BoBoiBoy (c) Monsta
The Concealed Wound (c) Roux Marlet
No material profit is gained from this work of fiction.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bab Dua: Halalbihalal
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ying baru akan berusia genap dua puluh empat tahun ketika mengenal pemuda itu. Idul Fitri tahun 2003 jatuh di akhir bulan November, sehingga halalbihalal yang menjadi tradisi akan diselenggarakan pada bulan Desember, sekitar dua minggu sebelum ulang tahun Ying sendiri. Sebagai karyawan yang masih tergolong baru dan memang ingin berbaur, Ying ikut serta dalam kepanitiaan halalbihalal. Dia pertama kali masuk kerja di bulan Desember tahun sebelumnya, sehingga ini adalah halalbihalal pertamanya di rumah sakit itu.
Hari-hari persiapan acara cukup padat dan Ying sering pulang sore karenanya, seizin orang tua tentu. Suatu sore, saat akan mengambil minum di salah satu hari menjelang acara, Ying mendapati beberapa lembar kertas ditumpuk sembarangan di atas tasnya, yang memang diletakkannya di salah satu kursi yang juga belum rapi.
"Ini punya siapa, ya?" ujar Ying agak keras pada siapa pun di sekitarnya. Kertas-kertas itu sekilas terlihat seperti hasil fotokopi yang agak kotor, dengan kalimat-kalimat dalam bahasa Arab yang tidak Ying pahami.
Teman-teman Ying tidak tahu siapa pemilik kertas itu dan masing-masing melanjutkan pekerjaan yang tinggal sedikit lagi. Ada yang menyelesaikan memasang dekorasi, ada yang mendiskusikan rundown acara, ada yang mengecek sound system, dan ada yang mengemasi sisa parsel. Ying sendiri sebagai sekretaris sudah selesai dengan tugasnya membuat undangan dan mencatat jalannya persiapan, makanya dia bantu-bantu apa pun yang masih bisa dibantu. Ying menunduk dan mencoba membaca tulisan itu dengan dahi berkerut.
"Mbak, maaf. Itu punya saya."
Sebuah suara laki-laki membuat Ying mendongak. Seorang karyawan, entah bagian apa, dengan seragam masih putih-hitam yang menandakan dirinya masih dalam masa enam bulan pertama bekerja, menyodorkan tangannya yang besar dan berkulit sawo matang ke arah Ying.
"Oh? Ini, tadi ditaruh di atas tas saya," ujar Ying sambil menatap lawan bicaranya yang berbadan lebih tinggi.
"Iya, maaf, Mbak. Tadi saya naruh sembarangan," sahut si pemuda sambil terkekeh malu.
Ying menyerahkan tumpukan kertas itu pada si empunya. "Nggak apa-apa. Ini, Mas."
Pemuda itu tampak lega dan berbinar-binar sembari menghitung kertasnya. Kalau itu sesuatu yang berharga, kenapa diletakkan sembarangan?
"Itu apa, Mas?" Ying tidak tahan untuk tak bertanya.
"Ini teks lagu."
"Teks lagu?"
"Iya, lagu buat acara besok itu. Saya siapin teksnya, jaga-jaga kalau belum ada yang siap lagu. Ternyata sudah ada yang siapin, pakai kaset bahkan."
Saat itu, memang terdengar lagu-lagu kasidah dari sound system yang menggema.
"Ooh, begitu." Ying agak heran karena jumlah kertas itu cukup banyak, mungkin ada sekitar lima puluh lembar. Dan, ditilik dari hasil fotokopian itu, tampaknya pemuda di depannya ini memotong tulisan lirik lagu dari berbagai sumber dan menempelkannya bagai majalah dinding di atas kertas. Berapa rupiah juga yang perlu dikeluarkan untuk memfotokopi sebanyak itu?
Begitu banyak usaha dikerahkan si pemuda, tapi pada akhirnya tidak terpakai. Ying merasa kagum dan bersimpati, dan di kemudian hari menyadari bahwa inilah salah satu hal yang berkesan dalam ingatannya tentang pemuda itu.
"Terima kasih, Mbak … siapa namanya?"
"Yenny."
"Makasih, Mbak Yenny." Pemuda itu tersenyum tulus. Sorot matanya, senyumnya, suaranya, begitu tenang dan teduh ….
"Yenny!" pekik seseorang tepat ketika Ying akan bertanya balik, siapa nama pemuda itu. "Sini, bantuin tim parsel lagi! Ada logistik tambahan dari yayasan!"
