Summary: Tanggal 13 Mei 1998 memang telah berlalu, tapi masih selalu jadi mimpi buruk baginya. / Orang-orang memanggilnya Yenny. Hanya segelintir yang tahu bahwa nama aslinya Ying.

.

Indonesian!AU, Grown-up charas without superpowers;

Hurt/Comfort;

Slight Romance: Doctor!Fang x Pharmacist!Ying.

Inspired by true stories.

Warning: Mengandung bahasa Jawa, mengandung spoiler komik BoBoiBoy Galaxy Season 2.

Trigger Warning: kerusuhan dan penyerangan terhadap etnis Tionghoa di Surakarta, Mei 1998.

.

Author's Note #1:

Cerita ini adalah sekuel dari oneshot pendek berjudul Blank Space yang bersifat Fang-centric. Pembaca boleh mampir ke cerita yang itu dulu :)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BoBoiBoy (c) Monsta

The Concealed Wound (c) Roux Marlet

No material profit is gained from this work of fiction.

Cover photo from Shutterstock.

.

Bab Satu: Akreditasi dan Bakmi

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Obatnya masih sama persis dengan yang bulan lalu. Mau saya jelaskan lagi, atau saya cek saja, Mbak?" ujar gadis itu dari belakang konter, dengan selembar kertas di tangan dan sekotak obat di atas meja.

"Oh, sama persis, ya?" sahut lawan bicaranya dari balik konter farmasi rawat jalan itu.

Si gadis—seorang apoteker—menekuni kertasnya sekali lagi. "Benar, sama persis. Dosis dan aturan pakainya juga nggak ada yang berubah."

"Kalau gitu, dicek aja, Cik."

Kerutan di dahi menandakan yang dipanggil terlihat kurang nyaman. "Panggil Mbak saja."

"Eh?" Gadis berjubah laboratorium itu terperanjat sekilas. Dia mengernyit sambil mengamati apoteker di hadapannya, yang menunduk sedikit untuk mengecek obat-obatan yang akan diambil, juga membaca lagi nama yang tertera pada nametag-nya: Yenny. "Tapi panjenengan ini Chinese, 'kan? Maaf kalau salah."

Si apoteker meringis kecil saat mendongak lagi, sudah selesai mengecek. "Iya, nggak salah, kok. Cuma, saya lebih suka dipanggil Mbak atau Kak."

"Oke … Kak. Maaf, ya." Lawan bicaranya tersenyum kikuk.

"Iya, nggak apa-apa. Ini, obatnya sudah sesuai, ya."

"Makasih, Kak."

"Sama-sama, Mbak."

Serah terima obat sudah selesai, begitu pula jam dinas karyawan shift pagi. Setelah memastikan dan mengoperkan beberapa hal di unit kerjanya kepada yang berdinas shift siang, gadis itu pun pamit pulang. Dalam perjalanannya menuju ke loker karyawan, dibukanya ponsel. Ada pesan masuk dari ibunya:

.

.

Sabtu, 8 Mei 2004 | 13.56 WIB

Dari: Mama

Ying, jangan lupa nanti mampir ambil bakmi di tempat Cik Lan.

.

.

Gadis bernama Ying itu menggigit bibir sekilas, menghela napas, sebelum mengetik balasan,

"Iya, Ma."

Ying membuka loker, meraih tasnya, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas itu. Dipakainya jaket berkendara yang juga disimpan di dalam loker. Saat sudah akan keluar dari ruangan loker menuju parkiran sepeda motor, suara seseorang menahannya,

"Oh, Yenny? Pas banget, saya baru ingat mau bilang ke kamu."

Ying menoleh, mendapati sosok wanita yang lebih tua dengan sanggul rapi berjalan ke arahnya. Dia tadi tidak melihat wanita itu saat melewatinya karena bentuk ruang loker yang menyerupai huruf L.

"Ada apa, Bu Kuputeri?"

