Flashback (8 Tahun Lalu)
Dua tahun setelah lulus dari SMA Yuuei, para Siswa Kelas 3-A mengadakan acara reuni di sebuah kafe yang telah disewa khusus oleh Yaoyorozu Momo. Malam itu sangatlah spesial. Mereka tidak hanya reuni, namun juga sekaligus merayakan pernikahan dua anggota kelas 3-A, Kaminari Denki dan Jiro Kyoka, yang resepsinya sendiri telah dilangsungkan satu minggu sebelumnya.
Ini tentunya merupakan sebuah kabar yang membahagiakan bagi mereka. Siapa yang akan menyangka kalau dua orang yang selalu terlihat tidak pernah akur justru akhirnya berjodoh di pelaminan. Sedangkan dua orang yang sudah lama diwanti teman-temannya akan segera berpacaran malah tidak ada progres sama sekali. Kedua orang yang dimaksud tentu saja si Penerus All Might, Midoriya Izuku, dan si Gadis Gravitasi, Uraraka Ochako.
Sudah menjadi rahasia umum di Kelas A bahwasanya Ochako menaruh hati kepada murid kesayangan All Might itu sudah sejak lama. Orang paling tidak peka pun akan menyadari perasaan sang gadis dari cara ia menatap Izuku. Namun sayang, sampai detik ini tidak terlihat sedikitpun ada perkembangan diantara mereka. Satupun dari mereka tidak pernah ada yang memulai sesuatu yang seharusnya sejak lama sudah dimulai.
Alasannya klise.
Izuku sangat sibuk dengan ambisinya untuk menjadi Pahlawan Nomor Satu. Sementara Ochako merasa rendah diri dan belum pantas menyatakan cinta kepada pemuda bersurai hijau itu. Keduanya saling menyukai.
Ya. Izuku pun menyukai Ochako selama ini. Namun untuk saat ini ia harus fokus pada pekerjaannya. Bagaimanapun All Might menaruh harapan yang besar padanya dan kesehatannya kian hari semakin menurun. Midoriya Izuku tahu prioritasnya.
Sero berteriak. "Hei, Midoriya! Kau ini sangat tidak peka! Sampai kapan kau ingin menggantungkan perasaan seseorang?"
Muncul semburat merah di wajah putih Ochako. Ia tahu pasti siapa yang Sero maksud. Sementara Izuku menimpali gurauan itu seadanya. Ia sendiri masih belum yakin dengan apa yang dirasakan Uraraka Ochako terhadapnya.
Di sudut ruangan, Katsuki berdecak. Ia sangat tidak suka dengan topik ini. Baginya itu sangat tidak berguna. Terlebih jika yang jadi tokoh utama adalah rivalnya.
"Midoriya, kau itu sangat beruntung! Ada seorang gadis cantik yang selalu setia menunggumu. Karirmu juga terus meningkat dan kepopuleranmu telah mengalahkan hero-hero kelas atas. Menikah di usia 20 tahun seharusnya tidak masalah." Kirishima turut menimpali. Semua orang mengangguk setuju dan bersorak riuh. Para wanita pun turut menggoda Ochako. Mereka tahu betul bagaimana perasaan gadis itu ke Midoriya Izuku.
"Hei Kirishima, menikah sekarang mungkin akan sulit untuk Midoriya. Tapi setidaknya dia harus menyatakan perasaannya dulu ke Uraraka," timpal Kaminari.
Kafe semakin riuh dengan sorakan dukungan dari para anggota kelas 3-A.
"Sudahlah, teman-teman. Kalian membuat Uraraka-san tidak nyaman," kilah Izuku.
Ashido menyenggol bahu Ochako sembari berbisik. "Ne Ochako-chan, bagaimana kalau kau nyatakan saja sekarang?"
Satu minggu setelah reuni.
Hari ini Ochako pulang larut. Menjelang akhir bulan, ada banyak laporan yang harus dikerjakannya. Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam ketika Ochako meninggalkan kantor. Perjalanan dari kantor agensi tempat ia bekerja ke apartemennya membutuhkan waktu 15 menit berjalan kaki dan 20 menit menggunakan kereta. Biasanya ia akan langsung pulang dengan mengejar jadwal tercepat, namun malam ini Ochako putuskan untuk mampir sebentar ke sebuah kedai sake di daerah dekat stasiun. Ia akan pulang dengan kereta tengah malam.
