Summary: "Solar, genderbend itu apa? Memangnya boleh, ya?" tanya Duri, bimbang. Si bungsu yang tengah memainkan tabletnya langsung menghela napas. [No pairings]
.
.
BoBoiBoy belongs to Animonsta Studios
I gain no material profit from this work
.
.
.
Smokescreen
.
.
.
Sore usai ashar cuaca agak teduh dari biasanya, angin sejuk mengembusi pepohonan dan menggiring pergi hawa panas. Jalan mulai agak ramai dengan anak-anak yang bermain selepas mengaji, orang-orang pun tampak keluar rumah menyelesaikan urusan mereka yang tertunda cuaca panas tadi siang.
Tak terkecuali pula dua orang bersaudara yang sedang duduk di pekarangan rumah yang rimbun dengan bermacam tanaman. Sebuah meja kecil dengan kopi decaf dan teh susu memisahkan mereka, seorang tengah memainkan ponsel dan yang lainnya sedang membaca buku elektronik di tabletnya.
Suasananya bisu, hanya ada suara gumam kecil sesekali—hingga tiba-tiba Duri, sang kakak, memecah kesunyian.
"Solar, genderbend itu apa?" tanya Duri, bimbang.
Solar menaruh cangkir kopinya perlahan. Matanya menatap Duri dengan penuh selidik.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Aku lihat ada teman yang memosting karakter berjenis kelamin berbeda dengan aslinya, terus ada hashtag genderbend," jelas Duri. "Memangnya, apa artinya?"
"Genderbend itu merubah jenis kelamin menjadi kebalikannya," kata Solar. "Ini sama saja dengan transgender, tapi beda kata."
"Hah?"
"Iya, dan transgender itu masuk LGBT kan? Singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender."
"Tunggu, kalau begitu, genderbend itu sama saja dengan … "
"Yep," sahut Solar. "Genderbend sama saja dengan LGBT, tapi memakai kedok lain. Orang zaman kini memakai istilah berbeda untuk membingungkan orang lain, padahal maksud dan tujuannya sama saja. Singkatnya, dengan istilah baru ini, agenda LGBT bisa menyusup sedikit demi sedikit demi menormalisasi hal buruk, tetapi karena takut ditolak, makanya menciptakan istilah berbeda."
Duri tampak terkejut, ia menatap layar ponselnya sesaat dan kemudian mengangkat wajahnya lagi. Matanya penuh tanya.
"Tapi, berbeda rasanya …"
"Biar aku jelaskan," ujar Solar seraya menegakkan punggungnya. "Genderbend itu ilusi mata. Contoh kasusnya, canon atau cerita aslinya 'melahirkan' si karakter menjadi lelaki, tetapi dirubah oleh fans menjadi perempuan—masalahnya adalah, fans lain sudah terbiasa melihat si karakter menjadi lelaki, lalu tiba-tiba mereka melihat dia berubah jenis kelamin. Hal ini dalam jangka panjang bisa membuat orang terbiasa melihat lelaki bertingkah dan berpenampilan seperti perempuan."
Duri termenung mendengarnya, pikirannya agak berputar karena perspektif baru tersebut. Siapa yang sangka hal yang terasa kecil ternyata menyiratkan hal yang jauh lebih rumit?
Solar berdehem kecil, ia menambahkan.
"Belum lagi ada yang sengaja menggambar atau menulis tokoh lelaki memakai baju perempuan, atau sebaliknya, disebut crossdress. Ini buruk sekali dan masuk ke agenda LGBT juga, memainkan ideologi gender seolah itu hal lucu dan menyenangkan—padahal dampaknya bisa membuat orang tak sensitif lagi dengan perilaku kaum Nabi Luth."
Duri bergidik, wajahnya agak memutih.
"Seramnya," komentar Duri. "Aku jadi penasaran. Sebenarnya, kenapa ada genderbend?"
Solar melempar senyum miring, ia membenarkan letak kacamatanya.
"Mereka membuat genderbend karena ingin mencari kesenangan saja, sebagian lain karena ingin dipasangkan oleh karakter lelaki juga. Akibat takut menjadi pasangan yaoi atau gay, makanya salah satu karakter dirubah menjadi perempuan—padahal sebenarnya itu tetap yaoi karena fans sudah terbiasa melihat kedua karakter sebagai lelaki di canonnya. Tak wajar rasanya, sudah ada karakter perempuan, kenapa harus merubah yang lelaki?"
Duri memiringkan kepalanya, ia tampak berpikir.
"Mungkin karena kurang cocok?"