"Itu, untuk akreditasi. Si Melody, 'kan, masih opname. Kabarnya hasil lab-nya belum baik. Harusnya dia yang jadi penanggung jawab farmasi di bagian ICU waktu akreditasi minggu depan. Sementara kamu handle dua job, ya. Nanti yang di rawat jalan bisa dibantu asisten apoteker yang senior."

Mata sipit di balik kacamata itu melebar sedikit. "Berarti, saya harus standby di mana untuk hari H tanggal 13 Mei nanti, Bu? ICU, 'kan, di lantai 3, sedangkan farmasi rajal di lantai 1."

Kuputeri berpikir sejenak. "Kayaknya, di pagi hari, kamu di ICU dulu saja. Tim survei baru akan mendatangi unit rawat jalan di siang hari. Coba nanti kamu hubungi Dokter Fang, kepala ICU, tanya apa lagi yang perlu disiapkan dari farmasi. Setahu saya, Melody sudah sempat menyicil tugasnya sebelum opname."

"Oh, iya, Bu. Nanti saya hubungi dr. Fang."

Ying agak kaget ketika sang atasan tiba-tiba tersenyum simpul. "Sudah punya nomornya, 'kan?"

"Sudah, Bu." Ying merasa perlu menjelaskan sedikit soal itu, jadi dia menambahkan, "Waktu saya diskusi dengan beliau soal endotracheal tube, beliau ngasih masukan tentang gloves dan minta kontak saya."

"Saya ikut senang." Kuputeri masih tersenyum penuh makna dan Ying jadi agak gelisah. "Di rumah sakit ini memang aturannya nggak boleh ada anggota keluarga yang sama menjadi karyawan. Tapi, kalau jadi berkeluarga setelah menjadi karyawan, boleh-boleh saja."

"Err … hehehe, iya, Bu." Ying memaksakan tawa garing, paham sepenuhnya ke mana arah pembicaraan ini.

"Banyak, kok, yang seperti itu. Pak Hang Kasa dengan Bu Satriantar Ratna, misalnya. Yang satu psikolog, satunya perawat. Ketemu jodoh di sini, sama-sama masih aktif bekerja sampai usia senja. Sebentar lagi Pak Hang Kasa akan pensiun duluan, sih. Siapa tahu kamu juga bisa seperti itu."

Ying meringis. "Saya amini yang terbaik saja, Bu."

"Baguslah, Yen," sahut Kuputeri, memberi gestur untuk mulai berjalan menuju parkiran. "Sudah mau pulang, 'kan? Bawa motor sendiri?"

"Iya, Bu."

"Hati-hati di jalan, ya."

"Terima kasih. Ibu juga."

Kalau Kuputeri menuju parkiran mobil yang luas, Ying berbelok ke arah parkiran sepeda motor yang masih agak penuh. Kebanyakan karyawan yang dinas pagi, terutama yang memiliki jabatan tinggi seperti atasannya barusan, membawa mobil pribadi. Sedangkan para pelaksana seperti Ying dan yang di bawahnya mengendarai sepeda motor. Maka, Ying agak kaget ketika mendapati dokter kepala ICU yang mereka bicarakan tadi sedang mengeluarkan sepeda motornya dari barisan, sudah lengkap dengan jaket dan helmnya.

"Halo, Mbak Yenny," sapa sang dokter dengan senyum terkembang, membuat matanya semakin tampak sipit. "Kamu, tuh, asli Solo, ya?"

"Siang, Dokter. Iya, saya asli Solo." Ying mengeluarkan kunci motor dan mendekati kendaraannya, yang kebetulan juga di dekat dr. Fang.

"Solonya mana?" Fang bertanya lebih lanjut.

"Kepatihan Kulon, Dok." Ying menyebut daerah rumahnya sambil memasang helm.

"Oooh, dekat, dong, dari sini. Kalau saya, kos di daerah Pasar Gedhe."

"Dekat Balaikota, Dok?" sambung Ying yang sudah mengeluarkan kendaraannya juga.