Kedai tampak sepi. Ochako bersyukur karena dengan begitu ia bisa minum dengan tenang. Menikmati malamnya yang sunyi seperti biasa.
Ochako mulai meneguk gelas pertamanya. Ia sangat frustasi. Ada banyak hal yang mengganggunya akhir-akhir ini. Tiga hari yang lalu, tersiar kabar bahwa hero Deku sedang bertugas dengan seorang hero cantik yang merupakan anggota baru di timnya. Tidak hanya itu, sejak acara reuni seminggu yang lalu, Izuku tak pernah lagi membalas pesannya. Ini membuat pikiran Ochako berkecamuk. Selama ini mereka selalu menyempatkan untuk berbalas pesan, namun sekarang gadis itu akhirnya meragukan ucapan teman-temannya yang mengatakan kalau Midoriya Izuku juga menyukainya.
Ochako meneguk gelas keduanya.
Lima tahun sudah ia mencintai Midoriya Izuku. Namun tidak ada perkembangan apapun dalam hubungan mereka. Bagi Ochako, mungkin hanya persahabatan-lah yang mengikat dirinya dengan pemuda tampan itu.
Gelas ketiga.
Mencintai Midoriya Izuku itu menyakitkan. Ochako semakin lelah dengan perasaannya sendiri.
Ochako adalah gadis yang sangat cantik dan berbakat. Di usianya yang ke-20 ini, ia semakin mempesona dan populer. Penguasaan quirk yang handal, reputasi yang bagus, dan pekerjaan yang menjamin. All her life is perfect.
But, one thing she can't solve it yet.
Ada banyak pemuda yang terpikat dengan kecantikan dan keramahan si Gadis Gravitasi. Namun sayang, ia hanya membuka hatinya untuk satu orang saja. Jelas itu adalah Midoriya Izuku, seorang hero tenar yang tengah digadang sebagai Penerus All Might.
Gelas keempat.
Ochako tidak pernah menyalahkan Izuku yang tak pernah menyatakan cinta padanya. Karena di sisi lain ia sendiri tak pernah punya keberanian untuk menyatakan cintanya kepada pemuda itu. Ia terlalu takut perasaannya tak berbalas. Dan ia semakin muak pada ketidakbecusannya sendiri.
Mata Ochako terasa berat. Rasanya sulit untuk menjaga kesadaran. Hingga ia rasakan seseorang datang menghampiri dan duduk di sampingnya. Gadis itu menoleh.
"Hei Nona, apa kau sendirian saja?" tanya sang pria yang diperkirakan berumur sekitar 30 tahunan itu.
Ochako tak membalas, berusaha mengabaikannya. Ia pun melanjutkan meneguk gelas kelimanya. Pikirannya sedang kacau. Alkohol sudah menguasai 80% kesadarannya.
"Kau terlihat sedih, mungkin ada yang bisa kubantu?" tanya pria itu kembali. Ochako mulai risih.
"Oh, aku baru menyadarinya! Bukankah kau Uravity-san?" ucap sang pria sembari menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Ochako.
Pria itu mulai merangkul pinggang Ochako. "Bagaimana jika aku menemanimu malam ini, Uravity-chan?" ucapnya dengan setengah berbisik.
Insting bahaya membuat Ochako sekuat tenaga berusaha bangkit dari duduknya, namun tubuhnya terlalu lemah. Dengan kesadarannya yang semakin menipis, ochako menghempas kasar tangan pria itu.
Sang pria mengeluarkan sebuah pisau kecil dari saku jasnya dan mendekatkannya ke pinggang Ochako. Namun tubuh gadis itu terlalu lemah hingga kemudian pria lain datang dan menarik pria jahat itu menjauh dari Ochako. Pria lainnya itu menghajar dan memukuli si pria jahat tanpa ampun.
Kesadaran Ochako semakin hilang hingga dirinya kemudian ambruk ke meja.
Perlahan mata Ochako terbuka. Samar-samar namun semakin jelas, ia menyadari bahwa dirinya tengah duduk di kursi mobil samping pengemudi.
