Panas begitu menyengat. Uraraka Ochako, wanita berusia 28 tahun itu, kini berjalan terburu-buru memasuki area stasiun. Jika bukan karena masa cutinya yang singkat, tentu ia tidak akan terburu-buru memesan tiket pulang ke Tokyo dan berangkat siang ini juga. Ochako mendengar ayahnya tengah sakit. Sebagai putri satu-satunya tentu ia sangat khawatir dan memutuskan untuk pulang ke kampung halaman dan meninggalkan tanggung jawabnya sebagai hero sejenak.

Ochako memutuskan menggunakan transportasi kereta shinkansen karena menurutnya praktis, cepat, dan nyaman. Durasi tempuh hanya berkisar 3 jam dan selama itu Ochako hanya ingin waktunya dihabiskan untuk tidur.

Waktu menunjukkan kurang dari 10 menit shinkansen akan meninggalkan stasiun. Ochako tergesa-gesa melalukan boarding dan segera mencari keretanya. Setelah menemukannya ia pun masuk dan mendapati hampir seluruh kursi di kereta yang ditempatinya kosong. Ia pun langsung duduk di kursi yang telah ditentukan. Melepas jaket, membuka ransel, dan mengambil ponselnya. Ochako mengirim pesan kepada seseorang dan lalu menaruh ponselnya kembali di ransel.

Ochako menengok ke luar jendela di sampingnya. Banyak orang yang berlalu lalang. Sebagian mulai memasuki shinkansen yang dinaiki wanita berambut cokelat tergerai panjang itu.

Ochako memijit pelan pelipisnya. Rasa pusing sejak tadi menderanya. Ia terus memikirkan kondisi sang ayah. Walau keadaannya sudah mulai membaik, Ochako berharap masih bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan pria tua itu.

Ochako, ayah sudah sehat kembali. Kau tidak perlu khawatir dan kembalilah ke Tokyo! Orang-orang membutuhkanmu. Kalau ayah dan ibu ada waktu, kami akan mengunjungimu.

Begitulah pesan sang ayah.

Ochako menghela napas. Pandangannya kini beralih ke tulisan "Osaka" yang terpampang besar di tengah stasiun. Ia dapat melihatnya dengan sangat jelas dari jendela. Tertulis dalam huruf alfabet. Mungkin agar para turis dapat membacanya juga.

Ochako tersenyum miris. Mendengar kata "Osaka" selalu sukses mengingatkannya pada dua hal penting dalam hidup Uraraka Ochako.

Orangtuanya dan...

Laki-laki itu.

Kedua mata Ochako memerah.

Teringat sedikit saja membuat hatinya terasa perih. Bagaimana mungkin seseorang yang telah melukainya enam tahun lalu bahkan masih bisa menyakiti hatinya hingga saat ini?

Ochako selalu merenungkannya selama ini. Bahwa hidup tidak akan selalu berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Sekeras apapun dirinya berusaha dan sesering apapun ia berharap, masa lalu tidak akan pernah bisa berubah. Penyesalan tidak akan pernah datang di awal. Dan laki-laki itu tidak akan pernah hadir mencintainya lagi.

Memikirkannya membuat Ochako sakit. Jantungnya mulai berdegup cepat. Ritme napasnya tidak teratur. Dadanya kini sesak.

Ia pun segera mengambil obat yang selalu ada di dompetnya dan menelan langsung dua kapsul. Tak berapa lama semua mulai membaik.

Ochako berusaha menepis setiap memori yang tersisa tentang laki-laki itu.

Ia melihat ponselnya sebentar, lalu kembali menaruhnya di dalam ransel. Hatinya mulai tenang.

Waktu menunjukan bahwa dalam satu menit, shinkansen akan berangkat. Kursi-kursi di kereta yang ditempati Ochako beberapa sudah mulai terisi. Ia memilih untuk bersender nyaman pada ujung kursi dan bermaksud untuk tidur sampai dirinya tiba di Tokyo.

Tidak lama kemudian seorang pria mendatangi kursi di sebelah Ochako, lalu menaruh ranselnya di bagasi sebelah atas kursinya. Pria itu mengenakan topi hitam dan masker berwarna sama. Ia kemudian duduk di sebelah Ochako dan menengok ke arah wanita di sebelahnya. Sadar ada yang duduk di sebelahnya, Ochako pun bangun dan mendapati sang pria tengah menatapnya sendu.

