Naruto bukan punya saya. Kalau punya saya, gak perlu saya cantum-cantum begini.
Anyway. Fanfiksi ini dibuat dalam rangka melepas dahaga asupan sekaligus berpartisipasi di event Monthly FFA dengan tema "Pengangguran".
Enjoy, I guess.
Papa Gula!?
Sebagai anak manusia yang dikenal berdarah panas dan lebih banyak bertingkah tanpa berpikir dulu, Kiba punya banyak penyesalan hidup.
Salah satu contoh nyata: pernah menjahili pacar pertama Kak Hana sampai yang bersangkutan trauma dan memilih putus dengan kakaknya. Katanya sih tidak mau punya calon adik ipar spesies anak setan. Kiba tidak ingat apa saja alasan mereka putus. Satu hal yang Kiba yakini seratus persen: status jomlo dari lahirnya ini adalah hasil karma kejadian itu.
Tentu saja, Kiba merasa sangat menyesal. Biar bagaimanapun, dia masih manusia normal yang tidak mau kisah cintanya mengenaskan.
Kini, bertambah lagi satu penyesalan hidup Kiba. Menerima undangan nongkrong bersama teman-teman satu sirkel semasa SMA.
Jangan salah sangka. Berbeda tempat menempuh jenjang kuliah tak menjadi halangan pertemanan agar terus terjalin. Jika libur kuliah, mereka cukup sering janjian ngopi di Warkop Pakde Teuchi. Melepas status mahasiswa beda universitas juga tidak menghentikan pertemanan ini. Tentunya dia bahagia bisa bercengkrama langsung dengan kawan-kawannya.
Tapi, man! Panas hati rasanya mendengar mereka menceritakan perkembangan masing-masing. Terutama soal pekerjaan. Mereka tidak menyombong, tapi tetap saja Kiba gatal ingin cari ribut.
Masalahnya, di antara dua belas manusia, yang masih menganggur cuma tersisa dua biji saja. Salah satunya adalah Kiba.
"Lu gimana, Kib? Udah ada interview lagi?" tanya saudara sepengangguran Kiba sekaligus partner bolosnya di masa SMA dulu, Naruto namanya.
Mendengar pertanyaan itu, Kiba mengerang panjang. Dia sudah jengah mendengar pertanyaan yang sama dari ibunya.
"Belum. Yang ngasih jawaban masuk waiting list aja ujungnya ngirim e-mail bilang maaf, Anda bukan yang kami cari dan sebagainya," jawab Kiba agak menggerutu.
Lebih baik ditolak cewek berkali-kali daripada ditolak perusahan, coy. Sakitnya lebih mendalam.
Setidaknya, kalau ditolak cewek, Ibu hanya akan sedikit menertawakan Kiba. Lalu, menepuk kepalanya dan berusaha menghibur kalau jodoh tidak akan ke mana-mana. Ditolak perusahaan sih Ibu-nya malah ceramah sepanjang jalan kenangan. Segala hal diungkit. Kuliah yang kurang serius lah, kurang cari kegiatan berguna, kurang mengabdi pada masyarakat lah, sampai ulah Kiba suka maling mangga sewaktu masih SD saja ikut dibawa-bawa.
Argumen yang terakhir itu sangat tidak valid. Kiba maling mangga bersama Chouji dan Shikamaru. Buktinya Chouji aman damai mengatur cabang restoran keluarga dan Shikamaru sudah tergabung firma hukum terkemuka di kota mereka.
Sungguh tidak adil. Padahal dari satu sirkel, anak yang paling pemalas itu Shikamaru. Dia cuma dapat kode cheat, dilahirkan dengan otak jenius. Yah, lihat saja bapak dan ibunya. Kiba mah apa atuh.
Anu, bukan bermaksud menghina Ibu sendiri. Kiba sangat tahu Nyonya Inuzuka bisa jadi dokter hewan terkenal bukan hasil keajaiban atau pesugihan. Kliniknya juga bisa berdiri lebih dari dua dekade karena perencanaan dan manajemen yang baik. Tapi, ya, kalau sang Ibu sepintar itu ... seharusnya dia bisa paham kalau Kiba dan Shikamaru itu tidak bisa dibandingkan.
Shikamaru, coy! Yang benar saja!
"Lu sendiri gimana, Nar?" Kiba bertanya balik. Sungguh, keberadaan Naruto adalah sebuah anugerah. Ibunya akan lebih mengerikan kalau di sirkel pertemanan ini hanya Kiba saja yang menganggur.
Naruto mengangkat bahu. "Belum ada yang cocok."
Kiba mengernyit. Bukankah penyebutan jawabannya agak aneh? "Gak ada perusahaan yang nyaut?"
Kiba yakin betul portofolio mereka tidak jauh berbeda. Mereka sama-sama anak manusia yang agak alergi belajar. Lebih nyaman langsung bekerja praktek di lapangan. Masalahnya, tak semua dosen bisa memaklumi hal ini.
Nilai mereka tidak buruk. Tak bisa dibilang bagus juga. Namun, mengingat berapa banyak lulusan sarjana dibandingkan dengan lapangan pekerjaan yang tersedia ... wajar kan, kalau Kiba sulit mendapatkan pekerjaan?
"Ada, kok. Cuma gak ada yang cocok tawaran kontraknya," tukas Naruto sambil cengengesan.
