Ulang Tahun Leorio

Hunter x Hunter One-shot Fanfiction

Pagi itu, Leorio bangun kesiangan. Begitu ia bangun, ia sudah tidak menemukan Gon, Killua maupun Kurapika, hanya ada sarapan yang sudah disiapkan Kurapika di meja makan. Leorio bergegas mandi dan segera bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Ah, pasti aku dimarahi lagi karena datang terlambat. Ia menyambar sepotong roti isi buatan Kurapika sebelum berlari keluar dari unit apartemen.

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, Leorio tiba di rumah sakit tempatnya bekerja. Ia segera berlari ke ruangan praktik nya, mulai melakukan sterilisiasi pada diri dan perlengkapannya. Tidak seperti biasanya, pagi itu pasien lebih banyak datang. Belum lagi, ia harus menangani 2 operasi besar yang memakan waktu. Hari itu menjadi hari yang luar biasa sibuk untuk Leorio. Ia bahkan tak sempat makan siang saking sibuknya.

Hari menunjukkan pukul 5 sore. Pasien terakhir baru saja pulang. Leorio meregangkan otot-otot nya yang kaku setelah seharian bekerja.

"Dokter Paladiknight, saya permisi sebentar." Ujar seorang suster yang dari tadi pagi menemaninya,

"Iya, suster. Silahkan." Sahut Leorio sambil menguap. Ia mendaratkan dirinya di atas meja kerjanya dan memejamkan mata. Aku mau istirahat sebentar, ujarnya.

Sementara itu, ada 4 orang pasien anak-anak berkumpul di depan ruang praktik Leorio. Mereka membawa beberapa hadiah, seperti lukisan, boneka, dan kado. Rupanya, mereka ingin memberikan kejutan kepada dokter yang sudah merawat mereka di hari ulang tahunnya,

"Ayolah, suster! Kami ingin masuk dan menemui dokter Leo!" salah satu anak merajuk,

"Iya, suster! Hari ini dokter ulang tahun dan kami ingin mengucapkan selamat pada dokter Leo." Timpal anak yang lain,

"Baiklah, tapi ingat. Jangan terlalu gaduh ya. Nanti kalian bisa dimarahi dokter yang lain." Kata suster,

"Baik, suster! Kami akan jadi anak baik!" sahut mereka semua,

"Suster akan masuk terlebih dahulu untuk memberitahu dokter Leo. Kalian tunggu disini sebentar." Kata suster itu seraya masuk ke ruangan praktik Leorio. Sampai di dalam, terlihat sang dokter muda tengah tertidur di atas meja kerjanya,

"Dokter… Dokter Paladiknight…" panggilnya, Leorio terbangun,

"Iya, suster? Ada apa? Apakah ada keadaan darurat?" tanya Leorio seraya buru-buru mengenakan stetoskopnya,

"bukan, dokter. Ada beberapa pasien anak yang mau bertemu." Jawab suster tersebut, Leorio terheran. Pasien anak? Suster itu membuka pintu dan masuklah keempat anak itu,

"Selamat ulang tahun, dokter Leo!" seru mereka semua,

"Ah kalian! Terimakasih…" kata Leorio yang terkejut sekaligus bahagia. Keempat anak itu adalah pasien yang sudah dibantu olehnya dan tengah dalam masa pemulihan. Bahkan salah seorang dari mereka akan diperbolehkan pulang lusa.

"Dokter, ini hadiah dari kami semua. Semoga dokter suka ya." Kata salah seorang anak laki-laki dengan perban di kepala seraya menyerahkan sebuah kado kepada Leorio.

"Wah, terimakasih. Kalian tidak perlu memaksakan diri, kan masih dalam masa pemulihan." Kata Leorio seraya menerima hadiahnya,

"Tidak apa-apa, dokter. Kami hanya sedikit berusaha, pasti bisa lebih dari ini jika sudah sehat nanti." balas seorang anak perempuan yang akan segera pulang. Leorio hanya tersenyum lebar, ia merasa beruntung bisa membantu anak-anak yang cerdas dan kompak ini. Mereka mengingatkannya kepada teman-temannya, Gon, Killua dan Kurapika.

