Beberapa Minggu Sebelumnya.
Ochako baru saja tiba di kantornya ketika beberapa rekan wanitanya sedang berkumpul dan berbincang dengan riang. Ia sedikit penasaran dengan apa yang sedang mereka perbincangkan, namun ada beberapa pekerjaan administrasi yang menunggu untuk sesegera mungkin diselesaikan. Jadi Ochako hanya tersenyum menyapa rekan-rekannya dan kemudian duduk di kursinya tanpa ikut bergabung.
Ah, tapi mereka tidak membiarkannya.
"Nee Ochako-chan. Kau sudah dengar tentang Deku? Kau sahabatnya, kan," ucap salah seorang wanita.
Ochako tergelak pelan mendengar nama Izuku. "Tentang apa, Senpai?"
"Tentu saja tentang gosip kedekatannya dengan Kendo Itsuka."
Ochako mengernyitkan dahi, tak paham dengan maksudnya. Jujur ia baru mendengar hal ini hari ini.
"Deku kabarnya sering bolak-balik bertugas dengan Kendo. Infonya sih murni urusan pekerjaan. Tapi kau tahu? Aku rasa bukan itu alasannya."
"Ah tapi bukankah mereka sangat cocok? Mereka tidak terlihat hanya sekedar teman kerja," timpal yang lain.
"Bukankah ini terlalu dini untuk menyimpulkan?"
Ochako terdiam, hanya bisa merespon dengan senyuman palsu.
Tak seperti biasanya. Jam makan siang kali ini Ochako hanya ingin menikmatinya sendiri. Ia pergi ke sebuah kafe, bermaksud hanya memesan kopi dan kue untuk makan siangnya kali ini.
Ucapan rekan kerjanya benar-benar mengganggunya. Apa betul Izuku sedang dekat dengan Kendo Itsuka? Karena jika betul, Ochako... Sulit menerimanya.
Ingin sekali rasanya ia menanyakan langsung, tapi siapa dia?
Jika bertanya dengan Bakugou Katsuki atau Todoroki Shouto, apakah tidak apa-apa? Mengingat keduanya partner kerja Izuku. Tapi bagaimana jika mereka bertanya kenapa dirinya menanyakan hal itu?
Ochako menggelengkan kepala. Menolak berbagai pikiran liar yang berkecamuk di kepalanya.
Ochako's PoV.
Aku melihat ke luar jendela di sampingku. Banyak orang sedang berlalu lalang hendak makan siang atau kembali ke kantor. Sangat ramai. Tapi pemandangan ini tidak mampu mengalihkan pikiranku.
Ting. Ada notifikasi pesan masuk di ponsel.
Aku mengeceknya. Ternyata itu dari grup obrolan hero. Kubuka grup itu dan seseorang kemudian menginfokan bahwa terjadi ledakan dan kebakaran di beberapa titik di Tokyo. Pemadam kebakaran sudah dihubungi dan sedang menuju ke lokasi. Para polisi meminta bantuan evakuasi dari para hero.
Aku hendak beranjak kembali ke kantor sebelum kemudian televisi di kafe itu menayangkan breaking news pemberitaan kejadian itu. Video amatir yang ditayangkan secara langsung tampak memperlihatkan kondisi tempat kejadian yang sangat mengerikan.
Aku segera beranjak pergi.
Sesampaiku di kantor, semua orang terlihat berkoordinasi untuk evakuasi. Tidak lama aku ditugaskan oleh senior untuk pergi ke salah satu titik lokasi di Shinjuku, bersama dengan teman semasa sekolahku, Asui Tsuyu, dan 2 senior lainnya.
Kami bergegas berangkat ke lokasi. Dikarenakan banyak sekali kejadian di berbagai lokasi di Tokyo, tidak banyak hero yang dikerahkan ke titik itu.
Lokasinya ada di sebuah penginapan. Beberapa polisi yang sudah hadir lebih dulu sudah mulai melakukan evakuasi terhadap tamu dan staf penginapan tersebut. Ochako bersama timnya ikut membantu. Terutama untuk mengevakuasi tamu yang beberapa masih terjebak di dalam.
Tidak lama mobil pemadam kebakaran dan ambulans tiba. Kebakaran segera padam tidak lama setelahnya. Korban jiwa pun syukurlah tidak ada. Tapi mungkin, beberapa orang perlu mendapatkan perawatan yang intensif.
Setelah aku melaporkan selesainya evakuasi, atasanku meminta kami untuk segera menuju ke titik lainnya yang berjarak sekitar 14 km. Kami pun segera menuju ke lokasi ketika dirasa tugas kami disini telah selesai.
Aku mengecek jam di ponselku. Masih jam 4 sore. Tapi kenapa langit sudah begitu gelap?
Sepanjang perjalanan kami bertanya-tanya, siapa yang melakukan ini semua? Bagaimana mungkin melakukannya di waktu yang bersamaan dengan titik lokasi yang jumlahnya puluhan?
Masyarakat terlihat panik dan berhamburan ke jalan setelah pemberitaan kejadian ini mulai disiarkan. Membuat perjalanan kami sedikit terhambat.