Kini Ochako rasakan kembali jantungnya berdegup cepat.

Di mesin berjalan sekian banyak ribuan orang yang bisa saja harus kau yang menempati kursi kosong di sampingku?

Kucoba , itu bukan dia!Hanya saja wajah itu..Membuatku yakin jika ini semua yang kutemui adalah kau.

Air matanya menetes tanpa sengaja.

"Oh. Uraraka, ternyata."

Ochako segera tersadar dan menghapus air matanya.

"Ba-bakugou-kun? Kau... kenapa disini?"

Ochako mendapati ucapannya sendiri terbata-bata. Ia merasa konyol. Sangat bodoh!

"Memang tidak boleh? Kalau tahu di sampingku kau, aku akan memilih kursi yang lain," jawabnya ketus. Pria bernama lengkap Bakugou Katsuki itu mengalihkan wajahnya ke arah lain dengan kesal.

Ochako refleks tertawa kecil mendengar itu. Dengan mata yang sembap, ia mematrikan sebuah senyuman.

"Apa kau sehat? Kau tidak berubah, ya!"


Shinkansen mulai bergerak meninggalkan Stasiun Osaka.

Ochako menoleh kembali ke sebelahnya. Memperhatikan wajah pria di sampingnya yang tengah memejamkan mata. Terlihat dari kacamata bening yang dikenakannya.

Aku baru saja memikirkanmu, dan kini kau datang dan duduk di sampingku? Apa Tuhan sedang mempermainkanku?

Katsuki berdecak kesal. "Sialan! Jangan menatapku seperti itu, dasar wanita mengerikan!"

Ochako kesal mendengarnya. "Apa kau bilang?! Kau sendiri yang menyebalkan. Sudah lama tidak bertemu dan kau mengataiku!"

Katsuki kesal. "Lalu kau mau aku menanyakan kabarmu, begitu?! Membosankan!"

Ochako menghela napas berat. Mengalihkan pandangannya ke arah jendela. "Bodoh! Mungkin memang itu yang kubutuhkan," ucapnya sendu.

Katsuki mendengus pelan.

Pemandangan kota tak lama tergantikan dengan pemandangan hijau hutan dan pegunungan. Kereta menjadi sedikit lebih riuh oleh suara canda anak-anak dan prama-prami kereta yang menawarkan minuman dingin dan makanan ringan. Namun semua itu masih tidak cukup untuk menenangkan hati Ochako, begitupun Katsuki. Sesaat hanya keheningan yang menyertai perjalanan mereka.

Ochako menoleh ke arah Katsuki. Tampak wajah tampan yang selalu dirindukannya. Mungkin orang lain akan menilai wajah seorang Bakugou Katsuki selalu menyeramkan, bahkan ketika dirinya sedang tidur. Namun hanya Ochako yang tahu bahwa itu tidak benar. Mungkin hanya dirinya yang tahu fakta bahwa ketampanan Katsuki yang sesungguhnya hanya bisa terlihat ketika ia tidur.


Flashback

Ochako terbangun dan membuka matanya perlahan. Terusik dengan cahaya matahari yang menyelip masuk dari tirai jendela kamarnya. Ia rasakan sebuah lengan memeluk pinggangnya. Di depannya seorang pemuda berambut pirang yang tengah tertidur tengah mendengkur halus. Napas sang pemuda terdengar berat. Ochako tahu sang hero Ground Zero sangat kelelahan, karena ia baru pulang jam 2 tadi malam.

Ochako tersenyum. Wajah Katsuki terlihat sangat innocent saat tidur, berbeda dengan kesehariannya yang selalu marah dan kesal. Ochako mungkin adalah wanita satu-satunya yang bisa melihat pemandangan ini. Jari lentik Ochako tergoda untuk membelai lembut wajah Katsuki. Berusaha menikmati lekuk paras tampan yang ada di hadapannya.

Sang pemuda perlahan terbangun. Tersenyum mendapati Ochako dan sentuhan lembutnya.

"Apa aku membangunkanmu?"

Ochako sedikit merasa bersalah akibat ulahnya.

Katsuki tersenyum.

"Tidak. Aku justru sangat menikmatinya. Aku harap kau selalu menjadi orang pertama yang kulihat saat aku bangun tidur, Ochako."