"Muka Bulat! Hei, bangun!"
Ochako menyentuh pelipisnya. Rasa pusing masih menderanya dan kini seorang pemuda tengah berteriak kasar di sampingnya.
"URARAKA!"
"Bakugou-kun, a-aku.. dimana?"
"Tch. Kau di mobilku, sialan!"
Ochako menoleh kesana kemari. Seatbelt sudah terpasang di tubuhnya. Namun mobil masih terparkir di samping kedai yang didatanginya tadi.
"Apa yang terjadi?"
"Kau gila? Bagaimana mungkin kau lupa? Seseorang baru saja ingin melukaimu, sialan!" Katsuki tampak kesal. Ia tidak habis pikir, bagaimana jadinya jika ia tidak datang?
"Aku...tidak ingat apapun," jawab Ochako lemah.
"Dasar gadis bodoh!"
Ochako menoleh. Ia ingin membalas, namun Katsuki melanjutkan.
"Kau benar-benar bodoh, Muka Bulat! Kau hebat melawan musuh, namun kau tidak berdaya melawan pria mesum itu!"
Ochako terdiam mendengar itu. Ia tidak bisa menyanggah. Ucapan Katsuki memang benar adanya. Sesaat keheningan datang menyelimuti keduanya.
Jam menunjukan pukul 12 malam.
"Tch. Aku jadi harus mengantarkanmu. Dasar kau merepotkan!" keluh Katsuki memecah keheningan.
Mobil dinyalakan.
"Katakan, dimana rumahmu?" Katsuki bertanya.
Ochako mulai menangis. Bukan, bukan karena ucapan kasar Bakugou Katsuki. Sungguh, ia sudah sangat terbiasa dengan hal itu.
Gadis itu hanya sedang menangis karena menyadari betapa lemahnya ia. Air matanya mengalir deras seolah Ochako sudah terlalu lama menahannya. Katsuki putuskan untuk memberi waktu sebentar bagi Ochako dan membiarkannya menumpahkan semua beban hati yang sedang ia rasakan.
Ochako berusaha meredakan tangisnya. Berulang kali menghapus air mata di pipinya. Setelah lebih tenang, gadis itu menoleh ke arah Katsuki sembari berucap dengan tulus.
"Terima kasih, Bakugou-kun. Terima kasih karena sudah menolongku."
Katsuki tak membalas, namun Ochako tersenyum. Gadis itu selalu tahu temannya yang satu ini sebenarnya adalah orang yang baik dan peduli dengan orang-orang di sekitarnya.
Ochako kemudian mengatakan alamat tempat tinggalnya.
Keduanya hanya terdiam selama di perjalanan. Ochako kemudian tertidur, sementara Katsuki sibuk dengan pikirannya sendiri. Namun sesekali pemuda itu juga menoleh ke Ochako untuk memastikan gadis itu nyaman dan tidak terbangun.
Sesampainya di depan apartemen Ochako, Katsuki bermaksud ingin membangunkan gadis itu dari tidurnya. Namun melihat wajah lelah Ochako, membuat Katsuki berubah pikiran. Ia pun menggendong gadis itu di punggungnya dan mengantarnya sampai ke depan unit apartemen Ochako. Tentu saja setelah ia bertanya ke resepsionis dimana unit tempat tinggal gadis itu.
Setelah sampai di depan pintu, Katsuki menanyakan PIN untuk membuka kuncinya Namun Ochako yang masih dalam pengaruh alkohol dan rasa kantuk yang tinggi sempat membuatnya kesal bukan main. Rasanya malam ini Katsuki sudah terlalu banyak menahan amarahnya.
Setelah beberapa menit, keduanya pun berhasil masuk. Katsuki menyalakan lampu di ruang utama. Ia lalu berjalan mendekati sofa yang berada di tengah ruangan, kemudian membaringkan Ochako diatas sofa itu. Gadis itu terlihat sangat lelah. Kantung matanya sangat jelas terlihat.
Kau terlalu memforsir tubuhmu.
Ochako masih terbaring nyaman. Sementara Katsuki mulai memperhatikan unit apartemen Ochako. Terlihat cukup rapi. Pengharum ruangan juga bekerja dengan baik. Namun diatas meja, berserakan koran dan album foto.