20 menit perjalanan dengan mobil, kami pun tiba di lokasi yang ditugaskan. Kondisinya disini jauh lebih parah dibanding sebelumnya. Kejadian terjadi di sebuah apartemen mewah 10 lantai dengan total penghuni sekitar 150 orang. Api semakin besar dan sempat terjadi satu kali ledakan besar ketika aku datang.
Disana ternyata sudah ada beberapa hero dan polisi setempat yang sedang melakukan evakuasi. Kami buru-buru menghampiri mereka untuk berkoordinasi. Namun perhatianku teralihkan oleh teriakan salah seorang hero yang sedang histeris.
"Sebagian besar penghuni yang berada di apartemen sudah kami evakuasi. Tapi kami belum bisa memastikan sisanya dimana. Sedangkan api semakin besar dan pemadam kebakaran belum datang," ucap salah seorang polisi.
Aku kenal wanita itu.
"Kendo-san?"
Aku segera menghampiri wanita itu dengan perasaan khawatir. Apa yang membuatnya menangis sedemikin rupa? Salah satu hero wanita lainnya menahannya untuk tidak pergi masuk ke apartemen yang sedang terbakar itu.
Polisi menjelaskan situasinya ke timku. Tapi aku tidak bisa mendengarnya karena terlalu jauh, aku memilih untuk bertanya langsung.
"Senpai, apa yang terjadi dengan Kendo-san?" Sementara wanita itu masih menangis histeris.
"Deku-kun! Dia... dia pergi masuk ke dalam karena mendengar suara anak kecil dari lantai 3."
Mendengar hal itu jantungku berdegup kencang. Tapi, bukankah itu tidak mungkin? Itu sangat berbahaya! Gedung itu benar-benar terbakar habis. Beberapa ledakan masih terjadi. Aku menggeleng tak percaya. Hatiku sakit. Air mataku seketika menetes.
Katsuki's PoV.
Aku baru saja tiba di lokasi ketika kulihat apartemen itu sudah terbakar sepenuhnya. Tapi kemana para pemadam kebakaran? Brengsek!
Aku melihat beberapa hero dan polisi sudah selesai melakukan evakuasi, tapi kenapa beberapa terlihat panik? Aku kemudian melihat seorang wanita berambut cokelat yang kukenali.
Round Face?
Ia berlari masuk ke dalam apartemen. Sementara yang lainnya berteriak panik.
Si Bodoh Itu! Apa yang dia lakukan?! Brengsek!
Tanpa berpikir panjang aku pun berlari masuk mengejarnya.
Api semakin besar. Plafon-plafon lantai satu perlahan roboh. Sialan! Apa sih yang dipikirkan wanita itu?!
Aku berlari dan meneriakkan namanya. Namun tak kunjung terdengar respon darinya. Dengan panik aku menuju tangga ke lantai dua. Benar saja.
Aku melihatnya disana tengah menaiki lantai dua dengan tubuh terhuyung hendak ambruk. Asap dan api sudah memenuhi lantai dua.
Aku menarik lengannya dan berteriak dengan kesal.
"Uraraka kau gila?! Semua orang sudah dievakuasi, kenapa kau masuk!" ucapku kesal.
Wajahnya berpaling melihatku. Air mata mengalir deras dari mata bulatnya. God damn!
"Deku-kun... hiks. Deku-kun di atas. Tolong dia, Bakugou-kun. Aku mohon," jawabnya frustasi.
Aku tidak habis pikir. Karena seorang Deku, Uraraka se-frustasi ini sampai mengorbankan nyawanya?
"Bodoh! Dia pasti akan baik-baik saja. Sekarang kita kembali."
Uraraka menghempaskan tanganku dan berpaling. Sementara kulihat plafon lantai dua tampak akan jatuh ke arahnya. Reflek aku menarik tubuhnya untuk menghindar. Aku berusaha menopang tubuhnya dengan tanganku, sebelum akhirnya kami terhempas jatuh ke lantai satu.
Tulang punggungku retak begitu tubuh kami mendarat ke lantai. Kepalaku terbentur dengan keras. Darah segar mengalir dari kepala dan hidungku.
Uraraka pingsan, tapi kuharap dia baik-baik saja.
Belum sempat aku sanggup untuk bangun, sebuah ledakan terjadi di lantai dua. Aku segera bangkit sembari memapah Uraraka keluar dari lobi dengan sisa kekuatanku.
Argghh brengsek! Badanku sakit sekali. Segera setelah kami keluar, timku dan Uraraka langsung menghampiri kami.
Uraraka tersadar begitu Si Gadis Katak memanggilnya.
Wanita itu melepaskan rangkulanku dan wajahnya berubah panik. "Dimana Deku-kun?"
Aku sangat kesal mendengarnya. Apa dia tidak tahu kondisinya sendiri? Bagaimana mungkin dia masih mengkhawatirkan Deku ketika nyawanya hampir melayang?!
Asui menenangkannya sembari menunjuk ke satu arah. "Ochako-chan, tenanglah. Dia baik-baik saja. Dia berhasil menyelamatkan nyawa seorang balita."
