Fireworks

Senja menyambangi pulau Kujira. Sinar matahari yang tengah terbenam membias jingga, menerangi seluruh pulau Kujira. Angin musim panas yang hangat berhembus lembut, membawa gelombang laut menyapu pesisir pantai dengan tenang. Sesekali terlhat burung-burung camar terbang pulang ke sarang mereka setelah seharian mencari makan.

Para Hunter sedang berkumpul di pulau Kujira untuk merayakan malam Tanabata. Mereka menginap dan mempersiapkan diri di rumah Gon. Bibi Mito senang sekali kedatangan banyak tamu teman-teman Gon, mereka semua dijamu dengan baik olehnya. Bahkan Bibi Mito juga mencarikan tempat penyewaan Yukata untuk mereka semua pakai di malam Tanabata. Malam tanabata di pulau Kujira terkenal ramai, karena ada festival makanan gratis dan kembang api dari laut. Mendengarnya, para Hunter semakin antusias untuk merayakan tanabata bersama disana.

Bibi Mito sedang berada di kamarnya bersama Neon Nostrade. Ini pertama kalinya sang putri mafia Nostrade mengikuti tanabata, karenanya ia bingung saat harus mengenakan yukata. Bibi Mito memilihkan yukata berwarna biru muda dengan dekorasi bunga sakura berwarna pink terang untuk Neon, karena merasa warna itu cocok dengan warna rambutnya. Ia membantu sang putri mafia mengenakan yukata dan menata rambutnya. Neon tampil manis dengan yukata nya malam itu,

"Yup, sudah selesai." Kata bibi Mito setelah selesai menata rambut Neon,

"Wah..! Bibi Mito hebat sekali! Terimakasih! Ujar sang putri Mafia,

"Sama-sama, Neon-chan.." balas bibi Mito,

"Neon-sama, apakah sudah selesai?" tanya Senritsu dari luar,

"Sudah. Aku akan keluar sekarang!" sahut Neon. Ia lalu keluar dari kamar bibi Mito dan menjumpai Senritsu,

"Anda terlihat cantik, Neon-sama. Yukata Anda cocok sekali." Katanya,

"Terimakasih, Senritsu. Senritsu juga manis dengan pita rambut itu." Balas Neon,

"Terimakasih. Sebaiknya kita keluar sekarang. Sepertinya para pria sudah menunggu." Kata Senritsu. Neon dan Senritsu berjalan keluar rumah Gon. Seraya berjalan, Neon bertanya-tanya di dalam hatinya,

Apakah para pria juga memakai yukata? Seperti apa mereka ya? Gon mungkin akan mengenakan yukata warna hijau, Killua mungkin ungu atau putih, Leorio? Cokelat atau Abu-abu. Kurapika…

Deg! Jantung Neon berdetak keras saat nama Kurapika terlintas di benaknya dan mulai berdetak cepat saat membayangkan warna yukata yang dikenakan Kurapika.

Mungkin biru, seperti matanya. Atau merah… merah ruby seperti matanya juga saat tengah membara. Entah mengapa Kurapika terlihat sangat menawan dalam busana berwarna merah. Terkesan sexy.

Mendengar inner self nya yang mengatakan Kurapika terkesan sexy, Neon buru-buru menggelengkan kepala. Ia berhasil menghapus bayangan itu dari kepalanya, tapi rupanya bayangan itu meninggalkan rona merah di pipinya.

Astaga… apa yang baru saja kupikirkan?, gerutu Neon. Sementara disampingnya, Senritsu berusaha menahan senyumnya. Ia mengetahui dengan jelas pikiran Neon akan Kurapika dari suara detak jantungnya. Ia juga tahu kalau Neon panik saat membayangkan Kurapika dalam balutan yukata merah yang membuatnya semakin tampan.

Well, itu bukan salahmu, Neon-sama. Dia memang tampan, jadi dibayangkan seperti apapun tetap saja membuat hati berdebar. Kata Senritsu dalam hati.

Mereka akhirnya bertemu dengan para pria. Begitu melihat Kurapika yang mengenakan yukata berwarna biru dengan motif putih, Neon bersyukur di dalam hati. Ah syukurlah, untung bukan warna merah, gumamnya. Ia menghembuskan nafas lega yang sedari tadi ditahannya.