Katsuki mengambil beberapa koran itu. Semuanya terbuka dengan menunjukan headline pemberitaan mengenai kedekatan hero Deku dengan hero wanita baru di timnya. Selain itu terdapat pula album foto SMA mereka. Beberapa foto telah dikeluarkan dari albumnya. Mengenai objek di foto, tentu kita bisa menebak siapa.
Perlahan Ochako terbangun. Matanya menangkap silau sinar terang lampu di ruangan itu. Katsuki buru-buru mengembalikan foto dan koran yang tadi dilihatnya kembali ke tempat semula.
"Bakugou-kun?" gumam Ochako pelan.
"Kau sudah bangun? Baguslah! Aku akan pulang," pamit Katsuki. Namun Ochako segera menahan lengannya.
"Bisakah kau tetap disini? Sebentar saja," ucap Ochako.
"Untuk apa? Cepatlah tidur! Kau besok harus kerja, 'kan?"
Ochako menggeleng lemah. "Kumohon... Jangan pergi dulu. Tetaplah disini."
Katsuki menghela napas. Air mata mulai mengalir kembali dari mata indah sang gadis. Dan ia tidak sanggup melihatnya seperti itu.
Katsuki mendudukkan dirinya di bawah sofa, di samping Ochako.
"Baiklah, aku tetap disini."
Ochako lega mendengarnya. Ia pun tersenyum menyiratkan rasa terima kasih yang sulit digambarkan.
Tanpa sadar tangan Katsuki membelai lembut kepala Ochako. Ingin menenangkannya agar dapat kembali tidur dan beristirahat. Katsuki tahu Ochako sangat lelah. Dan mungkin Katsuki tahu siapa penyebabnya.
"Tidurlah.. Aku akan tetap disini." Kalimat itu bagaikan mantra yang menenangkan bagi Ochako.
Air mata masih mengalir deras dari pelupuk matanya. Namun bukan tangis sedih, ia justru senang. Karena kali ini ada seseorang yang menemaninya.
Keheningan sejenak memenuhi keduanya.
Hingga...
"Bakugou-kun, kau pernah merasakan jatuh cinta?"
Katsuki terdiam, berusaha mencerna maksud dari ucapan yang dilontarkan gadis manis itu.
"Aku pernah merasakannya dan itu sakit. Sakit sekali sampai membuatku frustasi." Ochako tertawa kecil setelah mengucapkannya.
Katsuki menghela napas berat. "Hei, tidur saja. Kau lelah."
"Aku benci merasakannya, Bakugou-kun! Aku benci perasaan ini."
Katsuki menghapus air mata di wajah Ochako, berusaha menenangkannya. "Kalau begitu lupakan. Kenapa tidak kau lupakan saja dia?"
Ochako menatap mata merah Katsuki dengan wajah sendu. Tiba-tiba kedua tangannya menarik leher Katsuki dan mendekatkan bibir pemuda itu ke bibirnya.
Katsuki kaget dengan tindakan gadis itu. Namun ketika bibir manis Ochako menyentuh bibirnya, ada desiran aneh yang menyeruak dalam dadanya. Yang akhir-akhir ini memenuhi pikirannya. Yang akhir-akhir ini membuatnya sulit tidur. Dan satu hal yang Katsuki tahu pasti. Ochako adalah penyebabnya.
Katsuki terperdaya dengan kecupan lembut di bibirnya. Membuatnya candu dan terbuai dengan perasaan hangat yang coba gadis itu salurkan.
Ochako mungkin tengah rapuh, ia mungkin hanya setengah sadar sekarang, namun Katsuki tak ingin mengabaikan perasaannya begitu saja.
Katsuki menarik diri dan mengakhiri ciuman singkat itu. Menatap mata Ochako dalam-dalam seolah kebahagiannya tersembunyi dibalik mata indah itu.
"Uraraka, jadilah kekasihku!" ucapnya yakin.
Katsuki akhirnya sampai pada satu kesimpulan. Ia ingin mengikat gadisnya. Membuat Ochako hanya menjadi miliknya.
Ochako tersenyum dan mengangguk. "Baiklah!"