"Terus karena kurang cocok, jadi alasan menciptakan dosa lain yang lebih besar?" retorik Solar. "Sebenarnya author dan artist yang suka genderbend ini sudah selangkah menjadi fujoshi atau menyukai yaoi. Setan menggoda perlahan-lahan, awalnya genderbend, lama-kelamaan jadi ingin mencoba memasangkan sesama jenis, lama-kelamaan menjadi pendukung LGBT sungguhan, fujoshi, atau fudanshi."
Duri menepukkan tangannya, tanda ia sampai pada kesimpulan baru.
"Jadi, si author atau artist yang membuat genderbend itu, mereka sebenarnya menyebar agenda LGBT dan melumrahkan pasangan yaoi, walau tidak sadar?"
"Iya," jawab Solar, singkat. Ia meminum kopinya seteguk, sementara Duri menggaruk kepalanya.
"Tapi, rasanya berbeda … " gumam Duri.
"Nah, menjalankan agama itu tidak pakai 'rasa-rasanya', tapi memakai syariat dan logika. Kalau pakai 'rasa-rasanya', ya jadi sesat dan menafsirkan seenaknya. Gampang ikut perkara buruk karena ia pikir tak masalah. Di sinilah pentingnya menuntut ilmu agama dan berguru."
Duri mengusap dagunya, wajahnya yang biasa penuh canda dan jenaka tampak serius. Jarang sekali Solar melihat sisi Duri yang begini, kecuali pada saat tertentu saja. Teh susu kesukaannya tampak tak tersentuh karena sibuknya ia dengan diskusi ini.
"Kalau dipikir lagi, memang aneh ya genderbend itu. Sudah ada alternatif hiburan lain yang halal, kenapa memilih yang seperti itu? Apa karena sudah bosan?"
"Ah, itu, lah. Orang yang sudah terlalu banyak menikmati hiburan dan terlalu banyak berangan-angan, pasti akan mencari hiburan yang haram."
Duri mengangguk kecil. Ia lalu memiringkan kepalanya.
"Di zaman Rasulullah mesti ada kan orang bertingkah tidak sesuai jenis kelaminnya?"
"Iya, di setiap zaman mesti ada yang memiliki gangguan begini," ujar Solar. "Hadistnya riwayat Ibnu Abbas, dia berkata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang bergaya wanita dan wanita yang bergaya laki-laki, dan beliau memerintahkan, 'Keluarkan mereka dari rumah-rumah kamu'. Ibnu Abbas berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengeluarkan si Fulan, Umar telah mengeluarkan Si Fulan. Ini hadist riwayat Al-Bukhari, no. 5886, Abu Dawud, no. 4930 dan Tirmidzi, no. 2992."
"Mereka diusir dari rumah?" tanya Duri, terkejut. Solar mengangguk.
"Ya, karena orang-orang tipe begini akan mendatangkan kemungkaran demi kemungkaran, bahkan mempengaruhi orang lain juga," jelas Solar. "Tapi biar aku perjelas, menurut kitab Fathul Bari, zhahir lafadz hadits ini adalah larangan keras terhadap perbuatan at-tasyabuh (laki-laki menyerupai wanita, atau sebaliknya) dalam segala hal. Yang dimaksud adalah larangan dalam hal pakaian, sifat, gerakan, dan semisalnya, bukan tasyabuh (menyerupai) dalam perbuatan kebaikan, ya."
"Tapi, apa gak berlebihan sampai diusir?" tanya Duri. Solar menghela napas.
"Kita berhak melindungi diri dan keluarga kita dari pengaruh buruk. Lagipula, itu keputusan mereka berbuat macam begitu, sudah tahu dosa tapi masih dikerjakan. Waktu dapat konsekuensi dari perbuatan jeleknya, lantas merasa paling jadi korban. Lalu bagaimana dengan orang lain yang teracuni mentalnya gara-gara dia? Mereka lebih korban juga. Berhentilah merasa kasihan pada orang bersalah yang ngotot mempertahankan kesalahannya. Kamu berbuat maksiat maka harus siap dengan konsekuensinya."
Duri mengigit bibirnya dengan ragu. Benar juga, tetapi ia sulit merasa semarah Solar dalam hal ini. Mungkin karena ia kurang beriman, kurang memahami atau terlalu asyik pada dunianya hingga ia kurang peduli pada dampak sosial LGBT di sekelilingnya.
Solar meneguk habis kopi decafnya, ia lalu bersua.
"Ada pengecualian ya untuk operasi jenis kelamin karena memang kelainan sejak lahir, misalnya kelamin ganda. Beda kasus kalau dia terlahir berkelamin normal, tetapi karena faktor paparan lingkungan ia bertingkah dan berpenampilan tak sesuai dengan kodratnya."
"Oh, jadi begitu! Aku paham, aku paham," komentar Duri. Solar mengedikkan bahu, ia melipat tangannya di dada.