"Lebih dekat ke Pasar Gedhe daripada ke Balaikota. Dekat toko bakmi yang besar itu. Kamu tahu toko Bakmi Cik Lan?"

"Tahu, Dok. Ini saya mau ke sana, ambil titipan Mama."

"Bakminya lembut dan kenyal, ya? Ada yang ulang tahun?"

"Iya, nenek saya besok ulang tahun, Dok," sahut Ying sambil menyalakan mesin motornya, disusul Fang.

"Ayo, tak temeni ke sana."

"Nggak usah, Dok."

"Sekalian. Kos saya da sebelahe persis."

Ying tertawa kecil ketika mengenali gaya bicara yang khas. "Ya, ampun. Saya baru tahu Dokter ini orang Semarang, lho. Logat Semarangnya baru ketahuan."

"Haiyaaa. Ngerti dewe, lah. Kudu jaga image. Masa dokter kinclong ngomongnya medhok." Fang menyahuti sambil membenahi kacamatanya dan menahan senyum.

Mereka berdua sama-sama tertawa. Dua sepeda motor itu pun kemudian melaju berdampingan sebelum melambat lagi di perempatan jalan. Sambil menunggu lampu lalu lintas, pikiran Ying melayang.

Tanggal 13 Mei tahun 2004 ini akan jadi hari yang besar karena rumah sakit tempat Ying bekerja akan diakreditasi oleh lembaga nasional untuk ketiga kalinya. Banyak perkembangan telah diimplementasikan sejak akreditasi yang terakhir tiga tahun sebelumnya dan kali ini rumah sakit mereka punya target untuk mencapai status tertinggi. Semua karyawan, tanpa kecuali, tentunya antusias dan berdebar dalam mempersiapkan segalanya. Ini adalah akreditasi pertama Ying karena dia baru bekerja di situ selama dua tahun.

Ying juga jadi terkenang tanggal 13 Mei enam tahun sebelumnya, tahun 1998, yang sebetulnya bukan kenangan yang menyenangkan—aduh, tapi kenapa dia masih selalu ingat? Ying masih dilanda melankoli sesaat ketika Fang mengajaknya bicara lagi.

"Ying itu nama Cina-mu, ya?"

Ying mengerjap dan menoleh, sudah hendak bertanya tapi teringat sesuatu. "Oh, Dokter pasti lihat akun Friendster saya, ya?"

"Iya. Belum banyak orang punya Friendster, soalnya."

"Saya baru buat akunnya waktu kuliah. Keperluan keluarga. Makanya foto dan namanya pakai yang itu."

Fang mengangguk sambil menggumamkan "Hooo …," pelan. Beberapa detik berselang, ada iring-iringan sepeda motor yang ramai lewat di perpotongan jalan, lagi-lagi dengan atribut dominan warna merah.

"Makin sibuk menjelang pemilu, ya," komentar Fang, yang dibalas anggukan oleh Ying.

Lampu merah kemudian berganti menjadi hijau. Percakapan pun tertunda sampai mereka tiba di toko yang dituju. Ying mengambil pesanannya dan langsung membayar, tapi rupanya Fang juga memesan bakmi di tempat jadi ditunggunya pula demi kesopanan.

"Dokter bisa masak sendiri?" Ying tak bisa menahan rasa penasarannya karena melihat jumlah bakmi yang dibeli sang dokter cukup banyak.

"Yang simple aja bisanya. Saya masih ada saus dan kecap sisa belanja di Carrefive minggu lalu, sih. Kamu bisa masak?"

"Saya, sih, seringnya jadi asisten Mama masak," sahut Ying sambil tertawa malu. "Belum bisa kalau masak sendiri."

"Nggak apa-apa, bisa belajar itu. Kalau bukan karena ngekos, saya juga nggak akan belajar masak dan belanja ini-itu, hahaha. Di Solo juga banyak kuliner yang enak-enak."