"Melody, sebentar …," keluh Ying, yang bahu kanannya ditindih beban seorang gadis yang mendadak bergelayut di sana.
"Oh, oke. Silakan lanjut aja, Mbak. Sekali lagi, maaf, ya." Pemuda di depan Ying membungkuk sedikit sambil mengatupkan kedua tangannya. Ying hanya sempat menyahut, "Ya …," dan Melody telah menggiringnya ke tumpukan parsel. Sebelum ikut menyortir makanan dan minuman tambahan itu, Ying mendapati pemuda yang tadi bergabung dengan grup yang memasang dekorasi ruangan.
"Orang yang tadi, kamu kenal, nggak?" bisik Ying pada Melody, teman kerjanya di Instalasi Farmasi.
"Yang tadi? Karyawan baru, tuh, aku nggak kenal."
"Mas-mas yang baju putih di tim dekor itu?" sahut Siti, karyawan bagian keuangan di grup parsel, sembari memasang pita pada plastik parsel yang disusunnya. "Temanku, itu. Namanya Gempa, baru kerja sejak bulan lalu. Kasir di rawat jalan."
"Gempa?" celetuk Melody cuek, sambil berusaha memasukkan kaleng biskuit ke dalam plastik parsel. "Macam bencana alam namanya."
"Ish, Melody. Gara-gara kamu, aku belum jadi ambil minum, tahu?" gerutu Ying, yang baru ingat tujuannya mengambil tas tadi. Dia buru-buru berdiri lagi dan meraih tasnya, sambil melempar pandangan ke seberang ruangan tempat dekorasi dipasang.
Seulas senyum kecil terbentuk di wajah oriental itu.
.
.
.
.
.
Pemuda yang namanya mirip bencana alam itu memang berdinas di bagian kasir rawat jalan. Ying bertugas di farmasi rawat jalan. Artinya, kantor mereka berdekatan, bahkan ternyata berseberangan. Lebih tepat lagi, loket tempat Ying sering melakukan edukasi tentang obat kepada pasien menghadap persis ke loket kasir sebelah utara di seberangnya. Ying sering mendengar suara yang dalam dan bernada mantap milik pemuda itu ketika memanggil pasien. Dia juga sering bersitatap dengan sorot mata yang teduh itu, bahkan beberapa kali Ying memergoki pemuda itu menatap ke arahnya, tapi memang sedang ada pasien di depannya. Mungkin kebetulan saja Gempa memandang ke arahnya. Ying tidak mau terlalu kepedean. Kemudian, Gempa sempat dipindahtugaskan ke kasir rawat inap dan IGD, lalu ke bagian akuntansi dan pembelian (dari apa yang didengar Ying dari obrolan Siti dengan teman satu unitnya) karena begitulah sistem belajar untuk karyawan baru bagian keuangan.
Di salah satu hari di bulan April tahun selanjutnya, ada cukup banyak dokter yang cuti di jadwal siang hari, menyisakan jeda waktu makan siang yang cukup panjang bagi karyawan (terutama wanita) untuk bergosip. Tak terkecuali, unit farmasi rawat jalan. Tak luput juga, sasaran gosip salah satunya adalah Ying karena sebagian besar karyawan di situ sudah berkeluarga, sesuatu yang tidak disukainya tapi terpaksa dihadapinya. Topik gosip di waktu seperti ini tak ubahnya dengan pada waktu acara buka puasa bersama dan halalbihalal yang lebih merakyat, bertandang ke rumah-rumah tetangga dan keluarga dekat.
"Mbak Yenny, udah ada calon, kah?"
"Kalau belum, itu, lho. Ada dokter ganteng di ICU, masih lajang."
"Oh, Dokter Fang, ya?"
"Chinese juga, 'kan? Cocok, lah, sama Mbak Yenny."
"Denger-denger, punya darah Jepang juga."
"Wuisss. Bibit unggul, tuh."
Ying hanya tersenyum kecut. Ya, ampun. Ying itu kerja di sini fresh graduate, umurnya baru dua puluh empat. Tidak ada satu pun teman kerjanya yang tahu apa isi hati Ying sesungguhnya. Mereka memang sehari-harinya bekerja bersama Ying, tapi Ying tidak seterbuka itu untuk curhat apa pun pada mereka. Hanya ada satu sahabatnya sejak SMA di posisi itu, dan dia adalah staf bagian human resource development alias HRD di rumah sakit yang sama, namanya Yaya.