Flashback end.


"Uraraka.."

Air mata mengalir begitu saja dari mata indah Ochako.

"Kau baik-baik saja?

Ochako tersadar dari lamunannya. Hatinya perih menatap pria yang saat ini tengah memandangnya khawatir. Ia tersenyum.

"Hm. Aku baik-baik saja. Maaf aku melamun," ucapnya sembari mengusap air mata di pipinya.

Katsuki hanya mendengus.

Ochako lalu teringat sesuatu. Satu hal yang sudah sejak lama ingin ia ketahui. Namun, apakah tidak apa-apa jika ia mengutarakannya?

Shinkansen memasuki terowongan gelap.

"Hei Muka Bulat! Apa yang kau lakukan di Osaka? Bukannya kau tinggal di Tokyo?" Katsuki memecah keheningan.

"Aku menjenguk ayahku yang sedang sakit. Kau tahu kan, kalau aku berasal dari Osaka?"

"Ya, aku tahu." Tentu saja aku tahu. Bagaimana mungkin aku tak mengetahuinya?

"Osaka juga membuatku rindu. Rindu akan banyak hal yang pernah terjadi. Aku sampai menyempatkan waktu untuk mengunjungi beberapa tempat yang kuanggap punya banyak kenangan di masa lalu. Kenangan yang indah maupun kenangan buruk."

"Tch. Kau sedang curhat? Aku tidak peduli."

Ochako tersenyum hambar dan menggelengkan kepala.

"Bagaimana hubunganmu dengan Melissa-san?"

Masihkah pantas aku menanyakannya?Hatiku sakit, remuk tak kata ingin kuucapkan, memanggil namamu dengan pita suaraku tersayat oleh fakta yang selalu kuhindari,Oleh sayatan lama yang dulu hilang dan kini kembali.

"Aku sudah lama berpisah dengannya," jawab enteng pria berumur 28 tahun itu.

Ochako terdiam. Semua bayangan tentang Katsuki yang hidup bahagia dengan Melissa Shield sirna dari pikirannya.

"Kenapa begitu?! Bukannya kalian sudah merencanakan pernikahan kalian?" tanya Ochako tak sabar.

"Memang, tapi kurasa ini bukan urusanmu!"

"Bakugou-kun!"

Jangan bercanda! Padahal selama ini aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Selama ini aku selalu membayangkan kau hidup bahagia bersama Melissa!

"Bukan urusanmu, sialan!"

Rasa sesak kembali menyelimuti dadanya. Ochako tahu ini bukan karena penyakit asmanya. Tapi ini menyakitkan jauh di lubuk hatinya.

Ochako mengerti bahwa ini bukan lagi haknya, bukan lagi saatnya. Namun ada satu hal yang tidak dimengerti Katsuki. Satu hal yang Ochako ingin pria itu tahu.

"Aku masih mencintaimu, Katsuki."

Sesaat dunia berhenti berputar bagi keduanya.

"Apa maksudmu?"

"Sampai saat ini, aku masih berharap kita bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki segalanya."

Ochako terisak pelan. Wanita itu kemudian menghapus air mata di wajahnya.

"Jika dulu aku menyadari perasaanku lebih cepat, mungkin sekarang kita akan bersama."

Air mata kembali mengalir di wajah cantik itu. Perasaan yang sudah enam tahun ini ia pendam, akhirnya tersampaikan.

Katsuki terdiam. Rasanya batu-batu besar yang pernah ingin dijatuhkan Uraraka Ochako kepadanya 13 tahun yang lalu menimbunnya sekarang.

"Uraraka, kau membuatku muak."

Pria itupun beranjak pergi meninggalkan Ochako.


"SIAL, SIAL, SIAL!" Katsuki berteriak tertahan di toilet. Ia melepas topi dan kacamatanya, lalu menatap nanar sosok pantulan dirinya di cermin.

Memang, tak dipungkiri hatinya bahwa ia juga masih memendam perasaan yang sama kepada Uraraka Ochako. Bahkan semakin hari kian dalam. Setelah semua yang terjadi enam tahun ini, sosok wanita itu tidak pernah tergantikan oleh siapapun. Pertahanannya selama enam tahun ini telah runtuh. Usaha kerasnya untuk menutup lubang di hatinya sia-sia. Jangan bercanda!

Apa Tuhan sedang mempermainkanku?