Kiba menganga. "Nar, lulusan kaya kita-kita ini tidak boleh pilih-pilih pekerjaan. Kau mau menganggur seumur hidup!?"
Sikap Naruto yang terlalu optimis dan santai menghadapi segala hal kadang membuat Kiba mencemaskannya. Kiba, sekalipun menganggur, setidaknya bisa bertahan hidup jadi beban ibunya. Dia cuma butuh modal pura-pura tuli. Naruto yang sebatang kara dari kecil ini, siapa yang akan menanggung?
Kiba ingat jelas, menjelang kelulusan, Naruto hampir saja tidak melanjutkan kuliah. Bilangnya mau langsung kerja biar dapat uang. Sudah lulus kuliah begini, kenapa malah santai-santai?
"Bukan dia yang pilih-pilih." Sasuke menyela sebelum Naruto sempat menanggapi teguran Kiba. "Papa gulanya. Si Naru ini nurut banget emang."
Naruto melempar es batu dari minuman Kiba. Ekspresi wajah pemuda pirang itu tampak jengkel. "Bukannya nurut banget! Aku gak enak aja! Aku bisa kuliah pun kan berkat uang dia! Lagian komentar dan kritiknya masuk akal semua, gak bisa kusangkal!"
"Bukan gak bisa, gak keotakan aja. Lu kan gampang dibegoin."
"SASUMPRET! GELUT SINI!"
Sementara dua jelmaan Tom and Jerry SMA Konoha itu saling menjambak rambut, Kiba terpekur. Matanya membola perlahan. Lambat menyerap informasi yang baru saja telinganya dengar.
"Naruto punya Papa Gula!? WTF? SEJAK KAPAN ANJIR!?" pekiknya, begitu yakin kalau dia tidak salah dengar.
Beberapa alis terangkat secara bersamaan. Banyak wajah-wajah yang menatap Kiba seolah dia ini manusia paling tolol di dunia. Kurang ajar! Sudah jelas posisi itu diisi oleh Naruto di sirkel mereka!
"Serius lu nanya gitu?" Neji menanggapi kalem. Bibirnya menyunggingkan seringai kecil. "Pikir aja gimana si Naru bisa kuliah di univ yang sama denganku. Biaya semesterannya termasuk mahal, tahu."
Bukan termasuk mahal lagi. Neji adalah tuan muda dari keluarga old money. Kiba yakin seisi universitasnya dihuni oleh anak-anak dengan latar belakang yang tidak jauh berbeda. Walau bukan konglomerat, setidaknya gaji orangtua mereka mencapai dua atau tiga digit.
"Aku kira ada yang bayarin? Guru Iruka, misal? Kan udah kaya ke anak sendiri!"
"Iruka termasuk guru muda, Kib. Mana mungkin gajinya cukup."
Iya juga.
"Cok, siapa yang cukup goblok jadiin lu Bayi Gula!?" Kiba merasa dikhianati. Pantas saja lebih dari setahun menganggur sepertinya, Naruto santai-santai saja. Tak ada terlihat stres atau apalah itu.
Lalu, Kiba menganga, masih sulit percaya. "Jadi Naruto punya Papa Gula dari lulus SMA? Bukannya awal masuk kuliah masih rutin minta bansos ke grup chat kita?"
Naruto menggeram. Dia menendang kaki Kiba dari kolong meja. "Ya maap! Waktu itu masih denial dan gak enak buat minta ke orangnya. Waktu dia bilang mau biayain kuliah, aku tidak tahu kalau itu termasuk uang saku. Dan aku takut diminta aneh-aneh anjir kalau minta lebih!"
Itu sama sekali tidak menjawab ratusan pertanyaan yang memenuhi kepala Kiba. Malah menambahkan pertanyaan-pertanyaan lain.
Kiba bukan manusia kolot yang akan men-judge seseorang atas hubungan pergulaan atau seksualitas mereka. Namun, bukankah memang identik dengan ... begituan? "Gak pernah diminta aneh-aneh, emang?" tanya Kiba, sangsi.
Naruto mingkem dengan wajah merona.
Bleh! Kiba tidak mau tahu urusan kawannya yang itu!
"Jangan dijawab! Lupain gua pernah nanya gitu!" Kiba bergidik.
Diberi jalan keluar, Naruto malah melanjutkan topik tidak diundang ini. "Awalnya gak gitu, kok!"
Yang lain ikut mengerang mendengarnya. Mood sekali. Kiba setuju dengan seisi forum sirkel. Semasa SMA mungkin mereka pernah berbagi link video nganu, tapi itu tidak membuat mereka kepo atas urusan kasur masing-masing.
Terkecuali Sasuke. Dia memang selalu terdepan dalam mencari ribut dengan Naruto.
"Sebutan Papa Gula awalnya cuma candaan. Orangnya ini mantan murid Ayah Naruto. Dulu juga Naruto sering dititipkan pada yang bersangkutan. You know, dia nawarin bayar kuliah si idiot dan tinggal di apartemennya sebagai kerabat jauh. Apa tuh katamu, Nar? Awalnya kau iseng flirt, ternyata di-flirt balik. Tahu-tahu suatu hari bangun udah satu kasur ya."
Seharusnya Kiba diam di rumah dan kelonan sama Akamaru saja.
.
Tunggu. Apakah ini artinya hanya Kiba yang pengangguran tulen di sini!? Kenapa dunia ini sangat tidak adil!?
Tamat