Tapi mau dilihat bagaimanapun, ia tetap saja membuatku berdebar.

"Semua sudah lengkap ya? Baiklah, ayo kita berangkat!" kata Gon. Ia berjalan paling depan dengan Killua, Leorio dengan Basho di belakang, sementara Kurapika berjalan bersama Neon dan Senritsu di tengah. Senritsu diam-diam mengambil kesempatan. Ia sengaja melambatkan langkah supaya Neon bisa berjalan berdua dengan Kurapika. Melihat Senritsu pindah ke belakang, Basho terheran-heran,

"Ada apa, Sen?" tanyanya,

"Psstt…! Aku sengaja supaya mereka bisa berduaan." Katanya pelan. Basho mengangguk paham, lalu mereka kembali berjalan. Senritsu sebenarnya merasa sedikit cemburu, karena ia juga menyukai Kurapika, tetapi ia memilih untuk melepas Kurapika untuk Neon karena ia mendengar sendiri irama hati ksatria Kuruta itu bicara untuk sang putri Mafia.

Neon melirik ke sisi kirinya, ia terkejut karena tak menemukan Senritsu. Pasti ia sengaja pindah supaya kami bisa jalan berdua, pikirnya. Saat tengah memarahi Senritsu dalam pikirannya, Kurapika tiba-tiba bertanya,

"Ada apa, nona Neon? Anda terlihat kesal.." katanya,

"Eh… bukan apa-apa." Jawab Neon salah tingkah. Ia menyelipkan sehelai rambut birunya ke belakang telinga kiri dan mencoba berjalan dengan tenang. Mereka tak mengeluarkan sepatah kata pun sampai tiba di pantai, tempat festival tanabata diadakan.

"Nah, teman-teman, kita sudah sampai. Sepertinya kembang api masih lama, jadi mungkin kita bisa jajan dulu. Kita ketemu disini saat kembang api mau mulai ya." Kata Gon,

"Oke, Gon!" sahut semuanya,

"Ayo, Gon! Aku sudah tidak sabar mau makan harum manis!" kata Killua seraya menarik tangan Gon. Leorio dan Basho segera mencari toko sake, sementara Kurapika pergi bersama Neon dan Senritsu,

"Baiklah. Kalian mau kemana?" tanya Kurapika,

"Ah, aku baru ingat tadi Basho bilang mau bicara sesuatu denganku. Aku sebaiknya menyusulnya." Kata Senritsu, ia langsung berlalu dari Kurapika dan Neon. Neon hendak mencegahnya, tapi ia pikir percuma saja. Neon akhirnya pasrah untuk kembali berduaan dengan Kurapika.

"Baiklah. Nona mau ikut dengan saya berkeliling atau nona ingin pergi sendiri?" tanya Kurapika,

"Ikut denganmu saja." Jawab Neon. Kurapika pun mulai berjalan dan Neon mengikutinya,

"Kalau nona menginginkan sesuatu, katakan saja." Kata Kurapika tanpa menoleh,

"Iya.." jawab Neon lirih, muka nya mulai kembali merona merah. Tanpa ia ketahui, wajah Kurapika pun juga sedikit merona merah.

Kedua nya berjalan berkeliling area festival, mencicipi berbagai makanan dan mencoba berbagai permainan. Awalnya keduanya sempat canggung, tetapi kecanggungan itu akhirnya mencair seiring mereka bersama. Di malam itu, Neon berkesempatan melihat sisi pribadi Kurapika yang tak pernah ia lihat sebelumnya; bersemangat dan menyukai tantangan. Ia melihat wajah pemuda Kuruta itu penuh dengan rasa ingin tahu dan kesenangan, tidak sedatar biasanya. Ia juga beberapa kali tertawa, yang membuat Neon juga tertawa. Detak jantung Neon yang berdegup kencang beriringan dengan langkah dan tawa riang mereka malam itu. Diam diam Neon berdoa supaya waktu berhenti, sehingga rutinitas kerja Kurapika tak memisahkan mereka lagi.