Deku terlihat sedang memeluk wanita yang kukenali sebagai Kendo dari Kelas B. Dasar brengsek! Apa Deku tidak tahu?! Semenit lalu Uraraka hampir mati karenanya!
Seketika tubuh Uraraka ambruk jatuh terduduk. Kupikir ia kecewa melihat pemandangan itu. Tapi...
"Syukurlah..."
"Syukurlah Deku-kun baik-baik saja."
Wajah yang kulihat bukanlah wajah marah yang kuharapkan.
Dia... tersenyum.
Jantungku berdegup dengan kencang secara tiba-tiba.
Brengsek! Apa ini?!
Tiga hari setelah kejadian itu.
Normal PoV.
Endeavor mengadakan pertemuan dengan beberapa hero senior di Jepang. Membahas hasil penyelidikan kejadian tiga hari lalu yang merenggut lebih dari 200 nyawa.
Ochako turut hadir dalam rapat itu untuk mendampingi atasannya, Ryukyu. Begitu pula dengan Katsuki yang merupakan hero di bawah naungan Endeavor. Selain mereka berdua, yang lain adalau hero-hero senior.
Katsuki menoleh ke arah Ochako. Penasaran bagaimana kondisi si Gadis Gravitasi pasca kejadian itu. Kebetulan posisi duduk mereka berhadapan. Ruang meeting tersebut memang diatur U-Shape untuk memudahkan diskusi.
Tak dinyana justru wanita yang selalu dipanggil Round Face itu ternyata sudah menatapnya duluan. Melihat itu Katsuki memasang wajah kesal. Sementara Ochako sekarang malah tersenyum menyeringai seolah bangga karena membuat pemuda itu kesal.
Rapat berlangsung dengan cukup serius. Hasil penyelidikan oleh polisi disampaikan dengan runtut. Terduga pelaku bahkan juga dibahas. Namun tidak disebut namanya. Entah apakah karena ada kecurigaan tertentu atau bagaimana. Yang jelas Endeavor memilih tidak mempercayai siapapun, kecuali All Might dan sahabatnya di kepolisian.
Selepas dari rapat itu, Ochako menghampiri Katsuki dengan terburu-buru. "Bakugou-kun!" Panggilnya.
"Minggir, Round Face! Kau menghalangi jalanku."
Ochako menarik pelan tangan Katsuki. "Boleh kita bicara sebentar?"
Setelah menemukan lorong yang sepi dan dirasa tepat untuk mereka berbicara, Ochako mengutarakan maksudnya.
"Bakugou-kun, aku ingin berterima kasih karena sudah menolongku saat di apartemen yang terbakar itu. Aku tidak tahu harus menebusnya dengan apa. Tapi aku sangat berterima kasih. Mungkin aku sudah mati jika kau tidak menolongku waktu itu."
"Tch." Tangan Katsuki mengacak rambut Ochako dengan sedikit kesal.
"Dasar wanita bodoh! Tentu saja kau akan mati jika aku tidak menolongmu!"
Ochako tersenyum lebar. "Maka dari itu aku berterima kasih padamu."
Ochako menghentikan gerakan tangan Katsuki. "Apa punggungmu baik-baik saja?" Raut wajahnya berubah cemas. Ia tahu dari teman-temannya kalau Katsuki terluka parah. Tulang punggungnya bahkan sedikit retak akibat benturan keras ketika jatuh dari lantai dua.
Katsuki menghela napas berat. "Aku baik-baik saja."
"Kau yakin?"
"Kau tidak usah bertanya kalau tidak percaya!" Katsuki melangkah pergi dengan raut wajahnya yang kesal seperti biasa.
Ochako tersenyum lembut menatap punggung yang telah melindunginya itu.
"Terima kasih, Bakugou-kun!"
Katsuki berbaring lesu. Ia baru saja kalah dalam permainan konsol yang sedang dimainkannya dengan Kirishima, Kaminari, dan Sero.
Ya, Bakusquad masih aktif sampai sekarang. Saat ini mereka sedang berada di apartemen Kirishima.
Kesepakatan permainannya, yang kalah harus berhenti bermain dan baru bisa bermain lagi setelah ada yang kalah.
Katsuki menghela napas. Menatap langit-langit kamar Kirishima dengan tatapan kosong. Ada perasaan yang sangat mengganggunya akhir-akhir ini.
"Oi Kirishima," panggil Katsuki.
Kirishima menyahut seadanya.
"Kau sebut apa itu? Perasaan ketika jantungmu tiba-tiba berdegup kencang saat berada di dekat seseorang? Argghh. Ini sangat tidak nyaman!"
Tidak hanya Kirishima, kini semua menoleh ke arah Katsuki yang sedang memejamkan matanya.
"Bukankah itu tanda seseorang jatuh cinta?" Ujar Kaminari dengan polosnya. Katsuki langsung membuka matanya kaget.
Kirishima dan Sero mati-matian menahan senyum.
"Bakugou, apa kau sedang jatuh cinta?"