"Dokter selalu berusaha keras, tidak pernah menyerah memperjuangkan kesembuhan kami di saat kritis sekalipun. Dokter juga sangat baik pada kami. Makanya, dokter Leorio adalah dokter yang paling kami ingat." Kata anak laki-laki lain yang mengenakan topi beanie, pasien leukemia yang mengalami anfal beberapa minggu lalu dan berhasil ditolong oleh Leorio hingga sadar dan bisa jalan-jalan. Leorio tersenyum menahan airmata di ujung matanya. Ia begitu tersentuh dengan surprise ulang tahun dari keempat pasien kecilnya yang sampai mengingat hari ulang tahunnya. Ia menyempatkan diri berfoto bersama keempat pasiennya itu sebelum mereka kembali ke kamar perawatan mereka. Setelah anak-anak itu pamit, Leorio menutup pintu ruang praktiknya. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Leorio mengemasi barang-barangnya dan hendak pulang karena jam prakteknya sudah selesai. Setelah pamit pada suster, ia pun melangkah meninggalkan gedung rumah sakit.

Leorio sampai di apartemennya. Rasa lelah setelah seharian bekerja membuatnya ingin segera istirahat. Ia tiba di depan pintu apartemennya dan melihat sekeliling. Sepertinya mereka belum pulang, gumam Leorio. Ia membuka kunci dan melangkah masuk. Gelap. Ia menyalakan lampu dan…

"SURPRISE…!" seru Gon, Killua dan Kurapika bersamaan. Leorio mengedipkan mata dengan takjub. Unit mereka sudah dihias sedemikian rupa dan ada sebuah cake besar yang didekorasi dengan alat-alat kedokteran.

"Selamat ulang tahun, Leorio! Wah, kau menua semakin cepat ya!" ujar Killua seenaknya,

"Terimakasih…hei! Apa maksudmu, Killua?!" balasnya geram pada Killua yang menjulurkan lidah padanya,

"Tadinya kami ingin mengadakan surprise di rumah sakit, tapi kami lihat ada pasien anak-anak yang mengadakan surprise untukmu duluan. Jadi kami pulang lagi deh." Kata Gon,

"Eh? Kalian datang? Maaf ya, aku tidak lihat." Balas Leorio,

"Jelas kau tidak lihat, kami kan bersembunyi. Dasar payah!" timpal Killua lagi,

"Apa katamu? Kemari kau, bocah ubanan!" kata Leorio seraya mengejar Killua,

"Hei hey! Hentikan, Leorio, Killua! Sekarang, kita potong kue nya dulu. Leorio, buatlah permohonan." Ujar Kurapika. Leorio memejamkan mata dan berucap di dalam hati,

'Aku sangat bersyukur dengan bertambahnya usiaku saat ini. Aku hanya berharap supaya aku bisa terus menjadi dokter yang senantiasa ada bagi orang-orang yang membutuhkanku. Dan aku juga berharap supaya aku bisa terus mendampingi dan menjaga ketiga sahabatku ini, sekarang dan selamanya. Aamiin.'

Setelah membuat permohonan, Leorio meniup lilin di atas kue ulang tahunnya. Ia lalu memotong kue itu dan memakannya bersama-sama dengan ketiga sahabatnya. Setelah kue itu habis, Gon dan Killua pergi tidur duluan. Sementara, Leorio duduk di balkon untuk melanjutkan artikel penelitian yang tengah digarapnya. Saat Leorio tengah serius mengerjakan artikel ilmiahnya, seseorang menempelkan gelas dingin ke pipinya. Ia mengaduh dan berpaling, dilihatnya Kurapika yang sudah selesai mandi, hanya mengenakan kaos lengan pendek abu-abu nya dan sweat pants, memegang dua gelas wine dingin,

"Nih, untukmu." Kata Kurapika, menyerahkan salah satu gelas pada Leorio,

"Thanks." Kata Leorio sambil menerima gelas itu. Kurapika duduk di samping Leorio, memandangi langit malam.