"Kembali ke karya genderbend tadi, nah kamu paham kan betapa kerasnya larangan transgender dalam Islam? Genderbend itu cara media menyebar paham transgender dan orang yang memosting beginian hanya akan memanen dosa jariyah, yaitu dosa tak putus-putus karena ikut andil dalam tolong-menolong dalam kejahatan."
"Terus, kalau sudah terlanjur membuat karya genderbend, apa yang harus dilakukan?" tanya Duri.
"Hapus semua karya genderbendnya, bertaubat, dan seru orang lain untuk menjauhi maksiat ini. Dia harus klarifikasi dosanya sudah berpartisipasi dalam kampanye LGBT, dia harus memberitahu orang lain soal bahayanya genderbend ini."
"Ooh, tapi mesti berat dilakukan karena sudah banyak yang komentarin karyanya, menyukai karyanya, atau dan sudah bersusah-payah membuatnya," ucap Duri, simpatik.
"Orang yang mendukung dan menyukai kita saat kita membuat karya maksiat adalah serigala berbulu domba. Mereka akan terus bermulut manis selama kamu menghiburnya, tapi akan berlidah tajam saat kamu tak menghiburnya lagi. Mereka ini bukan temanmu, tapi mereka sedang memuaskan nafsu mereka sendiri dan kebetulan kamu memosting hal yang sesuai dengan nafsu mereka, jadi mereka berteman denganmu. Jauhi mereka, maka Allah akan mengganti mereka dengan orang yang lebih baik."
Duri bergumam kecil, mengiyakan. Ia menganggukkan kepalanya.
"Aku paham. Aku akan bagikan soal genderbend dan LGBT ini ke orang lain. Walau mereka bakalan mencibir, tapi, kewajiban kita memberitahu sudah gugur, kan? Sisanya keputusan mereka mau menerima atau tidak."
"Betul. Kita tak memaksa siapapun, hanya memberitahu mana yang benar dan salah. Tak ada paksaan. Mana ada aku mengancam menembak orang dengan Tembakan Gerhana Berganda kalau tak ikut nasihat aku?" retorik Solar, membuat Duri tersenyum lebar.
"Hehe, benar juga. Allah tidak membebani seseorang atas keputusan orang lain, tiap orang berakal memiliki kewajiban untuk berpikir matang. Ya kan?"
"Mmhm," gumam Solar, mengiyakan. Saat itu juga, Gempa, si kakak nomor tiga, muncul dari pintu belakang dan berjalan menghampiri mereka berdua.
"Asyik benar berbincangnya," sapa Gempa, mengejutkan kedua adiknya. Duri dan Solar menoleh, mereka melihar sang kakak membawa satu kantong plastik kecil dan menaruhnya di meja.
"Kak Hali, Kak Upan, dan aku beli buah tadi. Ada jeruk santang," ujar Gempa. Sontak Duri membuka plastiknya dengan bersemangat dan mengambil satu, sementara Gempa menoleh ke arah Solar.
"Kalian bercerita tentang apa, tadi?"
"Duri tanya soal genderbend," jawab Solar. Gempa mengangkat alisnya.
"Ah."
"Yep," tanggap Solar. Gempa mengangguk paham.
"Aku teringat soal ayat Al-A'raf ayat 178 mengenai Allah memberikan petunjuk bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki."
"Kenapa Allah menyesatkan manusia?" tanya Solar, matanya membola.
"Allah bukan benar-benar menyesatkan manusia, maksudnya dibiarkan-Nya dalam kesesatan. Ini karena waktu diberi petunjuk, mereka malah menolak dan diabaikan. Diberi lagi teguran dan petunjuk, dia tetap keras kepala dalam kesesatan. Sudah Allah beri petunjuk berkali-kali, dia malah menjadi-jadi … akhirnya Allah biarkan saja dia dalam kesesatan sampai ajal. Inilah definisi dari 'disesatkan Allah'," jelas Gempa.
"Hmm," imbuh Solar, mengerti.
Percakapan beralih pada topik yang lebih ringan, sementara kerut senja mulai menggelap dengan serat-serat jingga. Embusan angin dingin tanda matahari mulai pergi, syahdu azan bersiap berkumandang. Rotasi yang selama milyaran tahun terus terjadi, dan akan terus begitu sampai waktu Sang Pencipta memerintahkannya berhenti.
Usai itu, tak ada gunanya lagi nasihat dan maaf.
.
.
.
" Kalimat yang paling Allah benci, seseorang menasehati temannya, 'Bertaqwalah kepada Allah', namun dia menjawab: 'Urus saja dirimu sendiri."
(HR. Baihaqi dalam Syu'abul Iman, HR. an-Nasai dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah dan dishahihkan al-Albani dalam as-Shahihah).
.
.
Fin.