"Ya, kamu tahu nggak, sih? Rasanya dicomblangin seenak jidat kayak gitu?" keluh Ying saat Yaya main ke rumahnya. "Ah, nggak mungkin tahu, ya. Kamu, 'kan, dulu taaruf." Ying mencerocos sambil menyipitkan mata ke arah cincin kawin yang melingkar di jari manis sang kawan.
"Yang sabar, Ying." Yaya mencoba menghibur. "Nanti, kalau kamu sudah nikah, nih, kukasih tahu: mereka nggak akan berhenti nanya. Kapan punya momongan? Kalau sudah punya anak, nanyanya: kapan punya cucu?"
Ying membelalak horor. "Alamaaaak. Nggak ada habisnya pertanyaan."
"Memang, gitulah manusia." Yaya tertawa kecil sambil mengelus perutnya. Wanita berjilbab itu sedang hamil dua bulan.
"Iya, deh, iya, yang belajar jalan pikiran manusia." Ying memutar bola mata. "Siapa, sih, yang pertama kali nemu istilah 'gosip'? 'Digosok makin sip', bener juga."
Orang yang mengenal Ying di tempat kerja akan keheranan kalau menyimak percakapan kedua perempuan itu. Macam orang lain saja, antara Yenny di tempat kerja dan Ying di rumahnya sendiri. Ying memang teramat menjaga image dan tak mau berusaha terlalu akrab dengan siapa pun di tempat kerjanya. Kecuali Yaya, yang memang sudah jadi sahabatnya bertahun-tahun belakangan.
Dan, satu orang lagi ….
"Jadi," ujar Yaya, menatap Ying serius, "siapa cowok ini yang mau kamu bicarain?"
Yaya tidak luput mendapati binar terpancar di balik kacamata itu ketika bertutur, "Kami ketemu waktu jadi panitia halalbihalal kemarin dulu itu. Namanya Gempa, dia—"
"—kasir rawat jalan, sudah enam bulan kerja, diangkat jadi karyawan tetap per bulan Mei ini." Yaya meneruskan, setengah memotong saking bersemangatnya. Ying mengerjap, lalu tersadar bahwa Yaya pastilah tahu juga siapa Gempa dalam proses rekrutmen dahulu.
"Ying," bisik Yaya agak dramatis, "Gempa itu sepupunya Mas Taufan!"
Mata Ying membola sempurna. "Sepupu—Mas Taufan—suamimu?!"
.
.
.
.
.
Hari Senin datang kembali. Ying masuk kerja dengan seabrek tugas persiapan akreditasi yang menunggu untuk dikerjakan, di mana salah satunya perlu berurusan dengan Intensive Care Unit alias ICU. Ying tidak bisa tidak kepikiran peristiwa di hari Sabtu siang kemarin. Dokter Fang tidak menyangkal bahwa niatnya mengajak Ying makan malam di luar adalah sebuah pendekatan romantis dan Ying sudah mematahkannya. Ying agak cemas juga seperti apa sikap sang dokter di tempat kerja setelah itu, meski pria itu sendiri yang bilang bahwa mereka harus profesional dalam bekerja.
Dering telepon internal mengusik pikiran Ying, satu jam sebelum jadwalnya mengerjakan tugas di ICU. Siang itu, kebetulan sekali orang-orang di farmasi tetap sibuk meski agak sepi, karena Ying sudah membagi tugas semua orang dalam persiapan akreditasi. Ada yang membersihkan rak-rak obat, mengganti label-label nama obat yang sudah usang dengan yang baru, ada juga yang merapikan arsip-arsip dan menyisihkan kertas bekas untuk didaur ulang.
Ying menjawab panggilan telepon itu, "Selamat siang, farmasi rawat jalan dengan Yenny."
"Mbak Yen, ada yang mau kenalan."
Suara di seberang sambungan adalah Siti, petugas kasir asuransi yang lebih tua darinya, yang bersama-sama mengurus parsel dalam persiapan halalbihalal tempo hari.
"Hah?" gumam Ying, tak segera paham.
"Mas Gempa ini, lho. Nggak berani kenalan, katanya. Minder, makanya minta tolong ke aku. Mau minta nomormu, boleh, nggak?"
Ying membeku di tempat. Apa ini nyata?
"Halo? Mbak Yenny?"
"Err … Mbak Siti, maaf. Ada pasien. Nanti dulu, ya."
Ying bergegas menutup telepon dan menyapa ramah,
"Ada yang bisa dibantu, Pak, Bu?"