"Aku senang melihatmu begitu bahagia, Leorio." Kata Kurapika,

"Ah… kau ini bisa saja. Mana mungkin aku tidak bahagia diberikan surprise di hari ulang tahunku?" ujar Leorio,

"Anak-anak itu, apakah mereka semua pasienmu?" tanya Kurapika,

"Iya, mereka pasienku." Jawab Leorio,

"Mereka anak-anak yang baik, beruntung sekali ditangani oleh dokter yang baik pula." Kata Kurapika,

"Bicara apa kamu ini? Aku kan dokter, menolong mereka adalah tugasku. Dan iya, mereka anak-anak yang baik. Mereka cerdas dan selalu bersikap baik, bahkan pada dokter yang tidak menangani mereka." Balas Leorio. Kurapika hanya diam dan memandangi Leorio yang tengah serius dengan artikel penelitiannya. Ia tersenyum kecil, menyadari betapa Leorio kini adalah sosok yang sangat gigih dan lembut, dibalik sisi luarnya yang berisik dan tidak sabaran. Diantara mereka ber empat, hanya Leorio yang belum menemukan kemampuan nen yang sejati pada dirinya. Gon, Killua dan Kurapika sudah merasakan betapa kuatnya kemampuan Nen mereka yang telah terasah, sehingga mereka unggul dalam setiap pertarungan. Sedangkan Leorio belum mampu mencapai tingkatan itu, meski sudah berhasil mengembangkan kemampuan lain dari Nen yang juga membantu. Terlepas dari kemampuan Nen yang masih jauh dari tingkatan ketiga temannya, Leorio adalah benteng pertahanan terakhir yang mereka miliki. Leorio adalah satu-satunya orang yang bisa menopang mereka bertiga untuk tidak lenyap ditelan kekuatan mereka sendiri. Hanya Leorio yang mampu menemukan dan membawa mereka kembali saat 'hilang' dalam kemarahan, sekalipun ia harus mempertaruhkan nyawa di saat ketiga sahabatnya sedang berada dalam keadaan tidak terkendali. Leorio yang begitu lembut, meski berisik dan keras kepala. Kurapika sendiri tidak dapat membayangkan keadaan mereka tanpa Leorio. Tidak ada orang lain yang lebih kuat daripada Leorio, yang menyatukan mereka hingga hari ini.

"Hei, Kurapika!" panggil Leorio, membuat Kurapika tersentak kaget,

"Apa sih? Kau mau membuatku jantungan atau apa?" tanya Kurapika emosi,

"Lah? Kan kamu yang bengong daritadi, malah aku yang disalahkan." Jawab Leorio, seraya kembali mengetik. Kurapika mendengus pelan,

"Hei, Leorio…" panggil Kurapika,

"Apa?" tanya Leorio tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. Kurapika langsung memutar kepala sang dokter muda menghadap ke arahnya,

"Hey sakit! Kalau leherku patah bagaimana?!" seru Leorio mengaduh,

"Selamat ulangtahun. Terimakasih sudah menjaga kami bertiga selama ini." kata Kurapika lembut. Mata biru nya menatap lurus mata Leorio. Kehangatan yang sudah lama tidak terpancar dari mata biru itu kini kembali terpancar. Senyum tipis yang sudah lama tidak mengembang itu kini mengembang indah di wajah Kurapika, ditambah dengan sedikit rona merah di pipinya. Leorio berani bersumpah ia hampir menampar dirinya sendiri untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi melihat Kurapika tersenyum hangat barusan.

"Susul aku segera. Kalau tidak, kau tidur di sofa. Oyasumi." Kata Kurapika dengan nada datar seperti biasa, sebelum menenggak habis wine nya dan beranjak dari balkon menuju kamarnya. Leorio berkedip beberapa kali sebelum tersenyum. Ia merasa sangat bersyukur memiliki tiga sahabat yang senantiasa ada di sisinya saat ini. Ia menyimpan data pekerjaannya yang terakhir sebelum mematikan laptop dan meninggalkan balkon. Tak lama kemudian, ia masuk ke kamar yang ditempatinya dengan Kurapika dan mematikan lampu. Hari ulang tahun yang melelahkan namun sangat membahagiakan untuk Leorio Paladiknight./