumah sakit? Jadi, nggak perlu ya kita ke sana. Aku baik-baik aja kok, serius deh."
Amato menurunkan tangannya. Matanya menatap istrinya lekat, bahkan alisnya tampak menyatu. "Kalau kamu nggak sakit, terus tadi kenapa muntah-muntah? Mana tadi pas aku sentuh dahi kamu juga panas, kayak orang lagi kena demam."
"Oh, soal itu," Mara tersenyum kecil. Dia menggelengkan kepalanya. "Nggak kok. Aku nggak sakit. Benaran deh. Sekarang mending kamu bantu ambilkan tas aku dulu deh, di sana." Amato mengikuti arah telunjuk Mara yang mengarah ke arah meja rias sang istri. Lekas ia turun dari ranjang dan mengambil tas yang ditunjuk oleh sang istri.
"Terima kasih," kata Mara saat menerima tas dari tangan Amato yang kini kembali naik ke ranjang dan duduk di sebelahnya.
Senyum wanita itu tak memudar ketika mengobrak-abrik isi dalam tasnya. Di sisi lain, Amato hanya diam memperhatikan wajah tersenyum Mara. Pemuda itu termangu. Kenapa istrinya malah senyam-senyum seperti itu? Apa dia tidak mengerti bahwa selama di kampus tadi dirinya sama sekali tak bisa fokus karena bayangan istrinya itu terus menghantui benaknya?
"Itu apa?" tanya Amato ketika melihat kedua tangan Mara yang keluar dari tasnya mengepal. Ditambah lagi wanita itu tersenyum-senyum sendiri; terlihat mencurigakan.
"Bukti bahwa aku nggak sakit," Mara menjawab singkat. Tangan yang asalnya mengepal itu pun dia buka. "Nih. Ulang tahun kamu udah lewat sih, tapi anggap aja ini kado dari aku buat kamu," lanjutnya. Sebuah benda berbentuk pipih yang tadi dia sembunyikan langsung beralih tangan ke tangan sang suami. Amato menerimanya dengan wajah keheranan sampai akhirnya mata pemuda itu membulat dan mulutnya menganga kaget.
Amato lekas menoleh menatap Mara yang masih tersenyum. "Mar, ini... kamu—" pemuda itu tak melanjutkan kalimatnya. Dia terlalu terkejut sampai-sampai tak bisa menyuarakan apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Ya, aku hamil. Sudah tujuh minggu kata dokter tadi. Aku lupa kalau bulan ini belum datang bulan karena saking sibuknya." Perempuan itu tersenyum lebar. "Oh ya, aku juga ada foto hasil USG-nya. Kalau kamu mau lihat, nih aku—"
"Makasih, Mara! Aku senang, banget! Aku bahagia!" Amato memeluk sang istri, memotong ucapan Mara yang kini terhenyak sebelum akhirnya tersenyum hangat.
Mara mengelus sayang punggung Amato, begitu juga sebaliknya. Pemuda itu semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Mara.
"Aku benaran bahagia banget. Akhirnya akan ada si kecil di kehidupan kita," bisik Amato. Pemuda itu kemudian melepaskan pelukannya dan mencium bertubi-tubi wajah sang istri, membuat Mara hanya terkekeh dihujami ciuman kasih sayang itu.
"Mulai sekarang, kamu harus memanggilku Ayah, dan aku akan memanggilmu Ibu. Mengerti?"
Mara terkekeh geli dan mengangguk."Iya, Ayah. Ibu mengerti," sahutnya. Kali ini, perempuan itu dengan berani mengecup duluan bibir Amato dan dibalas dengan brutal dan mesra oleh pemuda itu.
Malam itu, bintang dan bulan yang bersinar di atas langit gelap menjadi saksi kabar bahagia kedua pasangan sejoli tersebut. Tak ada hal yang lebih bahagia dibandingkan ini. Amato mencium sayang kening gadis itu sebelum akhirnya membawa Mara ke pelukannya dan berbaring demi menyelam ke mimpi indah mereka.
Bagian tiga ; Kabar Gembira
Selesai
Author's note :
Jujur aku ngetik ini sambil dengerin lagu mbak hayii-Only supaya berasa kisah mereka wkwkwk. Untuk scene waktu nikah, nggak aku masukkan, soalnya kepanjangan kalau aku masukkan, makanya aku langsung loncat ke kehidupan mereka setelah menikah. Btw, selamat buat calon ayah Tomato dan bubun Mara di fanfiksi ini hehehe. Gacor banget nggak perlu nunggu sampai bertahun-tahun buat dapat dedek oboi. Sampai jumpa di next chapter~.
PS : Kayaknya ini bakalan jadi 6 chapter aku tamatkan. Sedikit sneak peak, di bagian keempat nanti aku bakal nyiksa Amato wkwkwk, di bagian kelima aku bakal nyeritain perjuangan Mara ngelahirin baby Oboi ( dan mungkin aku bakal singgung sedikit kematian umi-nya Amato di sini), dan di bagian terakhir fanfiksi ini aku bakal menutup dengan kisah Amato-Mara-Balita Oboi.
with love
jennetchs