Seandainya saat itu tidak ada sepasang bapak-ibu sepuh yang bertandang ke depan loketnya, Ying pasti sudah melompat-lompat kegirangan. Bisa dilihatnya raut wajah pemuda berkulit sawo matang itu dari balik jendela kasir, menatapnya malu-malu dan ingin tahu.
Sepuluh menit kemudian, setelah pekerjaannya sudah tertangani, tanpa benar-benar diperhatikan oleh teman-temannya di farmasi, Ying menyelinap keluar sebentar menuju kasir di seberang.
"Permisi," ucap Ying saat masuk ke ruangan yang jauh lebih kecil itu. Satu shift jaga di kasir hanya diisi dua orang atau paling banyak tiga, lain halnya dengan tempat kerja Ying yang satu shift-nya bisa berisi antara enam sampai sepuluh orang. Di situ hanya ada Siti dan Gempa yang duduk di kursi masing-masing, terpisah dua meter jaraknya. Gempa tampak terkejut melihat Ying masuk, sedangkan Siti tersenyum-senyum penuh makna. Ying langsung belok ke kiri dan mengulurkan tangannya pada Gempa.
Gempa menerima kertas kecil itu, mendapati sederet nomor tertulis di atasnya, lalu menatap Ying sambil membalas senyumnya.
"Terima kasih …."
.
.
.
.
.
"Kamu yakin mau tahu tentang Gempa dariku?"
"Dari mana lagi, ma? Kenapa aku baru ingat kalau kamu pasti kenal siapa pun yang melamar kerja, Yaya?" Ying agak kelewat antusias saat Yaya datang ke rumahnya waktu itu.
"Yaaah, bukan gitu juga deskripsi pekerjaanku, Ying," keluh Yaya dengan nada menyesal. "Aku cuma bisa menyampaikan hal-hal umum saja. Aku nggak ikut wawancara dengannya juga."
"Nggak masalah. Sedikit aja malah lebih baik. Seenggaknya, aku ada gambaran."
Yaya menimbang-nimbang. "Oke. Pertama, Gempa itu lulusan SMA di Jakarta. Dia nggak kuliah."
"Oh, ya?"
"Umurnya … sebentar. Dia sedikit lebih muda dari Mas Taufan, jadi mungkin 27, 28, atau 29."
"Ya? Apa lagi?"
"Cuma itu yang bisa kuberi tahu. Alamat, kontak, mana hapal."
"Oke, Ya. Aku juga nggak akan cari tahu itu darimu. Denger, nih. Aku rasa dia sering melihatku dari jendela kasir. Bukankah biasanya laki-laki duluan yang mulai pendekatan? Kalau dia juga tertarik padaku, kenapa dia diam saja? Gimana menurutmu?"
Yaya terdiam sejenak sambil menatap Ying lamat-lamat.
"Kemungkinan alasannya ada banyak," ujar Yaya akhirnya. "Tapi kukira yang paling mungkin adalah … maaf, Ying. Kukira dia ragu-ragu karena rasmu."
Ying tersentak dan Yaya segera menggenggam tangannya.
"Mungkin juga bukan karena itu," ucap Yaya cepat-cepat. "Dia hanya lulusan SMA dan kamu sarjana. Mungkin dia ragu karena minder tentang pendidikannya."
Yaya sadar dirinya telah salah berucap. Ying sudah meneteskan air mata di depannya.
"Yaya … entah sudah berapa kali aku bilang ke kamu, ya? Andaikan Papa-Mamaku bukan orang Cina?"
.
.
.
.
.
Senin, 10 Mei 2004 | 16.31 WIB
Dari: ?
Halo, Bu Yeni. Ini nomornya Gempa. Maaf, ya, tadi saya ganggu lewat telepon pas jam kerja.
.
.
Sepulang kerja, Ying mendapat pesan dari nomor asing di ponselnya, tapi senyumnya terkembang setelah membacanya.
Hari itu adalah Senin yang menggembirakan bagi Ying. Persiapan akreditasi baik di farmasi maupun di ICU berjalan lancar, Dokter Fang bersikap biasa saja ketika berinteraksi dengannya tadi, dan perasaannya pada Gempa rupanya berbalas. Ying belum pernah jatuh cinta sebelumnya dan dia merasa senang bukan kepalang hanya dengan membaca pesan singkat dari si petugas kasir barusan. Dia sendirian di kamarnya, pasti wajahnya begitu merah karena Ying mendadak merasa gerah. Dibukanya kacamata, lalu diambilnya bantal dan dibenamkannya wajah ke sana sambil memekik sebagai efek terlepasnya dopamin dalam tubuhnya.