Ying tersenyum kecil. Mereka sudah selesai dengan pesanan masing-masing dan kembali ke kendaraan. Fang menunjuk gedung bertingkat di samping dan bicara lagi,

"Saya tinggal geser motor ke sebelah aja."

Papan bertuliskan KOS PUTRA EKSKLUSIF terpampang besar di muka gedung yang ditunjuk. Selama ini sebetulnya, kalau Ying beli bakmi ke toko yang ini, dia selalu membacanya. Dia bisa melihat bahwa gedung bertembok putih itu sangat mentereng bahkan dari luar, apalagi dengan titel 'eksklusif' di situ. Terlihat juga kotak-kotak pendingin ruangan yang menempel di tiap jarak beberapa meter di atas jendela. Ying tak pernah menduga kalau suatu saat dirinya akan bicara dengan salah satu penghuni kos yang tampak mahal itu.

"Yang tinggal di kos ini pastinya yang sudah kerja, ya, Dok?" gumam Ying yang ikut menuntun sepeda motornya ke gedung sebelah. Ada pagar pendek dan teras kecil yang memanjang ke dalam di bagian depannya. Di teras itu sudah ada dua buah mobil terparkir dan tiga sepeda motor.

"Iya." Fang menyebutkan sederet nominal, biaya kos itu per bulannya, membuat mata Ying terbelalak. Gadis itu mengernyit sedikit.

"Besok hari Minggu, kamu libur, 'kan?" Fang sudah bersuara lagi sambil membuka pintu pagar. "Ying ada waktu nanti malam?"

"... kenapa, Dok?" Ying tidak menjawab pertanyaannya.

"Saya mau ajak kamu makan malam di luar." Fang menatapnya tepat di mata dengan sorot yang teduh dan serius. Ada senyum penuh kasih di bawah kacamata bergagang ungu itu, yang juga terpancar dari sinar matanya.

Sudah jelas. Semuanya sudah jelas bagi Ying sekarang, setelah kalimat itu terlontar dengan ekspresi yang demikian. Dokter Fang memang tertarik padanya, seperti rumor orang-orang di rumah sakit menyebutkannya, seperti atasannya, Bu Kuputeri, mengharapkannya, dan seperti yang diduganya sendiri sejak perkara reseller gloves beberapa waktu lalu.

"Dokter Fang," ujar Ying, menarik napas dalam-dalam dan balas menatap di mata, "maafkan saya. Tapi, sudah ada seseorang yang saya sukai."

Ada hening yang tajam setelahnya. Fang tertegun sampai beberapa detik, mulutnya terbuka sedikit. Ying menggigit bibirnya, segera merasa tak enak, tapi dia tahu dia harus meneruskannya,

"Dan … saya minta Dokter panggil nama saya 'Yenny' saja."

Deham kecil berasal dari sang dokter yang akhirnya bisa menguasai diri. "Oh, iya. Baiklah." Fang mengalihkan pandangannya dengan canggung.

"Maaf," ucap Ying sekali lagi sambil mengulurkan tangan. "Saya harap ini nggak akan mengganggu kerja sama kita dalam akreditasi, Dokter."

Ying merasa seperti melihat selapis air mata di balik kacamata itu saat Fang kembali menatapnya dan menyambut salamnya.

"Tentu saja, Mbak Yenny. Kita harus profesional dalam bekerja, 'kan?" Dokter muda itu tersenyum ramah seperti biasanya, tapi kali ini senyumnya berbeda.

Ying tahu dia sudah membuat seseorang patah hati.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Author's Note #2:

Oke, jadi beginilah kelanjutannya Blank Space :"D tolong jangan demo saya dulu, tahan dulu, yak. Label ceritanya tetap slight romance Fang x Ying, tapi memang ada satu orang lagi (o-oh siapa dia?)

Cerita ini bukan berfokus pada romance tapi lebih pada hurt/comfort (silakan baca lagi trigger warning di atas).

Nantikanlah bab-bab selanjutnya :D

Terima kasih sudah membaca. Kritik dan saran sangat diterima!

[7 Mei 2023]