Neon dan Kurapika melangkah keluar dari kerumunan festival untuk beristirahat sejenak. Mereka berjalan menuju sebuah bangku di sudut area sambil membawa takoyaki, dango dan kakigori. Keduanya lalu duduk di bangku itu dan menghela nafas lelah,

"Fuuuh..! ramai sekali ya!" ujar Neon seraya mengipasi dirinya dengan kipas kertas berwarna pink,

"Iya. Sebenarnya aku tidak begitu suka keramaian, tetapi untuk kali ini pengecualian." Balas Kurapika,

"Kamu justru harus lebih banyak berada di keramaian supaya berinteraksi dengan orang lain." Ujar Neon spontan,

"Lho? Memangnya kemampuan interaksiku dengan orang lain kurang?" tanya Kurapika,

"Well… yang kulihat sih begitu, tapi gak parah banget kok." Jawab Neon cepat karena salah tingkah. Keduanya terdiam, lalu Neon berdehem,

"Kurapika, boleh aku minta minumanku? Aku haus.." kata Neon, Kurapika segera menyerahkan segelas minuman dingin dari tangannya kepada Neon,

"Terimakasih.."

"Sama-sama.." Neon meminum minumannya, yang langsung ia seruput sampai 1/3 dari isi gelasnya. Berkeliling di tengah kerumunan menguras tenaga nya lebih banyak daripada yang ia kira.

Neon memandangi langit malam yang bertabur bintang. Langit malam tampak sangat jernih disini, sehingga bintang-bintang yag bertebaran terlihat dekat. Lalu ia mengalihkan pandangannya kepada Kurapika yang juga sedang minum di sampingnya. Ia nampak kehausan sehingga tak memperhatikan Neon memperhatikannya. Neon memandangi wajah pemuda Kuruta yang sedikit berpeluh setelah keluar dari kerumunan, mulai dari alis, bulu matanya yang tebal dan panjang, lalu ke bibirnya. Jemarinya yang tengah memegang gelas minuman di tangannya nampak lentik, ditambah dengan kuku nya yang bersih.

Oh ya ampun, kata Neon dalam hati. Bagaimana Tuhan menciptakannya sampai seindah ini? Tanya Neon di dalam hati. Tanpa sadar, ia terus memandangi bodyguardnya itu, hingga yang dipandangi merasa agak risih dan memanggilnya,

"Nona Neon!" mendengar namanya dipanggil, Neon tersadar dari lamunannya,

"Ma…Maaf, Kurapika. Ada apa?" tanya Neon,

"Mau takoyaki?" tawar pemuda Kuruta sambil menyodorkan sekotak takoyaki pada Neon,

"Eh… boleh." Jawab Neon. Ia lalu mengambil sebutir takoyaki dengan garpu kecil yang sudah disiapkan dan memakannya bulat bulat. Setelah menelan takoyakinya, ia berkata,

"ehm..! lezat sekali! Aku belum pernah makan yang seenak ini!"

"Rasanya sedikit berbeda dengan yang sering kumakan di kampung halamanku, tetapi sama lezatnya. Kurasa makanan Kuruta menggunakan lebih banyak rempah. " Kata Kurapika,

"Sungguh? Hebat! Lalu apa lagi yang menarik dari kampung halamanmu?" Neon yang terbawa suasana tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang tak terduga. Melihat Kurapika yang langsung terdiam, ia tahu ia menanyakan hal yang salah. Ia segera meralatnya,

"A… aku tahu kampungmu sudah tidak ada, tetapi pasti selama kamu tinggal disana juga banyak memori menyenangkan yang kamu alami, bukan? Aku hanya mau tahu saja, kalau kamu tidak mau cerita juga tidak apa-apa.." tambah Neon dengan cepat. Bodoh! Rutuk Neon di dalam pikirannya. Aku begitu terbawa suasana sampai lupa tentang suku nya yang sudah tidak ada. Sejurus kemudian, Kurapika tersenyum maklum. Ia pun menjawab setelah terdiam cukup lama,

"Tidak. Aku senang jika ada orang yang tertarik kepada kebudayaan kami, selain daripada Mata Merah. Aku akan ceritakan semua yang aku ingat." Katanya sebelum mengawali ceritanya.