Meski begitu, ketika Ying sudah puas memekik dengan suara teredam bantal, ada kekhawatiran di sana. Ditatapnya bayangan wajahnya di cermin di pojok kamar. Diamatinya sudut kelopak mata yang agak menyempit dan warna kulit yang terang. Kadang orang-orang tidak segera mengenali ciri khas oriental ketika melihat wajah Ying sekilas saja. Ying memang berdarah campuran Tionghoa dan Jawa, meski kalau ditanya darah Jawanya tiga perempat, separuh, atau seperempat dia sendiri bingung menjawabnya.
Apa Gempa tahu, atau tidak tahu, bahwa Ying orang Tionghoa? Apa benar Gempa sempat ragu karena hal itu, seperti yang diduga Yaya? Seingat Ying, berdasarkan cerita Yaya, keluarga besar Taufan cukup ketat dalam hal memilih pasangan hidup ….
Ya, ampun, Ying. Pikiranmu terlalu jauh!
Setelah banyak berpikir dengan hati-hati, Ying mengetik pesan balasan untuk Gempa,
Halo juga, Gempa? Mas Gempa? Pak Gempa? Nggak usah formal banget, lah. Dan, koreksi ya, namaku Yenny dengan dua huruf n dan huruf y.
Ying belum mengirimkan pesan itu dan berpikir lagi. Dia teringat pembicaraan dengan Mama suatu hari dulu, waktu dia masih SD.
"Ma, apa kita ini orang Cina?"
"Bukan, Ying. Kita ini orang Indonesia," jawab sang Mama waktu itu.
Bahkan sejak masih kecil, Ying sudah tahu adanya perbedaan itu, antara dirinya dengan kebanyakan teman-temannya. Beberapa menit lagi berlalu sementara Ying masih berpikir keras tentang kelanjutan pesannya pada Gempa.
Halo juga, Gempa? Mas Gempa? Pak Gempa? Nggak usah formal banget, lah. Dan, koreksi ya, namaku Yenny dengan dua huruf n dan huruf y. Oh, iya. Panggil Yenny aja, nggak usah pakai Cik, Mbak, Kak, apalagi Bu atau Tante. Umurku baru 24, hehe.
Ying mengirimkan pesan itu dan hanya beberapa detik berlalu sebelum balasannya datang,
Oke, Yenny. Panggil aku Gempa aja. Umurku 29. Jangan panggil Om ya :")
Ying terkekeh kecil ketika tahu selera humor orang itu. Pesan berikutnya datang menyusul,
Aku mau ajak kamu jalan, boleh, ya?
Astaga, pemuda ini bahkan minta izin dulu. Kesopanannya membuat Ying tertawa geli.
Boleh, Ying menjawab pesannya.
Gempa kembali menjawab dengan cepat dan kali ini jawabannya membuat Ying tertegun,
Asyik, bisa jalan-jalan sama Mulan :)
Ying mengerjap. Jantungnya berdebar-debar, hatinya dilanda kegirangan yang meroket secepat kilat seiring pemahaman mencapai otaknya yang terlatih. Gempa menyebut nama salah satu tokoh animasi dari etnis Tionghoa, sengaja pula. Gempa paham perbedaan itu dan (sepertinya) tidak mempermasalahkannya. Ying belum pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Dikirimnya balasan,
Dasar, habis nonton film Disney, ya?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
bersambung.
.
.
.
Author's Note:
Sekarang label ceritanya jadi slight romance: Fang x Ying dan Gempa x Ying. Kamu dukung yang mana? Hayoo, jangan golput /eh
X"D
Fixed pairing-nya (karena sudah sah menikah) ada Hang Kasa x Satriantar dan Taufan x Yaya. Kayaknya nanti bakal ada lagi, deh.
UwU
Nantikanlah bab selanjutnya, Bab 3: Tersakiti oleh Cinta.
.
Cerita ini memang banyak diambil dari kisah nyata (beberapa orang) dan ada pula yang dibumbui jadi beda jauh dengan kenyataannya, karena kenyataan nggak seindah negeri dongeng. Semoga nggak cringe dan bisa fokus pada konflik utamanya :")
Terima kasih sudah membaca. Kritik dan saran sangat diterima!
[12 Mei 2023]