Kurapika bercerita tentang banyak hal dari suku Kuruta, mulai dari makanan khas, kesenian hingga cerita mitologi yang diwariskan turun temurun. Ia juga bercerita tentang masa kecilnya. Salah satu pengalaman yang ia ceritakan adalah saat dirinya melarikan burung besar yang biasa ditunggangi orang tuanya saat hendak ke pasar, lalu pergi bersama teman-temannya ke air terjun di tengah gunung. Tak hanya itu, ia juga bermain sepuasnya di hutan, mengganggu hewan-hewan ternak dan baru pulang saat senja dengan pakaian kotor. Ia pun dimarahi habis-habisan oleh Ibunya dan dihukum selama satu minggu lamanya. Mendengar cerita kenakalan Kurapika itu, Neon tertawa. Ia membayangkan Kurapika kecil yang cerdas dan bandel menyelinap melarikan burung tunggangan.

"Waaahh…! Kamu nakal sekali saat kecil! Hahahahaha… aku tidak menyangka!" ujar Neon,

"Hahaha… iya, aku memang nakal. Kurasa diriku di masa kecil jauh lebih nakal daripada gabungan Gon dan Killua." Balas Kurapika,

"Bahkan kalau aku juga digabung dengan mereka, masih belum bisa mengalahkanmu." Timpal Neon sambil tertawa. Neon kembali memandang Kurapika. Jantungnya berdetak cepat dan liar, ia hampir pingsan dibuatnya. Saat ia sedang berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk bicara tentang perasaannya, mereka melihat Gon berlari kearah mereka dari arah arena festival,

"Ternyata kau disini, Kurapika! Ayo cepat, kembang api sudah mau dimulai!" ujar Gon,

"Ah iya! Mari, Nona.." kata Kurapika, berpaling pada Neon dan menawarkan uluran tangannya. Neon menyambut uluran tangan itu dan berjalan bersama Kurapika. Sepanjang jalan, Kurapika tak melepas pegangan tangannya dari Neon. Neon yang menyadari hal itu tersipu dan tersenyum malu-malu. Setelah kembali ke area festival, ketujuh hunter itu pun menyaksikan atraksi kembang api bersama-sama.

Cahaya kembang api menerangi langit pulau Kujira dengan beragam warna. Suara dari ledakan kembang api itu bergetar di dalam dada sang Putri Nostrade, yang tangannya masih tergenggam hangat oleh pemuda Kuruta. Mereka juga bermain kembang api bersama. Kurapika dan Neon berjongkok di pantai sambil memegang gagang kembang api yang menyala indah.

Diterangi cahaya

Dari kembang api yang menyala

Matamu berbinar bahagia

Bagai ombak dari samudra

Yang menyapu telanjang kaki kita

Bersahutan suara di dadaku memanggil satu nama

"Kurapika"

Ku berdoa tanpa suara

Waktu menjeda… sesaat saja

Mengabadikan senyummu yang berharga

Neon menggumamkan puisi itu sambil memandang Kurapika. Saat Kurapika balas memandang, Neon hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Senritsu yang mendengar jelas puisi dalam hati Neon ikut tersenyum. Irama hati keduanya mengalun indah, seperti ombak samudra di kala senja, gumam Senritsu. Waktu berlalu tanpa terasa. Ketujuh Hunter itu pun pulang ke rumah Gon mendekati tengah malam. Setiba nya di rumah Gon, mereka membersihkan diri secukupnya dan berganti pakaian, sebelum akhirnya tidur bersama di ruang tengah.

Kurapika baru saja selesai mengganti pakaian saat ia menemukan Neon tertidur di sofa tanpa selimut. Ia lalu mengambil selimut cadangan yang ia bawa dan menyelimuti Neon. Wajah Neon yang telah tertidur pulas terlihat damai, seperti putri tidur yang ada dalam dongeng. Sang pemuda Kuruta mendekat dan mengecup lembut kening Neon,

"Mimpi indah, putri tidurku…" bisiknya. Ia lalu melangkah ke posisi tidurnya di dekat Leorio dan tertidur tak lama setelah mendarat disana. Angin malam berhembus, menggoyangkan lonceng angin yang bergemerincing syahdu. Pulau Kujira perlahan terlelap, bersama sepasang muda mudi yang membenih rasa.